Hidup dengan Hukum Gossen

Herman Heinrich Gossen, seorang ahli ekonomi Prussia, pernah melontarkan kalimat sakti yang diabadikan menjadi sebuah pernyataan ekonomi yang dikenal dengan nama Hukum Gossen I. Bunyinya kira-kira begini:

“Jika pemenuhan suatu kebutuhan dilakukan secara terus menerus, maka kenikmatan atas pemenuhan itu semakin lama akan semakin berkurang hingga akhirnya mencapai titik jenuh.”

Mungkin buat sebagian dari Anda agak jenuh mendengar hukum ini, karena saya sendiri sebenarnya agak jenuh mendengarnya berhubung hukum ini diulang berkali-kali semasa SMA saya. :P

Hukum ini ingin mengatakan bahwa segala kegiatan yang dilakukan terus-menerus pada awalnya akan terasa menyenangkan, namun lama-kelamaan akan terasa membosankan. Misalnya dapat diambil contoh, kalau orang yang minum sepuluh gelas es jeruk akan benar-benar menikmati gelas pertama dan kedua, tapi pada gelas ketiga, keempat, dan seterusnya, kenikmatan itu makin lama makin berkurang karena, jelas, makin lama ia akan makin kenyang.

Biarpun secara khusus hukum ini lebih ditujukan pada kegiatan ekonomi, tapi menurut saya tampaknya hukum ini bisa juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, si Budi rajin menabung untuk membeli sebuah laptop idaman. Sebuah MacBook, barangkali. Lalu dengan segala daya upaya, akhirnya laptop impian itu pun terbeli. Rasanya puas. Di awal-awal, rasanya semangat sekali untuk mengetahui seluk-beluk sang laptop, karena dia tampak spesial. Tapi setahun, dua tahun berlalu, setelah tiap hari digunakan, sebuah excitement yang dirasakan pada awal pembelian rasanya tidak akan seheboh dulu. Bukan tidak mungkin jika muncul laptop baru yang lebih memuaskan daripada si MacBook, Budi akan melirik si laptop baru itu dan melupakan yang lama.

Atau misalnya Julia ingin menjadi seorang programmer. Menurutnya, programmer terdengar keren. Ketika dalam proses pembelajaran mencapai tingkat programmer itu, Julia merasakan kepuasan yang menggebu-gebu. Belajar ini, belajar itu, membuat ini, membuat itu. Begitu pula mungkin yang dirasakan ketika pertama menjadi seorang programmer. Tapi begitu dia sudah lama menjalani proses itu, semangat yang ia rasakan pada awal-awal akan memudar. Bisa jadi hal serupa juga diterapkan pada bidang studi lain, seperti misalnya orang yang awalnya bersemangat masuk jurusan Ilmu Politik.

Barangkali ada terapan lain yang lebih mudah. Anda tentu sering mendengar tentang sepasang suami-istri atau sepasang kekasih yang ketahuan selingkuh. Pada awal menjalin relasi, mungkin rasanya bahagia. Dipenuhi romansa ini-itu, saling mengisi hidup, menghabiskan waktu bersama berjam-jam, dan lain sebagainya. Tapi setelah beberapa lama, rasanya jadi biasa saja. Soalnya sudah terpenuhi pada awal-awal hubungan, sih. Bisa jadi akan terbesit rasa bosan. Dan pada tahap yang rada parah, ya itu tadi, malah selingkuh.

.

.

.

Jadi, apa sebaiknya sebagian hal dinikmati dengan biasa-biasa saja ya? :? Daripada terlarut euforia di awal-awal tapi selanjutnya justru jadi tidak terkesan spesial lagi. Bahkan bosan. Atau barangkali ada pendapat lain? :)

42 pemikiran pada “Hidup dengan Hukum Gossen

  1. Dinikmati biasa-biasa pun, belum tentu akan selalu datar. Hidup penuh hal-hal yang tak terduga. Di atas kertas boleh jadi hukum ini bisa atau bahkan sering berlaku, tapi sekali lagi ini hidup. Hidup di bumi manusia dengan segala keunikan dan hal-hal yan tak bisa ditebak dengan begitu pasti.

