UAS, sudah. Lalu apa?

Ujian Akhir Semester I di sekolah saya akhirnya selesai. Memang cuma 5 hari sih, tapi yaa tetap saja berat. Wong namanya Ujian Akhir Semester… bahannya ya dari awal semester I sampai akhir semester itu juga. Tapi syukurlah hari yang penuh duka dan suka cita itu akhirnya sudah berlalu padahal kayaknya saya ngga belajar juga. :P

Nah, nah. UAS ‘kan sudah berakhir. Lalu ada apa lagi? Seperti biasa, saya akan kembali me-review peristiwa UAS semester ini, ada apa-apa saja yang sudah terjadi menjelang, ketika, dan sesudah UAS I tahun ini.

Menjelang UAS

Menjelang penyelenggaran Ujian Akhir Semester, sikap para pelajar di sekolah saya secara umum bisa dikategorikan jadi 2 tipe. Tipe kalang-kabut sama tipe santai-santai-saja.

Yang kalang-kabut biasanya bisa dikategorikan sebagai para pelajar yang berusaha belajar supaya berhasil di UAS. Termasuk juga yang menyicil pelajaran. Lho, kenapa yang menyicil pelajaran disebut kalang-kabut juga? Soalnya ritual yang identik dengan belajar demi UAS itu biasanya adalah fotokopi bahan-bahan materi, pinjam-meminjam catatan, dan lain-lain sebagainya. :mrgreen: Jadi yang menyicil juga saya masukkan disini, soalnya kesannya merepotkan sih. Buat yang belajar semalam suntuk di hari-hari terakhir menjelang UAS juga masuk tipe ini — masa ngga capek belajar sampai malam dengan materi segunung? :P

Satu lagi, tipe santai-santai-saja. Yang termasuk tipe ini adalah yang ngga belajar sama sekali, belajar sedikit saja, belajar sebagian, yang masih main game atau jalan-jalan, tukang main ke warnet, dan lain sebagainya. Pokoknya ngga seheboh tipe pertama; kalau dapat fotokopi catatan ya bagus, kalau ngga dapat ya ngga apa-apa. :P Berhubung ini masih saat-saat menjelang UAS, jadi yang paniknya baru setelah UAS tiba tetap terhitung golongan ini. :mrgreen:

Oke, itu kalau melihat dari reaksi para pelajar secara umum. Salah satu hal lain yang perlu diperhatikan menjelang UAS ini — terutama seminggu sebelum UAS — adalah meningkatnya jumlah maling di sekolah. Pelakunya bisa jadi siapa saja, tapi barang jarahan yang ramai peminatnya biasanya buku-buku catatan dan buku paket, serta fotokopian langka yang agak tebal halamannya.

Bahkan fotokopian sejarah saya yang berisi catatan-catatan dan teori-teori personal juga habis dirampas. :( Lebih miris lagi, biasanya nasib barang jarahan itu tidak lebih baik daripada sebelum dirampas… tapi itu lain cerita untuk sub-bab yang ini.

Poin-poin penting:

  • 2 reaksi umum menjelang UAS: kalang-kabut dan santai-santai-saja.
  • Jumlah maling di sekolah meningkat.

.

Ketika UAS

Oke, ini bagian paling menariknya… :mrgreen: Ketika hari pertama UAS dimulai, umumnya jumlah murid-murid tipe kedua akan menurun cukup drastis. Terutama kalau pelajarannya susah, mereka bisa jadi lebih kalang-kabut daripada tipe pertama seharusnya. Supaya lebih enak, lebih baik saya buat per poin saja apa hal-hal yang bisa ditemui ketika UAS.

» PG For the Win

UAS kali ini benar-benar didominasi oleh soal-soal Pilihan Ganda (PG). Bisa jadi alasannya gara-gara di Ujian Nasional nanti pemerintah akan memberikan mata pelajaran-mata pelajaran bernuansa esai seperti Sosiologi sebagai suguhannya, maka dari sekarang sudah dibiasakan dengan model pilihan ganda macamnya UN.

