Kalau ada orang bilang bahasa itu membingungkan, jangan heran. Karena bahasa itu memang membingungkan kalau tidak dilihat pada konteksnya. Kenapa perlu lihat-lihat konteks segala? Soalnya bahasa itu multitafsir. Satu kata yang sama artinya bisa beda kalo dipakai di kalimat yang berbeda pula. Contoh gampang,
Bilangan cacah adalah himpunan bilangan bulat yang tidak negatif.
Danu sedang mencacah daging untuk membuat perkedel.
Lihat bedanya?
Cacah pada kalimat pertama maksudnya adalah bilangan, sementara cacah pada kalimat kedua maksudnya adalah mencincang. Sekedar informasi, di bahasa Indonesia (menurut KBBI), kata ‘cacah’ punya empat arti: 1. gambar pada kulit bekas cacahan; 2. mencincang (daging) halus-halus; 3. bhs Jawa: petani yang tetap jadi warga desa; 4. bilangan.
Makanya, kalau lagi menafsirkan kalimat, lihat konteksnya. Jangan asal menafsirkan bahwa ramalan (yang mistis) itu sama dengan ramalan cuaca.
Walaupun sama-sama pakai kata dasar ‘ramal’, arti dari ‘ramalan’ di kata ramalan cuaca itu adalah prakiraan.
O, tunggu. Apa cuma bahasa kita aja yang mengalami derita makna yang membingungkan seperti ini?
Jelas tidak. Hampir semua bahasa yang ada itu multitafsir; punya makna jamak. Seperti bahasa di Tiongkok, yang dikatakan oleh mas roze, ‘Ma’ itu bisa berarti ibu atau kuda. Contoh lain yang lebih gampang? Bahasa Inggris. Kata ‘mole’ itu bisa berarti: 1. tikus tanah; 2. semacam tahi lalat; 3. unit dasar SI untuk mengukur jumlah bahan.
Masalah lainnya. Soal punktuasi — atau sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tanda baca, karena istilah punktuasi kayaknya ngga ada di kamus-kamus.
Lihat bedanya,
Kucing makan tikus mati
Kucing makan, tikus mati
Kucing makan tikus, mati
Ya ya, contoh itu memang contoh standar di buku-buku paket bahasa Indonesia. Sekarang bisakah Anda lihat perbedaannya? Kalimat pertama punya arti “kucing memakan tikus yang sudah mati”. Kalimat kedua punya arti “kucing makan, lalu tikus mati (entah karena apa)”. Sementara kalimat ketiga punya arti “kucing makan tikus, lalu mati”. Peletakan tanda koma yang berbeda saja sudah membuat kalimat itu punya arti berbeda. Hayo, siapa bilang punktuasi tanda baca itu tidak penting?
Contoh lain dari peletakan kata atau tanda baca yang kurang tepat?
Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-62!
Selamat Hari Ulang Tahun ke-62 Republik Indonesia!
Apa bedanya antara kalimat pertama dan kalimat kedua? Kalau kalimat pertama, artinya jadi “selamat Hari Ulang Tahunnya RI yang nomor 62″. Jadi maksudnya yang ulang tahun adalah Republik Indonesia yang ke-62; dengan kata lain, ada 62 Republik Indonesia di dunia ini.
Sementara di kalimat kedua punya arti “Selamat Hari Ulang Tahun untuk Republik Indonesia (yang sekarang sudah berumur 62 tahun)”. Nah, ini yang lebih tepat untuk dipakai.
.
.
.
O iya, buat yang kesulitan menjamah KBBI karena harganya yang sulit untuk dijangkau, atau sekedar malas membawa buku tebal yang bisa dipakai buat nimpuk orang, bersyukurlah karena pemerintah telah berbaik hati. Ada versi online dari KBBI [disini].
Berita lama sih, tapi kalau Anda mau lihat-lihat del.icio.us saya, sudah kelihatan kalau disimpan sejak dulu.
Selanjutnya tinggal kita lihat apakah teori konsumsi yang mengatakan bahwa ‘kebutuhan manusia itu tidak terbatas’ itu benar apa tidak, jika sebentar lagi akan ada protes kalau isinya KBBI kurang lengkap. Atau semacamnya.
New Medals