Agh, Dasar Kambing!

Sekarang sudah tanggal 3 Januari. 3 Januari 2008. Tanpa disadari, rupanya sekarang kita sudah masuk ke bulan Januari lagi. Padahal rasanya baru kemarin peristiwa Adam Air jadi berita yang menghebohkan. Rasanya baru kemarin saya naik ke kelas XII. Rasanya baru kemarin saya menjalani ibadah puasa terakhir di SMA – memang baru kemarin sih.

…atau saya aja yang selalu melihat ke belakang dan tak bisa melupakan masa lalu. Entahlah.

Yang pasti, sekarang saya disini bukan buat meratapi masa lalu. :D Terkait bahwa sekarang sudah memasuki tahun 2008, terlepas apakah hal ini diinginkan atau tidak, ada satu hal yang mungkin saya kira sedikit menarik. Dan yang pasti berhubungan dengan judul tulisan kali ini.

Soal penggunaan bahasa. Lebih tepatnya, swear words atau curse words kalau dalam Bahasa Inggrisnya. Atau kalau dalam bahasa Indonesia yang lebih akrab didengar mungkin disebut dengan kata-kata kasar, kata-kata makian atau kata-kata kebun binatang. Pokoknya yang kalau diucapkan itu ke orang yang lebih tua, misalnya guru, seharusnya Anda akan ditampar. Minimal ditegur. Tak percaya? Silakan coba sendiri. :mrgreen:

Oh, tenang saja. Meskipun bahasannya kali ini rada cukup vulgar, tapi sebisa mungkin saya akan meminimalisir penggunaan kata-kata kasar. Saya sendiri akan lebih menilik sisi sejarahnya, bukan penerapannya sendiri.

Kapankah kata-kata kasar pertama kali dikenal oleh manusia? Saya tak bisa memberikan kepastian soal ini. Tapi yang saya yakin, manusia sudah mengenal kata-kata kasar sejak pertama kali ia bisa merasakan emosi dan bisa berbicara. Yang berarti mungkin penemunya adalah manusia purba. :P Kalau kesal atau kaget, biasanya ‘kan kita secara refleks mengekspresikannya dengan kata-kata. Dan salah satu bentuk ekspresinya adalah kata kasar ini.

Mungkin pada awalnya manusia membentuk semacam kosakata tersendiri untuk kata-kata kasar semacam ini. Seperti kita membuat kata ‘buku’ untuk menyebut sebuah kumpulan kertas yang berisi tulisan maupun gambar yang telah dijilid dan memiliki kover depan serta kover belakang. Dan (mungkin) begitu juga dengan kata kasar. Sebut saja, dalam aplikasinya, diantaranya ada:

Nah.[1]

Tapi mungkin pada awalnya manusia merasa tidak puas. Mereka butuh sesuatu yang “lebih hina” untuk bisa mengekspresikan kekesalan dan kemarahan mereka. :evil: Butuh sesuatu yang lebih nyata. Suatu hal yang nyata dan tampak hina dan tak berguna. Sampah buat dimaki-maki. Hasilnya? Manusia mulai melirik hewan buat dijadikan tumbal target sumpah-serapah. (Mungkin) diawali dari ‘anjing’, sebagai makhluk yang dianggap paling kotor dan lusuh.[2] Makhluk buas dan ganas penyebar penyakit.

Lalu karena kurang puas, maka alternatif lain segera dicari. Dilihat rupanya ada makhluk yang menyerupai manusia tapi suka gelantungan di pohon. Jadilah ‘monyet’ juga ikut jadi korban. Kemudian entah sejak kapan, si gemuk ‘babi’, ‘bangsat’ sang kutu dan ‘kampret’ sang kelelawar pun ikut jadi target sumpah-serapah.

