
“My, my… what happened to the internet?”
Barusan saya sedang menjelajahi Digg dan menemukan kasus lama yang (dengan keterlambatan saya) pernah saya komentari dulu. Kasus itu menyoal sebuah jasa forum hosting gratisan yang menginformasikan tentang dirilisnya versi baru dari engine forum yang mereka tampung. Sebenarnya awalnya, menurut saya, tidak ada masalah. Tapi masalah itu timbul ketika muncul seseorang yang mengritik aksi pemberitahuan tentang keberadaan software baru tersebut di situs Digg.
Menurut pendapatnya, perbuatan itu semacam spamvertising — iklan nyampah. Dan seperti yang sudah diduga, komentar-komentar selanjutnya pun bernada menghina satu sama lain dan debat kusir pun tak terelakkan. Masalah pun semakin parah ketika muncul orang-orang yang mengecam orang lain yang memberikan selamat atas dirilisnya engine baru tersebut.
Nah, itu hanya sekedar intro dari masalah yang mau saya bahas. Kalau membaca sendiri contoh kasus yang saya berikan diatas, kayaknya ngga begitu salah kalau saya bilang bahwa internet itu bisa mengakibatkan ketidakdewasaan dan kebodohan dalam bersikap.
Internet Trolls
Yang pasti paling enak dari internet itu adalah kenyataan bahwa sesungguhnya di internet itu kita adalah seorang anonim. Mau dibilang ada user ID kek, mau dibilang ada IP Address-nya kek, itu semua sama saja bohong selama ngga ada yang bisa melihat bentuk asli dari si penulis. Makanya sampai bisa muncul petuah dari Peter Steiner, bahwasanya:
“On the internet, nobody knows you’re a dog.”
Betuul sekali…. Mau kata itu data pribadi, IP Address, sampai foto sendiri, semuanya bisa direkayasa asal tahu caranya.
Nah, gara-gara anonimitas macam ini, maka muncul yang namanya internet trolls. Orang-orang kurang kerjaan di internet yang hobinya mengritik orang lain tapi tanpa saringan ikan. Mau ngomong, asal ceplas-ceplos aja. Yang penting misuh-misuh dulu, benar-nggaknya belakangan. Dan memang kemunculan para raksasa kata-kata itu bukan hal yang aneh lagi di internet. Memang sudah lama kayaknya.
Dari para troll inilah yang bisa menyebabkan imaturitas. Atau ketidakdewasaan. Soalnya orang mau ngomong apa, mau disensor juga ngga mudah. Buat kata-kata kasar sederhana macam (maaf) “fuck” aja masih bisa ditembus meskipun sudah ada sistem saringan word filter seperti di forum-forum internet. Dan orang-orang yang emosinya mudah tersulut oleh hal-hal sensitif macam itu, bisa saja kemudian langsung marah. Ujung-ujungnya adu mulut.
Dan imaturitas sendiri bisa timbul karena para troll, atau gara-gara ketemu sama mereka.
…
On the Way to Immaturity
Sebelumnya, saya cuma mau bilang bahwa penggunaan kata “ketidakdewasaan” ini bukan berarti saya sudah dewasa. Wong punya KTP aja belum, kok.
Cuma istilah gara-gara saya habis ngebaca kasus lama yang sempat saya singgung di atas, yang mana ributnya itu ngeributin “pihak mana yang belum dewasa.”
Nah, lanjut lagi. Berlanjut dari trolling tadi, rupanya jalan ini bisa membimbing ke sikap yang kekanak-kanakan. Karena wujud dari trolling itu sendiri bermacam-macam. Ada yang ngomong blak-blakan dengan kata kasar (tapi pointless), ada yang mencoba trolling dengan dukungan kutipan-kutipan orang terkenal (atau kutipan ahli agama juga bisa), dan mungkin ada juga yang secara ngga langsung — lewat satir atau sindiran misalnya. Berhubung mereka itu di internet tak akan kelihatan wujud aslinya pas lagi ngomong ngetik, maka itu makin mendukung keberanian mereka buat ngehina-hina orang.
