Si A: Saya rasa, untuk menyatukan rakyat kita membutuhkan pemimpin yang keras.
Si B: Oh, tentu! Saya juga setuju. Tapi asal tahu saja, teori seperti itu namanya integrasi berdasarkan konflik. Masyarakat bisa terintegrasi karena adanya coercion dari penguasa dan menentukan musuh bersama; teori ini sempat diutarakan oleh Dr. Nasikun pada bukunya yang berjudul Sistem Sosial Indonesia…
Pernahkan Anda mengalami kejadian serupa? Mungkin bahasannya memang bukan integrasi nasional, tapi pernahkah Anda, ketika sedang melakukan obrolan dengan sesama rekan, justru dihujani berbagai macam kata-kata yang begitu teoritis?
Ya, terkadang pembicaraan yang macam itu memang ngga bisa dihindari. Apalagi kalau topik bahasannya sudah menjurus yang ke agak berat. Meskipun diskusinya — secara operasional — dilaksanakan dengan ringan, semisal obrolan yang dilakukan sambil minum secangkir kopi di sebuah kafe entah dimana, tapi kalau sudah nyerempet ke topik yang serius sedikit, maka peluang terjadinya hal tersebut menurut saya tak terhindarkan.
Di satu sisi, ketika lawan bicara menanggapi sebuah pendapat dengan berbagai macam teori, bisa jadi itu cukup mencerahkan. Kita jadi dapat pengetahuan baru, bahwa misalnya pendapat kita itu ada teori ilmiahnya. Kalau orang itu terbuka untuk diskusi atau pertanyaan lebih lanjut, kita bisa saja bertanya soal teori-teori itu padanya — yang penting dia menguasai, kalau ngga menguasai tapi malah ngibul kan gawat.
Tapi di sisi lain, terkadang hal itu bisa jadi sangat cukup mengesalkan. Ketika kita sedang berbicara mengungkapkan pendapat masing-masing, tiba-tiba lawan bicara kita justru melontarkan teori-teori yang sudah paten. Rasanya seperti ditampar. Apalagi kalau kita sudah mulai berseberangan pendapat dengannya, semisal begini,
Si C: Tapi menurut saya, integrasi yang berdasarkan kekerasan itu kurang baik. Masyarakat jadi bersatu karena ada pemimpinnya, bukan karena kemauan diri sendiri. Kalau menurut saya, lebih baik masyarakat bersatu karena keinginan sendiri.
Si B: Ya, makanya memang kalau kita hanya mengandalkan teori itu untuk menciptakan integritas nasional, semuanya percuma. Kalau kamu belajar teori-teori sosial, ada tuh yang namanya teori sintesis. Ini juga udah disebutin sama Dr. Nasikun, gabungan antara teori konflik sama teori struktural supaya masyarakat bergabung atas kesadaran dirinya sendiri plus gabungan konflik.
Teorimu itu yang saya bilang teori struktural, sudah disebutkan juga sama Dr. Nasikun, atau kalau mau lebih spesifik lagi itu merupakan penyatuan sosial melalui pendekatan psikologis. Masalah-masalah sosial itu ngga bisa diselesaian cuma dengan 1 teori aja, banyak teori lain, kayak nyari angka 4 ngga harus selalu lewat 2 + 2.
…mungkin (mungkin lho) maksudnya memang baik. Memberitahu jalan yang benar, serta meluruskan hal-hal yang salah. Tapi kalau dengan gaya bicara yang cenderung arogan… nah itu yang mulai mengesalkan. Apalagi kalau sudah mulai ceramah dan pidato sendiri. Atau mengeluarkan tuduhan-tuduhan maupun prasangka-prasangkanya. Kalau begitu sih sudah gawat, saya rasa.
Malah mungkin cenderung fallacy ya? Membawa-bawa pendapat orang lain untuk memperkuat argumen? Kalau tidak salah saya pernah baca (lupa dimana) soal fallacy yang menggunakan teori-teori orang yang sudah ahli untuk dijadikan landasan sekaligus dalih, tapi CMIIW.
…
…
…
Jadi, seandainya Anda menemui situasi semacam itu, apakah Anda kesal? Jika ya, maka Anda tidak sendirian.



oh pertamax…
ok2…
saya pintar lalu…
ingin tambah pintar donk…
Damn!
Pertamax melayang sudah..
Tunggu komentar saya berikutnya..
Tumben Xaliber deathlock nggak memblokir pertamax *ngga ngurus*
Sepertinya Anda pernah mengalami hal serupa..
Memang, orang seperti itu, yang berbicara tentang fakta dengan disertai arogansi yang [mungkin] cukup tinggi adalah ‘agak’ mengesalkan.
Kalau nggak salah, sepertinya saya juga pernah mengalaminya.
Sebenarnya, dengan sedikit kesabaran maka semuanya akan selesai sebagaimana mestinya.
Maksudnya, biarkan saja dulu dia bergaya arogan, lama-kelamaan, tentu akan ada pihak lain yang menegurnya, karena nggak cuma kita sendiri yang menyadari hal tersebut, bukan?
