Jago Grafis ≠ Jago Desain Layout?

Kadang suka ada simplifikasi antara masalah-masalah tertentu yang sebenarnya punya cakupan luas, seperti masalah sejarah yang dapat dibagi berdasarkan waktu (prehistori, ancient history, abad pertengahan, pre-modern, modern, dan post-modern), masalah komputasi (teknik komputer, ilmu komputer, sistem informasi), dan masalah desain-mendesain grafis.

Di sekitar saya sering ada anggapan bahwa orang yang jago menggambar atau jago dalam hal grafis (baik manual maupun digital), berarti menguasai betul seluruh aspek seni visual tersebut. Aspek tersebut termasuk dalam mendesain layout.

Nah, saya pribadi kurang setuju. :?

Menurut saya, orang yang jago menggambar atau jago grafis tidak serta merta menguasai aspek dari seni visual lainnya. Dia boleh jadi sempurna dalam melukis orang atau impresif dalam membentuk komposisi sebuah forum signature, tapi belum tentu dia cermat dalam hal mendesain layout. Sama halnya dengan orang yang hobi (dan ahli) mengutak-atik hardware komputer, belum tentu mengerti bagaimana cara memprogram dalam bahasa Java.

Berbeda dengan seni grafis biasa, mendesain, menurut saya, adalah proses penyampaian pesan tertulis — pesan tersurat — yang didukung dengan aspek visual. Menggambar adalah soal estetika, memang; suatu gambar seorang gadis yang termenung memandang daun berguguran bisa saja memenuhi standar banyak orang sekaligus. Kelihatan indah, cantik, dan nyata.

Tapi ya itu saja. Tidak ada isi pesan selain suatu yang tersirat di atas kertas: suasana gambar yang digambarkan oleh si penggambar.

Berbeda dengan mendesain layout. Disini, keindahan gambar adalah wadah, bukan isi. Isi yang sebenarnya adalah pesan-pesan tertulis (ya, pesan tersurat beneran) yang akan ditampung oleh desain yang menawan. Tujuan utama mendesain layout, menurut saya, justru bukanlah menonjolkan estetika dari desain, tapi sebaliknya, menonjolkan pesan tertulis agar dipahami oleh pembaca.

Bicara soal desain ini, contohnya adalah buku tahunan/buku angkatan saya yang akhirnya bisa sampai ke tangan saya setelah ditunda sebanyak tiga kali.

Di buku yang diurus oleh teman-teman seangkatan saya tersebut dapat dilihat beberapa contoh desain kontemporer khas anak muda (yang lagi populer belakangan ini). Warna yang bertabrakan, suasana cerah, dan semacamnya. Meskipun itu bukan selera saya, tapi, secara estetika, saya rasa yang semacam itu bisa dikatakan bagus. Menarik.

Nah, tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, bagus secara estetika bukan berarti bagus secara desain dalam layout. Di buku tersebut, dapat ditemui beberapa halaman yang, meskipun memiliki desain yang artistik, menyulitkan pembaca untuk membaca pesan tertulis yang ada disitu.

Tim desainernya sendiri adalah orang-orang yang memang memiliki kredibilitas dalam bidang grafis dan gambar menggambar. Tapi hasilnya ada beberapa kalimat yang warnanya sulit dibedakan dengan background, jenis font yang sulit dibaca, pemanfaatan komposisi teks yang kurang pas (menyebabkan kalimat yang terpotong), dan background warna-warni yang bertabrakan dengan tulisan; mengingatkan saya pada penggunaan wallpaper pada background Prenster. :P

Saya teringat akan pernyataan Scott Allan Wallick (yang bisa dilihat di blog mas Gun), seorang desainer theme WordPress yang terkenal akan desain layoutnya yang minimalis, ketika mempersoalkan masalah desain-mendesain ini.

“I offer themes that showcase your content, not my design skills,” begitu ujarnya, dan saya rasa ini bisa jadi sentilan untuk mendesain layout yang bagusnya lebih memerhatikan isi pesan daripada estetikanya saja.

37 Tanggapan ke “Jago Grafis ≠ Jago Desain Layout?”


  1. 1 Ash Minggu, 27 Juli 2008 pukul 19:59

    Wah pertamax nih?

