Esensi Demonstrasi

Saat ini saya sedang menimba ilmu di salah satu universitas negeri. Kata teman SMA saya dulu, salah satu ciri mencolok dari universitas negeri adalah aktivitas mahasiswanya dalam pergerakan sosial. Bukannya berarti universitas swasta tidak punya andil dalam hal tersebut, tapi biasanya, masih menurut teman saya, universitas negeri lebih punya tendensi untuk melakukan hal-hal demikian.

Saya kira ucapan teman saya dulu itu ada benarnya. Dan biasanya aktivitas itu terwujud dalam sebuah aksi massa; sebuah demonstrasi.

Selepas kepemimpinan Pak Harto, ajang buat unjuk suara makin terbuka lebar. Setiap kebijakan yang diambil pemerintah sudah bisa dikritik, setiap isu bisa diperdebatkan, dan setiap aksi massa bisa diselenggarakan. Demonstrasi adalah salah satu jalan yang biasa diambil mahasiswa buat menyuarakan suara mereka ke pemerintah; dan banyaknya tindakan pemerintah yang dirasa memberatkan rakyat membuat mahasiswa jadi semakin sering menyuarakan tindakannya itu. Menurut saya, disini masalahnya.

Demonstrasi mahasiswa sudah kehilangan esensinya.

Demonstrasi dan segala macam aksi massa oleh mahasiswa, yang sering diliput oleh media, sudah tak seesensial pergerakan kaum muda yang sering disinggung-singgung seperti saat Bung Karno masih hidup dulu. Barangkali secara kasar saya katakan, demonstrasi macam ini hanya bisa memimpikan dirinya menjadi social agent of change.

Beberapa waktu lalu, Indonesia sempat dihebohkan karena kenaikan harga BBM, masalah yang timbul karena kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM yang dirasa menyulitkan rakyat miskin dan konon dipercaya dibutuhkan adanya aspirasi rakyat miskin memicu terjadinya demonstrasi ke pemerintah. Saat peristiwa semacam itu sedang marak, saya tak sengaja mendengar hal yang agak konyol terlontar dari beberapa orang mahasiswa (entah angkatan tahun berapa) di kampus saya,

“Universitas lain pada demo, masa kita nggak demo? Besok kita ikutan demo dengan jaket kita!”

Apaan itu? Ajang pamer jaket? Saya benar-benar berharap bahwa ucapan yang mereka lontarkan itu cuma guyon. Kalau universitas-universitas lain sudah menyampaikan opini mereka — yang katanya adalah aspirasi rakyat miskin — dan suara tersebut tersampaikan dengan baik, tidak berbeda dengan suara yang ingin kita sampaikan, buat apa “turun ke jalan” lagi cuma karena kampus setempat belum beraksi? Kalau semua universitas negeri di Indonesia beralasan seperti itu, saya cuma bisa berharap supaya pemerintah tidak jadi kebal-demo.

Buat saya, aksi massa hanyalah sebuah tong kosong yang berbunyi nyaring ketika dia dilakukan sebagai prestis yang membawa embel-embel nama almamater, tanpa memahami isu apa yang dia bawa saat berdemonstrasi.

Apalagi, kalau aksi massa itu terjadi dengan tiga stereotipe utama yang sering terjadi di demonstrasi belakangan ini: berisik, bikin macet, dan meninggalkan sampah. Berisik dan bikin macet barangkali sudah menjadi konsekuensinya, yang menunjukkan bahwa protes dari pengemudi kendaraan beroda ternyata tidak membuat demonstrasi adalah suara dari “rakyat” (karena di antara pengemudi itu juga rakyat, dan lucunya ternyata mereka juga yang membuat orang membuang-buang bensin). Tapi kalau sampah?

Saya memang tidak berkesempatan untuk melihat semua demonstrasi yang terjadi di tanah air. Tapi dari sekian banyak demonstrasi yang terjadi, saya melihat bahwa pada setiap akhir demonstrasi selalu ada jejak yang tertinggal: sampah. Entah itu gumpalan kertas, banner, atau botol-botol plastik bekas minuman.

Bolehlah beropini dan mengkritik atau mengecam pemerintah, tapi jangan disertai dengan sampah dan menyulitkan orang lain sedemikian rupanya dong. Saya tidak serta-merta bilang bahwa dengan begitu opini mereka jadi salah, tapi cara mereka dalam menyampaikan opininya itu yang salah. Kalau seperti itu sih jadinya seperti menyulitkan sesama rakyat. Rakyat kok menyulitkan rakyat?

