Bagi sebagian besar orang kota besar, jalan-jalan ke pedesaan atau pegunungan mungkin menjadi sarana hiburan yang menarik. Alasannya biasanya karena pemandangan. Pemandangan indah yang enak dilihat; pemandangan natural yang tak bisa ditemui di kota-kota besar yang sudah terlanjur sumpek dengan gedung-gedung bertingkat dan asap polusi.
Tentu, kalau melihat dari konteks ini, mata kita memang memerlukan sesuatu yang rada beda dari pemandangan sumpek yang biasa dilihat di kota-kota besar. Butuh sesuatu untuk memanjakan mata, kasarnya. Dan pemandangan alam memang bisa jadi pilihannya. Biasanya udaranya segar pula.
…
…sebelumnya saya mau mengingatkan bahwa entri ini mungkin akan terdengar klise dan tidak penting. Jadi jangan salahkan saya kalau ternyata memang sia-sia.
…
Nah, tapi, buat saya, kadang-kadang hal ini berlaku rada lain. Pemandangan yang seharusnya bisa dibilang indah kadang-kadang saya memandangnya dengan perspektif yang rada berbeda dan rada aneh.
Kalau mau berkata, banyak pemandangan alam yang bisa dikategorikan indah di dunia ini. Ndak usah terlalu luas dulu deh, ambil saja cakupannya se-Indonesia. Tempat wisata yang menonjolkan keindahan alamnya ada banyak, sebut saja daerah puncak di Jawa Barat. Atau pemandangan lainnya, seperti gambar ini:
“Pemandangan Indonesia tampak atas”
Itu baru dari Indonesia saja. Kalau cakupannya mau diperluas lagi (rada kontradiktif ya sama pernyataan saya di atas
), pemandangan-pemandangan indah lainnya juga bisa dilihat dari luar negeri. Misalnya saja:
atau pemandangan lain yang terkesan lebih lapang:
…
…
Nah, normalnya, saya kira pemandangan itu termasuk pemandangan-pemandangan yang bisa dibilang indah. Natural; ditumbuhi berbagai tumbuhan dan pohon-pohon, dengan langit biru ditemani awan-awan putih yang menjulang tinggi. Warnanya terkesan melegakan. Pokoknya enak buat dipandang dibandingan polusi dimana-mana.
Seharusnya anggapan itu juga berlaku buat saya. Seharusnya begitu.
Tapi kadang-kadang, saya justru merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu. Saya menangkap sebuah perspektif (?) yang berbeda. Seperti misalnya pada pemandangan grassland di atas. Apa yang saya tangkap dari gambar itu bukanlah ketenangan, tapi justru sesuatu yang terasa begitu hampa. Mungkin karena terlalu tenang, jadi terkesan hampa dan tak ada apa pun di dalamnya kecuali sesuatu yang diam.
Kalau mau digambarkan secara ekstrim, mungkin ini seperti bagaimana saya melihatnya sebagai gambaran akhirat (a.k.a. surga) seperti yang digambarkan oleh beberapa film luar negeri (film Amerika Serikat, film Inggris, atau kayaknya film/anime Jepang juga ada). Padang rumput yang luas, yang tenang dan sepi dengan sungai mengalir. Maksudnya penggambaran suasana yang damai.
Alih-alih rasa tenang, kadang-kadang justru saya melihatnya seperti bikin gelisah. Alasannya itu tadi; terlalu hampa. Terlalu ‘mati’. Apakah hanya ada ‘benda-benda’ yang damai itu saja di dalam suasana tersebut, sehingga seandainya saya ditempatkan di dalamnya, maka saya akan menjadi satu-satunya yang bisa menimbulkan suara berisik?
…err, sebetulnya saya rada bingung menjelaskan situasi saya kalau melihat gambar begini (dan saya yakin mungkin Anda akan sedikit kebingungan dengan penjelasan saya
), tapi yang mau saya tekankan itu adalah: rasa yang terlalu hampa.
