Landscape dan Saya

Bagi sebagian besar orang kota besar, jalan-jalan ke pedesaan atau pegunungan mungkin menjadi sarana hiburan yang menarik. Alasannya biasanya karena pemandangan. Pemandangan indah yang enak dilihat; pemandangan natural yang tak bisa ditemui di kota-kota besar yang sudah terlanjur sumpek dengan gedung-gedung bertingkat dan asap polusi.

Tentu, kalau melihat dari konteks ini, mata kita memang memerlukan sesuatu yang rada beda dari pemandangan sumpek yang biasa dilihat di kota-kota besar. Butuh sesuatu untuk memanjakan mata, kasarnya. Dan pemandangan alam memang bisa jadi pilihannya. Biasanya udaranya segar pula. :D

…sebelumnya saya mau mengingatkan bahwa entri ini mungkin akan terdengar klise dan tidak penting. Jadi jangan salahkan saya kalau ternyata memang sia-sia.

Nah, tapi, buat saya, kadang-kadang hal ini berlaku rada lain. Pemandangan yang seharusnya bisa dibilang indah kadang-kadang saya memandangnya dengan perspektif yang rada berbeda dan rada aneh.

Kalau mau berkata, banyak pemandangan alam yang bisa dikategorikan indah di dunia ini. Ndak usah terlalu luas dulu deh, ambil saja cakupannya se-Indonesia. Tempat wisata yang menonjolkan keindahan alamnya ada banyak, sebut saja daerah puncak di Jawa Barat. Atau pemandangan lainnya, seperti gambar ini:

danau-windededotcom.jpg

“Pemandangan Indonesia tampak atas”

Itu baru dari Indonesia saja. Kalau cakupannya mau diperluas lagi (rada kontradiktif ya sama pernyataan saya di atas :P ), pemandangan-pemandangan indah lainnya juga bisa dilihat dari luar negeri. Misalnya saja:

Scenery - aphis[dot]usda[dot]gov

atau pemandangan lain yang terkesan lebih lapang:

landscape-njdotnrcsdotusdadotgov.jpg

Nah, normalnya, saya kira pemandangan itu termasuk pemandangan-pemandangan yang bisa dibilang indah. Natural; ditumbuhi berbagai tumbuhan dan pohon-pohon, dengan langit biru ditemani awan-awan putih yang menjulang tinggi. Warnanya terkesan melegakan. Pokoknya enak buat dipandang dibandingan polusi dimana-mana. :)

Seharusnya anggapan itu juga berlaku buat saya. Seharusnya begitu.

Tapi kadang-kadang, saya justru merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu. Saya menangkap sebuah perspektif (?) yang berbeda. Seperti misalnya pada pemandangan grassland di atas. Apa yang saya tangkap dari gambar itu bukanlah ketenangan, tapi justru sesuatu yang terasa begitu hampa. Mungkin karena terlalu tenang, jadi terkesan hampa dan tak ada apa pun di dalamnya kecuali sesuatu yang diam.

Kalau mau digambarkan secara ekstrim, mungkin ini seperti bagaimana saya melihatnya sebagai gambaran akhirat (a.k.a. surga) seperti yang digambarkan oleh beberapa film luar negeri (film Amerika Serikat, film Inggris, atau kayaknya film/anime Jepang juga ada). Padang rumput yang luas, yang tenang dan sepi dengan sungai mengalir. Maksudnya penggambaran suasana yang damai. :?

Alih-alih rasa tenang, kadang-kadang justru saya melihatnya seperti bikin gelisah. Alasannya itu tadi; terlalu hampa. Terlalu ‘mati’. Apakah hanya ada ‘benda-benda’ yang damai itu saja di dalam suasana tersebut, sehingga seandainya saya ditempatkan di dalamnya, maka saya akan menjadi satu-satunya yang bisa menimbulkan suara berisik?

