[mohon maaf karena ada beberapa kata yang tak sopan]
Fallacy.
Buat sebagian orang, mungkin istilah ini terdengar aneh. Fallacy… apa pula itu fallacy? Sodaranya Salafy kah? Ah, bukan kayaknya. Ada hubungannya dengan filsafat kah? Hmm… kurang tepat kayaknya. Jadi apa artinya? Kalau merujuk pada beberapa kamus, fallacy sih artinya argumen atau logika yang menyesatkan. Di versi Wikipedia Indonesia fallacy dikenal dengan nama ‘kesesatan’.
Terkesan membingungkan? Sebenarnya tidak juga ah. Fallacy itu mudah diterapkan dan sering terlihat di kehidupan sehari-hari.
Tidak percaya?
Seandainya lagi terlibat dalam sebuah diskusi berat. Sudah adu argumen beberapa kali, tapi kayaknya lawan bicara kita masih kokoh dengan argumennya yang — secara rasional — tidak bisa kita tumbangkan.
Lalu karena itu kita jadi kesal. Nah, saat itulah ada argumen maut yang bisa kita pakai!
Udah, lu diem aja deh. Orang tolol kayak lu ga bakal ngerti maksud gua. Pengetahuan lu masih terlalu sempit buat ngerti beginian.
Naah, argumen maut itu namanya fallacy! Itu salah satu dari banyak jenis fallacy, yaitu ad hominem: dalam berdebat bukannya menyerang argumen tapi justru menyerang orangnya. Cara ini memang paling efektif buat mengakhiri perdebatan dan mencapai kemenangan; karena dia tolol, jadinya ya tolol. Orang tolol ga perlu debat lebih jauh sama kita, kan?
Terus ada lagi yang lebih sederhana daripada ad hominem. Misalnya begini, kita melihat berita di sebuah koran tentang korupsi yang terjadi di dalam DPR. Dikatakan bahwa banyak pejabat DPR yang ketahuan korup dan menghabis-habiskan uang rakyat. Nah, gara-gara itu, kita jadi benci sama DPR. Gara-gara mereka semua kerjaannya korup. Gak bermoral. Katanya dewan perwakilan rakyat; perwakilan rakyat apanya?!
Padahal isinya cuma orang-orang kurang ajar yang bisanya buang-buang uang rakyat.
Naah, itu juga yang namanya fallacy! Kalau yang ini namanya hasty generalization — generalisasi yang terlalu cepat. Belum apa-apa sudah langsung menggeneralisir bahwa semua DPR adalah pejabat keparat yang buang-buang duit. Tapi, memang, cara ini sangat efektif lho. Dengan kita bilang DPR adalah koruptor mutlak, kita ngga perlu mengingat bahwa ada juga pejabat bersih yang bekerja di balik layar. Kesan yang ada adalah DPR itu cuma koruptor. Titik habis. Efektif, kan?
Oke… lalu kita ambil kasus lainnya. Andaikan kita sedang berdebat tentang Perang Dunia II. Disitu lawan debat kita mencoba meluruskan soal kesalahpahaman yang terjadi mengenai Jerman Nazi. Dia bedakan mana yang fakta dan mana yang mitos, sehingga terlihat bahwa Jerman Nazi itu tidak seburuk yang selama ini kita dengar. Nah, tapi ternyata kita tidak puas. Gimana caranya coba, orang kayak dia bisa meluruskan yang katanya mitos-mitos Nazi itu?
Maka ada satu prasangka yang bisa kita gunakan!
Eh, lu antek-antek Nazi ya? Tau segala macem soal Nazi gitu. Mau buat Neo-Nazi di Indonesia, ha?
Naah, lagi-lagi, itu juga fallacy! Dikenal dengan nama guilty by association — si pelaku jadi bersalah mentang-mentang dia punya pengetahuan mengenai yang dia paparkan. Ini sendiri juga sudah bagian dari ad hominem, dan lumayan populer. Lumayan efektif kalau mau menyudutkan orang!
Sudah selesai kah?
Tunggu dulu… masih ada lagi, masih ada lagi.