Dan sekarang yang tampaknya agak populer adalah demonstrasi yang disertai rusuh. Tindakan anarkis (dalam konotasi negatif), merusak peralatan umum, disertai amarah yang menggebu-gebu. Menurut saya, ini yang paling konyol. Yang jelas, demonstrasi anarkis begini memenuhi tiga stereotipe di atas — dalam skala yang lebih parah. Tambah lagi, pengrusakan peralatan umum itu benar-benar tak bermakna. Memprotes pemerintah kurang memerhatikan rakyat miskin tapi malah merusak peralatan umum yang dibangun dengan dana pemerintah? Lha, apa namanya itu kalau nggak nambah-nambahin biaya?

Menilik tendensi sebagian aksi massa sekarang ini, saya malah jadi khawatir jika pendapat [seperti ini] ternyata adalah yang meluas di masyarakat. Saya tidak mau terlalu narsis dengan terus mengatakan bahwa demonstrasi mahasiswa ini selalu jadi aspirasi rakyat miskin; saya tidak mau terlalu idealis dengan mengatakan bahwa gerakan semacam ini adalah murni demi kepentingan rakyat banyak dan tak ditunggangi kepentingan politis. Slogan “Hidup Mahasiswa!” pun hanya jadi tahi kerbau. Saya hanya ingin skeptis.

Masihkah gerakan massa jadi sarana komunikasi bawah-atas yang efektif, dan bukannya sekedar pertunjukkan egoistis aktivis yang bisa diekspos media?

49 Tanggapan ke “Esensi Demonstrasi”


  1. 1 Catshade Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 15:19

    Short anwer: No. Indonesia sekarang sudah relatif lebih bebas, jadi pesan yang dibawa demonstrasi itu sendiri gak terlalu bernilai maknanya, baik bagi pemerintah maupun bagi rakyat itu sendiri. Kalau di zaman otoritarian dulu kan, demonstrasi itu seolah membawa ke permukaan suara rakyat yang takut mengungkapkan pendapatnya.

    Kalau dilihat2 dari sejarah dalam negeri dan internasional, demonstrasi yang akhirnya benar2 membawa perubahan kan umumnya dilakukan dalam suasana represif dan penuh teror. Kalo dicuekin sama pemerintah, malah biasanya demonstrasi itu jadi gak berkutik…

    …mungkin itu sebabnya sebagian oknum (there, I didn’t make a blanket generalization) demonstran berlaku anarkis untuk memprovokasi polisi, sehingga kalau aparat membalas (apalagi sampai timbul korban jiwa), demonstrasinya (dus, pesannya juga) jadi lebih diperhatikan pemerintah, rakyat, media massa, dan bahkan dunia internasional? :?

  2. 2 Xaliber von Reginhild Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 16:14

    Kalau dilihat2 dari sejarah dalam negeri dan internasional, demonstrasi yang akhirnya benar2 membawa perubahan kan umumnya dilakukan dalam suasana represif dan penuh teror

    Nah, saya juga jadi bertanya-tanya… apa demonstrasi sebagai sarana perubahan yang sering disebut-sebut itu masih relevan? Kalau ada isu sedikit saja sudah pada demo, saya khawatirnya pemerintah malah mengabaikannya (karena sudah keseringan).

    …mungkin itu sebabnya sebagian oknum (there, I didn’t make a blanket generalization) demonstran berlaku anarkis untuk memprovokasi polisi, sehingga kalau aparat membalas (apalagi sampai timbul korban jiwa), demonstrasinya (dus, pesannya juga) jadi lebih diperhatikan pemerintah, rakyat, media massa, dan bahkan dunia internasional? :?

    Ah ya, saya di atas juga ngga bermaksud generalisasi juga; hanya untuk demonstrasi yang ’semacam itu’ aja. :P

    Hmm. Kesannya seperti demonstran yang mewakili rakyat miskin sedang ada dalam ‘tekanan’ pemerintah? Kalau menurut saya kok lebih seperti cari perhatian media saja ya, dan justru memperburuk citra demonstran itu sendiri dengan gaya anarkis mereka.

  3. 3 agunk agriza Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 16:37

    Haduh. PAMER JAKET. biar dibilang “wah, universitas ini peduli nasib rakyat, hebat sekali” hha. lebay …

  4. 4 fantasyforever Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 18:36

    @agunk, weleh. Pamer jaket. Jaket dari Universitas gw ga seberapa bagus kok. Hehehehe.

