Sekelumit Hal Penting yang Tidak Penting

Beberapa waktu lalu, saya sempat meluangkan waktu untuk berjalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta Utara. Memang, dibanding pusat perbelanjaan lain yang banyak jumlahnya di ibukota ini, pusat perbelanjaan tersebut termasuk yang paling sedikit setahun dua kali bakal saya datangi.

Ketika sedang berputar-putar di tempat itu, sekonyong-konyong saya melihat sepasang muda-mudi berjalan berdempetan satu sama lain. Bukan hal aneh sebenarnya, terutama di pusat perbelanjaan macam ini, di Jakarta pula. Tapi yang bikin saya agak terperanjat, ketika tiba-tiba keduanya menempelkan bibir masing-masing sambil berjalan melewati saya. Sebagai orang normal yang mengalami kekagetan, saya menengokkan kepala ke belakang untuk memastikan apakah penglihatan saya sedang menipu mata, tapi ternyata tidak. Keduanya masih melakukan aktivitas yang sama sampai selang beberapa detik.

Tadinya saya kira hanya saya seorang yang mengalami kekagetan semacam itu, tapi untungnya ada bapak-bapak yang menemani saya dalam hal ini. Saya sempat melihat si bapak menatap pasangan muda-mudi yang mungkin sedang dimabuk cinta itu agak lebih lama dibanding saya sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sebenarnya, pemandangan semacam itu bisa dibilang bukan pemandangan yang aneh. Justru saya heran apakah masih ada pasangan yang tampaknya sedang berpacaran tanpa atribut keagamaan yang tak pernah, minimal, berpelukan. :P Meskipun saya tidak akan sekaget seperti yang terjadi saat di pusat perbelanjaan jika melihat hal serupa dari balik layar kaca, tapi — barangkali karena kekuperan saya — pemandangan seperti yang dipertunjukan pasangan di muka umum itu masih agak asing bagi saya kalau melihat dengan mata kepala sendiri.

Tentunya saya tidak sedang bicara benar dan salah disini. Kalau mau meniru kalimat yang sudah sering dikatakan orang belakangan ini, “kebenaran itu relatif”. Ya jelas, kebenaran memang relatif, tapi ya relatif berdasarkan nilai dan norma yang ada. Anda mau bicara kalau korupsi gaya Robin Hood untuk disumbangkan ke rakyat miskin itu belum tentu salah ke aparat hukum? Atau berkata bahwa bekerjasama dan menyontek berjamaah ketika ujian untuk membantu teman yang tidak mampu itu sah-sah saja ke guru Anda? Bisa-bisa dikemplang.

***

Bicara soal beginian, saya jadi ingat ucapan guru SMA saya dulu. Tidak relevan dengan norma ataupun peristiwa mengejutkan yang saya alami, memang, tapi nyambung-nyambungnya masih ke soal romansa-romansa juga. Beliau pernah berucap bahwa hubungan seperti pacaran itu bukan masalah bagaimana mempertahankan hubungan itu agar berlangsung lama, tapi masalah beradaptasi. Maksudnya, proses semacam itu sebenarnya persoalan bagaimana saya (atau Anda) sebagai sesosok manusia menyesuaikan diri dengan orang lain.

Sebagai makhluk yang hidup bersama orang lain, tentunya saya (atau Anda) tidak bisa egois. Mesti menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan juga; mesti sopan. Di internet saja dikenal yang namanya netiquette, jadi nggak tepat juga itu kalau dibilang berkomentar bisa seenak jidatmu. Nah, apalagi dengan seseorang yang barangkali akan menemani hidup sampai hanya kematian yang bisa memisahkan.

Dan begitu pun proses yang dinamakan dengan pacaran, kalau menurut guru saya. Menurut beliau, dengan proses seperti itu seseorang jadi belajar untuk mengenali orang lain dan mencoba untuk menyesuaikan diri agar tidak terlibat masalah dengannya. Supaya langgeng, kasarnya. Kalau ternyata gagal, dengan kata lain, hubungannya menemui akhir? Ya wajar. Berarti dia belum mampu menyesuaikan diri dengan orang lain. Namanya juga proses pembelajaran. Dalam proses itu kemudian dia bisa memilih, apakah selanjutnya ingin mengadaptasikan diri dengan karakteristik orang yang berbeda, atau ingin menyempurnakan dengan karakteristik yang sama/serupa.