    Lama saya nggak mampir ke sini…

    Well, yeah, saya setuju bos! Mengingat saya sendiri gemar menggambar (hanya gemar lho..) tetapi benar-benar tidak punya ide jika dihadapkan dengan tugas layout majalah. Jadi ingat pas SMP dulu, majalah GEMA, clueless abis pas desain halaman…

    Soal Buku Angkatan, weleh, KELAS SAYA YANG PALING NGGAK BERES!! Tulisan cilik-cilik bikin sakit mata.. wew. Bukan berarti mau mengeluh (senang saya malah soalnya fotonya jadi kecil. Hiahahaha) tapi iri aja sama desain kelas lain terutama IPA 3 sama Aksel (enak dibaca tuh 2 kelas itu).

  2. 2 steax Senin, 28 Juli 2008 pukul 7:17

    Huahahahahahahahaha. *stress lol*

    Bikin buku tahunan paling ribet karena unsur kendali yang biasa dipegang desainer terpangkas untuk keperluan lain. Kalau kita bebas memilih desain, layout, dsb sendiri, mungkin agak beres, tapi karena satu dua hal dan banyaknya pengaruh sana sini (bukan mengeluh, tapi memang ini konsekuensi berkerja dalam tim besar) jadinya unsur kreatif digantikan dengan unsur, katakanlah, “memaksa”. :o

  3. 3 sora9n Senin, 28 Juli 2008 pukul 7:53

    “I offer themes that showcase your content, not my design skills,”

    Ahaa… :lol: Jadi inget beberapa kali, saya sering jengkel kalo buka blog/website orang yang bertaburan flash dan gambar. Loadingnya lama, soalnya. Padahal yang mau dibaca itu postingnya. :P

    [/fakirBenwit]

    Di buku tersebut, dapat ditemui beberapa halaman yang, meskipun memiliki desain yang artistik, menyulitkan pembaca untuk membaca pesan tertulis yang ada disitu.

    Buku tahunan saya juga kok. (-_-) Font-nya Palace Script, tapi dipakainya kok buat nulis paragraf… ^^;

    *pusing bacanya*

  4. 4 strife leonhart Senin, 28 Juli 2008 pukul 8:37

    *terpancing trekbek*

    ya misalnya saja saya… grafis gak jago, layout apalagi,,, jagonya ya niru/jiplak :mrgreen:
    (tracing foto termasuk seni menjiplak juga gak ya?)

  5. 5 JUNO Senin, 28 Juli 2008 pukul 17:32

    iyatuh persis bku taunan smp saya. design layoutnya ga asik. btw xal bikinin design layout blog saya dooong. situ kan jago juga xp xp

  6. 6 Xaliber von Reginhild Selasa, 29 Juli 2008 pukul 13:51

    @Ash:
    Wah, iya, lama nggak bersua. :D

    IPA 3 soalnya kelasnya salah satu tim desainer. <_< XI IPS 1 tuh juga susah dibacanya; tulisan putih (sementara BG abu-abu) dan judulnya di kanan bawah halaman.

    @steax:
    Kalo desainnya steax mah kelihatan banget bedanya. Gaya web 2.0. :mrgreen: Yang masalah bukan di kreativitasnya, IMO, tapi layouting. :?

    @sora9n:
    Saya juga suka jengkel kalo blog yang kebanyakan flash atau gambar sebejibun. :P Bikin Firefox ngehang. [/fakirRAM] :mrgreen:

    Soal font, ada juga itu di saya font yang rada gendut tapi buat paragraf. :|

    @strife leonhart:
    Wah entah ya, saya ngga pernah tracing. :mrgreen:

    @JUNO:
    Buku tahunannya Darta sih masalah di judul kover aja.

  7. 7 Prabu Pandu Asakura® Selasa, 29 Juli 2008 pukul 22:11

    Siyal, buku angkatan saya baru keluar tanggal 1 Agustus nanti. Saya curiga ada konspirasi agar siswa sekalian melapor hasil Ujian Masuk Perguruan Negara kemaren. :P

    Di sekitar saya sering ada anggapan bahwa orang yang jago menggambar atau jago dalam hal grafis (baik manual maupun digital), berarti menguasai betul seluruh aspek seni visual tersebut. Aspek tersebut termasuk dalam mendesain layout.

