Entri 1015

Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.

Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu–yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, ibu juga membawa kue. Untuk dimakan bersama. Biasanya tidak habis di malam itu–meski porsi makan saya memang meningkat sejak 10 tahun terakhir–dan kuenya akan disimpan untuk esok hari. Siapa pun yang ingin santap cemilan, bisa mengambilnya di kulkas. Termasuk asisten rumah tangga di rumah, yang  sudah bekerja sejak saya lahir; serasa seperti kerabat sendiri.

Pagi dan siangnya, kadang saya akan menerima ucap senada. Pemberian selamat dari teman-teman sekolah yang tersenyum penuh rupa. Tentunya, selayaknya orang Indonesia, saat itu pula saya, seakan mematuhi peraturan tidak tertulis, perlu merogoh sedikit kocek dan menyenangkan ibu-bapak penjaga kantin–paling tidak, dulu saya pikir begitu–yang tiba-tiba kedapatan pemesanan porsi makan lebih banyak. Tapi memang tidak selalu. Ada tahun-tahun di mana hari seperti ini berlalu begitu saja sekolah. Begitu juga bila hari seperti ini terjadi di hari libur, Sabtu dan Minggu.

Walau siang tidak menentu, namun sorenya saya akan selalu teringat senyum hangat nenek. Setelah pulang dari sekolah, rasanya sudah menjadi ritus untuk mengunjngi rumah nenek, memotong kue [lagi], dan mendapatkan bingkisan hadiah besar–setelah sedikit beranjak dewasa, bingkisan itu berubah wujud menjadi amplop uang saku tambahan–dari kerabat-kerabat. Meski kesemua hal itu menyenangkan, agaknya kenangan paling menyenangkan adalah ketika merayakannya bersama nenek–ibu dari ibu. Bahkan saya masih ingat cake coklat serupa dinosaurus yang akan dipotong bersamanya. Beliau, bagi saya, mungkin adalah sosok ibu kedua.

Pada malam harinya, ayah dan ibu akan mengingatkan saya kembali. Tentang apa yang sudah berubah, secara positif, dari diri saya selama satu tahun terakhir. Bagaimana saya dapat terus bertambah baik untuk tahun-tahun ke depannya. Meski seingat saya ayah seringkali bilang, saya berubah secara signifikan, setelah ditimang kembali saat ini rasanya saya terlalu bandel saat itu untuk dibilang berubah secara positif. Kemudian, saya akan tertidur pulas. Dengan puas.

Memang benar. Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.

Mungkin karena kesan itu pula, saya, dulu, selalu menganggap spesial tanggal-tanggal yang bertepatan dengan perayaan apa pun. Bahkan, tanggal unik–seperti 11-11-11–yang sebenarnya tidak punya perayaan atau makna apa pun.

***

Saya tidak ingat kapan persisnya. Yang bisa saya ingat saat itu ayah sudah didiagnosis menderita kanker. Saat itu beliau mengajak kami sekeluarga, beserta nenek, tante, dan sepupu–bila tidak salah ingat–untuk merayakan tahun baru di sebuah hotel, yang saya juga lupa apa hotelnya.

Seperti ritus tahunan saya dan adik saya untuk merayakan ulang tahun di rumah nenek, kami juga memiliki semacam ritus tahunan untuk merayakan tahun baru juga di rumah nenek. Letaknya di Cipinang. Sejak kecil, saya dan adik saya besar bersama lingkungan di rumah Cipinang ini. Setiap Minggu, dulu, saya mengikuti latihan karate bersama adik dan teman satu sekolah saya, Aditya Irfansyah–yang kebetulan juga tinggal di kompleks itu. Kadang, sepulang sekolah saya menunggu adik dan ibu di rumah nenek sebelum pulang ke rumah, atau sebaliknya. Rumah ini, pun, berasa bagai rumah kedua.

Wajar bila kemudian akhirnya banyak “ritus tahunan” yang terselenggara di rumah nenek–termasuk tahun baru. Tidak hanya keluarga inti saya–biasanya keluarga paman dan tante yang juga tinggal di kompleks itu akan turut meramaikan. Setiap akhir tahun, kami akan menyalakan TV, menghitung mundur detik-detik terakhir bersama-sama, sembari membakar sate atau barbeque. Setelah jam berdentang di angka 12, kami akan menyalakan kembang api. Perumahan lain juga seakan tidak mau kalah dengan memasang kembang api yang meriah. Hingga akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009, saya masih menikmati ritus tahunan ini. Tidak ada yang bisa menggantikan suasana di kompleks Cipinang itu, yang rasanya selalu menyenangkan setiap tahun.

