Kemarin, sekitar beberapa hari yang lalu (sudah rada lama sih), saya terlibat diskusi kecil di kelas. Awalnya diskusi ini dimulai dengan rada santai, tapi ngga lama mulai rada memanas. Dan berhubung diskusi kecil itu bukan termasuk bagian dari jam pelajaran, maka diskusi pun berakhir ketika bel sekolah sudah berbunyi rada keras. Saya sendiri sebenarnya termasuk pembicara pasif disana, cuma manggut-manggut dan mendengarkan aja dengan sekali-sekali memberikan sedikit pendapat.
Beberapa hari yang lalu lagi (sudah rada lama juga sih), setelah diskusi yang saya jelaskan di atas terjadi, saya lagi-lagi menemui topik serupa. Tapi kali ini bukan lewat komunikasi langsung, melainkan lewat internet — dan bedanya lagi saya cuma baca-baca arsipnya aja.
Rupanya, pikir saya, masalah beginian ternyata memang paling sering diributin orang.
Masalahnya tentang apa?
Tidak lain dan tidak bukan: masalah budaya. Bukan, bukannya soal budaya Indonesia yang konon dicuri oleh Malaysia itu. Bukan juga soal sikap orang Indonesia menyoal budaya sendiri yang selalu jadi pahlawan kesiangan; kalau ngga ada konflik, ngga diurusin, giliran ada konflik, baru diurusin. Tapi masalah yang lebih umum.
Pernah dengar kalimat berikut (kurang lebih begini bunyinya)?
Kita harus berhati-hati sama budaya barat! Budaya barat itu sesat! Pacaran ga senonoh, free sex, baju-baju minimalis, keluyuran malem-malem, joged-joged… Pokoknya budaya barat itu jelek!
Hoho, klise? Memang.
Tapi tunggu dulu. Saya bukan mau langsung menjatuhkan klaim di atas. Bukan berarti saya juga akan mendukung sepenuhnya pernyataan di atas. Saya mulai dulu dari awal; singkat saja.
***
Populasi manusia yang menghuni suatu daerah tertentu mempunyai ciri khas yang membedakan mereka dengan populasi manusia lain yang menghuni daerah lainnya. Sekumpulan manusia yang menghuni satu daerah yang sama itu yang disebut pranata sosial; mereka berkumpul dan beraktifitas bersama.
Dari satu pranata sosial itu, mereka mengembangkan sikap dan pola perilaku mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Berhubung yang namanya sebuah komunitas perlu memiliki ‘panduan’ agar kehidupan di dalamnya berjalan lancar, maka dibentuklah yang namanya ‘aturan-aturan komunitas’. ‘Aturan-aturan’ itulah yang mengatur sebuah pranata sosial tadi; dikenal dengan nama nilai dan norma.
Nah, itu dasar dari apa yang mau saya bahas sekarang ini.
Kalau kalimat-kalimatnya rada textbook, jangan heran, soalnya saya bingung ngejelasinnya gimana.
Lalu, seperti yang dibilang tadi, tiap pranata sosial bisa dibedakan dengan pranata sosial lainnya yang setara, misalnya setara secara kuantitas. Anggaplah pranata sosial itu sebuah keluarga; tentu suatu keluarga bisa dibedakan dengan keluarga yang lainnya berdasarkan nilai dan norma yang diajarkan dalam keluarga itu. Ingat, ini hanya permisalan — meskipun pranata keluarga itu memang ada, tapi itu lain cerita untuk bahasan kali ini.
Nah, berlandaskan atas itu, di bumi ini secara umum terdapat dua jenis nilai dan norma. Nilai-nilai dan norma-norma itu yang biasa kita kenal sebagai budaya barat dan budaya timur. Mengapa bisa sampai ada dua kubu nilai dan norma yang berbeda itu? Yah, untuk ini, saya tak bisa jelaskan.
Soalnya bakalan panjang; bakal jadi sejarah budaya kalau saya mau merelakan waktu untuk menulis semuanya. Tapi, singkatnya, penyebabnya karena faktor daerah.
Analoginya, pada zaman dulu (entah sekarang gimana
) orang Eskimo akan memakai jaket tebal untuk melindungi tubuhnya dari cuaca dingin di tempat tinggalnya sementara orang Arab akan memakai sorban dan baju yang melindungi tubuhnya untuk melindungi diri dari debu-debu dan pasir yang terbang (?) di udara.