Orang yang pendiam di dunia nyata juga bisa saja dakwah dan menghujat orang lain habis-habisan di internet. Meskipun alasan pendukungnya mungkin karena ia lebih ahli dalam komunikasi tertulis, toh alasan tidak-ketemu-secara-langsung itu pun juga menjadi salah satu faktor pendukung.
Saya rasa kalau ia mencoba menghujat orang lain secara langsung di dunia nyata, bisa-bisa ia digampar duluan.
Menyoal kembali bagaimana hal ini bisa menyebabkan ketidakdewasaan dalam bersikap, saya rasa cukup jelas. Berhubung orang itu anonim — dengan kata lain, invisible — maka kalau pun sewaktu-waktu ia balas dimaki-maki, mau kabur pun gampang. Tinggal lupakan komentar orang itu dan anggap-saja-saya-ga-pernah-kesini. Lempar masalah, sembunyi solusi. Beres, kan.
Nah, kalau pun makiannya itu mendapat cukup banyak supporter, bagaikan tim sepak bola yang punya ribuan pendukung, maka dia tinggal kembali misuh-misuh lagi. Cukup memperkuat posisi dengan menambahkan pendapat-pendapat dari para teman-teman pendukung. Buat para blogger, ini mungkin ada kaitannya dengan kebiasaan untuk bicara di belakang. Bisa jadi ujung-ujungnya si pemaki yang punya banyak supporter justru menertawakan lawannya, membuatnya jadi lawakan konyol setelah sebelumnya melakukan generalisasi negatif yang buta.
Itu kalau dalam contoh yang melibatkan komunitas ramai. Dalam artian, lebih dari 2 orang. Kalau misalnya dalam ruang lingkup yang lebih sempit, macamnya e-mail atau chatting personal di Yahoo! Messenger, biasanya bisa jadi lebih panas. Soalnya ngga ada pihak ketiga yang mengintervensi pertengkaran kedua belah pihak. Jadi bakal terus adu argumen sampai akhirnya menemui titik jenuh. Dan bukan tidak mungkin kalau di titik jenuh itu akhirnya ada salah satu yang nantangin ketemuan dan berantem di dunia nyata.
Woah, capek pakai otak, terus pakai otot, eh?
Kalau dua-duanya sama-sama gila, bisa jadi ujung-ujungnya malah berantem beneran. Tapi kalau salah satunya memang cuma bisa sesumbar di internet, biasanya dia — si sesumbar — akan kabur dari masalah itu dan pakai taktik jitu: lempar masalah sembunyi solusi.
Lain lagi kalau salah satunya bisa berpikir dengan intelek, biasanya ujung-ujungnya si penantang berantem malah gopek capek duluan.
. . .
. . .
…dan itu yang saya maksud dengan ketidakdewasaan.
Berangkat dari trolling, orang yang kena troll (maupun yang melakukan troll) kemudian menyimpulkan segala permasalahannya secara subjektif, taklid buta, mengakhiri masalah dengan cara yang tidak dewasa (atau justru hanya bisa melmpar masalah), dan macam-macam lainnya yang telah saya sebutkan diatas. Yang mana belum tentu bisa dilakukan dengan mulus tanpa hambatan di dunia nyata.
…
Pathway to Stupidity
Namanya juga internet, maka hampir tidak mungkin kalau mau menyaring dengan sempurna segala informasi yang beredar di dalamnya. Dari situs-situs dewasa hingga dakwa-dakwah agama fundamentalis, (hampir) semuanya ada di internet. Tergantung bagaimana konsumennya — dalam hal ini, pembaca — menyerap informasi-informasi yang terkandung di dalamnya.
Nah, bukannya tidak mungkin jika suatu ketika sang internet surfer menemukan berbagai informasi yang tidak diduga-duga. Seperti hoax yang misalnya berbunyi, “Spread this happiness message to 17 people, and God shall cast His divine light of happiness to you!” Oh wow, rupanya Tuhan pun sudah menjamah internet.
Bercanda. Pokoknya, intinya begitu — pesan-pesan yang meyakinkan orang agar menyebarkan pesan tersebut ke orang-orang lainnya dengan harapan ia akan menerima sesuatu sebagai imbalannya. Tentunya dengan kata-kata yang lebih meyakinkan.
