Ya ya, ini memang non-sense. Terlalu sampah, terlalu pointless. Terlalu ga jelas dan ga ada gunanya. Karena mau hal ini datang atau tidak tak akan ada yang peduli.
Jadi. Dengan berisi segala kata-kata bersayap seperti yang biasa saya buat di karya sastra saya yang lainnya. Dengan bahasa Indonesia campur-aduk yang mana saya tak bisa mengomposisikannya dengan baik.
Maka
Saya sarankan agar
Jangan dibaca, jangan diperhatikan, dibuang saja ke sungai.
Karena Anda sudah membuang waktu Anda dengan melakukannya.
…
…
…
Bah… saya mulai saja. No fast reading please?
…
…
…
Kau datang bagai angin semilir
Memberi kesejukan di kala gundah
Mencerahkan harapan yang getir
Menghibur hati dengan senyum merekahKau datang bagai angin semilir
Menyentuhku pelan dengan sejukmu
Namun perlahan menjauh mengilir
Hingga hilang berbekas rasa semuKedatanganmu begitu tak pasti
Membuatku berharap lagi
Meski memberi rasa pelu
Yang mungkin tak ku mauSang waktu telah menutup tirainya
Apakah engkau ‘kan datang kembali
Menemaniku di samping ini
Menyusuri dindingnya sampai nanti?Entahlah, aku tak tahu
Hingga kini kuhanya bisa menanti
Meski cukup hanya dari kehadiranmu
Mengejar tirai waktu yang menghantui
…
…
…
Ada beberapa tafsiran yang mungkin terjadi.
Pertama, terkait dengan cinta-cintaan. Analisis paling mudah. Sayangnya, bisa jadi tafsiran itu kurang tepat karena saya tak menaruh banyak perhatian pada hal-hal semacam itu di masa SMA. Kedua, soal penderitaan penyakit. Guguk tua berpenyakit yang mengharapkan kesembuhan. Ketiga, berkaitan dengan utang tugas karya tulis yang masih 68%™. Berharap ide-ide untuk kartul bisa cepat datang, mengingat deadline-nya hari Selasa.
Tafsiran lainnya… silakan persepsikan sendiri.
Karena ini hanya pelampiasan dari kegilaan saya. Dan saya kurang suka menjelaskannya secara panjang lebar.
.
*bakar diri dan masukan entri ini ke tong sampah. Ini memang non-sense! Non-sense!!
*



De hel… setelah dilihat-lihat lagi entri ini benar-benar nonsense.
Argh! Bakar…!
*komentar 3004 setelah yang ke-3000 diserobot stupid spambot
*
Curang, tafsiran tak boleh dibongkar. Walaupun sedikit. Ingat etika penulis syair.
Walopun diakui sendiri sebagai nonsense, bagus kok…
*mohon ampun*
Hanya menguak sedikit dari beberapa kemungkinan…
m(_ _)m
Pakai teknik situ deh.
Bagi saya….
…ini ndak mungkin cinta ke lawan jenis
jadi cinta ke sesama jenis dong?, saya ndak nangkap unsur cinta, mesra, romantis, dll, dst, dsb sama sekali.apa karena belum ada pengalaman?
@jensen99:
Makasih mas.
@rozenesia:
Weleh, saya bukan homok.
Kalau begitu nangkapnya apa?
“Kau” di sini perannya kayak pedang bermata dua, menurut sayaaaa lhoooo…
Semacam mengharapkan musim kemarau pada saat musim hujan dan mengharapkan musim hujan di saat musim kemarau. Menurut sayaaa lhooo…
Kalau ia datang, kadang derita yang didapat selain ceria, tapi begitu ia tak ada, rindu lah yang dirasa.
…
*masih belum selesai menafsirkan*
Wah, kalau tafsiran situ sama saya berbeda, bagaimana nantinya dong ?
kenapa yang semula kosong diisi trus dikosongin lagi…?
biarin aja kosong…
persetan dengan tafsirnya saiyah komentari yang paling dasar dulu….
bahasa yang digunakan kurang bersayap… saiyah lebih terasa membaca prosa daripada puisi….