***
Kembali ke masalah tadi, rasa-rasanya masalah klise seperti itu sudah sering diributkan oleh sebagian besar orang. Terutama seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini, yang konon sedang mengalami masa transisi akibat globalisasi yang tak terkontrol. Tren-tren barat menyebar kemana-mana, anak-anak muda suka mengikutinya (kadang-kadang) tanpa lihat-lihat. Lalu pihak-pihak yang lebih tua mengeluh.
Saya bukan golongan tua, tapi sejujurnya saya memang ngga ngikutin tren-tren begitu; saya punya jalur sendiri untuk dilalui (oke, jangan ad hominem disini
).
Satu hal penting yang perlu diketahui adalah kita tak bisa melihat nilai-nilai dan norma pranata sosial yang lain dengan nilai-nilai dan norma pranata sosial kita sendiri. Kenapa? Lho, menurut saya ya jelas. Karena sudah barang tentu kalau nilai dan norma pranata sosial kita bisa berbeda atau tidak selalu sama dengan nilai dan norma yang dianut oleh orang lainnya.
Kembali ke analogi orang Eskimo tadi; seandainya orang Eskimo itu disuruh memakai baju khas orang Arab dan orang Arab itu disuruh memakai baju khas orang Eskimo, apa mereka tidak keberatan?
Tentu yang satu akan kedinginan dan yang satunya lagi akan kepanasan, gara-gara baju itu tidak sesuai dengan iklim di daerah mereka (oh ya, ini hanya analogi, jadi mohon jangan dikait-kaitkan dengan ‘cara’ orang barat berpakaian dulu
).
Kalau mau diperibahasakan, tentu ada yang namanya, “Lain ladang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya,” kan? Jadi kalau kita menilai bagaimana orang Barat cenderung suka “dansa-dansa”, jangan gunakan kacamata orang Timur. Selain itu umumnya di Barat juga terdapat semacam ‘aturan’ yang mengharuskan seorang bocah remaja berumur 17 tahun untuk berpisah rumah dengan orangtuanya dengan alasan mandiri; rasa-rasanya rada jarang ditemukan di Timur, to?
Saya bukannya mau mengotak-kotakkan; sama sekali bukan. Hanya mau memberikan satu poin penting: jangan menilai nilai dan norma yang dianut pranata lain dengan kacamata nilai dan norma kita sendiri. Karena hal itu akan jelas berbeda; ibaratnya menyuruh orang yang matanya minus 2.5 untuk memakai kacamata minus 9, kemungkinan besar dia bakal pusing dan merasa ngga nyaman.
***
Menyoal penggunaan term/istilah ‘budaya’ di Indonesia ini, saya rasa agak-agak ambigu. Bukan, saya rasa bukan salah bahasanya. Tapi masalah penggunaannya yang rada mengaburkan istilah ‘budaya’ itu sendiri.
Istilah budaya yang sebenarnya itu merujuk pada nilai-nilai dan norma yang tadi sempat saya jelaskan. Tapi hanya terbatas pada nilai dan norma yang diwariskan secara turun temurun; kasarnya, peninggalan kuno. Secara literal sendiri diambil dari kata buddhayah (bahasa Sansekerta), yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sesuai dengan konsep nilai dan norma itu tadi, to?
Nah, tapi, penggunaannya zaman sekarang mulai rada rancu karena merujuk pada nilai dan norma yang berkembang di masyarakat modern. Semisal ‘budaya barat’ yang umumnya merujuk pada kebiasaan-kebiasaan masyarakat Barat yang melakukan free sex, misalnya. Sebenarnya, menurut saya, yang kayak begini itu kurang tepat. Malah — kalau mau rada ekstrim — bisa dibilang justru jadi generalisasi. Karena itu merujuk pada nilai dan norma yang berlaku saat ini, bukan hasil warisan — makna budaya sebenarnya. Jadi sebaiknya terminologi yang digunakan nilai dan norma saja.
…ironisnya, kayaknya kalau kita menggunakan istilah budaya Timur, biasanya lebih merujuk pada budaya dalam arti yang sesungguhnya, yaitu nilai dan norma hasil warisan.
.
