Dan Ombak pun Menerjang Lagi

Saat ini, saya terdampar ke dalam salah satu fakultas di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Pulau Jawa. Yang jelas, rumpun fakultas ini adalah rumpun ilmu sosial. Fakultasnya sendiri tidak begitu penting untuk diberitahu, kecuali dikatakan bahwa fakultas ini memiliki mahasiswa terbanyak di PTN yang bersangkutan.

Meskipun dipilih sebagai pilihan kedua, awalnya saya justru lebih bersemangat untuk memasuki fakultas ini dibanding fakultas dengan rumpun ilmu alam yang jadi pilihan pertama saya. Faktor materi yang akan diajarkanlah yang menyebabkan saya memilih fakultas yang bersangkutan. Dengan senang hati dan riang gembira, saya membulatkan pilihan kedua tersebut untuk kedua kalinya ketika mengisi formulir SNMPTN — karena sebelumnya sudah diterima melalui UMB tapi tidak saya ambil.

Tapi rupanya saya melupakan satu hal. Satu hal yang seharusnya tidak saya lupakan, yang seharusnya saya ingat dan pertimbangkan, karena sebenarnya saya sudah pernah menjalaninya sebanyak dua kali dalam skala yang lebih ringan.

OSPEK.

Sedari awal saya memutuskan untuk melanjutkan proses pembelajaran di fakultas-fakultas pilihan saya, saya sama sekali tidak pernah mempertimbangkan hal yang satu ini. Yang saya pikirkan cuma: apa kurikulumnya, bagaimana metode pembelajarannya, dan bagaimana ujian akhir semester dan bentuk skripsinya. Baru di saat-saat terakhir saya menyadari bahwa saya masih harus melalui suatu masa yang bernama OSPEK, yang notabene setidaknya punya durasi lebih lama daripada OSPEK yang ada di Perguruan Tinggi Swasta. Apalagi, fakultas yang saya masuki saat ini katanya — dari apa yang saya dengar — punya OSPEK yang lebih ‘wah’ daripada fakultas lainnya.

***

Sejak dulu, saya tidak pernah suka yang namanya MOS, OSPEK, atau semacamnya. Walaupun dalam posisi senior sekali pun, saya tetap tidak suka yang macamnya begitu. Secara global, menurut saya ini seperti menciptakan lingkaran setan senioritas; rasa-rasanya pikiran seperti ‘yes, bisa balas dendam!’ itu sangat umum ditemui dalam lingkup OSPEK atau MOS. Rasa-rasanya agak sedih saya dengan pola ini, seakan-akan seperti teori sosionomik atau lingkaran setan kemiskinan saja. Dan secara pribadi kegiatan ini agak… menghambat. Saya tidak begitu suka diri saya yang penyakitan, dan hal semacam ini hanya akan semakin memicu ketidaksukaan itu saja. Merepotkan. Saya memang tidak terbiasa dengan aktivitas fisik, lebih baik berpikir di belakang meja saja.

Yang benar-benar menyebalkan lagi, kenapa saya bisa sampai lupa kalau fakultas terkait punya predikat yang agak ‘wah’ dalam hal OSPEK? Memang tidak akan sesadis IPDN, tidak pula akan membuat mahasiswa baru menggelepar bagaikan cacing kepanasan, tapi tahu sendiri ‘kan bagaimana rupa-rupanya OSPEK? Kecuali kalau MOS-MOS yang telah saya alami beberapa tahun belakangan ternyata lebih berat daripada OSPEK yang akan saya hadapi, maka pernyataan saya bisa jadi salah.

Sehubungan dengan OSPEK dan senioritas, beberapa hari lalu saya sempat membaca berita lama mengenai mahasiswa yang dipukuli karena mengkritik universitasnya melalui blog. Mengingat saya sering sekali mengkritik peristiwa di sekolah saya juga lewat blog, bagaimana kalau ternyata muncul keajaiban sial yang membuat saya bernasib serupa? Saya ‘kan kuliah buat belajar, bukan buat dipukuli. Mendingan saya ikut olahraga tinju sekalian, masih dapat uang dan ada program olahraga yang teratur.