Oleh sebab itu, guru saya berpendapat, orang yang senang berganti-ganti pasangan belum tentu playboy atau playgirl. Bisa jadi, orang itu hanya belum mampu beradaptasi dengan orang lain secara baik dan sedang dalam proses belajar untuk itu. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau orang tersebut memang beneran playboy yang merasa kegantengan. :roll: :P

Itu kalau menurut guru SMA saya.

***

Sementara saya mendapat satu hal yang agak unik di SMA, ketika kuliah saya juga mendapat hal menarik yang lain lagi. Tentunya kalimat tentang politik ini sudah tak asing lagi bagi telinga sebagian besar orang: “tidak ada kawan maupun lawan abadi, namun yang ada hanyalah kepentingan pribadi”. Sebuah kalimat (atau prinsip?) yang agak egoistis, saya kira, tapi barangkali kehidupan politik memberi gambaran sederhana seperti itu. Macamnya kutu loncat dalam partai politik.

Di sebuah mata kuliah, dosen saya pernah memberi sebuah guyon menyangkut jurusan tempat saya bernaung dan mata kuliah yang sedang beliau ajarkan. Katanya, jika seorang sarjana lulusan Ilmu Politik masuk ke perusahaan-perusahaan, bisa jadi orang yang berbahaya. Karena prinsip yang dianutnya itu prinsip politik egoistis seperti yang sudah diutarakan di atas, jadi bukan tidak mungkin kalau suatu waktu sang lulusan Ilmu Politik membelot ke perusahaan lain demi kepentingan pribadi.

Barangkali guyonan itu memang murni dengan maksud guyon saja. Tapi bisa jadi ada benarnya juga, meskipun mungkin menurut saya aplikasinya bisa lebih luas. :?

Dari situ, saya jadi kepikiran. Apakah segala tindakan yang dilakukan setiap orang itu juga dilandasi motif politis? Sebelumnya tentu mesti dimengerti dulu apa artian dari politik itu sendiri. Dosen saya (berbeda dengan dosen yang saya sebut di atas) berkata tentang bermacam-macam hal menyoal kekuasaan, wewenang, dan lain sebagainya untuk pengertian apa itu politik. Tapi saya rasa akan lebih baik jika mengambil sumber dari KBBI saja.

po·li·tik n 1 (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (spt tt sistem pemerintahan, dasar pemerintahan): bersekolah di akademi –; 2 segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb) mengenai pemerintahan negara atau thd negara lain: – dl dan luar negeri; kedua negara itu bekerja sama dl bidang — , ekonomi, dan kebudayaan; partai –; organisasi –; 3 cara bertindak (dl menghadapi atau menangani suatu masalah); kebijaksanaan: – dagang; — bahasa nasional;

Dalam pengertian kedua dan ketiga, rasanya politik itu bisa diaplikasikan tak hanya untuk persoalan negara, tapi juga individu. Dan itu dia poin saya.

Sekali lagi saya mendapat inspirasi dari guru SMA saya — guru yang lain lagi. Beliau, ketika sedang membahas hubungan politik kalau tidak salah, pernah bertanya kepada saya, “Apa tujuanmu duduk sebangku dengan si D?” Saat ditanya seperti itu, pikiran pendek saya mengatakan: karena saya adalah teman dari si D, dan saya sudah kenal dia sejak SD. Dan pada waktu itu jawaban itulah yang saya berikan, membuat guru saya mengulang pertanyaan yang sama ke teman yang lain. Teman tersebut kemudian menjawab bahwa dia duduk dengan si V supaya si V bisa membantunya belajar.

Setelah mendapat jawaban yang tampaknya memuaskan beliau, beliau kemudian melanjutkan materi pelajaran dengan mengatakan bahwa motif politis bisa timbul dari hal sederhana semacam itu. Suatu hal yang bagi saya cukup mencerahkan.

Atas dasar itu, bisakah dikatakan bahwa setiap tindakan manusia sering dilandasi oleh motif politis — seperti yang saya tanyakan sebelumnya di atas?

