Pemerintah adalah sebuah lembaga politik yang memimpin, memerintah, dan memiliki kontrol atas adanya suatu negara. Lembaga yang memiliki kekuatan tertinggi dalam sebuah lingkungan politik. Seharusnya, figur lembaga ini menjadi sebuah leading figure dan instansi yang disegani, mengingat fungsi dan kontrolnya atas sebuah negara. Namun kenapa lembaga ini justru seringkali dibenci dan dipersalahkan oleh masyarakatnya daripada dianggap sebagai sosok pemimpin negara?
***
Gubernatiophobia adalah istilah yang saya susun sendiri untuk menyebut rasa tidak suka kepada pemerintah. Fobia dalam arti disini memiliki arti senada dengan Islamophobia atau Christianophobia yang berprasangka, membenci, dan menakuti kedua agama itu. Juga serupa dengan berbagai fobia yang terkait dengan anti-etnis dan anti-bangsa tertentu. Hanya saja, pada gubernatiophobia ini, objek yang dibenci adalah lembaga bernama pemerintah.
Di Negara Kepulauan Republik Indonesia yang baru merdeka selama 62 tahun ini, figur pemerintah masih dipandang sebagai sosok yang cenderung negatif untuk sebagian besar rakyat. Jika merujuk pada usia negaranya, tampaknya kesimpulan paling sederhana adalah karena negara ini masih belum merasakan asam-garam kehidupan sebagai negara mandiri seperti yang sudah dirasakan oleh negara-negara makmur lainnya — meskipun beberapa orang bersikeras bahwa negara ini sudah cukup tua untuk itu sih.
Meskipun begitu, apalagi kalau mengingat Indonesia ini — yang secara praktis — adalah negara demokrasi yang notabene pemerintahnya adalah pilihan rakyat, gerakan dan suara yang menandakan negative feeling tertentu terhadap pemerintah nampaknya masih sering terdengar.
Kalau menurut Thomas Hobbes, manusia sebagai makhluk hewani dengan akal pikiran yang rasional membutuhkan figur pemerintah yang berkuasa dalam komunitas masyarakat daripada berada dalam komunitas masyarakat anarkhi yang tidak memiliki leading figure. Masyarakat dalam komunitas negara membentuk dan mendirikan pemerintah untuk membuat kehidupan mereka sendiri terasa nyaman dan terorganisir.
Sementara yang terjadi pada leading figure itu saat ini adalah sebaliknya. Pemerintah bukan dianggap sebagai sosok yang mampu membuat kehidupan masyarakat terasa nyaman dan terorganisir, tapi justru dianggap sebagai figur yang tak mampu memenuhi ekspektasi rakyat, dan lebih-lebih, dengan membawa embel-embel demokrasi, beberapa kali sempat dianggap sebagai pengancam kebebasan rakyat.
Bukan, bukannya menolak untuk mengakui bahwa ad captandum vulgus — pengumbar janji palsu — masih terdapat di dalam setiap instansi politik, juga oknum-oknum korup yang sempat membuat kenalan teman saya berpikir untuk menikahi mereka karena merupakan cara paling mudah untuk dapat uang; hal itu memang fakta yang menyedihkan dalam negara ini, namun itu bukan topik bahasan kali ini.
Yang saya rasa, ketika kita menemui disorder dalam lingkungan negara, semacam rasa ketidaksukaan terhadap pemerintah itu yang mungkin mendapat ruang yang berlebihan dalam rangka rakyat menyuarakan opini mereka. Ketika pemerintah mengambil kebijakan yang tidak sepandang dengan pandangan dan ekspektasi rakyat, maka simpulan terakhir dari opini rakyat akan menuju kepada anggapan, “pemerintah yang korup(si).” Ketika ada masalah lain yang tampaknya berdampak besar seperti Ujian Nasional, dan terutama ketika masalah itu tidak memenuhi harapan rakyat (dengan kata lain membuat rakyat semakin sulit), maka kita kembali menyalahkan keputusan pemerintah. Dan Anda mungkin tahu contoh-contoh lainnya yang dapat menyalahkan pemerintah sebagai objeknya.
Dengan begini, bukankah rasa-rasanya sosok leading figure itu justru hilang dengan sendirinya?
