<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>deathlock</title>
	<atom:link href="http://deathlock.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://deathlock.wordpress.com</link>
	<description>when microblogging is not enough</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 04:32:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='deathlock.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f9c2124703b61f0de769c84f08882e69?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>deathlock</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://deathlock.wordpress.com/osd.xml" title="deathlock" />
	<atom:link rel='hub' href='http://deathlock.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Entri 1015</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 16:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan. Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu&#8211;yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=1015&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.</p>
<p>Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu&#8211;yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, ibu juga membawa kue. Untuk dimakan bersama. Biasanya tidak habis di malam itu&#8211;meski porsi makan saya memang meningkat sejak 10 tahun terakhir&#8211;dan kuenya akan disimpan untuk esok hari. Siapa pun yang ingin santap cemilan, bisa mengambilnya di kulkas. Termasuk asisten rumah tangga di rumah, yang  sudah bekerja sejak saya lahir; serasa seperti kerabat sendiri.</p>
<p>Pagi dan siangnya, kadang saya akan menerima ucap senada. Pemberian selamat dari teman-teman sekolah yang tersenyum penuh rupa. Tentunya, selayaknya orang Indonesia, saat itu pula saya, seakan mematuhi peraturan tidak tertulis, perlu merogoh sedikit kocek dan menyenangkan ibu-bapak penjaga kantin&#8211;paling tidak, dulu saya pikir begitu&#8211;yang tiba-tiba kedapatan pemesanan porsi makan lebih banyak. Tapi memang tidak selalu. Ada tahun-tahun di mana hari seperti ini berlalu begitu saja sekolah. Begitu juga bila hari seperti ini terjadi di hari libur, Sabtu dan Minggu.</p>
<p><span id="more-1015"></span></p>
<p>Walau siang tidak menentu, namun sorenya saya akan selalu teringat senyum hangat nenek. Setelah pulang dari sekolah, rasanya sudah menjadi ritus untuk mengunjngi rumah nenek, memotong kue [lagi], dan mendapatkan bingkisan hadiah besar&#8211;setelah sedikit beranjak dewasa, bingkisan itu berubah wujud menjadi amplop uang saku tambahan&#8211;dari kerabat-kerabat. Meski kesemua hal itu menyenangkan, agaknya kenangan paling menyenangkan adalah ketika merayakannya bersama nenek&#8211;ibu dari ibu. Bahkan saya masih ingat <em>cake </em>coklat serupa dinosaurus yang akan dipotong bersamanya. Beliau, bagi saya, mungkin adalah sosok ibu kedua.</p>
<p>Pada malam harinya, ayah dan ibu akan mengingatkan saya kembali. Tentang apa yang sudah berubah, secara positif, dari diri saya selama satu tahun terakhir. Bagaimana saya dapat terus bertambah baik untuk tahun-tahun ke depannya. Meski seingat saya ayah seringkali bilang, saya berubah secara signifikan, setelah ditimang kembali saat ini rasanya saya terlalu bandel saat itu untuk dibilang berubah secara positif. Kemudian, saya akan tertidur pulas. Dengan puas.</p>
<p>Memang benar. Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.</p>
<p>Mungkin karena kesan itu pula, saya, dulu, selalu menganggap spesial tanggal-tanggal yang bertepatan dengan perayaan apa pun. Bahkan, tanggal unik&#8211;seperti 11-11-11&#8211;yang sebenarnya tidak punya perayaan atau makna apa pun.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Saya tidak ingat kapan persisnya. Yang bisa saya ingat saat itu ayah sudah didiagnosis menderita kanker. Saat itu beliau mengajak kami sekeluarga, beserta nenek, tante, dan sepupu&#8211;bila tidak salah ingat&#8211;untuk merayakan tahun baru di sebuah hotel, yang saya juga lupa apa hotelnya.</p>
<p>Seperti ritus tahunan saya dan adik saya untuk merayakan ulang tahun di rumah nenek, kami juga memiliki semacam ritus tahunan untuk merayakan tahun baru juga di rumah nenek. Letaknya di Cipinang. Sejak kecil, saya dan adik saya besar bersama lingkungan di rumah Cipinang ini. Setiap Minggu, dulu, saya mengikuti latihan karate bersama adik dan teman satu sekolah saya, Aditya Irfansyah&#8211;yang kebetulan juga tinggal di kompleks itu. Kadang, sepulang sekolah saya menunggu adik dan ibu di rumah nenek sebelum pulang ke rumah, atau sebaliknya. Rumah ini, pun, berasa bagai rumah kedua.</p>
<p>Wajar bila kemudian akhirnya banyak &#8220;ritus tahunan&#8221; yang terselenggara di rumah nenek&#8211;termasuk tahun baru. Tidak hanya keluarga inti saya&#8211;biasanya keluarga paman dan tante yang juga tinggal di kompleks itu akan turut meramaikan. Setiap akhir tahun, kami akan menyalakan TV, menghitung mundur detik-detik terakhir bersama-sama, sembari membakar sate atau <em>barbeque.</em> Setelah jam berdentang di angka 12, kami akan menyalakan kembang api. Perumahan lain juga seakan tidak mau kalah dengan memasang kembang api yang meriah. Hingga akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009, saya masih menikmati ritus tahunan ini. Tidak ada yang bisa menggantikan suasana di kompleks Cipinang itu, yang rasanya selalu menyenangkan setiap tahun.</p>
<p>Namun, di suatu tahun itu, ayah memutuskan untuk mengganti suasana. Merasakan suasana lain. Saya tidak ingat tahunnya, tapi saat itu saya sudah menginjak bangku SMA. Yang berarti antara periode 2005-2008. Seperti berbagai hal lain yang sering ayah ucapkan pada saya, keputusan ini dilakukan agar kami, khususnya saya, &#8220;mencoba pengalaman baru&#8221;. Hingga tahun-tahun belakangan ini, saya memang selalu dikenal sebagai konservatif di kalangan keluarga. Termasuk dalam hal &#8220;mencoba pengalaman baru&#8221;.</p>
<p>Karenanya, saat itu, sebagai remaja konservatif yang sedang dalam gelora pemberontakan, saya awalnya menolak keputusan ayah. Saya sudah terlanjur nyaman dengan &#8220;ritus&#8221; yang berlangsung di rumah nenek setiap tahun. Lingkungan yang sudah dikenal, <em>barbeque </em>bersama keluarga, dan kembang api yang bersinar di malam pergantian tahun. Katakanlah, saya memang anak rumahan. Apalagi, saat itu, di benak saya tertanam pikiran, antara &#8220;pesta&#8221; dan &#8220;hotel&#8221; terpaut erat unsur laten hedonisme&#8211;meskipun saya yakin saat itu saya juga tidak paham betul apa arti kata itu, selain dari yang biasa disebarkan televisi dan buletin dakwah tiap Jum&#8217;at. Pasca-reformasi, remaja mana yang tidak akrab dengan <em>brainwash </em>keburukan hedonisme? Jadi, barangkali yang hanya terpikir di benak saaat saya itu adalah, opsi pengubahan ritus tahunan menjelang pergantian tahun sangatlah tidak masuk akal.</p>
<p>Tapi toh setelah beberapa perdebatan&#8211;yang memang saya sering lakukan dengan ayah, dalam berbagai hal&#8211;saya menyerah juga. Meski dengan penuh keengganan, saya pun pada akhirnya mengepak barang bersama keluarga beberapa hari sebelum keberangkatan, untuk menghabiskan beberapa malam singkat di tempat yang sama sekali asing dengan kegiatan yang sama sekali tidak saya ketahui. Pada nyatanya, saya memang akhirnya banyak menghabiskan waktu di dalam kamar bersama laptop pertama saya, COMPAQ&#8211;yang hingga beberapa hari ini masih sering saya gunakan. Saya masih ingat, sewaktu itu saya menyalakan Yahoo! Messenger dan memasang status &#8220;Happy New Year&#8221; disertai kutipan-kutipan yang-tidak-begitu-bijak dari tokoh berkebangsaan Jerman.</p>
<p>Menjelang menit-menit pergantian tahun, tiba-tiba, ayah mengajak saya, bersama ibu dan adik, turun ke lantai dasar. Menurut ayah, justru inti dari perayaan tahun baru di hotel adalah mengikuti pesta di lantai dasar. Percuma merayakan tahun baru di hotel bila hanya dihabiskan di kamar. Dan seperti yang sudah bisa diduga, saya kembali enggan. Walaupun keengganan saya kali ini tidak bertahan lama; entah bagaimana ayah berhasil membuat saya turun ke lantai dasar.</p>
<p>Lantai dasar hotel pada menit-menit pergantian tahun sangatlah ramai. Tidak terkira. Lagu diputar dengan sangat kencang, orang-orang berseliweran berbincang, menikmati makanan dan minuman yang disediakan. Saat itu antipati saya kembali naik, karena sebagian dari gambaran di benak saya ternyata benar terwujud&#8211;tentang &#8220;pesta&#8221; di &#8220;hotel&#8221; yang hedonis, apa pun artinya hedonis itu, yang agaknya dulu saya asosiasikan dengan bergoyang, meminum minuman keras, dan berbincang riuh-rendah seperti pada film produksi Hollywood. Pandangan saya sudah jauh berubah sejak saat itu&#8211;mungkin ayah saya akan sedikit terkejut bila mengetahuinya&#8211;meski saya masih, sebagian besar, jadi anak rumahan.</p>
<p>Ayah saya, saat itu, agaknya menyadari raut wajah saya yang berubah. Dulu, saya memang tidak banyak berkata-kata di tempat umum, khususnya bila sedang kesal. Tapi sangat mudah untuk mengetahui emosi saya dari gelagat saja. Setidaknya, ayah mahir dalam mengetahui hal ini. Sontak saja, beliau menanyakan pendapat saya tentang pesta tahun baru di hotel ini. Mungkin sekedar retorika, karena saya yakin ayah tahu, saya saat itu tidak dalam kondisi menikmati. Kami sempat berbincang beberapa patah kata&#8211;tidak banyak, mengingat tempatnya yang sangat ramai dan bising&#8211;namun saya masih ingat bagaimana saya menimpali,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Buat apa sih ada acara mewah-mewah begini?&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Bagai seorang Qutb-ist abangan, saat itu mungkin benak saya menganjurkan menentang &#8220;hedonisme&#8221; yang berwujud dalam kemewahan adalah hal yang keren. Saya ingat, ayah saya sempat mengangkat alisnya sejenak. Tapi beliau, seperti yang selalu beliau lakukan acapkali saya mulai dengan bodohnya menunjukkan ketidaktahuan saya, membalas dengan senyum dan tawa pelan. Sewaktu itu mungkin saya sedang direndam emosi. Ditambah, kemeriahan tempat tersebut yang benar-benar tidak biasa. Tapi saya tidak salah ingat ketika ayah menepuk pundak saya dengan halus. Kemudian, beliau membalas,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Orang merayakan tahun baru kayak menutup buku yang lama dan membuka yang baru. Dirayakan meriah karena berhasil menamatkan buku yang lama, dan membuka buku yang baru juga meriah, harapannya, kalau awalnya baik, seterusnya juga mudah-mudahan baik.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Ucapan beliau mungkin tidak persis seperti itu. Meski saya masih mengingat penggunaan analogi ayah tentang buku dan inti pesan &#8220;awal yang baik untuk proses yang baik.&#8221; Saya pikir itu inti pesan yang saya tangkap dari ayah waktu itu.</p>
<p>Agaknya memang sukses untuk mendiamkan anak beliau yang tertua ini selama pesta berlangsung. Toh, pada akhirnya, meski dipenuhi keramaian, saya tidak sepenuhnya rugi. Riuh-rendah yang biasanya hanya saya amati dari balik layar kaca, kini saya amati tanpa melalui perantara&#8211;kecuali mungkin lensa kacamata saya. Semacam MC pesta itu menghitung mundur detik-detik pergantian tahun dan ketika angka mencapai 0, seluruh peserta meniup terompet yang diberikan oleh pelayan, dengan ramai. Kami segera kembali ke kamar seusai penghitungan. Di sana, kami sempat menyaksikan kembang api yang megah dari jendela kamar. Ibu yang selalu terkesima&#8211;pada banyak hal&#8211;mencoba mengabadikan momen tersebut melalui kamera.</p>
<p>Tahun itu adalah tahun baru yang berbeda bagi saya. Tahun yang, mungkin, membuat saya kembali mempertimbangkan apa makna dari peringatan, komemorasi, dan pergantian hari. Mungkin.</p>
<p>Saya tidak benar-benar yakin apa memang hari itu yang mempengaruhi saya. Barangkali, saya juga bisa menyalahkan teman SMA, Annas Azis&#8211;sekarang menekuni Ilmu Filsafat di FIB UI, setelah pindah dari ITB&#8211;karena sikapnya yang selalu antagonistik terhadap hari perayaan, jauh sebelum saya memikirkan hal itu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Saya masih tidak begitu paham kenapa ayah meninggalkan kami, tepat di tanggal ini, dua tahun lalu.</p>
<p style="text-align:left;">Saat itu pukul delapan, lewat dua puluh menit. Saya baru saja mencapai fakultas tempat saya menimba ilmu, terlambat dua puluh menit dari jadwal masuk yang seharusnya. Maklum, mahasiswa&#8211;malam sebelumnya, saya tidur larut. Sembari mempercepat langkah kaki, saya masih ingat ketika baru saja melihat jam digital di ponsel kesayangan, selang sekian detik menyadari saat itu pukul berapa, sebuah panggilan masuk ke ponsel saya. &#8220;Ayah sakit keras,&#8221; ujar suara di balik panggilan itu. Sepupu saya. &#8220;Cepat pulang.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Langkah saya segera terhenti. Saya tidak mengingat apa pun dari menit-menit itu. Yang saya sadari selanjutnya, langkah kaki sudah membawa saya menuju luar fakultas.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin, saya tidak perlu memahaminya.</p>
<p style="text-align:left;">Karena memang tidak ada yang perlu dipahami. Setiap jam, satu nyawa manusia turun ke bumi. Di setiap jam yang sama pula, satu nyawa manusia lain meregang. Ungkapan itu tentu sulit untuk diuji keabsahannya, tapi saya pikir bisa didapat maksudnya: umur manusia tak ada yang dapat menebak. Kita dapat meninggalkan tubuh kita kapan pun&#8211;dan itu proses yang alamiah. Sangat alamiah. Apakah itu di hari kerja, akhir minggu, hari kemerdekaan, tahun baru, atau di hari peringatan lahir seperti ini. Mungkin, saya tidak perlu memahaminya. Mungkin.</p>
<p style="text-align:left;">Teman saya saat SMP, Gemala Zenobia, berpendapat lain.</p>
<p style="text-align:left;">Saya tidak pernah membicarakan hal ini secara pribadi dengannya. Ucapannya hanya terlintas pada sepenggal kalimat di <em>wall </em>Facebook. Di hari seperti ini, Facebook memudahkan kita untuk saling berkomunikasi. Teman baik maupun teman yang sekedar menimpal sapa, tetap akan diingatkan lewat pemberitahuan hari lahir di Facebook. Siapa pun bebas menyampaikan kemudian. Umumnya, yang diperingati hari lahirnya akan ketumpahan <em>wall </em>baru. Termasuk orang seperti saya.</p>
<p style="text-align:left;">Acapkali saya berupaya untuk mencari makna dari hari itu&#8211;yang saya tahu mungkin tidak ada&#8211;saya selalu teringat apa yang ia sampaikan. Di pesan belasungkawanya, Gemala menulis, bahwa kepergian ayah adalah sebuah &#8220;kado&#8221; bagi saya. &#8220;Kado&#8221;, untuk menjadi lebih kuat. &#8220;Kado&#8221;, untuk memaknai hidup.</p>
<p style="text-align:left;">Saya tidak yakin bila saya benar-benar menyerapiarti ucapannya. Tapi tu adalah salah satu dari sedikit yang masih saya ingat dari hari itu, hingga hari ini.</p>
<p style="text-align:left;">Dua bulan sebelumnya, nenek mendahului ayah. Saat itu bulan Oktober. Semester baru saja dimulai, namun saya sudah menghabiskan waktu menyendiri di kamar selama beberapa hari. Di hari-hari itu, suatu sore, ayah menghampiri saya. Ayah, selalu dengan senyumnya yang tipis, menatap saya penuh perhatian. Rambutnya sudah menipis, akibat kemoterapi. Tangannya yang juga kurus, menggapai saya. Beliau berupaya menghibur saya&#8211;seperti yang biasa beliau lakukan bila salah satu dari anaknya sedang mengalami masa yang sulit. Meski kami sering berdebat, berbeda pendapat, dan bahkan bertengkar, ayah tidak pernah terlihat marah lebih dari dua hari. Ibu selalu mengenang ayah sebagai sosok yang penyayang dan penyabar&#8211;begitu pula teman dan rekan kerjanya. &#8220;Pak Eri tidak pernah marah,&#8221; begitu yang pernah saya dengar, dulu sekali. Ketika ada seorang kawan ayah yang berkunjung ke rumah.</p>
<p style="text-align:left;">Saat itu, ayah berujar. Satu lagi ucapan beliau yang masih saya ingat dengan jelas. &#8220;Kalau kamu sayang sama Uti,&#8221; Uti, panggilan sayang kami kepada nenek, &#8220;Teruskan apa yang selama ini selalu bikin Uti bangga, prestasi kamu, cita-cita kamu. Jadi waktu lulus nanti, kamu bisa bilang dengan bangga, <em>&#8216;Uti, aku berhasil.&#8217;</em>&#8221; Saat itu, saya bisa membayangkan diri saya, duduk di antara kursi-kursi balairung, meraih gelar sarjana dengan nilai maksimal, mengucap bangga dalam hati pada nenek. Ayah, seperti biasa, menepuk pelan bahu saya. Saya hanya mengangguk dalam diam dengan bayangan itu, mengamini yang beliau katakan.</p>
<p style="text-align:left;">Waktu itu saya tidak terbayang, bahwa saya juga tidak akan bisa berbagi kebanggaan itu dengan ayah.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Setahun lalu, saya tidak meninggalkan secarik tulisan apa pun di hari ini.</p>
<p style="text-align:left;">Sejak saya memulai menulis di blog, setiap tahun saya selalu meninggalkan catatan kecil pada hari ini. Tahun <a title="Mengingat Yang Lalu" href="http://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/">2007</a>, tahun <a title="One and Seven" href="http://deathlock.wordpress.com/2008/11/16/one-and-seven/">2008</a>, bahkan tahun <a title="Entri 564" href="http://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/">2009</a> pun saya masih meninggalkan tulisan, meski tidak bermakna. Ada kalanya saya sekedar mencoba puitis, ada kala yang lain saya menulis panjang. Dari tulisan-tulisan kecil itu, saya berharap, mencoba mencari makna dari hari seperti ini. Dari komemorasi. Dari peringatan. Dari perayaan. Dari tahun ke tahun, tulisan saya meninggalkan jejak bagi saya di masa yang akan datang, untuk melihat kembali masa lalu. Namun tahun 2010 saya tidak menulis apa pun.</p>
<p style="text-align:left;">Hari ini, saya kembali menulis. Pencarian saya belum selesai. Hingga kini, saya masih belum menemukan apa makna dari hari seperti ini. Apalagi, sejak tahun lalu, hari seperti ini juga mengingatkan tentang ayah saya.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin, bagai buku yang pernah disebut ayah, hari seperti ini adalah akhir dari buku itu. Hari seperti ini adalah hari ketika apa yang sudah saya telusuri, ditulis ulang, dan dirangkum kembali. Dikoreksi kembali. Sepintas itu, dan saya segera harus membuka buku baru. Untuk juga ditelusuri lagi. Untuk kemudian ditulis ulang dan dirangkum lagi, ketika sudah mencapai akhir. Mungkin, saat ini saya masih berpegang pada pemaknaan ini, sambil mencari, terus mencari. Bukan untuk saya. Namun untuk menjaga rasa bangga yang seharusnya bisa saya bagi dengan ayah. Dengan nenek. Dengan keluarga.</p>