    Itu bukan hanya di sekitar antum, di SMA saya malah ada anggapan bahwa siswa yang jago desain otak kanannya lebih canggih dari siswa lain. Anggapan macam apa pula, ini? :lol:

    “I offer themes that showcase your content, not my design skills,” begitu ujarnya, dan saya rasa ini bisa jadi sentilan untuk mendesain layout yang bagusnya lebih memerhatikan isi pesan daripada estetikanya saja.

    Ah, jadi ingat penyedia blog gratis yang oleh penggunanya hanya diisi asesoris berbau ples™, yutub™, pleilist™ lagu, dll. Jadi sakit mata (dan telinga) rasanya kalau baca blog seperti itu. :|

  8. 8 JUNO Rabu, 30 Juli 2008 pukul 5:41

    xal kamu belum liat buku taunan angkatan saya wkt smp kan? hancur. ada yg cetakannya busuk. warna sm tulisan nabrak, gambar pecah..

  9. 9 ardianto Rabu, 30 Juli 2008 pukul 10:42

    Ah, saya ndak bakat seni…
    Ndak tahu deh bagus apa enggak :lol:

  10. 10 Mi_Chan Rabu, 30 Juli 2008 pukul 14:56

    Ah, aq cm suka gambar di sketchbook doang. Yg lain kagak emoh. :mrgreen:

  11. 11 dani Rabu, 30 Juli 2008 pukul 20:27

    di stucel dot com jg dibahas yg serupa..
    http://www.stucel dot com/blog/website-design-not-graphic-design

  12. 12 Xaliber von Reginhild Kamis, 31 Juli 2008 pukul 1:48

    @Prabu Pandu Asakura:

    Itu bukan hanya di sekitar antum, di SMA saya malah ada anggapan bahwa siswa yang jago desain otak kanannya lebih canggih dari siswa lain. Anggapan macam apa pula, ini? :lol:

    Mirip-mirip dengan anggapan bahwa anak IPA lebih pinter daripada anak IPS? :P
    *beberapa memang benar sih, tapi ngga bisa generalisasi*

    Ah, jadi ingat penyedia blog gratis yang oleh penggunanya hanya diisi asesoris berbau ples™, yutub™, pleilist™ lagu, dll. Jadi sakit mata (dan telinga) rasanya kalau baca blog seperti itu. :|

    Dilengkapi dengan gambar background ukuran wallpaper dan file size segede gaban. You bet. :lol: :mrgreen:

    @JUNO:
    Buku angkatan ini ditunda tiga kali dan sempat salah cetak malah. Saya masih kebagian versi salah cetaknya. :mrgreen:

    @ardianto:
    Saya juga ngga canggih. :P

    @Mi_Chan:
    Hoho, ngga buat dA? :mrgreen:

    @dani:
    Hehe, mengingatkan saya akan pak Nukman disini:
    http://www.virtual.co.id/blog/web-site-development/beda-antara-web-design-dan-graphic-design/ :mrgreen:

  13. 13 Infinite Inficio Kamis, 31 Juli 2008 pukul 5:06

    Wahwah, benar sekali. Kalau bikin avatar/signature atau menggambar, saya bisa, tapi kalau mendesain layout beda lagi. Stress saya. :|

    Ah, jadi teringat dengan buku angkatan SMP. Mentang-mentang boleh berwarna mereka benar-benar ‘bereksperimen’ dengan warna sehingga hard-covernya pun berwarna seperti es krim Paddle Pop warna-warni yang meleleh.

    Dan isinya pun, nyaris tidak terbaca. Syukurlah kelas saya adalah salah satu yang tidak begitu buruk, tetapi saya juga sedih melihat foto saya yang tingginya kurang dari 2 sentimeter. :( *saya membayar 70.000 untuk buku itu?! Grr…*

  14. 14 strife leonhart Kamis, 31 Juli 2008 pukul 13:09

    di tempat saya ada juga anggapan kalau orang geek yg kerjaan di depan komputer terus pasti bisa apa saja yg berhubungan dengan komputer. termasuk menggambar pake komputer, edit foto, bikin layout FS, benerin mouse, benerin monitor-hanya-dengan-mendengar-masalahnya-dari-telepon, dll

    :mrgreen:

    Ilmu layout dan grafis emang tidak sama ya?