Saya pernah membaca konsep yang lumayan menarik yang pernah dikemukakan oleh Martin Heidegger, seorang filsuf Jerman. Ia membahas tentang instrumentalitas dunia, di mana ia membagi segala sesuatu di dunia ini berdasarkan dua konsep: sebagai Zuhandenes dan Vorhandenes. Zuhandenes secara kasar dapat diartikan sebagai instrumen dan/atau being-ready-at-hand, sementara Vorhandenes dapat diartikan sebagai sesuatu yang terdapat di depan muka. Untuk saat ini, mari kesampingkan Vorhandenes dan fokus terhadap Zuhandenes dulu. :)

Konsep Zuhandenes berkata bahwa setiap benda yang ada di dunia adalah sebuah alat; dalam artian, alat yang mengajak seseorang (sebagai subyek) untuk mengerjakan sesuatu dengannya (sebagai obyek). Maksudnya, setiap benda memiliki sebuah fungsi “untuk”. Apakah itu sebuah palu untuk memaku, apakah itu sebuah gitar untuk dimainkan, sebuah rumah untuk ditinggali, sebuah pohon untuk dijadikan bahan baku meja, dan sebagainya. Menurut Heidegger, Zuhandenes adalah sebuah potensi yang semestinya dimiliki sebuah benda, bahwa benda di dunia sebagai alat; sementara untuk mendapatkan fungsinya sebagai benda yang hanya dilihat saja, tak berfungsi — Vorhandenes — mesti melalui proses abstraksi terlebih dahulu.

Nah, itu sekelibat konsep dari Heidegger, yang kiranya biarpun tak saya jabarkan secara keseluruhan, masih memiliki esensi sama dengan apa yang mau saya maksudkan setelah ini.

Mari lirik kembali pertanyaan yang saya ajukan di atas; mengenai motif politis. Jika seseorang memiliki motif politis dalam tindakannya dengan orang lain, maka, secara kasar, bisakah dikatakan bahwa saat itu sang orang lain menjadi Zuhandenes bagi si orang yang memiliki motif politis? Maksudnya begini, saya tidak mau bilang bahwa orang lain adalah alat bagi seseorang. Kesannya kasar sekali, seperti barang saja. :| Maksud saya, konsep Zuhandenes itu jadi terkesan senada dengan konsep motif politis yang sedang saya bahas.

Saya angkat kembali pertanyaan yang sebunyi dengan yang diajukan oleh guru SMA saya. Mengapa Anda berteman dengan rekan kerja Anda, si Andi, misalnya? Bisa jadi karena ia adalah rekan kerja, Anda ingin menciptakan suasana yang kondusif dalam bekerja. Dengan berteman dengan si Andi, Anda berharap suasana jadi lebih menyenangkan dan tidak menciptakan kesulitan yang tidak perlu sewaktu bekerja. Rasanya itu yang bisa disebut Andi sebagai Zuhandenes Anda dalam memenuhi motif politis dalam bekerja.

Dan pertanyaan-pertanyaan lain mungkin bisa diajukan. Mengapa Anda membuang sampah pada tempatnya? Mengapa Anda belajar bermain gitar? Mengapa Anda bermain Plurk? Mengapa Anda ingin menjadi programmer? Mengapa Anda ingin mengubah dunia?

Atau… mengapa Anda ingin berpacaran dengan si P? :P

Nah, kembali ke masalah romansa-romansa tadi, saya rasa hal seperti ini pun juga bisa memiliki motif politis. Tentu saja ada ratusan alasan yang bisa dikemukakan oleh orang, tapi salah satu landasan dasarnya adalah yang seperti yang guru SMA saya katakan mengenai proses pacaran.

Bicara soal romansa dan politik, yang terbayang di benak saya adalah perkawinan politik. Seperti yang terjadi pada sang putri Falena dan anak bangsawan Godwin pada game Suikoden V. :P Disitu, sang putri yang relatif masih muda (10 tahun!) terpaksa kawin dengan mas-mas berumur 24 tahun karena alasan politis. Yah, itu pun sebenarnya karena manipulasi, tapi itu di luar topik bahasan kali ini.