Lalu bagaimana pendapat saya soal pernyataan yang sempat diluncurkan di awal-awal tulisan ini? Yah, saya, sebagai seorang yang rada rigid (lagi, jangan ad hominem)… Lebih setuju untuk mempertahankan nilai dan norma Timur yang ada di Indonesia, dan akan lebih bagus juga bisa mempertahankan budayanya. Nilai dan norma itu, menurut saya, karena sudah terbagi jadi dua kubu besar, maka tidak seharusnya ia menyimpang dan justru masuk ke kubu lainnya. Padahal ia punya nilai dan normanya sendiri yang sebenarnya bisa dipertahankan; dan itulah mengapa kita mempunyai Pancasila, to?



Saya masih amatir soal beginian, jadi mohon diralat kalau ada yang salah.
*sudah lama ngga blokir pertamax*
Hehe, yang ngomong budaya barat itu rusak seharusnya ngaca dulu. Maen ke Candi Sukuh, lihat isinya, Baru ngomong. Baca kamasutra, baru ngomong. Baca seni cetaknya Jepang, baru ngomong.
Keren bos. Yang kaya gini pernah nempel di ingatan gw, tapi belum sempat ditulis.
Omong-omong ada satu hal yang menggelikan dengan cara orang Indonesia memandang budaya: Manusia mengendalikan budaya atau budaya yang mengendalikan manusia?. Kalau udah bisa jawab pertanyaan itu barulah seharusnya kita ngomong apa itu budaya barat dan mana budaya timur.
“jangan menilai nilai dan norma yang dianut pranata lain dengan kacamata nilai dan norma kita sendiri.”
kacamata = faradigma, eh? nah, disini kesulitannya, kita dihadafkan fada masyarakadh endonesa yang
sokmodern tafi masih memiliki faradigma yang semfidh sangadh…be te we, orang barat malah menganggaf budaya kita menarik, walofun terkesan kaku, mereka tidak jengah seferti sebagian dari kita saat melihat budaya mereka yang terkesan negatif. Justru sebaliknya, mereka melihadh budaya kita yang “sefertinya” kaku dianggaf sebagai keunikan sendiri.
tafi aneh ya? fadahal endonesa terkenal dengan keragaman budaya, tetafi kenafa ko malah ndak isa “mentolerir” ataupun “menghargai” budaya yang berasal dari luar? bukankah seharusnya keragaman budaya tersebudh dafadh melatih masyarakadh endonesa? ah ya…masyarakadh endonesa……………..
____________________________
“Manusia mengendalikan budaya atau budaya yang mengendalikan manusia?.”
telak sangadh
Begini saja…
Kerjaan saya kalau kopdar biasanya jam 10 atau 11 malam dan kadang berakhir jam 2 atau 3 pagi? Nah, dari sisi ente gimana tuh?
Budayaku seimbang; Kadang minum teh dengan tradisi dari Jepang, sedangkan pulang suka larut malam. Tapi, budaya berbahasa Indonesia saya sekarang nggak baik – baik amat.
*Satir Mode OFF*
—————–
Kalau mau kasar, sih, orang Indonesia itu tukang protes. Pasca Reformasi, apa – apa dilihat dengan kacamata kuda. Budaya Barat yang “jelek” itu dipandang terlalu negatif sehingga mengundang rasa paranoid.
Sebenernya jika kita bicara budaya barat sejujurnya dalam pribadi saya tidak semua budaya barat itu buruk dan tidak semua budaya barat itu membawa faktor negatif pada masyarakat timur saat ini.
Dengan mengenal budaya barat kita seharusnya banyak belajar dari negara mereka karena masih banyak hal2 positif, hal2 positif yg bisa kita contoh dari negara mereka. Misal: kedisiplinan, kebersihan, pemerintahan yang baik dan masih banyak lagi yg positif. Janganlah kita melihat budaya barat itu sebelah mata saja, kita harus membuka kedua mata kita.
Justru bangsa kita yang selama ini selalu demo dimana2 dan protes selain itu pemerintahan yang kurang memperhatikan rakyatnya.
Saat ini janganlah kita melihat bahwa budaya barat itu hanya terkenal dari free sex, alkohol, obat2 terlarang. Menurut saya sebelum budaya barat itu masuk hal2 seperti itu sudah ada di Indo hanya saja masih belum ketahuan.
