Suara Tanpa Pita

Sejujurnya saya sedang rada galau sekarang. Sebutlah, tugas-tugas yang mendesak, urusan forum internet, dan sebagian blogosfer yang keracunan limbah pembuangan industri. Tapi saya tidak disini untuk curhat atau semacamnya, karena itu bukan tujuan saya ngeblog. :? Saya mau mengarang dulu.

Tidak begitu dihimbau buat first-glancer. :P

.

.

.

Aku Alif. Seorang mahasiswa biasa. Bukan golongan orang yang senang menyuarakan aspirasi rakyat, bukan pula aktivis kegiatan kampus. Aku hanya mahasiswa biasa yang rajin bergelut dengan komputer, mendengarkan apa kata dosen, dan berkegiatan seperlunya. Kenalanku barangkali tidak sebanyak yang dipunyai si mahasiswa berprestasi atau si ketua BEM yang gemar orasi, tapi setidaknya cukup untuk membuatku hidup di dunia sosial ini.

Suatu waktu, aku mengikuti sebuah mata kuliah wajib yang menurutku tidak begitu menyenangkan. Kelas di mana aku ditempatkan berisi tidak hanya orang-orang dari jurusanku, tapi juga orang-orang dari jurusan lain di fakultasku. Karena berisi dari berbagai macam jurusan, jumlah mahasiswa di kelas tersebut juga cukup besar; katakanlah, 100 orang. Di antara 100 orang itu, aku melihat seorang mahasiswi.

Seorang gadis yang menarik perhatian mataku. Rambutnya hitam lurus sebahu, dengan kacamata berbingkai kotak membantu penglihatan matanya. Bibirnya tipis dan matanya tak begitu bulat. Tingginya barangkali tidak setinggi diriku, tapi kulitnya putih dan terlihat bersih. Tubuhnya tidak gempal, tidak juga terlalu kurus, tapi sedang. Singkat kata: relatif cantik diantara mahasiswi-mahasiswi lain yang kulihat saat itu. Baguslah, pikirku, barangkali bisa menghilangkan bosan di kelas ini, meskipun mungkin ia hanya kutemui saat menjalani mata kuliah ini saja.

Tapi ternyata tuhan — atau apa pun itu yang mengatur dunia ini — punya tindakan lain.

Di mata kuliah-mata kuliah lain yang kuambil, aku kembali bertemu gadis itu. Mata kuliah dengan dosen yang tua, dengan dosen yang muda, dengan dosen yang cerewet — hampir semua mata kuliah selalu kutemui gadis itu. Sayang, semuanya di mata kuliah umum, yang berarti satu kelas bisa berisi 70 hingga 100 orang. Aku juga tidak pernah mendapat kesempatan duduk di dekatnya, pasti selalu berjauhan. Jadilah aku hanya mengetahui wujud gadis itu tanpa kenal diri maupun namanya.

Setiap kuliah, hanya kubiarkan mataku yang terkadang meliriknya sesekali. Kadang-kadang ia balas melihat kemari, dengan iringan senyum, meskipun barangkali bukan diriku yang dilihat. Begitu, dan begitu terus, tanpa kuberanikan diriku berkenalan secara langsung atau mencoba usaha lain yang lebih keras. Padahal, di luar kelas, aku sering melihat dirinya berkumpul bersama teman-temannya. Tapi barangkali upayaku yang memang kurang, aku tak menyempatkan diri menyapa. “Kalau memang berjodoh, nanti juga akan bertemu,” begitu batinku, mencoba menirukan pepatah usang yang rasanya membuat orang berpikir terlalu optimis.

Hingga akhirnya masa kuliah umum berakhir, dan kami pun terpisah dalam kelas yang berbeda. Terakhir kali kulihat, ia tampak sedang akrab dengan pria bongsor yang bagiku tampak seperti penjagal kuda. Sejak itu pula aku tak pernah melihatnya lagi — bahkan di luar kelas sekali pun.

***

Hari ini pun berlangsung dengan biasa sejak lama tak kulihat si gadis itu. Dosen tua yang bicaranya pelan sekali itu menugaskan seisi kelas untuk membaca sebuah buku setebal 500 halaman untuk lusa — merepotkan. Aku pun berangkat menuju perpustakaan kampus, barangkali buku yang dimaksud si dosen ada disitu. Daripada harus mencari-cari dulu di toko buku dan keluar biaya lagi, rasanya lebih praktis kalau meminjam dari perpustakaan. Toh aku bukan tipikal orang yang tak bisa menghargai buku.