Di luar masalah proses adaptasi seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, kiranya saya juga sempat menemukan motif lain. Ada yang bermaksud bukan sekedar untuk mengadaptasi diri, tapi untuk membawa si pasangan ke taraf kehidupan yang lebih baik. Pernah dengar tentang preman yang kemudian jadi “insyaf” setelah punya istri? Ya, yang semacam itu. :mrgreen: Dengan adanya orang lain yang bisa si pemengaruh itu pengaruhi, dalam hal ini si istri yang memengaruhi si suami yang mantan preman, disitulah timbul efek politis. Saya pun pernah mendengar tentang seorang dari teman saya dengan tujuan berpacaran agar bisa mengubah pasangannya yang malas belajar.

Dalam konteks yang lebih luas lagi, saya juga sempat menemukan hal yang bagi saya baru. Tentunya Anda sekalian tahu siapakah Bung Karno. Beliau adalah salah satu pendiri negara Indonesia ini, yang di sisi lain, agaknya juga cukup terkenal karena jumlah istri yang dimilikinya — masalah serupa tapi tak sama yang juga melanda salah satu pendakwah Islam yang cukup populer: AA Gym.

Namun, ternyata, jumlah istri yang dimiliki oleh Bung Karno bukan hanya karena hasrat semata. Bukan juga karena alasan-alasan relijius. Dari sebuah buku tentang Bung Karno yang dibaca oleh teman saya, dikatakan bahwa istri-istri Bung Karno datang dari latar belakang kultural yang berbeda-beda. Dipilih melalui gerakan tangan Bung Karno ketika berpidato, para istri (dan calon istri) beliau kemudian akan dipanggil ke balik layar oleh salah satu ajudannya seusai pidato. Ada apa gerangan Bung Karno sampai beristri banyak, latar belakangnya beda-beda pula? Apakah beliau juga ingin beradaptasi seperti yang dikatakan oleh guru saya?

Barangkali iya, tapi dalam konteks yang berbeda. Menurut buku tersebut, alasan Bung Karno berpoligami adalah agar bisa memahami karakteristik orang dari budaya Indonesia yang multikultural. Dari pemahaman secara langsung tersebut — melalui perkenalan dan interaksi sebagai suami-istri — beliau berharap dapat memahami motivasi kultural dan kemudian menggunakannya untuk menyatukan dan memajukan bangsa.

Sebuah motif yang politis sekali, bukan? :? Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh teman saya seusai membaca buku tersebut.

***

Akhir kata, paragraf ini kurang tepat kalau disebut kesimpulan, mungkin lebih tepat disebut penutup. Jadi agaknya metode fast-reading atas-bawah agak susah untuk diterapkan. :P

Kembali pertanyaan yang sama saya ajukan, apakah segala tindakan yang dilakukan setiap orang itu dilandasi motif politis? Meskipun saya sudah memaparkan beberapa hal terkait di atas, tapi kiranya Anda punya opini, tentunya akan diterima. :D

Dan semoga entri ini tidak terkesan terlalu ngarol-ngidul gara-gara adiksi terhadap game-game tertentu.

30 Tanggapan ke “Sekelumit Hal Penting yang Tidak Penting”


  1. 1 Xaliber von Reginhild Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 16:31

    Duh, sebenarnya tadi mau memperluas bahasan menyoal Hukum Gossen dan tentang status Married di Prenster, tapi malah jadi begini. :|

    Pertamax dulu deh.

    *bingung*

  2. 2 mimi Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 17:09

    Astagaaa…. Dari PDA, nyambung ke guru sma, eh malah nyambung lg ke politik. *geleng2 kepala* Otak mu… ugh

  3. 3 Catshade Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 17:20

    *agak bingung*

    Euh…yang saya tangkap, deep down inside kita semua punya alasan yang egois (atau “politis”, istilah anda) dalam berhubungan sosial, bahkan untuk tipe-tipe hubungan yang ’seharusnya’ relatif altruis dan tanpa-pamrih seperti cinta, hormat pada ortu, atau patriotisme pada negara.

    Begitu bukan?

  4. 4 Xaliber von Reginhild Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 17:22

    @mimi:
    PDA itu apa ya? :?

    @Catshade:
    Err, ya, semacam itu. Meskipun sebenarnya kebanyakan poin juga sih. :P Bagaimana kalau dilihat secara psikologis?

  5. 5 mimi Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 17:24

    Public Display Action…. Gyahahahah :razz:

  6. 6 Xaliber von Reginhild Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 17:26

    Ah, itu to… :P *catat di daftar istilah*

    EDIT: Hore, kelimaribux.

