“For to win one hundred victories in one hundred battles is not the acme of skill. To subdue the enemy without fighting is the acme of skill.” ~ Sun Zi
Sudah lama berselang sejak Israel dan Palestina pertama kali terlibat dalam konflik. Sampai di hari terakhir pada tahun 2008 ini pun, publik masih dibuat heboh dengan berita ini.
Pada umumnya publik Indonesia cenderung mendukung gerakan Palestina; secara humanisme, common enemy dalam hal politik, maupun karena solidaritas keberagamaan. Tapi saya bukan pendukung gerakan Palestina, pun begitu juga tidak saya dukung Israel. Saya coba melihatnya lewat sudut pandang kiranya lebih netral.
Isu yang populer di media massa Indonesia adalah ‘teror’ Israel terhadap sipil Palestina, pembombardiran Gaza misalnya. Israel tampak terlihat menyerang berbagai sektor yang terlarang untuk diserang, yaitu sektor layanan publik seperti rumah sakit dan sekolah. Jika dilihat dari sini, maka mungkin benar adanya ucapan seorang aktivis Islam yang mengatakan bahwa tindakan Israel tidak lebih dari sebuah genosida.
Tapi saya kurang setuju.
Disini, patut diingat bahwa jenis pertempuran yang terjadi antara Israel dengan Palestina adalah pertempuran asimetris. Pertempuran asimetris dapat terpenuhi ketika konflik terjadi antara pihak dengan pasukan militer yang terorganisir (katakanlah, punya struktur militer yang jelas) melawan pihak dengan pasukan resistensi/militan (tak punya struktur militer yang jelas, bukan militer formal). Dalam hal ini, konfliknya adalah antara Tzahal-nya Israel dengan Hamas-nya Palestina.
Kekuatan utama dari pasukan militan justru datang dari keinformalan mereka; tidak adanya seragam yang membedakan pasukan militan dengan warga sipil adalah kamuflase sempurna yang dapat menyulitkan pasukan lawan. Hal ini sering terjadi dalam sejarah, sebut saja ketika Perang Dunia II, perang di Vietnam dengan para Viet Cong legendaris, bahkan di abad ke-16 ketika pasukan militan Inggris menjadi bagian dari militer ireguler. Tidak heran memang, lha ya sumber prajuritnya juga dari warga sipil biasa.
Tidak ada yang salah dengan keunggulan yang dimiliki oleh pasukan militan tersebut — yang kita kategorikan sebagai militer ireguler — tapi, ada yang salah ketika Hamas melibatkan warga sipil non-bersenjata dalam peperangan.
Strategi demikian disebut human shielding, di mana warga sipil biasa yang dilarang untuk ditembak jatuh (karena tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan) ikut dilibatkan sebagai pelindung dalam medan perang. Pasukan ireguler dengan strategi human shielding bisa dibilang adalah impenetrable defence sekaligus valuable offence bagi Hamas, karena membatasi pergerakan pasukan reguler Israel dalam melawan pasukan ireguler, namun di saat bersamaan memberi peluang bagi pasukan ireguler Hamas untuk menyerang pasukan Israel yang kebingungan. Pun begitu, strategi ini pada dasarnya kurang etis karena melibatkan warga yang tak bersalah, dan juga bertentangan dengan konvensi Jenewa yang mengatur tentang perlindungan warga sipil.
Lalu apakah dengan begitu pasukan Israel legal untuk menembak warga sipil yang menjadi pelindung bagi pasukan ireguler Hamas? Jawabannya sebenarnya tidak; kecuali warga sipil tersebut menunjukkan tanda-tanda perlawanan, entah dengan mengokang senjata api maupun dengan bom bunuh diri. Menurut Carl von Clausewitz, pasukan ireguler adalah termasuk mereka yang secara aktif menunjukkan perlawanan terhadap pihak musuh. Dengan begitu ketika warga sipil ternyata turut menjelma menjadi pasukan militan, maka pasukan Israel mendapat hak sepenuhnya untuk menembak jatuh mereka.