…tentunya kans peristiwa ini akan terjadi tidak begitu besar, tapi siapa yang tahu?

Lalu satu hal yang paling menyebalkan. Dan ini benar-benar menyebalkan karena baru saya ketahui tak lama ini. Seperti masuk ke dalam restoran mewah yang ternyata di lantainya ditanami ranjau. Apa itu? Bahwa ternyata kegiatan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri tersebut dimulai pada bulan Agustus. Bulan Agustus 2008.

Sabtu, tanggal 9 besok.

Satu bulan penuh.

Non-stop.

Tentu, ini bukan salah Perguruan Tinggi Negeri tersebut. Ini seharusnya jadi salah saya. Karena, yang saya dengar dari teman-teman saya, kegiatan universitas baru dimulai bulan September. Si X bilang September, si Y bilang September, si Z bilang September, dimana-mana bilang September. Jadi saya santai-santai saja. Masih ada waktu satu bulan untuk improvisasi diri seperti les macam-macam atau menamatkan buku-buku berhalaman tebal yang belum habis saya baca.

Rupanya, September itu hari pembelajarannya. Bukan awal OSPEK-nya. BUKAN pra-OSPEK-nya. Alhasil, kandas sudah rencana-rencana saya. Yang tadinya saya kira saya sudah bisa lancar menyetir dan siap mendapat SIM bulan Desember nanti, tidak tahunya jadi terhalang. Yang tadinya saya kira saya bisa khatam kitab sucinya Nazi dan kitab suci bahasa Jowo, tak tahunya habis dilahap setengah porsi saja belum.

Tambah lagi, saudara orang tua saya yang tinggal di dekat lokasi PTN tersebut, yang tadinya saya mau numpang disitu sebagai gantinya ngekos, ternyata pindah rumah. Berarti saya harus berangkat dari rumah — yang jaraknya sangat jauh — agar bisa sampai sana pada pukul tujuh pagi. Padahal kalau dimulai di bulan September, saya masih ada harapan untuk mencari tempat kos yang sesuai selera.

Habislah.

***

Saya bukannya tidak suka fakultas yang akan saya masuki; tidak, jika saya tidak suka, maka saya tidak akan pernah memikirkan untuk membulatkan pilihan saya disitu. Yang tak saya suka adalah fakta bahwa saya melupakan aspek krusial yang jadi awal derita saya sebagai mahasiswa, melupakan aspek sosial dari fakultas dengan rumpun sosial — ironis.

.

Ah, kalau pun sang ombak kembali menerjang karang yang lapuk, tak pelak lapuknya karang hanya menyisakan bekasnya yang terbawa arus. Dengan sang camar yang mengepakkan sayapnya di atas awan, mengeluarkan pekikan pelan yang terhapus gemuruh ombak.

Entri curhat? Mungkin begitu. Entahlah.

20 Tanggapan ke “Dan Ombak pun Menerjang Lagi”


  1. 2 Xaliber von Reginhild Rabu, 6 Agustus 2008 pukul 21:21

    I hope it won’t be that serious.

  2. 3 Goenawan Lee Rabu, 6 Agustus 2008 pukul 23:13

    And let’s put a smile on your face. :D

  3. 4 juno Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 3:09

    ..and don’t forget that i will always on your side
    *jd kayak lagu*

  4. 5 Prabu Pandu Asakura® Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 5:33

    Did you know why there’re scratch on my face? It’s all because of that d**n MOS, and I’ll get more scratches in ospek.

    BTW, Ospek saya (resminya) cuma 4 hari. Sialnya, rambut saya harus digundul.

