Kecewa

Kecewa, dan mengecewakan... siapa?

Ah.

Saya kecewa.

Seandainya saya pernah bilang ke orang-orang. Bahwa sebenarnya hingga sekarang ada sesosok manusia yang sempurna. Bagus rupanya, baik sikapnya, dan kritis pola pikirnya. Kekurangannya cuma satu, yaitu jantungnya bagaikan disembunyikan oleh kain sutra, tapi hal itu tertutupi oleh kebaikannya yang lain dan rasanya tak begitu terlihat. Namun orang-orang tidak percaya. Mereka bilang, orang seperti itu tak ada. Selang beberapa minggu, kisah tentang orang itu pun berlalu.

Seandainya beratus-ratus tahun lalu ada sesosok orang yang pernah bilang ke orang-orang. Bahwa sebenarnya ada sesosok manusia yang sempurna. Bagus rupanya, baik sikapnya, dan kritis pola pikirnya. Kekurangannya cuma satu, yaitu jantungnya bagaikan disembunyikan oleh kain sutra, tapi hal itu tertutupi oleh kebaikannya yang lain dan rasanya tak begitu terlihat. Orang-orang percaya. Mereka bilang, orang seperti itu benar ada. Selang beratus-ratus tahun, kisah tentang orang itu tetap diulang-ulang oleh generasi berikutnya.

Saya kecewa.

Seandainya saya adalah seorang jendral perang di zaman Eropa kuno. Para prajurit angkatan bersenjata saya sudah dilatih dengan baik, sudah siap tempur. Tombak-tombak sudah disiapkan dengan baik, pedang-pedang sudah terasah dengan tajam, dan busur-busur telah siap sedia dengan anak panahnya. Kami kemudian menggempur sebuah benteng musuh. Pedang telah dihunus, anak panah telah menghujani sang benteng. Selang berjam-jam lamanya, tapi benteng itu masih berdiri kokoh, dengan pasukan-pasukannya tegak diatasnya. Semangat pasukan saya segera turun, dan kekuatan perang kami segera habis.

Seandainya ada sesosok jendral perang di zaman Eropa kuno. Para prajurit angkatan bersenjatanya belum dilatih dengan baik, belum sepenuhnya siap tempur. Tombak-tombak dibiarkan berserakan, pedang-pedang terlihat tumpul, tapi busur-busur telah siap sedia dengan anak panahnya. Mereka kemudian mendatangi sebuah benteng musuhnya yang kokoh, dengan para pemanah musuhnya berdiri diatasnya. Busur segera diangkat, dan anak panah segera dilontarkan. Musuh mereka juga melakukan hal yang sama. Selang berjam-jam lamanya, benteng itu masih berdiri kokoh, hanya saja sudah tak memiliki penghuninya lagi. Pasukan jendral itu juga sudah habis, kecuali para pemanah yang sejak tadi memanah dari belakang.

Saya kecewa.

Seandainya saya adalah seorang remaja yang hidup di era globalisasi. Saya ingin menggambar sebuah komik. Pensil sudah disiapkan, penghapus sudah ada, penggaris juga telah tersedia jika perlu. Ketika saya memejamkan mata, terbayang jelas sesosok adegan yang ingin saya gambar. Tangan saya bergerak. Tapi, saya tidak bisa menggambar bayangan itu. Tangan saya tidak mampu meraih bayangan nyata yang ada di dalam kepala. Tangan saya tidak mampu menggambar apa yang sudah terbayang dengan jelas.

Seandainya ada sesosok remaja yang hidup di era globalisasi. Dia ingin menggambar sebuah komik. Pensil sudah disiapkan, penghapus sudah ada, penggaris juga telah tersedia jika perlu. Ketika dia memejamkan mata, tidak terbayang adegan apa pun dalam kepalanya. Ia lalu meminta sketsa kasar pada temannya yang ada di sampingnya. Temannya menggambarkan sketsa. Tangannya kemudian bergerak. Ia bisa menggambar sketsa kasar yang digambarkan temannya di kertas. Tangannya mampu meraih realisasi dari sketsa di kertas. Tangannya mampu meraih gambaran kasar yang tadinya tak terbayang dengan jelas.

Saya kecewa.

Karena air jernih sungai mengalir dengan deras, kemudian terpisah menjadi tiga cabang yang berbeda.

Saya kecewa.

Karena batu-batu longsor yang berjatuhan dari atas gunung, menghujani tanah dibawahnya dengan senada dan harmonis.

Saya kecewa.

Karena burung-burung masih berkicau di atas langit, memberi pangan anaknya yang berdiam di atas ranting pohon.

Karena semut-semut berbaris rapi di dasar tanah, membawa persediaan makanan bagi sang Ratu.

Karena burung-burung tak akan menjamah koloni semut di bawah tanah; karena semut-semut tak akan menggapai anak-anak burung yang besar di atas pohon.

.

.

.

Notes:

31 Tanggapan ke “Kecewa”


  1. 1 Ash Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 17:46

    Entah ini pertamaz atau premium..

    Bos kecewa.. sama siapa? Diri bos sendiri??