Imbasnya, pelajaran-pelajaran yang lebih enak menulis daripada membulat-bulatkan kertas macam Sosiologi, Sejarah, dan Kewarganegaraan pun jadi teracuni pilihan ganda (pengecualian buat Kewarganegaraan yang dari awal kelas XII memang… :P ). Tapi mungkin ini hanya penderitaan sepihak saja, mengingat jurusan Ilmu Alam kayaknya memang lebih enak pilihan ganda. :?

» Jumlah Maling Makin Meningkat

Dan barang jarahannya pun makin meluas. Tak hanya catatan yang metode penjarahannya makin mengganas, tapi peralatan-peralatan macamnya pensil 2B, penghapus, dan pulpen juga rasanya jadi objek derita. Bisa jadi karena meminjam tapi lupa dikembalikan, maupun memang niatnya ngga dikembalikan. :P

Nah, nah, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, bahwasanya nasib para catatan yang dijarah itu tidak sebaik sebelum dijarah. Ini yang saya rasa membuat miris. Ketika catatan sudah dibuat dengan susah payah oleh penulis aslinya, tiba-tiba saja muncul orang-antah-berantah-entah-darimana yang seenak jidat tangannya mencurinya dan menjadikan barang jarahan itu hanya sebagai bahan contekan ketika ulangan. Setelah ulangan itu selesai, masa bodo dengan catatannya. Ditinggal ngga apa-apa, disobek-sobek lebih oke supaya ngga ada bukti.

Kalau pun catatan itu ada yang berhasil selamat, biasanya bentuknya sudah tak terlihat jelas lagi bagaikan pencuri yang dihakimi massa hingga babak belur. Karena biasanya disembunyikan di kamar mandi, dan tahu sendiri seberapa basah dan kotor kamar mandi di Sekolah Menengah Atas. :( Ketika pemilik aslinya menemukan anak catatannya yang hilang itu, bangkainya pun sudah berbau busuk dan tak dikenali.

Yang rada menyedihkan, kerusuhan temporer ini kayaknya nyaris selalu terjadi setiap ulangan formal digelar.

» Para Pelajar Sering ‘Dipanggil Alam’

Saya ngga tahu ini gara-gara AC-nya yang dingin atau memang anak SMA hobinya bolak-balik ke kamar mandi… :lol: Tapi yang pasti ketika ulangan kayaknya cukup banyak pelajar yang hobinya ke kamar mandi. Waduh, bukannya membulat-bulatkan jawaban, malahan jadi rajin ke WC mereka. Mungkin kemarin kebanyakan minum susu basi? :P

Entah apa saja yang mereka lakukan di kamar mandi, mungkin Anda-Anda ada yang lebih tahu, pokoknya saya yakin seharusnya ada yang melihat peluang bisnis ini. Kalau mau cepat menghasilkan uang yang lumayan, jadi penjaga WC pas lagi UAS aja. Pasang tarif Rp250,00 per anak, saya yakin dalam seminggu bisa dapat lebih kurang Rp45.000,00 hanya dengan modal mantengin depan WC. :mrgreen:

» UAS Mengajarkan Cara Jadi Agen Rahasia

Kenapa tidak? Rupanya kalau mau jadi agen rahasia tak perlu repot-repot, cukup dengan menjalani UAS aja. :mrgreen: Kalau mau diperhatikan, coba saja lihat bagaimana teknik-teknik para murid yang menyebarkan jawaban. Ada yang dengan cara sok religius dengan mengucapkan takbir, “Allahu Akbar!” atau, “Bismillahirrahmanirrahim.”Ada juga yang mungkin sambil main suit jarak jauh. Atau ada yang sok bingung dengan menggaruk-garuk kepala sambil menyatakan peace.