Karena itu “Janganlah melihat sisi negatif dari budaya barat, lihatlah sisi positifnya juga yang bisa kita contoh untuk kita sendiri maupun orang lain”.
Ah..ya.. saya tahu soal yang begini.. soal jangan menilai orang lain dari paradigma kita saja, karena biasanya berbeda.. ya.. saya pernah dengar..
Setuju dengan tulisannya sih.. tapi kalau begitu, yang tercipta jadinya individualitas dong? Karena berpikir ‘ah, kan sudut pandang kita beda, jadi nggak ada gunanya dong negur dia kalau (ternyata) dia salah’
Yah.. ini sih tergantung bagaimana orangnya, toleransi apa nggak. Kalau sudah ada kotak-kotak budaya barat dan timur, maka susah untuk menyatukannya dong..
Ah..entahlah.. saya malas berpikir yang sulit-sulit..
Setuju sama mbak Sherly yang komen di atas saya, budaya ada yang positif dan negatif.. kalau cerdas sih harusnya ambil yang positif saja.. tapi rasa-rasanya positif/negatif juga relatif tergantung dilihat dari siapa kan??
Ternyata hidup memang seperti teori relativitas di Fisika.. L’=Lo Akar {1 – (v/c)kuadrat}.. *stress menjelang UAN.. as usual lah..*
@hariadhi:
Lebih baik tanya guru Sosiologi dulu.
Nice.
Sesungguhnya secara tidak langsung manusia juga yang menciptakan budaya. Terbentuk dari nilai dan norma yang berkembang di pranata itu tadi; berkembang jadi budaya sesuai dengan cara mereka hidup di lingkungan.
Masalah siapa/apa yang mengendalikan…
IMO secara singkat sih karena norma masyarakat modern cenderung dinamis, jadi hubungan antara manusia – budaya itu bisa jadi saling mengendalikan.
@Hoek Soegirang:
Sebenarnya menurut saya nilai dan norma yang dianut masyarakat modern Indonesia ini rada membingungkan. Meskipun beberapa hal yang cenderung umum memang belum berubah sih — untuk saat ini.
@Goenawan Lee:
*ingat.. nilai dan norma dengan budaya itu hal yang rada berbeda kan
*
Apakah keluar malam itu adalah “budaya” Barat atau “budaya” Timur?
Secara kesehatan sih ngga baik menurut saya.
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Generalisasi kah?
@Sherly:
Hoho! Poin yang bagus.
IMO lebih merujuk ke norma sih*
*untuk yang ini rada rancu mau dibilang budaya atau norma, sebenarnya
Setuju; makanya saya membubuhkan kalimat berikut sebagai penutup dalam tulisan di atas, “dan itulah mengapa kita mempunyai Pancasila, to?” Karena Pancasila, mudahnya, adalah filter budaya bangsa.
@Ash:
Hmm… sebenarnya jangan begitu juga. Lebih melihat pada konteks yang lebih umum, misalnya. Seperti misalnya kalau interaksi antar manusia, IMO kebiasaan berciuman di depan umum itu masih termasuk norma yang wajar di Amerika Serikat (selama yang melakukannya bukan balita, kayaknya -_- ). Tapi kalau di Indo, hal itu kayaknya masih dirasa kurang sesuai sama norma.
*maaf ngga ada contoh lain; kebetulan di TV lagi ada film yang ada adegan beginiannya -_-*
Hmm… maksudnya? Pandangan positif/negatif tergantung dari siapa yang melihatnya?
Btw, apakah itu teori relativitas rumusannya Einstein?
Cepet banget kurikulum di IPA?
*
*cuma baca sedikit dari kopian paket Fisika kelas XI
Yea..maksudnya.. semua serba relatif kan, termasuk nilai positif dan negatif. Misalnya saja kalau orang-orang yang aliiiiim banget, bilang kalau pacaran itu negatif, tapi kan mayoritas orang Indo nggak bilang begitu, rata-rata pada bilang pacaran itu positif karena bisa meningkatkan semangat belajar dsb..
