Tentu, saya tahu kalau judul diatas bisa bermakna lain, tapi bukan itu maksud saya. Anda lihat, pron net yang ini lebih merujuk kepada permainan kata-kata dari acara malam hari yang perlu uang banyak untuk menyelenggarakannya. Bedanya, berhubung ini di Indonesia, jangan terlalu banyak berharap ada sesi penuh untuk acara goyang badan seperti yang dapat ditemui di film-film buah karya negerinya George W. Bush. Saya sendiri tak terlalu mengharapkan adanya sesi seperti itu.
Pron net ini diadakan oleh sekolah saya; lebih tepatnya, angkatan saya. Acaranya berlangsung hari Kamis tanggal 5 Juni 2008 kemarin, terjadwal dari pukul 18.30 hingga 00.00; tapi baru benar-benar dimulai sekitar pukul 19.00-an lah. Ya, tentu, seperti yang teman saya pernah bilang, ngaret adalah bagian yang paling tak terpisahkan dari SMA ini. Lokasinya di Sultan Hotel, Jakarta Selatan, bekas Hotel Hilton yang menunjukkan swastanisasi dan dominasi kapitalisme™ di Jakarta.
Jurang pemisah yang lebar di masa-masa begini, jelas, tapi itu cerita lain.
Sebagai kaum simbiosis komensalisme yang cuma bisa datang-makan-nonton-pergi, ditambah lagi kurangnya pengetahuan saya terhadap acara beginian, awalnya saya kurang akan gambaran bakal seperti apa acara ini. Bertanya pada sesama kamerad angkatan juga tidak memberi jawaban yang benar-benar memuaskan. Jadi yang kebayang di pikiran saya, acara ini bakal sama dengan kegiatan serupa waktu saya SMP; duduk-duduk di atas kursi sambil nonton film dokumenter bersejarah tentang angkatan dan orang-orang yang nyanyi-nyanyi entah apa. Sama pengumuman Raja dan Ratu Pron, tentu.
Maka, dengan berbekal jas overcoat bergaya Mafia tahun 1940-an (you see, I’ve got an offer I can’t refuse) dan topi fedora open source, serta pengetahuan minim sebagai kaum komensalisme, saya berangkat ke tempat kejadian perkara. Sampai disana sekitar pukul 18:25 dan ternyata memang masih sedikit yang datang. Seorang blogger deviant gemuk dan seorang blogger eksekutif muda yang menyambut kedatangan saya. Bisa ditebak bahwa reaksi pertama adalah tawa dan ekspresi instan tentang pakaian mafia ini, padahal orang lain memakai jas.
Tapi itu tak mengalahkan satu-satunya orang yang memakai baju batik; pakaian nasional FTW ya? Cerita selanjutnya, Anda mungkin tahu. Tipikal; menunggu teman-teman yang lain berdatangan dan baru memasuki ruangan. Begitu masuk rupanya perlu foto-foto dulu; saya lupa bahwa 4 tahun lalu juga ada foto-foto. Tapi tak apa lah.
Acara yang sebenarnya bertempat di ruangan bola. Pintu masuknya berupa semacam terowongan (?) sederhana yang diselimuti oleh asap (dry ice?), membuat kesan ‘wah’. Sayang sekali saya bukan Darth Vader dan tidak membawa satu legiun Stormtrooper yang setia menemani. Begitu selesai melewati terowongan yang cuma beberapa meter, saya sadar bahwa acara kali ini berbeda dengan acara waktu SMP. Satu hal yang pasti: cuma ada sedikit kursi! Kalau Anda pernah ke acara konser-konser musik yang menyiksa penonton dan pernah ke acara jamuan makan di hotel-hotel kapitalisme, nah, kira-kira susunan ruangan ini gabungan kedua hal itu. Ada panggung buat nyanyinya dan di sudut-sudutnya ada kursi dan meja buat ngambil makanan.
Buat acara beginian, SMA tempat saya bersekolah muridnya memang nggak pernah tanggung-tanggung. Atau kalau mau dibilang boros silakan.
Pembawa acaranya mbak Anda, alumni sekolah saya (kayaknya), sama Ari Dagienkz yang jadi penyiar di radio Prambors. Kamerad-kamerad yang datang duluan, termasuk saya, diminta untuk lebih mendekat ke panggung dan jangan terlalu mojok dengan makanan-makanan yang kayaknya enak. Masa belum apa-apa sudah makan?