<p style="text-align:left;">Hingga saya tidak mampu menelusuri buku apa pun lagi.</p>
<p style="text-align:left;">.</p>
<p>Selamat tanggal 16 November.</p>
<p>Semoga anda juga menemukan makna dari hari spesial anda.</p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/from-the-blog/'>From the Blog</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/1015/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/1015/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=1015&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Revolusi Media Sosial dan Angan-angan Perubahan</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 11:05:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interweb]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[egypt]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mesir]]></category>
		<category><![CDATA[political protest]]></category>
		<category><![CDATA[revolution]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social movement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=965</guid>
		<description><![CDATA[Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (social media; macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara Social Media Festival di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula International Conference on Social Media Cultures di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=965&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1005" class="wp-caption aligncenter" style="width: 452px"><a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/twitter1.jpg"><img class="size-full wp-image-1005" title="twitter1" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/twitter1.jpg?w=600" alt="Viva la Revolucion..?"   /></a><p class="wp-caption-text">Viva la Revolucion...?!</p></div>
<p>Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (<em>social media; </em>macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara <a href="http://socmedfest.com/">Social Media Festival</a> di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula <a title="ICSMC 2011" href="http://fisip.uajy.ac.id/ic2011/">International Conference on Social Media Cultures</a> di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya diberi kesempatan untuk menghadiri (bersama <a title="annasophia" href="http://catatatan.wordpress.com/">Lemon S. Sile</a>).</p>
<p>Dari Sabtu kemarin (24/9) hingga entri ini ditulis (26/9), saya lihat di <em>timeline</em> Twitter masih ramai membahas tentang pengaruh besar media sosial. Maka dari itu, pikir saya, mungkin untuk sekedar menambah perspektif tentang riuh-rendah media sosial masih belum terlalu terlambat. <del>Lagipula, supaya blog ini tidak melompong melulu (beberapa waktu lalu juga sempat ditagih <a href="http://xpga.wordpress.com/">bung reinhart</a> <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  )</del>.</p>
<p>Saya hendak menyoroti satu aspek yang nampaknya jadi salah satu alasan kenapa media sosial nampak begitu besar pengaruhnya bagi kemaslahatan umat manusia: <em>social media activism</em>. Aktivisme melalui media sosial.</p>
<p><span id="more-965"></span></p>
<p>Yang paling mencolok adalah pergolakan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada awal 2011 lalu. Khususnya di Mesir: yang berhasil menumbangkan Hosni Mobarak, penguasa selama tiga dekade.</p>
<p><a title="New York Times" href="http://www.nytimes.com/2011/02/06/world/middleeast/06face.html?_r=1#h[]">Tidak</a> <a title="Atlantic Wire" href="http://www.theatlanticwire.com/global/2011/01/how-the-egyptian-government-turned-off-the-internet/21324/">sedikit</a> <a title="Detik.com" href="http://www.detiknews.com/read/2011/02/18/155409/1573767/10/revolusi-mesir-sukses-twitter-facebook-lebih-dipantau-as?nd992203605">media</a><a title="The Daily Beast" href="http://www.thedailybeast.com/articles/2011/01/22/we-are-all-khaled-said-will-the-revolution-come-to-egypt.html"> massa</a> <a title="CNN" href="TECH">yang</a> <a title="Mashable" href="http://mashable.com/2011/02/25/facebook-egypt/">menyoroti</a> peran media sosial dalam pergolakan tersebut. Hasil dari sebaran <a title="Seberapa besar peran media sosial?" href="http://www.facebook.com/questions/10150275020978543/?qa_ref=pt"><em>polling</em> kecil-kecilan</a> di Facebook tempo hari dan tulisan <a href="http://www.sudutpandang.com/2011/04/internet-twitter-demokrasi-dan-revolusi/">om Nukman di majalah Rolling Stone</a> juga menunjukkan ada perhatian kita pada teknologi yang &#8220;relatif&#8221; baru ini. Wael Ghonim, orang yang dilihat sebagai salah satu kunci revolusi oleh <a title="Huffington Post" href="http://www.huffingtonpost.com/2011/02/11/egypt-facebook-revolution-wael-ghonim_n_822078.html">Huffington Post</a>, bahkan menggunakan jargon-jargon internet seperti &#8220;Revolusi 2.0 yang menyerupai Wikipedia&#8221; untuk menjelaskan fenomena tempo hari.</p>
<p>Populeritas ini mungkin tidak begitu mengherankan. Apalagi, mediumnya adalah perangkat yang dekat dengan keseharian kita&#8211;yang biasa digunakan untuk bergosip bersama kawan, <em>stalking c</em>urhat harian selebritis, atau bermain menanam jagung di <abbr title="FarmVille">sawah virtual</abbr>. Siapa sangka ternyata bisa digunakan untuk menggulingkan diktator besar dari tahtanya?</p>
<p><strong></strong>Konon &#8220;Twitter Revolution&#8221; [baca: revolusi dengan media sosial] ini bukan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, <a title="Washington Times" href="http://www.washingtontimes.com/news/2009/jun/16/irans-twitter-revolution/">Iran</a> dan <a title="Foreign Policy" href="http://neteffect.foreignpolicy.com/posts/2009/04/07/moldovas_twitter_revolution">Moldova</a> juga tercatat telah menggelar revolusi serupa. Para demonstran menggalang aksi massa dan mengumpulkan ribuan peserta, kabarnya, dengan kekuatan dari media sosial.</p>
<p>Meskipun kasus Iran dan Moldova tidak berhasil menumbangkan pemerintahan Ahmadinejad maupun partai Komunis Moldova yang <a title="The New York Times" href="http://www.nytimes.com/2009/06/23/world/middleeast/23iran.html">disinyalir mencurangi pemilu</a>, namun aktivisme melalui media sosial-nya itulah yang dikenang sebagai jejak yang luar biasa. Kedengarannya, pergolakan politik abad ke-21 tidak bisa lepas dari tumpuan teknologi informasi.</p>
<p>Dan bila bicara tentang teknologi informasi dan politik, siapa yang bisa lupa dengan kampanye Barack Obama pada 2008? Kampanye yang sampai bisa membuat generasi <a title="TIME" href="http://www.time.com/time/politics/article/0,8599,1700525,00.html">muda apatis politik untuk memilih</a>&#8211;<em>thanks to the internet</em>.</p>
<p>Tapi, justru di sini perkaranya. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Aktivisme Digital: Di Mana Peran Media Sosial?</strong></p>
<p>Terima kasih pada media massa, Facebook dan Twitter kembali terdengar gaungnya pada revolusi di Timur Tengah-Afrika Utara. Paling tidak ada <a title="New York Times" href="http://www.nytimes.com/2009/01/25/magazine/25bloggers-t.html?pagewanted=all">NY Times</a> dan <a title="Voice of America" href="http://www.voanews.com/learningenglish/home/How-a-Social-Media-Service-Used-by-Stars-Gave-Egyptians-a-Voice-115430564.html">Voice of Americae</a> yang sudah menyoroti bagaimana para aktivis demonstran tidak bisa lepas dari genggaman internet; mulai dari foto yang diunggah, penyebaran video untuk menggalang peserta, hingga <em>page </em>dan <em>group </em>Facebook yang dibentuk.</p>
<p>Salah satu <em>page </em>Facebook yang paling mendapat sorotan adalah &#8220;<a title="Versi Inggris/Internasional-nya. Saya belum berhasil mendapat versi aslinya." href="http://www.facebook.com/elshaheeed.co.uk">We Are All Khaled Said</a>&#8220;&#8211;muncul sebagai reaksi atas kematian Mohammad Khaled Said; pemuda Mesir yang dipukuli sampai mati oleh polisi karena diduga menyimpan video transaksi ilegal polisi. Pembuatnya adalah Wael Ghonim. Aktivitas serupa juga dilakukan oleh Asmaa Mahfouz. Mahfouz merupakan salah satu aktivis yang membuat video blog mendorong masyarakat Mesir untuk berdemonstrasi pada tanggal 25 Januari.</p>
<p>Maka ketika yang laporan bahwa pemerintahan Mesir rupanya <a title="Telegraph" href="http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/egypt/8288163/How-Egypt-shut-down-the-internet.html">mematikan jaringan internet</a> ketika protes berlangsung, kesan yang terlihat adalah: internet&#8211;melalui media sosial&#8211;benar-benar mampu menjelma jadi marabahaya besar bagi rezim Mubarak.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 276px"><img class="  " title="E-G-Y-P-T" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/egypt.jpg?w=266&#038;h=270" alt="" width="266" height="270" /><p class="wp-caption-text">Dari IE sampai Twitter; membentuk Mesir</p></div>
<p>Namun media massa tidak membedakan antara &#8220;menyebarkan informasi&#8221; dengan &#8220;mengorganisasi gerakan&#8221; melalui media sosial.</p>
<p><a href="http://www.thenation.com/blog/158159/whos-behind-egypts-revolt">The Nation</a> menarasikan pengalaman masyarakat Mesir dengan internet dari tahun-tahun sebelumnya, dalam kaitannya dengan protes. Sementara <a href="http://www.nytimes.com/2011/02/06/world/middleeast/06face.html?_r=2#h[]">New York Times</a> secara eksplisit menyebutkan Facebook dan YouTube berperan dalam mengorganisasi protes tempo hari.</p>
<p>Padahal, &#8220;mengorganisasi gerakan&#8221; berarti melibatkan hubungan resiprokal antara sesama pengguna media sosial. Misalnya, menyusun kapan gerakan akan dilakukan, mengatur strategi demonstrasi. Kegiatan ini butuh interaksi timbal-balik di antara orang-orang yang berdiskusi&#8211;sifatnya dua arah.</p>
<p>Sementara, &#8220;menyebarkan informasi&#8221; lebih bersifat satu arah. Ada satu narasi yang kemudian disebar ke khalayak luas, tanpa membutuhkan timbal balik. Misalnya, contoh klasik penyebaran informasi adalah ketika kita sedang menonton berita di TV. Satu arah&#8211;kita hanya menerima informasi tapi tidak membalas balik secara langsung.</p>
<p>Terkait media sosial, ada pengalaman menarik yang bisa dipetik dari &#8220;Revolusi Twitter&#8221; Iran dua tahun sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Revolusi Twitter&#8221; Iran berhasil diamati oleh khalayak luas dan terungkap dalam liputan media karena maraknya penggunaan <em>hashtag</em>/tagar #iranelection di ranah timeline Twitter. Lebih dari 200 ribu tweet, <a href="http://mashable.com/2009/06/17/iranelection-crisis-numbers/">kalau menurut data dari Mashable</a>. Nampaknya di jalan-jalan di Tehran sana, ribuan orang sedang sibuk membawa panji Revolusi Hijau di tangan kiri, dan genggaman teknologi di tangan kanan. Luar biasa sekali.</p>
<p>Namun tunggu dulu.</p>
<p>Sebentar, sebentar.</p>
<p>Tampaknya ada yang aneh. Ketika ditelusuri, kenapa <em>hashtag </em>#iranelection banyak yang berbahasa Inggris? <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':-?' class='wp-smiley' />  Bukannya lebih mudah kalau berkomunikasi dengan sesama demonstran Iran menggunakan bahasa Farsi?</p>
<p>Rupanya, menurut Sean Aday, dkk, mayoritas pengguna internet Iran tidak menggunakan Twitter. Data dari laporan Sysomos juga menunjukkan, hanya 19.235 akun Twitter Iran yang terdaftar (hanya 0.0295% dari populasi Iran), sementara ada lebih dari 100.000 demonstran di jalanan Tehran di sana! <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_surprised.gif' alt=':o' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kalau begitu, siapa yang berkomunikasi dengan <em>hashtag</em> #iranelection?</p>
<p>Adalah akun bernama <a href="twitter.com/oxfordgirl">@oxfordgirl</a>, seorang kelahiran Iran yang tinggal di Inggris, yang mempopulerisasikan <em>hashtag </em>#iranelection. Jelas tidak cukup hanya seorang untuk membuat sebuah <em>hashtag </em>menjadi trending topics. Pengguna Twitter Iran lain juga mencoba mempopulerisasikan&#8211;tapi untuk siapa?</p>
<p>Rupanya, <em>hashtag </em>#iranelection itu bukan untuk berkomunikasi dengan sesama demonstran. Namun, untuk mengabarkan berita <em>Green Revolution </em>Iran kepada seluruh dunia, mengingat gerak media massa di Iran sangat dibatasi oleh Ahmadinejad, sehingga sulit bila harus mengandalkan media massa untuk melaporkan berita demonstrasi terhadap pemerintah. <em>Hashtag </em>#cnnfail yang muncul kemudian, dilihat sebagai<a title="Menurut wawancara dengan Gaurav Mishra" href="http://worldfocus.org/blog/2009/06/18/irans-twitter-revolution-myth-or-reality/5869/"> tanda kekecewaan para demonstran</a> kepada CNN: kenapa CNN tidak berhasil meliput kejadian di Iran ini.</p>
<p>&#8230;</p>
<p> <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lalu bagaimana dengan Mesir?</p>
<p>Mari sedikit melihat data. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/data2.jpg"><img title="data2" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/data2.jpg?w=400&#038;h=263" alt="Data pengguna Facebook Mesir" width="400" height="263" /></a><p class="wp-caption-text">Bandingkan dengan Indonesia: 98%!</p></div>
<p>Ini data yang dikompilasi dari <a title="Diakses pada September 2011" href="http://www.unicef.org/egypt/">UNICEF</a>, <a title="Diakses pada September 2011" href="http://www.internetworldstats.com/">Internet World Stats</a>, dan eMarketing Egypt. Data yang diambil berdasarkan data di penghujung Desember 2010.</p>
<p>Facebook, yang disoroti sebagai penggerak demonstran, ternyata hanya memiliki 18.9% pengguna dari total pengguna internet Mesir&#8211;yang berarti hanya 4.7% pengguna Facebook dari total populasi penduduk Mesir.</p>
<p>Dari demonstrasi besar-besaran kemarin, <a title="Al-JAzeera" href="http://english.aljazeera.net/news/middleeast/2011/02/20112113115442982.html">ada</a> <a title="New York Times" href="http://www.nytimes.com/2011/02/02/world/middleeast/02egypt.html?_r=1&amp;hp">beberapa</a> <a title="Associated Press" href="http://old.news.yahoo.com/s/ap/ml_egypt">laporan</a> yang berbeda-beda mengenai berapa sebetulnya jumlah demonstran yang memadati Mesir&#8211;dari pelosok jalanan hingga lapangan Tahrir. Rata-rata melihat demonstrasi kemarin dipadati hingga ratusan ribu hingga jutaan orang.</p>
<p>Kalau dibanding Iran, 3 juta pengguna Facebook tampaknya masih lebih meyakinkan, ya? Tapi tunggu sebentar&#8211;apakah mereka menggunakan Facebook memang untuk mengorganisasi demonstrasi, dengan adanya hubungan timbal-balik?</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/data3.jpg"><img class="size-full wp-image-999" title="Aktivitas Pengguna Facebook Mesir" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/data3.jpg?w=600" alt="Aktivitas Pengguna Facebook Mesir"   /></a><p class="wp-caption-text">Lebih banyak mengandalkan traditional media</p></div>
<p>Data ini diambil dari survei selama protes berlangsung (Januari-Maret 2011) Rupanya, 56% pengguna Facebook Mesir tidak berpartisipasi dalam diskusi terkait revolusi, dan 68% bahkan tidak memonitor berita dari Facebook sama sekali. Mereka justru mendapatkan informasi dan berita dari media massa tradisional seperti Al-Jazeera.</p>
<p>Lalu bagaimana kabar dan strategi protes diorganisasi? Tampaknya, <a title="Pengamatan Marc Lynch" href="http://www.marclynch.com/2011/06/20/pop-the-limits-and-promise-of-the-online-challenges-to-the-arab-state/">masjid</a> dan <a title="Laporan Haaretz" href="http://www.haaretz.com/news/international/from-the-mosques-to-the-streets-thousands-protest-in-cairo-elbaradei-joins-demonstrations-1.339792">pertemuan secara langsung</a> masih menjadi cara yang paling efektif. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8230;</p>
<p> <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, mungkinkah media sosial menopang demonstrasi dan revolusi? Jawaban dari Mesir, mungkin revolusi media sosial belum dapat terwujud.</p>
<p>Oke lah&#8211;barangkali bila infrastruktur masih kurang memadai, atau penetrasi internet masih kurang tinggi, seperti kasus di Mesir 2011 atau Iran 2009, agaknya sulit untuk mengandalkan media sosial sebagai pendorong protes. Lagipula, esensi dari demonstrasi justru terletak di proses komunikasinya.</p>
<p>Tapi bagaimana dengan negara yang memiliki basis pengguna internet yang kuat; seperti, Cina, misalnya?</p>
<p><strong>Tentang Demonstrasi, Media Sosial, dan <em>Strong-Tie</em></strong></p>
<p>Salah satu contoh klasik yang sering diungkit dalam menyoroti keberhasilan media sosial dalam perubahan politik barangkali adalah keberhasilan kampanye Barack Obama pada tahun 2008. Bayangkan, kampanye yang berbasiskan pada internet itu mampu membuat generasi muda Amerika Serikat yang apatis politik selama bertahun-tahun untuk mengikuti pemilu presiden pada tahun itu. Contoh klasik lain adalah penggalangan dana pada kasus gempa Haiti di tahun 2010.</p>
<p>Dua keberhasilan cerita aktivisme media sosial itu kemudian sering dikait-kaitkan dengan cerita revolusi. Dalam konteks ini, cerita Revolusi Mesir 2011. Tapi, ada beberapa permasalahan kenapa contoh tersebut sangat tidak relevan dengan kondisi Mesir pada 2011.</p>
<p>Yang harus dicatat: kampanye Obama dan penggalan dana Haiti <em>bukanlah sebuah protes politik/demonstrasi</em>.</p>
<p>Adalah Clay Shirky <a title="Artikel di Foreign Affairs" href="http://www.foreignaffairs.com/articles/67038/clay-shirky/the-political-power-of-social-media">yang mengamati</a> bahwa media sosial mampu membangun <em>civil society </em>yang kuat dengan adanya komunikasi yang intens di antara penggunanya. Menurut Shirky, media sosial bukanlah pengganti gerakan di dunia nyata, tapi adalah cara untuk mengoordinasi gerakan di dunia nyata. Pernyataan Shirky ada benarnya, namun pengaplikasian media sosial untuk &#8220;mengoordinasi gerakan&#8221; ini yang kemudian punya penerapan yang berbeda-beda.</p>
<p>Koordinasi pada kampanye Obama dan penggalangan dana Haiti bisa cukup berhasil melalui media sosial karena mereka bukanlah sebuah demonstrasi. Mengapa demonstrasi tidak bisa mengandalkan koordinasi melalui media sosial adalah karena satu hal <a title="Artikel di The New Yorker" href="http://newyorker.com/reporting/2010/10/04/101004fa_fact_gladwell">yang disoroti oleh Malcolm Gladwell</a>: demonstrasi adalah aktivisme dengan tingkat resiko tinggi. Dan aktivisme dengan tingkat resiko tinggi membutuhkan ikatan yang kuat di antara pesertanya.</p>
