Beberapa waktu lalu saya ikut diskusi dengan beberapa kenalan saya. Soal sejarah dan nyerempet sedikit ke politik. Salah satu diantara peserta diskusi, sebut saja si Tono, dikenal sebagai komunis sejati.
Katanya, si Tono ini orang berhaluan paling kiri. Selalu mengusung revolusi dan selalu menginginkan masyarakat tanpa kelas; hal-hal yang gampang dikaitkan dengan komunisme pokoknya. Saya sendiri belum begitu tahu benar apa tidak, sampai terlibat sendiri dalam diskusi kemarin.
Mungkin memang benar apa kata orang-orang; si Tono ini memang kelihatan berhaluan kiri. Begitu dihadapkan pada permasalahan, solusinya pasti revolusi. Begitu menyinggung masalah sosial ekonomi, ujung-ujungnya nyambung ke masyarakat tanpa kelas. Tapi setelah diskusi berlangsung agak lebih lama, rupanya ke-kiri-an dia, menurut saya, terlihat kurang berdasar.
Salah satu alasan yang membuat saya berpendapat begitu adalah bahwa rupanya si Tono itu begitu ngeyel.
Kalau ditanya alasan mengapa dia begitu mendukung revolusi, jawabannya selalu sama: pemerintah sudah terlalu korup dan harus dirombak dari nol. Jika ditanya faktor-faktor lainnya, semisal pengaruh pendidikan, jawabannya kembali ke alasan tadi. Menurutnya, kalau sudah korup sudah tak bisa diapa-apain kecuali dirombak. Dan agaknya dia menolak serta mencoba menghindari adanya faktor-faktor lain yang bisa menjadi alternatif solusi.
Yang membuat kesan ngeyel si Tono bertambah menurut saya adalah karena dia mencoba memutar-mutar dalihnya dengan semacam Chewbacca Defense. Apalagi ditambah dengan suara yang lantang dan kata-kata klasik: “pokoknya”. Kemudian berhubung ngga ketemu titik temunya, seingat saya diskusi itu berakhir begitu saja.
***
Kemarin, waktu sedang berkeliling di sebuah toko buku untuk mencari buku-buku SPMB IPC, seujug-ujug saya teringat lagi dengan diskusi bersama si Tono. Entah apa sebabnya, mungkin karena saya justru menyasarkan diri ke bagian buku-buku ilmu sosial dan politik.
Ketika mengingat peristiwa dengan si Tono itu, saya jadi teringat akan para Neo-Nazi Skinhead. Sebagian besar Nazi skinhead dikenal sebagai sekelompok begundal yang suka berbuat vandalisme dengan membawa-bawa nama Nazisme. Mereka seringkali melakukan tindak kekerasan pada orang-orang non-kulit putih berdasarkan pada rasialisme white supremacy. Selain tindak kekerasan rasis mereka, yang jadi masalah dari Nazi skinhead adalah mereka mengatasnamakan diri sebagai Neo-Nazi. Itulah yang membuat saya teringat pada para Nazi skinhead ketika mengingat diskusi dengan si Tono.
Haluan sayap kiri Tono yang kurang berdasar serta rasisme Nazi skinhead memiliki kesamaan pada adanya ideologi sebagai wujud simbolis dari tindakan mereka. Kalau mau kasar, secara sederhana bisa dikatakan si Tono sekedar mengambil komunisme dan Nazi skinhead sekedar mengambil Nazisme sebagai selimut mereka tanpa benar-benar mengerti prinsip-prinsipnya. Bisa juga dikatakan bahwa perbuatannya yang berlebihan tidak sebanding dengan pemahaman yang masih setengah-setengah.
Itu dia yang menyebalkan buat saya. Rasanya terlalu ekstrim kalau sampai berbuat yang merusak atau melakukan dukungan fanatik tanpa mengetahui pondasi dasarnya. Kalau terlibat dalam masalah kekerasan fisik, mungkin yang seperti itu hanya akan dicap sebagai kelompok anarkhis fanatik saja, tapi kalau sudah terlibat dalam diskusi seperti si Tono? Tentunya kalau kurang mampu mempertahankan argumen dan terpaksa mengeluarkan ‘jurus-jurus licik‘, bisa jadi justru dicap fallacious.
Dan tentu itu akan menyebalkan peserta diskusi yang lain, apalagi kalau sambil teriak-teriak ngeyel.
.
.
Dalam batasan tertentu, adanya simbolisasi ideologi atas sikap-sikap tertentu itu mungkin bisa dilihat sebagai hal yang wajar dalam proses sosialisasi. Terutama kalau sudah mencapai tahap remaja yang mulai berpikir hingga cukup dewasa, seperti pada masa SMA dan kuliah, mungkin.
