Fallen and Torn Apart

Setelah tiga tahun berlalu dan setahun terlewati…

Nampaknya ini akan jadi entri terakhir saya. Entri ini, jika saya lulus Ujian Nasional, tampaknya akan jadi entri terakhir saya yang membahas tentang nasib Ujian Akhir Semester di sekolah saya — yang biasanya penuh dengan hiruk-pikuk ketika ulangan (aneh kah berisik pas ulangan?).

Berbeda dengan ketika saya menulis review-review sebelumnya tentang ujian yang diselenggarakan sekolah ini, review yang satu ini saya rasa tidak semenarik review sebelumnya dan tampaknya tidak begitu memenuhi semangat idealisme saya. :? Entah kenapa.

Well, enough the blabbering. The last review of semestre’s test is finally here. :P

***

Kosong. Sepi. Santai.

Saya rasa inilah tiga kata yang paling tepat untuk menggambarkan nasib ujian sekolah/ujian akhir semester terakhir untuk angkatan saya; baik untuk persiapan ujian maupun ketika ujiannya. Setelah Ujian Nasional yang katanya ‘menentukan nasib 3 tahun belajar dalam 3 hari’ itu berakhir, diadakan pelajaran intensif selama seminggu untuk menghadapi ujian sekolah yang akan datang.

Berhubung semua mata pelajaran program sudah diambil porsinya dalam Ujian Nasional, maka mata pelajaran yang tersisa untuk ujian sekolah hanya mata pelajaran yang ‘tidak begitu berat’. Sebut saja, Kewarganegaraan, Agama, TIK, Bahasa Jepang, Sejarah, Seni Rupa, Seni Musik, dan Olahraga. Khusus 3 pelajaran yang saya sebutkan terakhir hanya ada ujian prakteknya saja. Hasilnya? :mrgreen:

Kelas saya serasa kelas akselarasi! :lol: Senangnya tak ada murid-murid berisik yang mengganggu saya tidur.. eh, belajar. Suasana kelas akselarasi ini terutama benar-benar terasa ketika hari Senin; seminggu kurang setelah Ujian Nasional pertama kali dimulai. Tapi murid-murid di kelas saya sayangnya berangsur-angsur kembali tobat datang ke sekolah untuk belajar dan duduk yang manis di tempatnya masing-masing (sebenarnya tidak juga sih :P ).

Seminggu setelah belajar intensif, diadakan ujian praktek selama tiga hari — dari hari Senin sampai Rabu. Dan di hari Kamis dan Jum’at-nya seharusnya saya dan teman-teman seangkatan saya masuk kembali untuk belajar intensif yang terakhir kalinya. Meskipun saya merasa agak aneh melihat jadwal ‘pelajaran intensif terakhir’ itu yang bolong-bolong; ada kelas yang jadwal masuknya jam 10 kemudian pulan jam 1/2 1, ada yang masuk jam 7 dan pulang jam 9. Yah, mungkin beginilah nasib ‘belajar intensif’ tanpa mata pelajaran program. :?

Hasilnya? Kelas saya kembali menjadi ‘kelas akselarasi’ — bahkan lebih dari itu. :mrgreen: Hari Kamis hanya sekitar 5~6 orang yang benar-benar mengikuti pelajaran, sementara hari Jum’at ada sekitar 7 orang. Seperti les privat berkelompok dengan ruang kelas yang terlalu besar. :P

Ketika ujian sekolah akhirnya dilaksanakan, situasi awalnya benar-benar jauh berbeda dari ujian-ujian sebelumnya. Tak ada maling buku pelajaran dan catatan (kecuali satu orang, yang sempat tertangkap basah oleh saya :P ), tak ada antrian di depan tukang fotokopi, dan tak ada hiruk pikuk komat-kamit menghafal pelajaran pada beberapa menit sebelum memasuki ruang tes. Bahkan di ruangan saya ada beberapa orang yang tidak hadir pada saat ulangan.