  5. 6 masamune11 Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 7:41

    *Insert horrid music here*

    Lhaa…. bisa lupa dengan OSPEK toh? Saya dari kemarin malah ingetnya OSPEG :| *lirik Gotei*

    *dibakar*

    Dan dengan kurangnya sedikit informasi, seluruh rencana dapat hancur dengan mudahnya, layaknya istana kartu yang rubuh…

    *digetok*

  6. 7 Tria Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 10:21

    Hadapi dengan senyuman.. :)

  7. 9 syaorannatsume Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 15:22

    1 bulan non-stop? Hhh…
    sudahlah,, ganbarinasai. (tapi itu tetep terlalu lama)
    aduwh,, bisa-bisa kelenger sebelum mulai belajar.. tetap fighting aja! kan diospeknya rame-rame

    tapi saya tetap membenci mos atau ospek. dan saya harus menghadapi tantangan itu 3 tahun kedepan..

  8. 10 Max Breaker Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 16:35

    Sabar saja kawand… Semoga engkau senantiasa dilindungi Yang Maha Kuasa :D
    Kalo gitu buat blog baru saja yang bener2 anonim khusus buat nulis komplain tentang universitasmu :D

  9. 12 fantasyforever Kamis, 7 Agustus 2008 pukul 22:02

    Waw, sebulan penuh? Lama amet. Gw aja 1 minggu. Hehehehe.

  10. 13 Strife Leonhart Jumat, 8 Agustus 2008 pukul 21:12

    wowsatubulannonstop?

    haha,saya dari awal cuman mikirin soal bagaimana kuliah nanti, malah sudah hunting bahan kuliah duluan..baru aja ingat kalo tanggal 16 ini sudah kuliah perdana..huhu

  11. 15 Bebek Jamuran... Jumat, 15 Agustus 2008 pukul 15:28

    Santai aja lagi… Se-wah-wah-nya OSPEK di perguruan tinggi itu, masa iya sih ada pukul memukul? Yang masuk situ kan orang-orang yang lolos saringan yang berat, dengan kata lain kaum intelektual. Masa iya orang-orang pinter mainnya pake fisik? Bukan otak? :P

    Oh iya, panitianya juga sibuk lama sebelum mahasiswa baru masuk lho… Kegiatan sebulan penuh? Panitia bisa 3 bulan hampir penuh… :P *Derita penitia OSPEK*

  12. 16 Xaliber von Reginhild Jumat, 15 Agustus 2008 pukul 17:47

    Untungnya sejauh ini belum ada apa-apa. :D Paranoia ini. :mrgreen: Sudah dengar rumor macam-macam sih. :P

    Mudah-mudahan politik ngga ada ngumpul-ngumpul, capek ah. :P

  13. 17 Dins Allheal Senin, 18 Agustus 2008 pukul 0:25

    Saya doakan ada biar capek sekalian. :twisted:

  14. 18 Radix Hidayat Senin, 18 Agustus 2008 pukul 18:18

    soal OSPEk, kata saya jangan berpikiran negatif duluan… minimal di ITB sendiri, ketika kegiatan yang namanya OS/OSPEK/kaderisasi/apapun itu dilarang, jati diri kegiatan itu semakin jelas. bukan sekedar ajang balas dendam. bahkan, saya bilang OS/OSPEK/kaderisasi/apapun itu adalah sebuah ajang reorientasi diri, untuk mengingatkan apakah tujuan hidup kita sudah benar?

  15. 19 Xaliber von Reginhild Minggu, 31 Agustus 2008 pukul 23:59

    @Dins Allheal:
    Kejam. :evil:

    @Radix Hidayat:
    Di fakultas saya ternyata nggak sesadis yang dibicarakan. Tapi buat yang lainnya, semoga memang benar begitu dan bukan sekedar siklus balas dendam. :)


  1. 1 Begitu Lama, Begitu Cepat… « Celoteh Bebek Jamuran… Lacak balik pada Minggu, 31 Agustus 2008 pukul 23:42

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,925 soldiers