)
(menyoal hal di atas, saya sih termasuk golongan yang pertama, meskipun saya nggak alim-alim banget
Yap, teorinya Einstein. Akhir-akhir ini saya cuma hafal rumus-rumus relativitas soalnya, entah mengapa..
saya mah masih menganut budaya jawa yang kental…
masalah perbedaan tu kan biasa…
@Ash:
Kalau seperti contoh kasus di atas, kembali ke konteks pacar-pacarannya kayaknya. Seperti yang digambarkan oleh Pak Taslim (diajar Pak Taslim juga kan ya?), beberapa bisa jadi cenderung mengarah ke negatif.
Hoho, begitu.
Wah IPA sudah belajar teorinya Einstein. Sedangkan IPs malah membahas metode penelitian sosial (karya tulis). Kapan saya bakal belajar teorinya Nietzsche, Jefferson atau Marx? -_-
…apa teori itu di-UN-kan?
@maxbreaker:
Norma-norma timur?
halah. dibahas ga kan abis. beda satu RT udah beda pendapat lagi kalo kek gituan.
lha RT saya suka orang ramah, yang gak nyapa dibilang somboong…
RT sebelah malah hawanya ada yang mo mbacok kalo ada yang nyapa”,, dibilang nyampurin urusan orang…
betewe, saya udah lupa je krama inggil yang alus… apa alus yang inggil gara” kelamaan hidup di kota
mengesampingkan budaya bukan??
budaya..
dogma
kultur atau kultus..
Wes…wes… Sebenarnya gimane kitenye masE. Kalo Pede dengan budaya sendiri, yo ditampakkan, tapi kalo nggak Pede, yo uwies, jadi orang lain aja…
Ghak repot khan?… hehehe…
Postingannya panjang buanget masE, jadi
tapi okhe
hmm…memang bner sigh…kita ini (mudagh2an bukan di rekan2 di blog ini
) selalu mengeneralisir sesuatu dan menjudge berdasarkan opini yang berkembang, tanpa dikaji lagi lebih dalam lg. Saya rasa di barat yang terkenal dengan free sex, alcohol, abortion, dan hal2 negatif yang lain, itu karena terlalu banyak diekspose di Indonesia. Bangsa kita seperti bangsa pengekor. apapun yang disuguhkan dari luar, apalgi yang negatif buru2 diadaptasi tanpa di filter. adapun kita, bukannya memberikan solusi pada hal yang negatif tetapi malah mencemoh (emg bisanya mencemoh). sayang sekali…
Saya tertarik sekali dengan bangsa amish yang merupakan budaya barat turunan dr jerman-swiss yang jarang skali diekspose di media. Padahal budaya bangsa amish ga jaugh dengan budaya “timur” bangsa asia logh…:D
Nice posting!
Memang melelahkan kalo membicarakan sesuatu dan dibalas dgn: “kita ini kan orang timur, jadi tidak boleh blablabla…” Timur itu apa? dan dimana? Jepang, Taiwan & Korea (selatan) tu menurutku jauh lebih ‘timur’ daripada kita tuh (yg di ‘tenggara’), tapi mereka fine2 saja dengan free sex (dengan pacarlah, setidaknya). AFAIK, sebenarnya dalam dunia barat, free sex sebenarnya jg merupakan pemberontakan dari kekangan institusi gereja yg sangat kaku selama berabad2; sementara di dunia timur, free sex (pd pengertiannya sendiri) malah betul2 warisan budaya, seperti yg dicontohkan hariadhi diatas. Selama ini kan memang tidak ada definisi pasti tentang apa yg ‘Indonesia’ dan apa yg bukan; (IMO kurang tepat pake kata ‘timur’, karena bukan cuma kita sendiri yg di timur, baik secara geografi, politik, budaya dsb…)
Memang susah kalau memperdebatkan budaya. Karena apa yang menjadi hasil dari ribuan tahun peradaban manusia disuatu daerah juga adalah budaya.
Terus, Barat dan Timur itu pembagian yang terlalu menggeneralisasi suatu kelompok masyarakat yang terpisah secara demografis. Sementara budaya bukanlah perbatasan tegas yang berdasar demografis belaka. Di ilmu-ilmu sosial pernah jg dibahas oleh HC Triandis yang mengatakan Timur itu Kolektif (menggerombol/berkumpul kata BangAip) sementara Barat itu Individualis. Sama seperti pembagian Geertz tentang manusia Jawa : priyayi, santri, abangan.