<p>Tidak seperti penggalangan dana atau berpartisipasi dalam pemilu di negara yang demokratis, demonstrasi di rezim otoriter seperti Mesir&#8211;atau Cina&#8211;punya resiko yang lebih tinggi: resiko kehilangan nyawa.</p>
<div id="attachment_1002" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px"><a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/egypt1.jpg"><img class="size-full wp-image-1002  " title="Kontras" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/egypt1.jpg?w=600" alt="Kontras?"   /></a><p class="wp-caption-text">Dua hal yang sangat berbeda, bukan?</p></div>
<p>Menurut Malcolm Gladwell, menggalang peserta protes melalui media sosial <em>from the ground up </em>tidak akan cukup. Faktor terbesarnya adalah karena tidak adanya ikatan yang kuat (<em>strong-tie</em>) di antara satu pengguna media sosial dengan pengguna yang lainnya. Karena pengguna media sosial, dalam bahasa Wael Ghonim yang tampak semangat dengan ide Revolusi 2.0-nya, tidak benar-benar saling mengenal. Dalam artian Gladwell, ikatan di media sosial&#8211;di internet&#8211;adalah ikatan yang lemah, dan tidak cukup untuk membuat sebuah demonstrasi.</p>
<p>Faktor yang membuat ikatan di internet tergolong <em>weak-tie </em>menurut Gladwell adalah karena tidak adanya interaksi secara fisik. Dalam artian, individu yang dikenal melalui internet tidak hidup di rumah yang sama, tidak tinggal di kamar asrama yang sama, tidak sekolah di tempat yang sama, dst.&#8211;tidak seperti individu dengan <em>strong-tie </em>seperti anggota keluarga atau sahabat kampus. Jadi teman sekolah yang aktif di internet tidak terhitung dalam kasus ini.</p>
<p>Gladwell mengilustrasikannya dengan mengangkat demonstrasi di Greensboro, North Carolina, pada tahun 1960-an. Demonstrasi yang berawal dari <em>sit-in </em>empat sahabat berkulit hitam yang tinggal di satu asrama yang sama, berkembang menjadi protes besar-besaran terhadap diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam. Ketika ditelusuri, setiap peserta demonstrasi tersebut ternyata punya ikatan kuat antara satu dengan yang lainnya&#8211;ada yang punya sahabat yang ikut demonstrasi, lalu sahabat tersebut mengajak anggota keluarganya, lalu anggota keluarganya itu mengajak temannya lagi, dan seterusnya.</p>
<p>Jadi, dalam hipotesis Gladwell, bila misalnya saya mengajak follower Twitter saya&#8211;yang hanya dikenal melalui internet dan tidak pernah bertemu&#8211;untuk berdemonstrasi menentang rezim otoriter, maka kemungkinan besar tidak akan berhasil. Karena, <em>weak-tie</em>.</p>
<p>Gladwell memang menyoroti bahwa <em>weak-tie </em>dalam internet punya keunggulannya tersendiri. Misalnya, mengambil contoh dari studi Mark Granovetter, <em>weak-tie </em>bisa dipakai dalam mencari pekerjaan. Gladwell juga mencontohkan bahwa <em>weak-tie </em>dalam internet juga bisa mendorong individu untuk menyumbangkan sumsum tulang. <em>Weak-tie </em>unggul dalam narasi informasi. Maka apabila <a title="Tentang Media Sosial dan Revolusi" href="http://yuswohady.blogdetik.com/2011/02/05/media-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir/">pak Yuswo Hady menyoroti faktor E = wMC2</a>, nampaknya itu hanya berhasil sebagai penyebar informasi saja, namun tidak serta-merta membuat individu mau turun ke jalan.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 393px"><img class=" " title="To do or to tweet..." src="http://mthruf.files.wordpress.com/2011/01/job-fails-slacktivism-look-it-up.jpg?w=383&#038;h=227" alt="To do or to tweet..." width="383" height="227" /><p class="wp-caption-text">To do or to tweet...</p></div>
<p>Hipotesis Gladwell didukung oleh penelitian dari Gilbert dan Kalaharios (2009) dan Marsden dan Campbell (1984). Bahwasanya, dalam salah satu indikator penentu kedekatan ikatan (menentukan <em>weak-tie </em>atau <em>strong-tie</em>), faktor bertemu secara langsung, atau kedekatan secara fisik, memang menjadi salah satu variabel penentu.</p>
<p>Hipotesis Gladwell juga didukung oleh teori <em>rational choice </em>dalam protes politik yang digagas Karl-Dieter Opp.</p>
<p>Menurut Opp, sewajarnya seorang individu tidak akan mengikuti demonstrasi karena adanya <em>free-rider dilemma</em>: &#8220;apabila saya bisa mengambil keuntungan dari hasil demonstrasi, kenapa saya harus ikut?&#8221; Dalam pandangan tradisional, dilemma ini bisa dijawab melalui adanya insentif; bila ada imbalan yang lebih besar dari pengorbanan yang harus dilakukan, maka individu akan tetap berpartisipasi. Misalnya, uang atau insuransi jiwa.</p>
<p>Opp mengembangkan gagasan ini dengan juga memasukkan faktor yang lebih abstrak: yaitu jaringan pertemanan. Seorang individu akan ikut berpartisipasi dalam sebuah demonstrasi bila ada temannya&#8211;seorang dengan ikatan yang kuat (<em>strong-tie</em>)&#8211;yang juga ikut berpartisipasi. Dalam perspektif ini, sebuah <em>high-risk activism </em>bisa dipandang menjadi lebih rendah karena adanya keterlibatan seseorang dengan <em>strong-tie</em>.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Akhirnya tulisan ini selesai juga ya? Saya juga tidak menduga ternyata pada akhirnya tetap jadi cukup panjang. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Media sosial sejauh ini menunjukkan, bahwa prosesnya masih terbatas sebagai sarana narasi informasi. Gagasan Gladwell tentang lemahnya media sosial dalam membentuk demonstrasi barangkali bisa dimaknai sebagai pengingat bahwa sebuah aksi massa tidak akan terbentuk tanpa adanya tindakan nyata secara <em>offline</em>&#8211;suatu hal yang selalu diwanti-wanti oleh <a title="Zenosphere" href="http://zenosphere.wordpress.com">mas So Hakim</a> akan kelemahan media sosial: bisa membawa &#8220;aktivis internet&#8221; terjerembab dalam jurang <em>slacktivism, </em>di mana aktivisme dimaknai hanya dari jempol &#8220;like&#8221; Facebook atau &#8220;retweet&#8221; Twitter.</p>
<p>Besarnya akses terhadap informasi tidak melulu akan menopang kemungkinan dilancarkannya aksi kolektif bila tidak memiliki pondasi yang kuat. Bagaimana pun, sejarah gerakan sosial dalam satu abad terakhir masih membutuhkan jaringan dan ikatan sosial yang kuat di antara pesertanya. Di Mesir pun, jalur tradisional seperti ceramah pasca-sholat Jum&#8217;at justru lebih efektif.</p>
<p>Saya bukannya mau bilang media sosial tidak ada gunanya sama sekali&#8211;bukan begitu. Toh kita sudah melihat efektivitasnya pada kampanye Obama, pada Koin untuk Prita, pada penggalangan dana Haiti&#8211;apabila memang ada kombinasi yang efektif antara informasi dan gerakan sungguhan.</p>
<p>Narasi informasi yang tersebar dari media sosial <em>mungkin </em>bisa mendorong terciptanya demonstrasi; namun untuk mengorganisasi <em>unknown people </em>dengan gaya Wikipedia seperti yang dibilang Wael Ghonim? Mungkin belum.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em>Versi lengkap tulisan ini dimuat dalam seminar </em>&#8220;International Conference on Social Media Cultures 2011&#8243;, <em>dengan judul </em>&#8220;Reconsidering Social Media Activism: Organizing Movements or Speading Ideas?&#8221;</p>
<p><em><strong>Gambar dari: </strong></em><em><a href="http://www.ritholtz.com/blog/2011/01/twitter-revolution/">The Big Picture</a></em><em>, akun Twitter <a href="twicsy.com/i/4guqx">@LatefaaM</a>, situs <a href="http://ahok.org/laporan-kerja/baleg/rdpu-baleg-terkait-dengan-ruu-perubahan-uu-pemilu/">Basuki T. Purnama</a>, <a href="http://onemansblog.com/2011/02/03/a-first-hand-account-of-the-egyptian-revolution/">One Man&#8217;s Blog</a>, <a href="http://greeneggsandfish.wordpress.com/2011/03/20/2-2-4-not-5/">Green Eggs and Fish</a>, dan data olahan sendiri dalam seminar ICMSCM.</em></p>
<p><strong>Referensi (non-internet):</strong></p>
<p>Aday, Sean; Farrell, Henry; Lynch, Marc; Sides, John; Kelly, John; and Zuckerman,Ethan. “Blogs and Bullets: New Media in Contentious Politics”, in US Institute of Peace (2010).</p>
<p>eMarketing Egypt, &#8220;Facebook in Egypt&#8221;, in Online Competitive Intelligence Report, 2ndEdition (August, 2011).</p>
<p>Gilbert, Eric, and Karahalios, Karrie. “Predicting Tie Strength With Social Media”, inCHI 2009 (April 2009).</p>
<p>Lohmann, Susanne. “Why Did East Germans Rebel?” in The Independent Review, Vol.II, No. 2 (Fall 1997).</p>
<p>Lynch, Marc. “After Egypt: The Limits and Promise of Online Challenges to the Authoritarian Arab State”, in Perspectives on Politics, Vol.9, No.2 (June 2011).</p>
<p>Marsden, Peter V., and Campbell, Karen E. “Measuring Tie Strength” in Social Forces(1984).</p>
<p>Opp, Karl-Dieter. Theories of Political Protest and Social Movements (Hachette: Little,Brown, 1966).</p>
<p>Opp, Karl-Dieter. “Collective Political Action”, in Analyse &amp; Kritik (2001).</p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/science-technology/interweb/'>Interweb</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/social/'>Social</a> Tagged: <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/egypt/'>egypt</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/internet/'>internet</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/media-sosial/'>media sosial</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/mesir/'>mesir</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/political-protest/'>political protest</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/revolution/'>revolution</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/social-media/'>social media</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/social-movement/'>social movement</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/965/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/965/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=965&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/twitter1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">twitter1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/egypt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">E-G-Y-P-T</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/data2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">data2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/data3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aktivitas Pengguna Facebook Mesir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/10/egypt1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kontras</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mthruf.files.wordpress.com/2011/01/job-fails-slacktivism-look-it-up.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">To do or to tweet...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada [Mencoba] Blogging Kembali</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 09:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Update & Notifs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah menulis materi baru lagi di blog. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal satire PKS atau jenggot teori Darwin). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs microblogging macam Plurk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=873&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah <a title="Osama and friends" href="http://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/">menulis materi baru lagi di blog</a>. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal <a href="http://deathlock.wordpress.com/2009/02/07/partai-kebangkitan-sionisme/">satire PKS</a> atau <del>jenggot</del> <a href="http://deathlock.wordpress.com/2007/07/02/teori-darwin-dan-nabi-adam/">teori Darwin</a>). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs <em>microblogging </em>macam Plurk dan Twitter.</p>
<p>Februari kemarin sempat coba menulis lagi, tapi gagal di tengah jalan. Cuma satu entri dihasilkan (sebenarnya dua, dengan <a title="ACHTUNG!" href="http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/">satu disclaimer</a>); blogwalking pun tiada dijalankan. Padahal tidak afdhol itu blogging kalau tidak blogwalking; ibaratnya cuma meracau di kamar sendiri saja.</p>
<p>Pasalnya, [mencoba] blogging lagi setelah vakum berbulan-bulan itu ternyata, bagi saya, memang sulit. Terutama karena saya melanjutkan blog lama.</p>
<p><span id="more-873"></span><br />
.</p>
<p><strong>Kategorisasi yang Ngawur</strong></p>
<p>Ini kesulitan pertama saya. Sebelum mulai menulis, saya mesti mengira-ngira dulu, kira-kira ini tulisannya cocok masuk di kategori mana. Jadilah, karena lama tak membuka ini blog, saya cek dulu satu per satu kategori yang ada. Melalui entri-entri lama yang sudah karatan.</p>
<p>Eh walhasil, ditemukan ternyata saya dulu itu ngawur mengategorikan entrinya. Masa <a href="http://deathlock.wordpress.com/2007/12/15/kecewa/">tulisan curhat</a> <del>yang sebetulnya ditujukan ke &#8216;seseorang&#8217;</del> saja masuk kategori &#8220;sosial&#8221;? Kalau dikilas balik, nampaknya ini gara-gara saya sendiri, yang asal-cantum kategori berdasarkan <em>mood</em>. Berbau &#8220;sosial&#8221; dikit, contreng. Berbau budaya dikit, contreng. Akhirnya jadi amburadul.</p>
<p>Maka dari itulah saya jadi menghabiskan waktu menyortir ulang entri-entri yang kategorinya berantakan ini, plus <em>renaming</em> supaya sesuai konteks. Lucunya, seperti yang sempat dibilang <a href="http://sora9n.wordpress.com">mas sora</a>, rupanya sebagian besar entri yang dulu saya tulis masuk ke kategori <a href="http://deathlock.wordpress.com/category/person-al/"><em>Ramblings </em>(sekarang <em>Person-al</em>)</a>. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Tak heran kalau akhirnya saya jadi kehabisan materi buat blogging, wong sebagian besar sudah terpuaskan di racauan <em>microblog</em>.</p>
<p>Bahkan, jujur saja, tadinya tulisan ini cuma mau saya jadikan racauan di Plurk. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>.</p>
<p><strong>Cara Tulis a la <em>Microblog</em></strong></p>
<p>Entah, mungkin karena memang terlalu lama berkutat di dunia itu&#8211;<em>microblog&#8211;</em>tanpa mengimbangi dengan kebiasaan menulis panjang (kecuali makalah dan <em>paper </em>untuk tugas, serta esai-esai lain, yang, anehnya, justru bisa saya tulis dengan lancar). Akhirnya, ketika mesti menulis &#8220;normal&#8221; lagi untuk blog, saya justru kagok.</p>
<p>Begitu membuka <em>microblog </em>seperti Plurk, misalnya, yang saya pikirkan adalah bagaimana menyampaikan pesan yang panjang dalam bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Gara-gara masalah pembatasan karakter/jumlah huruf (sekitar 140 karakter, maksimal), yang saya usahakan adalah memotong kata-kata yang tidak perlu, supaya ringkas. Kalau ternyata setelah dipotong masih tembus juga, terpaksa memotong spasi dan membuat singkatan-singkatan.</p>
<p>Dan kalau ternyata masih tembus juga, apa boleh buat: #kultwit (kuliah twitter) atau kulplurk (kuliah plurk). Maksudnya ini adalah posting secara berantai, ibarat dosen memberi kuliah. Kultwit ini juga diusahakan untuk ditulis sesingkat-singkatnya. Dan akhirnya jadi terbawa-bawa kalau mau <em>blogging</em>. Seakan kehilangan kalimat-kalimat penjelas&#8211;terpaku pada kalimat inti saja.</p>
<p>Yang saya herankan, kalau tugas kuliah, atau esai-esai lain, atau <em>roleplaying </em>di forum roleplay (macam <a title="Komunitas BLEACH Indonesia: Roleplay section" href="http://bleachindonesia.com/forum/index.php?c=5">Gotei 13</a>), cara menulis saya lancar-lancar saja. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>.</p>
<p><strong>Zaman Berubah: Cara Pandang Saya Juga Berubah, Tapi Blog&#8230;?</strong></p>
<p>&#8230;tapi blog menetap. Tulisan-tulisan zaman purba masih tersimpan.</p>
<p>Ini dia masalah besarnya: saya melanjutkan blog lama yang masih dinistai pemikiran-pemikiran kacangan zaman SMA. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Kalau dibaca-baca lagi cuma bisa mencoreng wajah dengan arang. Parahnya itu, kalau masih ada orang yang mengungkit-ungkit tulisan yang sudah saya anggap basi, atau saya anggap sudah tak sesuai dengan pemahaman saya yang sekarang.</p>
<p>Memang, sebetulnya solusinya mudah saja: pindah blog. Ini yang dilakukan beberapa Peleton 2007, seperti <a title="Banalitas.ORG" href="http://banalitas.org">Kopral Geddoe</a> dan <a title="Zenosphere" href="http://zenosphere.wordpress.com">mas sora</a>. Atau mengkhususkan blog sesuai temanya, seperti Lemon S. Sile (di <a title="Catatatan - Bahasa Indonesia" href="http://catatatan.wordpress.com/">[sini]</a> dan di <a title="elNotion - Bahasa Inggris" href="http://elnotion.wordpress.com/">[sini]</a>). Tampilan baru, imej baru.</p>
<p>Tapi, itu juga sama sulitnya. Saya tak bisa itu meninggalkan blog yang bertahun-tahun dihidupi. Ibarat kekasih: sekali terpaut, terikatlah sudah. Saya pun juga tak sudi menghapus entri-entrinya.</p>
<p>Sebetulnya bisa saja dilindungi kata sandi, tapi akan repot kalau mau dilihat-lihat kembali (mungkin untuk alasan nostalgia, atau <a href="http://www.plurk.com/p/21sex8/I-dont-want-to-keep-my-thoughts-to-myself-because-I-would-lost-so">mencari bahan lawakan</a>). <del>Lagipula tidak bagus untuk alasan SEO</del>. Terpikir juga untuk memasang pengumuman besar-besar soal disclaimer di tiap entri (bahwa entri ini sudah tidak relevan), tapi jelas bakal jauh lebih repot ketimbang sekedar mengurus kategori saja. Kalau ada fitur di WordPress.com (gratisan) untuk memasang yang seperti itu sih, bisa sangat membantu.</p>
<p>.</p>
<p>&#8230;</p>
<p><strong>Akhir Kata</strong></p>
<p>Yaa, memang ada tantangan-tantangan untuk memulai blog ini kembali. Tapi dari yang sudah-sudah, bagi saya paling sulit itu memang untuk memulai awalnya. Nanti kalau sudah enak ya asik sendiri. Walaupun, memang, jujur saja, saya agak buta dengan <em>blogosphere </em>sekarang, mengingat kebanyakan tampaknya sudah terakumulasi di Twitter&#8211;dengan beragam #kultwit-nya (termasuk saya, <em>guilty as charged </em> <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ).</p>