@ Mihael: Itulah sastra yang multitafsir… Segala tafsir bisa muncul, selama tafsiran itu disampaikan dengan tidak narsicus (??) *nyomot istilah Pak Sawali*
omong kosongnya nggak terlalu kosong, kok.
numpang menafsirkan boleh kan?
kayaknya ini membicarakan tentang kebahagian/masa-masa indah di masa lampau yang belakangan ini susah didapat kembali..
salam kenal sebelumnya.
segala kesalahan pada tafsiran saya mohon diluruskan.
stress ya??
Kau datang bagai angin semilir
Memberi kesejukan di kala gundah
Mencerahkan harapan yang getir
Menghibur hati dengan senyum merekah
seorang wanita, kah?
Kau datang bagai angin semilir
Menyentuhku pelan dengan sejukmu
Namun perlahan menjauh mengilir
Hingga hilang berbekas rasa semu
ah, sefertina bukan, mengingat tidak ada wanita yang menyentuh fria duluan….
Kedatanganmu begitu tak pasti
Membuatku berharap lagi
Meski memberi rasa pelu
Yang mungkin tak ku mau
kedatangan tak pasti? hmmm….yang jelas bukan menstruasi
Sang waktu telah menutup tirainya
Apakah engkau ‘kan datang kembali
Menemaniku di samping ini
Menyusuri dindingnya sampai nanti?
aihh…menyusuri dinding? dikau seorang bomber, kah? yang biasa menggraffiti dinding-dinding kota?
Entahlah, aku tak tahu
Hingga kini kuhanya bisa menanti
Meski cukup hanya dari kehadiranmu
Mengejar tirai waktu yang menghantui
hmm…berbau mistis disini……
.
.
.
kesimfulan ; saia binun sangadh…….
*cast Hellfire*
*bakar post*
Karya tulis lagi?
Hah? Ini khan nggak omong kosong amat, Mas
Setres?
Wow… Seoertinya musim sakit dari Indo sampai disini atau sebaliknya.
*sakit jg*
Ralat: “Sepertinya.”
Dibuang koq tong sampah? Awas dipunggut ama pemulung.
Blah..lagi senang nulis puisi nih bos..
Yang beginian di luar kuasa saya, jadi saya tak mengerti.. -_-a
Awal-awal baca sih memang kesannya roman, tapi setelah menelusuri lebih lanjut sepertinya bukan. Meskipun iya, mungkin bukan terhadap lawan jenis.. entahlah, memangnya robot punya jenis kelamin??
*ngeloyor kabur sebelum dimutilasi*
@rozenesia:
Lalu apa lagi?
Hoho, tafsiran yang bagus.
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Seperti yang dibilang rozenesia, itulah sastra.
@Moerz:
Karena dia perlu di refill.
@Andrew Wijaya:
Maklum, amatir.
@rozenesia:
Setuju.
@streetpunk2:
Tafsiran yang bagus.
Hoho, bisa juga.
Salam kenal juga, mas.
@cK:
Mungkin.
@Hoek Soegirang:


Bait 1: Mungkin?
Bait 2: Bisa jadi?
Bait 3: Tentu bukan.
Bait 4: He? Bomber? o_O
Bait 5:
@p4ndu_454kura™:
Yang dulu belum selesai~
@Cynanthia (di sekolah) dan @Uchiha Miyu:
Mungkin.
@imcw:
Semoga lebih berguna di tangan orang lain.
@Ash:
Kalau bukan terhadap lawan jenis, kalau begitu ke siapa?
Robot tidak punya jenis kelamin, tapi pemrogramannya bisa diset ke maskulin. Seperti HK-47, C-3PO, R2D2, dsb…
angin semilir… mungkinkah itu panggilan alam??
Haha, bisa juga.