Ketika ulangan berlangsung, pemandangan-pemandangan klise seperti murid yang sering bolak-balik WC (habis minum susu basi? :P ) dan anak gendut yang sering menguap tentu saja masih bisa ditemui. Apalagi didukung dengan pengawasnya yang tampaknya juga kurang tegas menyikapi hal semacam ini. Sekiranya hanya duo kombinasi guru Bahasa Inggris dan guru Kewarganegaraan kelas X yang mampu menindak tegas para murid. Tapi atmosfer ‘transaksi jawaban’ kali ini terlihat lebih beda.

Kalau misalnya pada mata pelajaran Sejarah (ketika ujian akhir semester lalu) akan sering terdengar orang komat-kamit baca mantra pelet memberi dan menanyakan jawaban beberapa menit sebelum waktu berakhir, maka tampaknya pada mata pelajaran Sejarah (pada ujian kali ini) komat-kamit mantra itu tak begitu terdengar. Entah apa karena soal-soalnya memang dibuat lebih mudah atau murid-murid sudah semakin mahir menyembunyikan pesan rahasia. Yang agak berisik hanya ketika pelajaran Agama dan Kewarganegaraan yang ada pada hari pertama ujian.

Dan ujian sekolah yang saya maksud ini baru saja berakhir tadi dengan mata uji Bahasa Jepang (cuma ada 1 mata uji hari ini :P ).

Melihat nasib ujian sekolah yang agaknya lebih terbengkalai jika dibandingkan dengan ujian-ujian sebelumnya maupun dengan ujian sekolah yang tahun-tahun lalu, saya tak bisa berkata banyak. Mungkin ini salah satu dari dampak diterapkannya Ujian Nasional dengan 6 mata pelajaran — 3 mata pelajaran dasar dan 3 mata pelajaran program.

Kalau kita mau lihat sisi positifnya, sebenarnya usaha pemerintah ini bisa dibilang cukup baik untuk mengangkat nasib mata pelajaran program pada ujian sekolah. Dalam artian, murid akan cenderung berpikir, “Gua udah ujian nasional, ujian sekolah mah ngga perlu belajar!” Nah, kalau mata pelajaran program masih termasuk di dalam ujian sekolah, maka kemungkinan nilai untuk mata pelajaran program tidak akan begitu bagus (kalau melihat dari apa yang diceritakan oleh guru saya). Berhubung mata pelajaran program sudah masuk Ujian Nasional yang akan menentukan kelulusan, pasti siswa akan mati-matian supaya nilai mata pelajaran tersebut tidak jelek sekaligus pamer buat ijazah.

Maka, secara output, usaha pemerintah saya rasa cukup baik untuk menjaga nilai mata pelajaran program agar tidak rendah seperti tahun-tahun sebelumnya. Secara output.

Tapi ya itu tadi. Sisi negatifnya, karena mata pelajaran program sudah tidak ada dan yang tersisa hanya mata pelajaran umum yang semua jurusan dapat, maka siswa kemungkinan cenderung memandang mata pelajaran yang tersisa dengan sebelah mata. Kalau di sekolah saya, hal ini terutama terjadi pada Bahasa Jepang, Kewarganegaraan, dan Sejarah (untungnya Agama nggak begitu ya, hehe :P ). Jadinya ya murid-murid pada santai begitu.

Hemat saya, kalau mau nasib ujian sekolah nggak begitu terbengkalai, dengan sistem yang seperti ini (UN dengan 6 mata pelajaran) sebaiknya ujian sekolah dimajukan saja waktunya, sementara UN dimundurkan sedikit. Resikonya mungkin perhatian siswa akan terpecah; buat belajar untuk Ujian Nasional dan untuk ujian sekolah. Tapi nasib ujian sekolah jadi ngga akan begitu buruk, dan setelah Ujian Nasional, rasa ‘bebas-lepas-dari-tanggung-jawab’nya benar-benar kerasa, soalnya sudah ngga perlu belajar lagi. Kalau yang sekarang kan masih ada tanggungan belajar untuk Ujian Sekolah. Dan siapa tahu bisa meminimalisir orang-orang aneh seperti saya yang ngga merasakan impact dari ujian nasional. :P

