Revolusi Media Sosial dan Angan-angan Perubahan

Viva la Revolucion..?

Viva la Revolucion...?!

Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (social media; macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara Social Media Festival di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula International Conference on Social Media Cultures di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya diberi kesempatan untuk menghadiri (bersama Lemon S. Sile).

Dari Sabtu kemarin (24/9) hingga entri ini ditulis (26/9), saya lihat di timeline Twitter masih ramai membahas tentang pengaruh besar media sosial. Maka dari itu, pikir saya, mungkin untuk sekedar menambah perspektif tentang riuh-rendah media sosial masih belum terlalu terlambat. Lagipula, supaya blog ini tidak melompong melulu (beberapa waktu lalu juga sempat ditagih bung reinhart :P ).

Saya hendak menyoroti satu aspek yang nampaknya jadi salah satu alasan kenapa media sosial nampak begitu besar pengaruhnya bagi kemaslahatan umat manusia: social media activism. Aktivisme melalui media sosial.

Yang paling mencolok adalah pergolakan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada awal 2011 lalu. Khususnya di Mesir: yang berhasil menumbangkan Hosni Mobarak, penguasa selama tiga dekade.

Tidak sedikit media massa yang menyoroti peran media sosial dalam pergolakan tersebut. Hasil dari sebaran polling kecil-kecilan di Facebook tempo hari dan tulisan om Nukman di majalah Rolling Stone juga menunjukkan ada perhatian kita pada teknologi yang “relatif” baru ini. Wael Ghonim, orang yang dilihat sebagai salah satu kunci revolusi oleh Huffington Post, bahkan menggunakan jargon-jargon internet seperti “Revolusi 2.0 yang menyerupai Wikipedia” untuk menjelaskan fenomena tempo hari.

Populeritas ini mungkin tidak begitu mengherankan. Apalagi, mediumnya adalah perangkat yang dekat dengan keseharian kita–yang biasa digunakan untuk bergosip bersama kawan, stalking curhat harian selebritis, atau bermain menanam jagung di sawah virtual. Siapa sangka ternyata bisa digunakan untuk menggulingkan diktator besar dari tahtanya?

Konon “Twitter Revolution” [baca: revolusi dengan media sosial] ini bukan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, Iran dan Moldova juga tercatat telah menggelar revolusi serupa. Para demonstran menggalang aksi massa dan mengumpulkan ribuan peserta, kabarnya, dengan kekuatan dari media sosial.

Meskipun kasus Iran dan Moldova tidak berhasil menumbangkan pemerintahan Ahmadinejad maupun partai Komunis Moldova yang disinyalir mencurangi pemilu, namun aktivisme melalui media sosial-nya itulah yang dikenang sebagai jejak yang luar biasa. Kedengarannya, pergolakan politik abad ke-21 tidak bisa lepas dari tumpuan teknologi informasi.

Dan bila bicara tentang teknologi informasi dan politik, siapa yang bisa lupa dengan kampanye Barack Obama pada 2008? Kampanye yang sampai bisa membuat generasi muda apatis politik untuk memilihthanks to the internet.

Tapi, justru di sini perkaranya. :?

Aktivisme Digital: Di Mana Peran Media Sosial?

Terima kasih pada media massa, Facebook dan Twitter kembali terdengar gaungnya pada revolusi di Timur Tengah-Afrika Utara. Paling tidak ada NY Times dan Voice of Americae yang sudah menyoroti bagaimana para aktivis demonstran tidak bisa lepas dari genggaman internet; mulai dari foto yang diunggah, penyebaran video untuk menggalang peserta, hingga page dan group Facebook yang dibentuk.

Salah satu page Facebook yang paling mendapat sorotan adalah “We Are All Khaled Said“–muncul sebagai reaksi atas kematian Mohammad Khaled Said; pemuda Mesir yang dipukuli sampai mati oleh polisi karena diduga menyimpan video transaksi ilegal polisi. Pembuatnya adalah Wael Ghonim. Aktivitas serupa juga dilakukan oleh Asmaa Mahfouz. Mahfouz merupakan salah satu aktivis yang membuat video blog mendorong masyarakat Mesir untuk berdemonstrasi pada tanggal 25 Januari.