…
Sebaliknya, perasaan yang lebih tenang justru saya temui kalau melihat pemandangan yang 180 derajat berkebalikan dengan pemandangan-pemandangan di atas. Sebut saja industri, mesin-mesin, uap, dan pemandangan perkotaan yang sibuk bekerja (bukan perkotaan yang dilihat dari bird view seperti di atas).
Contoh yang paling sederhana dan paling bagus, meskipun ini lukisan, adalah gambar pemandangan ini:
“Pemandangan Pertempuran di Fort Hindman; Perang Saudara Amerika”
Melihat mesin-mesin itu ada disitu justru, bagi saya, memberi kesan tersendiri.
Bagaimana keberadaannya memberikan suatu gambaran tersendiri yang tak bisa diberikan oleh pemandangan alam. Membayangkan mesin-mesin itu bergerak rasanya seperti sesuatu yang… lebih spesial.
Ada lagi gambar lainnya yang bagi saya terkesan lebih indah:
…sebuah tank?
Serius, dalam beberapa kesempatan (kadang-kadang sering), saya justru lebih lega dengan melihat pemandangan semacam ini. Alasannya itu tadi; sesuatu yang bergerak. Dan yang pasti, saya tidak mendapat kesan yang terlalu hampa seperti yang saya temukan pada gambar-gambar pemandangan sebelumnya.
…
…
Aneh? Ya, saya sendiri merasa ini memang aneh. Saya juga tidak tahu kenapa kadang-kadang melihat pemandangan yang relatif indah justru bikin gelisah sendiri, meskipun, memang, pada beberapa kesempatan saya bisa melihat scenery semacam itu dari perspektif manusia normal dan menganggapnya indah. Tapi tak bisa dipungkiri kalau kadang-kadang saya lebih memilih untuk melihat mesin-mesin ketimbang pemandangan alam.
…ah, saya tak bisa menggambarkan situasi ini dengan baik. Ini pokoknya benar-benar suatu yang saya rasa sangat aneh sekaligus sensasi luar biasa — seperti kelegaan yang bisa dihasilkan dengan melihat pemandangan alam — yang tak bisa digambarkan dengan baik ketika melihatnya; much more to my pleasing.
———
Note: Disclaimer gambar-gambarnya sudah saya cantumkan di daftar indeks, kalau-kalau ada yang tertarik.

![Scenery - aphis[dot]usda[dot]gov](http://deathlock.files.wordpress.com/2008/02/scenery-aphisdotusdadotgov.jpg)






Hohoho! Perasan yang susah diungkapkan, ya?
Kekekeee… Aku justru merasakan rasa seperti saat orgasme ketika tahun baru kemaren. Foto pemandangan dari puncak Suroloyo… tergambar dengan jelas bagaimana kota Magelang yang padat (plus lembah dan bukit Tidar
tempat calon anggota TNI AD diploco), dihiasi dengan Borobudur, dan terlihat pula megahnya Gunung Sumbing, Merapi, dan Merbabu… Gila orgasme…Kota, Candi, Gunung… kombinasi yang mantap!
holoh…saya malah sumpek liyat tank…serem kali…kaya mo dilindes…
saya malah puas kalo lihat poto saya…
*ditabok*
Aihh… Batang di tanknya keras dan panjang.
Namanya juga maniak perang
Sama saja kalo saya ngeliat mesin di dalam CPU yang di sebelahku ini… [ngiler, pengen bongkar, tapi takut gak bisa masang lagi]
[diinjek]
melihat pemandangan
cewe cakepalam yang indah memang dapat menyegarkan mata n pikiran…Hmm, kalo scenery perang saya demennya setting sengoku jidai.
Hehe, kalau saya malah cenderung biasa-biasa saja pas melihat pemandangan alam gitu. Entah ya, mungkin karena saya tinggal di kampung selama 10 tahun sih, jadi sudah sangat terbiasa.
