Valentine dan Fatwa Basi yang Membosankan

Kemarin itu, seperti biasanya Google mengubah tampilan logonya di laman depan pencarian bila ada hari raya atau ada perayaan keberhasilan/kelahiran tokoh penting yang mencetak nama di sejarah. Karena kemarin itu tanggal 14 Februari, jadi tampilan yang diberikan adalah untuk selebrasi hari Valentine.

“Merah terang yang membutakan”
Skrinsyut dari Telegraph

.

Warnanya memang bikin sakit mata. Daripada menambah minus mata, jadilah saya coba klik saja logonya; sekedar penasaran seperti biasanya, hasil pencarian apa yang timbul kalau klik dari logo tersebut (Google selalu memberikan kata pencarian yang sesuai dengan tema yang diselebrasikan).

Dan ternyata lagu lama. Yang muncul macam-macamnya “Valentine menurut Islam”. Tentu saja lengkap dengan kutipan-kutipan yang mengharamkan. :lol: Saya kira topik macam ini sudah basi dari dua tahun lalu (dan warga Indonesia sudah jadi lebih cermat), tapi setelah pagi ini melihat catatan-catatan Fesbuk yang tagging-nya menyebar ke mana-mana, rupanya perkiraan saya salah total.

Valentine dan Sejarah yang Salah Persepsi

Tak perlu dibahas lagi lah menurut saya, seperti apa tulisan-tulisan yang mengharamkan hari Valentine itu. Anda bisa coba cari saja di Google Indonesia dengan kata kunci “hari Valentine”, pastilah muncul di hasil pencarian (ironisnya begitu).

Saya tidak menampik bila dikatakan pada zaman dahulu kala memang ada cerita mengenai tokoh Kristiani yang dikenal sebagai Santo Valentine; mati sebagai martir karena mempertahankan agamanya. Meskipun demikian identitas Santo Valentine ini tidak jelas; ada yang mengatakan bahwa ia adalah Valentine dari Roma, ada yang bilang dia Valentine dari Terni, ada pula yang mengatakan bahwa dia Valentine dari Afrika. Perkaranya, banyak orang yang disebut sebagai Santo Valentine.

Lantas dari kematian Santo Valentine itu, pada masa lalu beberapa orang memang mengenang tanggal 14 Februari sebagai hari kematian si martir, walaupun ini pun juga asal-usulnya tidak jelas. Ada banyak, beragam sumber yang mencantumkan kapan si Valentine ini wafat dirajam penguasa. Wajar bila menilik identitas Santo Valentine itu sendiri yang tidak jelas. Beda riwayat, jelas bakal beda tanggal lahir dan tanggal wafat.

Tapi, itu masa lalu.

Identifikasi 14 Februari sebagai hari Santo Valentine–yang sarat dengan atribut keagamaan–itu cuma umum dilakukan pada masa lalu. Tidak tanggung-tanggung, 1500 tahun lalu. Moyang kita masih seorang pelaut, kalau kata lagu. Di masa sekarang, kalau orang merayakan Valentine itu memangnya melakukan apa? Mengheningkan cipta? Menggumamkan doa-doa? Menyiram air suci? Jelas bukan.

Hari Valentine yang sekarang dikenal sebagai hari kasih sayang ialah identik dengan makan-makan coklat. Sejarah Valentine sebagai hari kasih sayang justru relatif baru. Jack Oruch, seorang sejarawan, menyatakan ini berasal dari Geoffrey Caucher, yang menulis puisi cinta dalam rangka peringatan pertunangan Raja Richard II dengan istrinya pada abad ke-14, tepat pada hari Valentine. Sumber lain menyebutkan ini berasal dari puisi yang ditulis Charles, Duke of Orleans, pada istrinya ketika Charles ditahan di menara, pada hari Valentine abad ke-15.