Maka ketika yang laporan bahwa pemerintahan Mesir rupanya mematikan jaringan internet ketika protes berlangsung, kesan yang terlihat adalah: internet–melalui media sosial–benar-benar mampu menjelma jadi marabahaya besar bagi rezim Mubarak.

Dari IE sampai Twitter; membentuk Mesir

Namun media massa tidak membedakan antara “menyebarkan informasi” dengan “mengorganisasi gerakan” melalui media sosial.

The Nation menarasikan pengalaman masyarakat Mesir dengan internet dari tahun-tahun sebelumnya, dalam kaitannya dengan protes. Sementara New York Times secara eksplisit menyebutkan Facebook dan YouTube berperan dalam mengorganisasi protes tempo hari.

Padahal, “mengorganisasi gerakan” berarti melibatkan hubungan resiprokal antara sesama pengguna media sosial. Misalnya, menyusun kapan gerakan akan dilakukan, mengatur strategi demonstrasi. Kegiatan ini butuh interaksi timbal-balik di antara orang-orang yang berdiskusi–sifatnya dua arah.

Sementara, “menyebarkan informasi” lebih bersifat satu arah. Ada satu narasi yang kemudian disebar ke khalayak luas, tanpa membutuhkan timbal balik. Misalnya, contoh klasik penyebaran informasi adalah ketika kita sedang menonton berita di TV. Satu arah–kita hanya menerima informasi tapi tidak membalas balik secara langsung.

Terkait media sosial, ada pengalaman menarik yang bisa dipetik dari “Revolusi Twitter” Iran dua tahun sebelumnya.

“Revolusi Twitter” Iran berhasil diamati oleh khalayak luas dan terungkap dalam liputan media karena maraknya penggunaan hashtag/tagar #iranelection di ranah timeline Twitter. Lebih dari 200 ribu tweet, kalau menurut data dari Mashable. Nampaknya di jalan-jalan di Tehran sana, ribuan orang sedang sibuk membawa panji Revolusi Hijau di tangan kiri, dan genggaman teknologi di tangan kanan. Luar biasa sekali.

Namun tunggu dulu.

Sebentar, sebentar.

Tampaknya ada yang aneh. Ketika ditelusuri, kenapa hashtag #iranelection banyak yang berbahasa Inggris? :-? Bukannya lebih mudah kalau berkomunikasi dengan sesama demonstran Iran menggunakan bahasa Farsi?

Rupanya, menurut Sean Aday, dkk, mayoritas pengguna internet Iran tidak menggunakan Twitter. Data dari laporan Sysomos juga menunjukkan, hanya 19.235 akun Twitter Iran yang terdaftar (hanya 0.0295% dari populasi Iran), sementara ada lebih dari 100.000 demonstran di jalanan Tehran di sana! :o

Kalau begitu, siapa yang berkomunikasi dengan hashtag #iranelection?

Adalah akun bernama @oxfordgirl, seorang kelahiran Iran yang tinggal di Inggris, yang mempopulerisasikan hashtag #iranelection. Jelas tidak cukup hanya seorang untuk membuat sebuah hashtag menjadi trending topics. Pengguna Twitter Iran lain juga mencoba mempopulerisasikan–tapi untuk siapa?

Rupanya, hashtag #iranelection itu bukan untuk berkomunikasi dengan sesama demonstran. Namun, untuk mengabarkan berita Green Revolution Iran kepada seluruh dunia, mengingat gerak media massa di Iran sangat dibatasi oleh Ahmadinejad, sehingga sulit bila harus mengandalkan media massa untuk melaporkan berita demonstrasi terhadap pemerintah. Hashtag #cnnfail yang muncul kemudian, dilihat sebagai tanda kekecewaan para demonstran kepada CNN: kenapa CNN tidak berhasil meliput kejadian di Iran ini.

:?

Lalu bagaimana dengan Mesir?

Mari sedikit melihat data. :)

Data pengguna Facebook Mesir

Bandingkan dengan Indonesia: 98%!

Ini data yang dikompilasi dari UNICEF, Internet World Stats, dan eMarketing Egypt. Data yang diambil berdasarkan data di penghujung Desember 2010.

Facebook, yang disoroti sebagai penggerak demonstran, ternyata hanya memiliki 18.9% pengguna dari total pengguna internet Mesir–yang berarti hanya 4.7% pengguna Facebook dari total populasi penduduk Mesir.