Kita mengenal teori evolusi yang sudah sering diperdebatkan. Katanya teori ini menyatakan bahwa manusia dan kera itu punya leluhur yang sama. Jadi, banyak orang yang berargumen:
Kalo teori evolusi itu bener, berarti lu keturunan monyet dong! Soalnya moyang lu disono itu monyet yang udah berevolusi!
Nah, alasan seperti itu sendiri juga sudah termasuk fallacy. Yaitu appeal to ridicule yang mencoba menjatuhkan argumen lawan dengan cara membuat argumennya tampak konyol. Dan rasanya, ini memang lumayan berguna buat bikin orang marah kan?
Dan ada lagi yang juga lumayan umum. Andaikan kita masuk penjara karena jadi maling ayam. Sialnya, baik polisi maupun hakim itu orang yang obyektif! Kita tetap ditangkap meskipun secara pribadi kita kenal bahwa si polisi itu temannya teman bapak. Ada satu tips jitu yang mungkin bisa dicoba agar bisa bebas:
Pak, saya sudah 10 hari ngga makan gara-gara harus bayar uang kuliah. Saya sudah jual rumah saya dan ngga ngekos lagi gara-gara uang kuliah yang mahalnya naudzubillah min dzalik. Jadi, sekali ini aja biarin saya nyolong ayam ya?
Oh, mencoba meminta keringanan itu yang dinamakan fallacy appeal to pity. Mencoba memenangkan hati seseorang bukan dengan argumen yang baik. Naah, dalam beberapa hal, bukankah tidak jarang kadang kita menggunakan cara ini? Kalau kita terlambat masuk sekolah, gunakan alasan: “Macet, pak!” atau “Lengan saya terkilir, pak!” atau “Tadi saya ketabrak bus, pak!”
Lalu yang terakhir dalam entri ini, salah satu teknik yang cukup efektif dalam berbagai argumen — layaknya ad hominem. Kalau misalnya kita menemui jalan buntu seperti yang terjadi pada ad hominem, dan orang itu ga mempan sama ejekan kita (bahwa dia tolol
)… maka kita butuh bantuan pihak ketiga untuk menjatuhkan argumennya! Caranya? Ngga perlu susah-susah, begini saja:
Eh, lu tau ga bahwa Profesor X itu bilang kalo teori kayak gitu tuh ga masuk akal. Nah, Profesor X aja bilang gitu, masa mau ngotot lu?! Kalo lu nentang Profesor X, sama aja kayak lu nentang teori yang udah disetujui dunia.
Yap, contoh fallacy bagus yang namanya appeal to authority! Kita sudah punya bekingan luar biasa — yaitu si Profesor X. Maka argumen lawan kita sudah gagal total gara-gara kita sudah punya dukungan yang lebih superior. Tambah lagi, kayak begituan juga membuat kita lebih terlihat pintar kalau mampu menjabarkan apa yang dikatakan oleh Profesor X.
***
Nah.. berarti fallacy memang tidak sulit untuk diterapkan kan? Bahkan cenderung gampang sekali dan tanpa sadar kita sering menggunakannya.
Dan sebaiknya teori fallacy ini jangan diajarkan di sekolah menengah, karena fallacy bisa sangat membantu kita dalam memenangkan diskusi!
Ada yang mau menambahkan?
Notes:
- Pertama kalinya mencoba membahas fallacy. Mohon bantuannya (semoga ini tak termasuk appeal to pity
). - Judul senada dengan judul yang diangkat mas Fourtynine meskipun isinya agak berbeda.
- Tulisan ini juga menjadi otokritik buat saya sendiri.



Kok kurang sedap ya rasanya.
Kalau teori “semakin religius semakin mesum” itu termasuk fallacy jenis apa?
Trus satu lagi, ada kira-kira berapa fallacy dalam paragraf berikut:
“karena ada nabi tertentu yang kalo digambar kehormatannya rusak, keagungannya pupus dan fansnya ngamuk, maka sebaiknya SEMUA nabi yang tidak keagungannya rapuh ga usah dilukis dan ga usah disebut-sebut. Dan karena itu kita ga usah mengenang dan percaya pada nabi apapun”.
euh, ralat, harusnya “…maka semua nabi yang keagungan dan kehormatannya rapuh…”
terimakasih
Ah, kamu hanya anak kecil. Tahu apa kamu soal fallacy.