    Gimana lagi, memang promotor di indonesia adalah mahasiswa kita. Soalnya mahasiswa adalah golongan rakyat yang paling ‘berani’ menurut saya. :mrgreen:

  5. 5 jensen99 Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 19:19

    Dengan tingkat keberhasilan yang makin ‘biasa saja’, demonstrasi tu dah seperti kegiatan eskul atau UKM, jadi tradisi gak resmi yang diajarkan dan diwariskan senior ke adik2 tingkatnya. Kadangkala disertai paksaan tuk harus ikut atau setidaknya gak masuk kuliah saat yang lain demo. Memang, sebagian pentolannya kelak sungguh2 jadi pembela rakyat, tapi buat yang lain paling nantinya hanya jadi kenang-kenangan semasa “masih idealis”. Syukur2 kenangannya bukan berupa bekas gebukan aparat…

  6. 6 Barried Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 19:30

    Kadang2 ada aja orang ikut2an demo tapi ga tau apa yg sdang terjadi.
    Kyk kenaikan harga BBM kmaren, coba deh tanyain harga bbm bisa naek karena apa? Cara supaya bsa turun lg gmana? Pasti yg bsa jawab dgn benar cuma beberapa

  7. 7 Mr Martil Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 19:40

    hm…mestinya teman-teman mahasiswa membaca suara hati sang deathlock ini nih…
    aksi/demo kelebihannya -semestinya sih-lebih bisa menyuarakan aspirasi dengan lebih menggentarkan, ini saya dapat dari belajar manajemen aksi, hehe..tapi udah pda lupa juga ilmunya tuh..ta cari deh, mudah2an masih ada.

    terus terang, sya pernah mrasakan jadi mahasiswa, dan pernah juga merasakan demo.
    Memang, selepas aksi besar mahasiswa tahun 1997 dulu, mahasiswa seakan kehilangan gregetnya. entah kenapa. apakah ini pertanda degradasi idealisme atau bagamaimana?

  8. 9 hariadhi Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 0:14

    Bagus nih, nyentil banget.

    Ada yang satu lagi gw pikir. Semangat untuk ga mau beda. Kebiasaan berdemo membuat banyak orang pengen menyuarakan aspirasi secara bergerombolan. Saat punya idealisme pribadi malah melempem.

  9. 10 Jumawa Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 1:28

    mendemo demonstran via blog, sir? :lol: *ditendang*

    ah saya juga pernah dengar sedikit kata kata dari mahasiswa yang lagi demo.. “menaikkan harga bbm tidak akan menyelesaikan masalah”
    sayang nggak denger lanjutannya. tapi denger satu kalimat itu saja kok sudah malas ya? :D

    soal sampah, nggak tau juga kalo itu mereka sengaja. sebagai simbol sampah masyarakat mungkin? atau meninggalkan kesan pada pihak yang didemo, biar demonya nggak seratus persen sia sia, setidaknya bikin misuh2.. *suudzon*

  10. 11 Lemon S. Sile Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 2:47

    Thus I declare I’m sick of this sentence:

    …dengan jaket kita!

    Itulah kenapa saya benci nasionalisme berlebihan pada seusatu yang ga puguh begini. Nasionalisme ya pada negara, bukan pada almamater. :lol:

    [udah]
    Konon katanya mahasiswa adalah generasi yang paling cerdas. Makanya harus selalu jadi ujung tombak. Itu teori yang saya pahami dari banyak pemikiran ‘ekstrimis-ekstrimis’ ga puguh di lingkungan saya. Mahasiswa itu pintar, cerdas, peka, maka harus menjadi perwakilan masyarakat. Kenapa ga jadi wakil rakyat menggantikan anggota DPR yang kata mereka gaji buta aja? Dari pada panas=panas demonstrasi mending jadi anggota DPR, adem dapet duit lagi. :-?

    Saya jadi mikir apa mahasiswa zaman sekarang cuma doyan ribut-ribut aja? Apa mereka cuma doyan pamer solidaritas antar sesama dan solidaritas dengan yang tertindas? Ah, saya jadi ingat wawancara saya dengan seseorang waktu masa ospek dulu. Beliau juga mengkritik demonstrasi mahasiswa, di jalur yang berbeda dengan yang Anda suarakan. Tetapi bermakna, sangat bermakna.

    [udah dulu ah]
    …dan saya pikir memang hukum Gossen memang terbukti untuk pemerintah yang sudah sering didemo macam begitu. Coba didemo dengan gaya lain, mungkin kuping mereka langsung panas?

    …dan menurut Anda apa solusinya? Apa yang harus dilakukan mahasiswa selain berdemonstrasi?

  11. 12 fantasyforever Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 6:18

    @lemon, yup. Dengan jaket kita. Saya belum pernah liat mahasiswa demo tanpa jaket almamater.

  12. 13 Cabe Rawit Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 6:24

    Karena demo sudah tidak memiliki makna, maka filihan laen yang diambil adalah menggelar tawuran antar kamfus, antar fakultas, kalau ferlu dengan sekolahan… Yah, sekalifun citra melorot yang fenting tetaf dilifut media dan terkenal… :mrgreen:

  13. 14 masamune11 Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 7:43

    Um… ah… err…. hmm….