  15. 15 Frozen X Kamis, 31 Juli 2008 pukul 17:58

    orang yang hobi (dan ahli) mengutak-atik hardware komputer, belum tentu mengerti bagaimana cara memprogram dalam bahasa Java.

    Ada salah satu bos di satu perusahaan nganggap programmer itu bisa semuanya yang berkaitan sama komputer, jadinya waktu ada komputer rusak programmernya dipanggil suruh betulin :mrgreen: bwahahahaha…

    Jangankan yang lumayan jauh bidangnya begini, yang deketan aja kadang ada yang ga’ menguasai seluruhnya, misalnya desain web(CSS + Javascript) dengan pemrograman web(php atau jsp dll).

  16. 16 Goenawan Lee Kamis, 31 Juli 2008 pukul 20:15

    *hanya bisa menjura pada mas Herman Saksono*

  17. 17 t4rum4 Kamis, 31 Juli 2008 pukul 23:06

    Untung blog sy minimalis…..

  18. 18 Catshade Jumat, 1 Agustus 2008 pukul 1:02

    Saya nggak bisa nggambar, nggak bisa pake photoshop… tapi saya dengan bangga bisa bilang kalau layout foto dan poster bikinan saya pernah memenangkan 2 lomba :D ada tukang grafis yang mau bekerja sama?

  19. 19 Dins Allheal Jumat, 1 Agustus 2008 pukul 1:37

    Hm hmmm hmm
    Susah juga.
    *diban*

  20. 20 hariadhi Jumat, 1 Agustus 2008 pukul 16:19

    Hmm.. kalau gw belajarnya desain ya ga bisa dinilai dengan bagus atau ga aja. Kalau bicaranya desain harus dinilai juga masalah fungsinya.

    Yah.. misalnya sampe ada ungkapan gini deh, logo itu bisa aja jelek setengah mati, tapi kalau karena jeleknya yang setengah mati itu akhirnya semua orang jadi ingat logo itu, berarti udah jadi desain logo yang bagus. :mrgreen:

  21. 21 Sir Arthur Moerz Jumat, 1 Agustus 2008 pukul 17:40

    betul sekali kawan…
    gw aja anak multimedia belum tentu bisa…
    itu bagaimana pengumuman? diterimakah?

  22. 22 Xaliber von Reginhild Sabtu, 2 Agustus 2008 pukul 1:16

    @Infinite Inficio:
    Hehe, buku tahunan saya juga ada halaman yang nyentrik lho. Dan itu memusingkan! :mrgreen:

    @Strife Leonhart:
    Nah itu juga berlaku di sekitar saya. Saya sering diminta betulin hardware, padahal ngga begitu ngerti. :P

    @Frozen X:
    Hehe, yang ngerti scripting juga kayaknya belum tentu bisa manage urusan networking. :P Sengaja ambil contoh luas supaya gampang. :D

    @Goenawan Lee:
    Menjura… :|

    @t4rum4:
    :mrgreen:

    @Catshade:
    Hehe, menunjukkan bahwa layout tak selalu terikat gambar-menggambar ini. :D

    @Dins Allheal:
    Lha?

    @hariadhi:
    Itu yang saya suka dari belajar desain. Fungsi dan makna filosofisnya. :D Sayang ngga bisa ambil fakultas itu.