    *saya beneran bingung nih*

  2. 2 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 17:52

    Hmm… entri ini isinya lebih dari 1 (ketahuan ngga fokusnya), tapi salah satunya bisa dibilang begitu. :|

  3. 3 Cynanthia Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 17:58

    kecewa kenapa? Kayaknya tulisannya ngalor ngidul, mas :? .

  4. 5 Uchiha Miyu Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 18:42

    INTINYA kecewa napa sih, xal? -_-

    *nyomot gambarnya*

  5. 6 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 19:15

    Persepsikanlah sendiri. :P Analoginya ada disitu semua.

    Soal gambarnya, credits goes to Ashley. :mrgreen:

  6. 9 Unit 076 Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 19:35

    Ngga ngerti saya… Quatro…

  7. 11 celo =3 Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 20:58

    saiyah bervikir kerras… kenava trekbek ke saiyah sepverti ituwh…???

  8. 13 celo =3 Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 22:01

    saya kecewa, kau tak menjawab pertanyaanku…

  9. 14 Fare Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 22:04

    Tsk tsk tsk.

    Kata-kata yang bagus. Sangat. Penganalogian yang sempurna. Biasanya lo menganalogikannya ngalor-ngidul-entah-kemana(bertolak belakang dari postingnya cynanthia ya ^^;;).

    Yah, berjuanglah!

  10. 15 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 22:07

    @celo =3:
    Iya deh, hubungannya ada di nama blog ente. :mrgreen:

    @Fare:
    Terima kasih, jendral. :D

  11. 16 Hoek Soegirang Minggu, 16 Desember 2007 pukul 12:25

    aihhh…dikau sedang gundah gulana kah kawand?
    tafi saia ndak ngerti afa yang dikau gundahkan..
    gambar komik? perang? atau afa?
    *bzzttt*
    ups, maaf, otak saia korsledh

  12. 17 Xaliber von Reginhild Minggu, 16 Desember 2007 pukul 15:27

    Menyangkut kehidupan ini yang tidak jelas… :mrgreen:

  13. 19 Strife Leonhart (males login) Minggu, 16 Desember 2007 pukul 18:29

    Selesai ulangan langsung triple post nih?

  14. 20 Xaliber von Reginhild Minggu, 16 Desember 2007 pukul 21:33

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Sedang gundah, lebih tepatnya. :|

    @Strife Leonhart (males login):
    Tanpa sadar jadi hettrix posting. :P

  15. 21 Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji Senin, 17 Desember 2007 pukul 8:14

    “Ah, sejarah dan masa lalu memang lebih baik. Mungkin.”

    Walah, meratap mas?

    Even if you dissapointed, life goes on…

  16. 22 Xaliber von Reginhild Senin, 17 Desember 2007 pukul 18:06

    Yeah, whether it was wanted or not, it’s shall moving along. :roll:

  17. 23 Lemon S. Sile Selasa, 18 Desember 2007 pukul 9:04

    HAROM!!!

    Kampret! Kutu!!
    Sayangnya Anda TIDAK bisa menggambar. :lol:
    “kayak lu bisa aja, Nas”

    Jilat ludah sendiri Kau. Jadilah orang dungu!

  18. 24 Lemon S. Sile Selasa, 18 Desember 2007 pukul 9:17

    :lol: Udah, makanya mandiri….mandi sendiri…jangan bikin susah orang.

    Jangan sampai saya masuk neraka gara-gara Anda. Dan jangan ambigu antara kekuatan dan kelemahan.

  19. 25 Lemon S. Sile Selasa, 18 Desember 2007 pukul 9:19

    tanggung…hetriks ah

    seandainya melulu ach… padahal sehari-hari ngatain saya autis karena saya keseringan ngayal…

    Sadarilah ANda juga autis…eh…geek… :lol:

  20. 26 Xaliber von Reginhild Selasa, 18 Desember 2007 pukul 21:26

    @Lemon S. Sile:
    1. Saya tidak pernah menjilat ludah sendiri.. hanya beda waktu dan situasi. Pahami dari konteks yang lain, dong, katanya (calon) filsuf. :twisted: Apalagi ada Russel’s teapot disitu.

    2. Enak saja… :? Orang individualis kayak saya mah selalu berjalan sendiri sebelum cari teman buat ke Neraka… Kalau mau ke Neraka-nya bareng, itu biasanya karena saya khawatir tidak bisa melihat bayang-bayang Surga secara sepenuhnya.

    3. Setidaknya saya bukan pendiri 3A. Hahaha. :mrgreen:

  21. 27 Gojukai Jumat, 21 Desember 2007 pukul 7:35

    blogwalking… numpang baca2. lam kenal bang!!


  1. 1 Agh, Dasar Kambing! « Deathlock Lacak balik pada Jumat, 4 Januari 2008 pukul 0:42
  2. 2 Hampa? « Deathlock Lacak balik pada Jumat, 15 Februari 2008 pukul 1:33
  3. 3 Gunawan Rudy dot Com » I Have Lost My Religion Lacak balik pada Rabu, 27 Agustus 2008 pukul 15:44

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

RSS Alter Ego

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 111,758 soldiers