Balada [Mencoba] Blogging Kembali

Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah menulis materi baru lagi di blog. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal satire PKS atau jenggot teori Darwin). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs microblogging macam Plurk dan Twitter.

Februari kemarin sempat coba menulis lagi, tapi gagal di tengah jalan. Cuma satu entri dihasilkan (sebenarnya dua, dengan satu disclaimer); blogwalking pun tiada dijalankan. Padahal tidak afdhol itu blogging kalau tidak blogwalking; ibaratnya cuma meracau di kamar sendiri saja.

Pasalnya, [mencoba] blogging lagi setelah vakum berbulan-bulan itu ternyata, bagi saya, memang sulit. Terutama karena saya melanjutkan blog lama.


.

Kategorisasi yang Ngawur

Ini kesulitan pertama saya. Sebelum mulai menulis, saya mesti mengira-ngira dulu, kira-kira ini tulisannya cocok masuk di kategori mana. Jadilah, karena lama tak membuka ini blog, saya cek dulu satu per satu kategori yang ada. Melalui entri-entri lama yang sudah karatan.

Eh walhasil, ditemukan ternyata saya dulu itu ngawur mengategorikan entrinya. Masa tulisan curhat yang sebetulnya ditujukan ke ‘seseorang’ saja masuk kategori “sosial”? Kalau dikilas balik, nampaknya ini gara-gara saya sendiri, yang asal-cantum kategori berdasarkan mood. Berbau “sosial” dikit, contreng. Berbau budaya dikit, contreng. Akhirnya jadi amburadul.

Maka dari itulah saya jadi menghabiskan waktu menyortir ulang entri-entri yang kategorinya berantakan ini, plus renaming supaya sesuai konteks. Lucunya, seperti yang sempat dibilang mas sora, rupanya sebagian besar entri yang dulu saya tulis masuk ke kategori Ramblings (sekarang Person-al). :lol: Tak heran kalau akhirnya saya jadi kehabisan materi buat blogging, wong sebagian besar sudah terpuaskan di racauan microblog.

Bahkan, jujur saja, tadinya tulisan ini cuma mau saya jadikan racauan di Plurk. :P

.

Cara Tulis a la Microblog

Entah, mungkin karena memang terlalu lama berkutat di dunia itu–microblog–tanpa mengimbangi dengan kebiasaan menulis panjang (kecuali makalah dan paper untuk tugas, serta esai-esai lain, yang, anehnya, justru bisa saya tulis dengan lancar). Akhirnya, ketika mesti menulis “normal” lagi untuk blog, saya justru kagok.

Begitu membuka microblog seperti Plurk, misalnya, yang saya pikirkan adalah bagaimana menyampaikan pesan yang panjang dalam bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Gara-gara masalah pembatasan karakter/jumlah huruf (sekitar 140 karakter, maksimal), yang saya usahakan adalah memotong kata-kata yang tidak perlu, supaya ringkas. Kalau ternyata setelah dipotong masih tembus juga, terpaksa memotong spasi dan membuat singkatan-singkatan.

Dan kalau ternyata masih tembus juga, apa boleh buat: #kultwit (kuliah twitter) atau kulplurk (kuliah plurk). Maksudnya ini adalah posting secara berantai, ibarat dosen memberi kuliah. Kultwit ini juga diusahakan untuk ditulis sesingkat-singkatnya. Dan akhirnya jadi terbawa-bawa kalau mau blogging. Seakan kehilangan kalimat-kalimat penjelas–terpaku pada kalimat inti saja.

Yang saya herankan, kalau tugas kuliah, atau esai-esai lain, atau roleplaying di forum roleplay (macam Gotei 13), cara menulis saya lancar-lancar saja. :?

.

Zaman Berubah: Cara Pandang Saya Juga Berubah, Tapi Blog…?

…tapi blog menetap. Tulisan-tulisan zaman purba masih tersimpan.