Kalau takut dicurigai guru, rupanya cara-cara pengirim pesan rahasia di zaman feudal Jepang juga masih bisa diterapkan. Sentil sedikit kertas soal yang sudah dicorat-coret jawaban supaya jatuh ke lantai, lalu mintain tolong teman di bangku depan untuk mengambilnya. Teman yang mau mengambil kertas itu tinggal mengambilnya saja, tapi jangan lupa untuk menyenggol soal sendiri supaya ikutan jatuh. Selebihnya mudah. :mrgreen:

» Pelajar Didikan Textbook

Baru tadi siang saya mendapat pencerahan soal kenyataan ini. Kasusnya begini. Di mata pelajaran tadi siang, Sejarah, sebelumnya sudah diberi kisi-kisi bahwa soalnya mencakup mengapa reformasi Indonesia disebut prematur. Nah, sesaat sebelum tes dimulai, saya dapat sepucuk pertanyaan. “Kenapa Indonesia disebut prematur? Kan itu ngga ada di buku paket!” Nah lho. Memang ngga ada… wong disuruh cari referensi dari internet.

Dan ada satu lagi yang rada lucu. Di salah satu soal esai Sejarah (untungnya masih ada esai walaupun cuma 3 nomor), ada pertanyaan yang berbunyi, “Apakah kamu setuju Habibi adalah orang yang patut bertanggung jawab atas disintegrasi Timor Timur?” Lalu saya mendengar pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh salah seorang di ruangan saya, “Eh, nomor 3 itu jawabannya setuju atau ngga?” Waduh, takut jawabannya ngga seragam, mas? :mrgreen:

*note: Lemon S. Sile juga pernah menyaksikan kasus serupa :mrgreen: *

Oke, saya akui saya memang rada sinis soal nyontek-menyontek. Perkara soal ini memang sudah jadi santapan pagi di setiap sekolah dari zaman batu, tapi menurut saya dalam beberapa hal masalah ini tetap saja mengesalkan. :? Yang diincar oleh pelajar itu masih nilai, dan oleh karenanya saya sempat bilang bahwa sekolah itu ngga ada gunanya. “Pintar” iya, moral ngga ada. Teman dibelain meski beneran salah, musuh dilawan walaupun ngga punya salah. Praktek nepotisme sejak dini (lho, apa hubungannya ya)? :P

Tapi… ah, sudahlah. Wong lagi ngomongin UAS juga. :mrgreen:

.

Setelah UAS

Setelah badai ini berakhir, umumnya kembali ke aktifitas masing-masing seperti biasa. Ada yang kembali jalan-jalan ke mall, ada yang kembali nginep di warnet buat mantengin game online kesayangannya, ada yang kembali blogging, tapi ada juga yang aktifitasnya ngga terpengaruh UAS. :mrgreen: Pokoknya, merdeka.

…setidaknya untuk 1 hari itu. Biasanya menjelang akhir-akhir semester begini, guru-guru memberikan utang buat para muridnya demi melengkapi nilai rapor. Yah, meskipun biasanya sudah diberikan jauh hari sebelum UAS, tapi tahu sendiri lah… :mrgreen: Saya juga belum menyelesaikan semuanya sih.

Jadi kita kembali ke 2 tipe secara umum lagi. :mrgreen: Ada tipe pelajar yang rela-melengkapi-nilai dan ada tipe yang sebodo-amat. Yang tipe pertama, biasanya setelah UAS segera mengecek hasil-hasil UAS yang sudah keluar, check and recheck apakah ada nilai-nilai tugas yang kurang atau perlu remedial, dan kalau ternyata semuanya sudah beres barulah ia bisa bersantai ria.

Yang tipe kedua… mau ada tugas yang kurang atau nilainya dibawah SKM sekali pun, nggak atau belum peduli kayaknya. :P Semacam prioritas kedua bagi mereka — seenggaknya menurut saya ini bukan yang mendewakan nilai, jadi ngga benar-benar buruk. :mrgreen:

.