*langsung mempraktekkan*
Hem… ternyata emang gampang yak. *lirik komen di atas*
Appeal to ridicule biasa terjadi kalau lagi ngobrol sama teman, bahkan bisa lebih sadis daripada contoh yang dipaparkan tersebut.
Mengenai hasty generalization, kayaknya hanya sebagian orang saja yang mampu terlepas dari cara bereaksi semacam itu , Diperlukan orang yang berpikiran terbuka dan mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang agar mampu untuk tidak bertindak demikian. Soalnya hasty generalization ngga hanya timbul dari kesimpulan atas beberapa sampel pengamatan seseorang terhadap suatu hal, melainkan bisa juga karena orang lain yang mempengaruhi sehingga yang dipengaruhi jadi ikut menggeneralisir.
Sebenarnya siapa saja berpotensi untuk berfallacy kalau sudah kehabisan akal atau kata-kata. Bagi saya sendiri, fallacy dalam berdiskusi adalah semacam cheat/bug dalam game, yang bisa digunakan dalam keadaan terdesak dan penuh tekanan.
Tiba-tiba menulis begini, dipancing kasus apakah?
Jadi ingat salah satu slogan yg cukup terkenal di blogsphere : Lihatlah Siapa Yang Berbicara !
Verecundiam…
atau bisa juga ad Hominem.
Buset. Pake link back ke tulisanku pula.
Apa tulisan saya itu termasuk generalisasi? Karena di sana saya tidak bermaksud menggeneralisasi.
Kalau misalnya ada dosen yang dituntut untuk pensiun oleh mahasiswanya, lalu si dosen itu bilang bahwa alasannya ia belum pensiun adalah “Orang mahasiswanya masih pada goblok”, itu masuk fallacy, ngga?
<– kejadian di ITB
Hm.
Trus adakah tips untuk menjawab atau membalas serangan2 tersebut?
pakar telematika indonesia mr. roy suryo bilang,” blogger itu penipu!”. karena ini sebuah blog, berarti penulisnya (blogger) juga penipu, kan? sebaiknya anda sekalian jangan teruskan membaca apa yang diposting di atas, apalagi mempercayainya.
memangnya anda semua ini bisa apa jika dibandingkan dengan mr. roy suryo sang pakar telematika indonesia yang terkenal itu? ha?
hehe. ada berapa fallacy di komen ini, ya?
Tapi saya lebih suka kalau fallacy itu diajarkan di sekolah-sekolah
Stuju dengan secondprince. Bukannya sebaiknya fallacy itu juga diajarkan? (di mata pelajaran apa ya?)
)
Tentu saja tujuannya mencegah peserta diskusi jatuh dalam fallacy, juga apabila itu terjadi, korbannya or pendengar lain cepat tanggap bahwa diskusi sudah keluar aturan.
(pernah jadi korban sih, menang debat versus guru tapi ditolak diakui karena dia adalah, “guru”
ada suatu kekuatan gelap mengenai fallacy… dan saya bisa merasakan hal itu..
btw kalo fallacy diajarkan di skul malah pada pake semua donks? gag bisa memberikan argumen murni gitu…
*dan gw merasa bakal ada orang yang meng-fallacy gw di bawah… hehehe*
GYAHAHAHAHAHAHA!!!!! Contoh2nya kocak bgt!
Kalo debat ttg sejarah itu falacy jg ga? :S
@Guh:
Saya kurang yakin, nanti saya baca-baca dulu…
Atau tanya pak/mas Fertob dan Kopral Geddoe. 
Hmm… Confusion of Correlation and Causation? Atau Fallacy of Extension?
*ngeles*
Kalau di paragraf itu kayaknya ada Statistic of Small Number dan Guilty by Associaton deh.