<p>Barangkali entri ini bakal jadi entri berkategori <em>Person-al </em>terakhir saya. Untuk selanjut-selanjutnya, mungkin perlu diupayakan bagi tulisan-tulisan yang lebih berisi. Yaa, kalau pun ada yang personal, yang agak berkualitas dikit lah. Racauan-racauan pribadi, curhat-curhat galau, barangkali ada baiknya kalau disimpan di media sosial yang lain saja (dan lebih bagus kalau curhat sama pacar <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' />  <em>*halah*</em> ).</p>
<p>.</p>
<p>Demikian. Selamat berakhir bulan.</p>
<p><del>Semoga ini tidak sekedar jadi &#8220;cita-cita mulia&#8221; saya, karena <a href="http://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/">dari yang</a> <a href="http://deathlock.wordpress.com/2009/06/15/quo-vadis/">sudah</a>-<a href="http://deathlock.wordpress.com/2008/12/24/saya-belum-mati/">sudah</a>, selalu begitu :ninja: </del></p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/from-the-blog/update-notifs/'>Update &amp; Notifs</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/873/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=873&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Qaeda, Osama bin Laden, dan Riwayat Singkatnya</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 16:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Defense and Security]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qaeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ayman al-Zawahiri]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[Osama bin Laden]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kover majalah TIME bulan Mei 2011&#8243; Hari Senin, awal Mei kemarin, Osama bin Laden diumumkan tewas. Seperti tokoh-tokoh lain yang punya nama besar, kematian bin Laden juga memunculkan dua kutub reaksi: antara yang percaya dan yang tidak. Di ranah Twitter, akun-akun seperti @benny_israel (yang gemar berkonspirasi) langsung menyusun bantahan-bantahan kematian bin Laden; dan saya kira [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=854&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://www.radaronline.com/sites/radaronline.com/files/imagecache/350width/OSAMA-TIME-COVER.jpg" alt="" width="196" height="261" /><em>&#8220;Kover majalah TIME bulan Mei 2011&#8243;</em></p>
<p>Hari Senin, awal Mei kemarin, <a href="http://www.cbsnews.com/stories/2011/05/01/national/main20058777.shtml">Osama bin Laden diumumkan tewas</a>. Seperti tokoh-tokoh lain yang punya nama besar, kematian bin Laden juga memunculkan dua kutub reaksi: antara yang percaya dan yang tidak. Di ranah Twitter, akun-akun seperti <a href="mobile.twitter.com/benny_israel">@benny_israel</a> (yang gemar berkonspirasi) langsung menyusun bantahan-bantahan kematian bin Laden; dan saya kira cukup beralasan kalau muncul sejumlah kecurigaan atas kematian bin Laden (walau saya tidak sepakat dengan argumen-argumennya).</p>
<p>Kontroversi dan berbagai praduga seputar kematian bin Laden bukan yang ingin saya bahas kali ini; sebaliknya, saya kira justru lebih relevan kalau <a title="Seperti yang 4 tahun lalu pernah saya lakukan dengan Jerman Nazi." href="http://deathlock.wordpress.com/2007/12/16/anggapan-keliru-mengenai-jerman-nazi/">memperjelas</a> dan mengenal siapakah sebetulnya si Osama bin Laden ini.</p>
<p>Sebelum pengumuman tentang kematiannya, sering ada orang-orang yang menampik sosok bin Laden sebagai &#8220;buatan Amerika Serikat&#8221;; tapi dalam riwayat perjalanannya, bin Laden berinteraksi dengan berbagai orang, dari kerabat sampai wartawan. &#8216;Kan tidak mungkin orang-orang itu berhalusinasi sedang berinteraksi dengan bayangan imajiner bin Laden?</p>
<p>Jadi, mengikuti slogan khas lembaga dakwah, &#8220;tak kenal maka ta&#8217;aruf&#8221;, mari telusuri dulu perjalanan hidup si <em>America&#8217;s Public Enemy #1</em> ini.</p>
<p><span id="more-854"></span></p>
<p>.</p>
<p><strong>Osama bin Laden: Dari Mana Dia Berasal</strong></p>
<p>Ayah Osama bin Laden, Muhammad bin Laden, adalah usahawan kaya dari bin Laden Group di Arab Saudi. Mulai berusaha pada tahun 1930, sejak usahanya dikenal oleh kalangan keluarga kerajaan Saud, bin Laden Group menjadi salah satu grup usaha sangat kaya dan sangat dekat dengan keluarga kerajaan Saudi.</p>
<p>Proyek bin Laden Group yang terkenal adalah proyek konstruksi di Arab Saudi pada tahun 1960-an&#8211;termasuk konstruksi pembangunan masjid. Kalau akrab dengan nama Masjidil Aqsha yang ada di Yerusalem&#8211;yang beberapa waktu lalu sempat diributkan karena kasus Israel&#8211;proyek rekonstruksi Masjidil Aqsha ini juga merupakan tanggung jawab bin Laden Group sampai tahun 1967, atas perintah Raja Saud.</p>
<p>Nah, Osama bin Laden adalah anak kesekian (kabarnya anak ke-17) dari Muhammad bin Laden. Sebagai anak dari usahawan kaya, Osama juga ditargetkan untuk meneruskan usaha ayahnya ini dengan menempuh pendidikan ekonomi. Setelah beranjak dewasa, Osama kuliah di King Abdul Aziz University, jurusan Ekonomi dan Manajemen. Ada beberapa sumber lain yang mengatakan kalau Osama kuliah di jurusan Teknik, tapi yang paling kuat nampaknya yang di jurusan Ekonomi (terutama karena ini didapatkan dari wawancara langsung dengan kerabat Osama).</p>
<p>Meskipun besar di lingkungan Wahhabi (ayah Osama adalah Wahhabist tulen, istrinya juga banyak <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ) dan memang dididik di lingkungan sedemikian, tapi bukan itu penyebab sikap radikal Osama. Wahhabisme yang sering disebut sebagai penyebab radikalisme Osama, justru tidak begitu signifikan ketimbang apa yang ia dapat ketika kuliah di King Abdulaziz University.</p>
<p>Di King Abdulaziz University, Osama mengenal Muhammad Qutb, saudara dari Sayyid Qutb&#8211;seorang pemikir Islam radikal. Dari Muhammad Qutb, bin Laden mengenal pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb melalui ceramah-ceramahnya. Bin Laden biasa ditemani Jamal Khalifa, teman kuliahnya di King Abdulaziz University. Menurut Jamal Khalifa, mereka&#8211;bersama pemuda lain&#8211;rutin mendatangi ceramah Muhammad Qutb tiap minggunya. Pemikiran Qutb yang mereka terima ini begitu populer, hingga disebut Khalifa sebagai &#8220;yang paling berpengaruh bagi generasi kami.&#8221;</p>
<p>Salah satu ide dari ceramah Qutb yang paling signifikan adalah ide tentang perlunya sebuah <em>Islamic vanguard </em>(<em>tali&#8217;a</em>). <em>Tali&#8217;a </em>ini merupakan suatu wadah, wujud dari aspirasi Muslim untuk melawan kondisi dunia yang ada dalam keadaan <em>jahiliyah </em>(dalam artian, jahiliyah seperti pada masa Muhammad dulu). Melalui <em>tali&#8217;a</em>, kekerasan diperbolehkan. Konsep <em>tali&#8217;a </em>ini bukan ide orisinil Qutb, karena akarnya sudah ada pada pemikir Islam yang jauh lebih kuno, Ibn Taimiyyah. Ide konkretnya sendiri kadang dikaitkan dengan ide <a title="Political vanguard" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vanguard_party"><em>political vanguard </em>a l a Karl Marx</a>, yang berkembangnya memang sezaman dengan zaman Sayyid Qutb (awal abad ke-20).</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/05/marxladen2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-859" title="marxladen2" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/05/marxladen2.jpg?w=300&#038;h=147" alt="bin Laden - Marx" width="300" height="147" /></a><em>&#8220;Yaa&#8230; Memang sama-sama jenggotan sih&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Nah, tapi ini baru awal.</p>
<p>Titik nadir radikalisasi bin Laden ada pada ketika Perang Afghanistan tahun 1980-an. Memang perang ini sering dirujuk sebagai masa penting dalam radikalisasi teroris&#8211;<a title="Paragraf paling bawah" href="http://www.foxnews.com/world/2011/04/22/mosque-attack-shows-changes-indonesia-terrorism/">termasuk di Indonesia</a>, yang membekali calon-calon terorisnya dengan kemampuan merakit bom&#8211;tapi bagi bin Laden, perang ini lebih dari sekedar belajar membuat bom atau mengalami &#8220;perjuangan umat Islam&#8221; dengan mata kepala sendiri.</p>
<p>Di Perang Afghanistan, bin Laden berkembang bersama dua sosok penting; yang mengajarkannya&#8211;dan melatihnya&#8211;praktek tentang <em>jihad</em>: Abdullah Azzam dan Ayman al-Zawahiri. Nama yang kedua yang belakangan ini sering disebut sebagai pengganti bin Laden dan &#8220;tangan kanan&#8221;nya.</p>
<p>Osama bin Laden turun ke medan perang sebagai <a title="Bukan mujahidin dalam artian luas." href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mujahideen#Afghan_civil_war">kelompok mujahidin</a> bersama Abdullah Azzam. Azzam sendiri sempat dikenal bin Laden ketika kuliah di King Abdulaziz University, sebagai salah satu pengajar. Selama di medan tempur, Azzam menjadi sosok mentor bagi bin Laden. Azzam tak hanya mengajarkan kemampuan dan teknik tempur (dan hal-hal operasional lain seperti bom dan persenjataan), tapi juga menyumbang landasan pemikiran bagi bin Laden.</p>
<p>Menurut Azzam, jihad harus dilakukan ketika nasib umat Islam dipertaruhkan oleh adanya serangan dari non-Muslim&#8211;dalam bahasa Azzam, dari bangsa kafir. Dalam konteks Perang Afghanistan, umat Islam dianggap sedang berada dalam serangan kafir. Ide ini diterima dengan baik oleh bin Laden, tapi, setelah usainya Perang Afghanitan, bin Laden bersimpang jalan dengan Azzam.</p>
<p>Satu ciri penting yang membedakan Azzam dengan bin Laden adalah posisi Azzam yang memandang jihad sebagai suatu sikap yang defensif. Meski sama-sama terinspirasi oleh pemikiran Sayyid Qutb&#8211;Azzam sendiri membangun beberapa gerakan militan Islam&#8211;namun Azzam mensyaratkan adanya posisi bertahan. Azzam menolak dialog dengan para &#8220;kafir&#8221; (dalam bahasanya); Azzam hanya mengenal jihad. Namun posisinya jelas: jangan menyerang bila tidak diserang duluan. Posisi Azzam ini diistilahkan sebagai <em>defensive jihad</em>.</p>
<p>Jadi pada tahun 1988, bin Laden berpisah jalan dengan Abdullah Azzam. Ia dirangkul oleh Ayman al-Zawahiri, yang ia kenal ketika Perang Afghanistan dulu. Di bawah bimbingan al-Zawahiri inilah, bin Laden menjadi benar-benar radikal. Dalam bahasa Muntasir al-Zayyat, pengacara yang pernah dipenjara bersama al-Zawahiri, &#8220;Osama berubah dari seorang mujahid menjadi seorang teroris.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="al-Zawahiri" src="http://www.foxnews.com/images/297106/0_61_zawahri_ayman.jpg" alt="" width="256" height="192" /><em>&#8220;Ayman al-Zawahiri:<br />
&#8216;Harry Potter&#8217; yang &#8216;menyihir&#8217; bin Laden&#8221;</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, dan Al-Qaeda</strong></p>
<p>Pada 1987, Soviet mulai menarik mundur pasukannya dari Afghanistan. Tanda-tanda berakhirnya perang mulai terlihat. Satu hal positif di satu sisi, tapi di sisi lain&#8211;di sisi bin Laden&#8211;ini satu hal yang buruk. Bila kaum kuffar sudah pergi, lalu mau dibawa ke mana jihad mereka? Apakah ini berarti perjuangan Muslim melawan Barat yang&#8211;dipersepsikan sebagai&#8211;kafir sudah usai?</p>
<p>Di masa-masa ini, bin Laden berbeda pendapat dengan Azzam. Karena posisi Azzam yang defensif, bin Laden merapat ke Ayman al-Zawahiri yang lebih ofensif.</p>
<p>Al-Zawahiri adalah seorang Mesir yang, secara umur, lebih junior ketimbang Abdullah Azzam&#8211;ia 10 tahun lebih muda. Tapi, sama halnya dengan bin Laden dan Azzam, al-Zawahiri pun seorang pengagum Sayyid Qutb. Lebih-lebih, al-Zawahiri mengenal ajaran ulama Qutb yang terkemuka ini juga dari Muhammad Qutb, seperti bin Laden. Al-Zawahiri dikenalkan ke Muhammad Qutb oleh pamannya, seorang murid setia dari Sayyid Qutb.</p>
<p>Al-Zawahiri tercatat sebagai orang yang paling berpengaruh bagi Osama bin Laden, bahkan hingga sekarang pun ia masih orang yang menonjol. Di setiap waktu Osama bin Laden tampil di depan umum, <a title="Pasangan serasi." href="http://maddycool.com/wp-content/uploads/2011/05/1592142896editor_Osama_Bin_Laden_and_Ayman_al-Zawahiri1.jpg">misalnya saat diwawancara</a>, atau proses rekaman propaganda, al-Zawahiri selalu tampil mendampingibin Laden. Kesan yang ditimbulkan dari al-Zawahiri terhadap bin Laden di umum selalu seperti &#8220;tangan kanan&#8221; atau wakil bin Laden.</p>
<p>Padahal, sebaliknya, justru al-Zawahiri yang sebenarnya bisa dibilang sebagai <em>mastermind&#8211;</em>yang mempengaruhi bin Laden, sebelum dan sesudah Al-Qaeda terbentuk.</p>
<p>Al-Qaeda dibentuk pada akhir tahun 1980-an&#8211;menjelang 1990-an&#8211;selepas Perang Afghanistan, ketika bin Laden berniat melanjutkan perjuangan jihad yang ia lakukan ketika di Afghanistan. Ide dibentuknya al-Qaeda sendiri datang dari al-Zawahiri, meskipun untuk selanjutnya disusun oleh bin Laden.</p>
<p>Peran besar al-Zawahiri misalnya terlihat di masa-masa awal aktivitas Al-Qaeda. Ali al-Rashidi, salah satu komandan militer di masa awal, adalah orang yang dekat dengan al-Zawahiri. Ia dipilih sebagai komandan militer oleh bin Laden atas nasehat al-Zawahiri. Demikian pula, ajakan Hasan al-Turabi, militan asal Sudan, untuk bergabung bersama al-Qaeda, juga merupakan salah satu bentuk perencanaan strategis oleh al-Zawahiri&#8211;meskipun kesepakatannya diputuskan oleh bin Laden.</p>
<p>Al-Zawahiri berkembang sebagai orang di belakang layar yang menjadi sosok penting bagi bin Laden. Karena sosoknya yang tak sekharismatik dan tak begitu ideal sebagai propagandis, al-Zawahiri tetap berada di belakang. Sementara bin Laden yang tampil di depan, menjadi figur pemimpin ideal.</p>
<p>Dalam hal pemikiran, al-Zawahiri menginspirasi konsep jihad ofensif yang lebih ganas ketimbang Abdullah Azzam. Radikalisme al-Zawahiri timbul dari kekecewaannya terhadap keberadaan Israel di Timur Tengah, sejak berdirinya di tahun 1948. Menurutnya, Israel (yang dipersepsikan sebagai &#8220;komunitas Yahudi&#8221;) adalah duri dalam daging bagi Timur Tengah (yang dipersepsikan sebagai &#8220;komunitas Islam&#8221;).</p>
<p>Keberadaan Israel, menurut al-Zawahiri, adalah keberadaan komunitas kafir di tengah-tengah komunitas Muslim. Memang, di antara negara-negara Timur Tengah sendiri juga banyak terdapat umat beragama lain, seperti Kristen Ortodoks Timur, atau bahkan Yudais sendiri. Tapi bagi al-Zawahiri, mereka tidak seberapa. Israel ini &#8220;spesial&#8221;, karena sudah memiliki satu negara sendiri. Keberadaan Israel di wilayah negara-negara Muslim ini dilihat al-Zawahiri sebagai kegagalan pemerintah negara-negara Muslim&#8211;baginya, ini berarti membiarkan keberadaan pemerintahan kafir. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bagi setiap Muslim untuk menyingkirkan pemerintahan kafir ini dengan berjihad. Jihad di sini, tentu maksudnya adalah berjihad secara fisik&#8211;dengan senjata, seperti yang sejauh ini sudah dilakukan al-Qaeda.</p>
<p>Dalam salah satu ceramahnya&#8211;yang tidak sepopuler bin Laden&#8211;al-Zawahiri juga menyebutkan kalau ada perempuan dan anak-anak yang terbunuh dalam proses jihad (pengeboman, tembakan senjata, dsb), maka itu dianggap sebagai korban yang wajar. Di <a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/2455845.stm">ceramah bin Laden kemudian hari</a>, bin Laden menggunakan alasan pengeboman terhadap anak-anak dan perempuan di Palestina sebagai justifikasi pengeboman-pengeboman oleh al-Qaeda.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Al-Qaeda: Menara yang Menjulang</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/05/loomingtower.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-864" title="loomingtower" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/05/loomingtower.jpg?w=300&#038;h=191" alt="" width="300" height="191" /></a></strong><em>&#8220;Semakin ke atas, semakin buram&#8230;&#8221;</em></p>
<p><a title="Dead." href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-1384260/Al-Qaeda-confirm-Osama-Bin-Laden-death-vow-continue-US-terrorist-attacks.html">Al-Qaeda telah mengkonfirmasi kematian Osama bin Laden.</a> Terlepas dari benar-tidaknya konfirmasi itu, serta masih beredarnya kontroversi mengenai kematian <em>America&#8217;s Public Enemy #1 </em>ini, jaringan al-Qaeda masih terlihat sebagai struktur yang rumit&#8211;bak jaring laba-laba yang tembus pandang. Dalam bahasa Lawrene Wright: menara yang menjulang tinggi, yang dasarnya kelihatan, namun semakin ke atas semakin buram.</p>
<p>Tapi paling tidak ada sebagian kejelasan mengenai perihal hubungan Amerika Serikat dengan al-Qaeda, yang barangkali paling sering disorot orang.</p>
<p>Seringkali ada kekeliruan memahami Al-Qaeda sebagai bentukan Amerika Serikat (atau &#8220;bentukan Barat&#8221;). Memang betul, kalau disebut itu <em>awalnya </em>Al-Qaeda adalah &#8220;bentukan Amerika Serikat&#8221;, karena berasal dari kelompok mujahidin yang melawan Soviet. Awalnya, kelompok ini digunakan dan diradikalisasi sebagai pasukan berani-mati demi menyingkirkan Soviet dari Afghanistan. Tapi, selepas Perang Afghan, al-Qaeda menjadi organisasi independen yang biayanya sebagian besar datang dari kekayaan bin Laden&#8211;lepas dari keterlibatan Amerika Serikat.</p>
<p>Menurut <a title="The name of Al-Qaeda" href="http://archives.cnn.com/2002/WORLD/asiapcf/south/02/05/binladen.transcript/index.html">wawancara Osama bin Laden</a>, nama al-Qaeda diambil dari pangkalan militer tempat pelatihan mereka dulu, &#8220;<em>qaeda&#8221;</em>, yang diterjemahkan sebagai&#8221;<em>the base&#8221; </em>(pangkalan). Bin Laden menganggap al-Qaeda ini sebagai kelanjutan langsung dari perjuangannya di Afghanistan dulu.</p>
<p>Kekeliruan umum dalam memahami Al-Qaeda sebagai &#8220;bentukan AS&#8221; saya kira terletak di sini&#8211;karena dianggap masih sebagai keterlibatan AS, padahal sudah bukan. Saya ingat sempat baca di <a title="Largest Indonesian community, slogannya" href="http://kaskus.us">salah satu forum</a> ada yang berargumen demikian, dengan mengutip Hillary Clinton. Clinton menyebutkan kalau Al-Qaeda adalah &#8220;kesalahan kita [Amerika Serikat]&#8220;. Maksudnya bukan AS yang terlibat langsung dengan al-Qaeda, atau al-Qaeda adalah boneka bayang-bayang AS. Yang sebetulnya dimaksud itu adalah Al-Qaeda sebagai, bisa dibilang, &#8220;senjata makan tuan&#8221;.</p>
<p>Dengan demikian, saya kira agak mustahil kalau Osama bin Laden&#8211;dan al-Qaeda&#8211;dicap sebagai &#8220;rekaan Amerika Serikat&#8221;.</p>