Nah… mungkin gara-gara ada yang keceplosan menerapkan anjuran saya pada paragraf keempat tadi, dia jadi betulan kena tampar. :lol: Padahal gurunya itu mungkin orang yang benar-benar mengesalkan. Tapi kalau ngomong kata-kata terkutuk itu, bisa-bisa kena tampar lagi. Takut ditampar, cuma ngga puwas sebelum ngatain. Alhasil, gondok (ini bahasa apa ya?) sendiri jadinya. :evil: Lalu gimana solusinya?

Pelesetin. :P

Jadilah timbul istilah-istilah baru dari nama-nama hewan itu. :D Dari orang teriak ‘anjing!’ diganti jadi ‘anjrit!’ Dari menyumpah ‘monyet lu!’ jadi ‘monyong lu!’ Dan lain sebagainya.

Awalnya, pelesetan itu mungkin dianggap sebagai eufemisme. Sekedar penghalusan kata, jadi masih bisa diterima. Tapi seiring dengan seringnya penggunaan alternatif itu… mungkin lama-lama yang akrab kedengaran di telinga pas orang lagi marah-marah atau kaget ya kata-kata itu. Alhasil, akhirnya pelesetan itu berubah pula jadi kata kasar. Kasusnya kalau dalam bahasa Inggris mirip dengan ‘Darn it!’ When euphemism is considered as a curse word.

Sudah ngga bisa lagi berarti ngomong kata begitu di depan para guru. Sudah ngga aman lagi ngomong begitu di depan orang tua. Jadi…? Lagi-lagi cari pelarian. Kembali ke metode awal, cari lagi nama hewan lain! :D Berbagai hewan yang kesannya tak berdosa kemudian mulai jadi korban. ‘Sapi’, ‘kambing’, ‘pinguin’, dan lain sebagainya.[3] Pokoknya yang bisa mengekspresikan kemarahan. Yang penting fuwas! :twisted:

Jadi? Mungkin manusia akan terus mencari ‘pelarian’ untuk mengekspresikan kekesalannya. Ketika yang X dilarang, maka ia akan pindah ke Y. Ketika Y dilarang, pindah lagi ke Z. Dan seterusnya… hingga mungkin pada suatu waktu kata X sudah tak dianggap lagi sebagai kata kasar. Dan pada masa selanjutnya, entah itu kapan, mungkin manusia akan kembali lagi ke X sebagai alternatif kata kasar. Menjadi semacam lingkaran setan. :?

.

.

.

Lalu… saya jadi kepikiran.

Mungkin dalam beberapa waktu tertentu yang tak bisa diperkirakan, ‘domba’ akan jadi kata kasar. Atau mungkin malah ‘pemerintah’ jadi kata kasar yang paling ampuh. :mrgreen:

———-

Footnote:

  1. Mohon maaf untuk kata-kasarnya.
  2. No offence buat yang suka sama anjing. :) Saya juga suka sama anjing-yang-mirip-serigala, soalnya keren. :P
  3. Beneran sudah ada yang pakai, lho. :mrgreen:

55 Tanggapan ke “Agh, Dasar Kambing!”


  1. 1 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 0:41

    Pertamax diblokir.
    Oh ya, kapan pertamax bakal jadi curse word ya? :?
    *melihat para anti-komen-pertamax :P *

  2. 4 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 1:27

    Oh iya. ‘Kutu’ belakangan ini tampaknya juga sudah mulai mewabah, mengikuti seniornya: ‘bangsat’. :P

  3. 6 hariadhi Jumat, 4 Januari 2008 pukul 1:35

    Gimana dengan…

    Kerbau Suci™!

    itu gimana sejarahnya? hihihi

  4. 7 hariadhi Jumat, 4 Januari 2008 pukul 1:36

    Eh, salah. maksudnya: Sapi Suci™!