Namun, di suatu tahun itu, ayah memutuskan untuk mengganti suasana. Merasakan suasana lain. Saya tidak ingat tahunnya, tapi saat itu saya sudah menginjak bangku SMA. Yang berarti antara periode 2005-2008. Seperti berbagai hal lain yang sering ayah ucapkan pada saya, keputusan ini dilakukan agar kami, khususnya saya, “mencoba pengalaman baru”. Hingga tahun-tahun belakangan ini, saya memang selalu dikenal sebagai konservatif di kalangan keluarga. Termasuk dalam hal “mencoba pengalaman baru”.

Karenanya, saat itu, sebagai remaja konservatif yang sedang dalam gelora pemberontakan, saya awalnya menolak keputusan ayah. Saya sudah terlanjur nyaman dengan “ritus” yang berlangsung di rumah nenek setiap tahun. Lingkungan yang sudah dikenal, barbeque bersama keluarga, dan kembang api yang bersinar di malam pergantian tahun. Katakanlah, saya memang anak rumahan. Apalagi, saat itu, di benak saya tertanam pikiran, antara “pesta” dan “hotel” terpaut erat unsur laten hedonisme–meskipun saya yakin saat itu saya juga tidak paham betul apa arti kata itu, selain dari yang biasa disebarkan televisi dan buletin dakwah tiap Jum’at. Pasca-reformasi, remaja mana yang tidak akrab dengan brainwash keburukan hedonisme? Jadi, barangkali yang hanya terpikir di benak saaat saya itu adalah, opsi pengubahan ritus tahunan menjelang pergantian tahun sangatlah tidak masuk akal.

Tapi toh setelah beberapa perdebatan–yang memang saya sering lakukan dengan ayah, dalam berbagai hal–saya menyerah juga. Meski dengan penuh keengganan, saya pun pada akhirnya mengepak barang bersama keluarga beberapa hari sebelum keberangkatan, untuk menghabiskan beberapa malam singkat di tempat yang sama sekali asing dengan kegiatan yang sama sekali tidak saya ketahui. Pada nyatanya, saya memang akhirnya banyak menghabiskan waktu di dalam kamar bersama laptop pertama saya, COMPAQ–yang hingga beberapa hari ini masih sering saya gunakan. Saya masih ingat, sewaktu itu saya menyalakan Yahoo! Messenger dan memasang status “Happy New Year” disertai kutipan-kutipan yang-tidak-begitu-bijak dari tokoh berkebangsaan Jerman.

Menjelang menit-menit pergantian tahun, tiba-tiba, ayah mengajak saya, bersama ibu dan adik, turun ke lantai dasar. Menurut ayah, justru inti dari perayaan tahun baru di hotel adalah mengikuti pesta di lantai dasar. Percuma merayakan tahun baru di hotel bila hanya dihabiskan di kamar. Dan seperti yang sudah bisa diduga, saya kembali enggan. Walaupun keengganan saya kali ini tidak bertahan lama; entah bagaimana ayah berhasil membuat saya turun ke lantai dasar.

Lantai dasar hotel pada menit-menit pergantian tahun sangatlah ramai. Tidak terkira. Lagu diputar dengan sangat kencang, orang-orang berseliweran berbincang, menikmati makanan dan minuman yang disediakan. Saat itu antipati saya kembali naik, karena sebagian dari gambaran di benak saya ternyata benar terwujud–tentang “pesta” di “hotel” yang hedonis, apa pun artinya hedonis itu, yang agaknya dulu saya asosiasikan dengan bergoyang, meminum minuman keras, dan berbincang riuh-rendah seperti pada film produksi Hollywood. Pandangan saya sudah jauh berubah sejak saat itu–mungkin ayah saya akan sedikit terkejut bila mengetahuinya–meski saya masih, sebagian besar, jadi anak rumahan.

Ayah saya, saat itu, agaknya menyadari raut wajah saya yang berubah. Dulu, saya memang tidak banyak berkata-kata di tempat umum, khususnya bila sedang kesal. Tapi sangat mudah untuk mengetahui emosi saya dari gelagat saja. Setidaknya, ayah mahir dalam mengetahui hal ini. Sontak saja, beliau menanyakan pendapat saya tentang pesta tahun baru di hotel ini. Mungkin sekedar retorika, karena saya yakin ayah tahu, saya saat itu tidak dalam kondisi menikmati. Kami sempat berbincang beberapa patah kata–tidak banyak, mengingat tempatnya yang sangat ramai dan bising–namun saya masih ingat bagaimana saya menimpali,

“Buat apa sih ada acara mewah-mewah begini?”