Sambil nunggu pria-pria dan gadis-gadis yang masih bersiap-siap di rumah atau di salon, pembawa acaranya melakukan beberapa interaksi. Saya tidak begitu memerhatikan karena menagih utang voucher Ragnarok Online pada seseorang yang sialnya sampai sekarang belum dibayar.
Sekitar pukul 20:00 sudah mulai berdatangan pengunjung lebih banyak. Dan jelas suara pembawa acara dari mikrofon, yang diiringi dengan lagu-lagu yang saya-kurang-tahu-itu-apa, semakin keras untuk menyaingi kehebohan para peserta yang melihat pakaian yang dikenakan masing-masing. Soalnya biar dikata disuruh pakai baju resmi (yang mana umumnya jas), beberapa tidak memakai jas. Sebut saja saya yang justru pakai overcoat, blogger yang memakai baju batik, atau ada juga yang bergaya monsieur dari Perancis. Saat-saat begini saya benci memiliki pita suara yang sulit untuk mengeluarkan suara keras, karena rasanya sulit sekali untuk memanggil orang dari jarak 5 meter.
Saat itu acara sedang dalam pembacaan penghargaan — tentu, ini juga tipikal tapi tetap berkesan — untuk murid-murid dan guru-guru. Biasa lah, murid yang terganteng dan tercantik, terunik, dan lain sebagainya. Untungnya tidak ada penghargaan untuk murid paling geek atau paling aneh, karena saya rasa saya tahu siapa pemenangnya.
Pembacaan Golden Globe Award ini diselingi oleh lagu-lagu yang dibawakan oleh grup musik dari para murid sendiri dan komentar-komentar pembawa acara, jelas, dan tak lupa makan malam yang lagi-lagi bernuansa kapitalisme Barat.
Tapi makanannya memang cukup enak, meski entah kenapa saya langsung kenyang dengan air mineral dingin dua gelas.
Acara pembacaan penghargaan ditutup oleh beberapa lantunan lagu dari Maliq and D’Essentials. Benar memang kalau para non-komensalis tidak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan pron net ini, sampai-sampai membawa band begitu. Lalu seperti yang sudah dapat ditebak, gerakan tangan di atas kepala dan goyang muter-muter sesuai lagu jelas datang dari para kamerad ketika Maliq and D’Essentials beraksi. Berhubung saya bukan penggemar besar lagu pop, jadi saya hanya bisa menonton sampai acara selesai.
Sekali lagi, kurangnya kemampuan saya untuk biasa berteriak lagi-lagi membawa kesialan disini; mau bicara dari jarak 1 meter saja sulit.
Awalnya saya kira lagu hanya akan dibawakan sebentar saja, tapi ternyata cukup lama. Lebih dari 6 lagu kalau tidak salah. Alhasil prediksi saya untuk merencanakan apa yang akan saya lanjutkan berikutnya pun agak gagal. Baru sekitar pukul 23:00 kurang, Maliq and D’Essentials menutup lagunya. Yah, saya jarang-jarang menonton live performance, jadi saya hanya bisa bertepuk tangan saja.
Beda sekali dengan si blogger deviant gemuk yang sok bergaya Michael Jackson (?) dan blogger berbaju batik yang terlihat semangat.
Mungkin karena berasa seperti konser musik beneran, para peserta segera membubarkan diri begitu Maliq and D’Essentials turun panggung. Sebelum hal yang tak diinginkan oleh non-komensialis terjadi, para kamerad segera dikumpulkan kembali untuk acara penutupan. Biasa, agar tak lupa akan solidaritas angkatan dengan adanya film sejarah dokumenter yang menunjukkan perjalanan angkatan dari kelas X hingga sekarang. Sayang sekali kegiatan para Rohis tidak disebut-sebut, padahal seharusnya para anak-anak terpilih™ bisa muncul disitu.
Ada juga pemotongan kue dan ucapan terima kasih pada guru; tebaklah berapa persen yang hanya berupa formalitas.