@danalingga:
1. Ah, saya memang masih bocah..
2. Hehe.
@StreetPunk:
Fallacy kan menyesatkan pas diskusi.
Kalau bercanda sih kayaknya ngga apa-apa, mas.
Nah, karena peluang fallacy itu selalu muncul ketika sudah kehabisan kata-kata… jadi yang diincar itu menang debat atau mencapai kebenaran dalam debat?
@Kopral Geddoe:
Pengalaman pribadi.
@Pyrrho:
Oh iya.. saya lupa istilah latinnya ‘appeal to authority’.
Hmm… ternyata ada slogan itu ya di blogosphere?
@Cynanthia:
Ngga.. cuma linkback kok.
Kayaknya termasuk. Dosen itu lagi bercanda kah?
@Allheal Dins:
Kalau cara saya sih dengan bilang: Anda jangan fallacy.
Atau dalam kasus ad hominem: serang argumennya, jangan serang orangnya.
@rhuseinh:
Setidaknya ada ad verecundiam dan ad hominem disitu.
@secondprince dan @jensen99:
Saya juga lebih setuju agar fallacy diajarkan di SMA, soalnya pelajaran silogisme dalam bahasa Indonesia sekarang sarat dengan fallacy. :O
Oh, yang paragraf terakhir itu satir kok.
@Darkness666:
Justru diajarkan supaya mereka mengenali fallacy dan tidak menggunakannya.
@Uchiha Miyu:
Debat kayak gimana nih?
BTW, silakan intip juga bias, saudaranya fallacy.
Terkadang penilaian seseorang itu bersih tanpa fallacy, tapi berbias.
Bedanya apa dengan palaki dan valas..hehehe…makin gak nyambung…mampir ya,,…..
@Xaliber:
Dosen itu serius. Saya dengar ceritanya dari ayah saya.
halo…
ketemu di dunia real kamu mau ga?
untuk mendiskusikan ide-ide kamu itu.
ketemuan di UNJ aja. bagaimana?
Mau?
(padahal mo ngajak debat nih, tapi di dunia real)
Mari kita coba berbicara dari telaah MR. Fallacy :
“Alah, baru tahu sedikit tentang Fallacy saja sudah sok – sok bikin artikel dan masuk BOTD !”
Sesuatu di alam semesta ini, hanya sesulit yang kita rasa ia sulit, karena sulit itu relatif (sama seperti semua hal lain…). Sesat itu mudah!
Saya cuma memberikan sedikit penilaian terhadap ‘jurus-jurus berbahaya’ itu. Tidak ada rencana untuk mengincar menang debat atau bahkan kebenaran dalam debat sekalipun karena kebenaran itu relatif dan dinamis, begitu juga teori yang sudah diakui oleh dunia sekalipun.
Contohnya saja teori para ahli masa lampau yang dapat dipatahkan sewaktu – waktu menurut kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan jaman.
* lirik teori relativitas dan teori evolusi yang bisa menjadi bahan perbincangan panjang *
misalnya tentang negara demokrasi sama komunisme sampai abis2an :S
secara tidak langsung membuat otak tumpul? hehehe
@ jensen99 & secondprince :
yang lebih penting lagi itu mengajarkan Logika dan Prinsip-prinsip Logika di sekolah-sekolah. Fallacy ada karena ada logika, dan tanpa logika tak ada fallacy.
Setelah logika itu diajarkan, baru diberi contoh kesalahan-kesalahan dalam berlogika (fallacy).
@ Geddoe :
Hmmmm… Cognitive Bias itu selalu ada. Makanya dalam penelitian biasanya selalu dituliskan error penelitian itu. Kalau dalam perdebatan, biasanya mengarahkan atau menekankan suatu aspek tertentu agar dianggap lebih penting daripada yang lain, itu sudah termasuk bias.
Tapi ini biasanya di social psychology. Saya pernah mengalaminya dulu waktu meneliti stereotype kesukuan dalam konflik antar ras, dan untung ada teman yang memperingatkan.
ambil dari bloggnya sora <<<< sedikit menjelaskan komen bang hades
argumentum ad verecundiam lawannya argumentum ad hominem, imo…
kamu tukang menggenaralisir… kamu pasti antek salafy…!!!
