Saya seringkali mendengar kalimat seperti ini,
Nggak usah muna’ deh lo, pake anti-senioritas segala, ntar kalo dah jadi senior juga ngelakuin hal yang sama…
Gak mau nyontek? Jangan munafik deh! Entar elu kalo ngadepin soal yang susahnya kayak gini paling ujung-ujungnya nyontek juga. Mana bisa lu ngerjain sendiri.
Lo boleh ngomong idealis kayak gitu sekarang, tapi nggak usah muna’, kalo udah berkuasa, masa ngga bakalan korupsi dikit-dikit sih lo?
Sejujurnya, saya heran. Kok kalimat “nggak usah munafik deh lo” ini begitu mudah dilontarkan ya?
Lha, orang maksudnya mau berbuat baik, kok belum-belum sudah dituduh macam-macam. Mau ngejawab kayak gimana juga jadi susah.
Apa dunia ini sudah sebegitu nggak bersihnya ya?



Saya juga heran kenapa belakangan ini suka nulis yang pendek-pendek.
Saya juga heran…
Kok sepertinya entri ini polanya sama dengan entri sebelumnya ya?
Yes, keduax dan ketigax!
[dilempar obeng]
Males ngeblockquote lewat mobile, jadi…
1. Biarin aja. Saya juga ga mau ikut OSIS ato semacamnya. Ngapain nyapekin badan dan pikiran? Lagian, kalo terlalu senioritas, ujung2nya bakal dibenci sama junior..
2. Nyontek? Kalo emang sebenarnya bisa jawab, ngapain mengambil alternatif curang. Ga bisa jawab? Ada jaminan yang dicontek bisa jawab atau jawabannya benar? Hoho… Mau nyontek orang yang lebih pinter rupanya? Mereka kan punya sistem pertahanan yang tinggi.
3. Ga.. Saya akan berusaha ga bakal korupsi uang. Kalau dipikir-pikir, semua orang didunia ini korupsi juga, kok. Tapi tidak semuanya korupsi uang negara.
Hmm… Gapapa, deh. Muna’ sedikit-sedikit, asal bisa menjadikan seseorang yang berkepribadian baik.
[/sokBijak]
Ah, jawaban saya juga “muna’2an”, kok.
Bagaimanapun, sebenarnya pembelaan “jangan munafik!” itu sendiri termasuk fallacy. Jadi yaa… ^^;
[ad hominem tu quoque]
Ibaratnya seorang koruptor berkata “jangan berbuat korupsi!”. Bukan berarti anjuran “jangan berbuat korupsi” itu jadi nggak bener.
Orang kayak gitu saya rasa hanya ada di Indonesia dan dilakukan oleh “golongan yang merasa dirinya benar”
Masa orang mau berbuat baik dilarang? Aneh bangsa ini…
Ya saya juga heran
kalau masalah nyontek itu, saya lebih kepada masalah “memberi”-nya, karena posisi saya lebih sering pada “
kertastangan di atas. Soalnya kalau gak ngasih nantinya dicap pelit, sombong bahkan kadag dijauhi dalam pergaulan, hmmmmHeh, apa yang mau diketik sudah dikomen oleh sora-tan, jadi ya…
[i]Nggak usah munafik deh lo, hari gini aja nulis kayak gini, nar kalau udah berkeluarga baru ngerasa…[/i]
*siul-siul gj*
*kabuuuur*
mungkin karena semua orang itu munafik
1) Xaliber masih freshmen ya? jgn terpengaruh. AFAIK ada banyak senior yang biasa aja dengan adik tingkatnya. Lo jg musti jadi panitia MOS di tahun2 berikut dan buktiin sikap, nunjukin senioritas/gak.
Makanya, Belajar… 
2) Gak nyontek kok munafik?
3) Xaliber berkuasa..?? Ah, masih jauh…
@ Goenawan Lee
Munafik!!!
Aturan itu dibuat untuk dilanggar; seperti itu dulu anekdot yg prnah diceritakan temen kpd saya. Tentu saja, sebagai anekdot, kita tak boleh begitu —walau, itu kenyataannya; hingga batas2 tertentu.
