Logical fallacy
Clearly defined error in reasoning used to support or refute an argument, excluding simple unintended mistakes.
.
1. Argumentum ad Hominem
Paling mudah dan mungkin sering dilakukan secara umum. Efektif untuk digunakan dalam perdebatan yang tak kunjung selesai. Inti dari fallacy ini adalah: cari kelemahan lawan. Cari sesuatu dari lawan yang bisa menunjukkan bahwa dia adalah orang lemah yang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Anda. Cari ketidakunggulannya; dengan itu tunjukkan bahwa Anda lebih superior daripada dia.
Contoh:
Sebaiknya anak kecil umur 14 tahun kayak kamu nggak usah sok ikut ngomong politik. Itu urusan orang dewasa.
Jangan percaya sama teori evolusinya Charles Darwin, wong Darwin aja latar belakang pendidikannya nggak jelas.
.
2. Tu quoque
Masih fallacy yang sering digunakan secara umum. Mirip ad hominem, fallacy ini juga menggunakan kelemahan lawan. Bedanya, fallacy ini akan lebih efektif bekerja jika argumen lawan memiliki korelasi dengan kelemahannya. Cara kerja fallacy ini adalah: jika lawan mengatakan untuk tidak melakukan X, sementara dia sendiri melakukan X, maka itu akan jadi kelemahannya. Dengan begitu argumennya akan jatuh.
Contoh:
Kamu nggak bisa bilang kalo nyontek itu nggak boleh; kamu sendiri pernah nyontek!
Nggak usah nasehatin gw deh, sendirinya udah merasa bener belom?
.
3. Argumentum ad Populum
Fallacy yang bisa digunakan kalau banyak orang yang setuju akan suatu hal. Masih jadi solusi yang lumayan efektif untuk memenangkan debat asalkan banyak yang satu suara dengan Anda. Poin dari fallacy ini adalah: suara mayoritas pasti benar. Disarankan untuk tidak menggubris suara minoritas karena beresiko untuk menggagalkan kekuatan dari fallacy ini.
Contoh:
Semua orang di sekolahku tidak ada yang percaya teori evolusi, jadi teori evolusi itu pasti salah.
Islam adalah agama mayoritas di Indonesia, maka agama Islam adalah agama yang paling benar.
.
4. Ignoratio elenchi
Fallacy yang cukup populer untuk mengalihkan perhatian lawan. Jika lawan mulai mengeluarkan argumen yang sekiranya membingungkan untuk dijawab, maka balaslah dengan suatu fakta — apa pun itu — yang sedang terjadi saat ini. Tidak berhubungan dengan argumen lawan juga tidak apa-apa, karena poin dari fallacy ini adalah: distraksi.
Contoh:
Daripada ngurusin FPI-Ahmadiyah, mendingan perhatiin tuh kaum menengah ke bawah! Masih banyak orang susah di Indonesia ini!
Kenapa Indonesia harus direvolusi? Jelas, semua jajaran pemerintah sudah terlalu korup dan harus dirombak dari nol.
.
5. Guilt by Association
Jika masih ingat majas totem pro parte yang diajarkan pas SMP, maka ini adalah versi ekstremnya. Fallacy ini mengandalkan generalisasi secara umum, dan paling enak digunakan kalau mau menyalahkan suatu organisasi besar karena perbuatan satu/beberapa orang. Intinya, cari kelemahan seseorang dan cari darimana dia berasal, maka ia dan organisasinya pasti saing berkaitan.
Contoh:
Warga Amerika Serikut itu isinya orang jahat semua; lihat saja, tahun 2002 lalu mereka menyerang Irak dengan seenaknya!
Si Anto pasti komunis, pergaulannya aja sama orang-orang yang kayak gitu.
.
6. Argumentum ad Verecundiam
Apa salah satu kegunaan seorang tokoh terkemuka? Kata-katanya dapat dijadikan acuan. Dan begitulah cara kerja fallacy ini. Jika Anda pernah mendengar sebuah petuah bijak yang dikatakan oleh figur tertentu — seorang Nabi yang jadi panutan misalnya — atau pernah mendengar sebuah ceramah yang dibawakan oleh seorang guru besar dengan gelar Profesor Doktor, maka itulah yang bisa digunakan dalam fallacy ini. Intinya: apa yang dikatakan oleh sang tokoh pasti benar.