    @Sir Arthur Moerz:
    Dapat sih, tapi bukan yang prioritas. :P

  23. 23 Max Breaker Sabtu, 2 Agustus 2008 pukul 15:27

    wah mengenai bekgron FS, saya juga sering heran sama FS teman2 saya, tulisannya jadi ga keliatan gara2 warna bentrok sama bekgron, apalagi yang model tulisannya dicoret semua, jadi bener2 susah dibaca, dasar maniak FS!
    *padahal saya juga dulu maniak FS :mrgreen: *

  24. 24 Dins Allheal Minggu, 3 Agustus 2008 pukul 2:08

    Jadi harus diusahakan bagus dua2nya kan. Ato jelek dua2nya, toh namanya tetap SEIMBANG. :mrgreen:

  25. 25 Lemon S. Sile Minggu, 3 Agustus 2008 pukul 2:50

    Hei-hei…! Sebagai salah satu orang yang disebut dan sebagai panitia BA saya merasa tersinggung nih. Mungkin saya ga bisa memberikan jawaban yang bijak karena saya cuma cere di dalam susunan panitia.

    Sejujurnya sebagai desainer dalam susunan tersebut saya juga sakit hati melihat hasil totalnya. Banyak layout yang ga memadai dan pemilihan warna serta konsep yang kurang bagus. FYI saya cuma bertanggung jawab di beberapa halaman sedangkan halaman yang tidak saya urus saya sama sekali tidak tahu menahu. Tidak bertanggung jawab memang tapi karena maslaha jadwal. Jadwal sendiri kacau menurut saya akibat deretan ujian sejak sebulan sebelum UN yang bertubi-tubi. Sehingga menurut saya saat itu memang agak kacau perencanaan dan pengerjaannnya. Apalagi bidang desain yang notabene hanya bisa bekerja total ketika data sudah siap masuk. Makanya bagian desain sebenarnya memiliki beban paling berat. Padahal tenaganya menurut saya tidak tersinkronisasi dengan baik satu sama lainnya. Ada yang terlalu terikat pada gaya ini, ada yang kerjanya ngaret, ada yang kemampuan digitalnya kurang memadai, ada yang tidak bisa menyampaikan konsep dengan baik. Jadi memang menurut saya sih ada benarnya jika mau mengatakan bahwa tenaga desainer pada susunan kurang berkualitas secara tim. Sehingga bisa dimaklumi kalau desainnya kacau secara layout.

    Selain itu kekacauan layout menurut saya juga terletak pada konsep yang sedikit terlalu rumit. Kami memilih tema scrapbook sebagai dasar. Sehingga diusahakan sedemikian rupa agar menjadi seperti scrapbook. Pewarnaan pada scrapbook menurut saya banyak bergantung pada lighting, sedangkan lighting terkadang bisa memakan bidang lain. Membuat sesuatu yang terlihat menjadi tak terlihat karena efek tersebut. Bila efek dihilangkan kesan scrapbook menjadi berkurang, sedangkan untuk menyempurnakan waktu yang tersedia terbatas. Dikarenakan jadwal yang ngaret akibat jadwal akademik yang bertumpuk.
    Saya di sini sebagai bagian dari yang merasa dikambinghitamkan dalam entri ini ingin menyampaikan permohonan maaf. Sekaligus mengingatkan bahwa kami bekerja keras untuk itu semua, kami terpaksa tidak tidur berhari-hari demi mengejar itu semua agar selesai secepatnya. Meskipun akhirnya telat. Tetapi ketelatan tidak bisa menyalahkan kami 100%, karena sebagai infomasi ketelatan juga ada campur tangan panitia di luar panitia kerja. Pihak percetakan pun mengalami sedikit masalah sehingga haus diundur beberapa kali. Jadi saya pribadi sangat tersinggung kalau disalahkan seolah-olah semuanya salah panitia penyusun DAN TOLONG HARGAI JUGA PENGORBANAN YANG SUDAH DILAKUKAN PANITIA.
    Kemudian soal gaya yang kami gunakan, kami menggunakan dominan gaya scrapbook, minimalis, dan urban. Jadi jangan hanya menyebut gaya kontemporer anak muda dong. Itu terlalu umum sehingga kesannya terlalu luas dan jadi jauh dari permasalahan, bila mau menyebutkan sebutkan yang jelas. Kalau tidak tahu jelaskan juga ketidaktahuan Anda.

    Pokoknya saya pribadi merasa tersinggung dengan postingan ini. Karena seolah-olah Anda menyalahkan desainer secara umum untuk hasil BA yang menurut Anda pribadi tidak memuaskan.