Dari demonstrasi besar-besaran kemarin, ada beberapa laporan yang berbeda-beda mengenai berapa sebetulnya jumlah demonstran yang memadati Mesir–dari pelosok jalanan hingga lapangan Tahrir. Rata-rata melihat demonstrasi kemarin dipadati hingga ratusan ribu hingga jutaan orang.

Kalau dibanding Iran, 3 juta pengguna Facebook tampaknya masih lebih meyakinkan, ya? Tapi tunggu sebentar–apakah mereka menggunakan Facebook memang untuk mengorganisasi demonstrasi, dengan adanya hubungan timbal-balik?

Aktivitas Pengguna Facebook Mesir

Lebih banyak mengandalkan traditional media

Data ini diambil dari survei selama protes berlangsung (Januari-Maret 2011) Rupanya, 56% pengguna Facebook Mesir tidak berpartisipasi dalam diskusi terkait revolusi, dan 68% bahkan tidak memonitor berita dari Facebook sama sekali. Mereka justru mendapatkan informasi dan berita dari media massa tradisional seperti Al-Jazeera.

Lalu bagaimana kabar dan strategi protes diorganisasi? Tampaknya, masjid dan pertemuan secara langsung masih menjadi cara yang paling efektif. :?

:?

Jadi, mungkinkah media sosial menopang demonstrasi dan revolusi? Jawaban dari Mesir, mungkin revolusi media sosial belum dapat terwujud.

Oke lah–barangkali bila infrastruktur masih kurang memadai, atau penetrasi internet masih kurang tinggi, seperti kasus di Mesir 2011 atau Iran 2009, agaknya sulit untuk mengandalkan media sosial sebagai pendorong protes. Lagipula, esensi dari demonstrasi justru terletak di proses komunikasinya.

Tapi bagaimana dengan negara yang memiliki basis pengguna internet yang kuat; seperti, Cina, misalnya?

Tentang Demonstrasi, Media Sosial, dan Strong-Tie

Salah satu contoh klasik yang sering diungkit dalam menyoroti keberhasilan media sosial dalam perubahan politik barangkali adalah keberhasilan kampanye Barack Obama pada tahun 2008. Bayangkan, kampanye yang berbasiskan pada internet itu mampu membuat generasi muda Amerika Serikat yang apatis politik selama bertahun-tahun untuk mengikuti pemilu presiden pada tahun itu. Contoh klasik lain adalah penggalangan dana pada kasus gempa Haiti di tahun 2010.

Dua keberhasilan cerita aktivisme media sosial itu kemudian sering dikait-kaitkan dengan cerita revolusi. Dalam konteks ini, cerita Revolusi Mesir 2011. Tapi, ada beberapa permasalahan kenapa contoh tersebut sangat tidak relevan dengan kondisi Mesir pada 2011.

Yang harus dicatat: kampanye Obama dan penggalan dana Haiti bukanlah sebuah protes politik/demonstrasi.

Adalah Clay Shirky yang mengamati bahwa media sosial mampu membangun civil society yang kuat dengan adanya komunikasi yang intens di antara penggunanya. Menurut Shirky, media sosial bukanlah pengganti gerakan di dunia nyata, tapi adalah cara untuk mengoordinasi gerakan di dunia nyata. Pernyataan Shirky ada benarnya, namun pengaplikasian media sosial untuk “mengoordinasi gerakan” ini yang kemudian punya penerapan yang berbeda-beda.

Koordinasi pada kampanye Obama dan penggalangan dana Haiti bisa cukup berhasil melalui media sosial karena mereka bukanlah sebuah demonstrasi. Mengapa demonstrasi tidak bisa mengandalkan koordinasi melalui media sosial adalah karena satu hal yang disoroti oleh Malcolm Gladwell: demonstrasi adalah aktivisme dengan tingkat resiko tinggi. Dan aktivisme dengan tingkat resiko tinggi membutuhkan ikatan yang kuat di antara pesertanya.

Tidak seperti penggalangan dana atau berpartisipasi dalam pemilu di negara yang demokratis, demonstrasi di rezim otoriter seperti Mesir–atau Cina–punya resiko yang lebih tinggi: resiko kehilangan nyawa.