***

Oke lah, sekian saja review saya untuk hari ini. Mungkin tidak semenggebu-gebu dan semenyindir yang dulu, juga tidak sekronologis review yang sebelumnya. Seperti yang sudah saya bilang, entah kenapa ujian kali ini kurang berkesan dan semangat idealisme saya juga tidak begitu terasa ketika saya mengetik tulisan ini. Semoga saja ujian-ujian yang dihadapi angkatan setelah saya bisa bersuasana lebih baik, dan suasana belajarnya juga lebih kondusif dan efektif (meskipun saya lebih suka ’suasana kelas aksel’) untuk menghadapi ujian dengan jujur 100%. :mrgreen:

Jadi… dengan ini selesai sudah 3 tahun saya belajar di SMA. Mudah-mudahan beberapa minggu lagi saya tidak menerima surat yang menyatakan bahwa saya harus belajar setahun lagi di SMA. :? Meskipun mungkin saya akan merindukan pelajaran Sejarah, Akuntansi, Kewarganegaraan, TIK (buat main Counter Strike aja), dan Sosiologi. Juga kayaknya saya akan kehilangan bahan untuk disindir dikritik. :P Tapi ya sudahlah.

.

Beberapa tulisan lain tentang pendidikan (selama SMA):

*btw, apakah ada fakultas di kuliahan yang kurikulumnya ada komputer, politik, dan sejarah sekaligus? :P *

22 Tanggapan ke “Fallen and Torn Apart”


  1. 1 Fikar Rabu, 14 Mei 2008 pukul 18:27

    Selamat buat kelulusannya :D

  2. 2 Xaliber von Reginhild Rabu, 14 Mei 2008 pukul 18:34

    Belum lulus, mas. :P Pengumumannya masih beberapa minggu lagi.

  3. 3 jensen99 Rabu, 14 Mei 2008 pukul 19:53

    Jadi, Xal, yg dimaksud dengan ’semangat idealisme’mu itu apa/gimana? Memang hobi banget belajar mati2an gitu kah? :mrgreen:

  4. 4 Ash Rabu, 14 Mei 2008 pukul 21:34

    Hih, ngapain sih nulis entry ini, nyelekit banget! Ngingetin kalau sebentar lagi–Insya Allah–lulus..

    Rasa kurang semangat itu juga kerasa kok di kelas-kelas IPA (termasuk saya, hahaha). Habis mau bagaimana lagi, memang sisanya pelajaran umum semua (padahal KN sama sejarah saya parah sangat. Sudahlah, pasrah saya..)

    Ah..bagi kita yang betah banget di daerah Labschool (saya sih sebenrnya bosen).. sejak SD sampai SMA.. pasti bakal kangen banget sama sekolah.. hih..

  5. 5 Xaliber von Reginhild Rabu, 14 Mei 2008 pukul 22:41

    @jensen99:
    Idealisme saya adalah: “Belajar pas-pasan, kerjain ulangan sendirian.” :mrgreen:
    Err, tidak, sebenarnya cuma semangat tidak-nyontek aja sih. :P

    @Ash:
    Uwah, maap.. kerjaan tiap semester soalnya..

    Tapi kelas IPA ngga separah kelas saya kan? :mrgreen: Akselarasi tulen nih.. bukti ketidakgunaan saya jadi ketua kelas Ayo masa Sejarah ngga bagus? Bake dapat 8 lho di ujian kemarin. :D

    Yah.. lulus-lulusan (kalau saya lulus) memang berat.. saya bakal merindukan suasana sekolahnya, sama guru-guru dan pelajarannya yang jelas. Rasanya ngga banyak guru kayak Bu Eli, Pak Marsono, Pak Dendy, atau bahkan Pak Sanin. :|

  6. 6 MadMaX Kamis, 15 Mei 2008 pukul 10:18

    Pelajaran TIK buat maen Counter Strike? Emang dibolehin Dip sama gurunya?