    *baru balik dari semi-hiatus*

    Yah, kalau soal pemerintah yang sudah bebal dengan cara penyampaian aspirasi semacam demonstrasi… cukup setuju. Sepertinya penyampaian aspirasi perlu cara lain–cara yang belum pernah dilihat orang (hmm, apa kata yang tepat… revolusioner? inovatif? Silakan pilih sendiri :lol: )

    Soal anarkisme (dalam artian, merusak barang-barang yang menjadi kepentingan umum), bisa dibilang yang rugi itu masyarakat juga. Toh fasilitas kepentingan umum dibangun dengan pajak, sementara pajak itu dari masyarakat. Lucu jadinya :lol:

    Kalau soal sampah dan litter, kebiasaan tersebut kembali pada pola pikir dari masyarakat itu sendiri, no? ;)

  14. 15 mamas86 Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 8:55

    Wah belum pernah ikutan…..

  15. 16 Mi Chan Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 10:41

    Yah, sama sperti postingan ku dlu.

    Grakan massa udh trlalu bnyak, dkit2 demo. Pmerintah jd ny te2p cuek. *lospokus*

  16. 17 Rukia Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 13:59

    Aku benci banget sama yg namanya demonstrasi anarkis
    dulu di kotaku pernah kejadian demostrasi, mungkin itu pertama kali aku liat demo secara langsung di depan mata. Menyusahkan orang saja!

    Kunjungi INI

  17. 18 Rukia Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 14:09

    linknya salah ketik sori yang bener DISINI

  18. 19 Rukia Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 14:13

    Salah ketik link untuk yang ketiga kalinya dalam sekali komen. Cape de gw

    Yang ini bener
    maaf2

  19. 20 asuna17 Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 14:34

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://politik.infogue.com/esensi_demonstrasi

  20. 21 aggy Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 19:32

    orang zaman sekarang kurang menghargai makna demokrasi. hasilnya? malah jd demo-crazy. dan ya, masalah sampah itu, GLOBAL WARMING kalian semuah! huh :(
    maaf ya tp sbg juara 2 lomba everlasting act UI tahun 2007 saya merasa gila meliat sampah sampah itu.. mengingat.. ::pidato::
    *pamer trus ditendang*

  21. 22 Unit 076 Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 20:58

    Ngg… gimana ya…
    Kalau ditanya, atau mau menjawab pun saya sih kurang ngerti… (kebanyakan maen gimbot sih! Dudul!)
    Tapi yang: “Universitas lain pada demo, masa kita nggak demo? Besok kita ikutan demo dengan jaket kita!” Kok lucu ya?

    Ngg… saya bukan mahasiswa maupun orang yang memang “mengerti” akan hal-hal seperti ini, jadi… *mabur* Sori nyampah!

  22. 23 Xaliber von Reginhild Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 23:32

    @agunk agriza:
    Kalau tujuan demonstrasi memang cuma seperti itu, rasanya jadi kehilangan esensinya. :)

    @fantasyforever:
    Sekedar berani tapi kosong isinya? :?

    @jensen99:

    Dengan tingkat keberhasilan yang makin ‘biasa saja’, demonstrasi tu dah seperti kegiatan eskul atau UKM, jadi tradisi gak resmi yang diajarkan dan diwariskan senior ke adik2 tingkatnya. Kadangkala disertai paksaan tuk harus ikut atau setidaknya gak masuk kuliah saat yang lain demo.

    Nah nah, saya pernah dengar ini soal mahasiswa yang dididik untuk semangat berdemonstrasi dengan mengorbankan aspek-aspek lain dalam perkuliahan. Saya khawatirnya yang dididik itu cuma semangat aja, sementara isu yang mau didemokan sama sekali nol. Kalau begitu sih rasanya cuma menang berisik aja. Cheerleaders? :?

    @Barried:
    Itulah, ada sebagian dari demonstran yang tak mengerti isu tapi asal berisik saja. :|

    @Mr Martil:
    Hoho, mestinya memang begitu. :mrgreen: Mestinya demonstrasi itu jadi suatu wujud aksi massa yang sekalinya membawa isu, langsung ‘nancep’ ke pemerintah. Kalau dikit-dikit ribut, kok saya rasa malah jadi kehilangan kesaktiannya itu ya. :roll: Apalagi kalau dengan alasan prestis itu aja…

    Btw, ditunggu. :P

    @hariadhi:
    Idealisme pribadi… maksud?

  23. 24 Xaliber von Reginhild Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 23:55

    @Jumawa:
    Ndak dong, saya kan cuma sendirian. :P

    sebagai simbol sampah masyarakat mungkin?

    …wow. :mrgreen: Nusuk. :P

    @Lemon S. Sile:

    Kenapa ga jadi wakil rakyat menggantikan anggota DPR yang kata mereka gaji buta aja? Dari pada panas=panas demonstrasi mending jadi anggota DPR, adem dapet duit lagi. :-?