Contoh:
Ente nggak usah ngebantah ane lagi, Syeikh Sholih al-Utsaimin sendiri udah bilang kalau gambar bernyawa itu haram hukumnya!
Kamu mau percaya sama siapa, kata-kata mahasiswa keteteran dari universitas nggak jelas itu atau kata-kata ahli biologi lulusan luar negeri?
.
.
Semoga ada hikmahnya.



Gyhahaha…
Bner2…aq sering ngomong yg 1, 2, & 3.
Hihihi
He?
Pertamax bo’…
Bole hattrick??
….
Eh, BTW, argumentum ad populum pernah masuk iklan TV lho.
Iklan apakah itu?
Hmm..perasaan dulu pernah ada entry semacam ini di blog ini, apa sy salah liat ya? ^^;
Request dong entry tentang “Cara-cara untuk menghindari Fallacy dalam berargumen” atau “Cara-cara untuk meng-”counter attack” Fallacy”. hehe
Jujur aje, sayang sering nomer 1,2 dan 3. Huahuahua. Terutama 1 dan 2 sering saya gunakan untuk jatuhkan musuh saya dalam acara debat. Hehehehe. 1 dan 2 tapi perbedaannya ga seberapa mencolok ya bos. Kalo yang ketiga jarang saya pake sih.
ad hominem, argumentum sendiri terbagi menjadi 2, yaitu “cercaan” dan “keadaan”, lalu…
*malah lanjut bakar menyan buat the next kopdar misteri*
Kalau yang beginian masuk fallacy apa yah:
“Matahari mengedari bumi, atau bumi yang mengedari matahari? Memangnya kamu tahu mana yang benar? Tidak ada satupun teori yang benar-benar pasti di muka bumi. Bisa saja sebenarnya itu salah tapi kamu mempercayai itu benar.”
Kayanya jawaban sok filosofis begitu banyak dipakai untuk mematahkan pendapat orang (plus ga keliatan begonya hehehe)
ah, ya…
Mbahas Fallacy lagi…
Jadi inget iklan Simp*ti, “Jutaan orang nggak mungkin salah pilih”…
Hohoho…
Fallacy oh fallacy…
Menarik nih…
*save di del.icio.us*
jadi inget acara debat soal Ahmadiyah kemarin di TV.
jadi tau mana yg pinter berdebat ama yg engga.
Oooo…
*save halaman ini*
hhm…1,2 n 4
suka bikin post yg lumayan berat ya
Ah, jadi inget apa yang sering dikatakan orang-orang what-so-grown-up dulu:
“Kamu ini masih kecil, belum waktunya belajar gituan.”
Er… kayaknya saya dulu pernah komentar dengan nada ini di blognya orang. Habis ndak tau kalau ini termasuk falacy.
Absolute supremacy?
Daripada mengurusi falacy, lebih baik fokus dulu ke SNMPTN.
*dibakar*
Nah, yang ini. Kayaknya yang ini juga cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia.
Jadi ingat You-know-who. Sekali dia berbicara, orang-orang menganggap bahwa blog adalah dunia haram™.
Ohoho… kepakaran™, ya?
*CTRL+S*
BTW, caranya men-counter serangan falacy seseorang gimana? Apa pakai jurus counter komen yang dulu itu?
1, 2, 3, dan 4 saya pernah melakukannya
yang no 5 itu digunakan roy suryo secara smena-mena terhadap blog dan blogger
@Mi-chan:

1. Hayo…
2. Selamat.
3. Silakan… swt.
@sora9n:
Haha.. iklan
simempati?@Haikara:
[Ini], ya? Bisa dibilang yang itu versi ngga rapinya.
Counter fallacy? Wah, selain dengan menyebutkan bahwa dia telah melakukan fallacy, kayaknya sulit juga. Soalnya fallacy itu cenderung menghentikan debat sih.. seperti ad hominem.
Tapi buat beberapa ada yang bisa dicounter sih.
@fantasyforever:
Hayo..
@Goenawan Lee:
Ayo jelaskan biar saya ngga perlu beli buku itu lagi.
@hariadhi:
Atau bukan? Muter-muter begitu.
Chewbacca defense?
@joesatch yang legendaris:
Ya, mas..?
@ardianto:
Hohoho.
@Strife Leonhart:
Silakan dan terima kasih.
@kabarihari:
Justru itu yang memotivasi saya menulis ini.
