Simpati, dalam konsep yang diberitahu oleh guru sosiologi saya, adalah perasaan ketertarikan seseorang terhadap orang lainnya. Pengertian ketertarikan disini bukan ketertarikan dalam artian hubungan romantis, tapi dugaan atau pendapat bahwa orang yang dituju itu adalah orang yang menarik. Mudahnya, seperti mengatakan, “Wah, orang yang menarik.” Bisa jadi rasa ini timbul ketika melihat seseorang yang mampu melakukan hal-hal tertentu yang dianggap unik atau hebat, atau sekedar rasa tertarik secara fisik saja. Misalnya seperti, “Wah, gadis itu cantik ya.” Umumnya terjadi pada pandangan sekilas.
Respek adalah rasa hormat terhadap orang lain. Bukan sekedar hormat saja, tapi juga hormat yang disertai rasa kekaguman. Bisa dibilang ini adalah tingkat lanjutan dari simpati yang dijabarkan di atas (bukan empati; jika empati maka yang kita bicarakan sudah lain hal). Respek bukan sekedar tertarik dan kagum karena hal-hal yang dilihat secara sekilas saja, tapi rasa respek terhadap orang tertentu baru muncul setelah seseorang mengetahui pribadi atau perbuatan si orang yang direspek dengan lebih dalam. Misalnya setelah berkenalan dengan seorang teman, kemudian dalam tempo waktu tertentu menyadari bahwa dia ahli dalam suatu bidang, bisa jadi timbul rasa respek terhadap teman itu.
Rasa keintiman, dalam hal ini, bisa dikategorikan sebagai tingkat yang paling mendalam. Dan pada umumnya lebih sering terjadi pada lawan jenis. Rasa keintiman sudah lebih dari sekedar respek; ada rasa posesif dan unsur romantis yang ditambah dalam perasaan yang ini. Misalnya si Andi yang tadinya hanya sekedar respek dengan si Anti karena pintar, kemudian setelah mengenal pribadi Anti lebih jauh dan lebih dalam lagi, timbul rasa keintiman yang dimaksud. Keintiman disini bukan konotasi negatif dalam artian ‘hubungan’ antara laki-laki dan perempuan, tapi rasa ketertarikan yang lebih. Atau beberapa orang lebih suka menyebutnya cinta. Biasanya proses ini terjadi dalam jangka waktu yang lebih lama daripada simpati maupun respek.
Terkadang, bagi manusia yang hati dan perasaannya begitu subjektif dan bisa berubah-ubah tergantung bagaimana cara ia memandang sesuatu, agak sulit untuk memisahkan bagian-bagian dari perasaan yang sudah dipaparkan di atas. Prasangka dan praduga terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain pun mendukung sikap manusia yang satu ini. Hal ini terutama akan makin sulit ketika sudah terjadi pada lawan jenis.
Kadang tembok pembatas antara rasa respek dan keintiman terlihat begitu tipis, dan bukan tidak mungkin kalau kadang manusia menembusnya tanpa menduga apa yang sebenarnya ada di baliknya.
PS: In case you are wondering; no, this is not the so-called ‘curhat’.



Curhatmuuuu keliatan boss…
*jadi mau nyebar tapi ga tega*
Bukan curhat lho.
Memang saya sama siapa? 
Atau anggap saja ini bisa jadi otokritik buat saya.omg, kembali ke urusan cinta-cintaan… XD
Halah, halah…. Bukan curhat apanya….
@steax:
Pertama kalinya saya bahas sesuatu yang mendekati soal beginian secara eksplisit.
@Goenawan Lee:
Bukan curhat.
Lha, ini kan untuk manusia. Saya kan bukan manusia.
Tumben nulis beginian, Mas.
Oh iya. Mas kan robot (atau android?)
Jadi apa?
ooooh si pemilik blog lagi jatuh cinta ya???
*gak fokus*
Xali lagi bertengkar sama pacar?
@Cynanthia:
Out of ordinary. Hohoho.
Android. A.k.a. cyborg.
Communications Line, Realm of Our Mind, instropeksi, manusia, dan renungan?
*nyebut semua tag*
@cK:
Maybe yes, maybe no?
@Uchiha Miyu:
Saya ngga punya pacar.
bos bedanya simpati sama empati apa yah? masih sering rancu nih gw.
*bukan mau nguji, serius ga ngerti.
Kalau simpati, dia sekedar bisa memahami perasaan orang lain yang dia simpatikan itu. Kalau empati, dia tidak hanya bisa memahami, tapi juga bisa merasakan seakan-akan perasaan orang itu adalah perasaannya. Jadi semacam versi advanced-nya simpati.
Tapi kalau simpati yang di post ini konteksnya rada beda; bukan memahami perasaan tapi merasa tertarik.
terima kasih penjabaran nya..lengkap bener…
curhat ya mas.
@cempluk:
Thx. Sama-sama.
@Muhammad Zulfikar:
Bukan.
Bagaimana kalau disebut… refleksi atas keadaan di sekitar?
Rasanya familiar deh sama kalimat itu.
*dilempar batu bata*
Yaa, saya tahu ini bukan curhat. Tapi entah kenapa saya merasa bahwa penulisnya baru saja ‘menembus batas’ antara respek, simpati, dan jatuh hati.
Betul?
Well, setuju sma pndapat sora9n deh!
Refleksi atas keadaan sekitar? Hmmm…
Anw, slm knal…
curhat bhs inggrisnya apa ya?
@sora9n:
Hyaha.. bukannya memang kalimat umum?
*dilindes tank*
Hehe, good guess.
Antara ya dan tidak. Bagaimana kalau ini merefleksikan orang lain?
@Amichan1013:
Hoho. Salam kenal.
@Strife Leonhart:
Ndak tau. Makanya ngga saya Inggris-in.
Cie adipp… Jatuh cinta nich yee..
Ama cewek ato komputer?
Sama external hard disk.
Hm..karena urutan entry-nya dari atas ke bawah, pas saya baca entry atas soal Axis, saya pikir Simpati ini kartu Simpati!!! *ditendang karena ngawur*
BOS CURHAT! PASTI CURHAT! MESKI BILANG NGGAK, PASTI CURHAT!! *digampar*
Uber dan Thomas Indonesia masuk semifinal lho.. *dibuang ke laut*
Lama ngga kelihatan di blog ini, mbak.
Tumben baru komen.. kemana aja..?
*dihajar*
Haha, iya juga ya.. ternyata judul bisa mengoneksi satu sama lain. Seharusnya Indonesia juga punya kartu Empati.
Bukan.. ini bukan curhat. Ini kan refleksi keadaan sekitar.
Pelajaran Sosiologi berguna di saat begini.
Kalo Indo masuk final kayaknya harapan Indo satu-satunya memang cuma badminton ya.
Sayang tenis kayaknya ngga sespektakuler badminton. Saya ngga begitu ngikutin.. jam berapa sih ditayanginnya?