  7. 7 Nugraha Fadhil Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 17:34

    Saya gak fasrid.
    Tapi masi bingung juga yang masalah politik itu -_-a
    kalau masalah pacaran IMO jaman sekarang kebanyakan dasarnya ya nafsu.
    Wah kalau sampe ciuman di ruang publik IMO tu kebangetan deh. Harusnya cari tempat sepi aja atau ke warnet, ato skalian aja cari hotel! jangan di tempat umum kayak gitu. :lol:
    BTW saya udah tobat dari pacaran dan segala ritual penghasil dosanya :mrgreen:
    bagaimana denganmu sobat? Belum ingin mencoba pacaran kah?
    Lha itu status merid FS di posting aja, IMO sisi lucu FS slalu asik untuk dibahas, wkwkwk :lol:

  8. 8 hariadhi Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 18:03

    hm… gw ga bisa sampe selesai bacanya, lagi nyambi kerja nih.

    Kalau secara etiket, di transportasi umum seperti bus sebaiknya kita tidak menatap orang lain secara individu. Seharusnya pandangan dilayangkan ke luar, biarpun ada 2 orang lagi hot-hotnya making out. Soalnya kendaraan seperti itu spacenya terbatas, menatap orang lain berarti kita mengganggu ruang pribadi mereka yang sudah sempit.

    Itu yang gw baca di buku soal gesture lho ya…

    Jadi mungkin argumen untuk masalah beginian lebih ke masalah rasa malu atau tidak malu, bukan etiket.

  9. 9 Karina Nurunnisa Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 18:25

    ah jadi inget dulu tante saya begitu lulus smp langsung dinikahin sama om saya yang udah 30an waktu itu..
    motif politis? ah saya gak ngerti.. tapi yang pasti makin kesini nenek saya itu makin aneh pemikirannya..
    *lohkokcurhat?*

  10. 10 p4ndu_454kura® Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 18:53

    Sebenarnya pernikahan politik nggak cuman ada di Falena, lho. Di Highland ada seorang bocah kampung dari negara tetangga yang menikahi putri raja Highland demi mendapatkan tahta raja. :P

    [OOT]
    Uh, komen ke-5000 yang sudah saya tunggu sejak lama malah kerebut. Sial. :|
    *nunggu komen ke-7500*
    [/OOT]

  11. 11 fantasyforever Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 18:53

    Wah.. Panjang betul.. Ndak kuat bacanya. :mrgreen:

    Hmm.. Rasanya kejadian seperti itu dikarenakan kurangnya rasa malu pada dunia masyarakat kita. Entah kenapa, tapi fenomena ini sudah biasa di kalangan orang-orang. Termasuk saya yang ada di Surabaya juga gitu.

    Yang paragraf agak bawah, agak ga mudeng saya. hehehehe. Soalnya puanjangggggggggggggggggggggggggggggg bangetz..

    Yang poligame alasan relijius? Hmm.. Walaupun begitu, tetap ndak ada manusia satupun yang suka di duakan bukan? =P

  12. 12 aggy Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 19:29

    ehm, titah tuan sudah hamba laksanakan,

    ada beberapa pertanyaan dan pernyataan:
    1. P ITU SIAPA??
    2. saya rasa ciuman di tempat umum mulai wajar kayanyah mengingat di daerah sayah (k**ang) sering terliat
    3. itu marsono ya?
    4. D itu danu ya?
    5. status married di prenster? watduyumin brader? yg pacaran tp nulisnya married? itumah merekanya yang kaga ngerti bhs inggris hehe peace,no offense

  13. 13 Xaliber von Reginhild Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 19:42

    @Nugraha Fadil | fantasyforever:
    Intinya sih seperti yang ditulis mas Catshade di atas. ^^

    BTW saya udah tobat dari pacaran dan segala ritual penghasil dosanya
    bagaimana denganmu sobat? Belum ingin mencoba pacaran kah?

    Time will tell, lah. :P

    Yang poligame alasan relijius? Hmm.. Walaupun begitu, tetap ndak ada manusia satupun yang suka di duakan bukan? =P

    Tampaknya begitu… tapi saya juga kurang mendalami kasusnya Bung Karno. Kalau alasan relijius sih seringkali buat kedok, IMO. :P

    @hariadhi:
    Ndak mesti dibaca sekarang kok. ^^; Kebetulan saya juga melihat mereka waktu mereka sambil lalu — dengan kata lain, dari belakangnya mereka. Soalnya ngga enak juga kalau ditatapin dari depan.

    @Karina Nurunnisa:
    Wah, jarak umur yang lumayan jauh… motifnya? :? :P

    @p4ndu_454kura®:
    Sudah saya duga akan terpancing Suikoden. :P

    *dicast The Shredding*

    Euh, siapa bocah itu? Saya kok lupa ya?

    @aggy:
    1. P adalah orang. Temannya D, V, si Fulan, dan lain-lainnya. :P
    2. Wajar secara norma apa wajar ditemui?
    3. Bukan. Pak Marsono kurang berperan disini, sayangnya.
    4. D adalah orang. Temannya P, V, si Fulan, dan lain-lainnya. :P
    5. Lupakan. :-j

  14. 14 aggy Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 20:08

    wajar ditemui. terutama di kafe kafe yg ada live musicnya. wong saya yg nyanyi tentang ciyum ciyuman aja sampe eneg kalo ada pasangan kekasih ngerequest lagu trus bermesra mesraan sementara saya dan anda terpisah kemang-depok *oot*

  15. 15 Nugraha Fadhil Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 20:43

    IMO poligami lebih baik daripada zina dimana-mana :D . Gak banget kan kalo ada yg koar2 anti poligami, tapi dirinya suka zina.

  16. 16 hariadhi Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 22:12

    wakakakaka. pantas gw salah komentar. Emang sepeed riding hasilnya bisa parah banget yak.

    Motif politis? Ehem… Secara ideally setiap orang punya tujuan saat melakukan tindakan apapun. Tapi ada juga yang didasarkan naluri, tanpa ada pertimbangan. Yang tidak punya banyak alasan inilah yang menurut gw menghasilkan banyak macam kebudayaan. Soalnya tindakan jenis yang pertama akan punah begitu alasan untuk melakukannya tidak ada lagi. Sementara tindakan jenis kedua akan tetap lestari walaupun tidak punya tujuan.

    Udah baca buku Virus of The Mind? Mungkin bisa nyambung sama tulisan lu ini.

  17. 17 Xaliber von Reginhild Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 22:17

    @aggy:
    Haiyah. :|

    @Nugraha Fadhil:
    Zina dalam artian bersetubuh dengan yang bukan pasangannya? :? Dalam konteks kesehatan dan legalitas mungkin poligami lebih baik daripada zina, bagaimana pun IMO biarpun orang itu suka zina tapi kalau dia bicara anti-poligami tak akan mengubah argumennya, kan? :D Toh yang dilihat itu pendapatnya, bukan orangnya. :mrgreen:

  18. 18 Xaliber von Reginhild Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 22:21

    @hariadhi:
    Hmm… tindakan tanpa tujuan. Menarik. Tindakan seperti apa itu misalnya? :?

    Virus of the Mind? Kebetulan, belum. :P

  19. 20 p4ndu_454kura® Sabtu, 11 Oktober 2008 pukul 4:02


    Eh, lupa, si bocah juga berasal dari Hìghland, cuma tempat tinggalnya di pinggiran. :P

  20. 21 agunk agriza Sabtu, 11 Oktober 2008 pukul 11:39

    wah? ciuman?
    gw blum pernah liat kalo ciuman di mal2 smbil jalan lg ..

    sering liat di cafe sama di taman kota .. :lol:

  21. 22 jensen99 Sabtu, 11 Oktober 2008 pukul 22:38

    xal, ini bukan sekelumit namanya. Ini segerobak…!
    1) soal ciuman itu; Selamat, anda telah menjadi saksi cinta mereka!
    2) soal hubungan; sy sepakat dengan guru SMU-mu. Tidak terlalu masalah dengan putus-ganti-putus-ganti pacar, yang penting one partner at a time; playboy/playgirl itu kalo punya dua partner atau lebih pada saat yang bersamaan. IMO…
    3) soal politik… itu kalo tindakan disadari akan memberi hasil2 yang menguntungkan diri sendiri, sesederhana apapun… :P
    4) euh, bahas istri bung Karno? Konon yang ada motif politiknya cuma Naoko Nemoto (Dewi Soekarno) saja. Yg lainnya itu motifnya…. playboy? :mrgreen:

  22. 23 syaorannatsume Minggu, 12 Oktober 2008 pukul 16:02

    Saya juga pernah lihat PDA, tapi di Bali. Itu melanggar norma juga, kan? :?