    Lalu? Inovasi, kreativitas. Manfaatkan hal itu dengan berbagai kreasi. Toh dengan barang atau hal baru pun, jika begitu-begitu saja, kemungkinan besar lingkaan setan akan terus berulang.

  2. masih lebih mending kalau punya ekspektasi menyenangkan (walaupun cuma di awal)… daripada nggak punya interest, terus kecemplung, terus malah menderita? :mrgreen:

    Jadi, apa sebaiknya sebagian hal dinikmati dengan biasa-biasa saja ya? :? Daripada terlarut euforia di awal-awal tapi selanjutnya justru menjadi bosan begitu. Akibatnya malah kurang baik. Atau barangkali ada pendapat lain? :)

    masalahnya di hukum Gossen adalah, upaya pemenuhan kebutuhan yang (terlalu) berkelanjutan mengakibatkan nilai kebutuhannya sendiri jadi berkurang. lha, kalau begitu, mari kita penuhi kebutuhan itu seperlunya saja, habis perkara! :mrgreen:

    IMO, hal kayak begitu bukan berlaku di hal yang disukai saja, sih. saya pernah ketemu seseorang yang tadinya biasa-biasa aja sama mie instan (bukannya suka banget, tapi juga bukan nggak suka makan)… tapi setelah terpaksa(?) makan mie instan terus-terusan, akhirnya jadi nggak suka tuh sampai sekarang. percaya nggak percaya. :o

    btw, ada juga variabel lain, sih. misalnya, soal ‘kenyataan yang tidak sesuai harapan’, atau sejenisnya. biasanya berlaku untuk orang yang akan masuk jurusan di kuliah, atau mau mulai kerja di bidang tertentu. :mrgreen:

  3. Hmm, menurut saya semua tergantung mindset orang itu sendiri. Bila orang itu dapat menemukan hal yang baru tiap kali mengeksplorasi sesuatu, dia tidak akan jenuh dengan benda itu.

    Terutama untuk yang terakhir yang anda katakan itu, mengenai pasangan! Sebagai orang yang idealis dalam hal hubungan romance (out of the many :D), saya rasa mustahil untuk bisa memenuhi semua keinginan hanya dalam awal-awal hubungan bila memang benar-benar suka. Toh, masih banyak hal dalam diri seorang manusia yang belum dimengerti dirinya sendiri, apa lagi orang lain… *halah*

    Tetapi rasanya ini berlaku untuk hobi-hobi saya deh :D *orang yang mudah jenuh dengan suatu kegiatan dan selalu berpindah kegiatan, sebelum akhirnya kembali ke kegiatan itu dan kemudian berpindah lagi*

    Saya tangkap… apakah ada seseorang yang sudah jenuh dengan jurusannya~~?

  4. The hell? Saya jadi contoh nih?

    Yea, menurut saya enggak semuanya hal yang dilakukan berulang-ulang akan membuat bosan. Mirip kata Infi, tergantung orangnya juga.

    Pernah dengar orang yang tidak mau mengganti HP atau laptopnya dengan yang baru (walau yang baru itu jelas-jelas spesifikasinya jauh melebihi kepunyaannya)kan? Rasanya seperti tidak bisa melepasnya, begitulah. IMO, dalam menggunakan sesuatu itu dampaknya ada 2 : merasa bosan/biasa, atau malah makin sayang dan tidak bisa meninggalkannya :D

    Hidup dengan cara yang biasa, datar, dan stagnan itu membosankan, Tuan. Percayalah.

  5. Jadi, apa sebaiknya sebagian hal dinikmati dengan biasa-biasa saja ya? :? Daripada terlarut euforia di awal-awal tapi selanjutnya justru jadi tidak terkesan spesial lagi. Bahkan bosan. Atau barangkali ada pendapat lain? :)

    Kalau katanya guru agama saya di SMA sih…

    Hal yang paling kamu cintai bisa berubah jadi hal yang paling kamu benci. Sebaliknya, hal yang paling kamu benci pun bisa berubah jadi hal yang paling kamu cintai.