Kontras?

Dua hal yang sangat berbeda, bukan?

Menurut Malcolm Gladwell, menggalang peserta protes melalui media sosial from the ground up tidak akan cukup. Faktor terbesarnya adalah karena tidak adanya ikatan yang kuat (strong-tie) di antara satu pengguna media sosial dengan pengguna yang lainnya. Karena pengguna media sosial, dalam bahasa Wael Ghonim yang tampak semangat dengan ide Revolusi 2.0-nya, tidak benar-benar saling mengenal. Dalam artian Gladwell, ikatan di media sosial–di internet–adalah ikatan yang lemah, dan tidak cukup untuk membuat sebuah demonstrasi.

Faktor yang membuat ikatan di internet tergolong weak-tie menurut Gladwell adalah karena tidak adanya interaksi secara fisik. Dalam artian, individu yang dikenal melalui internet tidak hidup di rumah yang sama, tidak tinggal di kamar asrama yang sama, tidak sekolah di tempat yang sama, dst.–tidak seperti individu dengan strong-tie seperti anggota keluarga atau sahabat kampus. Jadi teman sekolah yang aktif di internet tidak terhitung dalam kasus ini.

Gladwell mengilustrasikannya dengan mengangkat demonstrasi di Greensboro, North Carolina, pada tahun 1960-an. Demonstrasi yang berawal dari sit-in empat sahabat berkulit hitam yang tinggal di satu asrama yang sama, berkembang menjadi protes besar-besaran terhadap diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam. Ketika ditelusuri, setiap peserta demonstrasi tersebut ternyata punya ikatan kuat antara satu dengan yang lainnya–ada yang punya sahabat yang ikut demonstrasi, lalu sahabat tersebut mengajak anggota keluarganya, lalu anggota keluarganya itu mengajak temannya lagi, dan seterusnya.

Jadi, dalam hipotesis Gladwell, bila misalnya saya mengajak follower Twitter saya–yang hanya dikenal melalui internet dan tidak pernah bertemu–untuk berdemonstrasi menentang rezim otoriter, maka kemungkinan besar tidak akan berhasil. Karena, weak-tie.

Gladwell memang menyoroti bahwa weak-tie dalam internet punya keunggulannya tersendiri. Misalnya, mengambil contoh dari studi Mark Granovetter, weak-tie bisa dipakai dalam mencari pekerjaan. Gladwell juga mencontohkan bahwa weak-tie dalam internet juga bisa mendorong individu untuk menyumbangkan sumsum tulang. Weak-tie unggul dalam narasi informasi. Maka apabila pak Yuswo Hady menyoroti faktor E = wMC2, nampaknya itu hanya berhasil sebagai penyebar informasi saja, namun tidak serta-merta membuat individu mau turun ke jalan.

To do or to tweet...

To do or to tweet...

Hipotesis Gladwell didukung oleh penelitian dari Gilbert dan Kalaharios (2009) dan Marsden dan Campbell (1984). Bahwasanya, dalam salah satu indikator penentu kedekatan ikatan (menentukan weak-tie atau strong-tie), faktor bertemu secara langsung, atau kedekatan secara fisik, memang menjadi salah satu variabel penentu.

Hipotesis Gladwell juga didukung oleh teori rational choice dalam protes politik yang digagas Karl-Dieter Opp.

Menurut Opp, sewajarnya seorang individu tidak akan mengikuti demonstrasi karena adanya free-rider dilemma: “apabila saya bisa mengambil keuntungan dari hasil demonstrasi, kenapa saya harus ikut?” Dalam pandangan tradisional, dilemma ini bisa dijawab melalui adanya insentif; bila ada imbalan yang lebih besar dari pengorbanan yang harus dilakukan, maka individu akan tetap berpartisipasi. Misalnya, uang atau insuransi jiwa.

Opp mengembangkan gagasan ini dengan juga memasukkan faktor yang lebih abstrak: yaitu jaringan pertemanan. Seorang individu akan ikut berpartisipasi dalam sebuah demonstrasi bila ada temannya–seorang dengan ikatan yang kuat (strong-tie)–yang juga ikut berpartisipasi. Dalam perspektif ini, sebuah high-risk activism bisa dipandang menjadi lebih rendah karena adanya keterlibatan seseorang dengan strong-tie.