Wah saya malah baru tahu tentang masalah fallacy n para salafy…
Di sekolah belum pernah diajari tentang fallacy sih…
@Kopral Geddoe:
Baik, Kopral.
Hmm… kalau lempar masalah sembunyi solusi itu bias bukan ya?
@indra1082:
Ok, salam kenal.
Kalau dipalaki lebih menyeramkan, mbak..
@Cynanthia:
Wah.. kalau begitu apa itu sarkasme?
*ngeles dan plin-plan*
@norie:
Tapi kebetulan sekolah saya memang dekat UNJ sih.
Wah.. saya agak pasif kalau di dunia riil, mas..
Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Mohon ampuni bocah ini.. m(_ _)m
Tapi saya memang masih baru sih.
@steax:
Memang mudah kok.
@StreetPunk:
‘Kebenaran’ yang saya maksud sekedar ketetapan ‘teori sosial’ aja.
Kalau debat ilmu sains, kayaknya memang diperlukan teori-teori sains untuk mendukung argumennya masing-masing..
Dan menyoal sains, kalau teori katanya memang belum mutlak, mas.
Hanya saja dia yang dianggap paling bagus untuk saat ini.
Kalau ‘hukum’ yang katanya sudah mutlak.
Btw, menyoal teori evolusi, ini kayaknya yang paling sering menimbulkan fallacy karena terkait dengan agama dan… aspek sosial.
@peyek:
Melatih diskusi yang tidak sehat kayaknya, pak.
@Pyrrho:
Kalau di sekolah sudah diajarin logika sebenarnya, pak. Namanya kalau ngga salah silogisme, dan ada di pelajaran Bahasa Indonesia. Yang ‘rumus’nya:
Nah, tapi setelah itu ngga diajarin tentang fallacy. Dan saya lihat di beberapa soal-soal Try Out di bagian ini kayaknya sering diberikan contoh soal yang bernuansa hasty generalization dan guilty by association; takutnya ini mempengaruhi pola pikir murid.
@Andrew Anandhika Wijaya:

1. Kayaknya iya. Saya sudah baca di Wikipedia, dan Wikipedia tidak mungkin salah.
*komentar fallacy?*
2. Contoh hasty generalization dan guilty by association yang bagus?
Ampun, tuan..
@maxbreaker:
Belajar dari tulisan-tulisannya Kopral Geddoe, pak Fertob, Wikipedia dan bacaan lain di internet.
Saya juga ngga diajarin kok.
Sudah jarang mampir… akhirnya lihat post yang menarik lagi…
Fallacy kalo diliat2… dialami orang less knowledgeable yang berkata seadanya sesuka kehendak… kadang bodoh dan kadang tercover dengan baik
Yang pasti, fallacy menurut saya sering digunakan sebagai kover untuk menumbangkan argumen dengan cara yang tidak begitu logis.
*btw, sedikit ralat di tanggapan saya untuk komentar maxbreaker dan Pyrrho, bahwa di sekolah saya tidak diajarkan fallacy secara formal.
Dalam artian: ngga masuk kurikulum tapi sempat dibahas dikit (banget) di pelajaran Sosiologi.
*ah tau apa anda… saya ini sekolah di SMA XX, saya lebih pintar!*
EMANG GAMPANG RUPANYA! hehehe
btw… bener jg tu, fallacy dipake buat berargumen tapi g logis…
gw rasa cw akan sering menggunakan fallacy daripada cowo… (penilaian gw, sebagian cw berpikir pake emosi.. no offense!)
tergantung orangnya juga sih…
bantuin yah..
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesesatan
Saya pernah menuliskannya juga disini :
http://fertobhades.wordpress.com/2007/05/27/argumentum-ad-pusingam/
Tapi masih sedikit. Mungkin bisa dengan contoh yang lain.
contoh argumentum ad verecundiam yang bagus… situ lupa kalo wiki bisa diedit…??? dan yang ngedit itu ras manusia yang punya rasa subbjektif…???
