Kerak Terol

Alkisah, pada bulan September lalu, karena melempar komentar pada entri yang ditulis oleh seorang kawan, blog saya sempat dikunjungi sesosok troll. Sebenarnya bukan hanya saya, tapi juga bloger lain yang kebetulan juga menjadi teman segenggongblognya.

Troll ini cukup rajin, dan tampaknya cukup berkelas jika dibandingkan troll yang ramai berkeliling waktu itu. Tulisannya dibalut dengan kapitalisasi dan pungtuasi yang rapi, bahasanya juga bukan bahasa kelas cecunguk yang berkata seenak mulutnya mereka. Tapi, namanya juga troll; mau bagaimana rapi pun penulisannya, isi komentarnya ya tidak jauh-jauh dari isi komentar yang bisa diberikan oleh troll.

Bedanya, yang patut diberi nilai positif dari troll ini adalah ia berani menggunakan nama asli — lebih-lebih, nama lengkap pula! :o Apakah untuk menunjukkan besar ketidakmaluannya dalam berkomentar (mengingat pada saat itu banyak troll yang muncul dengan nama samaran) atau ada alasan lainnya, saya tidak tahu. Ya marilah berpikir positif saja.

Syahdan, dengan didatangi komentator dengan rupa-rupa demikian, maka langsung lah saya membuka mesin pencari. Memang sudah jadi kebiasaan saya untuk melacak orang-orang yang suka mengeluarkan komentar panas; kalau-kalau ternyata dia punya blog atau halaman pribadi sendiri, setidaknya saya bisa tahu seperti bagaimana pola pikirnya. Apalagi yang ini pakai nama asli. Mestinya lebih mudah.

Dengan bekal mesin pencari maha sakti serta nama lengkap dari si troll, tadinya saya kira saya akan menemukan beberapa halaman yang akan menyibak identitas si pembuat masalah. Tak dinyana, ternyata dugaan saya salah besar.

Si troll ini rupanya kurang populer.

Selain halaman yang tertaut ke WordPress.com, hanya satu hasil pencarian yang menunjukkan halaman lain. Tampaknya seperti sebuah majalah online. Atau semacamnya. Disitu terpampang nama yang bersangkutan (sebutlah, N.A.D.) sebagai pembuat desain kover. Selain dua hal itu, tidak ada lagi hasil pencarian yang menunjukkan identitas yang bersangkutan. Beberapa variasi pencarian sudah dicoba, tapi hasilnya tetap nihil.

Ya sudahlah, saya pun menyerah. Barangkali memang bukan rezeki saya untuk mengenal lebih lanjut rupa-rupa makhluk ini. Nama itu pun terlupakan… dan tergantikan dengan troll-troll pasaran lainnya yang selalu menggunakan nama samaran.

Hari demi hari pun berganti…

Musim demi musim berganti…

Hingga akhirnya, selang sepuluh bulan setelah peristiwa naas itu, mendadak sebuah komentar mendarat di salah satu entri yang pernah diludahi oleh sang troll perkasa.

Selayaknya seorang bloger yang baik, saya baca saja komentar yang baru masuk kandang saya itu. Tapi, tanpa sengaja, kembali saya melihat komentar sesosok troll yang namanya hampir tersapu dari ingatan saya. Atas dasar keisengan, saya coba lagi saja melakukan pencarian. Biarpun menyebalkan dan namanya nyaris terlupakan, setidaknya keberanian (atau kecerobohan?) troll yang satu ini cukup berkesan untuk menyisakan lekat kekaguman di hati saya. Jadi, siapa tahu kali ini ketemu.

Dan apa yang terjadi?

Nama lengkap sang tersangka terpampang dengan jelas pada suatu situs jejaring sosial — yang sepuluh bulan lalu tampaknya belum menjamah jangkauannya. Apalagi kalau bukan situs hasil pengembangan Mark Zuckerberg: Facebook.

Langsung saja saya klik, dan tersibaklah wajah dari si tersangka yang sedang memunyungkan bibir a la film horor. Tak kurang lagi, dapat pula dilihat lingkaran pergaulannya dari teman-teman yang ada dalam daftar temannya. Agaknya, walaupun kurang populer di dunia maya (dengan nama aslinya), setidaknya makhluk ini cukup digemari di dunia nyata.