Kemunafikan juga mirip; tiap orang punya atau pernah (melakukannya). Juga dalam kadar yg bervariasi (akibatnya, orang akan berbeda opini tentang apakah yg ia lakukan itu kemunafikan ato bukan).
Aturan agama, pemerintah dan nilai-nilai sosial yg bagus, itu semua idealism; namun, jika tak ada yg mengusahakannya, idealism tetap akan jd idealism semata. Maksud saya, al-quran cuma textbook belaka; bible juga cuman tulisan. UUD 1945 juga sama saja. Etc…
Frase “Nggak usah muna’ deh lo,…” sering diucapkan dg maksud untuk mencari dukungan, atau “menyerang pendirian” lawan (bicara) yg oleh si pembicara diidentifikasi sbg manusia yg sok idealis.
Tergantung konteks pembahasan, saya kuatir, kalo ucapan seperti itu justru mengindikasikan dia —yg mengeluarkan statement— sbg orang munafik.
Nah, loh…
Dengan mengatakan “jangan munafik”, ia sebenarnya mengatakan bahwa sebaiknya semua orang seperti dia, seseorang yang hati nuraninya menyerah pada keadaan atau emosi/hawa nafsu. Ia tidak mau ada orang lain yang mau dan mampu memperjuangkan suara hatinya, karena itu bakal menunjukkan bahwa ia adalah orang yang ‘gagal’. Ya, ia memang sudah benar-benar gagal, tapi ia tidak mau dirinya sendiri, orang lain, dan seisi dunia sadar dan menunjukkan hal itu di depan mukanya.
Setuju dengan hyorinmaru, orang yang ngomong seperti itu sebenarnya justru sedang mengakui kesalahannya sendiri, dan ia ‘munafik’ karena ia menyangkal, nggak mau terus terang mengakuinya.
hehe, baca ini kok gue keingetan suatu malam di kampus yg dulu, sama temen gue mencela-cela himpunan sebelah yang “hari gini masih OS aja”. gak nyadar diri kalo gue dulu bekas ketua tim acara dan dianya malah ketua panitia OS
hee.. sering dapat kata2 gitu ya?
saya juga heran.. kalo gitu jadi seolah mematahkan semangat untuk menghindari perbuatan yg kurang baik ya?
Hehehehe, jangan bingung lah. Di Indonesia tuh yang di luar kewajaran emang selalu dimusuhi. Makanya jangan harap ada Einstein bakal lahir di sini, dibunuh pake ad hominem ntar.
Omong-omong soal senioritas (di luar masalah pelonco-peloncoan lho, ya), kayanya gw punya pengalaman mirip-mirip. Di SMU gw dah coba dorong supaya senioritas bisa ilang di organisasi yang gw ikutin. Anak-anak kelas satu udah gw suruh bikin acara sendiri, mereka dianggap udah pinter semua. Angkatan gw gw pensiunin dari ngurusin acara-acara.
Tapi emang nyatanya ga semudah ngebalikin telapak tangan kali, ya? Adanya malah jadi ga jelas tuh organisasinya. Kacau balau. Jadi ya, perubahan kultur emang butuh banyak biaya.
Dan yang pasti emang menghasilkan banyak kecaman.
I wish i had more time…
Jangan munafik deh, Mas, nulis entry kayak gini segala… Memangnya anda sendiri tidak melakukan?
*ditampar*
Erm, saya paling benci kalau begini… Toh kalaupun seorang maling yang mengatakan “Jangan mencuri”, semunafiknya dia bukan berarti anjuran tidak mencuri itu salah, kan…
Lalu, kenapa semua orang harus dianggap hipokrit ya, haha.
wkwkw.,.. pada munafik ya..
munafik mah gk papa.. saia jga kadang” munafik kok…
yah tapi seenggaknya gk merugikan org lain
iaa… orang2 udah pada ngggak percaya sama yg baik2 di dunia ini
@Lemon S. Sile:
1. Lagi ngetren?
2. Kesembilanbelax.
@syaorannatsume:
Masalahnya kalau tidak munafik, kenapa dituduh demikian?