Kembali ke isu mengenai pemborbadiran pada sektor-sektor yang terlarang untuk diserang. Jika mengingat kembali ke masa Perang Dunia II, masing-masing pihak antara Axis dan Aliansi sebenarnya juga melakukan hal serupa. Inggris terkenal dengan Berlin Bombing-nya, dan Jerman juga tak kalah horor dengan meluncurkan pengeboman di perkotaan pada periode sebelumnya. Hal ini menimbulkan banyak kerugian sipil.
Tapi sebenarnya ada satu hal yang semestinya dilakukan setiap negara pada daerah medan perang: evakuasi. Ketika sebuah tempat berubah menjadi medan perang, maka evakuasi adalah hal pertama yang mesti dilakukan terhadap warga sipil. Jika tidak, maka korban sipil tidak dapat terhindarkan, seperti pada saat Jerman menyerbu Perancis ketika Perang Dunia II. Karena itu, jika melihat Hamas yang justru menggunakan strategi human shielding daripada evakuasi, rasanya kurang etis — apalagi dalam peperangan modern seperti sekarang ini.
Saya bukan pendukung Israel, antek-antek Zionis, atau apalah yang suka disebut orang itu. Saya juga bukan pendukung Palestina, Muslim Brotherhood atau semacamnya walaupun agama saya memang Islam. Saya cuma berusaha memberi sudut pandang lain, bahwa semacam inilah kerumitan yang dihadapi ketika mesti berhadapan dengan pasukan ireguler. Barangkali hal demikian pula yang memicu Clausewitz menulis buku lawasnya, On War, ketika melihat perkembangan pasukan ireguler pada masanya.
Tidak ada yang benar atau yang salah dalam peperangan, hanya ada yang menang dan yang kalah. Semoga berlalunya tahun 2008 cepat menghapus horor peperangan ini dan kedatangan 2009 dapat memberi harapan perdamaian yang baru. Selamat tahun baru 2009.



pertamax? hmmm…
tetep saja saya tidak setuju dengan pengeboman itu..
sumber referensinya mana ??
@aggy:
Ketigax. Masalahnya, disini Palestina memanfaatkan warga sipil sebagai kover. Dan resiko kematian warga sipil di medan perang adalah wajar… meskipun saya juga mengharapkan usaha penumpasan big boss-nya sih.
@:3:
Yang di Plurk apa referensi buku nih?
Saya setuju dengan pendapat Xaliber
Mereka bisa jadi memanfaatkan warga sipil yang terbunuh untuk mendapakan perhatian dunia, terutama “saudaranya”
Tapi kalau sudah tahu begitu, kenapa pasukan Israel tetap memakan umpan lawan mentah-mentah ya? Mestinya kan mereka bisa bikin Operation Wrath of God jilid II, begitu…
@Adriano Minami:
Itu dia. Sipil selalu jadi subyek yang sebenarnya agak menyedihkan dalam perang.
@Catshade:
Sempat ada yang tertangkap juga, kalau ngga salah.
Dengar-dengar sih juga ada manhunt mengejar tokoh-tokoh Palestina kelas atas…
yang bikin saya lebih sedikit bimbang itu..
waktu mengetahui statement dari pemerintahan hamas yang melarang datangnya relawan2 dari beberapa negara, termasuk indonesia untuk masuk ke Gaza..
ya, tapi bagaimanapun disini saya tetap mengecam tindakan semena-mena Israel
Nah, akhirnya analisis yang jarang ditemukan
Jadi gimana? Kedua pihak salah?
Ah semoga perang itu cepat berakhir. Sudahlah Israel pindah saja, minta tanah lah ke Amerika sana. Jangan rebut tanah palestina…
Whoever wins, we losses. Right?
@Mihael : Kayak Alien Vs Predator aja
Kita kan gak tahu situasi di balik sana, jadi jangan langsung membenarkan atau menyalahkan satu pihak saja lah
Ya namanya perang itu kan bukan satu pihak saja yang salah. Toh dua-duanya saling menyerang.
Saya sempat ingin menulis entri soal ini, tetapi karena saya tidak begitu tahu soal perang-perangan syukurlah sudah ada anda yang menulis~ *dilempar*
*copy-paste komen dari forum Gotei*
Kalau menurut saya sih, yang namanya perang seharusnya tidak cuma satu sisi yang disalahkan (Israel). Siapapun yang memprovokasi, namanya perang ya yang bertarung kan kedua sisinya. Keduanya sama saja salah.