Di tengah panasnya siang itu, kubuka pintu perpustakaan yang terbuat dari kaca. Angin sejuk dari AC segera menerpa wajahku yang berbasuh keringat. Ini yang kusuka dari perpustakaan: tidak pernah tidak dingin. Aku segera menuju ke tempat penitipan tas. Lumayan ramai rupanya hari itu. Beberapa senior angkatan atas terlihat berbondong-bondong menitipkan tasnya masing-masing; tampaknya hari ini mereka akan mengadakan seminar kecil-kecilan lagi. Aku menunggu hingga para senior itu selesai dengan urusannya masing-masing untuk segera beranjak ke ruang seminar; tinggal lah aku dan dua orang gadis yang telah lebih dulu mengantri disitu.

Kuletakkan tasku dulu di lantai untuk mengambil alat tulis dan kertas, barangkali diperlukan. Tanganku mengubek-ubek tasku yang penuh dengan berbagai macam barang; kertas lecek dan pena lah yang kudapat. Biarlah, yang penting bisa untuk menulis. Kupanggul kembali tas beratku dan kutengadahkan kepalaku, tapi rupanya kudapat sebuah kejutan.

Sang gadis yang hampir selalu berada bersamaku di kuliah umum berada di depanku, baru saja menitipkan tasnya di tempat penitipan. Aku terdiam, dan begitu pula ia. Kami saling bertemu pandang dan menatap mata masing-masing. Pikiranku segera dipenuhi oleh berbagai macam hal, berputar-putar dan teraduk-aduk. Ingin kubuka mulutku untuk sekedar bertegur sapa, tapi bibirku terasa saling terlekat. Di saat bersamaan, ingin kutebak apa yang sedang ada dalam pikirannya. Keheningan batin itu pecah ketika ia memalingkan wajahnya, kemudian segera berlalu ke dalam rak-rak buku. Aku kembali tersadar dari larutan pikiran.

Ah, kutahu bahwa tadi itu hanya berlangsung beberapa detik saja, tapi entah kenapa lama sekali terasa. Peristiwa itu bagai kami sudah mengenal satu sama lain sejak lama saja, padahal kenyataannya tidak berkata demikian.

Kutitipkan tasku ke tempat penitipan, dan aku pun ikut berlalu ke dalam rak-rak buku. Terbesit di harapanku untuk bertemu kembali dengannya, barangkali kali ini bisa bertegur sapa. Sayang, harapan itu hanya sekedar harapan. Tidaklah bertemu diriku dengannya, dan kutinggalkan perpustakaan itu dengan buku setebal 500 halaman tergenggam di tangan pada pukul empat sore.

.

.

.

Ngelantur? Bisa jadi. :P Yang jelas ini hanya karangan belaka. Bukan bermaksud meniru yang dibuat oleh celotehsaya, lho, tapi entah kenapa lagi kepikiran saja. Ingat, jangan first-glance. :D

Semoga Anda tidak bosan. :mrgreen:

36 Tanggapan ke “Suara Tanpa Pita”


  1. 2 steax Rabu, 17 September 2008 pukul 20:48

    Tidaklah bertemu diriku dengannya, dan kutinggalkan perpustakaan itu dengan buku setebal 500 halaman tergenggam di tangan pada pukul empat sore.

    AAAAAAAAAAAAAHHH!! JADI INGET FISIKA!!

    !#?*

    :(

    Wow. Curhatkah ini? Akhirnya robot merasakan cinta?

  2. 3 Xaliber von Reginhild Rabu, 17 September 2008 pukul 20:49

    Hei, hei, ini cerpen! :mrgreen: Kan karangan fiktif belaka. :D

  3. 4 steax Rabu, 17 September 2008 pukul 20:50

    (btw, ngakak lho kalo bayangin pakai muka penulis itu tokohnya. :P )

  4. 5 steax Rabu, 17 September 2008 pukul 20:51

    Oh karangan fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh, ciri-ciri wanita, impian dan khayalan hanya ketidaksengajaan belaka?’

    ;)

  5. 6 Xaliber von Reginhild Rabu, 17 September 2008 pukul 21:01

    Lha, justru namanya kayak nama si Alif Marsya yang senang main game online itu. :mrgreen: Yang lainnya pure coincidence, deh. :P

  6. 7 fantasyforever Rabu, 17 September 2008 pukul 22:39

    wuoGH.. Curhat mode [ON]. Hehehe. Panjang betul. :mrgreen:

  7. 8 p4ndu_454kura® Rabu, 17 September 2008 pukul 23:43

    AHEM!! :mrgreen:

    Polinlop gara-gara mku? :lol:

  8. 9 Xaliber von Reginhild Kamis, 18 September 2008 pukul 1:27

    @fantasyforever dan p4ndu_454kura®:
    Ini Alif, lho. :? Dan iya, kayaknya si Alif jadi begitu gara-gara MKU. :mrgreen: Cinlok? :?