@sora9n:
Oh iya, ini tu quoque juga ya.
Setuju, jangan AHTQ, ah.
@Adriano Minami:
Kurang tahu juga apa di negara lain begini juga apa tidak…
@Goenawan Lee:
Waiyah…
@*hari:
Lho? ^^; Jadi ngga ada yang murni bersih?
@jensen99:
Kalimat jangan munafik soal senioritas ini sebenarnya lebih sering saya temui semasa SMA. ^^; Kalau pas kuliah untungnya senior dan sesama junior jurusannya bersikap mendingan.
@hyorinmaru | Catshade:
Ah… benar juga… justru sebenarnya menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri?
*tercerahkan*
@rani:
Soal ospek-ospekan, well, zaman telah berubah?
@Strife Leonhart:
Ya kan, jadinya seakan-akan jalur yang ditempuh itu sudah menyimpang.
@harhar:
Kalau sudah jadi kultur, apa mau dikata, susah mengubahnya ya. Guru saya pernah bilang, alasan paling mudah untuk mempertahankan hal seperti ini adalah dengan alasan: “Sudah tradisinya!” Seakan-akan kultur yang semi-negatif ini sudah baku dari sananya. ^^;
@Infinite Inficio:
Benar… mungkin seperti kata mas hyorinmaru dan mas Catshade, kalimat ini justru jadi pembenaran buat dirinya sendiri.
@ARX – 7 Sagara Sousuke:
@agunk agriza:
Begi..tulah? ^^;
Waa komen saya gak dibales sendiri…
Tapi gak apa apa ding… Hehehehe
Wah, maaf, entah kenapa kayaknya kelewat. ^^; Saya biasanya balas semua komen kok.
@Nugraha Fadil:
Soal nyontek-menyontek itu, kadang saya juga mengalami yang agak-agak mirip sama mas Fadil. Pengorbanan untuk idealisme tak memberi itu yang agaknya berat…
Daripada termakan omongan sendiri.
Biasanya aku nambahin kalimat “aku ga tau omonganku ini bertahan brapa lama.
Ga ada yg abadi” di akhir kalimat setiap ucapan yg meragukan keakuratannya
Saya kok lebih suka ngumpulin jawaban seadanya atau malah kosong sekalian daripada nyontek ya?
Ikut nimbrung lagi. Tentang munafik? AFAIK 1 orang normal diantara 9 orang gila, maka, 1 orang nirmal itu yang akan dicap sebagai orang gila. Sama halnya dengan persepsa praduga bersalah ‘munafik’ ini. Karena banyaknya orang yang tidak konsisten pada ucapannya membuat salah seorang (yang tentunya, terlalu banyak bergaul dengan orang2 yang tidak konsisten dalam berucap laku) bisa berpikiran bahwa dunia ini adalah muna’. Saya rasa dirinya senidrilah yang muna’ karena tidak melihat dunia dengan ***.
@str★nger:
Itu dia. Rasanya itu juga berlaku pada kalimat “Maaf, bukannya saya munafik, tapi…”. Sebenarnya, buat apa?
@Ardianto:
Saya juga begitu, mendingan kosong aja.
Yup, saya sepaham.
@iing:
Yep.
dunia ini luar biasa kotor, xaliber…saking kotornya sehingga setiap orang harus berbuat kejahatan, sekecil apapun, untuk bertahan hidup
Repot jg
@Si Idiot:
He? ^^; Kok jadi kekotoran? *disconnect*
@str★nger。:
Repot apanya?
Munafik itu apa sih??
*bingung
Diksinya kurang tepat tuh..
Kenapa ga sok idealis saja?!
Sifat manusia emang begitu, lebih terikat pada hukum kolektif daripada sebuah kebenaran.
Intinya, “do it when u think that true”
Kebenaran dan kesesatan itu jelas kok.
*asong