Bagai seorang Qutb-ist abangan, saat itu mungkin benak saya menganjurkan menentang “hedonisme” yang berwujud dalam kemewahan adalah hal yang keren. Saya ingat, ayah saya sempat mengangkat alisnya sejenak. Tapi beliau, seperti yang selalu beliau lakukan acapkali saya mulai dengan bodohnya menunjukkan ketidaktahuan saya, membalas dengan senyum dan tawa pelan. Sewaktu itu mungkin saya sedang direndam emosi. Ditambah, kemeriahan tempat tersebut yang benar-benar tidak biasa. Tapi saya tidak salah ingat ketika ayah menepuk pundak saya dengan halus. Kemudian, beliau membalas,

“Orang merayakan tahun baru kayak menutup buku yang lama dan membuka yang baru. Dirayakan meriah karena berhasil menamatkan buku yang lama, dan membuka buku yang baru juga meriah, harapannya, kalau awalnya baik, seterusnya juga mudah-mudahan baik.”

Ucapan beliau mungkin tidak persis seperti itu. Meski saya masih mengingat penggunaan analogi ayah tentang buku dan inti pesan “awal yang baik untuk proses yang baik.” Saya pikir itu inti pesan yang saya tangkap dari ayah waktu itu.

Agaknya memang sukses untuk mendiamkan anak beliau yang tertua ini selama pesta berlangsung. Toh, pada akhirnya, meski dipenuhi keramaian, saya tidak sepenuhnya rugi. Riuh-rendah yang biasanya hanya saya amati dari balik layar kaca, kini saya amati tanpa melalui perantara–kecuali mungkin lensa kacamata saya. Semacam MC pesta itu menghitung mundur detik-detik pergantian tahun dan ketika angka mencapai 0, seluruh peserta meniup terompet yang diberikan oleh pelayan, dengan ramai. Kami segera kembali ke kamar seusai penghitungan. Di sana, kami sempat menyaksikan kembang api yang megah dari jendela kamar. Ibu yang selalu terkesima–pada banyak hal–mencoba mengabadikan momen tersebut melalui kamera.

Tahun itu adalah tahun baru yang berbeda bagi saya. Tahun yang, mungkin, membuat saya kembali mempertimbangkan apa makna dari peringatan, komemorasi, dan pergantian hari. Mungkin.

Saya tidak benar-benar yakin apa memang hari itu yang mempengaruhi saya. Barangkali, saya juga bisa menyalahkan teman SMA, Annas Azis–sekarang menekuni Ilmu Filsafat di FIB UI, setelah pindah dari ITB–karena sikapnya yang selalu antagonistik terhadap hari perayaan, jauh sebelum saya memikirkan hal itu.

***

Saya masih tidak begitu paham kenapa ayah meninggalkan kami, tepat di tanggal ini, dua tahun lalu.

Saat itu pukul delapan, lewat dua puluh menit. Saya baru saja mencapai fakultas tempat saya menimba ilmu, terlambat dua puluh menit dari jadwal masuk yang seharusnya. Maklum, mahasiswa–malam sebelumnya, saya tidur larut. Sembari mempercepat langkah kaki, saya masih ingat ketika baru saja melihat jam digital di ponsel kesayangan, selang sekian detik menyadari saat itu pukul berapa, sebuah panggilan masuk ke ponsel saya. “Ayah sakit keras,” ujar suara di balik panggilan itu. Sepupu saya. “Cepat pulang.”

Langkah saya segera terhenti. Saya tidak mengingat apa pun dari menit-menit itu. Yang saya sadari selanjutnya, langkah kaki sudah membawa saya menuju luar fakultas.

Mungkin, saya tidak perlu memahaminya.

Karena memang tidak ada yang perlu dipahami. Setiap jam, satu nyawa manusia turun ke bumi. Di setiap jam yang sama pula, satu nyawa manusia lain meregang. Ungkapan itu tentu sulit untuk diuji keabsahannya, tapi saya pikir bisa didapat maksudnya: umur manusia tak ada yang dapat menebak. Kita dapat meninggalkan tubuh kita kapan pun–dan itu proses yang alamiah. Sangat alamiah. Apakah itu di hari kerja, akhir minggu, hari kemerdekaan, tahun baru, atau di hari peringatan lahir seperti ini. Mungkin, saya tidak perlu memahaminya. Mungkin.

Teman saya saat SMP, Gemala Zenobia, berpendapat lain.

Saya tidak pernah membicarakan hal ini secara pribadi dengannya. Ucapannya hanya terlintas pada sepenggal kalimat di wall Facebook. Di hari seperti ini, Facebook memudahkan kita untuk saling berkomunikasi. Teman baik maupun teman yang sekedar menimpal sapa, tetap akan diingatkan lewat pemberitahuan hari lahir di Facebook. Siapa pun bebas menyampaikan kemudian. Umumnya, yang diperingati hari lahirnya akan ketumpahan wall baru. Termasuk orang seperti saya.

