Dua hari lalu, tanggal 30 Juli 2008, terjadi kebakaran besar di kompleks UNJ, Rawamangun, Jakarta. Kebakaran yang disinyalir berasal dari eksperimen bahan bakar motor di dalam (ya, di dalam) ruangan Teater Besar UNJ itu melalap empat ruangan SMA yang berada di lantai tiga dan seluruh ruangan SMP dan SD yang juga berada di lantai tiga. Beberapa ruangan yang di lantai dua juga terkena imbasnya, meskipun tidak terlalu parah.
Saya pertama kali mendengar berita ini dari ibu saya, di hari yang sama, pada pukul 14:00 WIB. Pertama kali muncul di running text MetroTV. Seharian itu, berita tentang Labschool terus ditayangkan hingga pukul 21:00 WIB, dan saya mendapati sms-sms dari teman-teman saya yang menginformasikan dan menanyakan tentang kebakaran tersebut.
Tanggal 31 kemarin, sehari sebelum pengumuman SNMPTN, saya melakukan kunjungan ke tempat saya bersekolah sejak tahun 1997. Tidak seperti yang diberitakan — agak hiperbolis saya rasa — pada nyatanya, meskipun kebakaran memang tergolong besar, tidak semua bagian dari Labschool dan SDN IKIP Jakarta benar-benar ludes. Di SMA-nya sendiri, ruangan lain selamat kecuali ruangan kelas XD, XE (kelas saya dulu), XF, dan ruang guru yang semuanya terletak di lantai tiga. Tapi keadaan SMP dan SD memang lebih buruk daripada itu — hampir setengahnya lebih mengalami kerusakan.
Yang agak tragis, kebakaran yang terjadi beberapa hari setelah ulang tahun ke-40 Labschool ini menyebabkan kamera CCTV yang baru dipasang di SMA dan ruang multimedia yang berisi lima buah komputer yang baru dibuat di SMP juga ikut terbakar. Begitu pula setiap komputer yang dipasang di setiap kelas 9 SMP. Loker-loker dan bangku kayu yang baru saja diganti (tadinya dari besi) juga jelas ikut terbakar.
Ketika sekolah memutuskan untuk mengganti kursi besi-kayu menjadi kursi yang benar-benar kayu seperti di SMA-SMA negeri, sebenarnya saya agak kecewa — dan punya firasafat buruk. Pertama, berhubung ada sebagian murid Labschool yang iseng, kursi begitu agaknya rawan dirusak dan dibolongi dengan berbagai cara yang aneh. Kedua, kursi-besi yang dulu punya dudukan bantal, sehingga lebih enak buat duduk daripada kursi kayu yang keras. Ketiga, kalau kebakaran gimana?
Dan ternyata benar. Beberapa minggu setelah perabot itu diganti, terjadi kebakaran. Kursi-kursi kayu begitu jelas mempermudah api merambat lebih cepat. Alhasil perabot di dalam kelas ya benar-benar ludes, padahal baru masuk tahun ajaran baru.
***
Ketika saya naik ke lantai tiga yang terbakar habis, yang terbayang di pikiran saya adalah tiga hal: markas rahasia teroris, Perang Dunia II, dan roof garden — tanpa tanaman. Lantai tiga yang aslinya memiliki atap itu benar-benar sudah kehilangan dinding dan atapnya. Tidak ada yang tersisa kecuali puing-puing logam dan sisa kertas yang terbakar.
Yang juga disayangkan — selain berbagai kerugian yang telah saya sebutkan sebelumnya — adalah terbakarnya ruang guru. Masing-masing ruang guru — SMA, SMP, dan SD — terbakar. Dan itu jelas menyebabkan hilangnya arsip-arsip sekolah yang penting. Salah seorang guru akuntansi SMA yang pernah mengajar saya terpaksa membuat ulang layout dan tabel akuntansi, yang notabene cukup memakan waktu membuatnya. Guru SMA yang pernah mengajar saya sejarah pun kehilangan puluhan buku-bukunya, padahal banyak buku sejarah dan militer yang menarik seperti Istana Presiden Indonesia, yang hanya menyisakan senyum Pak Harto dan Ibu Negara dari atas kertasnya yang sudah setengah terbakar.