Kalau tidak berhasil juga, manfaatkanlah apa yang kita miliki, kalau ada argumen-argumen kita pribadi yang tidak terpikirkan olehnya, manfaatkan itu untuk melawan argumentasi yang dia punya.
Baidewei in maiy wey,
judul tulisan sudah satir, tapi pembahasannya ‘halus’ juga ya, saya mengharapkan entry-entry beraliran rock seperti ‘Sekolah? Untuk Apa?’ yang pernah Anda rilis beberapa waktu sebelumnya.
==== StreetPunk ====
Tumben pertamax tidak diblokir *peduli amat*
Sepertinya Anda pernah mengalami hal serupa.
Memang orang-orang seperti itu, yang berbicara berlandaskan fakta namun disertai arogansi yang [mungkin] cukup tinggi terasa ‘agak’ mengesalkan. Saya sendiri pun pernah mengalaminya.
Sebenarnya, dengan sedikit kesabaran maka segalanya akan selesai sebagaimana mestinya. Biarkan saja dulu dia bergaya arogan, suatu saat tentu akan ada pihak lain yang menegurnya, karena bukan cuma kita sendiri yang melihat keadaan tersebut, bukan?
Kalau belum berhasil juga, manfaatkanlah apa yang kita miliki, kalau ada argumen-argumen pribadi kita yang mungkin saja tak terpikirkan olehnya, manfaatkanlah itu untuk melawan argumentasi yang dimilikinya.
BTW, judul tulisan sudah satir, tapi pembahasannya cukup ‘halus’ ya. Saya mengharapkan entry beraliran rock semacam ‘Sekolah? Untuk Apa?’ yang pernah Anda rilis beberapa waktu sebelumnya.
==== StreetPunk ====
Wow..
Kalau saya sih, selama orang pintar-namun-mengesalkan itu benar, ya.. mau nggak mau saya telan saja. Kesal, tapi dia benar. Bingung kan tu jadinya..
Kalau dari sudut pandang si pintar itu sendiri gimana ya? Saya bukan orang pintar jadi nggak minum T***k A***n.. eh.. ya itulah maksudnya
Tumben pertamax tidak diblokir *peduli amat*
Sepertinya Anda pernah mengalami hal serupa.
Memang orang-orang seperti itu, yang berbicara berlandaskan fakta namun disertai arogansi yang [mungkin] cukup tinggi terasa ‘agak’ mengesalkan. Saya sendiri pun pernah mengalaminya.
Sebenarnya, dengan sedikit kesabaran maka segalanya akan selesai sebagaimana mestinya. Biarkan saja dulu dia bergaya arogan, suatu saat tentu akan ada pihak lain yang menegurnya, karena bukan cuma kita sendiri yang melihat keadaan tersebut, bukan?
Kalau belum berhasil juga, manfaatkanlah apa yang kita miliki, kalau ada argumen-argumen pribadi kita yang mungkin saja tak terpikirkan olehnya, manfaatkanlah itu untuk melawan argumentasi yang dimilikinya. Tentunya kita sendiripun jangan ikut-ikut arogan.
BTW, judul tulisan sudah satir, tapi pembahasannya cukup ‘halus’ ya. Saya mengharapkan entry beraliran rock semacam ‘Sekolah? Untuk Apa?’ yang pernah Anda rilis beberapa waktu sebelumnya.
==== StreetPunk ====
Ke-empax!
Hampir setiap orang bilang saya pintar (dan saya tidak merasa), tapi yah… kalau ujung-ujungnya saya dikendalikan oleh orang, saya lebih suka jadi orang yang biasa-biasa saja (dalam arti nggak berlebihan lah).
@Ash:
Nggak usah disensor aja udah tau, kok
salam.
entah ya, referensi seperti itu berguna juga sih. Kalo yg disinggung adalah caranya menyampaikan, kita berada di sisi yang sama.
soal fallacy, kalo ga salah fallacy berdasarkan otoritas. Namun, umumnya menyangkut status atau kedudukan si empunya argumen.
misal: “Saya ini Profesor, 20 tahun belajar di luar negeri!!! tau apa kamu soal itu!?”
“Loh, saya ini mahasiswa yang punya sembilan ponakan. Terus kenapa?!!”
Ah, mencerahkan!!
Oh ya, kalao pakai ayat suci dan kutipan para pemuka agama gimana nih?
*bersambung, lagi meditasi setelah malam kudus*
Baidewei, saya ga kenal Dr. Nasikun.
*argghh, maklum, wong geblek*
memangya Anda pernah ngobrol santai apa? perasaan keluar rumaha aja susah…
satu jawaban…eh dua.
1)Kembali ke diri masing-masing.
2)Anjing menggonggong, kafilah berlalau.Biarlah sebuah debat, yang penting perbuatannya.
@Moerz:
Saya juga mau.
@StreetPunk:
Anda belum beruntung…? Silakan coba lain kesempatan.