Dari situ, bukannya tidak mungkin jika ada yang terpancing dengan pesan-pesan semacam itu. Misalnya pada remaja yang sedang dilanda asmara dengan hebatnya, mungkin saja bisa menyebarkan pesan yang bernada “cinta-cintaan” setelah secara kebetulan menerima pesan berantai tersebut dari temannya yang bernasib serupa. Disini taktik psikologisnya; adalah mudah untuk mempengaruhi orang yang sedang terlibat erat dengan emosinya.
Tapi itu hanya contoh sederhana. Dan itu pun masih gratis, cuma tulisan biasa. Bagaimana jika sudah berkaitan dengan fasilitas tertentu yang tak bisa diperoleh dengan gratis — dengan kata lain harus bayar? Ya, keadaan yang seperti ini yang bisa dimanfaatkan oleh oportunis bisnis. Bukankah sudah sering digembar-gemborkan di televisi, mengenai fasilitas tips cinta, ramalan horoskop, pesan dari artis, dan lain sebagainya yang bisa diakses lewat ponsel? Nah, sesungguhnya internet kembali bermain peran disini. Dan itu adalah pembodohan lainnya.
…oke, anggap saja Anda adalah orang yang rasional dan tidak bisa tertipu dengan berbagai macam hal murahan macam itu. Jangan salah, hal-hal yang tampak meyakinkan juga bisa menipu. Seperti misalnya hoax yang lebih meyakinkan, seperti tertulis sebagai berikut:
Bahaya Lensa Kontak
………Ketika dia sedang memanggang daging, dia memandangi terus bara api itu. Setelah beberapa detik kemudian, dia mulai berteriak minta tolong dan meloncat-loncat. Orang-orang disekitar tidak tahu kenapa…. Saat tiba di rumah sakit, dokter bilang kalau pemuda itu buta permanen akibat lensa kontak yang dipakai. Lensa kontak terbuat dari plastik dan hawa panas dari bara api telah melelehkan lensa kontak tsb. Kalo anda perduli, informasikan ke teman-2 anda……. JANGAN PAKAI LENSA KONTAK SAAT DIMANA BERHADAPAN HAWA PANAS DAN API
Meskipun tampaknya cukup meyakinkan, tapi sebenarnya itu adalah hoax.
Dan pembodohan ini mungkin ngga hanya terbatas pada berita-berita bohong saja — yang umumnya cukup kelihatan palsunya. Dakwah-dakwah agama yang cukup menyesatkan, jika mau dikatakan, sebenarnya juga merupakan (maaf) pembodohan tersendiri.
Untuk konteks yang lebih luas, situs-situs semacam Friendster juga bisa dibilang sebagai pembodohan. Argumennya, bagaimana bukan pembodohan jika sehari-hari hanya mencari foto-foto wanita cantik atau pria tampan yang mungkin hasil rekayasa digital? Bukanlah tidak mungkin jika, andaikan, seorang alien dari planet antah berantah memasang foto manusia di Friendster.
Tapi, memang, kegunaan ini kembali kepada sang pengguna masing-masing. Tidak bisa serta-merta disalahkan secara mutlak dan melakukan penggeneralisasian yang negatif.
Kembali lagi ke masalah trolling, rupanya para troll yang di dalamnya mengandung preman-preman internet ini juga bisa memunculkan pembodohan. Kondisi ini mungkin saja terjadi ketika muncul sesosok makhluk sok pintar yang, dengan arogannya, mengoreksi dengan gaya dewa kesalahan orang lain — biasanya masalah penggunan spelling dan grammar. Padahal, si makhluk ini tidak lebih pintar daripada orang yang dikoreksi. Justru ia mengumbar kebodohannya sendiri.
Biasanya kasus macam ini terjadi pada forum-forum internet, dimana sesosok makhluk “pintar” itu mempunya prestis yang lebih besar dibanding korban yang menurutnya “bodoh”. Bisa jadi si “pintar” itu adalah seorang moderator, atau sekedar anggota veteran yang punya jumlah posting lebih banyak — dan punya avatar. Maka, dia pikir, dia bisa memaki-maki orang lain seenak jidat jarinya.