    :D ditunggu jawabannya, Pak Pakar Serapah

  5. 8 dodot Jumat, 4 Januari 2008 pukul 3:30

    “tupai”

    :)

    weleh weleh

  6. 9 Hoek Soegirang Jumat, 4 Januari 2008 pukul 4:18

    hmmm…kalo begidu
    .
    .
    DASAR BLOGER LOE!!!!!!!
    *dihajar orang sekamfung blogosphere*

  7. 10 Cynanthia Jumat, 4 Januari 2008 pukul 5:12

    :lol:
    Ngomong ‘anjing’ secara terang-terangan di sini sih udah kayak nyantap makanan sehari-hari aja. (Nggak, nggak termasuk aku, kok :P )

    OOT: jadi teringat anak kelas sebelah yang ngomong ke temannya “Kamu tuh jaga kalau ngomong, anjing!” :roll:

    *dihajar karena OOT*

  8. 11 Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji Jumat, 4 Januari 2008 pukul 7:24

    Bayangkan saat pertamax menjadi mainstream..

  9. 13 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 11:46

    @hariadhi:
    Sapi suci? Itu bukannya di India ya? :P
    Wah saya bukan pakar, ini cuma ‘main-main’. :mrgreen:

    @dodot:
    :P

    @Hoek Soegirang:
    Mungkin saat itu blogosphere sudah dipenuhi oleh orang-orang yang…. :P

    @Cynanthia:
    Sama disini. :P Tapi murid-murid di sekolah saya kayaknya mulai cari alternatifnya. :D

    @Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji:
    Dasar pertamax kamu! :mrgreen:

    @yarza:
    Iya. :P

  10. 14 Uchiha Miyu Jumat, 4 Januari 2008 pukul 15:38

    “Darn it!” Is a curse word? Yea right…

  11. 15 Strife Leonhart Jumat, 4 Januari 2008 pukul 16:41

    pertamax jadi mainstream? berarti xaliber gak ikut-ikutan donk?
    katanya anti-mainstream?

  12. 16 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 17:09

    @Uchiha Miyu:
    It was not. :?

    @Strife Leonhart:
    Yang pasti saat ini saya belum pernah menyumpah, “pertamax kamu!” :mrgreen:

  13. 17 Uchiha Miyu Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:05

    “Damn it!” is the curse word. -__-;a

  14. 18 jensen99 Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:07

    “Binatang!”

    *langsung bingung balasnya; smua hewan kepake*

    mau gak mau, kosakata curse word bakal beralih ke “para penghuni neraka” & “XXX-words”

    :lol:

  15. 19 StreetPunk Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:16

    Pertamax adalah suatu bentuk penghargaan dan mungkin sulit dihilangkan…

    .
    .
    .

    Sudah saatnya diskriminasi para pertamax-er dihapuskan karena masing-masing memiliki hak yang sama untuk melakukan kegiatan pertamax
    *lho, kok jadi kampanye?*

    Ya, kalau setelah mem-pertamax-kan diri penulis komentar tersebut menulis lagi komen yang masih berhubungan dengan isi postingan, gpp sih. Tapi kalau siap ‘gituan’ dia cuma ngeloyor pergi, kayaknya kurang menghargai sang blogger yang telah mengetik postingan.

    Bayangkan, sudah membuat postingan puluhan paragraf, mungkin membuatnya berjam-jam, errh, cuma dikasih komen pertamax keduax ketigax dll.

    Cara mengantisipasinya yaitu dengan memblokirnya, seperti yang biasa beberapa blogger lakukan.

    .
    .
    .

    Mengenai curse word, itu permasalahan pribadi dan lingkungannya.
    Ketika seseorang tumbuh, dia mungkin akan mengikuti cara hidup lingkungannya. Kalau dia hidup di lingkungan yang biasa ngomong kasar, maka dia terbiasa untuk melakukannya. Jadi ketika dia berada pada lingkungan lain mungkin orang-orang akan keheranan dengan cara berbicaranya karena dia sudah terbiasa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Tapi kadang kata-kata tersebut tanpa sadar terucap di kala emosi sudah tak tertahankan dan bisa saja menimbulkan perkelahian.