Penutup

Akhirnya tulisan ini selesai juga ya? Saya juga tidak menduga ternyata pada akhirnya tetap jadi cukup panjang. :P

Media sosial sejauh ini menunjukkan, bahwa prosesnya masih terbatas sebagai sarana narasi informasi. Gagasan Gladwell tentang lemahnya media sosial dalam membentuk demonstrasi barangkali bisa dimaknai sebagai pengingat bahwa sebuah aksi massa tidak akan terbentuk tanpa adanya tindakan nyata secara offline–suatu hal yang selalu diwanti-wanti oleh mas So Hakim akan kelemahan media sosial: bisa membawa “aktivis internet” terjerembab dalam jurang slacktivism, di mana aktivisme dimaknai hanya dari jempol “like” Facebook atau “retweet” Twitter.

Besarnya akses terhadap informasi tidak melulu akan menopang kemungkinan dilancarkannya aksi kolektif bila tidak memiliki pondasi yang kuat. Bagaimana pun, sejarah gerakan sosial dalam satu abad terakhir masih membutuhkan jaringan dan ikatan sosial yang kuat di antara pesertanya. Di Mesir pun, jalur tradisional seperti ceramah pasca-sholat Jum’at justru lebih efektif.

Saya bukannya mau bilang media sosial tidak ada gunanya sama sekali–bukan begitu. Toh kita sudah melihat efektivitasnya pada kampanye Obama, pada Koin untuk Prita, pada penggalangan dana Haiti–apabila memang ada kombinasi yang efektif antara informasi dan gerakan sungguhan.

Narasi informasi yang tersebar dari media sosial mungkin bisa mendorong terciptanya demonstrasi; namun untuk mengorganisasi unknown people dengan gaya Wikipedia seperti yang dibilang Wael Ghonim? Mungkin belum.

.

.

Versi lengkap tulisan ini dimuat dalam seminar “International Conference on Social Media Cultures 2011″, dengan judul “Reconsidering Social Media Activism: Organizing Movements or Speading Ideas?”

Gambar dari: The Big Picture, akun Twitter @LatefaaM, situs Basuki T. Purnama, One Man’s Blog, Green Eggs and Fish, dan data olahan sendiri dalam seminar ICMSCM.

Referensi (non-internet):

Aday, Sean; Farrell, Henry; Lynch, Marc; Sides, John; Kelly, John; and Zuckerman,Ethan. “Blogs and Bullets: New Media in Contentious Politics”, in US Institute of Peace (2010).

eMarketing Egypt, “Facebook in Egypt”, in Online Competitive Intelligence Report, 2ndEdition (August, 2011).

Gilbert, Eric, and Karahalios, Karrie. “Predicting Tie Strength With Social Media”, inCHI 2009 (April 2009).

Lohmann, Susanne. “Why Did East Germans Rebel?” in The Independent Review, Vol.II, No. 2 (Fall 1997).

Lynch, Marc. “After Egypt: The Limits and Promise of Online Challenges to the Authoritarian Arab State”, in Perspectives on Politics, Vol.9, No.2 (June 2011).

Marsden, Peter V., and Campbell, Karen E. “Measuring Tie Strength” in Social Forces(1984).

Opp, Karl-Dieter. Theories of Political Protest and Social Movements (Hachette: Little,Brown, 1966).

Opp, Karl-Dieter. “Collective Political Action”, in Analyse & Kritik (2001).

12 thoughts on “Revolusi Media Sosial dan Angan-angan Perubahan

  1. Berhubung sudah terlalu panjang untuk jadi tulisan, maka saya jadikan komentar saja.

    Meski Gladwell menyoroti faktor weak-tie dalam internet, bukan berarti saya–yang notabene bergerak di internet sebagai blogger dan admin forum–melihat relasi individu di antara kawan-kawan blogger dan forumer ini sebagai weak-tie! Rasanya akan kontradiktif sekali, bukan. :-?

    Faktor penentu weak-tie/strong-tie ini lebih banyak ditentukan pada intensitas interaksi, dan yang paling disoroti pada penelitian di atas, adanya kontak secara fisik (gathering, kopi darat), dsb. Maka bukan tidak mungkin yang tadinya weak-tie bisa menjadi strong-tie setelah melalui beberapa proses.