Sekilas saja saya melihat profil tertutupnya, karena toh memang tidak begitu banyak yang bisa dilihat.

Lalu? Apa yang saya lakukan setelah berhasil menemukan sosok misterius yang pernah menyentuh hati saya karena trollingnya?

Ya tidak ada. :lol: Niat awal untuk melihat bagaimana pola pikirnya terlanjur kandas karena saya sudah tak begitu tertarik lagi. Kalau pun masih, keterbatasan yang ia berikan di profil Facebook-nya membuat saya harus menambah orang itu sebagai teman dulu. Merepotkan.

Apa tidak kepikiran merencanakan ‘balas dendam’? Tidak berguna juga sih, buat saya. Troll memang menyebalkan dan sangat tidak berguna diajak berdiskusi, tapi toh mereka juga manusia. Mungkin pada saat itu emosinya sedang labil. Mungkin beberapa hari sebelum itu ia baru kehilangan barang kesayangannya, sehingga ia tidak bisa tenang dalam berkomentar. Atau apa pun lah.

Yang jelas, setidaknya saya tidak perlu khawatir jika lain kali didatangi troll serupa. :P

13 Tanggapan ke “Kerak Terol”


  1. 1 dnial Jumat, 17 Juli 2009 pukul 6:57

    *Mencari IP Anonymous buat ngetroll.. :D *

  2. 2 Sukma Jumat, 17 Juli 2009 pukul 7:54

    Agaknya Fesbuk memang lebih praktis buat mencari identitas orang :D

  3. 3 Generasi Patah Hati Jumat, 17 Juli 2009 pukul 8:02

    Coba di add aja, liat notesnya, hehehe.
    Kalau saya search orang yang namanya Pradipa Rasidi kok hasilnya banyak ya? Wakaka.

  4. 4 rukia^^ Jumat, 17 Juli 2009 pukul 9:30

    *baca judul* –> Kerak Terol

    (doh) awalnya saya baca “Kerak Telor” saya kira xaliber lagi berniat jualan kerak telor, ternyata salah baca
    *dibom*

    Troll itu menyebalkan, tapi nggak usah dibaleslah, anggap aja hiburan :lol:

  5. 5 rozenesia Jumat, 17 Juli 2009 pukul 10:21

    bah.

    *ngecek arsip lawas blog ini*

    oh, ketemu.

    btw, tag-nya ITB? :P

  6. 6 Adriano Minami Sabtu, 18 Juli 2009 pukul 17:50

    Kerak Terol(Troll)? Huhuhu…

    Yang mana ya?

  7. 7 Nazieb Selasa, 21 Juli 2009 pukul 17:56

    Bahkan troll pun tak tahan untuk tidak gawul dan eksis di Fesbuk..

  8. 8 Xaliber von Reginhild Rabu, 22 Juli 2009 pukul 18:10

    @dnial:
    IP anonim sia-sia kalau pakai nama asli… :P

    @Sukma:
    Betul. :mrgreen:

    @Generasi Patah Hati:
    Pakai tanda kutip dong; “Pradipa Rasidi”. :cool:

    @rukia^^:
    Ya, saya harus lebih santai :lol:

    @rozenesia:
    Yup, ITB. Karena ybs dari institusi ter– ups.

    @Adriano Minami:
    NAD. :mrgreen:

    @Nazieb:
    Troll juga manusia… n_n

    Btw, rupanya troll ybs juga pernah sekolah di sekolah yang masih berada di bawah yayasan yang sama dengan SMA saya dulu. (doh)

  9. 10 Indonesia Senin, 24 Agustus 2009 pukul 2:37

    yaa.. ga bisa juga mengharap semua manusia dewasa. :)

    *numpang ngetes komen yak. keknya ada yang usil masukin komen gw ke akismet*

  10. 13 radesya Selasa, 15 Desember 2009 pukul 12:56

    Kebetulan aku lagi cari resep kerak telor, eh koq malah nyasar jadi kerak terol sih :D

    btw setelah baca, aku pernah alami juga yang kayak gt

    salam kenal :)


Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,925 soldiers