Nggak aneh, kayaknya. Setiap saya melihat anda adalah berkutat dengan nazi ataupun Perang Dunia. Meski saya suka perang, tapi saya juga suka ketenangan.
Ealah, IMHO, kok.
Yo…
Kurang mantep nih pemandangannya, ta’ kasih “banjir”, tau rasa lu.
duh…
gunung kidulnya mana….
@Kopral Geddoe:
Excitement yang sangat sulit untuk dijelaskan.
Betul sekali.
@Goenawan Lee:
Saya, kalau lagi normal, juga seharusnya bisa menikmati pemandangan begitu.
Bused.. istilahnya..
@niez-nya adit:
Ngeliat fotonya aja, mbak.
@cK:
…narsisme?
@Effendi with new website~ click me!:
…hoex.
Link apa pula itu yang terpampang di username??
@Dream Maker:
Kebetulan cuma ada foto peperangan di Flash Disk, tapi saya juga menikmati gear-gear pabrik bergerak; tidak harus perang, to?
@maxbreaker:
Hoho, betul, betul.
@Diki:
Saya juga suka melihat ‘tabrakan’ frontal seperti itu.
Masa Sengoku? Ah, clash-clash pertempuran klasik memang salah satu pemandangan yang menarik.
@Cynanthia:
Hmm.. karena sudah terbiasa ya. Kalau melihat pemandangan kota bagaimana?
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Tapi kadang-kadang saya juga bisa melihat pemandangan yang lebih tenang.
Hoho, Anda tidak salah.
@Unit 076:

Banjir!
@Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ:
Mau menyumbang?
Saya nda dapat fotonya.
@ lee + xaliber
Laut dan antariksa.
Tapi saya kok nggak terlalu suka pemandangan landscape, ya? Saya sukanya laut dan samudera.
Ahhh… potret laut jernih yang masih teraih cahaya matahari…
“Tapi kadang-kadang, saya justru merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu. Saya menangkap sebuah perspektif (?) yang berbeda. Seperti misalnya pada pemandangan grassland di atas. Apa yang saya tangkap dari gambar itu bukanlah ketenangan, tapi justru sesuatu yang terasa begitu hampa. Mungkin karena terlalu tenang, jadi terkesan hampa dan tak ada apa pun di dalamnya kecuali sesuatu yang diam.”
Love this paragraph!
Ah~ kirain cm saiia saja yg aneh,,XDD
*mengambil saksi Gun2 sbgai pihak yg pernah dicurhati*
Village is too quiet; City is better ^^
Itulah kesan yang saiia tangkap saat 3 minggu lebih berlibur di pegunungan,,
Bedanya saiia dengan anda :
–> Saiia menangkap “perspektif” yang berbeda tsbt setelah minggu ke-2 berada disana. Minggu pertama : Ok, peaceful. Minggu kedua : Cmon, I need ma computer, I need the city’s smoke. I need car’s klakson. I need something more noisiful to cure my “city-missing-sickness”.
I think I’m the only weird-human being left in this world at that time
Hmm… kalau masalah pemandangan yang terkesan “hampa”, aku setuju (dengan pengecualian foto yang ke-2, aku suka yang itu) Aku suka pemandangan yang lebih dinamis dan cerah~
Namun daripada tank aku jauh lebih suka rumah-rumah yang bagus. Aku benci benda-benda perang… >___>
Tapi tentu saja, ada beberapa hal lain yang lebih indah daripada arsitektur
seperti cowok cakep @___@*dihajar karena nggak berguna*
Bagiku… Asal ada komputer dan internet…
[anak gila internet]
Oh iya, kalo foto sih suka, tapi kalo berada di sana…
Serem, jadi bayangin yang di felem2 horror, tiba2 nongol gitu dari entah dimana…
sudah mulek ma pemandangan hijau
kan saya lahir di gunung tumbuh di lembah
@Kopral Geddoe:
Saya melihat pemandangan grassland rada hampa. Di antara pemandangan-pemandangan alam, yang semacam itu ada di urutan paling bawah.