    Semasa muda mereka, rasanya nggak mungkin kalau langsung jadi DPR. Tapi nyatanya memang mantan demonstran reformasi zaman dulu itu memang ada yang sukses jadi anggota DPR. Nah, entahlah apakah para mantan demonstran itu adalah orang yang sama dengan para oknum DPR yang korup. :mrgreen: Kalau memang benar mereka orang yang sama, kayaknya kritik berdasarkan idealisme yang mereka luncurkan waktu itu menjadi gombalan yang terbawa arus kekuasaan. Yaah, kritik mereka waktu itu belum tentu salah sih, tapi kok mereka malah menjadi apa yang mereka kritik dulu. Kesannya ironis.

    …dan menurut Anda apa solusinya? Apa yang harus dilakukan mahasiswa selain berdemonstrasi?

    Buat saya sih demonstrasi nggak apa-apa, asalkan teratur dan jelas. Stigma yang ada belakangan ini kan demonstrasi kacau yang seperti diliput di media.

    Kalau selain berdemo, banyak kegiatan sosial lainnya kan? Misalnya bakti sosial.

    @Cabe Rawit:
    Djadi tudjuan ramai-ramai itoe oentoek menarik media massa sadja? :mrgreen:

    @masamune11:
    Saya khawatirnya kebebalan pemerintah itu justru timbul karena frekuensi yang begitu intens…

    Kalau soal sampah dan litter, kebiasaan tersebut kembali pada pola pikir dari masyarakat itu sendiri, no? ;)

    Maksud? Kebiasaan buang sampah itu sih kayaknya memang jadi ‘kultur’nya orang Indon. Tapi mbok ya kalo lagi menyuarakan opini gitu jangan meninggalkan ‘jejak’ to.

    @mamas86:
    Sama. :)

    @Mi Chan:
    Minta linknya dong. :P

    @Rukia:
    Kalau demonstrasi sudah kebawa-bawa anarkisme (dalam konotasi negatif), itu sih bukan demonstrasi lagi… tapi demonsterasi. :lol:

    @aggy:
    Hmm? Sampah dan global warming? :?

    @Unit 076:
    Memang lucu. :P Mudah-mudahan cuma guyon.

  24. 25 masamune11 Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 6:56

    Makanya… kebiasaan semacam itu kembali pada pola pikir masyarakat itu sendiri. Seperti melihat tata cara berkendaraan masyarakat, coba lihat tata cara mereka menangani sampah.

    Kembali pada pola pikir ;)

    *digetok*

  25. 26 fantasyforever Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 12:27

    Berani tapi kosong. Maybe. Saya juga terkadang berpikir begitu. Waktunya kita sekarang berbenah

    *berbenah diri*

  26. 27 Ordinary Kid Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 20:06

    *hanya menyampaikan opini.

    Pendapat Anda memang ada benarnya. Tapi, yang jadi pertanyaan siapa lagi yang akan menyuarakan aspirasi rakyat jika bukan mahasiswa?!

    Memang ini yang bisa dilakukan, karena mahasiswa bukan pembuat kebijakan. Mahasiswa hanyalah bagian dari rakyat yang setidaknya “melek” terhadap permasalahan bangsa.

    Apakah kita hanya bisa menyimpan uneg-uneg atau malah lebih bersikap introvert (egoistis)?
    Demonstrasi merupakan salah satu wujud menyuarakan aspirasi rakyat, terlepas dari tindakan anarkis -oknum- atau hanya ikut-ikutan atau “ditunggangi” oleh oknum.

    Apakah mengingatkan pemerintah adalah perbuatan yang salah -tidak esenis dan substantif-?
    Semakin tinggi intensitasnya, saya rasa akan membuat pemerintah merasa bahwa permasalahan yang disuarakan benar-benar menjadi public issue yang serius?
    Jadi, patahlah hukum Gossen yang Anda terapkan.

    Apalagi Anda sebagai mahasiswa berjaket k****g. Jaket yang Anda dapat memiliki kredibilitas yang sangat tinggi di mata pemerintah dan masyarakat.

    Sejujurnya sayapun termasuk selektif mengenai isu yang akan diperjuangkan dalam berdemo.
    Meskipun begitu saya tetap lebih menggunakan cerdas dan elegan, seperti menulis, dll. Namun, saya juga appreciate kepada mereka yang benar-benar memiliki niat yang tulus untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

  27. 28 hariadhi Kamis, 30 Oktober 2008 pukul 21:41

    Idealisme pribadi? Contohnya ada di bab terakhirnya buku Gie. Baca de.

  28. 29 syaorannatsume Jumat, 31 Oktober 2008 pukul 12:21

    Soal pamer jaket? Hmm, kurang tahu juga, ya? Berhubung saya belum menjadi mahasiswa. :mrgreen:

    Hmm, mungkin ini semacam persaingan? Supaya namanya terangkat dan universitasnya dianggap sebagai pemerhati rakyat, begitu? Jadi, jika suatu universitas tidak melakukan demonstrasi… mungkin dianggap tidak peduli keadaan negara?