Nah, ini yang sering dipertanyakan orang. Manusia itu produk budaya, dan budaya itu produk manusia.
jadi apa mengendalikan siapa nggak bisa langsung dijawab dengan jawaban yang tepat.
Untuk soal norma dan nilai, memang lebih bersifat lokal. Kalau etika lebih bersifat universal.
@Aditya Rendy Wijaya:
Sebenarnya maksud saya lebih ke norma-norma.
@fauzansigma:
Dan apakah itu?
@Ibn:
Hoho, seperti budaya yang konon diambil Malaysia itu?
@zahra:
Ah, yang konvensionalis dengan agama ya. Iya, yang terikat dengan agamanya (IMO, cuma penafsiran langsung) cenderung lebih terikat dengan budayanya.
@jensen99:
Makanya sebenarnya anggapan bahwa free sex = barat itu IMO rada kurang bagus. Soalnya di beberapa tempat yang Timur juga ‘hubungan’ begitu dianggap sebagai tradisi.
@Pyrrho:
Ah, you explain the point better than I do, Sir. You’ve got the whole point.
free sex bkn bdy barat,, di kalimantan ud ad dri dulu malah ud jd bdy mrk,,, ciuman d dpn umum jg nrml2 aj dl, liat aja jmn mjapahit
cm sjak islam dtg di indonesia bru d diblang tabu gr2 ga ssuai sm mrk
Ya, karena itu saya bilang hubungan semacam itu sudah jadi tradisi di sebagian tempat.
Untuk yang cium-ciuman… benarkah? Apa benar tidak sebatas hanya di tempat-tempat tersembunyi saya?
“Arab akan memakai sorban dan baju yang melindungi tubuhnya untuk melindungi diri dari debu-debu dan pasir yang terbang”
Ga jg kok.
“Jadi kalau kita menilai bagaimana orang Barat cenderung suka “dansa-dansa”, jangan gunakan kacamata orang Timur. Selain itu umumnya di Barat juga terdapat semacam ‘aturan’ yang mengharuskan seorang bocah remaja berumur 17 tahun untuk berpisah rumah dengan orangtuanya dengan alasan mandiri; rasa-rasanya rada jarang ditemukan di Timur, to?”
‘dansa-dansa’ maksudnya ngedugem ato apa? >__> (breakdancer nih…)
“Malah — kalau mau rada ekstrim — bisa dibilang justru jadi generalisasi.”
Agree..
@shichiro: bukan cuma di kalimantan >__> (org kalimantan nih…) plg banyak sih (no offense to DB-sensei dan teh Mina) di Bandung.
kalau gw lebih setuju sisi manusia yang menciptakan budaya, secara dari sisi pandang seniman. Hehehhe. Kita ga merasa butuh diatur oleh norma, karena kitalah yang menciptakannya.
tapi yak begitulah masyarakat kita, begitu hipokrit. Terlalu senang dengan utopia.
Mau contoh? Kita ga ada yang setuju kekerasan. Norma “timur” mengajarkan kita lemah lembut. Tapi kenapa rating berita kriminal bisa tinggi? Lah siapa yang hobi nonton berita berdarah-darah itu sampe ratingnya membludak? Orang baratkah?
*wink *wink
Come on, akuilah bahwa kita punya kekuatan untuk menciptakan budaya. Dan sejauh ini budaya yang bisa kita ciptakan cuma budaya munafik….
@Uchiha Miyu:
Garis bawahi zaman dulu.
“Dansa-dansa” = relatif.
@hariadhi:
Norma hukum, adat, dan agama?
Hmm… norma diciptakan manusia untuk mengatur manusia lainnya?
Kayaknya budaya akan selalu terbentuk sesuai sikap masyarakatnya, mas.
Budaya dalam artian bukan peninggalan masa kuno.
hmmm.. ok, lu bener.
*sorry kemarin lagi pms
Hoo.. n/p, mas.
duh gimana ya???
bener juga sih ketika kita dihadapkan pada problema yang tak kunjung selesai ini??!!!
kalo dipikir2 lagi kita yang harusnya mengontrol budaya karena budaya bersifat statis yang mana bisa ilang kapan aja??!!bener gak??
saya sih ambil tengahnya aja, kita musti pinter2 milah-milih mana yang sesuai dan yang gak sesuai sama kita yang juga harus mengacu pada norma2 dan nilai2 yang ada di tempat kita berada……