Aku terjatuh. Ke lubang yang sama.
Dua kali.
Aku berjalan pelan, meniti jalan setapak, untuk mencapai kota tujuan. Berangkat dengan penuh harapan, kulihat matahari bersinar cerah dan awan-awan lembut menyelimutinya, menemaniku dalam perjalanan yang harus kutempuh ini. Padang rumput luas terhampar berada di sisi jalan setapak yang kulewati, dengan bunga-bunga yang tumbuh di atasnya menari-nari dibelai angin yang sejuk. Ah, sebuah pemandangan indah. Kuharap pemandangan ini akan terus berjalan di sampingku, menemaniku hingga tiba di kota tujuan. Begitu juga dengan sang surya yang tampaknya masih selalu tersenyum di atasku.
Dan aku masih terus berjalan, meniti jalan setapak.
Hingga kutiba di depan lubang besar yang menganga di hadapanku.
Aku melihat ke sekelilingku. Hamparan padang rumput luas yang menemaniku sepanjang jalan sudah sirna, dan pohon-pohon yang berdempetan sudah menggantikan perannya. Hutan dan semak belukar, bukan teman yang bagus dalam perjalanan ini. Dan mereka tak memberi jalan pilihan bagiku selain lubang besar yang menganga di hadapanku kini.
Kota tujuan menantiku disana, dan aku tak punya waktu untuk berlambat-lambat. Kucoba melompat, dengan harapan tiba di seberang dengan selamat. Namun apa daya, aku bukanlah makhluk sempurna. Lompatanku yang nyaris berhasil tetap membiarkanku tergelincir masuk ke dalam lubang ini.
Dan aku pun terjatuh ke lubang pertama.
Terperosok ke dalam, ke dalam lubang yang gelap.
Aku menyesal. Seharusnya aku membawa peralatan lebih untuk perjalanan ini.
Kucoba memanjat, mendaki lubang bagai tebing yang curam. Aku terpeleset, dan kembali terperosok ke dasar. Permukaannya begitu licin, menyulitkanku untuk naik ke atas. Membuat harapanku sirna dengan kota tujuan yang terasa menjauh.
Aku terduduk pelu, mendongakkan kepalaku ke atas. Awan-awan besar bergerak anggun di atasku. Langit biru masih tampak biru, dengan matahari yang masih tersenyum di atasku. Aku tersadar. Tak ada gunanya menyesali diriku sendiri disini. Kota tujuan masih berada di tempatnya dan tak akan pergi kemana-mana.
Maka kudaki kembali dinding lubang yang bagai tebing. Ia masih licin seperti apa adanya, ia masih membuatku terpeleset ketika mendakinya. Tapi itu tak akan membuat semangatku pupus olehnya, karena kota tujuan masih menantiku disana. Ya, kota tujuan tak akan pergi kemana-mana.
Aku kembali berjalan pelan, meniti jalan setapak. Lubang besar yang membuatku terperosok sudah berhasil kudaki. Kini hutan dan semak belukar kembali menemaniku dalam perjalanan ini. Bukan pemandangan indah, jadi aku hanya memandang ke atas langit yang mulai memerah. Langkahku harus kupercepat. Akan lebih menyenangkan jika aku bisa tiba di kota tujuan sesuai jadwal yang sudah kurencanakan.
Dan aku terus berjalan. Menyusuri jalan setapak, ditemani hutan-hutan dan semak belukar dengan langit cerah yang mulai memerah. Hingga kulihat jalan setapak ini memanduku keluar dari hutan yang berdempatan satu sama lain. Akhirnya aku akan segera keluar dari hutan yang menyebalkan.
Kutemui diriku berada di hamparan padang rumput yang luas untuk kedua kalinya. Sebuah pemandangan indah yang kuharapkan sedari tadi telah kembali menemani. Dari kejauhan tampak kota tujuan yang telah menantiku. Maka aku pun semakin mempercepat langkahku. Kakiku sudah terasa kaku. Aku membutuhkan tempat yang layak untuk melepas lelah, dan tempat itu adalah kota tujuanku.