Setahu saya sih konflik Israel-Gaza sudah lama jalannya dan kedua pihak sudah saling menyerang sejak dulu, bukan hanya Israel saja. Toh Palestina saja pernah meluncurkan lebih dari 200 roket ke Israel juga. Bahkan (kalau tidak salah) kelompok ‘Islamic Jihad’ Palestina yang memulai konflik Israel-Gaza pada tahun 2006. -__-a
Ya, pada intinya, kelihatannya bagi saya ini adalah konflik yang sudah memiliki sejarah panjang sejak dulu, dan sebagai orang yang tidak mendukung perang saya tidak akan mendukung sisi manapun. Semoga saja akan ada peace treaty yang menangani ini semua, syalala… *kabur*
Hmm.. Sebetulnya kalo begini ga bisa bilang mana yang bener. Sama2 salah lah. Tapi dasar terkadang kita gampang terprovokasi. Bukannya saya pro israel atau saya pro palestina, tapi coba kita lihat seperti di pendapatnya si Xal ini.
@maximumalchemist:
Sebenarnya itu justru lebih masuk akal buat saya.
Maksud saya, relawan (yang umumnya sipil) datang ke Gaza mau ngapain? Mau jadi tumbal perang?
Malah makin merepotkan dan bikin korban lebih banyak aja. Kalau bisa memperlancar evakuasi sih nggak apa-apa…
@lambrtz:
Wah, saya belum bisa menyimpulkan. ^^;
Tapi sejauh ini, menurut saya keduanya memang agak bermasalah. Kalau mau perang-perangan, jangan sampai sipil terlibat. Setidaknya itu yang mesti diingat Palestina (baik Hamas maupun Fatah). Tapi kalau sipil sampai bersikap ‘hostile’ dan ditembak Israel… yah, sebenarnya itu resiko, nggak bisa disebut genosida.
@bukanfadli(tm):
Saya kurang yakin apa itu tanah Palestina beneran apa bukan, tapi coba lihat diskusi disini: http://rosenqueencompany.wordpress.com/2008/12/30/israel-dan-palestina/#comments
dan sejarah singkatnya:
http://www.masada2000.org/historical.html
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Whoever wins… we still gain nothing.
@Adriano Minami:
Yang jelas menyerang atau menjadikan kover warga yang non-hostile itu sangat tidak etis.
@Amanda K:
Itu dia… bicara soal kekejaman terhadap warga sipil, Hamas dan Fatah juga melakukannya kok waktu mereka berebut Gaza.
Amin, semoga peace treaty berikutnya tidak dilanggar salah satu pihak.
@Rian Xavier:
Yah, atas nama brotherhood, kan?
knapa sih palestina terus yg di serang,,,
amerika skali2,, biar ancur, hhe,, ;13)
Sedemikian sulitkah menciptakan damai di bumi ini yah?
@kahfinyster:
Simpel: karena Amerika (secara langsung) tidak menyerang Israel juga.
@Rindu:
Yah… begitulah.
Indeed, but how bout the woman and children who got blown up? Hmm..
Why can’t they just face it that lots Israeli citizen often buy fruit to Palestinian fruit seller and some of them lives together in the same house.
Livni once said that “This is all that we wanted”. N E D M !!11
perlu dikirim CB kayanya nih
Hamas-nya emang usil, nge-roket permukiman Yahudi dari perkampungan sipil, wajar aja dibales berkali lipat
perang emang kejam, dan yg paling menderita pasti warga sipil
Saya setuju dengan artikel ini, kalau memang Israel ingin menghancurkan Palestina, mengapa warga Palestina di Tepi Barat yang dikuasai Fatah aman aman saja? Tujuan mereka sudah jelas melenyapkan Hamas.
mau informasi nih. Blog saya sudah pindah dari wordpress ke blog baru d-revoz.com. jangan lupa kunjung yach. (^_^)
NB : Blogrollnya juga diganti ya. Hehehee.
menurut saya…
jika dilihat dari sejarahnya sendiri pun memang Israel sendiri yang menjadi sumber masalah dengan mengambil tanah palestina dengan bantuan inggris…
ya walaupun begitu saya tetap tidak setuju dengan ‘human shielding’ yang dilakukan hamas bila itu emang kenyataannya..