…err, sebetulnya saya rada bingung menjelaskan situasi saya kalau melihat gambar begini (dan saya yakin mungkin Anda akan sedikit kebingungan dengan penjelasan saya :| ), tapi yang mau saya tekankan itu adalah: rasa yang terlalu hampa.

Sebaliknya, perasaan yang lebih tenang justru saya temui kalau melihat pemandangan yang 180 derajat berkebalikan dengan pemandangan-pemandangan di atas. Sebut saja industri, mesin-mesin, uap, dan pemandangan perkotaan yang sibuk bekerja (bukan perkotaan yang dilihat dari bird view seperti di atas).

Contoh yang paling sederhana dan paling bagus, meskipun ini lukisan, adalah gambar pemandangan ini:

battle-of-fort-hindman-american-civil-war.jpg

“Pemandangan Pertempuran di Fort Hindman; Perang Saudara Amerika”

Melihat mesin-mesin itu ada disitu justru, bagi saya, memberi kesan tersendiri. :) Bagaimana keberadaannya memberikan suatu gambaran tersendiri yang tak bisa diberikan oleh pemandangan alam. Membayangkan mesin-mesin itu bergerak rasanya seperti sesuatu yang… lebih spesial. :P

Ada lagi gambar lainnya yang bagi saya terkesan lebih indah:

kartul-582px-sololine-m1a2-abrams-usa.jpg

…sebuah tank?

Serius, dalam beberapa kesempatan (kadang-kadang sering), saya justru lebih lega dengan melihat pemandangan semacam ini. Alasannya itu tadi; sesuatu yang bergerak. Dan yang pasti, saya tidak mendapat kesan yang terlalu hampa seperti yang saya temukan pada gambar-gambar pemandangan sebelumnya. :)

Aneh? Ya, saya sendiri merasa ini memang aneh. Saya juga tidak tahu kenapa kadang-kadang melihat pemandangan yang relatif indah justru bikin gelisah sendiri, meskipun, memang, pada beberapa kesempatan saya bisa melihat scenery semacam itu dari perspektif manusia normal dan menganggapnya indah. Tapi tak bisa dipungkiri kalau kadang-kadang saya lebih memilih untuk melihat mesin-mesin ketimbang pemandangan alam.

…ah, saya tak bisa menggambarkan situasi ini dengan baik. Ini pokoknya benar-benar suatu yang saya rasa sangat aneh sekaligus sensasi luar biasa — seperti kelegaan yang bisa dihasilkan dengan melihat pemandangan alam — yang tak bisa digambarkan dengan baik ketika melihatnya; much more to my pleasing. :P

———

Note: Disclaimer gambar-gambarnya sudah saya cantumkan di daftar indeks, kalau-kalau ada yang tertarik.

34 Tanggapan ke “<i>Landscape</i> dan Saya”


  1. 1 Kopral Geddoe Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 20:29

    Hohoho! Perasan yang susah diungkapkan, ya? :mrgreen:

  2. 2 Goenawan Lee Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 20:52

    Kekekeee… Aku justru merasakan rasa seperti saat orgasme ketika tahun baru kemaren. Foto pemandangan dari puncak Suroloyo… tergambar dengan jelas bagaimana kota Magelang yang padat (plus lembah dan bukit Tidar tempat calon anggota TNI AD diploco), dihiasi dengan Borobudur, dan terlihat pula megahnya Gunung Sumbing, Merapi, dan Merbabu… Gila orgasme… :mrgreen:
    Kota, Candi, Gunung… kombinasi yang mantap!

  3. 3 niez-nya adit Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 21:05

    holoh…saya malah sumpek liyat tank…serem kali…kaya mo dilindes… :mrgreen:

  4. 4 cK Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 21:34

    saya malah puas kalo lihat poto saya… :-?