@Cynanthia:
Silakan dan terima kasih.
@-rei_chan-:
Hayo…
@p4ndu_454kura© :
Tapi buat beberapa ada yang bisa dicounter sih.
*kopipes jawaban untuk mas/mbak Haikara*
Counter fallacy? Wah, selain dengan menyebutkan bahwa dia telah melakukan fallacy, kayaknya sulit juga. Soalnya fallacy itu cenderung menghentikan debat sih.. seperti ad hominem.
Seperti ad populum mungkin bisa dicounter dengan keadaan bahwa mayoritas tidak selalu benar. Seperti misalnya, hmm… Holocaust Jerman Nazi?
wah komen saya ga dibales neeh….
Wah, maaf, terlewat.. tengah malem sih.
Roy Suryo kayaknya juga generalisasi.
yang nomor 5 mksdnya gmn sih ?
*lom paham
Contoh mudahnya begini..
atau yang lebih populer
Atau contoh lainnya…
Mau dikirimin nggak? Saya kemarin saya cuma beli 1, jadinya buat Infi saja deh.
Waktu kejadian Monas, banyak argumen yang disampaikan tapi sebagian besar fallacy. Dan ada 2 yang sering digunakan : hasty generalization dan ignoratio elenchi. Tapi ada juga yang ad verecundiam [mendewakan seseorang].
Untuk kasus Lapindo, kayaknya ad crumenam yang sering dipakai.
Kalau perdebatan soal agama, yang paling sering nongol itu burden of proof dan ad ignorantiam. Tapi sering juga ad antiquatem (agama x adalah agama yang benar karena telah melalui gonjang-ganjing selama ribuan tahun).
Tapi saya malah sering ketemu penalaran logika yang salah, padahal itu sangat dasar (logika aristoteles). Misalnya yang affirmation of consequence.
Misalnya begini :
Padahal logika deduktif model itu justru yang paling sederhana. Nah, gimana kalau berhadapan dengan yang sedikit sulit seperti abduktif ?
Wew… Rame juga nihh artikel… Te Oo Pee Dah..
Ohyahh,, lomba diundur ampe 5 Juli kok..
http://taruma.info/lomba
Goenawan Lee:
Yakin nih? Mau dong~
@goldfriend:
*melongo*
Lengkap sekali.. saya jadi dapat hint-hint bagus dengan detil.
Olala, kayaknya ini sering ada di soal Bahasa Indonesia.
Tampaknya fallacy memang perlu diajarkan di sekolah menengah?
@t4rum4:
Sip.
saya ga suka bahasa orang pintar macam begini
[dipancung sama yang nulis]
dalam demokrasi wajar dong kalau terjadi yg nomor 3?
apa demokrasi juga nama bagusnya itu? hahah..
@Lemon S. Sile:
1. As your wish.
*pancung*
2. Kalau ini kayaknya nggak bagus deh. Suara mayoritas nggak pasti benar… kan?
asik22… dapat tambahan kata-kata keren
ini masuknya ilmu apa sih? filsafat ya?
@empe a.k.a kambingoranye:
@Si Idiot:
Logika?
eh yg nmr 1 itu kamu bgt xal hehe, ingat “..insyaallahnya orang indonesia” ?
Wah, beda dong itu, itu bukan ad hominem.
Lagipula itu kata pak Taslim
*melempar kesalahan*gyaa…
tendensius sekali contoh-contoh yang ditampilkan…islam, evolusi, fpi, dll…
kira” begini:
xaliber: “ah kamu kan cuma anak SMP biasa mana ngerti fallacy”
juno:”ENAK AJA, GUA UDAH SMA!”
*dibakar sama yg punya blog*
@Radix Hidayat:
Bukannya mau menyudutkan…
Hanya mengambil sampel dari yang terjadi aja kok, mas.
@JUNO:
Memang, itu bisa jadi contoh.
eh tulis dong tentang cara menangkal/menjungkirkan/meng-counter fallacy…
Wah entah kenapa gw jadi inget pelajaran MPKT
Btw ini Xaliber yang waktu itu ketemu di OKK UI kan?
@Radix Hidayat:
Sedang mengumpulkan.
@Rion:
Cuma porsinya di MPKT agak sedikit.
Haha, iya, anehnya secara tak sengaja ini ada di MPKT juga.
Yep, Xaliber di Indonesia mestinya cuma saya.