    Euh, saya jadi teringat nasihat guru saya untuk jangan demo ketika menjadi mahasiswa kelak. Sebab, begitu melamar pekerjaan, tidak akan ada yang nanya ’sudah berapa kali ikut demo?’.
    Walau biasanya (kata guru saya), para mahasiswa yang ikut demonstrasi itu lebih dikenal dan mungkin… lebih pintar bersosialisasi dan bicara :?

  29. 30 Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji Jumat, 31 Oktober 2008 pukul 17:55

    haha, kalo dipikir2 emang sekarang demo, atau mungkin para pendemo, kurang perhatian sama situasi dunia, bisanya ikut2an..

    harga minyak dunia naik gara-gara badai, pemerintah disalahin….
    tabung gas susah karena ada yang “main”, pemerintah disalahin….

    Skalian aja nanti kita bikin demo menuntut pemerintah karena harga model kit mahal atau kenapa gundam 00 ga tayang :D

    bercanda…

    jadi… mereka berdemo karena percaya pada pemerintah, atau karena ingin memuaskan nafsu pribadi aja??

  30. 31 reikira Sabtu, 1 November 2008 pukul 10:58

    mungkin memang sudah jadi semacam ‘pembuktian diri”, gitu. kalo ga ikut ga keren, gitu.

    ada juga yang sekedar “pengen ngerasain”.

    soalnya kakak saya kebetulan juga seangkatan sama anda, di universitas yang sama dengan anda pula, habis demo sumpah pemuda kemaren, baru nyampe di stasiun, maghrib-maghrib plus hujan, langsung telepon ke rumah, bilang gini: liat gw cepetan! di berita! gw tadi paling depan! haduh, norak!

  31. 32 eMina Sabtu, 1 November 2008 pukul 16:16

    –xaliber–
    ditunggu apa, mas?

  32. 33 fajar Sabtu, 1 November 2008 pukul 17:39

    hmmm… saya sangat excited membaca tulisan sampean. Saya setuju dengan sampean kalo demo itu sekarang ibarat pengguguran kewajiban saja. sekarang sudah bukan jamannya demonstrasi yang bikin macet di jalan lagi. bahkan terkadang, mostly mereka yang ikut demo itu tidak tau benar duduk permasalahan isu yang didemokan. Lihat aja kelakuan anak-anak BEM UI jaman sekarang. Demo tentang LPG, ya diketawain lah.

    makanya sodara, ga usah lah ikutan demo. Sekarang era-nya udah beda. Era ilmu pengetahuan dan Modal !!

    salam,

  33. 35 Jabizri Senin, 3 November 2008 pukul 10:25

    hmm…

    Yang namanya Demonstrasi pasti nyerempet2 ama yang namanya Demokrasi.

    Democracy is two wolves and a lamb voting on what to have for lunch. Liberty is a well-armed lamb contesting the vote. -Benjamin Franklin

    Saya rasa demonstrasi memang merupakan hal yang terkadang harus dilakukan. Sekarang demonstrasi *terutama oleh mahasiswa* memang sudah merebak ke mana2. Keinginan mereka untuk didengar oleh pemerintah memang baik terutama mengenai nasib rakyat yang terlunta-lunta. Hanya saja, keinginan untuk pamer jaket sebaiknya dihilangkan. Seharusnya mahasiswa sebagai kaum muda lebih mementingkan kepentingan rakyat, dibanding ego pribadi (i.e. pamer jaket, males buang sampah, ngerusak dsb.).

    Tapi Anda bilang kalau memang esensinya sudah hilang, saya rasa belum. Masih banyak mahasiswa yang masih punya hati, masih punya rasa ingin membela kaum lemah. Lagipula, kalau soal pendapat; saya ada sedikit kutipan (seingat saya) dari salah satu puisi terkenal.

    Mahasiswa takut sama Dosen.
    Dosen takut sama Dekan.
    Dekan takut sama Rektor.
    Rektor takut sama Gubernur.
    Gubernut takut sama Presiden.
    Presiden takut sama Mahasiswa.

  34. 36 Mihael "D.B." Ellinsworth Selasa, 4 November 2008 pukul 20:42

    Benar, bukan? Tatkala orang menggunakan sepeda yang ditempeli dengan aspirasinya, demonstrasi seperti itu tidak akan ada esensinya. *Menilik postingku yang kena trackback*

    Jadi, yah..Pendapatku sedikit-banyak sudah tersalurkan lewat situ.

    @ Ordinary Kid

    Pendapat Anda memang ada benarnya. Tapi, yang jadi pertanyaan siapa lagi yang akan menyuarakan aspirasi rakyat jika bukan mahasiswa?!