Dari kebakaran itu, anehnya masjid yang berdiri di tengah-tengah kebakaran hampir tak tersentuh sama sekali. Hanya sebagian dinding luarnya saja yang gosong, sedangkan dalamnya tidak terjadi apa-apa. Padahal pertama kalinya mendengar tentang kebakaran itu saya langsung teringat kondisi masjid. Bukannya apa, tapi masjid itu adalah tempat favorit saya semasa SMA. Selain karena sebagai anggota Rohis saya sering berada disana, masjid itu juga tempat yang enak buat tidur, soalnya sejuk.
Ini mengingatkan saya akan peristiwa tsunami Aceh beberapa tahun lalu, di mana juga terdapat masjid-masjid yang masih kokoh berdiri setelah gelombang besar tersebut. Apakah ini bukti kebesaran Tuhan atau bukan, yang penting saya tidak kehilangan tempat favorit untuk menghabiskan waktu.
Sayangnya tempat favorit saya lainnya, kantin SMP belakang, yang juga dijadikan ‘markas’ tim pembuat komik bersama teman-teman, terkena dampak dari kebakaran.
Dan menyikapi kebakaran ini, Bapak Arief Rachman, mantan kepala sekolah SMA Labschool, menawarkan untuk melanjutkan kegiatan belajar-mengajar di SMA Diponegoro bimbingan beliau. Namun sementara ini saya dengar murid kelas X yang kelasnya terbakar masih akan tetap belajar di ruang lingkup SMA (di laboratorium kalo nggak salah), untuk SMP akan belajar di ruang lingkup UNJ, sementara SD akan ditampung di SD Jatinegara Kaum.
***
Selain isu bom yang pernah terjadi sekitar tahun 2000-an, yang mana menyebabkan kepanikan besar karena terdengar ketika masa-masa sekolah, peristiwa ini merupakan salah satu yang terparah. Untungnya kebakaran ini terjadi pada saat liburan Isra’ Mi’raj, karena jika tidak, saya ragu akan kehilangan yang lebih besar lagi dan bagaimana kepanikan yang harus dihadapi.
Yah, semoga saja SDN IKIP Jakarta serta SMP dan SMA Labschool bisa dibangun kembali setelah peristiwa besar yang memberatkan ini. Semoga saja ada hikmahnya, seperti pertimbangan mengenai perabot yang dipasang.
.
Link terkait:





Saya turut berduka cita, Xal.
Saya pertama kali tahu beritanya juga dari running text. Jujur, saya kaget saat itu. Saya juga ingat pernah melihat link labschool di salah satu blog wordpress, dan setelah gugling keluar nama Xaliber.
Ambil hikmahnya saja. Setidaknya kebakaran itu tidak menelan korban jiwa.
trivia bisa dilihat di junosuper.blogspot.com ahaha. btw xal kelas saya xi ips i jg ga rusak loh, pdhl samping dan atasnya adalah teater besar..
Innalillahi wa innailaihi rooji’uun
Turut berduka cita Dip..
Iya, keknya Masjid memang dilindungi sama Yang Maha Kuasa ya Dip
BTW jadi keterima kuliah dimana nih?
gak jauh beda tuh fotonya
ada rahasia apa gerangan di balik semua ini?
btw, mushola sekolah juga jadi tempat favorit saya.. selain buat kegiatan rohis juga bisa jadi tempat bolos atau tidur siang
eniwei, saya turut berduka cita…
oh iya, kamu jadinya kuliah ke mana?
