Identitas Diri dan Pelarian

desert-masked-xaliber.jpg
“Are you lost in yourself?”

Seorang figur manusia dalam setiap kesempatannya selalu ditempatkan dalam sebuah komunitas sosial. Diinginkan atau tidak, mereka akan selalu ditempatkan pada sebuah komunitas sejak hari kelahirannya. Dalam kondisi itu, ada kalanya sesosok manusia tersebut tidak bisa diterima dengan baik oleh lingkungannya. Penyebabnya bisa berangkat dari individu itu sendiri, yang kemudian berkembang menjadi konflik dengan manusia lain, hingga akhirnya menjadi masalah yang bisa menggangu pikiran masing-masing.

Dari masalah itu, manusia merasa tidak nyaman. Tidak betah, tidak ingin bertemu dengan masalah itu. Ingin segera menyingkirkannya; dengan dihadapinya secara langsung atau justru menghindarinya. Namun segalanya belum tentu berjalan dengan lancar. Bukan tidak mungkin kalau perasaan tidak betah itu makin menjadi-jadi.

Di sisi lain, seorang manusia bisa menaruh respek pada figur lain yang ia rasakan sebagai sesosok figur yang hebat. Figur itu bisa jadi seorang tokoh, sebuah benda mati, bahkan ideologi atau kepercayaan. Figur yang ia rasakan sebagai figur yang hebat itu yang dirasa mampu membuktikan wujud konkret dari keinginannya. Sesosok figur yang mampu menunjukkan keberadaan dan mampu diakui oleh orang lain.

Ketika perasaan tidak nyaman dari manusia di sebuah komunitas bertemu dengan sesosok figur yang ia kagumi, maka timbulah sebuah sintesis. Seorang manusia mungkin dapat melihat momen itu sebagai sebuah sosok penyelamat; semacam konsep deus ex machina yang memberikan harapan bagi manusia itu atas tindakannya di kenyataan. Ia kemudian bisa jadi melakukan pendekatan terhadap sesosok figur yang ia lihat sebagai penyelamat tersebut, dan ketika ia merasa konsep itu sesuai dengan dirinya, dengan bangganya menganggap dirinya sebagai bagian dari konsep itu.

Ketika seorang pemuda yang muak atas dominasi pengusaha kelas atas pada sistem ekonomi yang mengabaikan kalangan bawah, maka ia akan melirik komunisme. Ia akan mendukung dalam gelora dengan konsep komunisme. Ketika seorang remaja mengalami distorsi dalam kehidupan beragamanya, maka ia akan melirik konsep agnositisme. Ia akan merasa tidak memilih untuk mengambil agama mana pun dan melihat pandangan fundamental agama lain dengan sebelah mata.

Ketika seorang relijius melihat ketidakmampuan masyarakat dalam melaksanakan nilai-nilai moral yang secara tak langsung berdampak bagi dirinya, maka ia akan menoleh ke arah agama yang ia pegang teguh. Ia akan menunaikan ibadah-ibadahnya, melakukan panduannya, dan mempercayai ajarannya.

Ketika seorang broken home mengalami kekacauan dalam keluarganya, maka ia bisa jadi akan menoleh ke tokoh nasionalis. Tokoh yang dijadikan panutan, dikagumi dan dibangga-banggakan lebih dari keluarganya.

Ketika seorang pelajar yang tak bisa lepas dari batasan nilai yang mengikat, maka bisa jadi ia akan menoleh ke arah permainan video game. Game yang ia bangga-banggakan, yang ia mainkan setiap hari dan tanpa rasa bosan.

Terkadang sintesis ini yang menghasilkan kebanggaan tinggi terhadap figur yang seorang manusia lihat sebagai sesosok harapan. Kebanggaan tinggi ini yang terkadang mengabaikan aspek lain dalam kehidupannya, terutama yang bertentangan dengan konsep yang ia percayai. Bukan tidak mungkin jika kemudian sintesis ini bisa menimbulkan sikap merendahkan yang tidak disadari terhadap konsep-konsep lainnya. Melihat sepihak, atau memberikan justifikasi umum.

Sebuah konsep yang membuat seseorang terbuai di dalamnya, menikmati keindahannya, berlepas diri di atas awan konsep yang menutupi tanah yang gersang dan kotor; bagaikan candu.