***

.

Sekian saja review kali ini. Simpel dan ngga begitu berbelit-belit kayaknya. Segala kekurangan dan kelebihannya, juga kalau ada kata-kata yang terlalu menyindir dan kurang berkenan, mohon dimaafkan dan diterima dengan tangan terbuka. :D

33 Tanggapan ke “UAS, sudah. Lalu apa?”


  1. 1 rozenesia Jumat, 14 Desember 2007 pukul 18:40

    Mas Adip Xaliber sing bagus dewe, pertamax to mas. :mrgreen:

  2. 2 rozenesia Jumat, 14 Desember 2007 pukul 18:43

    Pilihan Ganda… Emang standar UN bagusnya gitu sih. :?
    Masalahnya jika esai atau jawaban singkat, bisa misuh pas pengumuman hasilnya. Dikatain ndak fair lah, subjektif lah. Bla bla bla lah. :P

  3. 4 Xaliber von Reginhild Jumat, 14 Desember 2007 pukul 19:17

    @rozenesia:
    1. Selamat… :mrgreen:

    2. Ya, memang UN sebaiknya PG saja… Depdiknas juga repot meriksanya kalau esai. :mrgreen: Tapi kenapa Sosiologi jadi UN.. -_- Grah. Dan Ujian Semesteran lainnya pun kecipratan PG.

    3. Monggo, mas. :P

  4. 5 rozenesia Jumat, 14 Desember 2007 pukul 19:29

    Sosiologi jadi UN?
    Lha piye to mas? :?
    Taun lalu yang ndak lulus kan pada protes bilang kalo ndak adil cape-cape belajar banyak mata pelajaran tapi hanya ditentuin 3 doang. Nah taun ini dikabulin tuh. :lol:

    UTS dan UAS saya ndak ada PG, lho…. (namanya juga kuliah)

  5. 6 Xaliber von Reginhild Jumat, 14 Desember 2007 pukul 19:44

    Kalau saya sih mendingan 3 aja… udah cukup, deh (dengan syarat Ekonominya diganti Matematika). :P Kalau 6 kayak gini (plus Matematika, Sosiologi, dan Geografi) sih repot.

    …tapi benar juga ya. Dulu cuma 3, pada protes. Sekarang ada 6, protes juga. :P Haha. SMP bahkan IPA dijadikan UN.

    Kuliah sih enak, tergantung fakultasnya juga ya. :|

  6. 7 rozenesia Jumat, 14 Desember 2007 pukul 19:55

    Ekonomi diganti Matematika ya ndak mungkin to mas. :lol:

    Masalah e di IPS kan Ekonomi tu rasanya vital banget. :?
    Kalo mau Matematika yo wis masuk IPA. :lol:

    Semuanya pada protes ya karena bisa liat sisi negatifnya aja, padagal semua hal kan punya sisi negatif. Ya semuanya diprotes lah. :lol:

    Fakultas? Fakultas Sastra Mesin? :lol:

  7. 8 Xaliber von Reginhild Jumat, 14 Desember 2007 pukul 20:14

    Saya lebih suka Matematika daripada Ekonomi. :P Kalo menurut saya justru matematika lebih bisa dijadikan fundamen daripada ekonomi… :? Tapi IMO saja sih.