  9. 10 masamune11 Kamis, 18 September 2008 pukul 6:57

    *baca ulang*

    *mengernyitkan dahi*

    :|

    Terlalu coincidence untuk menjadi sebuah karangan belaka… :| *digampar bolak-balik*

  10. 11 Adriano Minami Kamis, 18 September 2008 pukul 7:03

    Tumben si robot nulis2 kyk gini

  11. 12 ardianto Kamis, 18 September 2008 pukul 7:23

    Cerpen itu biasanya lahir dari pengalaman pribadi…

    Hayo, ngaku… :mrgreen:

    [steak]

    AAAAAAAAAAAAAHHH!! JADI INGET FISIKA!!

    !#?*

    Seingat saya sih fisika itu seribu halaman lebih bukunya… :-P

  12. 13 syaorannatsume Kamis, 18 September 2008 pukul 13:20

    Naksir??

    Kok bisa? Cuman gara-gara ‘kebetulan’ sering ketemu? :-?

    Ga begitu ngerti soal itu… :|

  13. 14 Adriano Minami Kamis, 18 September 2008 pukul 14:14

    Sebenarnya tokoh yang dimaksud itu adalah Deathlock sendiri =)) *dihajar*

  14. 15 Max Breaker Kamis, 18 September 2008 pukul 15:08

    Ini cerita tentang Alif afa Adif sih? :lol:
    *ditimfuk*

  15. 16 :3 Kamis, 18 September 2008 pukul 20:05

    mirip punya saya…

    kamu antek salafy selalu suka memplagiat™

    *nggak bisa komen, takut rahasia dibalik cerpen sendiri ketauan*

  16. 17 Xaliber von Reginhild Jumat, 19 September 2008 pukul 23:23

    @masamune11:
    Kan kata Einstein, “Imagination is more important than knowledge.” Ini bisa saja imajinasi saya, kan? :D

    *ganyambung*

    @Adriano Minami:
    1. Lha, saya kan memang nulis beginian kadang-kadang. :? Coba lihat kategori “Derived from the Abstracts”.

    @ardianto:
    Cerpen ini didasari empirisme, tapi belum tentu pribadi. :mrgreen:

    @syaorannatsume:
    Ah, hal ini memang terlalu sulit dimengerti oleh orang biasa. :cool:

    *dijitak* :P

    @Adriano Minami:
    2. *hajar*

    @Max Breaker:
    Alif lah. :mrgreen:

    @:3:
    Hohoho, bagaimana jika saya katakan cerpen ini adalah umpan? :P

  17. 18 Nugraha Fadhil Sabtu, 20 September 2008 pukul 2:58

    Tapi kayaknya pas deh kalau jadi pengalaman pribadinya kamu :D
    Hm, kayaknya si Alif perlu belajar ke hitman system tuh buat bisa deket sama itu cewe :D

  18. 19 Adriano Minami Sabtu, 20 September 2008 pukul 7:43

    Gw tahu ini karangan Dip.

    Tapi gw rasa, andaikata tiba2 lw jatuh cinta ama cewe gampang dech dapetnya, jangan kalah ama tokohlw lah

  19. 20 Strife Leonhart Sabtu, 20 September 2008 pukul 14:39

    Karangan berdasarkan pengalaman pribadi xal?
    kok mirip sama kejadian saya ya? cuman latar tempat yg berbeda ;)

  20. 21 syaorannatsume Sabtu, 20 September 2008 pukul 14:50

    *menjitak*

    hal ini memang susah cuman dimengerti oleh orang biasa dewasa.

    Oh, i see. Ga nanya-nanya lagi, deh… :P

    Ehem, ganti topik.

    Ternyata tipe cewe mas Xaliber dan gaya naksirnya begitu, yaa? :lol:

    *gantian dijitak*

  21. 22 Adriano Minami Sabtu, 20 September 2008 pukul 16:13

    Aha! SyaoranNatsume mengingatkan saya

    Secara tidak langsung anda membeberkan tipe cewe idaman anda!

    Saya juga kayak gitu sich, cuma beda dikit. *dibazoka deathlock*

  22. 23 Xaliber von Reginhild Sabtu, 20 September 2008 pukul 18:02

    @Nugraha Fadil:
    Apa itu Hitman System? :?

    @Adriano Minami:
    Hanya bisa mengamini. :P Amin.

    @Strife Leonhart:
    Latar seperti apa? :)

    @syaorannatsume:
    Lho, lagi, itu bukan saya. :) Si Alif itu kan salah satu karakter roleplay saya — double ID saya.

    @Adriano Minami:
    Masa? :?