<p>Melihat sejarahnya, bin Laden sudah bertukar pandang dengan Abdullah Azzam, al-Zawahiri; lalu al-Qaeda juga berinteraksi dengan kelompok teror kelas tinggi lain, seperti yang dipimpin oleh <a href="http://articles.cnn.com/2005-11-11/world/zarqawi.jordan_1_al-zarqawi-qaeda-hotel-attacks?_s=PM:WORLD">Al-Zarqawi</a> (Irak), <a href="http://abcnews.go.com/International/story?id=79205&amp;page=1">Abu Sayyaf</a> (Filipina), atau <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/05/03/brk,20110503-331905,id.html">Jafar Umar Thalib</a> (Indonesia). <a href="http://www.theonion.com/articles/bin-ladens-mother-worried-sick,2062/">Ibunya pun khawatir</a> akan nasib bin Laden. Tentunya mereka selama ini tak sedang berhalusinasi, &#8216;kan?</p>
<p>.</p>
<p style="text-align:right;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Daftar Referensi</strong></p>
<p>Wright, Lawrence. <em>The </em><em>Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11</em>. New York: Vintage Books, 2006.</p>
<p>Gunaratna, Rohan. <em>Inside Al-Qaeda: Global Network of Terror</em>.New York:ColumbiaUniversity Press, 2002.</p>
<p>Greenberg, Karen J. <em>Al-Qaeda Now: Understanding Today’s Terrorists. </em>Cambridge: Cambridge University Press, 2005.</p>
<p>.</p>
<p style="text-align:right;"><em>Entri ini juga sempat di-kultwit-kan dengan akun <a title="@Xaliber" href="http://twitter.com/Xaliber">@Xaliber</a></em><br />
<em>dan diarsipkan dengan format seadanya di <a title="xaliber.tumblr.com" href="http://xaliber.tumblr.com/post/5164730567/kultwit-binladen-dan-alqaeda">tumblr</a>. </em></p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/defense-and-security/'>Defense and Security</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/history/'>History</a> Tagged: <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/al-qaeda/'>al-Qaeda</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/ayman-al-zawahiri/'>Ayman al-Zawahiri</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/keamanan/'>keamanan</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/osama-bin-laden/'>Osama bin Laden</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/sejarah/'>sejarah</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/terorisme/'>terorisme</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/854/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=854&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.radaronline.com/sites/radaronline.com/files/imagecache/350width/OSAMA-TIME-COVER.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/05/marxladen2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">marxladen2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.foxnews.com/images/297106/0_61_zawahri_ayman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">al-Zawahiri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2011/05/loomingtower.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">loomingtower</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Valentine dan Fatwa Basi yang Membosankan</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/valentine-dan-fatwa-basi-yang-membosankan/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/valentine-dan-fatwa-basi-yang-membosankan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 13:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin itu, seperti biasanya Google mengubah tampilan logonya di laman depan pencarian bila ada hari raya atau ada perayaan keberhasilan/kelahiran tokoh penting yang mencetak nama di sejarah. Karena kemarin itu tanggal 14 Februari, jadi tampilan yang diberikan adalah untuk selebrasi hari Valentine. &#8220;Merah terang yang membutakan&#8221; Skrinsyut dari Telegraph . Warnanya memang bikin sakit mata. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=584&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin itu, seperti biasanya Google mengubah tampilan logonya <a href="http://www.google.com">di laman depan pencarian</a> bila ada hari raya atau ada perayaan keberhasilan/kelahiran tokoh penting yang mencetak nama di sejarah. Karena kemarin itu tanggal 14 Februari, jadi tampilan yang diberikan adalah untuk selebrasi hari Valentine.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01825/Picture-1_1825336c.jpg" alt="" width="460" height="287" /></p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;Merah terang yang membutakan&#8221;</em><br />
Skrinsyut dari <a href="http://www.telegraph.co.uk/relationships/valentines-day/8322495/Valentines-Day-celebrated-with-Google-Doodle.html">Telegraph</a></p>
<p>.</p>
<p>Warnanya memang bikin sakit mata. Daripada menambah minus mata, jadilah saya coba klik saja logonya; sekedar penasaran seperti biasanya, hasil pencarian apa yang timbul kalau klik dari logo tersebut (Google selalu memberikan kata pencarian yang sesuai dengan tema yang diselebrasikan).</p>
<p><span id="more-584"></span>Dan <a href="http://www.google.com/search?hl=en&amp;q=%22hari+Valentine%22&amp;aq=f&amp;aqi=&amp;aql=&amp;oq=">ternyata lagu lama</a>. Yang muncul macam-macamnya &#8220;Valentine menurut Islam&#8221;. Tentu saja lengkap dengan kutipan-kutipan yang mengharamkan. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Saya kira topik macam ini sudah basi dari dua tahun lalu (dan warga Indonesia sudah jadi lebih cermat), tapi setelah pagi ini melihat catatan-catatan Fesbuk yang <em>tagging</em>-nya menyebar ke mana-mana, rupanya perkiraan saya salah total.</p>
<p><strong>Valentine dan Sejarah yang Salah Persepsi<br />
</strong></p>
<p>Tak perlu dibahas lagi lah menurut saya, seperti apa tulisan-tulisan yang mengharamkan hari Valentine itu. Anda bisa coba cari saja di Google Indonesia dengan kata kunci &#8220;hari Valentine&#8221;, pastilah muncul di hasil pencarian (ironisnya begitu).</p>
<p>Saya tidak menampik bila dikatakan pada zaman dahulu kala memang ada cerita mengenai tokoh Kristiani yang dikenal sebagai Santo Valentine; mati sebagai martir karena mempertahankan agamanya. Meskipun demikian identitas Santo Valentine ini <a href="http://www.catholic.org/saints/stindex.php?lst=V">tidak jelas</a>; ada yang mengatakan bahwa ia adalah Valentine dari Roma, ada yang bilang dia Valentine dari Terni, ada pula yang mengatakan bahwa dia Valentine dari Afrika. Perkaranya, banyak orang yang disebut sebagai Santo Valentine.<strong> </strong></p>
<p>Lantas dari kematian Santo Valentine itu, pada masa lalu beberapa orang memang mengenang tanggal 14 Februari sebagai hari kematian si martir, walaupun ini pun juga asal-usulnya tidak jelas. Ada banyak, beragam sumber yang mencantumkan kapan si Valentine ini wafat dirajam penguasa. Wajar bila menilik identitas Santo Valentine itu sendiri yang tidak jelas. Beda riwayat, jelas bakal beda tanggal lahir dan tanggal wafat.</p>
<p>Tapi, itu masa lalu.</p>
<p>Identifikasi 14 Februari sebagai hari Santo Valentine&#8211;yang sarat dengan atribut keagamaan&#8211;itu cuma umum dilakukan pada masa lalu.<a href="http://grove.ufl.edu/~leo/val.html"> Tidak tanggung-tanggung, 1500 tahun lalu</a>. Moyang kita masih seorang pelaut, kalau kata lagu. Di masa sekarang, kalau orang merayakan Valentine itu memangnya melakukan apa? Mengheningkan cipta? Menggumamkan doa-doa? Menyiram air suci? Jelas bukan.</p>
<p>Hari Valentine yang sekarang dikenal sebagai hari kasih sayang ialah identik dengan makan-makan coklat. Sejarah Valentine sebagai hari kasih sayang justru relatif baru. <a href="http://books.google.com/books?id=maF8mTPsJqsC&amp;pg=PA319&amp;dq=Jack+Oruch+valentine&amp;hl=en&amp;ei=Dp1aTcG6JIzxrQfllf2nDA&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=2&amp;ved=0CC4Q6AEwAQ#v=onepage&amp;q=Jack%20Oruch%20valentine&amp;f=false">Jack Oruch</a>, seorang sejarawan, menyatakan ini berasal dari Geoffrey Caucher, yang menulis puisi cinta dalam rangka peringatan pertunangan Raja Richard II dengan istrinya pada abad ke-14, tepat pada hari Valentine. Sumber lain menyebutkan ini berasal dari puisi yang ditulis Charles, Duke of Orleans, pada istrinya ketika Charles ditahan di menara, pada hari Valentine abad ke-15.</p>
<p>Baik pertunangan Raja Richard maupun surat Duke Charles, keduanya menggambarkan kisah cinta. Kisah cinta ini yang kemudian diriwayatkan sebagai &#8220;Hari Valentine&#8221; yang kita kenal sekarang, yang identik dengan kasih sayang&#8211;bukannya hari tentang wafatnya Santo Valentine. Jadi hari Valentine tidak lagi melihat riwayat dimartirkannya Santo  Valentine, namun semata melihat peristiwa-peristiwa roman yang terjadi  pada tanggal 14 Februari.</p>
<p>Tentunya terserah saja kalau mau mengiringi hari Valentine dengan atribut keagamaan (seperti doa Iman atau tilawatul Qur&#8217;an), tapi bukan itu yang ingin dikisahkan hari Valentine sebagai hari kasih sayang.</p>
<p>Seharusnya di sini Muslim bersikap lebih cermat dalam melihat posisi hari Valentine; dengan menyadari bahwa hari Valentine (seperti yang kita kenal sekarang) hanyalah sekedar <em>cultural festivities </em>alih-alih <em>religious festivities</em>.</p>
<p>Pembedanya sederhana saja: kalau <em>religious</em>, latarnya datang dari cerita yang ada dari teks suci agama tersebut dan umumnya dirayakan dengan sakral (ada ritus, ada doa-doa). Contohnya misalnya Hari Raya Paskah bagi Kristiani (kebangkitan Yesus) atau Idul Adha bagi Muslim (pengorbanan Ismail pada Ibrahim). Kalau <em>cultural</em>, ya tidak begitu. Datangnya dari kebiasaan-kebiasaan yang tak mesti diiringi dengan atribut keagamaan.</p>
<p>Cobalah lihat Valentine di Indonesia. Apakah memang dirayakan dengan pergi ke gereja? Dari riwayatnya yang sudah dijabarkan, mestinya Muslim paham bahwa yang diperingati tak berkaitan dengan kisah perjuangan relijius Santo Valentine itu sendiri.</p>
<p><strong>Valentine Haram: Memang Betulan Basi</strong></p>
<p>Kemarin ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan dobrakan. Alih-alih membicarakan perkara haramnya Valentine, MUI Yogya justru memfatwakan, &#8220;<a href="http://nasional.vivanews.com/news/read/204396-mui-yogya--valentine-tak-haram">Valentine tidak haram</a>&#8220;. Serius, tidak main-main. Hal ini kiranya juga diamini oleh MUI pusat yang <a href="http://www.thejakartapost.com/news/2011/02/12/mui-backs-down-valentine%E2%80%99s-day-%E2%80%98haram%E2%80%99-call.html">memfatwakan suara serupa</a>. Keduanya sepakat bahwa perayaan Valentine tidak haram, asalkan tidak diwarnai dengan maksiat. MUI pusat justru menambahkan, Valentine bisa mempererat silaturahmi antara Muslim.</p>
<p>Bila biasanya Muslim di Indonesia cenderung sekedar mengangguk setuju pada perkataan ulama, maka bagi saya ini pendobrakan. Mungkin perlu institusi sekaliber MUI untuk mengubah perspektif awam&#8211;dan bagi saya pendekatan yang digunakan MUI ini lebih masuk akal.</p>
<p>Alih-alih cuma berkutat pada riwayat masa lalunya, MUI melihat masa kini; apa yang orang biasa lakukan dalam rangka merayakan hari Valentine. Apakah hari Valentine dilatari oleh kisah Santo Valentine atau puisi Duke Charles itu bukan persoalan; yang penting apakah hari Valentine diisi dengan silaturahmi yang positif. Bila memang hari Valentine bisa mempererat hubungan, maka apa salahnya. Toh ini sudah menjadi kebiasaan yang dimaklumi.</p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/history/'>History</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/religion/'>Religion</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/social/'>Social</a> Tagged: <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/halal/'>halal</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/haram/'>haram</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/islam/'>Islam</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/valentine/'>valentine</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/584/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=584&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/valentine-dan-fatwa-basi-yang-membosankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i.telegraph.co.uk/multimedia/archive/01825/Picture-1_1825336c.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>DISCLAIMER</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 05:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Update & Notifs]]></category>
		<category><![CDATA[disclaimer]]></category>
		<category><![CDATA[kabar berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[. . Starting from 2011, anything written before 2010 may or may not reflect the author&#8217;s current views. Consider this disclaimer as a sort of new refurnishing, as I am too attached to this blog (and not opted to move to a new one). . ~xaliber . . . . Filed under: Update &#38; Notifs [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=651&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p>Starting from 2011, anything written before 2010 may or may not reflect the author&#8217;s current views. Consider this disclaimer as a sort of new refurnishing, as I am too attached to this blog (and not opted to move to a new one). <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p>~xaliber</p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/from-the-blog/update-notifs/'>Update &amp; Notifs</a> Tagged: <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/disclaimer/'>disclaimer</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/kabar-berita/'>kabar berita</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=651&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepotong Kebijakan dari MPS</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2010/03/13/sepotong-kebijakan-dari-mps/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2010/03/13/sepotong-kebijakan-dari-mps/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 18:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Penelitian Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[MPS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Kalau di antara pembaca masih ada yang ingat, di salah satu pelajaran ketika SMA (Sosiologi, tapi katanya juga ada di Biologi), pernah diajarkan sepintas mengenai metode penelitian. Ada dua metode yang diajarkan di SMA: metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ceritanya, di jurusan saya (ketika kuliah tentunya), dua metode ini dibahas lebih mendetil lagi di mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=576&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau di antara pembaca masih ada yang ingat, di salah satu pelajaran ketika SMA (Sosiologi, tapi <a title="menurut Lemon S. Sile" href="http://catatatan.wordpress.com">katanya juga ada di Biologi</a>), pernah diajarkan sepintas mengenai metode penelitian. Ada dua metode yang diajarkan di SMA: metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ceritanya, di jurusan saya (ketika kuliah tentunya), dua metode ini dibahas lebih mendetil lagi di mata kuliah yang bernama Metode Penelitian Sosial (MPS).</p>
<p>Di salah satu pembahasan mengenai metode kuantitatif, dibahas mengenai cara membuat kuesioner. Ya, bagi yang belum tahu, metode kuantitatif ini memang erat kaitannya dengan kuesioner, data-data survei, sampel, dan&#8211;menurut kesan sebagian orang&#8211;angka. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Penelitian metode kuantitatif melibatkan peneliti hanya sebagai peneliti. Ia tidak bersifat seperti metode kualitatif, di mana sang peneliti harus melibatkan dirinya bersama dengan &#8220;yang diteliti&#8221; melalui observasi langsung, misalnya. Perkara detil lebih lanjutnya, <a title="Courtesy mas sora9n" href="http://sora9n.wordpress.com/?s=%22+itu+cerita+lain+untuk+saat+ini%22">itu cerita lain untuk saat ini</a>. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kembali ke topik.</p>
<p>Untuk membantu membuat kuesioner yang akurat, peneliti dianjurkan untuk membedakan tipe-tipe dari isi pertanyaan yang akan ia ajukan menjadi lima bagian: <em>behaviour</em>, <em>beliefs</em>, <em>knowledge</em>, <em>attitudes</em>, dan <em>attributes</em>. Jadi, suatu pertanyaan itu ada tipe-tipenya sendiri; tipe pertanyaan yang berbeda akan menghasilkan tipe jawaban yang berbeda pula. Masing-masing sudah dibagi dalam lima bagian tersebut.</p>
<ul>
<li>Tipe pertanyaan <em>behaviour</em> menyelidiki &#8220;apa yang responden lakukan&#8221;. Pertanyaan ini didesain untuk mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh responden. Contoh mudahnya, pertanyaan seperti &#8220;apakah Anda bekerja di perusahaan swasta?&#8221; termasuk tipe pertanyaan <em>behaviour</em>.</li>
<li>Tipe lainnya, yaitu tipe <em>belief</em>, didesain untuk menyelidiki &#8220;apa yang responden percaya&#8221;. &#8220;Yang mereka percaya&#8221; dalam hal ini bukanlah mengenai kepercayaan atau agama mereka, namun lebih mengenai &#8220;apa pandangan mereka akan suatu hal&#8221;. Pertanyaan &#8220;apakah Facebook memengaruhi prestasi anak?&#8221; adalah contoh pertanyaan <em>belief</em>.</li>
<li>Tipe pertanyaan <em>knowledge</em> menyelidiki &#8220;apa yang responden ketahui&#8221;. Pertanyaan tipe ini ingin melihat pengetahuan responden mengenai situasi-situasi tertentu, misalnya seperti, &#8220;apa yang Anda ketahui tentang kebijakan kenaikan harga BBM?&#8221;</li>
<li>Sementara, tipe pertanyaan <em>attitude</em> ingin mengetahui &#8220;apa yang diinginkan oleh responden&#8221;. Pertanyaan jenis ini melihat tanggapan responden mengenai &#8220;sebaiknya bagaimana&#8221; dalam melihat kasus-kasus tertentu&#8211;ia menyelidiki bagaimana responden melihat orang lain secara umum. &#8220;Apakah <em>single-parent</em> sebaiknya bekerja?&#8221; adalah contoh pertanyaan <em>attitude</em>.</li>
<li>Terakhir, tipe pertanyaan <em>attribute</em> menanyakan data diri dari si responden. Ibaratnya game RPG, ia menanyakan level, status STR, VIT, DEX, dan AGI responden. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan umur, tingkat pendidikan, atau tingkat pendapatan adalah tipe pertanyaan <em>attribute</em>.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Nah, dalam pembahasan kelima hal tersebut, saya menemukan satu poin yang agak &#8220;menyentil&#8221;. Dalam <a title="Surveys in Social Research, David de Vaus" href="http://www.google.com/search?q=surveys+in+social+research&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t">buku karya David de Vaus yang saya baca tersebut</a>, pada bagian pertanyaan <em>behaviour</em>, dituliskan oleh si penulis,</p>