    Jadi, kalau mau mencintai, cintailah secukupnya saja. Jangan terlalu berlebihan… (u_u)

    Gitu katanya. :lol:

  6. Entah mengapa menurut gw hukumnya Kang Gossen itu ga berlaku untuk produk modern. Kaya beli PC, awalnya bosen, tapi kemudian saat lihat ada game baru yang butuh spec tinggi, jadi butuh beli VGA baru, harddisk baru, dan seterusnya. Gitu juga dengan fotografi, habis pake kamera bukannya malah bosan, tapi jadi kepikiran unruk beli lensa baru, blitz baru, alat studio baru, etc.

    Game RPG online juga berlawanan dengan tulisan di atas. Makin dimain makin nyandu, hihihihi. :lol:

    Ah becanda aja. Hukum di atas itu emang berlaku untuk kehidupan normal, kok. :mrgreen:

  7. ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

    BERITA BAIK!!!
    Mari kita liat nich blog. keren abiss!

    MARI MENCARI KEBENARAN

    Masuk sini= http://mustahil-kristen-bisa-menjawab.notlong.com/

    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄
    ▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄▀▄

  8. haha.. saya baru saja selesai belajar hukum gossen 1. :D

    Banyak contoh, saya juga sering mengalaminya, kebalikannya apa lagi. jadi,, jalanilah dengan apa adanya *sok bijak*

    jangan terlalu menyukai atau membenci sesuatu. karena bisa jadi yang terjadi kedepan itu kebalikannya.

    sifat ‘terlalu’ itu buruk, lho..

    eh.. tapi contoh kekasih ato pacaran itu hukum alam. :lol:
    ga,, becanda :P

  9. Lets be frank. The only things which people do for reasons other than force but don’t get bored is eating and sex. No other way to say it, really… :(

    I really need to make an article on this phenomenon on artists. Especially internet artists. But I wanna continue that debate first… :P

  10. [Skip komentar-komentar yang lain][digetok]

    Well, kenikmatan yang didapat dari mengkonsumsi barag-barang yang ada memang berkurang. Dengan kata lain, seseorang bisa menjadi bosan apabila mengerjakan suatu hal yang sama dalam rentan waktu yang panjang.

    Sebenarnya sih untuk menghindari kebosanan itu ada siasatnya. Kalau kebosanan bersumber dari melakukan sesuatu secara terus menerus, maka variasikan apa yang kamu kerjakan.

    Tapi setelah beberapa lama, rasanya jadi biasa saja. Soalnya sudah terpenuhi pada awal-awal hubungan, sih. Bisa jadi akan terbesit rasa bosan. Dan pada tahap yang rada parah, ya itu tadi, malah selingkuh.

    Selinkuh juga termasuk variasi koq… Variasi yang menurut saya negatif~ :P

  11. dah bosen tuh ilmu politik… orang imannya gk kuat gitu… disogok langsung goyang ekor *persis binatang*….(digetok adip)

    mending luh masuk IT dehhhhhhhh

  12. Memang sedikit2 lebih baik daripada banyak sekaligus.

    Tapi menurut saya sih lebih baik eforia di awal dan selesaikan tugas kita dengan cepat, jangan sampe napsu kita keburu ilang :D

  13. Saya udah mulai bosen di asrama. Warnet (sebagai HQ) nggak ada, TV cuman ada satu di lantai 2 dari 3 lantai, makanan mahal. Nganggur. :|

    Jadi nyicil itu lebih baik dari kontan?

    Saya kalo beli makanan malah sering kontan. Kalau ngutang takut dilempar kompor. :mrgreen:

  14. Ping-balik: Jenuh, Bosan? Kejar Target? Maka Selamat Tinggal untuk Sementara… | Max Breaker's New Basecamp

  15. @G U N:
    Variasi, ya? Seandainya diterapkan dalam kasus laptop itu bagaimana?

    @yud1:
    Nah, itu, kalau jadi terus-menerus seperti kasus mie di atas, kan lama-lama jadi jenuh. :P Karena dia mau tak mau mesti menjalaninya…

    @mimi:
    L.A. Lights? :mrgreen:

    @Infinite Inficio:
    Bicara masalah romansa, saya jadi ingat apa kata dosen saya… kalau menulusuri orang makin dalam makin terkuak keburukannya. Dari penulusuran itu juga yang lama-lama bisa berakibat bosan (karena penulusuran itu terjadi secara terus-menerus). Akibatnya… ganti pasangan.