    Ujian Sekolah itu lemah di urusan pengoreksiannya, habis dikoreksi skul masing2 sih!

    Pengalaman pas SMP nih, untuk Ujian Sekolah skul saya ngoreksi dan memberi nilai secara JUJUR, trus pas nilainya dibandingkan dengan skul tetangga(yg kualitasnya di bawah skul saya) ternyata disana lebih tinggi nilainya!

    Trus waktu saya ngobrol dengan teman saya yang anak skul tetangga, saya tanya “wah hebat kamu IPA dan IPS dapet 8 tuh Ujian Sekolahnya” trus dia jawab, “iya, aku heran padahal pas ngerjain rasanya gak bisa n banyak yg salah, maw nyontek yg lain jg pda kesusahan, tp gak tahunya sekelas dapet nilai bagus semua, padahal pas tes banyak yg gak bisa”
    :lol:

  7. 7 Mi-chan Kamis, 15 Mei 2008 pukul 16:00

    Waah, aku br nyadar kalo km anak IPS!
    Akuntansi? Ngg…liat ny aja udh pusing.
    Oy, moga2 lulus!!!

  8. 8 Xaliber von Reginhild Kamis, 15 Mei 2008 pukul 16:59

    @MadMax:
    Boleh kok, selama pelajarannya belum mulai. :P Kan biasanya yang perempuan (di kelas saya) rada lelet datangnya, jadi bisa buat mainan dulu.

    Nah itu, karena itu saya bilang guru itu cenderung subjektif.. bisa gawat itu kalau nilai didongkrak dengan cara yang begitu. Karena itu saya agak kurang setuju kalau tak ada standarisasi nilai (lho?). :P

    @Mi-chan:
    Ngga kelihatan kah? :P
    Saya juga malas belajar Akuntansi karena bikin ngantuk, tapi gurunya baik dan menyenangkan.

  9. 9 andygoblin Kamis, 15 Mei 2008 pukul 19:32


    AYO LAH LIAT SITUS: Axxyc.com
    (Komunitas Indo, ga perlu register)

  10. 10 Mi-chan Kamis, 15 Mei 2008 pukul 20:03

    Akuntansi tuh ribet yaa? Kalo d skul ku, ank IPS kalo blajar akun, bawa buku gedeee bgt. Hiiiy…

  11. 11 ardianto Jumat, 16 Mei 2008 pukul 7:14

    *btw, apakah ada fakultas di kuliahan yang kurikulumnya ada komputer, politik, dan sejarah sekaligus? :P *

    Gampang…
    Siang ambil komputer, malam dihukum… :mrgreen:

  12. 12 Uchiha Miyu Jumat, 16 Mei 2008 pukul 15:36

    ….

    ENAKNYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!

    Moga2 lulus ya, xal?

  13. 13 Unit 076 Jumat, 16 Mei 2008 pukul 16:45

    Juga kayaknya saya akan kehilangan bahan untuk disindir dikritik. :P Tapi ya sudahlah.

    Surya slim saja… (Santai aja…)
    Kehidupan kuliah yang lebih keras dan penuh asam-garam kehidupan pasti masih memiliki celah untuk diumbar. Makanya, jangan menyerah dan junjung terus sportivitas! Salam olahraga! (?!)

  14. 14 Cynanthia Jumat, 16 Mei 2008 pukul 21:28

    Semoga lulus, Mas. :D

    Juga kayaknya saya akan kehilangan bahan untuk disindir dikritik. :P Tapi ya sudahlah.

