Terima kasih kepada Ashley atas komentarnya di tulisan sederhana saya sebelumnya yang berjudul “Mengapa Indonesia Tak Bisa Maju”. Karenanya, saya memutuskan untuk kembali menilik masalah lama yang setahun lalu sempat saya bahas, yaitu “‘Tekanan’ Kelompok Mayoritas”. Adapun pada penulisan kali ini akan disertai dengan improvisasi serta penggunaan bahasa yang lebih jelas, meskipun ide-ide pokoknya akan tetap berpondasi pada tulisan saya yang lama.
Jadi, bisa dibilang ini adalah sebuah revisi yang semoga dapat lebih menjelaskan pembaca apa poin yang mau saya sampaikan dari sebuah tinjauan sederhana yang dulu sempat saya tulis ini.
Sebelumnya, saya tekankan bahwa ini hanya berupa kajian sederhana dari apa yang saya lihat di lingkungan saya saja, jadi jangan heran jika ternyata ide pokoknya — yang muncul ketika saya masih kelas 2 SMA/kelas XI –justru terlalu umum dan sudah pernah dibahas oleh pakar sosiologi yang lahir sebelum saya.
***
Manusia adalah sebuah makhluk sosial, zoon politicon, dan oleh karenanya mereka tidak dapat hidup sendiri. Begitulah Aristotle, seorang filsuf Yunani kuno, pernah mengungkapkan pendapatnya mengenai manusia. Dan pada kenyataannya, apa yang pernah diucapkan oleh filsuf kuno itu memang benar. Manusia akan selalu membutuhkan manusia lainnya, dan atas dasar itulah terjadi interaksi atau hubungan timbal-balik antar manusia.
Dari interaksi antar satu manusia dengan manusia lainnya akan membawa mereka ke hubungan sosial yang lebih luas, membuat semacam rantai panjang yang menghubungkan satu sama lain. Maka dari interaksi itu terbentuklah sebuah komunitas sosial yang pada dasarnya dipersatukan oleh sebuah konsensus, sebuah kepentingan bersama, yang diinginkan oleh setiap anggota komunitasnya.
Dalam sebuah komunitas sosial itu, bukan tidak mungkin jika di dalamnya masih terdapat pengelompokan-pengelompokan yang berskala lebih sempit, yang mana tiap-tiap kelompoknya mempunyai sebuah kesamaan yang lebih mendetil dan lebih spesifik daripada konsensus secara umum yang tercipta dari sebuah komunitas sosial itu. Dengan itu, maka secara umum sebuah komunitas sosial masih dapat dipecah lagi menjadi dua bagian: kelompok mayoritas yang memiliki anggota dengan jumlah yang lebih banyak dan kelompok minoritas yang anggotanya berjumlah lebih sedikit. Hal ini rasa-rasanya masih tetap berlaku hingga sebuah kelompok yang paling sedikit terdiri atas tiga orang, dimana seorang individu yang berbeda dengan dua orang lainnya adalah minoritas sementara sisanya adalah mayoritas.
Apa yang bisa membagi suatu komunitas sosial sehingga bisa menjadi dua bagian tersebut? Alasannya cukup beragam, cukup banyak. Dari budaya, bahasa, kemampuan ekonomi, ideologi, gaya hidup, hingga genre musik yang disukai dan situasi temporer macam kemacetan bisa mengelompokan anggota dari sebuah komunitas sosial menjadi dua. Pengelompokan ini pada nantinya bisa menyebabkan kuasa kelompok mayoritas lebih besar dibandingkan yang lain, yang pada akhirnya menyebabkan tekanan opresif bagi kelompok yang cenderung tidak memiliki kuasa sebesar kelompok mayoritas.
Sekarang, mari kita masuk ke masalah utama dari tulisan ini, yaitu mengenai kekuatan opresif yang diberikan oleh kelompok mayoritas sendiri. Perlu diketahui bahwa dalam pembahasan kali ini, saya akan lebih menyempitkan kelompok-kelompok yang mendapat jatah dalam sebuah komunitas sosial berdasarkan kepentingan mereka masing-masing. Kelompok-kelompok tersebut ialah: kelompok mayoritas, kelompok minoritas, kelompok pendatang, dan pihak eksternal yang tidak terkait secara langsung dalam sebuah komunitas sosial itu sendiri.
Disini saya membedakan kelompok minoritas dengan kelompok pendatang yang notabene sama-sama memiliki jumlah lebih sedikit. Pembedaan ini dilakukan karena pada dasarnya, menurut saya, kelompok pendatang masih merupakan suatu kelompok netral yang menjalani tahap adaptasinya dalam menyesuaikan diri dengan kondisi komunitas sosial tersebut. Jadi nantinya kelompok pendatang yang pada awalnya masih benar-benar baru itu sendiri dapat tergabung dalam kelompok mayoritas maupun minoritas.