    @fre ga login:
    Yah, itu berlaku pada saya dan HP saya. :lol: :P Mungkin benar juga, bisa jadi bosan, bisa jadi tak bisa melepaskan. Tapi maksud saya adalah euforia yang terjadi di awal-awal kepemilikan itu… biarpun jadi nggak bisa melepaskan, toh euforianya tak sebesar dulu kan?

    @sora9n:
    Itu dia. :D No euphoria?

    @hariadhi:
    Kalo bicara laptop yang nggak bisa diapgred, bisa jadi alternatifnya justru mengganti laptop, kan? :P *bercanda juga*

    @meremmelek:
    Terima kasih perhatiannya, tapi rasanya itu tendensius sekali. :)

    @syaorannatsume:
    Nah, hukum alam? :D

    @Adriano Minami:
    Lha, saya kan ngga mengeluarkan pernyataan demikian.

    @ARX – 7 Sagara Sousuke:
    Swt. Out of topic nih.

  16. @steax:
    Well, I think repeated sex will bore people after all. At least, they won’t be able to do the activity as ‘fun’ as they did on the first. :P The same goes for eating.

    What kind of debate, sir? That XPLO-PROTECT? :mrgreen:

    @masamune11:
    Nah, masalah selingkuh itu dia. :mrgreen: Ada contoh variasi positifnya untuk hal ini?

    @Max:
    Persiapan untuk UN?

    @ARX – 7 Sagara Sousuke:
    Wets, sori… sogokan duit nggak berlaku buat saya. :cool: Kalo mau korupsi dimana aja sih bisa, nggak mesti di politik. :mrgreen:

    @ManusiaSuper:
    Iya, hitung-hitung kalau bendaharanya enak dipandang bisa ketemu beberapa kali dulu, nggak cuma sekali. :D *ngaco*

    @Si Idiot:
    Kalau dalam hal tugas mestinya begitu ya. :D

    @p4ndu_454kura®:
    Ngga pasang kabel internet?

    @aditcenter:
    Katanya sih setiap kegiatan yang kita lakukan itu berdasarkan prinsip ekonomi. :P

  17. Hee… Contoh variasi positif? Sebenarnya belajar sambil baring di tempat tidur dengan kepala berada di bawah sementara badan terbaring lunglai (baca: Baca sambil jugkir balik… mungkin?) itu juga termasuk variasi koq… :lol:

    *digampar*

    Variasi dalam kegiatan itu kan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Yang penting adalah dengan cara yang berbeda, supaya kepuasan terpenuhi.

    Yah, asal variasinya positif, oke-oke saja lah… :P

  18. @ Xaliber von Reginhild
    Saya nggak punya laptop, jendral. Tapi saya sering membajak meminjam laptop orang lain, seperti yang saya lakukan saat menulis komen ini. Saya nggak ada kuliah, yang punya laptop lagi kuliah. :mrgreen:
    *digampar*

  19. @masamune11:
    Ah, berarti yang bikin bosan itu belajar dong? :? Kalau variasi dari contoh-contoh yang ada di atas bagaimana? :mrgreen:

    @p4ndu_454kura:
    Oo. Saya rasa jalan itu legal juga untuk melanjutkan kepentingan politis. :cool: *gakjelas*

  20. @ Gen : Nya~ ano..kLo soal masalah menurunnya nilai excitement dari laptop atau komoditas lain setelah dipakai, itu lumrah..ya mau diapain lagi. Satu2nya jalan keluar –> ya kaena mmg harus cari variasi..cari variasi specs, cari variasi gaya belajar, etc etc..

    Lebih baik demikian daripada seseorang membeli sesuatu tapi nilai excitement barangnya langsung menurun drastis sesampainya di rumah / kostan. Seperti yang biasa terjadi pada saya. :p

    Hm..then saya tertarik dengan apa yang disinggung steax. Kalau saya bisa menjelaskan singkat psikoanalisa Freud disini, insting dasar manusia yang tidak akan pernah manusia terpuaskan olehnya :
    1. Insting utk hidup / mati
    Disini terletak segala sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhan hidup seseorang. Kenapa orang Indonesia tidak puas memakan nasi dan ga mengganti memakan gandum saja?
    2. Insting sexual
    Um..well, mengenai kata Gen ‘repeated sex will bore people after all’, apakah Gen-san sudah pernah mencobanya? :)..Rasanya weird saja jika kt mengatakan sesuatu ‘kaena seperti itu deh..’ jika kt sendiri belum pernah merasakannya Gen :)..maksud saya disini, bukan masalah gimana cara kt menikmati sesuatu pada saat itu ( biasa2 aja atau euforia di awal) dan tentu bukan salah barangnya juga :D lol, tetapi bgmn dari kita sendiri yang mencari celah ‘variasi’ excitement di dalamnya.

