After having some troubles lately, I’ve decided to insert a webcomic (again) instead of a boring wall of text.
This one will take a lighter issue than the previous webcomic, so you may not take it seriously. Or, in some cases, maybe you should.
Well… just to warn you, an image with 157 KB in size awaits.
Indonesian version available below.

…
…
…
Actually, I myself have been wondering recently… is complete objectivity really has become some kind of utopia that is unreachable by a normal human? Then, so to speak, to fully abide by the rules and regulations is only by limiting the social activities — as said above. Or maybe humans should kill their own emotion, as Zaraki Kenpachi said, to take a step away from the beast nature in our side — in this case, to become more objective.
…oh wait. Could this issue be a new motive for anime or manga antagonists instead of simply want to see the world in peril?



Sorry for the bad usage of grammar, also for the balloon text.
And we are not talking about police nor the army here.
hahahaha, jadi masuk deh tulisan gw. Ini kayanya satir yah?
Kalau gw sih mikirnya objektivitas boleh diusahakan, tapi subjektivitas juga selalu hidup. Ndak bisa mati walaupun orang dikurung di benteng tebal tanpa ditemani siapa-siapa. *Ah.. sial. Ngomong soal teori ideal lagi. Jadi itulah kenapa gw bilang percuma saja usaha menjadi murni objektif.
Seperti kasus pemerintah takut moral masyarakat rusak lalu film dewasa semua diberangus. Ya ndak akan jalan. Orang tetap saja sembunyi-sembunyi beli selundupannya.
Mungkin yang perlu adalah mengusahakannya tetap seimbang kali, ya? Nda usah terlalu anarkis, tapi jangan terlalu hipokrit juga.
Soal english. Nda pa pa… grammar lu lebih bagus dari gw, kok. Dah pernah coba tes ToEFL?
PS: Good comic!
duh… saiyah sama sekali nggak paham… bahsanya….
(
Mbahahahaha, ngena banget.