Dan akibatnya, kalau perkelahian itu diteruskan, bisa menimbulkan ketidakdewasaan seperti yang saya sebutkan sebelumnya.
. . .
. . .
…dan itu maksud saya dari pembodohan. Tindakan-tindakan yang sebenarnya bisa menyesatkan orang lain. Terutama jika pancingan-pancingan psikologis macam ‘fasilitas ekstra’ (meskipun beberapa menghindar dengan alasan hanya untuk iseng) terlalu didewakan dipercaya dan sampai-sampai terjadi misinformasi.
…
***
Internet memang bukan barang baru, dan meskipun punya sisi positif, pengaruh negatifnya pasti selalu ada. Tinggal kembali ke diri masing-masing bagaimana menyikapi sisi-sisi negatif yang bisa datang dan ditimbulkan dari internet. Seperti kata Kopral Geddoe, hal macam ini adalah,
“Sisi gelap kebebasan informasi, di mana semua orang (yang nggak semuanya beradab) punya hak bicara yang sama.”



Yah, adu mulut di internet dan forum-forum bebas lainnya memang sulit untuk dihentikan selama penyulut apinya bebas berkomentar.
…tapi ketika penyulut apinya dibungkam, ia justru memaki-maki si moderator. Kadang-kadang dengan sebutan “tidak dewasa”, seperti yang terjadi pada contoh kasus yang saya berikan paling atas.
Kalau begitu, siapa yang immature?
Anonimitas kadang menyebalkan… ughh
Kalau secara harafiah, IMO kayaknya kita — di internet — selalu anonim, deh.
Siapa tahu Xaliber ini hanya sekedar tokoh rekaan, sementara saya yang sebenarnya itu justru om-om 40 tahun yang mengaku sebagai bocah SMA?
*tapi saya beneran masih SMA kok
*
Dua-duanya?
Berarti sistem IP itu harus dimodifikasi lagi. Bukan hanya menampilkan tempat dimana sang Troll mengakses blog kita, tetapi kalau bisa sidik jarinya (Itu harus pakai dukungan Keyboard) dan mengambil identitas dari KTP atau KK ornag bersangkutan.
Sayangnya hal tersebut masih dilarang. Katanya, demi privasi yang dilindungi.
Wah, kalau sudah ada macam itu, serasa kayak di film-film aja.
baru nyampe path way to stupidity udah males baca….
panjang sangadh….
kenapa nggak satu post hanya bahas satu bab aja sih…???
Tanpa sadar jadi panjang.
Sebenarnya intinya ada di On the Way Immaturity. Pathway to Stupidity hanya pelengkap supaya jadi 4 Sehat 5 Sempurna.
Sistem IP nggak bisa diotak atik lagi dari sananya. Sudah terlanjur seperti ini. Sebenarnya, anonimitas ini yang akhirnya berkembang hingga, seperti bisa dilihat, maraknya pornografi, flaming, spam dan penipuan.
Internet memang medium bagus dan tanpa batasan nyata. (kecepatan internet bisa lebih cepat dari 3 terrabyte per detik. Itu sama seperti mendownload 1500 DVD tiap detik, atau video streaming 60 frame per detik (tanpa kompresi, RGB) dengan resolusi 10 milyar x 7,9 milyar = nonton bola sampe kutu di rambut penonton kelihatan)
Anonimitas atau Privasi ???
Be skeptic, sir.
@steax:
Padahal awalnya cuma buat militer aja ya.
Dampak dari perkembangan teknologi…
@Strife Leonhart:
Anonimitas.
@rozenesia:
Scepticism, in this case, is a must.
Kirain soal lens itu beneran… >__>
Not mentioning viruses?
Orang yang pendiam di dunia nyata juga bisa saja dakwah dan menghujat orang lain habis-habisan di internet. –> pingin ketawa saja membaca ini
Tidak..tidak ada maksud apa-apa kok..