  16. 20 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:22

    @Uchiha Miyu:
    It was not. :P Not until this day.

    @jensen99:
    Oh iya, para makhluk yang konon bertampang mengerikan dan kata-kata ‘vulgar’ juga bisa jadi alternatif… :P Selain kata-kata abstrak.

  17. 21 Uchiha Miyu Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:27

    “Darn it” memang tidak bagus dipakai buat anak-anak karena kasar. Orang tua yang memarahi anak itu juga tidak tahu “Darn it” bukanlah swear word karena kebiasa mendengar oleh orang-orang yang lebih tua, terutama para remaja. “Darn it” sebenarnya adalah kata-kata yang lebih ’sopan’ daripada “Damn it” dan biasa dipakai oleh orang “Bri’ish”. :mrgreen:

    *tau soalnya pake aksen “Bri’ish”*

  18. 22 Uchiha Miyu Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:27

    Udah deh, Miyu ga mau lagi berdebat. -__-

  19. 23 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:30

    Nahh, makanya, “darn” itu tadinya merupakan eufemisme dari “damn”. Dan, memang, biasanya hanya pada British. Soalnya acuan saya juga British. :P

    Tapi sekarang sudah dikenal sebagai swear word… ada di link di atas kok. :?

  20. 24 Uchiha Miyu Jumat, 4 Januari 2008 pukul 19:47

    My friend looked at me. “It sounds terrible to hear those words coming out of the mouth of a four-year-old,” she said.

    Nggak enak di dengar karena kasar.

  21. 25 rozenesia Jumat, 4 Januari 2008 pukul 20:01

    BAJIGURRR!!!

    Eh, tau ndak tulisan lama mas Joe yang judlnya “Pacaran = Anjing??”
    Kayaknya sedikit pembahasan di situ bisa menjadi sedikit masukan deh. Bagaimana peranan sudut pandang dan perspeftif. :P

  22. 26 Xaliber von Reginhild Jumat, 4 Januari 2008 pukul 20:22

    Uchiha Miyu:
    Ya. Tapi dulu dianggap belum kasar. Karena sering digunakan, jadinya terkesan kasar. Begitu sih kalau saya nangkepnya. :?

    Tergantung telinganya. :P

    @rozenesia:
    Oh, pernah baca. Salah satu entri menarik itu… :mrgreen:
    Memang benar, nda bisa dinilai secara literal (atau tekstual). Relatif, sebenarnya. Tapi perspektif secara umum…? :? Mungkin hal ini mirip-mirip Stratifikasi Sosial Dengan Musik. :P

  23. 27 Mardies Jumat, 4 Januari 2008 pukul 22:56

    Ra mudheng. Telmi aku.

    Salam kenal!

  24. 30 saRe' Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 9:56

    kalo sara dan teman-teman di kampus sih,

    “SOTONG!!” :mrgreen:

  25. 31 saRe' Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 9:59

    paling ngga bisa buat orang ketawa, daripada mencetuskan F-word :P

  26. 32 inficio Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 10:25

    Pertama, sepertinya ini topik yang menarik untuk dibahas.

    Memang, tujuan kata-kata ini digunakan untuk “melampiaskan” kemarahan/kekesalan (if I’m not wrong). Jadi walaupun misalnya kata A diganti dengan kata B yang belum dianggap “kasar”, bila kata B dipopulerisasikan sebagai “euphemisme” kata A pada akhirnya juga kata B akan dianggap “kasar”. But, like you said, so there’s no point in me saying it. ^^;

    Sepertinya definisi “kasar” adalah mengekspresikan dissatisfaction di depan umum; jadi apa memang seharusnya tidak mengatakan apa-apa dan menahan rasa kesal sampai di rumah? XD

  27. 33 dhezsya Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 16:44

    oh iy.Adam Air gmn kbrnyah yah..?? Xp

    btw sayah tmbhkn satu lagi cacian dr kbuin binatang..