Ini dia masalah besarnya: saya melanjutkan blog lama yang masih dinistai pemikiran-pemikiran kacangan zaman SMA. :lol: Kalau dibaca-baca lagi cuma bisa mencoreng wajah dengan arang. Parahnya itu, kalau masih ada orang yang mengungkit-ungkit tulisan yang sudah saya anggap basi, atau saya anggap sudah tak sesuai dengan pemahaman saya yang sekarang.

Memang, sebetulnya solusinya mudah saja: pindah blog. Ini yang dilakukan beberapa Peleton 2007, seperti Kopral Geddoe dan mas sora. Atau mengkhususkan blog sesuai temanya, seperti Lemon S. Sile (di [sini] dan di [sini]). Tampilan baru, imej baru.

Tapi, itu juga sama sulitnya. Saya tak bisa itu meninggalkan blog yang bertahun-tahun dihidupi. Ibarat kekasih: sekali terpaut, terikatlah sudah. Saya pun juga tak sudi menghapus entri-entrinya.

Sebetulnya bisa saja dilindungi kata sandi, tapi akan repot kalau mau dilihat-lihat kembali (mungkin untuk alasan nostalgia, atau mencari bahan lawakan). Lagipula tidak bagus untuk alasan SEO. Terpikir juga untuk memasang pengumuman besar-besar soal disclaimer di tiap entri (bahwa entri ini sudah tidak relevan), tapi jelas bakal jauh lebih repot ketimbang sekedar mengurus kategori saja. Kalau ada fitur di WordPress.com (gratisan) untuk memasang yang seperti itu sih, bisa sangat membantu.

.

Akhir Kata

Yaa, memang ada tantangan-tantangan untuk memulai blog ini kembali. Tapi dari yang sudah-sudah, bagi saya paling sulit itu memang untuk memulai awalnya. Nanti kalau sudah enak ya asik sendiri. Walaupun, memang, jujur saja, saya agak buta dengan blogosphere sekarang, mengingat kebanyakan tampaknya sudah terakumulasi di Twitter–dengan beragam #kultwit-nya (termasuk saya, guilty as charged :P ).

Barangkali entri ini bakal jadi entri berkategori Person-al terakhir saya. Untuk selanjut-selanjutnya, mungkin perlu diupayakan bagi tulisan-tulisan yang lebih berisi. Yaa, kalau pun ada yang personal, yang agak berkualitas dikit lah. Racauan-racauan pribadi, curhat-curhat galau, barangkali ada baiknya kalau disimpan di media sosial yang lain saja (dan lebih bagus kalau curhat sama pacar :? *halah* ).

.

Demikian. Selamat berakhir bulan.

Semoga ini tidak sekedar jadi “cita-cita mulia” saya, karena dari yang sudah-sudah, selalu begitu :ninja: 

8 thoughts on “Balada [Mencoba] Blogging Kembali

  1. Gak usah pindah blog baru, xal. Disini saja. Blog itu juga sejarah hidup kita. Tidak usah malu melihat ke belakang, itu justru jadi pengingat bahwa selama ini kita terus belajar dan berkembang. Kalo ada pembaca yang tersesat ke jaman dahulu, terserah dia mau nyimpulkan apa. Toh teman2mu tahu siapa kamu sebenarnya. ;)

  2. Secara meskipun tulisan adalah cara berekspresi, ada kalanya ekspresi pun tidak untuk konsumsi ruang publik. Kayak gak mungkin juga ya joget-joget telanjang di tengah kota tanpa ditangkap FPI..

    Cobalah berhenti kultwit atau kulplurk. Kembali ngeblog *eh*

  3. @jensen99:
    Iya mas. :D Tapi saya merasa agak terganggu aja, dengan tulisan-tulisan yang memalukan macam itu. :P

    @maxbreaker:
    Ah, saya sih anak Politik jejadian, masbro. :mrgreen:

    @LSS:
    Sulit ya akh, sulit. Tapi sedang dicoba. :lol:

    @Aldiaz:
    Mungkin semacam itu. :P

    @lalangwaya:
    Sip, Zu :D

  4. Ping-balik: Selebrasi Diri « deathlock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s