    …um terakhir, ini hal pertama yang saya pikirkan setelah selesai membaca habis entrynya ^^ : Apa salah jika mempunyai rasa ‘insting’ untuk tidak puas terhadap segala sesuatu? Mksdnya apa ya Gen..ada bedanya rakus ‘ga pernah puas’ ( seperti tikus2 kita yang berpolitik, walaupun gaji udah gede tapi masih korup aja ) dengan rasa ga pernah puas karena ‘ga pernah puas’..Saya c tidak terlalu menghakimi diri saya jika mempunyai rasa ‘insting’ seperti itu.

    dan..apa yakin manusia mmg mengenal rasa puas? Mungkin kLo manusia mengenal rasa puas, manusia itu tidak akan pernah belajar dan bertambah maju ;p. Life is more complicated daripada diperbandingkan dengan hukum Goussen, Gen. :)

    Oia, as always, kLo pendapat saya terkesan terlalu serius hahaha..maaf ya Gen~ ^^ hahahhaa…

  21. Oia, lupa membahas relationshipna :p

    Ok..kecuali soal hubungan, saya tidak mendukung pentingnya rasa ketidakpuasan dalam hal ini.

    Mksdnya :
    Ya, hubungan itu tidak hanya dijalani dari awal pertama dengan excitement, tapi juga harus dijalani setelahnya dengan komitmen bla bla bla..kLo misale seseorang sudah terlalu ‘enak’ dan sering menerapkan dasar ‘hukum Goussen’ dalam hal dia menjalin relationship, maka selamanya dia hanya berkutat mempunyai pacar, kemudian setelah bosan, pindah lagi cari pacar lagi, dst..dia akan terlena!

    Kemudian relationship kan diperankan oleh dua orang..nah disinilah indahnya hubungan itu! ^0^..Jika satu sudah merasa jenuh, yang lain bisa menopang dan membantu utk tidak membuat jenuh ( tidak seperti contoh komoditi yang kita pakai sendiri dan juga kt rasakan bosannya sendiri ). Variasinya disini mungkin lebih terletak pada ‘hibernasi’ aka break ( bukan putus ) sebentar dimana kita mempunyai kesempatan sendiri2 utk menjernihkan pikiran. Gitu.

    Paling tidak, ketidakpuasan tidak berlaku untuk hal ini.

    *dikemplang karena serius banget* :D

  22. Hmm.. ikut nimbrung ah. Kalo menurut saya sih hukum itu tidak akan berpengaruh terhadap bentuk pemenuhan diri paling primitif di bumi ini. Yaitu, antara lain (silahkan tambahkan sendiri jika anda merasa perlu ditambahkan): Pemenuhan kebutuhan perut, dan pemenuhan birahi. IAW: food and sex. Hho.

  23. @Urban NingYo | iing:
    Hmm… :?

    1. Insting utk hidup / mati

    Saya mungkin nggak relevan, tapi, membaca judul ini saya malah jadi teringat yang lain. :P Kalau keinginan untuk mati, memusnahkan diri dari bumi ini, apa itu termasuk aplikasi dari hukum Gossen?