    Yang mau disebutkan Gladwell mungkin kasusnya lebih menyerupai relasi antara Following-Follower di Twitter: di mana fokusnya bukan pada personal, tapi lebih ke informasi yang disebarkan.

  2. Hal yang saya rasa penting disini adalah akurasi informasi. Pada peristiwa2 yang melibatkan kerumunan massa dan real time, berita bisa berkembang sangat cepat tanpa diverifikasi terlebih dahulu. Yang lihat langsung, yang cuma dengar2, yang cuma re-twit, dan yang memanfaatkan kesempatan semua campur jadi satu. Contoh yang gampang dan masih hangat adalah kerusuhan kecil di Ambon bulan lalu. Berita menyebar cepat dan simpang siur di twitter hingga akhirnya kawan2 harus mengingatkan supaya hanya percaya pada teman2 yang memang berposisi di Ambon.

    Saya sepakat kalo media sosial memegang peranan dalam peristiwa2 sosial, tapi pastinya bukan yang paling berperan. Ada faktor dan variabel lain juga.

    CMIIW. :)

  3. Iya, mas. :D

    Difusi informasi itu juga salah satu hal yang sempat terjadi di Iran 2 tahun lalu. Setelah kabar protesnya merebak ke luar negeri, pengguna-pengguna Twitter di luar Iran langsung mengganti setting lokasi di akunnya menjadi di Iran dan ikutan twitting.

    Maksudnya sih supaya membuat pemerintah Iran tidak bisa melacak akun mana yang betulan jadi demonstran di Iran, tapi implikasinya malah menyulitkan pendataan di kemudian hari mengenai berapa jumlah pengguna Twitter Iran sebelumnya (untungnya Sysomos bisa dapat laporan yang akurat). Tapi kalau mempertimbangkan data dari Sysomos itu, tampaknya usaha orang-orang luar Iran ini tidak seefektif itu… :-?

  4. Ceritanya saya mau berkomentar setelah membaca ini… tetapi karena saya sudah telat (gara-gara baca ini >:( ) jadi ditunda dulu, setor reminder aja di sini :D Singkat kata, still as good as ever, sire…

  5. Oke, sekarang untuk komentar sebenarnya. Saya juga jadi terpikir tentang alasan gerakan online seperti Koin untuk Prita mampu menjangkau banyak khalayak dan mendorong orang untuk makin menyebarluaskannya. Ini juga sepertinya kelebihan yang dimiliki gerakan online, berbagi informasi menjadi sangat mudah (sekarang bahkan cukup tekan ikon F atau t itu) dan bila dilihat dari jumlah orang yang bisa dijangkau dengan usaha relatif kecil memang lebih efektif ketimbang… Hmm, sebut saja makhluk-makhluk berbaju hijau yang mendatangi orang yang keluar-masuk kampus satu-satu untuk mempromosikan *uhuk* organisasinya. Basically, a harmless and easy way for people to spread good things.

    Kalau tentang mengapa ini tidak relevan dengan revolusi di bawah rezim opresif, yaa itu kan sudah dipaparkan di sini dengan baik :D

    Dan terakhir… Saya jadi kangen blogging, dan… dapat referensinya dari mana sih? ]:

  6. Pertama-tama, dan paling utama: you harusnya lebih sering nulis seperti ini. :P Hard data with citation is teh goodness. :mrgreen:

    BTW, terkait isi tulisan…

    Sejujurnya, saya selalu merasa kurang nyaman dengan Gladwell memandang rendah socmed. Don’t get me wrong, I myself feel “twitter-power” is exaggerated.. Problemnya di sini adalah Gladwell terlalu dismissive. Dia seperti terjebak antara dikotomi: jika bukan “strong ties”, maka “weak ties”.

    Masalahnya adalah bahwa socmed gak bisa segampang itu dikelompokkan “strong ties” atau “weak ties”. Memang socmed lemah secara kualitas interaksi, tetapi, hal itu digantikan oleh nilai plus lain: jangkauan global, kecepatan komunikasi, citizen multimedia, dan longevity of relationship.