Setuju nih…
Israel vs Hamas kayaknya memang bakal tanpa ending. Atau, apa memang tidak ada akhirnya, ya? Sekalipun di dunia perseteruan itu memang wajar dan selalu ada, sih.
Yah, semoga saja tidak ada lagi peperangan seperti ini. Lagi.
Coba Anda analisis perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia!
Dan ingat sesuai prinsip yang Anda pegang di artikel ini. Dan otomatis, Anda ada ditengah2, antara Indonesia dan Belanda (atau Jepang)
Aneh kalau Anda kemudian mendukung Indonesia.
@DensS cessario:
That is the point. Children and women should not be shields.
@Arm:
Yah, begitulah perang…
@imcw:
Hamas memang fundamen sih ya.
@Rian Xavier:
Oke.
*lama nggak blogwalking*
@supercrazyape:
Sejarah Palestina-Israel? Rumor darimana itu?
Justru tadinya orang-orang Yahudi dan Arab di Palestina bekerjasama dengan Inggris agar mereka bisa merdeka dari Kekaisaran Turki Ottoman…
@Sorata:
We could only hope.
@YoHang 07:
Wah, si mas ini kesini juga.
Tenang, saya sebelumnya sudah mengobrol dengan nenek saya yang hidup di zaman itu. Warga sipil memang menolong militan, tapi mereka tidak berkerumun bersama-sama dengan militan ketika bertempur.
So there you have it.
Hmmm..
Bagaimana jika persoalan diganti namun dengan substansi yang sama, yaitu ketika Belanda melakukan “agresi militer”nya pasca Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya? Apakah Anda masih bersikap netral??
Ketika sebuah negara dijajah tidak ada yang namanya sipil dan non-sipil, mereka semua adalah PAHLAWAN yang mempertahankan kedaulatan negaranya! Lagipula ketika Indonesia diagresi apakah hanya militer reguler Indonesia yang melawan pasukan reguler Belanda??
Lagipula patut dicatat Israel merupakan entitas yang paling superior di dunia, buktinya mereka tidak terikat dengan Konferensi Jenewa (Fosfor putih contohnya digunakan dalam perang), PBB (negara paling banyak mengabaikan resolusi hingga lebih dari 50-an), Kesepakatan Anti-Nuklir di TimTeng, dan lain sebagainya.
Ah ya… biasanya komparasinya jadi ke Indonesia-Belanda ya.
Kurang lebih mirip seperti saya bilang ke mas YoHang, saat kemerdekaan penduduk non-kombatan (sipil) dan penduduk kombatan (non-sipil/pasukan ireguler) tidak bercampur-aduk jadi satu.
Dan, ya, memang militer ireguler juga membantu melawan Belanda. Para militan itu. Itu sah-sah saja, dan memang sudah ada sejak zaman dahulu kala — asalkan tidak bercampur dengan warga non-kombatan. Perbedaan utamanya disini adalah antara warga kombatan (sipil tapi beraksi) sama warga non-kombatan (sipil yang tak beraksi). Warga kombatan harus memisahkan diri dari warga non-kombatan, karena kombatan sudah legal buat ditembak jatuh sedangkan non-kombatan tidak.
Untuk fosfor putih, penggunaan senjata flammable seperti itu tidak melanggar konvensi jika digunakan untuk melawan kombatan… so, there.
pandangan yang kereeeeennn .. hhu
different perspective ya…boleh juga…
tapi, islam udah punya konsep qital yang jelas; jihad. nah, strategi ini yang layak bahas ya hamas dan mujahidin di sana.
kita? apakah demo gak efektif? tau gak teman2 waktu jubir hamas datang maren ke indonesia? beliau nyampein ke ikhwah bahwa video aksi2 palestine di indonesia yang mereka rekam mereka putar berulang2. mereka dapat spirit jihad dari sana. itulah, selain tentu saja rahmat Alloh, yang buat mereka bertahan.
mereka melihat orang2 yg ikut aksi sbg mujahid..
wallohu a’lam.