<blockquote><p>&#8220;[...] Tapi, peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran <em>behaviour</em> untuk mengukur <em>belief</em> dan <em>attitude</em>. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [...] karena orang bisa jadi tidak memiliki kesempatan untuk bersikap seperti apa yang mereka inginkan.&#8221;</p></blockquote>
<p>Pertama kali membaca paragraf tersebut, tidak ada yang terbesit di benak saya. Biasa saja. Tapi setelah membaca kedua dan ketiga kalinya&#8230; hei, benar juga ya? <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mari terlebih dahulu kita lepaskan diri kita dari kerangka &#8220;akademis&#8221;. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Lupakan sejenak bahwa hal ini dipelajari dalam suatu mata kuliah&#8211;yang notabene membuat sebagian orang jenuh karena pakem-pakemnya&#8211;dan anggaplah sebagai bacaan biasa. Lima tipe tadi, jangan dianggap sebagai &#8220;tipe-tipe pertanyaan dalam membuat kuesioner&#8221;.</p>
<p>Pada dasarnya, lima tipe pertanyaan tadi&#8211;yang menurut saya filosofis&#8211;sebenarnya justru dapat menuntun bagaimana kita sebaiknya menilai orang lain. Tipe-tipe pertanyaan tersebut bukan semata &#8220;alat&#8221; yang digunakan untuk membantu pembuatan kuesioner demi penelitian saja, tapi <em>rupanya</em> juga bisa digunakan di kehidupan sehari-hari! <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_surprised.gif' alt=':o' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mengapa demikian?</p>
<p>Mari kita lihat kembali peringatan yang ditulis oleh David de Vaus dalam bukunya itu, seperti yang telah saya kutip di atas.</p>
<blockquote><p>&#8220;[...] peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran <em>behaviour</em> untuk mengukur <em>belief</em> dan <em>attitude</em>. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [...]&#8220;</p></blockquote>
<p>Apa yang bisa disimpulkan dari pernyataan tersebut?</p>
<p>Sederhana saja: suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya. David de Vaus mencontohkannya sendiri dengan sederhana: pengukuran <em>behaviour</em> tidak bisa digunakan untuk mengukur <em>belief </em>dan <em>attitude</em>. Ibarat mau <abbr title="Contoh yang buruk, tapi you get my point, lah :P">mengukur kecepatan cahaya, yang digunakan malah rumus untuk mengukur massa benda</abbr>.</p>
<p>Bila masih terlalu abstrak, mari kita gunakan contoh. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Ambil lah persoalan <em>behaviour</em> itu tadi. Katakanlah, si Bambang terdaftar di suatu Kerohanian Islam. Ini berarti, secara <em>behaviourial </em>(apa yang Bambang lakukan), Bambang adalah anggota Kerohanian Islam. Nah, tapi, apakah fakta bahwa Bambang terdaftar sebagai anggota Rohani Islam berarti serta-merta hal tersebut memengaruhi <em>belief </em>(pandangan) dan <em>attitude</em> (sebaiknya bagaimana) Bambang? Memang, <strong>asumsinya</strong>, seorang anggota Rohis mestinya memiliki <em>belief </em>dan <em>attitude</em> yang bernuansa Rohis pula. Tapi <strong>faktanya</strong>?</p>
<p>Oh, <strong>belum tentu</strong>! <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Banyak faktor mengapa si Bambang mendaftar ke dalam Rohis. Memang, bisa jadi, motivasi agama adalah salah satunya&#8211;dan barangkali yang paling sering ditengarai orang. Tapi, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain. Seperti, misalnya, ternyata teman-teman Bambang ingin mendaftar jadi anggota Rohis. Karena itu si Bambang ikut-ikutan. Atau, si Bambang ini ingin menambah pengalaman berorganisasi, dan kebetulan yang paling gampang adalah dengan jadi Rohis. Atauuu, di Rohis ini ada gadis cantik muda belia yang Bambang senangi; jadi, supaya lebih mudah PDKT, kenapa tidak jadi Rohis juga? <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Bila dilihat, kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa dibilang <em>hampir sama sekali</em> tidak ada hubungannya dengan organisasi itu sendiri: agama. Lha, iya, yang lainnya itu kan pengaruh psikologis dan sosiologis semua. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Oleh karena itu, si Bambang yang anggota Rohis ini, belum tentu akan bersikap <em>seperti yang diasumsikan</em> oleh orang lain layaknya anggota Rohis. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, itu satu hal contoh dari <em>behaviour</em>. Apakah tipe lain seperti <em>knowledge, attitude, </em>atau <em>attribute</em> juga bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari? Tentu saja bisa!</p>
<p>Kita ambil contoh <em>knowledge</em>. Misalnya saja, si Rudi ini mengetahui banyak hal mengenai Marxisme. Ditanya sejarah perkembangannya, dia lancar menjawab. Ditanya teori pos-Marxisme, dia fasih menjelaskan. Secara <em>knowledge</em> (apa yang diketahui), si Rudi mapan. Nah, tapi, apakah serta-merta pengetahuannya itu menjadikannya seorang Marxis&#8211;atau bahkan komunis? Oh belum tentu.  Secara <em>behaviour</em>, ia tidak tergabung di partai buruh manapun. <em>Belief</em>-nya malah sangat liberal; mendukung pasar bebas! <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Contoh lain: <em>attribute</em>. Yang ini lebih sederhana lagi. Bila ada seorang beragama Islam (<em>attribute</em>-nya Islam), apakah ia pasti berarti menganggap khilafah Islamiyah cocok bagi Indonesia (<em>belief</em>-nya Islam politik)? Apakah ia pasti berarti ikut organisasi Islam (<em>behaviour</em>-nya organisasi Islam)? Atauuu, apakah bila ada seseorang ber<em>attribute</em> agama Yahudi, apakah ia pasti memiliki <em>belief </em>Zionisme Yahudi? <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  Belum tentu, &#8216;kan?</p>
<p>Begitu pula dengan <em>belief</em> dan <em>attitude. </em>Orang dengan <em>belief </em>Facebook dapat membuat orang malas belum tentu <em>knowledge</em>-nya tentang Facebook sedikit&#8211;ia bisa jadi sangat ahli; atau orang dengan <em>attitude</em> merasa bahwa sebaiknya anak SMA tidak menyontek juga belum tentu <em>behaviour</em>nya tidak menyontek&#8211;karena alasan apapun.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Demikian, sesi pembelajaran metode penelitian kuantitatif pada mata kuliah MPS justru mengingatkan saya pada satu hal: bahwasanya kita tidak bisa menilai orang semata dari salah satu karakteristiknya. Yah, meminjam ringkasan bahasa de Vaus sendiri: &#8220;suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya&#8221;. <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Seorang koruptor bisa jadi memiliki pandangan ideal mengenai keadilan dan kesejahteraan negara, namun terpaksa terjerat dalam lingkar korupsi karena lingkungan memaksanya berbuat begitu. Seorang yang berjenggot tebal dan panjang bisa saja semata memanjangkan jenggotnya itu karena tren, bukan karena ia seorang pengunjung mesjid yang rajin. Seorang yang<a title="Non-Muslim" href="http://gun.web.id/non-muslim.html"> tidak tahu-menahu mengenai agama selain Islam,</a> belum tentu ia berarti jadi seorang radikal yang membenci umat agama lain. Seorang yang mendukung gerakan sejuta Facebooker di Facebook belum tentu benar-benar berpandangan sesuai dengan visi gerakan itu, bisa jadi ia hanya ingin numpang komentar atau asal menerima ajakan saja. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Sudahkah Anda memastikan metode pengukuran Anda sesuai hari ini? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Filed under: <a href='http://deathlock.wordpress.com/category/contents/social/'>Social</a> Tagged: <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/kuliah/'>kuliah</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/metode-penelitian-sosial/'>Metode Penelitian Sosial</a>, <a href='http://deathlock.wordpress.com/tag/mps/'>MPS</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/576/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=576&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2010/03/13/sepotong-kebijakan-dari-mps/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Retraktil</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 16:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/</guid>
		<description><![CDATA[Satu dekade dari milenium kedua dan abad ke-21 dari yang ditempuh kalender Masehi tak lama lagi akan tiba. Kalau kata sebagian orang yang percaya, sebentar lagi akan dekat ke 2012, tahun yang konon diramalkan akan terjadi bencana besar &#8212; bila tak mau disebut kiamat. Saatnya bertobat beramai-ramai. Kalau bagi sebagian orang lainnya, pergantian hari Kamis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=575&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu dekade dari milenium kedua dan abad ke-21 dari yang ditempuh kalender Masehi tak lama lagi akan tiba. Kalau kata sebagian orang yang percaya, sebentar lagi akan dekat ke 2012, tahun yang konon diramalkan akan terjadi bencana besar &#8212; bila tak mau disebut kiamat. Saatnya bertobat beramai-ramai. Kalau bagi sebagian orang lainnya, pergantian hari Kamis menuju Jum&#8217;at ini hanya sekedar pergantian hari biasa &#8212; seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang spesial sama sekali. Kalau bagi sebagian lainnya lagi, ini pertanda umur bumi makin tua, umur kita makin tua pula. Pertanda semakin berkurangnya sisa waktu hidup di dunia.</p>
<p>Para sebagian dari sebagian-sebagian itu setidaknya sepakat&#8211;terlihat demikian&#8211;untuk setuju pada satu pertanyaan (atau pernyataan) yang sama: untuk apa merayakan tahun baru?</p>
<p>Dua tahun lalu, ketika itu saya masih SMA. Barangkali sudah bagai ritual tahunan keluarga, saya biasa berkumpul di rumah nenek bersama saudara-saudara lainnya, menunggu bersama hari berganti sembari menyalakan kembang api. Tapi dua tahun lalu, atas inisiatif ayah, saya &#8211;kami&#8211; merayakannya dengan sedikit berbeda, yaitu pergi ke tempat lain. Di mana orang merayakannya dengan makan dan, mungkin seperti yang dikatakan oleh yang merasa relijius, berfoya-foya.</p>
<p>Saya biasanya tidak melihat ritual tahun baru a la keluarga selain sebagai kebiasaan; bila tidak dilaksanakan, maka rasanya tidak nyaman. Terutama perihal kembang apinya. Itu saja. Demikian, saat itu saya tak melihat inti dari diadakannya &#8220;ritual&#8221; yang agak berbeda. Dan saya pun saat itu bertanya-tanya, untuk apa merayakannya dengan berpesta?</p>
<p>Mungkin pertanyaan demikian juga yang terlintas, bila merasa perayaan tahun baru&#8211;apapun wujudnya&#8211;tak dirasa perlu. Perihal tidak perlu memeringati umur yang berkurang, tidak perlu memeringati akhir yang sudah dekat, atau merasa bahwa pergantian hari ini sama artinya dengan pergantian hari lain. Mungkin.</p>
<p>Dua tahun yang lalu itu, saya bertanya-tanya. Untuk apa perayaan tahun baru. Dan ayah saya yang menjawab. &#8220;Orang merayakan tahun baru,&#8221; ujarnya, &#8220;untuk berharap, supaya tahun yang datangnya dirayakan dengan meriah dan semenyenangkan itu, bisa berjalan semeriah dan semenyenangkan itu pula. Sampai tahun berikutnya datang lagi.&#8221;</p>
<p>Saya awalnya tidak begitu meresapi kalimat beliau. Tapi saat ini saya kira ayah ada benarnya. Bila tahu bahwa dengan tahun baru umur kita akan berkurang, bahwa hidup di tempat ini tak bisa selamanya, maka setiap kali hal itu &#8211;pasti&#8211; akan datang, sambutlah dengan gembira. Untuk menghadapi hal tak terelakkan itu dengan gembira pula. Tentu, dengan cara masing-masing. Dengan kembang api, dengan berpesta, dengan berjalan-jalan, dengan berzikir, atau dengan berdoa. Karena apa yang menggembirakan satu orang belum tentu berlaku pada yang lainnya.</p>
<p>Tahun yang akan datang ini, bagi saya, akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang selalu semangat menolong persiapan tahun baru, yang biasa merekam awal tahun, sudah tak bisa melakukan kebiasaannya. Alasan untuk bersedih diri tapi tak semestinya dilakukan, karena, perayaan tahun baru tidak ditujukan supaya membentuk tahun yang sedih. Namun justru sebaliknya.</p>
<p>Selamat tahun baru 2010.<br />
Semoga segala hal yang tak diinginkan tertinggal di saat sebelumnya.<br />
Semoga segala hal yang lebih baik menyambut di saat berikutnya.</p>
<p>Salam. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Posted in From the Blog Tagged: tahun baru <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/575/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/575/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=575&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bahana suara</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 12:35:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[mahawaditra]]></category>
		<category><![CDATA[orkestra]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[simfoni]]></category>
		<category><![CDATA[universitas indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Saudara-saudara, namanya juga bukan entitas maha sempurna layaknya Tuhan, ada saat ketika manusia menjadi khilaf. Berbuat salah, berkeliruan. Alias di antaranya adalah lupa. Tidak ingat &#8212; tidak bisa mengingat kalau ada media yang sudah digenggam sejak usia masih menginjak masa pubertas yang labil. Lantaran beragam prasarana populer lain yang menjamah khalayak luas sedang menjamur, mungkin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=569&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara-saudara, <a href="http://deathlock.files.wordpress.com/2009/12/mahawad.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-570" title="Mahawaditra" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2009/12/mahawad.jpg?w=600" alt=""   /></a>namanya juga bukan entitas maha sempurna layaknya Tuhan, ada saat ketika manusia menjadi khilaf. Berbuat salah, berkeliruan. Alias di antaranya adalah lupa. Tidak ingat &#8212; tidak bisa mengingat kalau ada media yang sudah digenggam sejak usia masih menginjak masa pubertas yang labil. Lantaran beragam prasarana populer lain yang menjamah khalayak luas sedang menjamur, mungkin bisa jadi alasan. Tapi naga-naganya kekhilafan itu ya tetap kembali ke orangnya sendiri.</p>
<p>Jadi begini, saudara-saudara. Baru selang beberapa hari yang lalu, sebuah acara digelar di Balai Sidang BNI Depok, Universitas Indonesia. Bukan perkara membahas penegakan syariah atau pesta hura-hura, melainkan sebuah konser musik dengan tampilan ensembel dan orkestra.</p>
<p>Nah, lantaran gencar promosi di berbagai media, fasilitas yang sudah ditekuni dari tahun 2007 ini justru kemudian terlupa. Berkicau lewat Twitter memang efektif adanya, begitupun ber-SPG melalui Facebook. Plurk sebagai sarana curahan santai tak kemudian ketinggalan. Seakan sudah merajai kontestasi SEO, untaian kata diulang-ulang di dunia maya agar menarik minat pengunjung yang bisa jadi akan setia. Eh kok ya, blog yang katanya jadi kandang sendiri malah tertinggal. Diselingkuhi oleh selir-selir <em>social networking</em> baru yang indah nian parasnya.</p>
<p>Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur. Hobi yang setahun lalu gemar digeluti pun hanya bisa icip sedikit remah sisa penjualan. Padahal dulu bagaikan amplop dengan perangko &#8212; gelisah sedikit saja, ratusan kata terketik untuk ditafsir beragam makna. Ibarat proverbia orang Jawa, internet tanpa blogging itu bagai <em>ora sego ora mangan</em> (belum [makan] nasi, belum makan).</p>
<p>Akhirnya, apa yang bisa dipersembahkan? Kampanye poster untuk acara lampau barangkali sudah usang, relevan pun tidak &#8212; macam mana orang akan peduli pula. Atas alasan itu bisa jadi sejak nenek moyang masih melaut, orang gemar menulis jurnal. Kenang-kenangan; riwayat dari serangkaian perjalanan hidup untuk ditengok di masa nanti.</p>
<p>Pun karena masa juga berkembang, maka bukan sekedar jurnal yang bisa saya hadirkan. Kemalasan dan ketidaksempatan barangkali bukan alasan, walau memang gambar konon berujar seribu bahasa. Demikian, saya sajikan konser musik Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra, pada acara Home Concert &#8220;An Enchanting Evening with Mahawaditra&#8221;, Balai Sidang BNI Depok, Jum&#8217;at 11 Desember 2009.</p>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/"><img src="http://img.youtube.com/vi/z6mWT9iykXw/2.jpg" alt="" /></a></span>
<span style="text-align:center; display: block;"><a href="http://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/"><img src="http://img.youtube.com/vi/ERDquj_0K8o/2.jpg" alt="" /></a></span>
<p>Bilamana pertanyaan perkara saya bermain atau tidak, maka jawaban yang tersuguh adalah iya &#8212; namun bukan isyarat saya penting yang ahli nian. Masih berlatih, sekedar pendukung dalam orkes yang besar. Mengesampikan ucapan penutup lain, kiranya saya ucapkan: selamat menikmati. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img style="border:medium none;position:absolute;z-index:2147483647;opacity:0.6;display:none;" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABgAAAAYCAYAAADgdz34AAADsElEQVR4nK2VTW9VVRSGn33OPgWpYLARbKWhQlCHTogoSkjEkQwclEQcNJEwlfgD/AM6NBo1xjhx5LyJ0cYEDHGkJqhtBGKUpm3SFii3vb2956wPB/t+9raEgSs52fuus89613rftdcNH8/c9q9++oe/Vzb5P+3McyNcfm2CcPj9af9w6gwjTwzvethx3Bx3x8xwd1wNM8dMcTNUHTfFLPnX6nVmZpeIYwf3cWD/PhbrvlPkblAzVFurKS6GmmGqqComaS+qmBoTI0Ncu3mXuGvWnrJ+ZSxweDgnkHf8ndVTdbiT3M7cQp2Z31dRTecHAfqydp4ejhwazh6Zezfnu98E1WIQwB3crEuJ2Y45PBTAQUVR9X4At66AppoEVO1Q8sgAOKJJjw6Am6OquDmvHskZ3R87gW+vlHz98zpmiqphkkRVbQtsfPTOC30lJKFbFTgp83bWh7Zx/uX1B6w3hI3NkkZTqEpBRDBRzG2AQHcwcYwEkOGkTERREbLQ/8HxJwuW7zdYrzfZ2iopy4qqEspKaDYravVm33k1R91Q69FA1VBRzFIVvXbx5AgXT44A8MWP81yfu0utIR2aVK3vfCnGrcUNxp8a7gKYKiLCvY2SUvo/aNtnM3e49ucK9S3p0aDdaT0UAVsKi2tVi6IWwNL9JvdqTdihaz79/l+u/rHMxmaJVMLkS2OoKKLWacdeE3IsSxctc2D5Qcl6vUlVVgNt+fkPPcFFmTw1xruvT7SCd7nuVhDQvECzJH90h0azRKoKFRkAmP5lKTWAGRdefoZL554FQNUxB92WvYeA5UN4PtSqwB2phKqsqMpBgAunRhFR3j49zuU3jnX8k6fHEQKXzh1jbmGDuYU6s4t1rt6socUeLLZHhYO2AHSHmzt19ihTZ48O8Hzl/AmunD/BjTvrvPfNX3hWsNpwJCvwYm+ngug4UilSCSq6k8YPtxDwfA+WRawIWFbgscDiULcCEaWqBFOlrLazurupOSHLqGnEKJAY8TwBEHumqUirAjNm52vEPPRV4p01XXMPAQhUBjcWm9QZwijwokgAeYHlHYA06KR1cT6ZvoV56pDUJQEjw0KeaMgj1hPEY4vz2A4eW0/e1qA7KtQdsxTYAG0H3iG4xyK1Y+xm7XmEPOJZDiENzLi2WZHngeOjj2Pe+sMg4GRYyLAsx7ME4FnsyTD9pr0PEc8zPGRAwKXBkYOPEd96cZRvf11g9MDe7e3R4Z4Q+vyEnn3P4t0XzK/W+ODN5/kPfRLewAJVEQ0AAAAASUVORK5CYII%3D" alt="" width="24" height="24" /></p>