Bersikap subjektif jadinya salah, bersikap objektif juga jadinya salah. Jadi?
__
*mode ngaco habis main True Remembrance*
Kenapa ngga cari aja Mnemonicide Class Omega untuk menjadikan seseorang objektif secara sempurna? Mnemonicide Class Omega kan bisa ditanami emosi apapun.
*mode ngaco OFF*
Ah, ini…
Berhubung baru
ngerasaninngomongin Kira Yamato di blog sendiri, saya jadi inget salah satu quote dari SEED. Isinya persis banget, IMHO.…
Semakin dekat kita mengenal seseorang, kita tahu latar belakangnya. Dan juga alasan-alasan di balik perbuatan mereka. Mungkin saja, dari situ timbul semacam simpati yang akhirnya mengganggu obyektivitas kita sendiri.
Solusinya ya, kita harus berpikir parsial. Fakta bahwa si X itu teman baik saya adalah satu hal. Tapi, fakta bahwa dia (misalnya) berbuat korupsi itu urusan lain lagi. ^^
~jadi inget pembelaan model setantron™
hahahah..kayaknya itu ga mesti cuma law enforcer deh..kayaknya orang sekarang sudah jadi autis semua sama keadaan sekelilingnya..
Gak ngomongin polisi & tentara? lalu? Jaksa & KPK?
Yah, mustinya sih diusahakan supaya yang nangani kasusnya adalah orang yg gak punya hubungan apapun dengan si terdakwa…
Misi hampir mustahil di daerah dan kota kecil…
@hariadhi:
Hanya humor ringan, tapi tak tahu kalau jadi tergolong satir.
Hmm… kalau menurut saya secara singkat, orang jadi cenderung subjektif dalam menangani masalah seperti ini karena kita mengenal dia secara pribadi. Seperti kata mas sora.
Ibaratnya, guru pengawas Ujian Nasional yang didatangkan dari sekolah lain biasanya akan lebih tega untuk menghukum tukang nyontek daripada guru yang mengawas ujian harian. Karena guru yang mengawas ujian harian mengenal secara pribadi si murid itu.
Soal ToEFL, pernah coba dan hasilnya lumayan.. tapi bahasa Inggris saya masih rada amburadul. ^^;
Thx.
@Cynanthia:
Istilah “kita kan teman” mungkin jadi tak berlaku disini.
Jadi… perlunya pembeda antara relasi dan fakta?
@sora9n:
Saya telat.
Wah, rupanya apa yang mau saya sampaikan sudah diangkat dalam anime.
Ya, poinnya ada disitu.
Tapi kebanyakan masih terdistorsi (?) dengan cara berpikir parsial itu. Orang rata-rata masih memberi kompensasi yang lebih ringan kepada orang yang dikenalnya daripada yang tidak.
Dan pembelaan model setantron kelihatannya agak… menyebalkan.
@stey:
Hmm… maksudnya autis, mas?
@jensen99:
Bukan keduanya pula, jadi diambil secara global aja, mas.
Sebaiknya sih memang begitu, jadi keputusan yang dihasilkan bisa lebih murni atas hukum — kalau mau mengesampingkan faktor eksternal seperti uang sogokan.
@Andrew Anandhika Wijaya:
Lengkap dengan sebagian dari entrinya.
Versi Indonesia (161 KB) telah tersedia.
*orang kurang kerjaan*
AAH
Saya suka subjektif _ _
Walopun itu salah tapi bukan berarti itu tidak baik
Ya tapi sepertinya itu memang tidak baik ya @_@
..tapi kan ini sudah menyangkuttt )@^%)&@!
Bukankah menjaga kekerabatan itu juga baik.
Kalau memang harus demi menegakkan hukum ya bagaimana lagi juga ya. Itu kan memang harus.
Hh msa membatasi berteman _ _ apa2an itu.
Manusia itu makhluk sosial bukan sih ==a
AAAKH bingung ~_~
Subyektif itu bukan tidak baik kok, asal sesuai waktunya, IMO. Seni tidak bisa obyektif, kan?
Dan soal membatasi berteman.. itu teori saya saja. Dan alasannya ada di komentarnya mas sora dan tanggapan komentar saya untuk mas hariadhi.
…
…
…
(selama lima belas menit vengo di depan komputer lantaran nggak ngerti artinya..)
Kalau boleh asal ngomong, ya kita harus pintar-pintar bagi perasaan (?) Simpati boleh, tapi kalau ternyata dianya memang salah, kita nggak boleh kalah sama simpati..
Entah ya, saya pikir mengenal orang lebih dalam itu baik, tapi ya siapa dulu.. lagipula tahu latar belakang dari seorang oknum sehingga mereka melakukan hal itu saya rasa juga penting.. bisa jadi bahan pemikiran kita misalnya.. tapi tentu saja itu nggak boleh memengaruhi ketentuan hukum yang sudah ada, nggak ada tawar-tawaran lagi..
Bah, auk ah.. kalau bicara terus nanti diminta pertanggungjawaban.. kayak di entri sebelumnya tuh..
Jadi lebih baik saya tutup mulut secepatnyaaa~~
Err.. kan ada versi Indo-nya di atas..
Nah itu, terkadang simpati itu yang tak bisa dibatasi.. terutama untuk hal-hal yang sederhana seperti ’seorang teman yang kabur dari pelajaran untuk ke warnet’.
Mungkin ini kesannya blind obligation to the law, tapi ya.. hukum perlu ditegakan la.
Hoho, ngga diminta pertanggungjawabkan kok..
Komentar apa saja — subyektif, obyektif; konstruktif, destruktif — selalu diterima di blog ini selama komentar itu tidak mengganggu orang lain (kecuali saya; saya boleh dihina
)
Ah ya.. benar.. benar! Kalau sama teman jahat dikit dibilangnya MT.. padahal kita kan bukan kaum kanibal (halah!!!)
*Jadi ingat dulu pas kelas 2 SMP sering kabur pas ekskul Bajep buat ke warnet*
Nah, iya.. padahal kan ngga fitnah orang.
Eh? Ternyata dulu sering kabur juga?
*cukup tidak menyangka, sebenarnya..*
Main RO?