@Ash:
Dia bisa jadi benar… tapi pembawaannya itu yang mungkin mengesalkan… apalagi kalau sudah berseberangan-pendapat-lengkap-dengan-arogansi.
“Sudut pandang si pintar,” bagaimana maksudnya?
@Cynanthia:
Kembali ke kutipannya Soekarno, IMO.
@laufi:

Tapi yang saya maksud yang lagi debat begini, tiba-tiba dia mengusung teori-teori paten atau dalil-dalil agama untuk dijadikan sanggahan supaya argumen kita runtuh. Kalau ngga salah saya pernah baca di suatu blog, waktu kasus semacam ini terjadi di blog-o-sphere, dan menurut sumber itu katanya hal ini juga termasuk fallacy… tapi saya lupa istilahnya apa.
Salam juga.
Ya, maksud saya, cara menyampaikannya.
Kalau berdasarkan otoritas, bisa juga.
@rozenesia:
Pakai ayat juga bisa kayaknya…
Saya juga ngga kenal Dr. Nasikun. Belum pernah ketemuan, tapi katanya Sosiolog UGM. [citation needed]
@Lemon S. Sile:
Hoho… belum tahu dia.
Kadang kesal aja dengan begini. Apalagi lawan bicaranya sudah ‘membuka’ dengan berbagai macam teori, tapi begitu ditanya lebih lanjut malah menolak.
Yah, namanya juga rant. Misuh-misuh (secara ngga langsung).
Wah itu namanya WNNS (WARGA NEGARA NEGERI SEBERANG)
hehehehehe….
Yang bersatu dengan kemauan sendiri itu hanya mungkin di RRB (REPUBLIK RAJA BELING)… ya kata Harry roesli aja disana Bebek bisa jadi anggota DPR….hehehe…
apalagi kalo lawan bicaranya pakai teori pokoknya…
Iya sih, kalo cara penyampaiannya kurang enak / kurang menghargai lawan bicara, referensi2 valid dan bagus malah dilirik sebelah mata sama kita (keburu sanap
), set mode sabar ON aja mungkin?
Kalau kesal, saya rasa tidak. Tetapi kalau untuk menjawab “pertanyaan” yang diungkapkan B, saya kira :
“Anda sedang menguatkan jawaban yang seharusnya tidak perlu dikuatkan dengan teori orang lain, atau…?”
@Magister of Chaos:
Siapa nih yang WNNS?
@alief:
Tambah lagi itu, pak…
@Niwatori:
Iya, harus install modul sabar dulu ya.
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Hoho, nice catch.
@StreetPunk:
Whoops, maaf, saya ngga ngecek Akismet-admin. Entah kenapa ini terjaring Akismet, mohon maaf.
Yep, secara pribadi, saya memang pernah.
Terkadang untuk nge-counter memang sulit. Tapi orang seperti si B itu kadang posisinya memang lebih menguntungkan, misalnya seperti pada posisi yang dijelaskan mas laufi. Dan yang jadi masalah kalau sudah mulai ngalor-ngidul, seperti yang ditulis oleh Mihael Ellinsworth.
Soal satir-nya, hehe, saya masih dalam tahap belajar, jadi mungkin belum bisa nulis satir banyak-banyak.
.
.
Perdebatan memang tak bisa ditebak ujungnya seperti apa. Dalam diskusi-diskusi semacam yang sudah dituliskan di atas, posisi seseorang bisa menguntungkan, kadang juga menyulitkan. Tergantung kitanya juga bagaimana memanfaatkan situasi sebaik-baiknya.
betul apa kata comment di atas
.
.
Saya setuju dengan Muhammad Zulfikar
Memang Indonesian cenderung fallacy ya….
*level up!*
Lho…
@StreetPunk:
Begitu?
Ya, dan bukan untuk memenangkan diskusi, tapi untuk mendapatkan yang benar.
@Muhammad Zulfikar:
@StreetPunk:
Lho?
Bisa sukses, bisa tidak, tergantung yang diatas.
@Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji:
Maaf telat, entah kenapa masuk Akismet.
Iya, makanya Kopral Geddoe bilang “Sebaiknya Teori Fallacy diajarkan di Sekolah Menengah.”
@Me-u:
Maksudnya?
kayanya aku tau si arogan dgn nasikun”nya itu siapa..
kalo dah pinter… nyari ilmu untuk tambah pintar… tapi harus pintar dalam hal positip… kalo pinter boong mah gk usah blajar.. hehehe
kalo pinter nyolong gw mau tuh… lumayan dapet duid *digetok adip*
I am the best soldier of Hidden War.. gw tantang luh ngadu sniping
eehh kapan kapan gw mau kerumah luh donk ngadu CS.. di awp_map aja ya
kalo gk di de dust.. hehe ato gk map yg gedwe….
@juno:
Karena hebat sekali kalau bisa tahu orang imajiner.
I don’t think so.
@ARX – 7 Sagara Sousuke:
Mungkin Anda tertarik baca entri yang [ini].