Ngga pake micin/vetsin sih, jadi ga enak… (tapi sehat)
Fallacy itu bukannya saudaranya Vasili?
(nggak penting…!)
@Darkness666:
Kadang-kadang ada logika ngaco yang bisa disebut fallacy, seperti:
Sebenarnya ngga harus terikat gender juga, mas..
(ngambil dari blog mbak tikabanget)
Dan kalau ad hominem potensial digunakan siapa saja. Seperti salah satunya yang namanya Bulverism:
@hariadhi:
Tapi dicoba-coba deh.
Waduh, saya juga masih dalam tahap belajar, mas..
Dan kayaknya di Wikipe Indo itu lebih lengkap daripada yang saya tahu.
@Pyrrho:
Hehe, salah satu kajian pembelajaran saya.
@Andrew Anandhika Wijaya:
Ah, tahu apa kamu.. Kamu kan jarang buka Wikipedia, jadi mana tahu seluk-beluk Wikipe.
*fallacy lagi?*
@Unit 076:
Bukan, Vasili di Rusia, kejauhan.
Fallacy itu suaminya bu Lacy..
Wakaka….KEsesatan tiada batas! hehehehehe…
Emang lucu sih kalo dipikir pikir lagi… katanya udah zaman penuh sains..The Age of Reason… masih aja ada yang ngandelin fallacy…
jadi fallacy itu boleh apa tidak?
..ha.. ternyata yang begituan ada namanya toh.. -_-a
Yang paling sulit dikendalikan memang yang hasty generalization (susah amat namanya! saya ampe copy-paste). Habis mau bagaimana lagi, di koran-koran yang diberitakan anggota DPR. Semua memberitakan begitu.. ya jadi wajar kalau kita nggak tahu ada anggota DPR yang bersih.. wong nggak dipublikasiin..
Tapi ya balik lagi ke kita sih.. kan nggak boleh su’udzon..
Btw, kalo fallacy dipakai buat argumen lawan kakak OSIS gimana ya?
OSIS : *ngambil topi*
Peserta MOS : Kak, topi saya, kak
OSIS : Oh, emang topi penting ya? *bermaksud mancing argumen*
Peserta MOS : Ya iya lah *rolling eyes* emangnya kakak nggak tahu ya kalo topi itu mahal? Sok kaya banget sih, makanya nggak tahu! Itu duit buat beli topi juga hasil keringat orang tua kali.. kakak nggak menghargai nih!
OSIS : *dengan gaya Pak Taka, menyuruh Push Up 10 seri*
…
…
..itu namanya ngejek ya? -_-;
@Magister of Chaos:
Hahaha.. fallacy itu sendiri juga bisa jadi argumen yang beralasan.. tapi rada kacau.
@hussein fatih:
Tapi untuk beberapa hal, seperti humor satir dan parodi, beberapa jenis fallacy rasa-rasanya masih bisa digunakan untuk memperkuat emphasis yang mau diberikan.
Hmm… dalam diskusi yang sehat, fallacy sebaiknya dihindari. Karena itu bisa membawa ke kesimpulan yang salah seperti beberapa contoh di entri dan di komentar-komentar sebelumnya.
CMIIW, though. Saya pemula.
@Ash:
)
Yep, hasty genereralization memang salah satu yang tersulit.. (btw ingat aja haste dan generalisasi
Selain itu ad hominem juga kerap ngga terhindarkan. Menilai kualitas argumen dari orang yang mengatakannya, seperti:
“Ah, kamu ini cuma murid SMA, tahu apa!”
Kalau fallacy dipakai buat lawan OSIS… saya rasa kocak juga.
Dan kayak contoh yang Anda berikan di atas itu kayaknya termasuk ad hominem; ad hominem kadang memang ngejek.
@hariadhi… masih berlanjut….
saya kasi contoh argumentum ad vericundiamn + ad hominem yang lain…
lho… bapak saiyah bilang kalo wikipe itu nggak bisa dipercaya… dibandingkan kamu yang
nggakbelum lulus sma… aku lebih percaya bapakku yang lulusan universitas luar negri lah… kamu itu bodoh… jadi diam aja deh…wah, istilahnya baru denger semua. tapi makasih lo, saya jadi ngerti fallacy
@hariadhi:
Just for fun..