<br />Posted in Entertainment, From the Blog Tagged: konser, mahawaditra, orkestra, promosi, simfoni, universitas indonesia <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/569/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=569&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2009/12/mahawad.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mahawaditra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Entri 564</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 18:21:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[katarsis]]></category>
		<category><![CDATA[omong kosong]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;What doesn&#8217;t kill you simply makes you&#8230; stranger.&#8221; ~ Heath Ledger as The Joker (Batman: The Dark Knight) . Membuka awal tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan hal yang jarang ditemui di berbagai tulisan; bukan suatu hal yang spesial, menakjubkan, atau impresif. Ratusan, atau bahkan ribuan penulis lainnya mungkin sudah sering menggunakan cara ini untuk membuka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=564&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>&#8220;What doesn&#8217;t kill you simply makes you&#8230; stranger.&#8221;</em></p></blockquote>
<p style="text-align:right;">~ Heath Ledger as The Joker (Batman: The Dark Knight)</p>
<p>.</p>
<p>Membuka awal tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan hal yang jarang ditemui di berbagai tulisan; bukan suatu hal yang spesial, menakjubkan, atau impresif. Ratusan, atau bahkan ribuan penulis lainnya mungkin sudah sering menggunakan cara ini untuk membuka paragraf awal tulisannya. Barangkali cara ini juga dimuat dalam <em>tips and trick</em> buku paket Bahasa Indonesia untuk SMA atau Panduan Cara Menulis yang Baik dan Benar.</p>
<p>Standar.</p>
<p>Tipikal.</p>
<p>Tapi <em>toh</em> orang-orang tetap menggunakannya.</p>
<p>Ada yang bisa menggunakannya dengan baik, sehingga kutipan itu jadi pembuka yang menyentuh bagi romantisme essay yang ditulisnya, ada juga yang menggunakannya dengan buruk sehingga membuat kutipan itu jadi tidak berharga dan cuma seperti tambalan bagi baju kusam yang sudah digerogoti kutu busuk.</p>
<p>Tentunya yang menentukan baik atau buruknya penggunaan itu berdasarkan standar saya. Atau standar Anda, yang membaca.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Secara teknis, blog di WordPress ini sudah dibuat sejak <a title="Hello World!" href="http://deathlock.wordpress.com/2006/06/30/hello-world/">Juni 2006</a>. Tapi saya telantarkan hingga setahun setelahnya, <a title="Finally..." href="http://deathlock.wordpress.com/2007/04/28/finally/">April 2007</a>, karena sebelumnya saya sempat selingkuh dengan Blogspot.</p>
<p>Sudah kurang lebih tiga tahun saya menulis tanpa tujuan yang jelas. Menulis tulisan yang bisa dilacak di internet hingga WordPress.com bangkrut, tidak laku, atau Archive.org sudah tidak bisa menyimpan rekam jejak tingkah laku yang ditinggalkan manusia-manusia yang menjalin hubungan dengan internet. Hah, apa ini maksudnya saya mau pamer pengalaman blogging? Tentu tidak, karena tiga tahun itu bukan apa-apa dibandingkan bloger senior seperti mas <a title="POPsy" href="http://popsy.wordpress.com">Catshade</a>, misalnya. Tiga tahun saya pun tidak sepenuhnya tiga tahun, masih bolong-bolong.</p>
<p>Ini cuma sekedar pengingat.</p>
<p>Pengingat kalau orang seperti saya itu masih terlalu labil, masih berusaha mencari sesuatu yang bisa &#8220;dipegang&#8221;. Orang-orang seperti saya ini belum bisa menciptakan sesuatu yang dianggap orisinil, tapi merasa sudah berbuat demikian&#8211;bah. Orang-orang yang seperti saya ini, masih belum bisa memenuhi tanggung jawab sepenuhnya. Introspeksi? Tidak bisa dianggap begitu kalau cuma merenung tapi tidak mengubah diri jadi lebih baik, kesannya sia-sia&#8211;tidak berguna. Tapi itu terserah Anda.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Ini tahun 2009. Ini <em>sudah</em> tahun 2009.</p>
<p>Kata orang, sebentar lagi kiamat. Tiga tahun lagi kiamat; beritanya begitu heboh sampai-sampai orang gemar menggambarkan akhir hidup mereka sampai diabadikan dengan film yang berjudul &#8220;tahun kiamat&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Kata orang, &#8220;kiamat sudah dekat&#8221;. Kalau <a title="StoPlayinGame" href="http://stoplayingame.wordpress.com">kata adik saya</a>, &#8220;kok dari dulu kiamat sudah dekat melulu ya?&#8221;. Seharusnya, &#8220;kiamat makin dekat, bukan sudah dekat. Kalau dari dulu sudah dekat, kenapa nggak kiamat-kiamat?&#8221; Begitu katanya.</p>
<p>Kiamat atau bukan, ya itu bukan urusan saya. Tidak harus membuat saya jadi tobat juga. Masa tobat cuma dimotivasi karena kiamat, kok kesannya kasihan juga si Amat, dia datang malah bikin orang tobat ketakutan.</p>
<p>Halah.</p>
<p>Tapi paragraf barusan itu memang semi-serius. Kenapa orang cuma kembali ke agamanya masing-masing kalau sedang terancam kematian?</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Yah, barangkali itu untuk kontemplasi lain kali saja. Saya tidak begitu tertarik membahas kiamat dan kematian, mau menentukan Tuhan itu seperti bagaimana saja sudah repot.</p>
<p>Setidaknya, secara pribadi, di tiga tahun menjelang gembar-gembor kiamat ini, saya mendapat pengalaman yang baru. Secara teknis, baru. Baru, tapi bukan berarti menyenangkan. Memang tiap hari orang mendapatkan hal yang baru&#8211;seharusnya, seimanen apa pun hari yang dialami orang itu. Karena itu ungkapan &#8220;sejarah berulang&#8221; itu agak omong kosong, karena sepersis apa pun &#8220;plot&#8221; dalam &#8220;sejarah yang berulang&#8221;, &#8220;tokoh&#8221;nya tidak mungkin persis sama.</p>
<p>Saya merangkul &#8220;pengalaman baru&#8221; yang, tidak seperti cerita menye-menye ABG labil yang suka didokumentasikan di jurnal pribadinya, tanpa sengaja tidak terekam dalam blog saya. <a title="Ploork." href="http://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/">Seperti yang sudah saya bilang</a>, tidak biasanya hal itu tidak saya catat di blog ini seperti halnya berbagai katarsis yang sudah-sudah. Salahkanlah <a title="Plurk" href="http://plurk.com/xaliber/invite">Plurk</a>, bila memang perlu mengkambinghitamkan sesuatu. Pengalaman itu, di satu sisi, memang menyenangkan.</p>
<p>Tapi saya juga kehilangan berbagai hal. Berbagai &#8216;hal&#8217; yang secara emosional terikat dengan saya. Yah, lebih dari &#8216;hal&#8217;, sebenarnya. Lebih dari sekedar &#8216;hal&#8217;.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p><em>&#8220;What doesn&#8217;t kill you simply makes you&#8230; stranger.&#8221;</em></p>
<p>Sebelum menutup karir hidupnya, Heath Ledger meninggalkan kesan. Kesan yang terupa dalam wujud film: The Dark Knight, populer pada akhir tahun 2008. Kutipan itu adalah yang diucapkan oleh The Joker, tokoh yang ia perankan, merupakan <a title="What does not kill me, makes me stronger." href="http://www.quotationspage.com/quote/38037.html">alter dari kutipan</a> Friedrich Nietzsche.</p>
<p>Tahun ini, ada berbagai hal yang memang tidak membunuh saya, dan barangkali membuat saya jadi terlihat lebih aneh. Lebih sinis, lebih blak-blak-an? Seperti misalnya dengan mengatakan tidak ada alasan untuk jadi cengeng dan menye bertahun-tahun hanya karena permasalahan cinta antar pasangan lain jenis/sesama jenis.</p>
<p>Atau barangkali jadi terlihat lebih banyak membual?</p>
<p>Seperti halnya entri ini. Bukannya mengkomemorasi hari ini dengan sebaris kalimat sederhana saja, atau sebuah gambar kue &#8212; kwetiau sih harusnya &#8212; sebagai peringatan, saya justru menghadirkan omong-kosong panjang lebar seperti ini. Siapa pula yang mau baca? Sebagian orang mungkin akan memilih untuk melompati bacaan tidak berguna ini dan melompat ke kolom komentar. Atau justru langsung menutup halaman yang sedang ia baca dan membuka bacaan lain yang lebih bermanfaat.</p>
<p>Tapi, yah, kekonyolan semacam ini yang membuat saya masih terus menulis omong-kosong tak bermakna ini. Kekonyolan untuk memperingati hari ini. Tanggal 16 November.</p>
<p>Untuk ditertawakan tahun berikutnya. Ditertawakan sambil bertanya-tanya dalam hati, &#8220;kenapa saya gemar sekali membuat onggokan omong-kosong seperti ini?&#8221;</p>
<p>Yah, seperti halnya sekarang saya menertawakan entri <a title="One and Seven" href="http://deathlock.wordpress.com/2008/11/16/one-and-seven/">setahun</a> dan <a title="Mengingat Yang Lalu" href="http://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/">dua tahun</a> yang lalu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Tahun ini mungkin awal tahun saya bertambah tua dengan lebih hampa daripada sebelumnya. Dan pastinya begitu pula tahun-tahun berikutnya. Makin lama makin hampa, hingga akhirnya saya harus menutup umur saya dengan hampa pula. Entah kapan tanggal pastinya.</p>
<p>Karena tahun ini merupakan pertanda bahwa saya sepenuhnya diakui sebagai suatu individu, maka tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu lagi dalam ulang tahun berikutnya. Perayaan-perayaan berikutnya hanyalah penanda, pengingat bahwa akhir hidup saya semakin dekat. Bahwa saya semakin mendekati liang lahat.</p>
<p>Dan sejauh ini tidak ada yang bisa saya hasilkan. Seorang <a title="Severn Suzuki" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki">Severn Suzuki</a>, pada umur 12 tahun, bisa membuat para anggota PBB terdiam begitu mendengar pidatonya. Itu terjadi 19 tahun yang lalu. Sementara saya, di umur yang sudah setua ini, bahkan tak bisa membuat Pak RT di rumah sebelah bertepuk tangan. Ya tentu saja karena saya memang jarang bermain ke rumah Pak RT, kecuali beberapa tahun silam ketika ayah masih bisa mengemban tugas sebagai Pak RT.</p>
<p>Heheh, tentunya ini bukan bicara tentang saya yang butuh motivasi atau hiburan &#8212; tidak, hanya saja, lucu bisa mencela diri sendiri yang memang tidak pernah sempurna. Dan bila ini diteruskan, barangkali bisa tidak ada habisnya.</p>
<p>Hidup memang menyulitkan, merepotkan.</p>
<p><em>As for that, enjoy it while it lasts.</em></p>
<p>Saya pun harus tunduk pada ungkapan di atas, untuk menikmati hidup selama masih bisa hidup. Meskipun sedetik napas berikutnya berarti selangkah maju ke depan mendekat ke akhir hayat.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Selamat malam.</p>
<p>Terima kasih sudah membaca.</p>
<p>Dan, seperti tahun lalu, sebuah emoticon senyum yang biasa digunakan orang entah untuk berbasa-basi atau memang senyum tulus yang tersungging ketika menulis akhir paragraf, kembali saya gunakan pada akhir tulisan ini. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img style="border:medium none;position:absolute;z-index:2147483647;opacity:0.6;display:none;" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABgAAAAYCAYAAADgdz34AAADsElEQVR4nK2VTW9VVRSGn33OPgWpYLARbKWhQlCHTogoSkjEkQwclEQcNJEwlfgD/AM6NBo1xjhx5LyJ0cYEDHGkJqhtBGKUpm3SFii3vb2956wPB/t+9raEgSs52fuus89613rftdcNH8/c9q9++oe/Vzb5P+3McyNcfm2CcPj9af9w6gwjTwzvethx3Bx3x8xwd1wNM8dMcTNUHTfFLPnX6nVmZpeIYwf3cWD/PhbrvlPkblAzVFurKS6GmmGqqComaS+qmBoTI0Ncu3mXuGvWnrJ+ZSxweDgnkHf8ndVTdbiT3M7cQp2Z31dRTecHAfqydp4ejhwazh6Zezfnu98E1WIQwB3crEuJ2Y45PBTAQUVR9X4At66AppoEVO1Q8sgAOKJJjw6Am6OquDmvHskZ3R87gW+vlHz98zpmiqphkkRVbQtsfPTOC30lJKFbFTgp83bWh7Zx/uX1B6w3hI3NkkZTqEpBRDBRzG2AQHcwcYwEkOGkTERREbLQ/8HxJwuW7zdYrzfZ2iopy4qqEspKaDYravVm33k1R91Q69FA1VBRzFIVvXbx5AgXT44A8MWP81yfu0utIR2aVK3vfCnGrcUNxp8a7gKYKiLCvY2SUvo/aNtnM3e49ucK9S3p0aDdaT0UAVsKi2tVi6IWwNL9JvdqTdihaz79/l+u/rHMxmaJVMLkS2OoKKLWacdeE3IsSxctc2D5Qcl6vUlVVgNt+fkPPcFFmTw1xruvT7SCd7nuVhDQvECzJH90h0azRKoKFRkAmP5lKTWAGRdefoZL554FQNUxB92WvYeA5UN4PtSqwB2phKqsqMpBgAunRhFR3j49zuU3jnX8k6fHEQKXzh1jbmGDuYU6s4t1rt6socUeLLZHhYO2AHSHmzt19ihTZ48O8Hzl/AmunD/BjTvrvPfNX3hWsNpwJCvwYm+ngug4UilSCSq6k8YPtxDwfA+WRawIWFbgscDiULcCEaWqBFOlrLazurupOSHLqGnEKJAY8TwBEHumqUirAjNm52vEPPRV4p01XXMPAQhUBjcWm9QZwijwokgAeYHlHYA06KR1cT6ZvoV56pDUJQEjw0KeaMgj1hPEY4vz2A4eW0/e1qA7KtQdsxTYAG0H3iG4xyK1Y+xm7XmEPOJZDiENzLi2WZHngeOjj2Pe+sMg4GRYyLAsx7ME4FnsyTD9pr0PEc8zPGRAwKXBkYOPEd96cZRvf11g9MDe7e3R4Z4Q+vyEnn3P4t0XzK/W+ODN5/kPfRLewAJVEQ0AAAAASUVORK5CYII%3D" alt="" width="24" height="24" /></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:1913px;width:1px;height:1px;">http://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/</div>
<br />Posted in From the Blog Tagged: katarsis, omong kosong, ulang tahun <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/564/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/564/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=564&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Call Your Name</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2009/11/06/i-call-your-name/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2009/11/06/i-call-your-name/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 20:21:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Bleach]]></category>
		<category><![CDATA[fade to black]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Rukia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[It took me a month to do what I have promised (did I actually promise something? ); might have been hard for me to write a post for this blog. My preference seem to have switch over micro-blogging and foru&#8211;wait, what the hell. With those crap in mind, I will never update this blog again [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=559&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It took me <em>a month</em> to do <a title="Ploork" href="http://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/">what I have promised</a> (did I actually promise something? <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  ); might have been hard for me to write a post for this blog. My preference seem to have switch over micro-blogging and foru&#8211;wait, what the hell. With those crap in mind, I will never update this blog again for eternity.</p>
<p>Cut the crap. In short, above paragraph means I actually am back to my daily basis (of blogging); I hope so do too with my regular blog-walking. As a start, I&#8217;d like to give some film review. Well, I&#8217;ve just watched <em>Bleach the Movie 3: Fade to Black</em>, and while it&#8217;s still hot in my mind, I guess it&#8217;s better to write up some commentaries regarding the film.</p>
<p>I realize my lack of proper knowledge hinders me from writing a good entry in English, but I have the intention to write this entry in a language most people could understand <span style="text-decoration:line-through;">I&#8217;m not talking about SEO</span>, so please do apologize.</p>
<p><span id="more-559"></span></p>
<p>&#8212;</p>
<p><img class="aligncenter" title="Fade to Black" src="http://images2.wikia.nocookie.net/bleach/en/images/6/68/FadetoBlack.jpg" alt="" width="215" height="305" /></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Bleach: Fade to Black, I Call Your Name</strong></p>
<p>The film started with Kurotsuchi Mayuri doing certain experiment that yields in success, but only to find his memory being taken over by some mysterious scythe wielding figure a moment later. His partial lost of memory resulting in he being mad and destroying his lab by stabbing the central computer several times. Some gray giant &#8220;snakes&#8221; composed of reiatsu then appears as a result of the R&amp;D Lab&#8217;s malfunction and put everyone who have contact with those snakes (it is &#8220;eaten&#8221; actually) into stone, as similar as what you would&#8217;ve become if you have an eye-contact with Medusa. The reiatsu snakes destroys many part of Seireitei and covers 30% of which with grayish substance who seem to turn anything into a stone. Including Zaraki Kenpachi.</p>
<p>The event triggered chaos in the Spiritual World (Seireitei, more precisely). Meanwhile, Rukia, seeing the chaos from afar, is met with two mysterious figures&#8211;one of them is that scythe-wielder who striked down Mayuri&#8211;dressing in gray. They put Rukia in unconsciousness and possibly take her memories away, just like they (he) did to Mayuri.</p>
<p>In the human world, Kurosaki Ichigo is still sleeping when he suddenly senses danger and wakes up. For a moment he seems to forget his memories about Rukia, but Kon reminds him of her by showing a letter she left for them in similar manner to the one she left before leaving to be executed in Seireitei. They then meet Urahara Kisuke at his shop, and were told about the incident that happened in Seireitei. Ichigo and Kon decide to see what is actually going on in Seireitei, only to find it in ruins with no one there remembers either who Ichigo or Rukia is.</p>
<p><strong>Music and Voice (3.5/5)</strong></p>
<p>I have to say, unlike previous movies or the usual Bleach anime series we watch every week, the music this movie has is simply the best. It has orchestral arrangement that reminds me to several classical (though I&#8217;m not sure which one), and it fits the situation given there. I especially like the sudden change of music when Kenpachi was freed from the reiatsu-jail. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  The two antagonists seem to have their themes too, also in orchestra.</p>
<p>The voice acting here is somewhat better than the 2nd movie. I like how she (Fumiko Orikasa) voiced Rukia here, does not sound like the usual Rukia I know. Instead of heavy-pitched, it is more to lightly-hearted and&#8230; cuter. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oh, and I also liked how Aya Hirano voiced the female antagonist in the movie with her annoying-but-cute voice. She is a perfect cast for this.</p>
<p><strong>Animation (4/5)</strong></p>
<p>The backgrounds are drawn pretty well. I love how they seem to show more panoramic view of Soul Society, it can give the viewers the impression of how BIG Soul Society actually is. We can barely see the horizon even from the center of Seireitei&#8230; <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  How the characters move actually is also pretty nice. The only drawback is the way the characters run; their hands&#8230; uhh&#8230; looked odd, if viewed from back.</p>