Pukul 00.00 kurang (atau mungkin lebih), acara selesai dan ditutup dengan salam-salaman. Salaman dengan para guru, orang tua yang hadir menonton disana, dan tentu dengan sesama kamerad angkatan. Dan saya sempat berpikir bahwa ini adalah momentum untuk melakukan rencana ‘revolusi’ yang telah disusun, namun sayang, rencana hanya tinggal rencana. Karena satu-dan-lain-hal, rencana batal. Sekarang saya benar-benar mengerti ucapan ‘kamu baru bisa menghargai sesuatu setelah kehilangan’.
Bagaimana pun juga, rupanya tidak begitu salah kalau orang-orang bilang masa SMA adalah masa-masa terindah. Dan mungkin tidak begitu salah juga kalau orang-orang bilang malam perpisahan adalah saat yang berkesan. Mungkin terdengar tipikal, tapi kadang metode learning by doing bisa lebih berharga daripada sekedar teori.
.
.
.
PS: You might read this line, and I should have said this earlier, but you looked nice with your dress last night.



I’m going to make him a
n offerpertamax he can’t refuse. – Don Vito CorleoneZzz keduax.
Ketigax n hettrix. Sudah lama nggak begini.
yasudah… Keempattax… hehhee…
Walaa prom… hehe…Si Rizqi kayak bill gates? wakaka.. kocak tuh..hehe…
Kenapa gk bikin acara promnet yg heboh aja ya? Misalnya acara bakar-bakar sekolah… Bakar-bakar seragam…
Udah jadi tipikal orang indonesia kan? Dalam konteks ini kayaknya kaum hawa mendominasi… apalagi kalo bukan… ah nggak usah disebut deh
Ya ya.. masalah piutang emang paling menyusahkan… malah di tempat saya banyak yg belum bayar sewa gedung buat acara perpisahan..
Hmm, untuk beberapa alasan, 3 tahun pertama saya kuliah lebih berkesan daripada 3 tahun SMA. (lebih kacau?? -ngampus dengan jeans sobek2, misalnya- )
Yah, kamu punya banyak waktu tuk menjalani dan membandingkannya kelak, Xal.
Ah, pesan sy: pelajarilah (sukailah?) sedikit, sdikiiiiit saja, lagu2 dan penyanyi mainstream…
Wah, pron net ny keren! Hihi, g bawa pasangan, boss??
EHEMM!!
Enanknya.. aa prom night…
di skul miyu ga ada..
tp kk kls mo bikin perubahan thn dpn
(insha allah)
pengen ada prom…
Itu semace acara perpisahan gitu yah?
Kira-kira yang mau diajak ngomong sama Xali siapa, ya? Kok sampe ngebet banget.
Saya mencium adanya indikasi makan-makan™ setelah ini.
Dan, sepertinya, sang pemilik blog ini mengalami After High School Syndrome seperti yang dialami Bang Gun doeloe.
EHEM! EHEM!!
Ayo, sudah janji. Beritahu…
… yang jelas, jangan berikan image bake, steax maupun AoS memakai gaun lagi ya… :-w
You’ve got me again, uhuk-uhuk…
Opo ki…
pron net saya buram. soale kagak pake kacamata..
uhh… kalo kaos ketat warna hitam dan celana pipa hitam panjang + sepatu biru tua gimana…??? *tertohok karena jeans yang dipake ngampus sobek dibagian paha…
@Magister of Chaos:
Bergaya eksekutif sekali dia.
@Strife Leonhart:
Tapi dengan pola pikir, “yang lain pasti ngaret, jadi ngga usah buru-buru,” jadinya malah ngaret beneran deh.
1. Horor amat.
2. Namanya juga persiapan untuk yang terbaik.
@jensen99:
Kadang saya juga mendengarkan Muse kok, tapi kalo instrumennya lagi aneh/unik aja. Saya sukanya lagu yang berinstrumen beda.
@Mi-chan:
Tak ada.
@sora9n:
Kenapa, mas?
@Uchiha Miyu:
Pegel lho berdiri terus.
@ardianto:
Yup.
@p4ndu_454kura©:

1. Cuma sama teman sebelah saya.
2.
3. Rindu seragam.
@Infinite Inficio:
Saya tidak janji, lho.
@Rudolf Gunawan:
Kenapa, mas?
@cK:
Ngga pakai kontak lens?
@plain love: