“What doesn’t kill you simply makes you… stranger.”
~ Heath Ledger as The Joker (Batman: The Dark Knight)
.
Membuka awal tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan hal yang jarang ditemui di berbagai tulisan; bukan suatu hal yang spesial, menakjubkan, atau impresif. Ratusan, atau bahkan ribuan penulis lainnya mungkin sudah sering menggunakan cara ini untuk membuka paragraf awal tulisannya. Barangkali cara ini juga dimuat dalam tips and trick buku paket Bahasa Indonesia untuk SMA atau Panduan Cara Menulis yang Baik dan Benar.
Standar.
Tipikal.
Tapi toh orang-orang tetap menggunakannya.
Ada yang bisa menggunakannya dengan baik, sehingga kutipan itu jadi pembuka yang menyentuh bagi romantisme essay yang ditulisnya, ada juga yang menggunakannya dengan buruk sehingga membuat kutipan itu jadi tidak berharga dan cuma seperti tambalan bagi baju kusam yang sudah digerogoti kutu busuk.
Tentunya yang menentukan baik atau buruknya penggunaan itu berdasarkan standar saya. Atau standar Anda, yang membaca.
***
Secara teknis, blog di WordPress ini sudah dibuat sejak Juni 2006. Tapi saya telantarkan hingga setahun setelahnya, April 2007, karena sebelumnya saya sempat selingkuh dengan Blogspot.
Sudah kurang lebih tiga tahun saya menulis tanpa tujuan yang jelas. Menulis tulisan yang bisa dilacak di internet hingga WordPress.com bangkrut, tidak laku, atau Archive.org sudah tidak bisa menyimpan rekam jejak tingkah laku yang ditinggalkan manusia-manusia yang menjalin hubungan dengan internet. Hah, apa ini maksudnya saya mau pamer pengalaman blogging? Tentu tidak, karena tiga tahun itu bukan apa-apa dibandingkan bloger senior seperti mas Catshade, misalnya. Tiga tahun saya pun tidak sepenuhnya tiga tahun, masih bolong-bolong.
Ini cuma sekedar pengingat.
Pengingat kalau orang seperti saya itu masih terlalu labil, masih berusaha mencari sesuatu yang bisa “dipegang”. Orang-orang seperti saya ini belum bisa menciptakan sesuatu yang dianggap orisinil, tapi merasa sudah berbuat demikian–bah. Orang-orang yang seperti saya ini, masih belum bisa memenuhi tanggung jawab sepenuhnya. Introspeksi? Tidak bisa dianggap begitu kalau cuma merenung tapi tidak mengubah diri jadi lebih baik, kesannya sia-sia–tidak berguna. Tapi itu terserah Anda.
***
Ini tahun 2009. Ini sudah tahun 2009.
Kata orang, sebentar lagi kiamat. Tiga tahun lagi kiamat; beritanya begitu heboh sampai-sampai orang gemar menggambarkan akhir hidup mereka sampai diabadikan dengan film yang berjudul “tahun kiamat” itu sendiri.
Kata orang, “kiamat sudah dekat”. Kalau kata adik saya, “kok dari dulu kiamat sudah dekat melulu ya?”. Seharusnya, “kiamat makin dekat, bukan sudah dekat. Kalau dari dulu sudah dekat, kenapa nggak kiamat-kiamat?” Begitu katanya.
Kiamat atau bukan, ya itu bukan urusan saya. Tidak harus membuat saya jadi tobat juga. Masa tobat cuma dimotivasi karena kiamat, kok kesannya kasihan juga si Amat, dia datang malah bikin orang tobat ketakutan.
Halah.
Tapi paragraf barusan itu memang semi-serius. Kenapa orang cuma kembali ke agamanya masing-masing kalau sedang terancam kematian?
…
Yah, barangkali itu untuk kontemplasi lain kali saja. Saya tidak begitu tertarik membahas kiamat dan kematian, mau menentukan Tuhan itu seperti bagaimana saja sudah repot.
Setidaknya, secara pribadi, di tiga tahun menjelang gembar-gembor kiamat ini, saya mendapat pengalaman yang baru. Secara teknis, baru. Baru, tapi bukan berarti menyenangkan. Memang tiap hari orang mendapatkan hal yang baru–seharusnya, seimanen apa pun hari yang dialami orang itu. Karena itu ungkapan “sejarah berulang” itu agak omong kosong, karena sepersis apa pun “plot” dalam “sejarah yang berulang”, “tokoh”nya tidak mungkin persis sama.
Saya merangkul “pengalaman baru” yang, tidak seperti cerita menye-menye ABG labil yang suka didokumentasikan di jurnal pribadinya, tanpa sengaja tidak terekam dalam blog saya. Seperti yang sudah saya bilang, tidak biasanya hal itu tidak saya catat di blog ini seperti halnya berbagai katarsis yang sudah-sudah. Salahkanlah Plurk, bila memang perlu mengkambinghitamkan sesuatu. Pengalaman itu, di satu sisi, memang menyenangkan.
Tapi saya juga kehilangan berbagai hal. Berbagai ‘hal’ yang secara emosional terikat dengan saya. Yah, lebih dari ‘hal’, sebenarnya. Lebih dari sekedar ‘hal’.
***
“What doesn’t kill you simply makes you… stranger.”
Sebelum menutup karir hidupnya, Heath Ledger meninggalkan kesan. Kesan yang terupa dalam wujud film: The Dark Knight, populer pada akhir tahun 2008. Kutipan itu adalah yang diucapkan oleh The Joker, tokoh yang ia perankan, merupakan alter dari kutipan Friedrich Nietzsche.