<p>As for the battle scenes, it moves quite swift, surprisingly. Compared to battles in the 2nd or 1st movie, this one is much better. First reason, the animation is better; their faces don&#8217;t turned weird while having  a little chat in the midst of the battle. The sword fights and skills are also nice. Second, while they, still, use bankai for almost everytime&#8230; the crew actually spent some time to draw some battles that rely on sword techniques, as shown in Renji vs Ichigo &#8211;though only for about a minute. The biggest disappointment is Komamura Sajin who seemed to never use his shikai and summoned a gigantic bankai instead every time he has to face an enemy. Not to mention how slow (and a bit odd) his bankai moves&#8230;</p>
<p>*facepalm*</p>
<p><strong>Story (3.5/5)</strong></p>
<p>Simply said, this movie is all about the relationship of Ichigo and Rukia. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Too bad for IchiHime fans, because none of Ichigo&#8217;s human friends are mentioned in Fade to Black.</p>
<p>The idea of antagonists being former close-friends/formed a close relationship with the protagonist is not a new idea; we had one in DiamondDust Rebellion. Well, actually, in my opinion this movie resembles a lot of scenes from Bleach earlier chapters; specifically, while Ichigo was still new to his subsitute-shinigami job. There are several other similarities with the old chapters too, as the concept of parasitic Hollow (we had Mestastacia who fed on Shiba Kaien back then), many flashbacks of Rukia&#8217;s childhood and her relationship with Ichigo while staying in human world, how intimate Soi Fong and Yoruichi could be (remember their fight aftermath), and some other else.</p>
<p>Good thing is, they also use some concepts that Kubo Tite seemed to have forgotten already &#8211;at least, he never mentioned about it again. Such concepts, for example, is the concept of Reiraku (spiritual thread). It is first introduced when Ishida taught Ichigo how to track other spiritual-aware creatures, and is shown here again when Renji asked Ichigo to track Rukia&#8217;s location by her spiritual pressure that is similar to Ichigo&#8217;s. As for me, such trivia is a nice addition to blend more into the Bleach universe. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>They also didn&#8217;t spawn too many captains to handle the antagonists here&#8211;unlke the 1st movie. I mean, in Memories of Nobody, the antagonists are easily killed and the fights looked boring, but here, since we only have two antagonists to fight (and they actually merged themselves to Dark Rukia), the captains don&#8217;t have to sweat over useless enemies; they only have to cut and slash the infinite amount of gray snakes to bits. Ichigo&#8217;s fight with Dark Rukia also looked good too, despite of being interfered with unknown reason by Kuchiki Byakuya.</p>
<p>Well, several characters like Yoruichi, Komamura, Mayuri, and Kenpachi are merely plot-device though. That does not mean it is bad, but&#8230; it could&#8217;ve been better.</p>
<p><strong>Conclusion (3.5/5)</strong></p>
<p><img style="border:medium none;position:absolute;z-index:2147483647;opacity:0.6;display:none;" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABgAAAAYCAYAAADgdz34AAADsElEQVR4nK2VTW9VVRSGn33OPgWpYLARbKWhQlCHTogoSkjEkQwclEQcNJEwlfgD/AM6NBo1xjhx5LyJ0cYEDHGkJqhtBGKUpm3SFii3vb2956wPB/t+9raEgSs52fuus89613rftdcNH8/c9q9++oe/Vzb5P+3McyNcfm2CcPj9af9w6gwjTwzvethx3Bx3x8xwd1wNM8dMcTNUHTfFLPnX6nVmZpeIYwf3cWD/PhbrvlPkblAzVFurKS6GmmGqqComaS+qmBoTI0Ncu3mXuGvWnrJ+ZSxweDgnkHf8ndVTdbiT3M7cQp2Z31dRTecHAfqydp4ejhwazh6Zezfnu98E1WIQwB3crEuJ2Y45PBTAQUVR9X4At66AppoEVO1Q8sgAOKJJjw6Am6OquDmvHskZ3R87gW+vlHz98zpmiqphkkRVbQtsfPTOC30lJKFbFTgp83bWh7Zx/uX1B6w3hI3NkkZTqEpBRDBRzG2AQHcwcYwEkOGkTERREbLQ/8HxJwuW7zdYrzfZ2iopy4qqEspKaDYravVm33k1R91Q69FA1VBRzFIVvXbx5AgXT44A8MWP81yfu0utIR2aVK3vfCnGrcUNxp8a7gKYKiLCvY2SUvo/aNtnM3e49ucK9S3p0aDdaT0UAVsKi2tVi6IWwNL9JvdqTdihaz79/l+u/rHMxmaJVMLkS2OoKKLWacdeE3IsSxctc2D5Qcl6vUlVVgNt+fkPPcFFmTw1xruvT7SCd7nuVhDQvECzJH90h0azRKoKFRkAmP5lKTWAGRdefoZL554FQNUxB92WvYeA5UN4PtSqwB2phKqsqMpBgAunRhFR3j49zuU3jnX8k6fHEQKXzh1jbmGDuYU6s4t1rt6socUeLLZHhYO2AHSHmzt19ihTZ48O8Hzl/AmunD/BjTvrvPfNX3hWsNpwJCvwYm+ngug4UilSCSq6k8YPtxDwfA+WRawIWFbgscDiULcCEaWqBFOlrLazurupOSHLqGnEKJAY8TwBEHumqUirAjNm52vEPPRV4p01XXMPAQhUBjcWm9QZwijwokgAeYHlHYA06KR1cT6ZvoV56pDUJQEjw0KeaMgj1hPEY4vz2A4eW0/e1qA7KtQdsxTYAG0H3iG4xyK1Y+xm7XmEPOJZDiENzLi2WZHngeOjj2Pe+sMg4GRYyLAsx7ME4FnsyTD9pr0PEc8zPGRAwKXBkYOPEd96cZRvf11g9MDe7e3R4Z4Q+vyEnn3P4t0XzK/W+ODN5/kPfRLewAJVEQ0AAAAASUVORK5CYII%3D" alt="" width="24" height="24" />A nice movie to enjoy if you are a Bleach fan, and not too bad also if you are a fan of anime in general&#8211;though you may not be familiar with the situation and what actually is going on with the characters. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  It is a movie, so, well, you won&#8217;t find much complains about the animation and drawing; the story isn&#8217;t too heavy to understand also. It talked about memories and bonds with every person we have relationship with, not too bad, in my opinion.</p>
<p>At least, Rukia looked cute and sexy in her Dark Rukia form &#8211;better than Senna in the 1st&#8211; so I guess we don&#8217;t have to complain too much either~ &lt;3</p>
<p><img style="border:medium none;position:absolute;z-index:2147483647;opacity:0.6;display:none;" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABgAAAAYCAYAAADgdz34AAADsElEQVR4nK2VTW9VVRSGn33OPgWpYLARbKWhQlCHTogoSkjEkQwclEQcNJEwlfgD/AM6NBo1xjhx5LyJ0cYEDHGkJqhtBGKUpm3SFii3vb2956wPB/t+9raEgSs52fuus89613rftdcNH8/c9q9++oe/Vzb5P+3McyNcfm2CcPj9af9w6gwjTwzvethx3Bx3x8xwd1wNM8dMcTNUHTfFLPnX6nVmZpeIYwf3cWD/PhbrvlPkblAzVFurKS6GmmGqqComaS+qmBoTI0Ncu3mXuGvWnrJ+ZSxweDgnkHf8ndVTdbiT3M7cQp2Z31dRTecHAfqydp4ejhwazh6Zezfnu98E1WIQwB3crEuJ2Y45PBTAQUVR9X4At66AppoEVO1Q8sgAOKJJjw6Am6OquDmvHskZ3R87gW+vlHz98zpmiqphkkRVbQtsfPTOC30lJKFbFTgp83bWh7Zx/uX1B6w3hI3NkkZTqEpBRDBRzG2AQHcwcYwEkOGkTERREbLQ/8HxJwuW7zdYrzfZ2iopy4qqEspKaDYravVm33k1R91Q69FA1VBRzFIVvXbx5AgXT44A8MWP81yfu0utIR2aVK3vfCnGrcUNxp8a7gKYKiLCvY2SUvo/aNtnM3e49ucK9S3p0aDdaT0UAVsKi2tVi6IWwNL9JvdqTdihaz79/l+u/rHMxmaJVMLkS2OoKKLWacdeE3IsSxctc2D5Qcl6vUlVVgNt+fkPPcFFmTw1xruvT7SCd7nuVhDQvECzJH90h0azRKoKFRkAmP5lKTWAGRdefoZL554FQNUxB92WvYeA5UN4PtSqwB2phKqsqMpBgAunRhFR3j49zuU3jnX8k6fHEQKXzh1jbmGDuYU6s4t1rt6socUeLLZHhYO2AHSHmzt19ihTZ48O8Hzl/AmunD/BjTvrvPfNX3hWsNpwJCvwYm+ngug4UilSCSq6k8YPtxDwfA+WRawIWFbgscDiULcCEaWqBFOlrLazurupOSHLqGnEKJAY8TwBEHumqUirAjNm52vEPPRV4p01XXMPAQhUBjcWm9QZwijwokgAeYHlHYA06KR1cT6ZvoV56pDUJQEjw0KeaMgj1hPEY4vz2A4eW0/e1qA7KtQdsxTYAG0H3iG4xyK1Y+xm7XmEPOJZDiENzLi2WZHngeOjj2Pe+sMg4GRYyLAsx7ME4FnsyTD9pr0PEc8zPGRAwKXBkYOPEd96cZRvf11g9MDe7e3R4Z4Q+vyEnn3P4t0XzK/W+ODN5/kPfRLewAJVEQ0AAAAASUVORK5CYII%3D" alt="" width="24" height="24" /></p>
<br />Posted in Entertainment Tagged: Bleach, fade to black, movie, review, Rukia <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/559/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=559&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2009/11/06/i-call-your-name/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images2.wikia.nocookie.net/bleach/en/images/6/68/FadetoBlack.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Fade to Black</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ploork.</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 19:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[Comics & Graphics]]></category>
		<category><![CDATA[Interweb]]></category>
		<category><![CDATA[4 koma]]></category>
		<category><![CDATA[Boom]]></category>
		<category><![CDATA[I'm Back]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun saya tidak melulu berbagi cerita mengenai hal-hal yang saya lakukan seperti bermain dengan kucing atau menaiki kereta listrik tiap pagi, tapi saya seringkali menuangkan ide-ide yang terlintas di kepala via micro-blog. Sisi buruknya: ide-ide itu cenderung masih mentah dan tidak dipikir lagi seperti halnya jika saya menulis via blog. Soalnya, nggak kayak micro-blog, bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=553&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-555" title="microblog (c) xaliber 2009" src="http://deathlock.files.wordpress.com/2009/10/microblog.png?w=600" alt="microblog"   /></p>
<p>Meskipun saya tidak melulu berbagi cerita mengenai hal-hal yang saya lakukan seperti bermain dengan kucing atau menaiki kereta listrik tiap pagi, tapi saya seringkali menuangkan ide-ide yang terlintas di <a title="Plurk" href="http://plurk.com/xaliber/invite">kepala via <em>micro-blog</em></a>. Sisi buruknya: ide-ide itu cenderung masih mentah dan tidak dipikir lagi seperti halnya jika saya menulis via blog. Soalnya, nggak kayak <a title="Twitter" href="http://twitter.com/xaliber"><em>micro-blog</em></a>, bagi saya blog itu kan <span style="text-decoration:line-through;">dibaca orang banyak, masuk Google pulak, malu lah kalo dibaca tapi jelekan</span> ladang berpikir dan berbagi ide saya, jadi harus dikemas sebaik mungkin. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Halah.</p>
<p>Bersamaan dengan minat saya yang kembali naik untuk berpartisipasi <em>roleplaying</em> pada beberapa forum seperti halnya dua tahun yang lalu, maka saya memutuskan untuk kembali ke ranah blog yang sempat saya tinggalkan beberapa waktu. Yaa yaa, saya memang sempat menulis entri penuh harapan dan doa bahwa saya telah kembali, tapi ternyata cita-cita yang mulia hanyalah tinggal cita-cita, jadi saat ini saya datang untuk memperbaiki keadaan.</p>
<p>Yaah, hitung-hitung latihan nulis lagi, deh. Mengasah kemampuan halus (?). Tidak ada salahnya juga, kan.</p>
<p>Ngomong-ngomong, setelah saya lihat lagi beberapa entri di blog, agak aneh juga rupanya saya tidak mendokumentasikan kegiatan <em>emo-whining</em> saya via blog seperti biasanya. Mungkin karena terlalu sok-sibuk atau entah apa, tapi yang jelas salah satu pengalaman penting saya dalam mengarungi lautan hidup malah tidak terdokumentasikan dalam blog ini yang biasanya tertulis <a href="http://deathlock.wordpress.com/category/derived-from-the-abstracts/">dalam kategori sastra</a> (<em>curcol</em> lewat puisi; katarsis yang tak biasa dimengerti). <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;</p>
<p>Apa pun lah. Pokoknya dengan ini mudah-mudahan saya tidak sekedar jadi <em>micro-blogger</em> saja. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em><strong>PS:</strong> untuk komen-komen yang nyangsang pada saat saya hiatus&#8230; maaf ya, saya tinggalin sedemikian lama. Semoga bisa dibalas <span style="text-decoration:line-through;">ketika mood-nya sudah datang</span>. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<br />Posted in Comics &amp; Graphics, Interweb Tagged: 4 koma, Boom, I'm Back <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=553&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://deathlock.files.wordpress.com/2009/10/microblog.png" medium="image">
			<media:title type="html">microblog (c) xaliber 2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerak Terol</title>
		<link>http://deathlock.wordpress.com/2009/07/17/kerak-terol/</link>
		<comments>http://deathlock.wordpress.com/2009/07/17/kerak-terol/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 20:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Xaliber</dc:creator>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Interweb]]></category>
		<category><![CDATA[ababil]]></category>
		<category><![CDATA[bukan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[ITB]]></category>
		<category><![CDATA[troll]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=545</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, pada bulan September lalu, karena melempar komentar pada entri yang ditulis oleh seorang kawan, blog saya sempat dikunjungi sesosok troll. Sebenarnya bukan hanya saya, tapi juga bloger lain yang kebetulan juga menjadi teman segenggongblognya. Troll ini cukup rajin, dan tampaknya cukup berkelas jika dibandingkan troll yang ramai berkeliling waktu itu. Tulisannya dibalut dengan kapitalisasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=545&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, pada bulan September lalu, karena melempar komentar pada entri yang ditulis oleh <a title="Lemon S. Sile" href="http://tehsore.wordpress.com">seorang kawan</a>, blog saya sempat dikunjungi sesosok <em>troll</em>. Sebenarnya bukan hanya saya, tapi juga bloger lain yang kebetulan juga menjadi <a title="Teman segenggongblog?" href="http://sora9n.wordpress.com/2008/09/19/quote-of-the-day-6/"><em>teman segenggongblog</em>nya</a>.</p>
<p><em>Troll</em> ini cukup rajin, dan tampaknya cukup berkelas jika dibandingkan <em>troll</em> yang ramai berkeliling waktu itu. Tulisannya dibalut dengan kapitalisasi dan pungtuasi yang rapi, bahasanya juga bukan bahasa kelas cecunguk yang berkata seenak mulutnya mereka. Tapi, namanya juga <em>troll</em>; mau bagaimana rapi pun penulisannya, isi komentarnya ya tidak jauh-jauh dari isi komentar yang bisa diberikan oleh <em>troll</em>.</p>
<p>Bedanya, yang patut diberi nilai positif dari <em>troll</em> ini adalah ia berani menggunakan nama asli &#8212; lebih-lebih, nama lengkap pula! <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_surprised.gif' alt=':o' class='wp-smiley' />  Apakah untuk menunjukkan <a title="ePenis" href="http://gun.web.id/2009/07/02/e-penis.html">besar ke<span style="text-decoration:line-through;">tidak</span>maluannya</a> dalam berkomentar (mengingat pada saat itu banyak <em>troll</em> yang muncul dengan nama samaran) atau ada alasan lainnya, saya tidak tahu. Ya marilah berpikir positif saja.</p>
<p>Syahdan, dengan didatangi komentator dengan rupa-rupa demikian, maka langsung lah saya membuka mesin pencari. Memang sudah jadi kebiasaan saya untuk melacak orang-orang yang suka mengeluarkan komentar panas; kalau-kalau ternyata dia punya blog atau halaman pribadi sendiri, setidaknya saya bisa tahu seperti bagaimana pola pikirnya. Apalagi yang ini pakai nama asli. Mestinya lebih mudah.</p>
<p>Dengan bekal mesin pencari maha sakti serta nama lengkap dari si <em>troll</em>, tadinya saya kira saya akan menemukan beberapa halaman yang akan menyibak identitas si pembuat masalah. Tak dinyana, ternyata dugaan saya salah besar.</p>
<p>Si <em>troll </em>ini rupanya kurang populer.</p>
<p>Selain halaman yang tertaut ke <a href="http://wordpress.com">WordPress.com</a>, hanya satu hasil pencarian yang menunjukkan halaman lain. Tampaknya seperti sebuah majalah <em>online</em>. Atau semacamnya. Disitu terpampang nama yang bersangkutan (sebutlah, N.A.D.) sebagai pembuat desain kover. Selain dua hal itu, tidak ada lagi hasil pencarian yang menunjukkan identitas yang bersangkutan. Beberapa variasi pencarian sudah dicoba, tapi hasilnya tetap nihil.</p>
<p>Ya sudahlah, saya pun menyerah. Barangkali memang bukan rezeki saya untuk mengenal lebih lanjut rupa-rupa makhluk ini. Nama itu pun terlupakan&#8230; dan tergantikan dengan <em>troll-troll</em> pasaran lainnya yang selalu menggunakan nama samaran.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Hari demi hari pun berganti&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Musim demi musim berganti&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Hingga akhirnya, selang sepuluh bulan setelah peristiwa naas itu, mendadak sebuah komentar mendarat di salah satu entri yang pernah diludahi oleh sang <em>troll</em> perkasa.</p>
<p>Selayaknya seorang <abbr title="Bohong.">bloger yang baik</abbr>, saya baca saja komentar yang baru masuk kandang saya itu. Tapi, tanpa sengaja, kembali saya melihat komentar sesosok <em>troll</em> yang namanya hampir tersapu dari ingatan saya. Atas dasar keisengan, saya coba lagi saja melakukan pencarian. Biarpun menyebalkan dan namanya nyaris terlupakan, setidaknya keberanian (atau kecerobohan?) <em>troll</em> yang satu ini cukup berkesan untuk menyisakan lekat kekaguman di hati saya. Jadi, siapa tahu kali ini ketemu.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Dan apa yang terjadi?</p>
<p>Nama lengkap sang tersangka terpampang dengan jelas pada suatu situs jejaring sosial &#8212; yang sepuluh bulan lalu tampaknya belum menjamah jangkauannya. Apalagi kalau bukan situs hasil pengembangan Mark Zuckerberg: <a title="Facebook" href="http://www.facebook.com">Facebook</a>.</p>
<p>Langsung saja saya klik, dan tersibaklah wajah dari si tersangka yang sedang memunyungkan bibir a la film horor. Tak kurang lagi, dapat pula dilihat lingkaran pergaulannya dari teman-teman yang ada dalam daftar temannya. Agaknya, walaupun kurang populer di dunia maya (dengan nama aslinya), setidaknya makhluk ini cukup digemari di dunia nyata.</p>
<p>Sekilas saja saya melihat profil tertutupnya, karena toh memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Lalu? Apa yang saya lakukan setelah berhasil menemukan sosok misterius yang pernah menyentuh hati saya karena <em>trolling</em>nya?</p>
<p>Ya tidak ada. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Niat awal untuk melihat bagaimana pola pikirnya terlanjur kandas karena saya sudah tak begitu tertarik lagi. Kalau pun masih, keterbatasan yang ia berikan di profil Facebook-nya membuat saya harus menambah orang itu sebagai teman dulu. Merepotkan.</p>
<p>Apa tidak kepikiran merencanakan &#8216;balas dendam&#8217;? Tidak berguna juga sih, buat saya. Troll memang menyebalkan dan sangat tidak berguna diajak berdiskusi, tapi toh mereka juga manusia. Mungkin pada saat itu emosinya sedang labil. Mungkin beberapa hari sebelum itu ia baru kehilangan barang kesayangannya, sehingga ia tidak bisa tenang dalam berkomentar. Atau apa pun lah.</p>
<p>Yang jelas, setidaknya saya tidak perlu khawatir <a title="Ada Facebook Search." href="http://www.facebook.com/srch.php">jika lain kali didatangi <em>troll</em> serupa</a>. <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<br />Posted in From the Blog, Interweb Tagged: ababil, bukan makanan, internet, ITB, troll <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/deathlock.wordpress.com/545/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/deathlock.wordpress.com/545/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=deathlock.wordpress.com&amp;blog=287394&amp;post=545&amp;subd=deathlock&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://deathlock.wordpress.com/2009/07/17/kerak-terol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/aafcc1f64f7dc4c0990925e36e9c6d51?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