    Mengenai yang terakhir: kenalan internet itu gak seintens IRL, tetapi, putusnya juga gak segampang IRL. Heck, even I’ve known you since 2007, and we’re still friends! :P

    Kurangnya Gladwell adalah dia tidak mempertimbangkan socmed sebagai “jembatan”, meng-augmentasi gaya protes tradisional dengan elemen modern. Tanpa koordinasi lewat socmed #IranElection gak akan terliput media Barat. Dan Koin Prita enggak bakal sukses sampai segitunya. ^^

    /my 0.02

    sebuah aksi massa tidak akan terbentuk tanpa adanya tindakan nyata secara offline–suatu hal yang selalu diwanti-wanti oleh mas So Hakim akan kelemahan media sosial: bisa membawa “aktivis internet” terjerembab dalam jurang slacktivism, di mana aktivisme dimaknai hanya dari jempol “like” Facebook atau “retweet” Twitter.

    Or, as The Washington Post says it: couch rebel. ;)

  7. @AMNDK
    Yup! Twitter, Facebook; memang efektif untuk menarasikan informasi. Orang bisa tahu keberadaan di negara lain thanks to soc-net–bahkan saya pun sempat memantau heboh-heboh di Mesir via soc-net. Nah, tapi untuk menggerakkan orang ke dalam demonstrasi? Belum tentu.

    Sebetulnya kalo mau melanjutkan dari gagasan Karl-Dieter Opp, beliau juga menjelaskan kalau pada dasarnya individu tergerak untuk mengikuti sebuah protes politik karena adanya persepsi bahwa kesertaannya itu penting. Mungkin semacam every man counts–tanpa kehadiran seorang pun, sebuah gerakan tak akan ada.

    Nah, dengan adanya online activism ini, kecondongannya berubah: alih-alih tergerak untuk mengikuti sebuah protes, yang ada malah tergerak untuk bantu retweet atau nge-like Facebook! Kalau masih ada wujud riilnya mending; lha ini kadang berhenti cuma sampai di situ. :? Ini yang dikhawatirkan sebagai “slacktivism”.


    @sora9n:
    AFAIK, konsep strong-tie dan weak-tie itu memang dikotomis seperti itu, mas So. Konsep interpersonal tie memang cuma membedakan sebuah ikatan antara yang “lemah” dan yang “kuat”. Mungkin kesannya biner sekali, tapi kalau dibuat kuantitatif, akan lebih jelas. Misalnya seperti di penelitian Gilbert dan Kalaharios, mereka menentukan ikatan antara pengguna Facebook dari angka 0 sampai 1. Di antara angka-angka itu ada yang 0,3; 0,51; 0, 732; sampai 1. Yang di atas 0,5 termasuk “strong-tie” dan yang di bawah 0,5 termasuk “weak-tie.

    Jadi sebetulnya nggak sebiner itu–ada yang disebut “weak-tie” tapi nggak mudah putus; dan ada yang disebut “strong-tie” tapi mungkin nggak deket-deket banget. :D

    Indikatornya umumnya dari intensitas interaksi, durasi relasi, dan afeksi satu sama lain. Dalam konteks social-media, faktor “bertemu secara fisik” juga masuk hitungan. Kadang informasi yang di-share antara individu juga termasuk–anggapannya, individu2 dengan weak-tie punya kecenderungan informasi yang lebih berbeda ketimbang yang strong-tie, karena bergaul pada circle yang berbeda. Maka dari itu pada studinya di 1970-an Mark Granovetter mengungkapkan weak-tie lebih menguntungkan untuk mencari kerja. :D

    Or, as The Washington Post says it: couch rebel. ;)

    Yup :mrgreen:

    Pertama-tama, dan paling utama: you harusnya lebih sering nulis seperti ini. :P Hard data with citation is teh goodness. :mrgreen:

    Buahaha :mrgreen: Rencananya memang mau mengubah jalur jadi seperti ini ke depannya mas So, semoga saja tidak terlanjur malas di jalan lancar! :mrgreen:

  8. @ Xaliber

    Mungkin kesannya biner sekali, tapi kalau dibuat kuantitatif, akan lebih jelas. Misalnya seperti di penelitian Gilbert dan Kalaharios, mereka menentukan ikatan antara pengguna Facebook dari angka 0 sampai 1. Di antara angka-angka itu ada yang 0,3; 0,51; 0, 732; sampai 1. Yang di atas 0,5 termasuk “strong-tie” dan yang di bawah 0,5 termasuk “weak-tie.