    Oh, tenang. Ada kok, pas Mas keterima di kuliah nanti.
    Bisa dari soal mahasiswa tukang demo sampai dosen yang suka menjegal. Pasti ada kok, selama manusia masih hidup, akan selalu ada yang bisa disindir dikritik. :mrgreen:
    *ditabok*

  15. 15 Strife Leonhart Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 13:36

    Main counterstrike di labkom?
    Jadi ingat masa SMP nih,labkom dipake buat main empire rame-rame,, dari penjaga lab,guru biologi,PKn,dan guru agama ikutan main… busyet dah

  16. 16 uChIrO™ Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 14:01

    Saia doakan Lulus ya Mas! :D
    ** mengendus potensi makan2 **

  17. 17 》P®《 Minggu, 18 Mei 2008 pukul 0:53

    Ah, enaknya. Antara UN dan Ujian Sekolah ada tenggang waktu.
    Saya malah nggak sempat istirahat. Habis UN, senin depannya langsung ujian sekolah. :|

    Entah apa karena soal-soalnya memang dibuat lebih mudah atau murid-murid sudah semakin mahir menyembunyikan pesan rahasia.

    Sepertinya entry itu benar-benar berguna, ya? :mrgreen:

  18. 18 -rei_chan- Minggu, 18 Mei 2008 pukul 18:52

    habis unas,libur cuma 2 hari…
    trus seninnya masuk seperti biasa,ga ada pelajaran.jadi aku bolak balik ga masuk skolah…

    trusss..besok rabu tgl 21 UAS !
    aarrgh…males blajar

    tinggal nunggu hasil unasnya.
    walopun unasnya lancar,tetep aja bikin deg2an

  19. 19 Dins Allheal Rabu, 21 Mei 2008 pukul 16:14

    Jadi inget.
    Pas hari terakhir sekolah saya tidak hadir :| telat. Saya datangnya pukul 10 padahal kelas saya baru bubar.
    Gara2 jadwal tidak pasti yang dapat berubah kapan saja.
    Pada akhirnya saya tidak mengikuti 4 jam pelajaran pada hari terakhir itu XD
    Hhh akan ada tulisan tidak hadir sehari hanya karena perubahan-jadwal-sialan.

    Hari pertama sekolah setelah UN sepi? Di kelas saya malah pas hari terakhirnya. Ya itu alasannya. Banyak yang gak tau juga layaknya saya :mrgreen:

  20. 20 Mr. Fortynine Jumat, 30 Mei 2008 pukul 19:25

    Gimana? Lulus? Lolos? Atau ngulang?

  21. 21 Xaliber von Reginhild Minggu, 1 Juni 2008 pukul 0:50

    Sampai lupa direply. Maap.

    @andygoblin:
    Thx mas. :P

    @ardianto:
    Kalau begitu repot mas.. :mrgreen:
    Saya maunya yang sekaligus aja. :P

    @Uchiha Miyu:
    Amin.

    @Unit 076:
    Salam!

    @Cynanthia:
    Yaa.. mungkin saya bisa mengomentari orang-orang yang beli skripsi. :mrgreen:

    @Strife Leonhart:
    Begitulah nasib lab komputer..? :D

    @uChIrO:
    Tengkyu!

    @pandu:
    Hahaha, itu benar-benar menyesatkan. :mrgreen: Saya jadi dosa banyak sekali (padahal niatnya satir). :(

    @ -rei_chan- :
    Semoga sukses!

    @Dins Allheal:
    Nasib hari-hari setelah UN? :P

    @Mr. Fortynine:
    Masih harus tunggu sampai 14 Juni nanti mas. ^^;

  22. 22 Xaliber von Reginhild Jumat, 16 Januari 2009 pukul 2:45

    *back*

    @Cynanthia:

    Oh, tenang. Ada kok, pas Mas keterima di kuliah nanti.
    Bisa dari soal mahasiswa tukang demo sampai dosen yang suka menjegal. Pasti ada kok, selama manusia masih hidup, akan selalu ada yang bisa disindir dikritik. :mrgreen:

    Ternyata Anda benar. :lol:


Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 96,644 soldiers