  26. 26 Xaliber von Reginhild Minggu, 3 Agustus 2008 pukul 4:02

    @MaxBreaker:
    Itu dia, pemanfaatan CSS yang tidak sinkron. :mrgreen:

    @Dins Allheal:
    Bisa satu, belum tentu bisa yang lain, begitu. :P

    @Lemon S. Sile:
    Oke… dari awal post ini ditulis, saya sudah mencoba untuk objektif dalam kritikan. :mrgreen:

    Masalah ketelatan, saya memang tidak menyalahkan panitia, terutama tim desain, secara spesifik. Karena jelas desainer ngga mengurus masalah beginian (saya juga pernah berorganisasi :P ), dan masalah telat/tidaknya buku tahunan ini pun memang nggak begitu dibahas sama saya disini.

    Soal gaya kontemporer, itulah kesan yang saya dapat ketika membuka buku tahunan ini. :? Halaman-halaman awal (bukan kover dan juga bukan yang digambar tangan), rasanya terlihat kontemporer. Yaa, masalah penggunaan warna itu. Desain urban yang Anda maksud juga, menurut pengetahuan saya, tergolong dalam karya kontemporer yang saya maksud disini.

    Tapi begitu membalik beberapa halaman, ditemui juga jenis desain yang berbeda. Ingat, saya memakai kata ‘beberapa’ pada tulisan di atas. Jadi memang nggak semua, tapi impresi yang didapat ketika membuka buku itu untuk pertama kali ya itu. Terutama karena mengusung tema ‘United Color of Impavido’ (saya kurang tau perihal tema scrapbook, karena tema itu kayaknya ngga kelihatan di buku angkatannya kecuali pada halaman kelas IPA 3 dan kover depan).

    Sebenarnya kontemporer, urban, scrapbook, minimalis, atau bukan, saya tidak begitu komplain lah walau bukan selera saya. Karena itu masalah estetika. Subjektif; tiap orang punya pendapat sendiri. Masalah saya di buku tahunan ini hanya pada hal-hal yang saya sebutkan di atas:

    kalimat yang warnanya sulit dibedakan dengan background, jenis font yang sulit dibaca, pemanfaatan komposisi teks yang kurang pas (menyebabkan kalimat yang terpotong), dan background warna-warni yang bertabrakan dengan tulisan

    Masalah layouting.

    Di tulisan ini saya cuma mau menyebutkan, kalau yang jago gambar belum tentu selalu jago dalam masalah layouting. Dan kebetulan contoh yang aktual adalah masalah buku tahunan ini. Tentu, banyak contoh lain seperti desain website yang menyebalkan karena begitu dipenuhi gambar, tapi disini saya mencoba membahas yang lebih ‘dekat’ saja. :)

    Saya hargai kerja kerasnya, dan terima kasih sudah mau rela desain buku angkatan. Bikin beginian memang ngga mudah, sekali lagi, saya juga pernah nyoba rasanya organisasi. :P Tapi ini diharapkan bisa jadi sedikit pengutaraan kritik bagi tim ybs, juga kesempatan saya beropini, seperti ditulis pada judul, bahwa jago grafis tidak selalu membuktikkan kejagoan desain layout — seperti anggapan orang kebanyakan.

    Dan kalau ada kata-kata yang menyinggung, saya minta maaf. :)

  27. 27 Lemon S. Sile Minggu, 3 Agustus 2008 pukul 14:51

    Ya, memang tetapi bagaimana Anda menyampaikan seolah-olah Anda sudah merasa ahli dalam berbagai bidang. Itulah yang membuat tidak enaknya. Dan masalah layouting sendiri kacau karena tema yang agak sulit. Itu sudah saya sebutkan. Tema scrapbook agak sulit layoutingnya bial waktu yang tersedia mepet. Dan waktu mepet karena hal yang sudah dijelaskan. Dan kalau Ada perlu ingat juga. Tidak seratus persen halaman itu dikerjakan oleh panitia dar siswa. Ada juga yg dikerjakan dengan bantuan luar. Jadi jangan membawa sentimen Anda terhadap angkatan, itulah pikir saya.