Kembali kususuri jalan setapak dengan padang rumput yang menemani di sisinya. Aku berjalan dengan langkah seribu, bergerak cepat menuju kota tujuanku. Namun rasanya kota itu seperti semakin bergerak menjauh. Semakin aku memaksa kakiku yang sudah membiru ini berjalan, semakin jauh rasanya kota itu berada. Bayangan semu gambaran kota itu semakin memudar pula dari pikiranku.
Kemudian kulihat sebuah gubuk berdiri di sisi padang rumput. Gubuk kecil tempat peristirahatan.
Kakiku yang tak mau dipaksa berjalan lagi menyeretku terhuyung-huyung ke depan gubuk itu. Mungkin aku memang harus membiarkannya melepas beban yang selama ini dibawanya dulu. Dan aku pun berjalan ke arah gubuk itu. Mempercepat langkahku dengan kaki yang semakin pelu.
Tanpa kusadari ada lubang yang menganga dihadapanku.
Dan aku pun terjatuh ke lubang kedua.
Terperosok ke dalam, ke dalam lubang yang gelap.
Aku menyesal. Aku terlena dengan nikmat semu yang menanti di depan mata. Aku terlena dengan gambaran yang kuharapkan bisa kudapat di depan sana. Hingga akhirnya aku melupakan rintangan yang menghadang dan kembali terperosok ke dalam lubang yang dalam.
Kini aku terduduk pelu. Lubang yang tampak sama, lubang dengan dindingnya yang licin dan tinggi kembali mengelilingiku sendiri disini. Lelahku membuatku tak bisa berbuat apa-apa kecuali menatap langit yang masih berada di atas sana. Langit yang merah kini sudah mulai merubah ronanya menjadi keunguan. Hari pun semakin gelap.
Aku terjatuh. Ke lubang yang sama.
Dua kali.
Aku kehilangan kesempatanku.
Membayang di atas harapan semu.
Untuk kedua kalinya.
Dan kota tujuan semakin terasa menjauh dariku…



kamuh kenafa bro?
ada yang bisa saya bantu?
Tak apa-apa, ini cuma analogi seperti biasanya.
hari kecemplung lubang sedunia?
Hoho! Bisa diartikan begitu juga sih.
Tapi entri ini ngga menyoal hari itu kok.
Jangan biarkan dirimu terus-terusan jatuh kelubang yang sama, Jenderal. Atau kau akan diberhentikan dari jabatanmu
*halah, afaan seh…*
gagal try out UN…???
Saya kira nggak lulus SPMB.
gen-san, apa nggak sakit jatuh bolak-balik?
*maaf, nilai saiia jeblok dapet bahasa indo..*
analogi ttg apaan ini?
kegagalan atau kesalahan yg samakah?
@Cynanthia:
Siap, Bu.
Saya usahakan.
@Andrew Anandhika Wijaya:
Try out-nya baru Senin nanti. Dan saya akan jarang ngeblog karenanya.
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
SPMB masih lama.
@hanabi:
Menurut Anda?
…keanehan yang sangat luar biasa, anak muda.. karena saya nggak tahu apa maksud dari analogi yang Anda tulis!
Hahahahaha!!! Bos patah hati ya???!!!!
*DITENDANG LAGI*
Hohoho, mungkin bayangan semu saja ini.
Analogi saya sebenarnya rada ketahuan kalau dari kategori-kategorinya..
Kok penafsirannya mirip dengan mas Diki?
Tenang, Miyu valentine jg jomblo kok. *elus2 kepala xali*
*ngacir*
Kata orang terjatuh sekali pengalaman, terjatuh dua kali, well Britney Spears??ehehehe..piss..
@Uchiha Miyu:
Saya ngga begitu peduli acara begituan.
@stey:
Keledai ngga terjatuh dua kali lho.