Emphasis yang saya tekankan disini bukanlah pada kesalahan oknum pemerintahnya — kita harus menunggu beberapa tahun dulu kalau mau membetulkan yang itu — tapi mungkin lebih pada rasa ketidaksukaan yang cenderung berlebihan ketika pemerintah tidak sejalan dengan pikiran rakyat. Untuk membuatnya lebih sederhana, saya rasa secara kasar dapat dikatakan sebagai… pelabelan generalisasi negatif dan stigma pada pemerintah yang diberikan oleh rakyat.
Metode pemikiran yang lebih sederhananya lagi, jika kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah tidak sesuai dengan masyarakat — atau lebih tepatnya jika segala hal yang terjadi di negara ini tidak sesuai dengan keinginan masyarakat — maka korban yang langsung dipersalahkan adalah pemerintah; tanpa melihat masalahnya lebih dulu.
Ingat masalah subsidi BBM atau bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu?
Kalau sudah begini, pemerintah mungkin bisa jadi akan kehilangan fungsinya sebagai leading figure bagi rakyat, tapi hanya ada untuk terus dipersalahkan dan ditakuti. Semacam sosok Adolf Hitler bagi dunia barat yang seringkali mengalami peyorasi-hiperbolis hingga seakan-akan menjadi cult setan yang menyeramkan untuk dilirik. Kecuali gubernatiophobia tak sampai batas yang ekstrim, saya rasa kita belum perlu untuk melirik anarkhi (negara tanpa pemerintah) yang dicintai oleh beberapa orang yang benci pemerintah.



I love my pertamaaax!! XD XD XD
Ngarang istilah baru, mas..?
Oya, satu hal yang mau saya angkat tp blom sempat: Kenapa, di luar negeri, kalau terjadi hal aneh, rakyat akan dengan cepat menangkat teori-teori konspirasi. Sedangkan ini tidak terjadi di Indonesia. Apa karena pemerintahnya seperti tidak mampu membuat konspirasi?
(Kalau kasus supersemar terjadi di Amerika, misalnya, pasti teori-teori konspirasi banyak banget yang bermunculan….
)
@steax:
w0ot, lagi onlen dia!
1. Iya, ini memang ngarang istilah baru.
*dihajar*
2. Karena tingkat pendidikan Indonesia belum cukup tinggi untuk itu?
Err, tidak.. saya sendiri sempat kepikiran soal ini.. mungkin karena permainan politik kotor seperti konspirasi di Indonesia belum sebanyak di luar negeri. Sejauh ini baru soal Munir dan eranya Soeharto saja kayaknya. Jadi rakyatnya belum terbiasa untuk berpikir secara konspiratif.
kalau menurut saya sekarang Indonesia butuh pemimpin dari golongan muda yang peduli pada rakyat, copot semua golongan tua dari pemerintahan!
@steax
kalau di Indonesia itu kebanyakan kaitannya sama teori korupsi, hehehehe
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mas, tanya. Kalau misalnya seorang pasangan pemimpin yang baru mau dilantik (mereka baru memenangi pemilihan), lalu mereka ‘pisah panggung’, ikut kampanye pemilu / pilkada lain (dan mereka berkampanye untuk dua calon yang berbeda), itu masuk korupsi nggak?
(PS: buat yg tinggal di Jabar mestinya tau kan kasus ini?
)
Arti dari istilah Gubernatiophobia jadi apa, Mas?
@maxbreaker:
10 tahun yang lalu, mahasiswa yang demonstrasi kenalan guru saya juga bersemangat untuk mengubah tatanan pemerintahan. 10 tahun kemudian setelah peristiwa itu, mereka sudah duduk langgeng dalam kursi pejabat daerah dan melupakan idealisme masa mudanya itu.
Power corrupts?
@kang4roo:
Oke, makasih mas. Tapi saya sudah terlanjur betah di WordPress.
@Cynanthia:
Kolusi?
Haha.. rasanya familiar dengan oknum itu.
Artinya baru saya tambahin di atas;
Saya kira tadinya bisa ditebak..
Dari bahasa latin government: gubernatio.
Kesalahan-kesalahan pemerintah:
1. Sering tidak transparan
2. Merasa punya kekuasaan tertinggi sehingga terkadang lupa dengan rakyat.
3. Tidak peduli dengan nasib rakyat selama mereka bisa makan enak sementara di daerah lain banyak yang kelaparan.
Apakah mereka mau bertobat?
Dalam titik ekstrim gubernatiophobia malah bisa menjadi anarkisme. Tetapi alasannya yang mungkin berbeda, kalau dari tulisan diatas, phobia sama pemerintah bisa timbul karena negara yang tidak mengurus rakyatnya. Tetapi anarkisme berawal dari kebencian terhadap kekuatan pemaksa yang dimiliki negara.