    Ah, sesungguhnya demonstrasi itu bukan hanya milik mahasiswa saja, kok. Tapi, kenapa harus lewat jalur itu, kalau hanya untuk menyalurkan aspirasi rakyat? ;)

  35. 37 jepiza Selasa, 4 November 2008 pukul 21:38

    wah keren pak blognya…

  36. 38 ghani arasyid Kamis, 6 November 2008 pukul 10:40

    Alhamdulillah, saya ndak pernah tertarik ikut demo yg menentang pemerintah…

    Paling pol saya ikut aksi bagi2 bibit pohon & tanam mangrove…

    Save Our Earth euy! :D

  37. 39 Xaliber von Reginhild Kamis, 6 November 2008 pukul 15:13

    Sebelumnya, saya mau minta maaf kalau reply yang lambat dan belum bisa berkunjung balik ke blog-blog Anda…

    @masamune11:
    Saya masih belum nyambung antara pola pikir dan membuang sampah. Bukan kebiasaan? :?

    @fantasyforever:
    Mari, mari. :)

    @Ordinary Kid:

    Tapi, yang jadi pertanyaan siapa lagi yang akan menyuarakan aspirasi rakyat jika bukan mahasiswa?!

    Yang juga jadi saya pertanyakan, apakah itu murni untuk “aspirasi rakyat”? Saya khawatir ada tendensi politis di mana penyuaraan aspirasi rakyat itu ditunggangi kepentingan dari mahasiswa kampus itu sendiri.

    Mengingatkan pemerintah memang bukan tindakan yang salah… tapi masih efektif atau ndak? Itu juga yang jadi pertanyaan. Agaknya saya sedikit banyak setuju sama poin dari mas Catshade, repetisi demonstrasi tampaknya lebih efektif dalam menghadapi rezim pemerintah yang represif. Para demonstran juga — kalau memang mau bicara kepentingan pribadi — bisa mendapat kesan yang lebih “heroik” jika misalnya mati menentang “tirani” yang berkuasa; lebih positif (buat mereka) daripada memunculkan pandangan buruk dari rakyat yang aspirasinya disuarakan.

    @hariadhi:
    Wah, saya belum baca. Ada hubungannya sama idealisme individu?

    @syaorannatsume:
    Entah ya… saya sih kurang suka kalau demonstrasi itu ada tujuan terselubungnya (mengangkat nama pihak tertentu, misalnya).

    @Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji:
    Mari kita tanyakan. :P

    @reikira:
    Oh, memang, rasanya alasan itu lumayan umum di sekitar saya juga. Btw, kakak Anda fakultas/jurusan mana?

    @eMina:

    Mr Martil

    aksi/demo kelebihannya -semestinya sih-lebih bisa menyuarakan aspirasi dengan lebih menggentarkan, ini saya dapat dari belajar manajemen aksi, hehe..tapi udah pda lupa juga ilmunya tuh..ta cari deh, mudah2an masih ada.

    Itu. :P

    @Muda Bentara:
    Demokrasi?

    Kalau mau “bersuara” ya silakan saja, tapi tanggung sendiri resikonya kalau ternyata tidak berkualitas dan mendapat tanggapan balik seperti ini. :P

    @Jabizri:
    Memang, harapan saya kalau memang beneran mau menyuarakan aspirasi rakyat ya dilakuin bener-bener (ada alasan logis, dan memang bukan buat kepentingan mereka). Bukan buat pamer-pameran.

    Btw, soal puisinya, itu masih berlaku nggak saat ini? :P

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Ya, ada banyak cara dan banyak orang untuk menyalurkan opini. Makanya saya agak kurang demen narsisisme-eksklusivitas mahasiswa dalam hal ini. :P

    @jepiza:
    Terima kasih. :) Tapi saya masih bocah (belum “pak”). :P

    @ghani arasyid:
    Saya juga belum pernah. :)

  38. 40 masamune11 Selasa, 11 November 2008 pukul 11:23

    Membuang sampah adalah kebiasaan. Kebiasaan membuang sampah memberikan dampak pemikiran malas dan tidak teratur. Toh, kalau mau buang sampah, tinggal seenaknya taruh di mana saja lah.

    Kalau hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, bukankah hal ini juga berdampak pada pola pikir seperti ‘malas membersihkan kamar’, ‘malas berlalu-lintas dengan teratur’, dan ‘malas menjadi teratur’.

    Contohnya sudah banyak koq ;)

    *kabur*

  39. 41 :3 Sabtu, 15 November 2008 pukul 2:15

    Saat Kintsuna men jadikan rakyat sebagai musuhnya, saat itulah kekalahannya ditentukan.

    Jendral yang baik tidak akan berperang dengan mengorbankan rakyat.