    *ditabok*

  5. 5 Effendi with new website~ click me! Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 21:39

    Aihh… Batang di tanknya keras dan panjang. :oops:

    :lol:

  6. 6 Dream Maker Sabtu, 2 Februari 2008 pukul 22:58

    Namanya juga maniak perang

    Sama saja kalo saya ngeliat mesin di dalam CPU yang di sebelahku ini… [ngiler, pengen bongkar, tapi takut gak bisa masang lagi]

    [diinjek]

  7. 7 maxbreaker Minggu, 3 Februari 2008 pukul 1:50

    melihat pemandangan cewe cakep alam yang indah memang dapat menyegarkan mata n pikiran…

  8. 8 Diki Minggu, 3 Februari 2008 pukul 5:16

    Hmm, kalo scenery perang saya demennya setting sengoku jidai.

  9. 9 Cynanthia Minggu, 3 Februari 2008 pukul 6:06

    Hehe, kalau saya malah cenderung biasa-biasa saja pas melihat pemandangan alam gitu. Entah ya, mungkin karena saya tinggal di kampung selama 10 tahun sih, jadi sudah sangat terbiasa.

  10. 10 Mihael "D.B." Ellinsworth Minggu, 3 Februari 2008 pukul 16:48

    Nggak aneh, kayaknya. Setiap saya melihat anda adalah berkutat dengan nazi ataupun Perang Dunia. Meski saya suka perang, tapi saya juga suka ketenangan. :-?

    Ealah, IMHO, kok. :mrgreen:

  11. 11 Unit 076 Minggu, 3 Februari 2008 pukul 17:15

    Yo…

    Kurang mantep nih pemandangannya, ta’ kasih “banjir”, tau rasa lu.

  12. 13 Xaliber von Reginhild Senin, 4 Februari 2008 pukul 0:06

    @Kopral Geddoe:
    Betul sekali. :mrgreen: Excitement yang sangat sulit untuk dijelaskan. :P

    @Goenawan Lee:
    Bused.. istilahnya.. :P Saya, kalau lagi normal, juga seharusnya bisa menikmati pemandangan begitu. :D

    @niez-nya adit:
    Ngeliat fotonya aja, mbak. :P

    @cK:
    …narsisme? :?

    @Effendi with new website~ click me!:
    …hoex. :|
    Link apa pula itu yang terpampang di username?? :evil:

    @Dream Maker:
    Kebetulan cuma ada foto peperangan di Flash Disk, tapi saya juga menikmati gear-gear pabrik bergerak; tidak harus perang, to? :mrgreen:

    @maxbreaker:
    Hoho, betul, betul. :P

    @Diki:
    Masa Sengoku? Ah, clash-clash pertempuran klasik memang salah satu pemandangan yang menarik. :D Saya juga suka melihat ‘tabrakan’ frontal seperti itu.

    @Cynanthia:
    Hmm.. karena sudah terbiasa ya. Kalau melihat pemandangan kota bagaimana? :P

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Hoho, Anda tidak salah. :mrgreen: Tapi kadang-kadang saya juga bisa melihat pemandangan yang lebih tenang.

    @Unit 076:
    :lol:
    Banjir!

    @Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ:
    Saya nda dapat fotonya. :P Mau menyumbang?

  13. 14 Kopral Geddoe Senin, 4 Februari 2008 pukul 0:42

    @ lee + xaliber
    Tapi saya kok nggak terlalu suka pemandangan landscape, ya? Saya sukanya laut dan samudera. :mrgreen: Laut dan antariksa.

    Ahhh… potret laut jernih yang masih teraih cahaya matahari… :oops:

  14. 15 sebutsajasaiiainouesupayasemuabingung Senin, 4 Februari 2008 pukul 0:50

    “Tapi kadang-kadang, saya justru merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu. Saya menangkap sebuah perspektif (?) yang berbeda. Seperti misalnya pada pemandangan grassland di atas. Apa yang saya tangkap dari gambar itu bukanlah ketenangan, tapi justru sesuatu yang terasa begitu hampa. Mungkin karena terlalu tenang, jadi terkesan hampa dan tak ada apa pun di dalamnya kecuali sesuatu yang diam.”