Ketika Anda dengan bangganya menyatakan diri, bahwa Anda bangga untuk menjadi seorang komunis, seorang Nazis, seorang Islam sejati, seorang Kristen ortodoks, seorang ateis, seorang nasionalis, seorang anggota OSIS, seorang anggota klub Pecinta Alam, seorang gamer online, maupun seorang penjudi; benarkah kebanggaan itu bukan sekedar pelarian dari kenyataan yang Anda hadapi? Think again. ;)

——-

PS: Saya tidak bermaksud menyindir siapa pun. Hanya sekedar renungan. :) Semoga bisa berguna bagi yang lainnya.

22 Tanggapan ke “Identitas Diri dan Pelarian”


  1. 1 Xaliber von Reginhild Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 0:39

    Tanpa ada maksud menyindir siapa pun… semoga entri ini masih bisa diterima. :) .

  2. 2 rozenesia Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 1:21

    Ah, mencerahkan. :D *ngutip komen Geddoe*

    Apakah ini ada hubungannya dengan Stages of Faith? :?

    Baidewei, OOT, agnostisisme nggak terlalu nyangkut sama beragama, lho.

  3. 3 Cynanthia Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 7:10

    Idem sama Mas Gun. :mrgreen:

    Semoga apa yang kita rasakan bukan pelarian. Amin.

  4. 4 Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 10:19

    Saya…. lari gak ya…

    Ah, mungkin ga…

    Gimana dengan orang yang kelakuannya online dan kelakuan nyatanya beda?

  5. 5 StreetPunk Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 13:01

    Maka dari itu, saya kadang-kadang menganggap blogging sebagai pelarian dari kehidupan nyata, dan kekurangmampuan untuk bersosialisasi

    Saya akhir-akhir ini berpikir begitu..

    * masih bingung sendiri *

    Bahkan tokoh-tokoh agama yang mencela atau menjelek-jelekkan agama lain, perbuatan itu mungkin saja didasari atas keinginannya agar bisa dianggap dalam suatu kelompok. Haha..!! Ada-ada saja..

  6. 6 jensen99 Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 18:49

    Postingan kereeeeen!

    Sy Zionis, yg ini identitas diri 8)
    Sy blogwalking, itu yang pelarian… :mrgreen:

    (syukur bs nyasar ksini)

  7. 7 Moerz Sabtu, 22 Desember 2007 pukul 19:23

    ahya….
    bagaimana kalau pelarian karena kehilangan identitas…
    kebalik yah…

  8. 8 Xaliber von Reginhild Minggu, 23 Desember 2007 pukul 0:31

    @rozenesia:
    Mungkin ngga hanya untuk faith, tapi untuk yang lebih luas lagi juga bisa. :D
    Kalau agnositisme, saya mikirnya karena dia merasa ngga sesuai sama yang mana pun, pada akhirnya memilih untuk melepaskan semuanya dan jadi agnostik. Tapi CMIIW. :)

    @Cynanthia:
    Amin. :)

    @Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji:
    Berbeda di dunia nyata dan maya? Hmm… tergantung motifnya dulu, kayaknya… soalnya konsep “dunia maya” sendiri masih cukup luas, IMO. :)

    @StreetPunk:
    Itu salah satu landasan berpikir saya juga, mas. :) Ada kalanya seseorang ikut-ikutan mencela dan memaki tanpa tahu apa dasarnya hanya agar terlihat “sejalan”.

    @jensen99:
    Makasih. Semoga berguna. :D

    @Moerz:
    Identity crisis? :?

  9. 9 Cynanthia Minggu, 23 Desember 2007 pukul 5:21

    Identity crisis? Apa itu sedang terjadi pada bangsa Indonesia saat ini? :?

  10. 10 Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji Minggu, 23 Desember 2007 pukul 8:30

    Banyak kok yang mengalami identity crisis… ada seorang blogger yang…di online sih sangat rapi, dan….agak karismatik?

    Sementara di dunia nyata dia egois, kayak bocah, dan segala hal yang bertentangan dengan blog idnya…

    “Lirik si J***”

  11. 11 Magister of Chaos Minggu, 23 Desember 2007 pukul 9:54

    Hehehehehe…. Banyak kok yang memiliki identitas yang bertolak belakang dengan kehidupan aslinya…

    “Lirik Y****, A*****, J***….”