Tapi kalau hanya sekedar mengubah sistem negara/pemerintahan atau orang-orangnya, mungkin belum sampai pada tahap phobia. Tetapi kalau sudah terpikir untuk menihilkan negara/pemerintah, baru bisa digolongkan anarksime.
Tetapi yg jadi pertanyaan : mengapa pemerintah justru bisa dibenci oleh rakyatnya, sementara mereka yang memilih pemerintahnya ?
Apakah jargon, “OMG, telah salah pilihkah kita ?” itu terus jadi isu setiap tahun di negeri ini ?
*save dulu ah*
Karena saya tidak tahu itu bahasa Latin makanya saya nanya
Saya rasa saya tidak perlu membaca total artikel ini bukan? Tohh intinya dah tahu ~berharap~,,,
Kasian yah?
Udah jadi pemerintah, Salah
Mau ikut pemerintah, Salah
Sok pemerintah, Salah
Salahin pemerintah, Salah
Hina pemerintah, Salah
Jangan mau diperintah, ??????
*Lah kok banyak yang salah? Pemerintah boleh salah kenapa saya gak boleh salah?*
~TANYA KENAPA~
@p4ndu_454kura:
Power corrupts, you know.
Apakah di masa depan hal begini akan terulang?
@goldfriend:
Hehe, mungkin agak hiperbol yang kalimat terakhir. Soalnya saya sering mendengar kalimat semacam ‘tak perlu pemerintah’.
Nah, ini dia.
Apakah nantinya berdalih dengan ‘janji-janji palsu’?
@Strife Leonhart:
Silakan.
@Cynanthia:
Ralat deh; bahasa Yunani yang dilatinkan yang benar.
@t4rum4:
Kalau fast-reading salah atau ngga, mas?
Kalau gw pribadi sih benci pemerintah karena di kita pemerintah kelewat nafsu ingin mengatur segalanya. Gw yakin kekuasaan pemerintah di Indonesia ini sebenarnya masuk tahap ektrim yang lu bilang itu. Mulai dari agama, baju, sendal, sepatu, mata, kumis, jengot, rambut, semua mau diurus.
Gw ga masalah punya pemerintah yang ga becus atau ga ahli di bidangnya. Yang penting jangan terlalu banyak mencampuri urusan pribadi orang lain. Lah ngurus satu perusahaan listrik aja sampe sekarang belum beres-beres….
Hahaha. Bener nih kalo mas bilang begitu. Alasannya udah disebutin sama bung pandu_asakura. Memang repot sama pemerintah indo yang kesannya “sok bener” padahal asli ga bener.Memang repot lama-lama sama pemerintah kita, kalo alasannya seperti yang disebutin bung pandu, gimana mau segan? Liat aja kagak tahan. Wkwkwkwk.
Woi Adip! Pakabar!
Au nich, pemerintah serba salah jadinya….
Mau donk. Pliss…
saya bukan crishtianophobia… saya crishtianoronaldo….
@hariadhi:
Jadi ingat sistem pemerintah yang tak mengakui hak pribadi.
Hm.. jadi bukan tak memenuhi ekspektasi tapi terlalu luas cakupannya ya?
@fantasyforever:
Atau dijadikan dalih. Seperti kenalan saya yang menghalalkan bocoran karena Ujian Nasional jadi semakin sulit..
Nah, tapi kalau terlalu banyak menyalahkan pemerintah kan repot juga.
@ultraseven:
1. Susah ya?
2. Mau apa?
@plain love:
Ya, ya..
Ajarin saya English dong Mr. Ronaldo.
Cuma penasaran aja. Itu… sindiran?
Yah, iya. Saya kena Gubernatiophobia nih kykny…
Tiap kali liat Fauzi Bowo, bulu kuduk saya kok merinding (lho?!) Canda… canda…
Hmm, yaya…
Memang susah ya…
Abis, emang para “petinggi-petinggi” itu juga banyak yg ga beres sih… Ya, “nila setitik, rusak susu sebelangga”, apa karena sifat umum manusia yang “semut diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tak tampak”?
Tau ah! Maaf deh, kalo ada salah-salah!
@Cynanthia:
Menurut Anda?
@Unit 076:
Hmm… generalizazi? Tunggu sesi dua-nya, bos.