    Layout memang sulit. Butuh waktu. Sedangkan waktu yang tersedia sedikit tambahan tim desainer menurut saya sekali lagi sangat tidak kompeten secara tim karena tidak bisa bekerja secara tersinkronisasi. Jadi jangan menyalahkan ketidakmampuan kami secara pribadi. Kalau Anda mengatakan dengan gamblang, “Layout BA jelek karena tim desainernya tidak kompeten” atau semacamnya saya masih bisa menerima.

  28. 28 Xaliber von Reginhild Minggu, 3 Agustus 2008 pukul 16:51

    Kembali ke atas, sekali lagi, saya jujur melihat tema scrapbook yang ketara adalah cuma dari kelas IPA 3 dan IPS 1 saja.

    Dan saya tidak membawa sentimen terhadap angkatan. Kalau saya bawa-bawa sentimen, mungkin saya bukan mengkritik sekarang, tapi menghina. :P Sekali lagi saya bilang, saya mencoba mengkritik secara objektif. Objek, bukan subjek. Topik disini adalah perihal layouting yang tidak selalu sepadan dengan keahlian grafis. Dan sekali lagi, contoh aktualnya adalah buku tahunan. Contoh, lho. Saya juga mencantumkan perihal masalah webdesigning pada tulisan, jika Anda mau memerhatikan. Mungkin Anda agak terdistraksi dengan topik buku tahunannya.

    Oke, tanpa maksud sesat pikir red herring dari diskusi, saya kembali ke topik buku angkatan yang Anda angkat. :? Saya memang tidak tahu kalau ada orang luar yang ikut bergabung sebagai tim desain. Jadi dengan pengetahuan begitu ya tentu saja saya melihat para desainer ‘pihak dalam’ yang notabene ahli dalam grafis sebagai pihak yang mendesain buku tahunan ini. Dalam susunan pengurusnya juga tidak dicantumkan kalau ada orang luar yang membantu dalam desain. Jadi saya melihat hubungan antara pekerja dan hasilnya.

    Dan, CMIIW, masalah font dsb, sudahkah Anda mempertimbangkan jawabannya?

    kalimat yang warnanya sulit dibedakan dengan background, jenis font yang sulit dibaca, pemanfaatan komposisi teks yang kurang pas (menyebabkan kalimat yang terpotong), dan background warna-warni yang bertabrakan dengan tulisan

    Karena daritadi ini yang saya fokuskan, dan saya belum merasa mendapat jawaban yang konkret. :P Kalau masalah ini, IMO, masih terkait dengan skill layouting pribadi.

  29. 29 Lemon S. Sile Senin, 4 Agustus 2008 pukul 2:02

    Nah, kalau begitu ingat juga kami membagi tugas. Tapi kembali juga ke pernyataan Anda yang terasa lebih menyakitkan ketimbang Anda menyatakan ketidakpuasan. Seolah-olah Anda mengatakan tidak puas tetapi puas juga. Beri perasaan yang jelas. Dan betapapun Anda memcoba seobjektif mungkin saya masih merasa Anda sedikit masih objektif dan menyinggung dengan tidak enak.

    Dan kami juga mengerti soal permasalahn layout lebih mengutamakan komposisi ketimbang artistik. Kami sudah melakukan itu namun bila masih ada yang tidak puas kami rasa itu kembali ke selera pribadi. Tapi saya sebagai panitia bisa menyebutkan beberapa yang mungkin memiliki layout buruk. Salah satunya memang halaman TO. Motif berwarna di belakang itu saya sendiri tidak turut campur, dan saya memang tidak suka seperti itu. Tetapi itu dikerjakan oleh desainer lain yang tidak bisa saya sebutkan siapa.

    Jadi coba sebaiknya Anda telusuri dulu siapa-siapa yang salah dan apa yang menyebabkannya baru membuat pernyataan yang menyinggung seperti itu.

  30. 30 Xaliber von Reginhild Senin, 4 Agustus 2008 pukul 3:23

    Soal perasaan, saya ngga bisa memberi pernyataan ‘puas sekali’ atau ‘tidak puas sama sekali’. Karena secara desain, jujur saya merasa kurang puas. Tapi di posisinya sebagai buku tahunan, saya cukup merasa puas.