    Love this paragraph!
    Ah~ kirain cm saiia saja yg aneh,,XDD

    *mengambil saksi Gun2 sbgai pihak yg pernah dicurhati*

    Village is too quiet; City is better ^^
    Itulah kesan yang saiia tangkap saat 3 minggu lebih berlibur di pegunungan,,

    Bedanya saiia dengan anda :
    –> Saiia menangkap “perspektif” yang berbeda tsbt setelah minggu ke-2 berada disana. Minggu pertama : Ok, peaceful. Minggu kedua : Cmon, I need ma computer, I need the city’s smoke. I need car’s klakson. I need something more noisiful to cure my “city-missing-sickness”.

    I think I’m the only weird-human being left in this world at that time :|

  15. 16 Infinite Inficio Senin, 4 Februari 2008 pukul 17:00

    Hmm… kalau masalah pemandangan yang terkesan “hampa”, aku setuju (dengan pengecualian foto yang ke-2, aku suka yang itu) Aku suka pemandangan yang lebih dinamis dan cerah~

    Namun daripada tank aku jauh lebih suka rumah-rumah yang bagus. Aku benci benda-benda perang… >___>

    Tapi tentu saja, ada beberapa hal lain yang lebih indah daripada arsitektur seperti cowok cakep @___@

    *dihajar karena nggak berguna*

  16. 17 Dream Maker Senin, 4 Februari 2008 pukul 20:01

    Bagiku… Asal ada komputer dan internet…

    [anak gila internet]

    Oh iya, kalo foto sih suka, tapi kalo berada di sana…

    Serem, jadi bayangin yang di felem2 horror, tiba2 nongol gitu dari entah dimana…

  17. 18 Aditya Rendy Wijaya Senin, 4 Februari 2008 pukul 21:12

    sudah mulek ma pemandangan hijau

    kan saya lahir di gunung tumbuh di lembah

  18. 19 Xaliber von Reginhild Selasa, 5 Februari 2008 pukul 0:07

    @Kopral Geddoe:
    Saya melihat pemandangan grassland rada hampa. Di antara pemandangan-pemandangan alam, yang semacam itu ada di urutan paling bawah. :mrgreen:

    Antariksa? Ah, saya juga suka itu. :D Pemandangan alam yang nomor 1 itu menurut saya langit dan luar angkasa, misalnya ini atau ini. :mrgreen: Nomor 2 pegunungan. :P

    @sebutsajasaiiainouesupayasemuabingung:
    Hoho, asal tak ada tanah lapang yang mengerikan itu, saya rasa saya tak apa-apa. :P Tapi kadang-kadang kalau menatap pemandangan yang hampa terlalu lama saya suka dapat perasaan aneh sih.

    @Infinite Inficio:
    Sebenarnya tak harus perang-perangan juga… gear-gear pabrik terlihat menyenangkan (?). :P Arsitektur? Entah kenapa saya jadi ingat Hitler.

    @Dream Maker:
    The Ring? :P

    @Aditya Rendy Wijaya:
    Hmm.. karena sudah terbiasa ya. Kalau melihat pemandangan kota bagaimana? :P
    *copas pertanyaan*

  19. 20 Ash Rabu, 6 Februari 2008 pukul 22:01

    …well, tidak heran jika mengingat Anda sendiri bukan manusia, dan Anda adalah bagian dari ‘mesin’ itu sendiri..

    :D

    *ditendang*

    Yeah, saya nggak bisa ngomong apa-apaan.. kalau saya pribadi jika melihat sesuatu yang ‘luar biasa’, entah itu pemandangan atau bukan, yang terucap hanya.. ‘SUBHANALLAH..!’