Acapkali saya berupaya untuk mencari makna dari hari itu–yang saya tahu mungkin tidak ada–saya selalu teringat apa yang ia sampaikan. Di pesan belasungkawanya, Gemala menulis, bahwa kepergian ayah adalah sebuah “kado” bagi saya. “Kado”, untuk menjadi lebih kuat. “Kado”, untuk memaknai hidup.

Saya tidak yakin bila saya benar-benar menyerapiarti ucapannya. Tapi tu adalah salah satu dari sedikit yang masih saya ingat dari hari itu, hingga hari ini.

Dua bulan sebelumnya, nenek mendahului ayah. Saat itu bulan Oktober. Semester baru saja dimulai, namun saya sudah menghabiskan waktu menyendiri di kamar selama beberapa hari. Di hari-hari itu, suatu sore, ayah menghampiri saya. Ayah, selalu dengan senyumnya yang tipis, menatap saya penuh perhatian. Rambutnya sudah menipis, akibat kemoterapi. Tangannya yang juga kurus, menggapai saya. Beliau berupaya menghibur saya–seperti yang biasa beliau lakukan bila salah satu dari anaknya sedang mengalami masa yang sulit. Meski kami sering berdebat, berbeda pendapat, dan bahkan bertengkar, ayah tidak pernah terlihat marah lebih dari dua hari. Ibu selalu mengenang ayah sebagai sosok yang penyayang dan penyabar–begitu pula teman dan rekan kerjanya. “Pak Eri tidak pernah marah,” begitu yang pernah saya dengar, dulu sekali. Ketika ada seorang kawan ayah yang berkunjung ke rumah.

Saat itu, ayah berujar. Satu lagi ucapan beliau yang masih saya ingat dengan jelas. “Kalau kamu sayang sama Uti,” Uti, panggilan sayang kami kepada nenek, “Teruskan apa yang selama ini selalu bikin Uti bangga, prestasi kamu, cita-cita kamu. Jadi waktu lulus nanti, kamu bisa bilang dengan bangga, ‘Uti, aku berhasil.’” Saat itu, saya bisa membayangkan diri saya, duduk di antara kursi-kursi balairung, meraih gelar sarjana dengan nilai maksimal, mengucap bangga dalam hati pada nenek. Ayah, seperti biasa, menepuk pelan bahu saya. Saya hanya mengangguk dalam diam dengan bayangan itu, mengamini yang beliau katakan.

Waktu itu saya tidak terbayang, bahwa saya juga tidak akan bisa berbagi kebanggaan itu dengan ayah.

***

Setahun lalu, saya tidak meninggalkan secarik tulisan apa pun di hari ini.

Sejak saya memulai menulis di blog, setiap tahun saya selalu meninggalkan catatan kecil pada hari ini. Tahun 2007, tahun 2008, bahkan tahun 2009 pun saya masih meninggalkan tulisan, meski tidak bermakna. Ada kalanya saya sekedar mencoba puitis, ada kala yang lain saya menulis panjang. Dari tulisan-tulisan kecil itu, saya berharap, mencoba mencari makna dari hari seperti ini. Dari komemorasi. Dari peringatan. Dari perayaan. Dari tahun ke tahun, tulisan saya meninggalkan jejak bagi saya di masa yang akan datang, untuk melihat kembali masa lalu. Namun tahun 2010 saya tidak menulis apa pun.

Hari ini, saya kembali menulis. Pencarian saya belum selesai. Hingga kini, saya masih belum menemukan apa makna dari hari seperti ini. Apalagi, sejak tahun lalu, hari seperti ini juga mengingatkan tentang ayah saya.

Mungkin, bagai buku yang pernah disebut ayah, hari seperti ini adalah akhir dari buku itu. Hari seperti ini adalah hari ketika apa yang sudah saya telusuri, ditulis ulang, dan dirangkum kembali. Dikoreksi kembali. Sepintas itu, dan saya segera harus membuka buku baru. Untuk juga ditelusuri lagi. Untuk kemudian ditulis ulang dan dirangkum lagi, ketika sudah mencapai akhir. Mungkin, saat ini saya masih berpegang pada pemaknaan ini, sambil mencari, terus mencari. Bukan untuk saya. Namun untuk menjaga rasa bangga yang seharusnya bisa saya bagi dengan ayah. Dengan nenek. Dengan keluarga.

Hingga saya tidak mampu menelusuri buku apa pun lagi.

.

Selamat tanggal 16 November.

Semoga anda juga menemukan makna dari hari spesial anda.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 36 pengikut lainnya.