    Tapi saya, Magister of Chaos? Dunia maya kacau dunia aslinya juga kacau… heheheheheheeh

  12. 12 Ash Minggu, 23 Desember 2007 pukul 10:39

    Entry yang bagus, tetapi tetap saja saya tak bisa komentar banyak disebabkan karena keterbatasan kata-kata *apa juga maksudnya?*

    Hm.. selama pelariannya positif, kenapa tidak? *ditendang keluar karena komen tidak berguna*

    *kembali lagi*
    Karena menurut saya tidak mungkin ada orang tanpa pelarian. Manusia kerap bertemu masalah, dan pastilah mencari pelarian. Misalnya jadi pake narkoba..
    Tetapi kan bagus kalau pelariannya berdoa pada Tuhan.. siapa tahu pelariannya itu sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang tulus, bukan pelarian lagi..

    Btw, sebenarnya pelarian itu sendiri apa sih? Positif atau negatif? *eh, ini saya beneran nggak tahu nih*

  13. 13 Xaliber von Reginhild Minggu, 23 Desember 2007 pukul 12:25

    @Cynanthia:
    Kalau untuk individu, hal itu umum terjadi. Kalau untuk bangsa, tidak tahu juga. Seharusnya untuk ideologi (secara teoritis), Indonesia sudah ngga krisis identitas lagi. Tapi penerapannya, entahlah…

    @Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji:
    …jadi teringat diri sendiri juga. :P
    Tapi identitas disini mungkin lebih kepada aspek yang dibangga-banggakan; seperti bangga dengan menjadi seorang rasionalis, menjadi seorang filsuf, menjadi seorang pengagum Nazi, dsb. Apakah itu pelarian atau bukan, entahlah. ;)

    @Magister of Chaos:
    Secara sikap, iya. :mrgreen:

    @Ash:
    Naah, poin yang bagus. :mrgreen:
    Sebenarnya tergantung konsepnya sendiri. Pelarian bisa jadi positif atau negatif. Kalau yang sempat disinggung di atas, cenderungnya ke negatif. Kan misalnya ada, orang yang merasa tidak diterima di komunitasnya, kemudian mencari-cari “figur” yang sesuai dengannya, kemudian justru bertindak berlebihan; bangga berlebihan, menunjukkan sikap fanatik, atau melecehkan yang bertentangan dengan “figur” yang ia anggap sesuai. :?
    Jadi sebenarnya kembali juga ke wujud dan dampak pelariannya itu. ;) Bagaimana konteksnya?

    *btw, saya bukan ahli psikologi. Jadi kalau ada salah-salah kata, mohon maap.*

  14. 14 rozenesia Minggu, 23 Desember 2007 pukul 15:07

    @ Xaliber: kalau melepas semuanya, jadilah irreligius. :roll:
    …karena kebanyakan agnostik masih beragama. LP

  15. 15 Xaliber von Reginhild Minggu, 23 Desember 2007 pukul 15:54

    Hmm… kalau agnostik theis kan itu? Maksud saya yang jadinya meragukan kepercayaan-kepercayaannya, secara spesifik lebih ke agnostik… soalnya setahu saya (CMIIW) konsep irreligius masih terlalu luas. Tapi itu setahu saya saja. :P

  16. 16 shinobigatakutmati Rabu, 26 Desember 2007 pukul 23:30

    waduh wadu….h … terlalu berbobot dari yang wa kira….

    ay ay ay… ya begitulah hidup………

  17. 18 Me-u Minggu, 30 Desember 2007 pukul 16:34

    I half agree with you, xal…


  1. 1 A Letter of Happenings « Malaikat Realitas Lacak balik pada Senin, 24 Desember 2007 pukul 19:24
  2. 2 WHAT THE FU*beep* IS THIS??? « Celoteh Bebek Jamuran… Lacak balik pada Senin, 24 Desember 2007 pukul 21:21
  3. 3 Simpati, Respek, dan Keintiman « Deathlock Lacak balik pada Sabtu, 10 Mei 2008 pukul 13:12

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 97,276 soldiers