    Well, yes, tapi maksud saya…

    Dalam artikel New Yorker, Gladwell seolah mengimplikasikan “komunikasi IRL = strong tie”, “internet = weak tie” secara rigid. Betapapun sebuah aktivitas internet terjadi tak mungkin bisa jadi strong tie. Padahal garis batasnya tidak sekaku itu.

    Pertama, metode kuantifikasi Granovetter (yang beliau jadikan alasan utama) tidak otomatis menyatakan komunikasi internet = weak tie. Dari papernya:

    . . . the strength of a tie is a (probably linear) combination of the amount of time, the emotional intensity, the intimacy (mutual confiding), and the reciprocal services which characterize the tie. (Granovetter 1973)

    Benar bahwa kelemahan socmed itu di amount of time. Akan tetapi, socmed bisa mengemulasikan tiga variabel lainnya dengan baik. :) (bandingkan dgn Tabel 1 di Gilbert & Karahalios)

    Kedua, penelitian oleh Gilbert/Karahalios tidak menafikan hubungan online mencapai strength cukup besar. Malah ada juga yang sampai 0.9 dan 1. (Figure 4)

    Dan ketiga, sebagaimana masbro sebut di komen paling atas: suatu weak tie bisa jadi strong tie melalui beberapa proses. (e.g. lewat kopdar, intensitas komen, dsb).

    * * *

    Nah, itu dia yang bikin saya agak berseberangan dengan Gladwell. Sebab terkesan beliau begitu dismissive — sementara situasi sebenarnya agak lebih kompleks.

    Bahwa “Twitter untuk Revolusi” itu rada hiperbola, saya setuju. Tetapi kalau sekaku Gladwell… sepertinya kok ada yang salah. ^^;; There is this feeling that he kind of lacks scientific rigor. :-?

    *IMHO, CMIIW*

  9. Oh, baru ngeh saya. :D

    Saya sendiri menangkap pemaparan Gladwell itu lebih ke arah kritik terhadap aktivisme yang betul-betul internet-based–seluruh kegiatan dan organisasi revolusi terjadi di dalam ranah internet media sosial (Facebook atau Twitter). Dari orang-orang yang tidak dikenal, belum pernah bertemu; lalu mengetahui tentang We Are All Khaleed Said dan berkumpul menjadi satu, membentuk demonstrasi kemarin. Mungkin ibarat gerakan donasi sumsum tulang (yang sebagian besar memang diorganisasi di internet), tapi “versi protes politik”. :P Dalam bahasanya Morozov yang disebut “internet utopian”.

    There is this feeling that he kind of lacks scientific rigor. :?

    Bisa jadi. :? :P

    Malah kalau baca-baca pendapat beberapa “pengamatnya”, Gladwell sengaja memicu kontroversi seperti yang pernah dilakukan sebelumnya (meskipun tidak disebutkan–dan saya juga kurang tahu–“sebelumnya” ini maksudnya seperti apa).

    Karena itu sebetulnya tadinya saya mau mengangkat Gladwell hanya sebagai pengantar. Tapi ternyata jadinya malah agak lain. :? Pikir saya memang media sosial bisa jadi pemicu, tapi tidak bisa jadi wadah pengorganisasian tanpa adanya keterikatan secara langsung antar individu yang terlibat.

  10. Gladwell sama dengan Jurgen Habermas yang melihat “massa” (member/keanggotaan bersama) belum mencerminkan massa yang terintegrasi seperti dalam hubungan offine. Habermas mengatakan blogger terjebak ke dalam fragmentasi, terisolasi dan tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Padangan-pandangan semacam itu belum tentu benar. gerakan offline juga gak terlepas dari problem fragmentasi. jadi beban seperti hubungan sosial di internet kurang kuat (lemah) tidak harus dibebankan pada aktivis daring. dalam gerakan sosial online tidak sepenuhnya membutuhkan ikatan sosial face to face yang kuat, tetapi yang lebih penting adalah “jejaring sosial membuat massa tidak terpisah”

  11. Ping-balik: Demokrasi Online | Eka Saputra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s