    Intinya saya setuju masalah sampah. Yang ada bukan hanya pemerintah yang kebal dengan demo, bisa jadi rakyat justru akan berdemo untuk menolak demo mahasiswa. Kalau sudah sampai tahap itu, hancur sudah.

    demo itu perlu saya rasa. Karena demo itu saat ini bisa dibilang sebagai salah satu perpanjangan bacot rakyat, setelah para dewan yang seharusnya jadi perpanjangan bacot rakyat memiliki kepentingan-kepentingan sendiri untuk memenuhi bacot mereka.

    Bagaimana bila, pemerintah sadar akan kerugian stereotipe utama demo kemudian agar tidak terjadi hal itu, mereka terpikir untuk mengeluarkan kebijakan yang ramah rakyat sehingga membungkam demo. OTOH, rakyat pun tentu tidak ingin kena imbas dari stereotipe tadi juga ikut merongrong peerintah melakukan yang baik baik.

    Eh lho ? intinya saya ngantuk :P

  40. 42 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 November 2008 pukul 2:24

    @masamune11:
    Hoh, ya, bisa begitu juga sih. :? Karena itu janganlah bermalas-malas. :P

    @:3:

    Yang ada bukan hanya pemerintah yang kebal dengan demo, bisa jadi rakyat justru akan berdemo untuk menolak demo mahasiswa. Kalau sudah sampai tahap itu, hancur sudah.

    Hoho! Sejujurnya, saya agak penasaran sampai datangnya saat itu. :P

    Tentu, demo itu perlu, asal nggak ngacau. Di lain pihak, kebijakan yang menyenangkan rakyat belum tentu menguntungkan negara. Pemerintah juga berpikir supaya bisa menyenangkan kedua pihak, walo pada akhirnya mungkin nggak semua kegaet. Karena itu mahasiswa juga jangan asal demo. Yaa, sama-sama mikir lah. ;)

  41. 43 :3 Sabtu, 15 November 2008 pukul 2:32

    saya kepikirannya juga gitu. Kalo semua kebijakan yang menyenangkan rakyat dilakukan, negara bisa bangkrut dan itu juga sudah bisa dibilang hancur kan ?

    yang saya heran, kenapa para mahasiswa masih menuntuk kebijakan yang menyenangkan itu ?

    bahkan saya yang orang abal-abal dan saat ini lagi ngantuk aja bisa berpikir demikian, kenapa para mahasiswa yang so called maha dan terpelajar itu nggak bisa mikir sampai kesana ?

  42. 44 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 November 2008 pukul 2:45

    Tentunya ngga semua mahasiswa begitu, tapi bagi sebagian yang begitu…

    Menurut pemikiran sekilas saya, mungkin ini ada kaitannya dengan embel-embel “suara rakyat”. Rakyat di mana posisinya sengsara membuat mahasiswa sebagai “agen perubahan” merasa ada kewajiban untuk membebaskan kesengsaraan rakyat itu. Jadi…… :?

    Ah, tapi itu pemikiran sekilas aja. :P

  43. 45 :3 Sabtu, 15 November 2008 pukul 2:51

    sepertinya yang hilang bukan hanya esensi demonstrasi, kalo saya lihat esensi berusaha juga hilang. Berusaha disini maksud saya mengacu pada berusaha dahulu baru senang kemudian.

    Suara rakyat yang terlalu ingin kesejahteraan rakyat pada saat ini pastinya tidak terlalu berpikir bahwa kesengsaraan rakyat itu hanya digeser dan bertumpuk di masa yang akan datang.

    dulu saya pernah nulis tentang ini deh >>>> perubahan itu termasuk berubah menjadi lebih buruk sehingga kadang stagnansi juga diperlukan. Yang manapun itu, adalah tugas kita untuk merubahnya menjadi lebih baik.

    owkey, mulai melantur.

  44. 46 Bayu Angin Jumat, 11 September 2009 pukul 10:49

    esensi dari aksi juga merupakan tolok ukur keberhasilan suatu aksi…tanpa adanya masalah yang diangkat, akan membuat aksi demonstrasi menjadi hambar…(tapi alasan itu juga jangan dibuat-buat)

    jadi ikutlah perkembangan jaman dengan metode aksi yang lebih kreatif…(mogok masal bayar pajak kek..atau lainnya…), yang penting masif, tenag, tidak anarkis tapi langsung ke jantung sasaran dari pihak yang didemonstrasi (kebutuhan vital organisasi tersebut)…jadi gak usah pemr almamater dan teriak-teriak ampe serak…cukup demonstrasi “silent but deadly”…


  1. 1 Mahasiswa « tehsore|Malaikat Realitas Lacak balik pada Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 5:14
  2. 2 Berisik! « tehsore|Malaikat Realitas Lacak balik pada Senin, 15 Desember 2008 pukul 9:39
  3. 3 Demonstrasi : Menarik simpati atau antipati? « Adriano Minami Simple World Lacak balik pada Selasa, 3 Februari 2009 pukul 20:19

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,925 soldiers