Tahun ini, ada berbagai hal yang memang tidak membunuh saya, dan barangkali membuat saya jadi terlihat lebih aneh. Lebih sinis, lebih blak-blak-an? Seperti misalnya dengan mengatakan tidak ada alasan untuk jadi cengeng dan menye bertahun-tahun hanya karena permasalahan cinta antar pasangan lain jenis/sesama jenis.
Atau barangkali jadi terlihat lebih banyak membual?
Seperti halnya entri ini. Bukannya mengkomemorasi hari ini dengan sebaris kalimat sederhana saja, atau sebuah gambar kue — kwetiau sih harusnya — sebagai peringatan, saya justru menghadirkan omong-kosong panjang lebar seperti ini. Siapa pula yang mau baca? Sebagian orang mungkin akan memilih untuk melompati bacaan tidak berguna ini dan melompat ke kolom komentar. Atau justru langsung menutup halaman yang sedang ia baca dan membuka bacaan lain yang lebih bermanfaat.
Tapi, yah, kekonyolan semacam ini yang membuat saya masih terus menulis omong-kosong tak bermakna ini. Kekonyolan untuk memperingati hari ini. Tanggal 16 November.
Untuk ditertawakan tahun berikutnya. Ditertawakan sambil bertanya-tanya dalam hati, “kenapa saya gemar sekali membuat onggokan omong-kosong seperti ini?”
Yah, seperti halnya sekarang saya menertawakan entri setahun dan dua tahun yang lalu.
***
Tahun ini mungkin awal tahun saya bertambah tua dengan lebih hampa daripada sebelumnya. Dan pastinya begitu pula tahun-tahun berikutnya. Makin lama makin hampa, hingga akhirnya saya harus menutup umur saya dengan hampa pula. Entah kapan tanggal pastinya.
Karena tahun ini merupakan pertanda bahwa saya sepenuhnya diakui sebagai suatu individu, maka tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu lagi dalam ulang tahun berikutnya. Perayaan-perayaan berikutnya hanyalah penanda, pengingat bahwa akhir hidup saya semakin dekat. Bahwa saya semakin mendekati liang lahat.
Dan sejauh ini tidak ada yang bisa saya hasilkan. Seorang Severn Suzuki, pada umur 12 tahun, bisa membuat para anggota PBB terdiam begitu mendengar pidatonya. Itu terjadi 19 tahun yang lalu. Sementara saya, di umur yang sudah setua ini, bahkan tak bisa membuat Pak RT di rumah sebelah bertepuk tangan. Ya tentu saja karena saya memang jarang bermain ke rumah Pak RT, kecuali beberapa tahun silam ketika ayah masih bisa mengemban tugas sebagai Pak RT.
Heheh, tentunya ini bukan bicara tentang saya yang butuh motivasi atau hiburan — tidak, hanya saja, lucu bisa mencela diri sendiri yang memang tidak pernah sempurna. Dan bila ini diteruskan, barangkali bisa tidak ada habisnya.
Hidup memang menyulitkan, merepotkan.
As for that, enjoy it while it lasts.
Saya pun harus tunduk pada ungkapan di atas, untuk menikmati hidup selama masih bisa hidup. Meskipun sedetik napas berikutnya berarti selangkah maju ke depan mendekat ke akhir hayat.
…
Selamat malam.
Terima kasih sudah membaca.
Dan, seperti tahun lalu, sebuah emoticon senyum yang biasa digunakan orang entah untuk berbasa-basi atau memang senyum tulus yang tersungging ketika menulis akhir paragraf, kembali saya gunakan pada akhir tulisan ini.



It’s another bullshit, yes. I wonder I never stop writing such useless post.
Terkadang saya juga berpikir, sudah hidup puluhan tahun tetapi belum menghasilkan apa-apa *curcol*
Met Ulang Tahun ya, Xal, & turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya…
Selamat ultah Xaliber..
Tidak ah, tulisan ini tidak terkesan pointless. Bahkan novel pun bisa dikategorikan pointless, namun karena ditulis dengan penulisan/literasi yang bagus, itu semua bisa tertutupi.
Bisa terlihat perbedaan antara orang yang berjam terbang menulis tinggi menuangkan tulisan sepanjang 5 halaman dengan orang yang berjam terbang menulis rendah menuangkan tulisan dalam kuantitas yang sama. Terlihat jelas perbedaannya. Suatu saat, melihat ke masa lalu akan tulisan kita akan menimbulkan tawa, namun rasa bangga akan selalu muncul dan tak pernah hilang.
Dan setidaknya, saya berhasil me-skimming tulisan diatas dan memberi komentar. Bravo. Orang dengan latar belakang akademis sosial dan kemampuan teknis informatika, atau setidaknya mempunyai hobi yang sejalan dengan teknologi informasi merupakan perpaduan yang cukup indah. Kemampuan erpikir kritis, kemampuan berbahasa, dan logika matematika yang terpadu dalam humble-itas.
Dan tentunya, di akhir tulisan comment saya ini, ditambahkan icon senyum. Tidak semata-mata karena banyak ABG menggunakannya. Namun lebih kepada bahwa perasaan emosi manusia sulit untuk terkirimkan kepada pembaca dalam bentuk non-verbal. Juga untuk membuat jarak toleransi atas sarkasme yang kita buat menjadi lebih lebar.
Yeah! It’s another Bullshit! Agreed
) Tapi kalo disajikan masih hangat sih tidak apa-apa. Asal tidak dingin.
Paragraf terakhir sebelum selamat malam.. sebelum ke mari saya dimarahi kemudian berpikir emang hidup buat apa kalo bukan untuk dinikmati. kalo ngga bisa dinikmati kenapa disuru idup.
Heath Ledger as The Joker