    CUCUT!!!!

  28. 34 Mihael "D.B." Ellinsworth Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 18:20

    Kalau yang sudah terlalu baku itu bukan eufinisme lagi. Tapi sudah jadi gaya orang sok penting. :mrgreen:

    Misalnya, “Kamu ini bisa saya bilang kambing atau cecurut ?” ;)

  29. 35 Cynanthia Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 20:10

    Saya tambah, pelesetan ‘goblok’…

    GABLUK!!! :mrgreen:

  30. 36 shinobigatakutmati Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 20:13

    ah dasar capra! sepupunya taurus! sodara jauhnya gallus sp! mending daripada dari keluarga yorkshire!

  31. 37 yarza Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 21:40

    “Makhluk”

    (binatang, tumbuhan, manusia, bahkan batuan(makhluk mati) kepake semua…)

    Itu aku sih yang suka ngomong…

  32. 38 StreetPunk Sabtu, 5 Januari 2008 pukul 21:58

    Egh, komenku kayaknya ditahan Akismet

  33. 39 Xaliber von Reginhild Minggu, 6 Januari 2008 pukul 3:21

    @Mardies:
    Salam kenal juga, mas. :)

    @nieznaniez:
    He? :P

    @Praditya:
    :P

    @saRe’:
    1. Hehe. :P
    2. Iya. :P Lebih baik yang unik-unik ya.

    @infinicio:
    Solusi terbaik mungkin menggunakan kata-kata yang lebih religius dan lebih sopan. :mrgreen:

    …dan saya baru tahu situ ada WP. :P

    @dhezsya:
    Wah, saya kurang tahu, mbak, soal Adam Air…

    Cucut itu apa ya? :P

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Itu lain lagi jadinya… :mrgreen:

    @Cynanthia:
    Oh, ada tambahan. :mrgreen:

    @shinobigatakutmati:
    Hehe. Dan rasi bintang jadi sasaran… :P Menarik sih.

    @yarza:
    Yang paling umum kah? :P

    @StreetPunk:
    2. Err, maaf. Entah kenapa masuk ke situ. :(
    1. Hehe, saya sendiri masih suka pertamax. Tapi biasanya dengan membaca dulu entrinya. Pertamax cuma jadi kebutuhan (?) sekunder aja. Tapi kalau yang numpang pertamax aja yang IMO kurang baik juga, seperti mas bilang. :)

    Soal curse word, benar seperti mas bilang. Dan ketika terbawa ke ‘lingkungan luar’ itu yang bisa membawa tafsiran beda-beda dari pendengarnya masing-masing… :?

    ——
    *info ga penting: saya lagi ngerjain semacam skripsi/karya tulis, jadi mungkin respon akan terlambat*
    *beneran ngga penting*

  34. 40 Cynanthia Minggu, 6 Januari 2008 pukul 6:43

    Cucut itu apa ya? :P

    Swordsmasterfish, Mas… ikan pedang… :mrgreen:

  35. 41 Dream Maker Minggu, 6 Januari 2008 pukul 7:11

    Jangan salah, kambing itu kata kasar loh

    [mengingat saat ngatain orang kambing]

    [mengingat saat nyaris ditimpukin gitar TT___TT]

    Bahkan sangking ga ada ide-nya, kata kerja-pun dijadiin kata makian, aku gak ngerti soal ini /hmm

  36. 42 Xaliber von Reginhild Minggu, 6 Januari 2008 pukul 15:15

    @Cynantia:
    Oh, ikan pedang ternyata… :P

    @Dream Maker:
    Tergantung lingkungannya, lho. :? Bisa jadi awalnya kambing itu alternatif. Kapankah pinguin jadi kata kasar? :P

  37. 43 Strife Leonhart Senin, 7 Januari 2008 pukul 16:39

    * Menunggu ‘blogger’ menjadi curse word *

  38. 45 Strife Leonhart Selasa, 8 Januari 2008 pukul 16:04

    ada lagi nih,, makanan aja jadi korban

    >> dodol !!