Antariksa? Ah, saya juga suka itu.
Pemandangan alam yang nomor 1 itu menurut saya langit dan luar angkasa, misalnya ini atau ini.
Nomor 2 pegunungan.
@sebutsajasaiiainouesupayasemuabingung:
Tapi kadang-kadang kalau menatap pemandangan yang hampa terlalu lama saya suka dapat perasaan aneh sih.
Hoho, asal tak ada tanah lapang yang mengerikan itu, saya rasa saya tak apa-apa.
@Infinite Inficio:
Arsitektur? Entah kenapa saya jadi ingat Hitler.
Sebenarnya tak harus perang-perangan juga… gear-gear pabrik terlihat menyenangkan (?).
@Dream Maker:
The Ring?
@Aditya Rendy Wijaya:
Hmm.. karena sudah terbiasa ya. Kalau melihat pemandangan kota bagaimana?
*copas pertanyaan*
…well, tidak heran jika mengingat Anda sendiri bukan manusia, dan Anda adalah bagian dari ‘mesin’ itu sendiri..
*ditendang*
Yeah, saya nggak bisa ngomong apa-apaan.. kalau saya pribadi jika melihat sesuatu yang ‘luar biasa’, entah itu pemandangan atau bukan, yang terucap hanya.. ‘SUBHANALLAH..!’
Poin yang bagus. Suatu excitement yang luar biasa ketika melihat “saudara-seperjuangan” saya bergerak dengan masifnya; membayangkan derit-derit mesin yang ada di dalam mereka berbunyi dan (beberapa di antaranya) kemudian mengepulkan asap yang menderu.
*kick gaya Sasaki Kotaro*
Wah, saya ngga sampai begitu… paling banter mungkin sebatas “Keren” atau justru “Luar biasa” saja. Sejujurnya rada jarang ngomong “Subhanallah” buat hal begitu (
), kecuali pas Tafakur Alam 2007 kemarin.
hei kemana yang tanggal 7 ampe 8 x??????
OHHHHH!! Sasaki Koutarou! *___*
*ngekomentar cuma karena lihat nama itu*
Ahaha, tapi sebagai cewek aku masih tidak mengerti keindahan mesin ‘___’
@dedi:
Maksudnya? Entri dan komentarnya ya? Saya lagi rada sibuk waktu itu.
@Infinite Infinicio:
Saya bukan orang otomotif, jadi juga ngga mengerti senangnya otak-atik mesin seperti yang mereka lakukan.
Saya cuma suka gear-gear dari mesin-mesin itu bekerja. Lokomotif abad ke-19 salah satu dari sekian contoh yang bagus.
Perasaan hampa datang tergantung mood.
Uap dan asap… Global warming >_> di Jakarta nih yg Xali maksud? ^^;
Hi, nice post. I couldn’t understand some parts of the article but it sounds interesting..
Continue writing…
lihat gambar tank jauh lebih menyenangkan. haha!
@Uchiha Miyu:
Bukan, tapi semacam… pabrik-pabrik saat revolusi industri.
@ayaelectro:
Setuju!
haloo…semua komentar saya pemandangan+awan masih natural sich tapi sekarang dah rusak blm?salam kenal untuk semuanya beleh kenalan gak
Sebagian alam kayaknya sudah rusak, kalau itu maksud mbak.
Salam kenal juga.
Yaaa,,kadang aq jg mikir kaya gtu.Tapi stlh dipikir lbh mendalam lagi ( cieeee… ) klo kita ngliat pemandangan entah pemandangan indah yg km bilang ngbosenin ato Tank yg “Hidup”, kalo cm dinikmati seorang diri tetap aja bakal ngebosenin..ato lbh parahnya jadi terasa “Hambar” + “Hampa”. Tapi keduanya akan terlihat indah dan menyenangkan klo dinikmati bersama orang yg kita suka ato sayangi,.Bgtcu
huhuhuhuh lam kenal ajah