Baik pertunangan Raja Richard maupun surat Duke Charles, keduanya menggambarkan kisah cinta. Kisah cinta ini yang kemudian diriwayatkan sebagai “Hari Valentine” yang kita kenal sekarang, yang identik dengan kasih sayang–bukannya hari tentang wafatnya Santo Valentine. Jadi hari Valentine tidak lagi melihat riwayat dimartirkannya Santo Valentine, namun semata melihat peristiwa-peristiwa roman yang terjadi pada tanggal 14 Februari.

Tentunya terserah saja kalau mau mengiringi hari Valentine dengan atribut keagamaan (seperti doa Iman atau tilawatul Qur’an), tapi bukan itu yang ingin dikisahkan hari Valentine sebagai hari kasih sayang.

Seharusnya di sini Muslim bersikap lebih cermat dalam melihat posisi hari Valentine; dengan menyadari bahwa hari Valentine (seperti yang kita kenal sekarang) hanyalah sekedar cultural festivities alih-alih religious festivities.

Pembedanya sederhana saja: kalau religious, latarnya datang dari cerita yang ada dari teks suci agama tersebut dan umumnya dirayakan dengan sakral (ada ritus, ada doa-doa). Contohnya misalnya Hari Raya Paskah bagi Kristiani (kebangkitan Yesus) atau Idul Adha bagi Muslim (pengorbanan Ismail pada Ibrahim). Kalau cultural, ya tidak begitu. Datangnya dari kebiasaan-kebiasaan yang tak mesti diiringi dengan atribut keagamaan.

Cobalah lihat Valentine di Indonesia. Apakah memang dirayakan dengan pergi ke gereja? Dari riwayatnya yang sudah dijabarkan, mestinya Muslim paham bahwa yang diperingati tak berkaitan dengan kisah perjuangan relijius Santo Valentine itu sendiri.

Valentine Haram: Memang Betulan Basi

Kemarin ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan dobrakan. Alih-alih membicarakan perkara haramnya Valentine, MUI Yogya justru memfatwakan, “Valentine tidak haram“. Serius, tidak main-main. Hal ini kiranya juga diamini oleh MUI pusat yang memfatwakan suara serupa. Keduanya sepakat bahwa perayaan Valentine tidak haram, asalkan tidak diwarnai dengan maksiat. MUI pusat justru menambahkan, Valentine bisa mempererat silaturahmi antara Muslim.

Bila biasanya Muslim di Indonesia cenderung sekedar mengangguk setuju pada perkataan ulama, maka bagi saya ini pendobrakan. Mungkin perlu institusi sekaliber MUI untuk mengubah perspektif awam–dan bagi saya pendekatan yang digunakan MUI ini lebih masuk akal.

Alih-alih cuma berkutat pada riwayat masa lalunya, MUI melihat masa kini; apa yang orang biasa lakukan dalam rangka merayakan hari Valentine. Apakah hari Valentine dilatari oleh kisah Santo Valentine atau puisi Duke Charles itu bukan persoalan; yang penting apakah hari Valentine diisi dengan silaturahmi yang positif. Bila memang hari Valentine bisa mempererat hubungan, maka apa salahnya. Toh ini sudah menjadi kebiasaan yang dimaklumi.

Tulisan Sebelumnya
Tinggalkan Komentar

4 Komentar

  1. Salam damai n sejahtera xaliber, kami tertarik dengan posting anda. Bolehkah kami mengambil excerpt posting diatas ke ( http://pbn.me/?url=http://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/valentine-dan-fatwa-basi-yang-membosankan/&cat=love ) ? Credit dofollow link akan disertakan dengan anchor text “valentine dan fatwa basi yang membosankan” yang mengarah ke posting anda, terima kasih, salam kenal, sukses selalu.

  2. Boleh, silakan saja. :) Salam kenal juga.

  3. eh, tulisannya menarik :D sekte agama yang seperti itu cuma bisa memecah belah

  4. Sekte agama seperti apa? :?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 684 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: