“Apa sih tujuanmu ngeblog?”
Pertanyaan seperti itu mungkin setidaknya sekali dalam seumur ngeblog pernah ditemui oleh para blogger yang aktif. Dan mungkin sudah sering pula dibahas pula pengembangan dari pertanyaan itu oleh berbagai blogger, entah itu [disini], [disitu], maupun di tempat-tempat lainnya (karena ingatan saya yang tidak cukup baik untuk menghafal deretan URL WordPress beserta tanggal pembuatan sebuah entri, maka saya lupa, maaf -_-” ).
Jadi… apa tujuan ngeblog? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab, “Karena senang menulis.” Ya, saya rasa alasan itu mungkin yang pertama kali memotivasi seseorang untuk membuat blognya. Entah itu hanya sekedar untuk curhat, bercerita pengalaman menarik, menulis opini dan kritik sosial, maupun membuat tulisan-tulisan yang menjadi spesialisasi/keahliannya. Orang bisa menulis apa saja, yang penting tersalurkan hobi menulisnya.
[soktaumode]
Tapi…
Mungkin, buat sebagian orang, rasanya tidak begitu menarik jika sudah capek-capek menulis tapi ngga ada yang baca. Atau ngga ada yang komentar. Rasanya jadi agak sia-sia, dan mungkin tulisannya pun akan tetap begitu-begitu saja (karena tanpa adanya komentar tentu tak ada kritik maupun saran secara online). Alhasil, mungkin semangat ngeblog jadi agak berkurang. Karena, yah… tak ada interaksi sosialnya. Bagaimana pun, manusia kan makhluk sosial.
Perasaan itu mungkin memudar ketika muncul pengunjung yang berkomentar dan meninggalkan pesan di sebuah tulisan. Mungkin akan terlintas suatu pikiran di benak si blogger, “Oh, rupanya blog ini ada yang baca juga.” Lalu biasanya semangat buat menulis di blog muncul kembali/bertambah. Hal ini bisa jadi dimungkinkan karena adanya faktor apresiasi dari orang lain yang mendukung seseorang untuk melanjutkan aktivitasnya (ngeblog).
Pada masa awalnya, mungkin si blogger akan menulis sesuai dengan motivasi awal dia ngebuat blog itu tadi. Curhat, berbagi pengetahuan, menulis kritik, dsb. Seiring dengan kemunculan pengunjung pertama dan bertambah ramainya blognya, semangat menulisnya juga akan bertambah. Terus, terus, terus bertambah, dan kini tak hanya menulis, tapi juga mengunjungi tulisan lain (maksudnya berkomentar pada tulisan di blog lain). Dan masuklah ia ke dalam komunitas blog-o-sphere.
.
.
.
Hingga pada akhirnya ia sampai di suatu titik. Bukan titik jenuh mungkin, tapi suatu titik dimana muncul pikiran, “Saya sudah dikenal. Blog saya pasti tetap akan ada pengunjungnya.”
Di titik itulah mungkin gaya tulisannya mulai berubah. Dari landasan awalnya untuk curhat saja misalnya, mulai membahas aktivitas blogger seperti kopdar. Dari landasan awalnya untuk berbagi pengetahuan komputer saja misalnya, mulai menyentuh kawasan pribadi (a.k.a. curhat) dalam dirinya. Dan dari esai kritik yang memakan belasan paragraf, perlahan-lahan surut menjadi beberapa paragraf.
Mungkin karena hal itu yang kemudian memunculkan perasaan yang lebih bebas dari si blogger. Dalam artian, lebih ‘bebas’ dalam menulis dan orientasinya tak harus itu-itu saja. Karena itu tadi, tetap akan ada yang baca tulisannya. Jadi apa pun tulisannya, selama masih bisa meluapkan perasaan si penulis, maka tak akan jadi masalah untuk dirilis.
Yang jadi masalah adalah ketika ada pembaca tertentu yang memang gemar melahap tulisan-tulisan klasik dari si blogger. Misalnya sang blogger adalah spesialis militer yang dulu membahas berbagai teori-teori menarik, kini mulai meninggalkan kebiasaannya dan beralih menjadi lebih bebas. Si pembaca mungkin akan kecewa, dan biasanya ada 2 pilihan yang bisa si pembaca lakukan: meninggalkan blog itu atau memberi kritik.
Jika si pembaca mau berbaik hati memberikan kritik, terkadang mungkin si blogger tidak begitu menggubrisnya atau justru menganggapnya sebagai pengganggu. Karena anggapan itu tadi, “Blog saya tetap akan ada pengunjungnya.” Jadi apa pun yang saya lakukan tak ada masalah, dan ini biasanya didukung dengan alasan: “Blogku adalah rumahku. Suka silakan berkunjung, tidak suka tidak usah berkunjung.”
Nah, menurut saya pribadi… memang betul bahwa setiap blog yang dimiliki oleh si blogger adalah rumah virtual blogger itu sendiri. Jadi apa pun bentuknya, tetap kembali kepada keputusan si pemilik rumah masing-masing. Tapi, rasanya tidak ada salahnya untuk memperhatikan tanggapan seorang teman lama yang menyarankan untuk membetulkan lukisan yang gantungannya agak miring, ‘kan?
Mungkin, karena sudah lebih besar dibanding dulu, terkadang kita lupa. Mungkin, karena sudah lebih diakui dibanding dulu, terkadang kita jadi agak sombong. Tapi, tentu yang bagus adalah tidak melupakan orang-orang yang sempat berada di belakang layar yang sebenarnya ingin tetap melihat kemajuan dari diri kita. Dari si blogger. Karena, bagaimana pun, meskipun usaha menuju ke ‘atas’ itu dihasilkan dari diri sendiri, itu semua tak akan ada artinya tanpa melibatkan orang lain dalam prosesnya.
PS: Saya tidak sedang mendiskreditkan siapapun disini. Hanya sekedar refleksi.



Saya sebenarnya mau ngebahas 2 hal, tapi kok ujung-ujungnya jadi kayak cuma 1 ya?
[/soktaumode]
Ketika popularitas seseorang mulai naik, dia akan lebih sulit menerima kritik ataupun saran dan cenderung lebih mendengarkan suara hati, walaupun tidak semua demikian
.
?
Ada baiknya si pengkritik menyesuaikan dulu dengan sikon, misalnya ketika sedang ngobrol empat mata dan si pengkritik menyampaikan segala sesuatunya secara baik-baik, sedikit banyak itu akan membantu. Tapi kalau di blog-o-sphere, gimana caranya ya? Apakah seseorang itu akan mampu memperhatikan (baca: merenungkan) kritikan yang terselip di antara puluhan atau mungkin ratusan komentar-komentar lainnya
Btw, judulnya kok agak-agak seperti menjebak ya
?
Nah, itu dia yang mungkin sulit di blogosphere.
Kecuali ada halaman khusus kritik yang bisa diperhatikan, atau apa yang mau disampaikan oleh si pengkritik ngga salah ditafsirkan sebagai sesuatu yang lain sama si blogger.
Ada apa dengan judulnya?
Saya bukan seleb blog. Karena itu saya tidak begitu peduli akan apa yang saya tulis
*meskipun pengen tobat nyampah berturut-turut*
*merenung*
Saya kehilangan banyak pengunjung sejak pindahan…
*ditembak karena tidak nyambung*
Bravo!!! Sebuah tulisan yang enak di baca dan mengena.
how…
i don’t care about seleblog…
hihih…
dikau juga jarang keblogku, apa itu pengaruh…
yang penting saya tetap TAMPAN…
hihiih…
*maapgaknyambung*
Blog sekarang gunannya untuk lepas stress… SMA = penderitaan!
betul mas….salam kenal ! yang jelas blog saya sih pelampiasan saya di luar kerjaan kantor …..sebagai blogger baru, sampai kapanpun semoga saya nggak masuk golongan yang sombong kayak si mas …..
“Apa sih tujuanmu ngeblog?”
Jawaban Saya ada di postingan sbb:
http://serdadu95.wordpress.com/2008/01/24/blogku-istanaku-recycle/ dan http://serdadu95.wordpress.com/2008/02/05/indonesia-dlm-sebuah-retorika/
tengkiu.
(*salam kenal*)
*bakal kena moderasi kayaknya*
http://tikabanget.com/2007/12/12/hasrat-berfantasi-ituh/
http://ndorokakung.com/2007/12/13/tika-pecas-ndahe/
Kayaknya bisa jadi referensi tambahan.
Tuh kan, moderasi bangsat dan kurang ajar itu.
*ubah setting di blog sendiri jadi minimal 5 URL*
mo komen ga komen, toh saya tetep ga bisa cari ide buat posting..huhu..
*sadar*
*merenung*
Mungkin sudah saatnya saya meningkatkan kualitas tulisan saya.
ditempatku maksmimal 4 url juga jarang ada yang ketangkep… lima kebanyakan kali…
ah iya saiyah tertohok… tulisan saiyah sepertinya memang sudah berubah… entah menjadi lebih bagus atau lebih jelek…
Untung ane bukan seleb blog.. bukan super star wordpress, dan kagak populer. Jadi kalo mau nulis apapun kagak ada beban…
ituh temen sayah sampe pindah blog berkali kali gara2 ngerasa tulisannya banyak yang baca…
**lirik yang di aceh**
menurut dia, dia gak bebas lagi..
dia pengen nulis sebagaimana dia pengen nulis..
Blame school’s internet connection for making me retype this comment -_-
@Cynanthia:

Saya juga bukan.
Ah ya.. selain karena BoTD (mungkin), kayaknya faktor search engine juga.
*sok tau*
@danalingga:
Eh? ^^; Terima kasih, mas.
@Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ:
In ‘that’ context, me neither.
Dan saya memang jarang blogwalking karena satu-dan-lain-hal..
@steax:
Saya bisa melihatnya.
@progoharbowo:
Waduh? Saya sombong yak? ^^; Maaf kalau ada kata-kata yang terkesan ofensif, tapi kalau ada kesalahpahaman, semoga itu tak disengaja.
@serdadu95:
Salam kenal juga, pak.
@Goenawan Lee:
1. Got your point, but… that’s not what I mean.
2. Caranya gimana ya?
@stey:
Wah saya juga ngga tahu, mas.. ^^;
@p4ndu_454kura:
@Andrew Anandhika Wijaya:
No offence, tapi.. Anda dapat poinnya.
@Cabe Rawit:
Saya juga bukan.
@tikabanget™:
Ya, memang kembali pada pemilik blognya masing-masing, kan, mbak.
..ah.. iyaya.. rata-rata orang memang begitu ya..
Saya sih jarang blogwalking (atau apapun istilahnya lah), jadi kurang tahu sama yang begini-beginian..
hanya saja agaknya saya menemukan hal serupa di dA. Yeah, ini beda bidang memang, tapi soal komen-komenan ini mirip sepertinya..
Di dA itu, saya agak mengernyit aja kalau seorang artist besar yang karya-karyanya bikin saya nyesel kenapa nggak punya tablet (?), mengabaikan komentar-komentar para fansnya (atau apapun lah istilahnya)
Kesannya kayak yang bos bilang itu, agak mengganggu karena dia mau komen/nggak, masih banyak orang lain yang mau komen..
Kalau saya pribadi sih.. saya senengnya setengah mati kalau ada yang komentar gambar(atau apapun yang bisa dikomentari) saya. Pasti akan saya balas! Akan saya apakan kek, pokoknya saya akan memberikan apresiasi terbesar saya!! Hahaha..
Pencerahan yang hebat @_@ ..Bos, lu niat ngelamar jadi biksu ga?
*becanda
ada juga sisi yang agak susah dipahami orang. Kalau blog itu seperti diari yang diperlihatkan ke orang lain. Orang mungkin boleh liat, boleh komentar, boleh mengkritik, tapi yang memutuskan diari itu seperti apa tetaplah yang punya diari.
Berani bikin blog, berani dikritik, tapi berani mengkritik, berani pula untuk ditolak.
Tapi tetap, yang lu tulis ini ngasih sisi baru ke gw. Keterbukaan itu harusnya tanpa batas sih, ya?
Saya juga jarang blogwalking…
Ngabisin duit sih kalo keseringan…
Terjun ke dunia bloging berarti harus ngerti kalo kita masuk ke suatu komunitas. Dimana-mana yg namanya komunitas pasti ada interaksi sosialnya. Masa’ ada komen didiamin aja? Kecuali kalo lagi sibuk sih. Tapi jangan sok sibuk lho.
Nambah. Tapi setelah dipikir-pikir, kayaknya repot juga ya kalo yg komen sampai ratusan.
@Ash:
), saya satu suara dengan Anda.