  23. 24 Adriano Minami Sabtu, 20 September 2008 pukul 18:30

    Anda,, saya rasa pernah cerita tentang itu kan ke anda?

    Sudahlah, jangan dibahas disini.

    Woi! Maen ke blog gw dunk!!!

  24. 26 Lemon S. Sile Minggu, 21 September 2008 pukul 18:31

    agh, komentar saya yg waktu itu lupa dipost!

    padahal ud panjang bin ribet…

  25. 27 Xaliber von Reginhild Senin, 22 September 2008 pukul 1:20

    @Adriano Minami:
    Iya…

    @Nugraha Fadil:
    Wogh, website itu rupanya… saya pernah kesana sekali, tapi nggak ngerti Ada-ada saja. :mrgreen:

    @Lemon S. Sile:
    Post ulang, tuan. :mrgreen:

  26. 28 Urban NingYo Senin, 22 September 2008 pukul 13:41

    Kata Adip, “Hei, hei, ini cerpen! Kan karangan fiktif belaka.”
    — Ah masaaa? :D

    Cerpennya sperti dah pernah ngerasain ( dapat feelnya ) dan kesannya nulis dari dalam hati banget gitu..:D

    Rasanya seorang robot menulis cerpen ’se-emotionous’ seperti ini, perlu diinvestigasi..haghaghags. :D

  27. 29 Bebek Jamuran... Rabu, 24 September 2008 pukul 1:03

    Setiap karangan fiktif pasti ada sumber inspirasinya…

    *kabur*

  28. 30 Xaliber von Reginhild Kamis, 25 September 2008 pukul 0:25

    @Urban NingYo:
    Ah, ngga mesti pegalaman pribadi, kan. :)

    @Bebek Jamuran…:
    Betul… :mrgreen:

  29. 31 Strife Leonhart Jumat, 26 September 2008 pukul 11:16

    ya saya di yogya, kamu di depok (ato jkt?)

    ;)

  30. 32 Dins Allheal Sabtu, 27 September 2008 pukul 7:29

    Woohoho..
    Jadi ini tulisan yang bikinagingomelgakjelaswaktusayatelponbeberapaharilalu!
    :mrgreen:

  31. 33 Urban NingYo setelah berapa lama tidak berkunjung ke Gotei Sabtu, 27 September 2008 pukul 17:52

    @ Pemilik blog : Lha…anda menyetujui pernyataan bebek dipta, kenapa tidak menyetujui pernyataan saya? :D .

    Ughh ini namanya diskriminasi ni *ditendang* XDD..Nyuu~ bukannya apa yang saya dan dipta sampaikan bahwasanya sama yaitu “Setiap karangan fiktif pasti ada sumber inspirasinya… ..at least, pernah ngerasain.

    Ayoo..adip, siapa c? Wajar ko, ce se-FISIP segebrok2 dan cantik2..pasti ada yang kecantol atu :p hahaha..

    Btw, met gathering buka puasa yaa admin dan anak2 Gotei~ Saya ga isa datang karena harus ‘membatasi diri’ dalam hal bersenang2 TwT huhuhu..

  32. 34 Xaliber von Reginhild Selasa, 30 September 2008 pukul 17:15

    @Strife Leonhart:
    Oh, di Yogya… btw, cerpen ini kan ngga ada latar kotanya? :? :P

    @Dins Allheal:
    Lho.. Agi ada masalah apa dengan pengalamannya Alif? :?

    @Urban NingYo setelah beberapa lama tidak berkunjung ke Gotei:
    Mas Dipta bilang kan, “Setiap karangan fiktif pasti ada sumber inspirasinya…” jadi inspirasinya ngga mesti dari saya, kan? Bisa saja teman saya… :mrgreen:

    Met gathering dan buber juga. :) Tahun depan bisa ikut (kalau ada)? :D

  33. 35 Urban NingYo Rabu, 1 Oktober 2008 pukul 2:14

    Uggh…nyerah deh..

    Ntar, awas ya..tak cari tahu siapa~ XDDD kekekkee…

    Tahun depan bisa..gath berikutna juga bisa..^^

    Cuma buber yang lalu ga isa ikut karena dalam satu semester ini, saya menghilang dulu lantaran yg kemarin2 saya pernah bahas dengan kamu Gen..^^; huahahuahuahua…

    Maaph ya…m(>.<)m

  34. 36 str★nger。 Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 1:02

    Wkwkwk…
    Gara2 ngepost yg berat2 dan make bhasa formal,jadi dipanggil robot.
    *mnrut pandanganku*

    Bahasanya enak kok.
    Yang “keheningan batin itu pecah seketika ia memalingkan wajahnya”
    Aku ngerti prasaan itu.
    *mantuk2*

    Males pake html,lg pake hape sih


Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,924 soldiers