    Hmm… saya pernah dengar tentang istri Soekarno, berhubung ibu Fatmawati berasal dari Bengkulu. Ga tahu juga betul atau salahnya.
    Katanya, ibu Fatmawati dinikahi dengan Soekarno karena awalnya ibu Fatmawati adalah anak asuh Soekarno ketika tinggal di Bengkulu. Setelah Inggit pergi ke Jakarta dan meninggalkan Soekarno di Bengkulu, barulah Soekarno menikah dengan Fatmawati. Jadi mungkin, cuman ibu Fatmawati yang dinikahi tanpa motif politik, hanya motif ’suka’. CMIIW.

    orang yang senang berganti-ganti pasangan belum tentu playboy atau playgirl. Bisa jadi, orang itu hanya belum mampu beradaptasi dengan orang lain secara baik dan sedang dalam proses belajar untuk itu.

    Berarti pacaran hanya permainan? :mrgreen:
    Atau hanya sekedar coba-coba :roll:

  23. 24 t4rum4 Senin, 13 Oktober 2008 pukul 5:59

    waduh.. gak dibaca nih postingnya.. aq mo baca yang penting2 ajah…

  24. 25 iing Senin, 13 Oktober 2008 pukul 20:41

    hahahaha. ci taruma jijik gitu ngomentarnya. “hanya ingin baca yang penting-penting aja”. wkwkwk. parah lu. menghina yang punya ni blog.

    ehem, saya cuma mau menyampaikan pendapat saya bahwa, “Semua orang bergerak berdasakan kepentingan dan untung rugi”. Saya kira hal yang akan kamu lakukan setelah beberapa tahun lagi menjalani kehidupan ini adalah… bersikap apatis. Kalau boleh saya tanya, apa yang membuat anda menengok kepada pasangan muda mudi itu? Punya kepentingan apakah anda? Apakah anda rasa ada yang salah? Nah, sebagai penutup… 1 orang normal di antara 9 orang gila hanya akan disebut orang gila. Jadi, siap-siaplah mengambil tindakan apatis, yang, saya rasa, akan anda ambil dalam beberapa tahun mendatang.

    Hmm, mungkin anda berpikir darimana saya bisa yakin bahwa anda akan mencapai sikap apatis dalam beberapa tahun ke depan. Menurut pendapat saya, 1. Anda akan sering melihat adegan itu. 2. anda akan menyadari bahwa anda tidak punya kepentingan terhadap mereka. 3. anda akan menyadari bahwa orang lain pun secara mayoritas tidak menanggapi yang anda pikirkan. 4. anda akan berpikir orang lain tidak punya validitas akan kebenaran terhadap anda. 5. anda mulai berpikir apa yang anda pilih dan lakukan itu paling benar, baik dari pemikiran maupun anggapan. 6. etc etc… dan terakhir.. anda akan memasuki keadaan apatis skeptis secara mutlak dan absolut jika anda tidak berhenti berpikir dari sekarang dengan membawa pengetahuan2 text book yang notabene menjelaskan segala hal kepada anda, sehingga menutup pengetahuan penerimaan anda tentang kehidupan secara nyata.

    Pesan saya, daripada ngurusin blog. lebih baik get a life dulu deh, cari pacar gih. hha. no offense. saya lebih menginginkan chat di YM dengan anda. tapi , time will tell lah.

  25. 26 t4rum4 Selasa, 14 Oktober 2008 pukul 15:25

    jangan pernah percaya tuh yang namanya iing… namanya juga dah kampring tuh.. wakakakak!

  26. 27 stey Selasa, 14 Oktober 2008 pukul 21:47

    hahahahaha..postingannya keren..sambung menyambung menjadi satu..kayak sabang sampai merauke..padahal gw nulis 1 paragrap aja susah banget..hahaha..

  27. 28 Xaliber von Reginhild Selasa, 14 Oktober 2008 pukul 23:52

    @p4ndu_454kura®:
    Tapi Jowy ngga menikah untuk kepentingan politis, kan? :?