Hmm… kalau dengan fitur dA yang threaded (atau flat ya? Pokoknya yang bisa muncul di bawah komentarnya), comment-all sebenarnya rada repot… tapi, memang, kalau komentar diacuhkan begitu saja (apalagi kalau sudah komen panjang lebar
Tapi orientasi yang saya maksud disini mungkin tidak hanya ke bagian komentar itu..
Soal komentar, bukankah dA Anda sudah banyak komentatornya?
@hariadhi:
Wah.. biksu? Jadi pelajar yang bener aja belum sanggup.
Dalam konteks kritik dan putusan final diari itu, saya sudah satu suara dengan mas hariadhi.
Dan seperti yang sudah tertulis pada entri di atas.
@maxbreaker:
Saya juga jarang.. karena satu-dan-lain-hal. -_-
@Faradina
1. Ya, dengan masuknya ke dalam blogosphere berarti masuk ke komunitas sosial.
2. Yep.
wah tertohok!
saya baru-baru ini dikritik teman saya yang silent reader. katanya blog saya akhir-akhir ini isinya resensi film mulu. disisi lain ada yang minta saya meneruskan resensi film. jadi bingung…
Wah judulnya.
PERTAMA saya kira isinya tentang siapa-siapa saja seleb blog dan pemberian komentar dari penulis yang akan diikuti komentator lainnya
Benar-benar DC saya XD
OH. Walaupun niat menulis tulisan ini mungkin baik. Namun saya kurang suka
Rada dalem.
Mungkin ada cara yang lebih bagus lagi?
*lihat komen cK*
Gimana kalau resensi buku, chik ?
@ deathlock :
Aha, saya sudah pernah sampai pada titik ini : (1) titik dikenal, yang terjadi sekitar 6 bulan yang lalu, dan (2) titik jenuh, yg terjadi sebulan yang lalu.
Dan sempat kepikiran untuk “membunuh” blog sendiri. Tapi tetap saja tulisannya tidak pernah beranjak dari sesuatu yang serius dan suka mengkritik. Tapi saya kok merasa ada sesuatu yang berubah di blosphere ini ya ?
*atau saya yang terlalu perasaan ?*
Makasih tulisannya, mas…
Setiap kata dan paragraf di postingan ini saya baca dengan pelan dan perlahan, dan akhirnya saya hanya bisa mengamini setiap tulisan anda, trimakasih pencerahannya.
seleb blog, yu komen? i sorry ye nggak
minat sempat komen@cK:
Soal menatanya, keputusan final kembali pada pemilik rumah masing-masing kan, mbak.
@Allheal Dins:
Sekedar refleksi.
@Pyrrho:
Sebenarnya emphasisnya bukan di bagian ‘dikenal’-nya, pak. Tapi di bagian ‘pemikirannya’ itu.
Kalau blogosphere memang dinamis kan, pak/mas?
Dan itu salah satu poin yang saya maksud di atas.
@Landy:
Waduh, semoga saya tidak salah menyampaikannya… mohon maaf jika ada.
@dobelden:
Judul bisa menipu, mas.
Answer: malas bicara berat. Pingin main-main ajah.
Alasan? karena saya malas…
Nah, teori sini soal blog sih… [mudah-mudah komennya panjang]
Blog kan Weblog. Web + Log. Halaman Web yang seperti sebuah Log. Sebuah catatan peristiwa beruntun dan terus bertambah.
Jadi sebenernya kalau mau jadi orang dungu, buat blog buat log. Buat tulisan terus-terusan sampai2 jadi kayak diari. Bedanya ini bisa dibaca orang lain. Lagian setahu saya promosi blog internet awalnya dipromosikan sebagai media seperti diari. Jadi mungkin yang namanya blog memang fungsinya kayak diari. Lalu kalau diari kan kembali ke pribadi masing2, ada orang gila (kayak yang punya blog ini misalnya) yang saking gilanya pikiran hariannya bukannya makan apa hari ini, ngobrol apa hari ini, atau giman kabar doi hari ini malah mikirin apa yang seharusnya ga penting-penting amat dipikirin tiap hari. Dari situlah muncul blog-blog yang lumayan berat. Ditambah sifatnya yang ‘Log’ jadilah mungkin blog-blog yang kayak berita koran, diupdate tiap hari.
lalu masalh seleblog sendiri. itu sih menurut teori saya (yg ngawur ini) itu sudah bentuk kompleks dari perkembangan blog. anggaplah diari Anda diterbitkan seperti diarinya si Anne Frank, banyak yang baca, suka, ngefans, jadilah seleblog seperti si Raditya Dika mungkin? Intinya seleblog muncul bukan karena apa yang Anda bahas atau apa yang Anda di pikiran Anda. tetapi kembali pada pribadi Anda, seberapa menarik Anda menggambarkan diri di blog itu. Mungkin digambarkan sebagai artis Bollywood makanya banyak yang ngefans. Didukung dengan gaya bahasa yang menjamin makanya jadi lebih beken.
Yah, itulah teori saya… [ngalor ngidul sampe Mars]
tanggung…
jadi buat lebih jelasnya… saya mungkin tipe yang berpendapat tidak secara aktual. Tapi saya lebih mencari akar mula munculnya pembicaraan. seperti bagaimana weblog itu… yah, begitulah pikiran saya…
dengan ini…hetrik
mmmm….
“Apa sih tujuanmu ngeblog?”
klo saya sih iseng, itung2 mluapkan isi hati, biar ga stress and ga jadi beban…
btw, klo soal perubahan yang terjadi pada Blogger Celeb, mnurut saya sih diakibatkan adanya mainstream yang menuntut keBlogger Celeban yang otomatis merubah keoriginalitasan Blogger Lama yang cendrung orisinil
dan kagak neko2. The point is, mnurut saya, perubahan yang ada (trutama soal writing style) merupakan “downside” dari suatu keCeleban…PEACE!!!
keekekekkkk….
Tipe seperti itu akan muncul jika memang orientasi kita adalah jumlah pengunjung. Tapi mari deh coba sekarang kita rubah cara pandang kita terhadap blog kita. JAngan senang sekali ketika kita memperoleh pengunjung dengan referensi blog orang lain. Dan mendapat komentar dari sesama blogger, karena mungkin blogger mengunjungi blogger paling tidak di hatinya mengharapkan kunjungan balik bukan. Kita harusnya lebih bangga ketika banyak pengunjung yang datang dari berbekal hasil pencarian mesin pencari, karena itu menandakan kontribusi kita dalam dunia nyata bukan sekadar blog-o-sphere.
@Lemon S. Sile:
Menulis memang bebas, keputusan final semuanya kembali ke pemilik blog masing-masing. Dan soal seleb blog… jangan terlalu terpancing dengan judul.
1. Everyone knows that.
2. Hmm… sebenarnya, itu bukan poin saya.
3. Lihat komentar Andrew atau Jabizri.
@Jabiziri:
You’ve got one of the point.
Peace juga.
@anas:
Hmm… peran kita terhadap dunia ya? ^^
gw sendiri dah eneg sih liatnya. Pengen ga ngasih komentar atau ngomong apa-apa, tapi ada aja yang mau gw tulis ternyata masih nyangkut sama masalah itu. Takutnya nanti dibilang ngipas-ngipasin, ga enak juga.
Jadi ya sutralah… kayanya gw berhenti bikin tulisan dulu. Gentayangan aja ke mana-mana nebar komen. Nulis untuk sebulan ini dihentiin dulu.
~eh, lha tapi kok rasanya gw ga prnah minta lu sependapat. hik hik hik. Resiko tanggung masing-masing sajalah ya?
that hour most of the others were sewing likewise. but one class 8K3LQ44ZXMC frequently alone with him, and keep you so continually at his side.
enakan blog walking…
saya lama hiatus malah ketagiihan..
tampaknya saya kena titik jenuh..
thats for sure, brother
@hariadhi:
Tersirat di tulisan di atas lho..
Sekarang sudah nulis lagi kan, mas?
@grace:
Haduh, saya mungkin kebalikannya.. tapi saat ini lagi malas dua-duanya sih.
@Teresapc:
For sure?
Hahaha. bagus nih artikel. Ngingatin saya apa tujuan saya blogging aslinya. Jujur saja, aslinya tujuan utama saya blogging adalah cari popularitas. Hehehehe. tapi sejalan waktu kadang saya lupa tujuan awal saya dan mulai berpikir blog untuk kebebasan menulis saya. Mungkin dengan tulisan ini saya ingat kembali tujuan awal blog saya dengan arah ke dunia IT (harusnya, tapi merambah sampai ke dunia lain-lain hehehe). Thanx a lot. ^^