    Nanti, suatu saat, kapan-kapan, ngga tahu kapan, di masa depan, ketika UN ditiadakan (hore), apa bakal diprotes lagi ya? :P

    HI esai kan mainnya? Nulis-nulis enak. :mrgreen:

  8. 9 Hoek Soegirang Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 0:40

    “Entah apa saja yang mereka lakukan di kamar mandi, mungkin Anda-Anda ada yang lebih tahu,”
    aihhh…saia jadi maloe……
    *mantan felaku*

  9. 10 rozenesia Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 0:44

    IR (males sebut HI) semester awal emang banyakan esai sih (bleh, tinta bolpoinku habis buat UTS. 2 bolpoin pula)… Tapi kabarnya nanti saat udah konsentrasi Diplomasi Negosiasi (entah yang di Konsentrasi Pertahanan Keamanan) ujiannya banyak yang oral. :P

  10. 11 bangbadi Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 7:22

    aduuuh males banget deh kalo ujian. maleees banget

  11. 12 Ash Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 10:18

    Wow..saat UAS, di ruangan saya, entah mereka yang sekelas dengan saya atau yang tingkatnya dibawah kita, semua jadi dua kali lebih kreatif!!

    Hilarious..selain kode-kode ajaib yang ada-ada saja (ada yang sok-sok pinjam penghapus, bahkan sampai tukar soal yang telah dilingkari jawabannya sebelumnya!) ada beberapa orang di ruangan saya (siapa itu tak usah saya sebutkan lah) yang main contek-contekan pakai Handphone!!

    Saya jadi ingat dulu saat saya ikut try out di suatu bimbel, ruangannya kan diacak, jadi saya satu ruangan dengan orang-orang yang saat itu masih asing bagi saya. Mereka bertanya pada saya, “eh, elo punya nomor ‘3′ nggak?”

    Saya bukan mau promosi atau apa, pokoknya yang namanya ‘3′ itu kan katanya bisa SMS gratis ke sesamanya, nah, apakah bisa dimengerti cerita saya? Mereka ingin mencontek lewat HP tapi tak mau menghabiskan pulsa! :D Dasar anak muda jaman sekarang.. ck ck ck

  12. 13 Cynanthia Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 13:44

    UAS… gw masih harus nyusul 4 mapel lagi… :cry:
    Namanya ujian… nyontek mulu. Muak ngeliatnya.

    Soal nyontek, di sekolah saya mending (nyembunyiin hape di kaos kaki atau bikin fotokopian segede telapak tangan). Kalau di sekolah teman saya malah pada berani teriak gini: “Woi, soal no *sekian* sampai *sekian* jawabannya apa?”, sampai pengawas nggak bisa apa-apa.

    Tragisnya bangsa kita :(

  13. 14 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 15:00

    @Hoek Soegirang:
    Bagaimana? :P

    @rozenesia:
    Berapa lembar kertas folio tuh? Ujian lisan sih kurang enak, enakan nulis. :?

    @bangbadi:
    Sama. :mrgreen:

    @Ash:

    (ada yang sok-sok pinjam penghapus, bahkan sampai tukar soal yang telah dilingkari jawabannya sebelumnya!)

    Kalau di ruangan saya, cara yang kedua itu cukup populer pas ujian bahasa Jepang. :mrgreen:
    Haha, makanya ulangan bisa buat latihan untuk jadi agen-agen rahasia.. soalnya udah kepikiran metode-metodenya. :P

    @Cynanthia:
    Terkadang pengawasnya juga kurang tegas… saya cukup salut sama salah satu guru di sekolah saya (sekarang sudah ngga disini) yang berani untuk langsung merobek kertas ulangan murid-murid yang ketahuan curang. :D

  14. 15 Cynanthia Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 16:04

    Dirobek, bagus juga sih… =_=”

  15. 16 Ash Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 17:57

    @Si Bos:

    Guru? Siapa bos?

  16. 17 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 17:59

    @Cynanthia:
    Final solution. :P

    @Ash:
    Itu lho… pak Jappy. :mrgreen:

  17. 18 Ash Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 18:04

    Oh..karena dulu pas diawasin dia ruangan saya adem ayem saja makanya saya tak tahu kalau pak Jappy main sobek kalau ada yang nyontek..

    Tapi memang guru yang tegas begitu sih yang dibutuhkan.. kalau tidak begitu anak-anak nggak bakal kapok..
    Masa di ruangan saya gurunya diem aja meskipun ada anak ketahuan nyontek! Malah dicandain! Udah nggak bener nih..