@Andrew Anandhika Wijaya:
Lalu siapa bilang saya bodoh? Saya ini lebih pintar, lebih rajin daripada kamu.
Orang bodoh kayak saya mana mungkin dapat trefik besar di blog?
Percaya mana kamu, bapakmu yang kuliah di luar negeri atau Stephen Colbert yang sudah jelas-jelas mendukung Wikipedia?
*fallacy-fallacy maut! Ad hominem, verecundiam, dan satu-lagi-saya-lupa-namanya-yang-mengait-ngaitkan satu-hal-dengan-lainnya-padahal-ga-ada-hubungannya*
@missglasses:
Semoga berguna.
harusnya fallacy diajarkan di sekolahan!
tapi namanya juga indonesa, sistem pendidikan nya ga da yang bermutu…apalagi pengajar2nya…sok tau semua..maunya di hormati…
*ikutan praktek*
:mrgreen;
*ngakak habis-habisan melihat perang fallacy*
Ahh.
Kenapa kebetulan sekali saya baca entry ini setelah saya membaca segala jenis fallacy di Wikipedia beberapa hari yang lalu tanpa alasan tertentu?
@ Xaliber:
… dan satu-lagi-saya-lupa-namanya-yang-mengait-ngaitkan satu-hal-dengan-lainnya-padahal-ga-ada-hubungannya*
Hmm… apakah itu non sequitur? *nggak ingat*
Hmm, bagaimana dengan appeal to probability, argumentum ad baculum, argumentum ad populum, argumentum ad lazarum, dan juga– *dibunuh*
*masih ngakak*
@grace05:
Hehe.. benar itu. Namanya juga Indonesia.
*fallacy?*
@Infinite Inficio:
Hmm… baru search-search lagi.. kayaknya Cum hoc.
Ahh, ad baculum dan ad populum, saya rasa dua itu juga ‘menarik’.
hmm…brarti klo salafy itu anotehr version dalam fallacy yagh?
*haiyah*
klo sample dari fallacy of many question yang saia baca di wiki, ga ada bedanya dengan majas retoris dalam bahasa indonesia…really?
~ Yo.. Cuma numpang lewat ^^.
Still haven’t changed I see =P.
~ C ya.
@zahra:
Kalau beberapa oknum Salafy, bisa jadi…
Hmm… mungkin tergantung jenisnya, mbak. Tapi kayaknya fallacy of many questions cenderung lebih menjurus ke praduga.
@Narcku:
Long time no see. 
Wah, halo.
Yah, setidaknya saya nambah sedikit pengetahuannya dibanding dulu…
fallacy itu bukan nya permainan pikiran, eh mungkin juga ya.. emang nyambung sih , dengan kata-kata pikiran bisa juga di mainkan..
@ulan:
Semacam permainan persepsi dan kalimat, mbak?
wah parah kan……………..
…xal kok aku masi ga ngerti ya? *pasti ntar disuruh buka wikipedia deh* btw ayo kita remed ujian fallacy via ym yg waktu itu!
Dalam permainan catur ada istilah “skak mat!” Lawan tak berkutik. Itu kalau lawannya goblog atau tak waspada. Lawan yang tangguh sering menggunakan strategi “mengalah” untuk menang. Ini berlaku pada debat yang ada aturannya, lain halnya debat liar apalagi tak ada pendengar/pembaca dan mediator/jurinya. Penggunaan fallacy bagaikan merasa menang, yang sebenarnya kalah.
appeal to authority sama argumentum ad verecundiam kok rada” mirip?
*pasti komen ini gak dibales*
@ibunosomowiyono:
Setuju pak. Saya suka sama kalimat yang ini,
@Rist Lawliet:
Maaf telat, tapi akhirnya dibalas juga, kan…
Memang keduanya fallacy yang sama kok. Cuma satunya bahasa Latin. ^^