Anonimitas.. karena tahu itu saya tidak pernah percaya dengan orang di internet. Saya sendiri juga sering bohong sih di internet (haha, ketahuan busuknya) cuma bohong masalah gender kok, karena di beberapa situs saya mengaku bahwa saya adalah laki-laki
Bagaimanapun juga, menurut saya internet pantas digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan. Soal sosialisasi, saya rasa lebih baik di dunia nyata. Bukan berarti tidak boleh sosialisasi di dunia maya, hanya saja karena anonimitas itu, kita(atau saya, khususnya) jadi tidak tahu dengan orang seperti apa kita berhadapan.. bukan aplikasi sosial yang cukup bagus, menurut saya..
*bah, nggak bisa mikir berat-berat nih!*
@Uchiha Miyu:
Lens itu bohongan.
Ada Apa Dengan Virus? Kayaknya itu mengasah kreatifitas buat korban dan pelaku.
@Ash:
Sangat setuju!
Karena itu ada petuah dari Peter Steiner diatas. Dan “dog”nya juga bisa dijadikan ‘pengandaian sifat’.
Ngga usah dipikir terlalu berat.
Nah, menanggapi di atas, saya rasa malah internet memang bukan media pencari sosialisasi, tapi bisa berfungsi sebagai biang sosialisasi for real. Kopdar adalah titik puncaknya…
*komen orang yang berkali-kali ngalor-ngidul kopdaran di angkringan terus*
Dan
teh lautkopi darat hanya bisa dimungkinkan kalau jaraknya berdekatan. Atau terjangkau. Kalau ngga terjangkau rasa-rasanya agak sulit. Dan kembali lagi pada petuah Peter Steiner diatas, secara konkret dan abstrak.Tapi dalam beberapa hal, mungkin memang bisalah jika internet dijadikan perantara.
Ngomong2 soal Internet Trolls dan hoax, apa ada yang inget sang Internet Hate Machine 4chan?
Saya sering dengar, tapi belum pernah secara personal ke sana.
4chan… Umm, mungkin agak sedikit berbahaya tuh tempat, hehe.
Bayangkan suatu hari nanti, di mana Laptop sudah mengambil tempat HP – digeletak sana-sini, hilang yasudah, beli baru setiap beberapa bulan.
… Dan saat di mana Laptop sama dengan buku tulis zaman sekarang…
Waha, benar-benar mengerikan…
Menyontek pun jadi lebih mudah.
saya orang jujur lho. selalu menyertakan biodata dgn benar. sungguh mati!
@ Shelling Ford: Hoax…
Tapi narsis di dunia maya kok nyata ya aku liat beberapa kali pas ketemu…
Dan sayangnya beribu sayang, YK adalah tempat mayoritas blogger bermukim.

Jadi ingat, naik motor 3 jam ke Semarang, buat ngasih FD ke Fukutaichou Rokubantai.
Ya sudahlah…
@Shelling Ford:
…
@rozenesia:
Karena itu, dalam beberapa hal, internet masih tetap efektif.
@steax : Bahaya banget. Lihat artikelnya di http://en.wikipedia.org/wiki/4chan
4chan alias Yotsuba tuh kumpulan orang2 kurang ajar bin bodoh. Jangan pernah ke sana kecuali kamu mau di-ban ama ISP-nya.
Hmm, saya pernah beberapa kali ke sana dalam rangka pengejaran data mining dan hal sejenisnya… Harus diakui kalau tempat itu nggak menyenangkan. Tapi namanya juga internet…
Berbohong itu menyenangkan, namanya juga hidup, menipu atau ditipu -,-
Fufufu, internet juga merupakan pedang bermata dua…
@Cynanthia:
*ngelirik Wikipe*
Oh… I get it.
@steax:
Kembali ke kutipan Kopral Geddoe.
@Dream Maker:
Tapi tidak dengan hal-hal semacam ini.
Bisnis, politik, peperangan… semuanya juga memakai prinsip deception.
Hehehe….internet memang bisa menjadi apa saja, ketika teknologi itu berada di tangan orang-orang yang tidak tepat ya bisa menjadi sebuah MISPLACED TECHNOLOGY dan digunakan untuk hal-hal yang kurang tepat.
Dets rait.
Internet, Immaturity, and Stupidity…
hmmm..the tittles suits 4 me…weakakkaakak
Suits yourself then.