    Soal seks dan makanan, tentu saja bukan dalam artian jangka panjang, tapi lebih ke arah secara harafiah. :) Saya memang belum pernah melakukannya (kecuali makan), tapi maksud saya disini adalah esensi dari Hukum Gossen itu sendiri… di mana tingkat kepuasan terus menurun jika dilakukan secara repetitif. Dan jangka waktu untuk repetisi dalam hal seks dan makanan itu kayaknya termasuk relatif rendah; dalam artian, misalnya ada yang berhubungan seks selama 5 menit terus menerus, tentu pada akhirnya akan bosan/capek, kan? Demikian pula dengan makan, seperti yang dicontohkan pada aplikasi Hukum Gossen kebanyakan. Begitu maksud saya. :mrgreen:

    Sedangkan di contoh yang lain (laptop, kerjaan sebagai programmer, dsb), jangka waktunya relatif lebih panjang. Karena rasanya itu bukan hal yang secara intensif dapat dilakukan dalam ukuran 5 menit seperti makan dan seks(kalau 5 menit pakai laptop sudah bosan rasanya agak ekstrim?). Jadi skalanya memang beda. :mrgreen:

    Euh… mungkin agak membingungkan penjelasan saya. ^^; Tapi kira-kira begitu. :)

  24. Wah, kalau pembunuhan masal … atau ampe membunuh diri sendiri sih… kayaknya tuh orang udah nyampe tingkat immortality dan wisdom tingkat tinggiiiiii.. wkwkwk. Saya rasa, kalau ada makhluk yang dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama atau abadi (immortal) .. yang dalam pandangan saya … maka dia akan mendapatkan kebijaksanaan akibat umurnya itu,sehingga, Saya rasa, dia akan sependapat bahwa semua manusia di bumi harus dimusnahkan. hha. (kalo saya berimajinasi posisi jadi immortal kayaknya saya bisa nyampe kepemikiran itu deh. hha).

    Ou. yang repetitif toh. wah, tapi contoh yang anda ajukan itu kegiatan yang memang membosankan. Dan saya rasa, bentuk dari pemenuhan kebutuhan yang lebih sophisticated (dibandingkan sex dan food yang primitf), mungkin ada juga pilihan 1. Ngebunuh orang. 2. Menyiksa orang. 3 mengintimidasi orang. 4. Mengatur orang 5. Menguasai orang. 6. etc etc yang ekstreme. Karena saya rasa tindakan salah satu di atas yang dilakukan dalam kualitas yang berkelas kayaknya repetitif juga ga akan bosen deh. percaya deh. bwuahahaha.

    Ada beberapa hal yang dapat membuat manusia tidak akan merasa bosan untuk hidup di dunia. Yaitu, being a God. Artinya, pada saat anda meminta sesuatu dan menDAPATkannya… pastikan bahwa otak anda berPIKIR tentang proses pemenuhan kebutuhan itu (dan pastikan anda BENAR BENAR memahaminya). Kebosanan muncul akibat tidak adanya aktivitas otak. wkwkwkkwkw. jadi, saya rasa apapun yang kita lakukan secara repetitif , belum tentu membuat kita bosan, selama.. otak kita dipakai untuk berpikir. If everyone use their brain and think about whatever they want, then, i presume, there is no term that spelled B-O-S-A-N. wkwkwkkwkw.

    makin ga nyambung ya… hahaha

  25. Walah, siapa yang membahas pembunuhan, mas? ^^;

    Esensi dari membunuh secara berkala itu (serial killer) pun saya rasa suatu waktu akan mencapai kebosanan juga bila dilakukan oleh orang waras. :) Maksud saya, kebanyakan serial killer yang benar-benar non-stop membunuh orang tanpa rasa bosan biasanya memang mengalami gangguan jiwa.

    Saya agak kurang mudeng sama paragraf terakhir, tapi barangkali benar juga; berpikir kayaknya salah satu hal yang tak bosan-bosan dilakukan manusia. Wong itu proses, to? :mrgreen:

  26. Ping-balik: Esensi Demonstrasi « Deathlock

  27. Demikianlah sejatinya kenikmatan dunia ini… tidak ada yang abadi.
    Allah telah berfirman, “Tidaklah kesenangan dunia ini, kecuali kesenangan yang menipu…”

    Cintailah dunia sekedarnya saja, syukuri apa yang ada, dan jangan menunda merasakan kebahagiaan dengan keinginan2 yang belum pasti.

    Merasalah bersyukur saat ini juga…

  28. Hukum Gossen 1 berguna bagi salah satu pelaku ekonomi yaitu produsen. Produsen wajib mampu melakukan pembaharuan terhadap barang produksinya untuk mengantisipasi permasalahan yg timbul akibat konsumen yg cepat mencapai titik kebosanan. Salah objek apabila hukum gosen di terapkan selain dalam kegiatan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s