    @agunk agriza:
    Tempat yang umum… :P

    @jensen99:
    Hehe, maaf, tadinya cuma mau dikit, ngga tahunya jadi ngelantur. :P

    4) euh, bahas istri bung Karno? Konon yang ada motif politiknya cuma Naoko Nemoto (Dewi Soekarno) saja. Yg lainnya itu motifnya…. playboy?

    Barangkali bung Karno memang ada bakat kesitu. :P
    Tapi kalau menurut buku-yang-teman-saya-baca itu, alasannya sih itu tadi; supaya bisa memelajari karakteristik budaya. Jadi dengan pendekatan yang lebih personal dengan perwakilan dari masing-masing budaya, harapannya bung Karno bisa menemukan faktor pengintegrasi bangsa. :?

    @syaorannatsume:
    Norma universalnya Indo kayaknya sih masih sama, jadi… :P

    Ga tahu juga betul atau salahnya.
    Katanya, ibu Fatmawati dinikahi dengan Soekarno karena awalnya ibu Fatmawati adalah anak asuh Soekarno ketika tinggal di Bengkulu.

    Wah, kalau ini, saya justru baru dengar. Love-interest-nya atas dasar hubungan yang benar-benar personal, hmm? :?

    Berarti pacaran hanya permainan? :mrgreen:
    Atau hanya sekedar coba-coba :roll:

    Bukan; pacaran itu adalah proses untuk mengenali diri sendiri, dan bagaimana agar diri itu bisa bertoleransi terhadap orang lain. :)
    …setidaknya itu kata guru saya. :mrgreen:
    *ditimpuk*

    @t4rum4:
    Lha, ya sudah. :P

    @iing:

    Kalau boleh saya tanya, apa yang membuat anda menengok kepada pasangan muda mudi itu? Punya kepentingan apakah anda? Apakah anda rasa ada yang salah?

    Saya rasa ini faktor yang alamiah sekali. :? Mengapa saya menengok ke arah mereka? Ya tentu saja, atas dasar refleks kekagetan atas pandangan yang tak biasa dilihat. Seperti kalau Anda tiba-tiba menemukan orang yang menembak kepalanya sendiri di depan Anda, apa minimal Anda tak akan bertanya-tanya dalam diri sendiri, “Mengapa dia begitu?” Pertanyaan heran itu disini yang kemudian berlanjut jadi ‘menengok’. Dan berhubung ini bukan tindakan yang disadari, saya rasa yang ini tak punya motif politis. ;) CMIIW.

    Hmm, mungkin anda berpikir darimana saya bisa yakin bahwa anda akan mencapai sikap apatis dalam beberapa tahun ke depan.

    Lho, lho, jangan berkesimpulan secepat itu lah. Kalau saya sering melihat itu, terus kenapa? :? Ya, barangkali mata saya akan terbiasa dengan adegan semacam itu, tapi toh kenapa itu mesti menghentikan saya untuk berpikir? Apa ilmu pengetahuan yang dikatakan didapat dari textbook itu cuma untuk pemuas kebutuhan nilai dan ijazah saja tanpa bisa diterapkan ke dunia nyata? :)

    Btw, Anda sudah membaca sampai habis belum? Kan topik saya nggak cuma PDA itu disini. :mrgreen:

    @stey:
    Entah kenapa tulisan ini mengalir begitu saja. :P

  28. 29 str★nger。 Sabtu, 18 Oktober 2008 pukul 0:37

    *supeeeer fast reading*
    Gendeng !
    Panjang bgt postnya?

    Menempelkan bibir sambil berjalan d dpan umum?
    Apa mreka ga jatuh?ato kepleset?nabrak mungkin?

    Ckckckckck..blom pernah ngeliat begituan secara langsung, LIVE dari studio 1 (loh?)

  29. 30 hariadhi Senin, 27 Oktober 2008 pukul 22:33

    Numpang ngiklan….

    KPG lagi ada bazar buku murah, termasuk buku filosofi dan militer. Buku retur bisa didapat dengan harga 5000, 10000, atau 20000.

    Informasi lengkap baca di blog gw aja :D


Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

RSS Alter Ego

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 111,758 soldiers