  18. 19 Cynanthia Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 18:10

    bagus juga disobek. Tau rasa.
    Sebenarnya kalau kayak gini sistemnya, ya udah murid dibolehin Open Book. Hanya OB, nggak boleh nyontek. Jadi juga terbiasa baca, kan? :P

  19. 20 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 18:24

    @Ash:
    Iya, waktu itu korbannya kelas XII yang dulu waktu kita kelas X. Rada horor juga sih. :?

    Setuju, butuh guru yang benar-benar keras. Pak Marsono sebenarnya rada keras juga, tapi kalau soal beginian kayaknya agak toleran (atau ngga begitu peduliin)… Ketahuan nyontek, sekarang ini paling banter kayaknya cuma ditegur aja. :|

    @Cynanthia:
    Sistem OB sempat diterapkan pas UTS Sejarah. Sayang ngga bertahan lama, katanya gara-gara ngga disetujui kepala sekolah. :|

  20. 21 Uchiha Miyu Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 18:41

    Emg lega kalo hbs ulangan ya? :D

    Maling sewaktu ulangan emg nyebelin… Miyu pernah punya 1 pak pensil, hbs ulangan tinggal 1 doang.

  21. 22 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 19:29

    Ya, begitulah maling…
    *catatan sering hilang ditelan maling*

  22. 23 Unit 076 Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 19:41

    Iya tuh. Pulpen saya diembat sama **** (bukan bintang 4x tapi sensor)

  23. 24 rozenesia Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 20:03

    Ndak cuma ujian lisan, mas. Tapi praktek diplomasi. Jadi nggak tanya jawab gitu. Ini susahnya, soalnya selain oral, juga ada bahasa tubuh. *ngakak liat senior yang stress*

    :lol:

    1 MK paling ya habis 4 halaman folio bergaris…

  24. 25 Xaliber von Reginhild Sabtu, 15 Desember 2007 pukul 20:37

    @Unit 076:
    Begitulah.

    @rozenesia:
    Wah, berarti memang repot… :? Kalau jurusan yang ada politik-politiknya tapi ngga perlu banyak ngomong ada ngga ya? :roll:

    4 halaman.. berarti rekor ulangan esai saya masih 1/2 dari UASnya kuliah… :P

  25. 26 t4rum4 Selasa, 18 Desember 2007 pukul 12:39

    Udah uas??????
    Lalu……….
    MATI :p

  26. 27 Xaliber von Reginhild Selasa, 18 Desember 2007 pukul 18:18

    *ke dukun cari ajimat biar ngga mati* :P

  27. 28 coretansiidiot Senin, 24 Desember 2007 pukul 10:57

    Nyontek ya…

    HIDUP NYONTEK!!!

    buat apa blajar kalo bisa nyontek?? wakakakakakakakak

  28. 30 rEIKo - cHAn Minggu, 11 Mei 2008 pukul 12:09

    emang sich, aq jg mau UAS. niat untuk belajar aja udah males. aku ama best prenz ku cwo berniat nti pas UAS kta mau kerja sama. tp kmi msi ragu2 melakukannya. ada yg lbh aman ga cara nyonteknya

  29. 31 rEIKo - cHAn Minggu, 11 Mei 2008 pukul 12:14

    benernya bukan pas UAS aja kta contek2an. kbetulan aku ma best prenzku itu stu bangku. ya udah pas ul aku contek2 an. bahkan pas UUB juga

  30. 32 Xaliber von Reginhild Minggu, 11 Mei 2008 pukul 16:00

    Jangan kebanyakan nyontek, mbak, ngga sehat. :P (lho?)


  1. 1 Fallen and Torn Apart « Deathlock Lacak balik pada Rabu, 14 Mei 2008 pukul 18:01

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 97,276 soldiers