  39. 46 Allheal Dins Selasa, 8 Januari 2008 pukul 22:28

    Ah. Iya.
    Makanan XD

    Somay, bakso, pangsit, tahu, tempe, jenang, blebleb ~

    Kalo tahu sama tempe sih cman buat maenan.
    “Saya tahu. Sedangakan kamu tempe” :P

    Buat dodol berhubung dah basi. Pake jenang deh :P

    Saya sih suka bakpao :mrgreen:

  40. 47 Andrew Wijaya Rabu, 9 Januari 2008 pukul 12:09

    Jika anda mengatakan “Kuda lo…!!!” kepada saiyah mungkin respon saiyah cuman… “Hmm,,, apa…?? soir tadi lagi dengerin lagu” :lol:

  41. 48 Xaliber von Reginhild Rabu, 9 Januari 2008 pukul 23:08

    @Strife Leonhart:
    That’s classic. :P

    @Allheal Dins:
    Silakan. :?

    @Andrew Wijaya:
    *lirik avatarnya* :roll:

  42. 49 Allheal Dins Kamis, 10 Januari 2008 pukul 1:00

    Oh ada lagi!
    Yang lumayan sering saya ucapkan pada seseorang.
    FuYungHai! XD

  43. 50 Allheal Dins Kamis, 10 Januari 2008 pukul 1:01

    N kata yang pantes buat Xaliber.

    Mayones! :mrgreen:

  44. 51 Xaliber von Reginhild Kamis, 10 Januari 2008 pukul 1:05

    FuYungHai? :?

    Dan… tahu darimana soal ‘mayones’ itu? -_-

  45. 52 Allheal Dins Kamis, 10 Januari 2008 pukul 1:37

    FuYungHai cman plesetan user ID kok :mrgreen:

    Fuh, saya member lama yang sudah tdk aktif lagi. Penggemar mayonaise, kalau ada yg ingat (topik Makanan) ^^;; [...]

    Itu disticky loh. Gampang nemunya :P

    Jadi.
    Xaliber si mayones Xaliber si mayoneeess!! ~^^

    (dimohon ketersinggungannya :mrgreen: )

  46. 53 Xaliber von Reginhild Kamis, 10 Januari 2008 pukul 1:51

    Sial… :mrgreen:
    Yah, mayones memang enak sih. Apalagi kalau dimakan to’ itu aja. :P

  47. 54 Ash Kamis, 10 Januari 2008 pukul 8:07

    …sebagai pengguna avatar bergambar Anjing saya jadi merasa tersinggung.. -_- haha

    Saya kadang memang suka bingung.. meskipun tahu itu adalah kata-kata kasar, saya tetap berpikir apa yang salah dengan ‘anjing’ ‘monyet’ ‘kampret’ dan sebagainya, kan cuma nama binatang..
    Membaca tulisan Si Bos, kebingungan saya tadi cukup terjawab.. menunjuk orang dengan binatang memang tidak baik sih.

    Tapi sepertinya kata-kata seperti ini harus populer dulu baru terasa kasarnya ya.. soalnya kalau kita menggunakan kata baru seperti ’semut!’ tidak terasa marahnya.. -_-

  48. 55 Xaliber von Reginhild Kamis, 10 Januari 2008 pukul 15:34

    Maaf… ngga maksud menyinggung. -.- Soalnya kan persepsi umumnya (IMO) kayak begitu.

    Iya, orang harus ‘terbiasa’ dulu mendengarnya. Soalnya (IMO) mereka melihat situasi penyebab keluarnya kata tersebut, lalu setelah itu baru menentukan, “Oh, berarti itu kata yang mengekspresikan kekagetan/kemarahan.” :)


Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 96,644 soldiers