    Masalah artistik/tidaknya, ya, itu memang masalah estetika yang berhubungan dengan selera. Dan saya memang ngga begitu mempermasalahkan itu, soalnya bakal subjektif sekali, seperti tertulis di entri. :mrgreen: Mengenai layout yang rada buruk seperti yang Anda sebutkan, nah, itu yang saya maksud dan saya ambil sebagai contoh dalam topik bahasan ini.

    Setahu saya, semua panitianya punya kelebihan dalam bidang grafis. Dan halaman yang desainnya rada bermasalah itu juga didesain oleh panitia (kecuali pendesainnya ternyata orang luar). Dari landasan itu, saya menjadikan halaman yang bersangkutan sebagai sampel dari topik entri ini (desain grafis tak selalu jago desain layout). Begitu. Jadi bukan maksud generalisasi; dan kalau terkesan begitu, mohon maaf. :)

    Untuk menghindari sesat pikir pula, saya juga mengambil acuan dari kasus lain untuk entri ini, misalnya, kasus desainer yang mendesain web — desainnya mungkin artistik, tapi kemudahan membacanya belum tentu. Cuma itu tadi, mungkin karena bahasan buku angkatan yang dapat porsi tiga paragraf agak mendistraksi poin utama topik ini (yang mana poin utamanya ya di judulnya).

  31. 31 Strife Leonhart Senin, 4 Agustus 2008 pukul 11:02

    *lirik ke atas*
    kayaknya lebih panjang komen daripada postingnya nih… ugh,, lagi males baca

    *kabur*

  32. 32 fantasyforever Senin, 4 Agustus 2008 pukul 11:41

    Wew.. panjang bener kommennya.. Hahaha. Agak ga mudeng saya baca artikel ini. Tapi itu yang buat saya tambah demen baca di blog ini. Hehehehe. Tapi bukankah jago design layout harus bisa grafik ya?

  33. 33 hariadhi Selasa, 5 Agustus 2008 pukul 0:18

    Lemon:
    Gw pikir agak rancu di sini. Lu ga bisa nyalahin tema yang susah atau waktu terbatas sebagai pembenaran atas kualitas karya yang lu buat.

    Kalau memang lu ditunjuk sebagai desainernya ya ga ada alasan untuk ga bisa tema tertentu. (no hard feeling yah, tapi emang begitu yang seharusnya :mrgreen: ).

    Sorry, ga bermaksud ikut campur urusan buku sekolah kalian yah.

  34. 34 Xaliber von Reginhild Rabu, 6 Agustus 2008 pukul 22:47

    @fantasyforever:
    Asal ada komposisi yang pas, saya rasa grafik (terutama digital) bukan suatu keharusan. :D Kan ada juga yang mengandalkan komposisi teks.

    @hariadhi:
    Gpp kok, mas. :D

    Btw, benar juga, ini jadi mengingatkan saya akan profesionalisme. Programmer dan desainer rasanya cenderung terkejar deadline tapi tetap dituntut hasil yang maksimal… :?

  35. 35 harun Kamis, 2 April 2009 pukul 11:29

    desain vs. layout?
    it’s all about taste bro, yang pasti kudu kompak antara mind n theme, pertama kdu ktemu konsep yang pas dulu..kmudian diterjemahkan dengan pemilihan background, komposisi warna n milih font..bagusnya si bisa senada, andaikata gak ktemu konsep yang sehati tersebut dsitulah jago grafis kdu berjuang keras untuk mempertahankan komposisinya..
    yang jelas jago layout kdu jago desain..jgan terbatas sama software2 tertentu coz masing2 punya keunggulan sndiri2
    for Xsample, aku bikin ilustrasi di ilustrator or corel lah utk bikin outline nya, kmudian ke photoshop utk colouring.. mbuat layoutnya di indesign coz teks nya lbh bisa dikendalikan, n gak kaku kya freehand..
    ok, just sharing i guess.


  1. 1 Beberapa Blog Favorit Saya « Deathlock Lacak balik pada Senin, 4 Agustus 2008 pukul 21:48
  2. 2 Berbenah dan Apartemen « Deathlock Lacak balik pada Minggu, 17 Agustus 2008 pukul 2:09

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,924 soldiers