*menangis tersedu-sedu*
Bukunya… bukunyaaaa~…… T_T
[/salahPokusMalahMikirinBuku]
…
*ahem, serius*
BTW, saya lihat berita soal ini di Metro kemarin. Yang bikin nyesek juga: pas kamera menyorot, tampak kondensor2 AC yang terpanggang…
*merinding bayangin kerugian ybs* ^^;;;
Wekzz.. udah repot2 bolak-balik masang n nyopot link ehh.. gak apa. Sama aja kyk kasus di sebelah.
Langitnya.. saya suka yang kedua.
MAAF.
Turut berduka.
Azab tuh azab… Azabny U**a
Soal Masjid. Ingat kata-kata favorit hari itu adalah, “Ini kebesaran ALLAH!!!”
miyu jg kaget O__o; waktu iseng2 nonton beritanya ryan, di bwh ada tulisan labschool terbakar dll
Saya suka itu kalimat terakhirnya. Ya, tempat favorit memang sukar utk digantikan walau mungkin akan dibangun lagi
@Prabu Pandu Asakura:
Iya, untungnya tidak ada korban jiwa sama sekali dari kebakaran yang lumayan besar itu.
@juno:
Baguslah, soalnya si Danu pernah gambar aneh-aneh disitu.
@Frozen X:
Semoga bisa direbuilt kembali.
@Max Breaker:
Dan kuliah, saya dapatnya Ilmu Politik UI walau bukan prioritas satu sih. ^^;
Soal masjid, saya bersyukur masjid itu ngga ketelan api.
@Strife Leonhart:
Mesjid memang adem, enak buat istirahat disitu.
1.
Iya soalnya yang dominan gambar langitIya, yang kebakar cuma sebelah kanan aja.2. Ambil UI deh. ^^;
@sora9n:
Bukunya memang sayang banget… saya baru sempet minjem satu buku padahal. Guru yang ngajar saya itu koleksinya bagus-bagus, ada teologi juga.
[/losFokusJuga]
Kalau menurut steax, kerugiannya bisa sampai belasan milyar rupiah.
@Dins Allheal:
Terima kasih.
@Lemon S. Sile:
Ybs lagi ke Beijing pula. Ada-ada aja tuh.
@Uchiha Miyu:
Saya juga pertama kali lihat dari running text…
@alex:
Yup, meskipun dibangun lagi, itu tidaklah persis sama dengan tempat yang dulu.
Burn ‘em down…
ya haaa~~~
swt… masjid ya…???
berduka cita aja deh
saya turut berduka cita…
sayang banget,, sekolah bagus gitu kok terbakar? padahal masih inget banget dulu ketika study banding kesana!
tapi untung ga semua dan terjadi pas lagi libur..
ga bisa bayangin deh kalo waktu itu lagi sekolah,,
untungnya, murid-murid yang laen bisa terus belajar di sekolah lain… syukur de..
Cuma bisa turut berduka cita aja…
Tapi, untungnya pas libur, jadi murid-murid selamat…
Kalau pas ada murid, tak terbayangkan deh paniknya…
@plain love:
Iya, masjid. -.-
@syaorannatsume:
Untungnya memang masih libur..
@ardianto:
Kalau ada murid, bisa parah sekali. Lebih parah dari insiden-insiden sebelumnya. -.-
pas lagi nonton berita ngeliat labsraw kebakar…
untung aja pas libur, kalo pas jam KBM pasti gawat tuh.
Ck, kasihan sekali ruang gurunya terbakar…
semuanya pula…
turut berdukacita…
turut berduka cita atas kebakaran di labschool
turut bersyukur atas pemilihan tanggal kejadian yang di luar KBM(kalo ga bisa ada korban juga…)
@ Xaliber von Reginhild
Err… Kapal Theseus?
kurang kerjaan loh buat artikel ginian,… mending bantu gw selesein misi…
HELP MEEE
@reverseinverse dan Lockon:
Tengkyu.
@sora9n:
Iya.
@Kils Dragonerk:
Situ mah seneng sekolahnya ngaben.
salam kenal