Karena tahap tersebut cukup berkaitan dengan identitas diri seseorang yang sedang dalam pencarian. Jika sikapnya masih sekedar kekaguman atau seperti rasa primordialisme terhadap adat sendiri, buat sebagian orang masih dianggap tidak masalah. Tapi begitu sudah mulai mengacau atau berbuat tidak berdasar, itu baru yang namanya mengganggu.
…tapi kalau buat saya tetap saja dua-duanya menyebalkan.
.
.
Ngomong-ngomong kasus aktual, apakah FPI yang membuat heboh itu termasuk? Jangan tanya saya, karena saya kurang tahu apakah FPI benar-benar fundamentalis dengan jalan kekerasan atau cuma mengenakan simbol agama untuk menghalalkan tindakan mereka.



OOT ah.
Ignoratio elenchi…. (?)
Yang ignoratio elenchi itu si penanya atau si Tono?
Wala… Sebagai pemegang ideologi garis kiri merasa malu nih…hehe… (Masih) ada juga orang kayak gitu…heheh
Rasa rasa saya Garis Kiri Ekstrim tapi ga pernah pake kata “Pokoknya” deh… Si Tono itu musti berguru dulu ke saya kali…heheheh….
Tono.
Favoritisme? Di Indonesia ideologi dipandang ga lebih dari sekedar selebriti. Kalau udah suka dibela habis-habisan, kalau ga suka ya tinggal dicaci-maki.
Padahal kan ideologi itu menurut gw disesuaikan dengan kondisi bangsanya juga.
(eh bener ga sih?). Kalau perlu komunis ya komunis. Kalau masanya perlu liberal ya liberal.
Lah kalau sekarang pengen revolusi atawa dibikin komunis, sudah mendukung belum situasinya? Revolusi itu kan mahal.
@Magister of Chaos:
Iya nih, harusnya si Tono belajar dulu sebelum gembar-gembor.
@Rudolf Gunawan:
Oo. Hahah. Mungkin karena itu alasan paling enak?
@hariadhi:
Ada tamengnya, gitu.
Atau mungkin karena ideologi bisa dipakai jadi alat untuk memberi ‘pengaruh’ pada tindakan.
Revolusi memang tidak murah… tapi masih jadi alasan praktis klasik untuk mengubah Indonesia yang sekarang.
OOT: Lulus kan?
Terjawab di entri berikutnya.
Uwoh..
He he, barangkali tu orang bahkan tak tahu bahwasanya unsur yahudi juga berperan dalam penciptaan kapitalisme dan komunisme
iya etnosentrisme…. dasar busuk lo…
*revolusi*
hmm skinhead? anak punk kah tono ini?
skinhead == kepala kulit
*ngakak sendiri*
Mengklaim megang ideologi tertentu,
Tapi, gak punya pemahaman fundamental yang kuat,
Yang lebih parah lagi,
Ngaku orang Marxis,
Tapi, pernah baca bukunya Karl Marx, Lenin, Stalin aja ngga,
Ngaku orang Fasis,
Tapi, pernah baca buku Hitler, Macchiavelli, aja ngga,
salam pembebasan..
tulisan yang cukup aneh menurutku, he,he,
namun melihat situasi yang dialami tono bagiku merupakan kontradiksi awal yang dialaminya ketika mengetahui perjuangan kelas dan konsep revolusi. menurutku janganlah dianggap menyebalkan si ‘tono’ karena sangatlah wajar tono berprilaku seperti itu dengan landasan marxisme yang kurang. jika aku bertemu dengan tono maka aku akan berdiskusi lebih dalam mengenai solusi pengambil alihan negara dengan 3 landasan marxisme: 1.MDH 2.EKPOL 3.PERJUANGAN KELAS.
apabila kita hanya disibukkan dengan mengejek bukan membangun maka sosialisme jauh tercapai. ingat bung kita harus menghancurkan kapitalisme secepatnya.
mengenai komunisme dan skin head, bagiku sangatlah bertolak belakang. apalagi lenin dengan hitler. wah bagiku jauh sekali apabila mau disamakan. sekedar info, marxisme tidaklah se vandal yang bung ceritakan. harus dibuat pemetaan apakah ia ilmiah atau mekanik. he,he,
untuk permasalahan FPI jelas dia alat negara yang pro terhadap asing. bubarkan FPI, FAKI, karena mereka sudah kontra revolusioner. bukan hanya fundalis tapi FASIS.
salam pembebasan..