  20. 21 Xaliber von Reginhild Rabu, 6 Februari 2008 pukul 22:21

    Poin yang bagus. Suatu excitement yang luar biasa ketika melihat “saudara-seperjuangan” saya bergerak dengan masifnya; membayangkan derit-derit mesin yang ada di dalam mereka berbunyi dan (beberapa di antaranya) kemudian mengepulkan asap yang menderu. :D

    *kick gaya Sasaki Kotaro*

    Wah, saya ngga sampai begitu… paling banter mungkin sebatas “Keren” atau justru “Luar biasa” saja. Sejujurnya rada jarang ngomong “Subhanallah” buat hal begitu ( :P ), kecuali pas Tafakur Alam 2007 kemarin.

  21. 22 dedi Jumat, 8 Februari 2008 pukul 2:01

    hei kemana yang tanggal 7 ampe 8 x??????

  22. 23 Infinite Inficio Jumat, 8 Februari 2008 pukul 14:25

    OHHHHH!! Sasaki Koutarou! *___*

    *ngekomentar cuma karena lihat nama itu*

    Ahaha, tapi sebagai cewek aku masih tidak mengerti keindahan mesin ‘___’

  23. 24 Xaliber von Reginhild Kamis, 14 Februari 2008 pukul 1:38

    @dedi:
    Maksudnya? Entri dan komentarnya ya? Saya lagi rada sibuk waktu itu. :P

    @Infinite Infinicio:
    Saya bukan orang otomotif, jadi juga ngga mengerti senangnya otak-atik mesin seperti yang mereka lakukan. :P

    Saya cuma suka gear-gear dari mesin-mesin itu bekerja. Lokomotif abad ke-19 salah satu dari sekian contoh yang bagus. :D

  24. 25 Uchiha Miyu Senin, 18 Februari 2008 pukul 20:49

    Perasaan hampa datang tergantung mood. :D

    Uap dan asap… Global warming >_> di Jakarta nih yg Xali maksud? ^^;

  25. 26 Buy Phentermine Online Minggu, 24 Februari 2008 pukul 5:42

    Hi, nice post. I couldn’t understand some parts of the article but it sounds interesting..
    Continue writing…

  26. 27 ayaelectro Jumat, 21 Maret 2008 pukul 18:24

    lihat gambar tank jauh lebih menyenangkan. haha!

  27. 28 Xaliber von Reginhild Minggu, 23 Maret 2008 pukul 14:25

    @Uchiha Miyu:
    Bukan, tapi semacam… pabrik-pabrik saat revolusi industri. :D

    @ayaelectro:
    Setuju! :mrgreen:

  28. 29 syasya Jumat, 18 Juli 2008 pukul 16:32

    haloo…semua komentar saya pemandangan+awan masih natural sich tapi sekarang dah rusak blm?salam kenal untuk semuanya beleh kenalan gak

  29. 30 Xaliber von Reginhild Jumat, 18 Juli 2008 pukul 23:40

    Sebagian alam kayaknya sudah rusak, kalau itu maksud mbak. :P

    Salam kenal juga. :D

  30. 31 Rhe Senin, 8 September 2008 pukul 19:49

    Yaaa,,kadang aq jg mikir kaya gtu.Tapi stlh dipikir lbh mendalam lagi ( cieeee… ) klo kita ngliat pemandangan entah pemandangan indah yg km bilang ngbosenin ato Tank yg “Hidup”, kalo cm dinikmati seorang diri tetap aja bakal ngebosenin..ato lbh parahnya jadi terasa “Hambar” + “Hampa”. Tapi keduanya akan terlihat indah dan menyenangkan klo dinikmati bersama orang yg kita suka ato sayangi,.Bgtcu

  31. 32 mena Sabtu, 2 Mei 2009 pukul 8:44

    huhuhuhuh lam kenal ajah


  1. 1 Hampa « Deathlock Lacak balik pada Kamis, 14 Februari 2008 pukul 15:33
  2. 2 Hidup dengan Hukum Gossen « Deathlock Lacak balik pada Jumat, 5 September 2008 pukul 21:50

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

New Medals

Hanster di Entri 564
Dins Allheal di Entri 564
iing di Entri 564
azzar di Entri 564
jensen99 di Entri 564
Nikias di Entri 564

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 113,340 soldiers