Sementara untuk kekuatan opresif yang diberikan oleh kelompok mayoritas dapat berdampak pada semua kelompok itu — termasuk berdampak bagi mereka sendiri.
Pertama mengenai kekuatan opresif mayoritas ke pihak minoritas. Tentunya hal ini, mau-tidak mau dan langsung-tidak langsung, akan selalu terjadi. Dalam setiap kondisi, keberadaan mayoritas akan lebih unggul dibanding keberadaan minoritas yang notabene berjumlah lebih sedikit. Kekuatan opresif yang diberikan oleh mayoritas sendiri bisa jadi berupa tekanan dalam berpendapat, tekanan secara fisik maupun secara mental. Contoh mudahnya berupa tekanan dalam berpendapat. Pendapat kaum mayoritas akan lebih dijadikan pertimbangan dan lebih diakui dibandingkan minoritas karena dianggap lebih mewakili keinginan dan kebutuhan dari suatu komunitas sosial. Untuk tekanan secara mental atau fisik, hal macam ini mungkin akan lebih ditemui dalam perkembangan kehidupan remaja. Hal ini misalnya dapat dilihat dalam dominasi sekelompok remaja yang dianggap lebih menguasai suatu lingkungan, yang mengakibatkan para pendominasi tersebut memberikan penghinaan tertentu kepada anggota kelompok minoritas yang dianggap sebagai bahan sekunder dalam kehidupannya.
Walaupun begitu, dalam beberapa kasus bukanlah tidak mungkin jika kelompok minoritas bisa lebih unggul dibandingkan kelompok mayoritas. Hal ini misalnya dapat terlihat jika mengambil sudut pandang negara, dimana kaum kapitalis yang bertindak sebagai pemilik modal akan lebih diakui dibandingkan kaum proletariat yang sesungguhnya berjumlah lebih banyak dibandingkan para pemilik modal tersebut. Namun itu hanyalah sebagian kecil yang diluar kebiasaan, dan secara umum, mayoritas akan selalu lebih mendominasi medan dibandingkan minoritas.
Sekarang, kedua, mengenai dampak dari kekuatan opresif kelompok mayoritas ke kelompok pendatang baru. Ini bisa dibilang merupakan hal yang wajar dan cukup umum, terutama dalam pergaulan sosial antar manusia. Sewajarnya, jika terdapat pendatang baru dalam sebuah komunitas sosial, mereka harus melakukan suatu proses adaptasi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda dengan sebelumnya. Disini, kekuatan opresif kaum mayoritas kembali memainkan perannya. Agar bisa diterima di suatu komunitas, tentu pendatang berusaha untuk bersosialisasi. Dan proses sosialisasi itu sendiri biasanya akan diterapkan pada kaum mayoritas yang notabene berjumlah lebih banyak dibandingkan kaum minoritas. Sehingga kehidupan di tempat baru yang dirasakan oleh kelompok pendatang adalah suasana kehidupan yang dipraktekkan oleh kelompok mayoritas, yang mana lambat laun kelompok pendatang akan mengikuti dan bergabung dengan kaum mayoritas. Jika mereka tidak mampu beradaptasi, misalkan saja karena prasyarat-prasyarat yang diberikan kaum mayoritas terkesan tidak masuk akal, maka mereka dengan sendirinya akan tergolong dalam kelompok minoritas.
Apakah penerapan teori kelompok pendatang baru ini pada prakteknya hanya terbatas pada pergaulan sosial saja? Tidak juga. Hal ini bisa diimplikasikan pada kegiatan sehari-hari yang sederhana. Misalnya saja di suatu jalan raya terdapat sebuah kemacetan yang panjang, dan seorang pengendara motor yang tidak tahu-menahu mengenai kemacetan tersebut santai saja mengambil tikungan yang menuntun ia ke dalamnya. Ketika ia dihadapi dengan kondisi kemacetan yang tak terduga, maka ia — sebagai pendatang baru — dapat memilih: mengantri kemacetan layaknya belasan pengendara lainnya meskipun sambil memaki-maki dan membunyikan klakson, atau langsung saja menerobos jalan dengan harapan bisa cepat bebas dari siksa “komunitas kemacetan” tersebut. Dan ini apa yang saya maksud dari apa yang saya sebutkan di paragraf awal.
Kekuatan opresif yang dimiliki oleh kelompok mayoritas juga menjalar hingga ke pihak eksternal yang tidak secara langsung terkait dengan komunitas sosial yang mengandung kelompok mayoritas yang dimaksud di dalamnya. Siapakah pihak eksternal tersebut? Mereka adalah “orang luar”; sebuah komunitas sosial lain yang berada diluar komunitas sosial yang sedang dibahas, maupun individu yang tidak terkait secara langsung dengan komunitas sosial yang sedang dibahas di dalamnya. Dan apakah wujud kekuatan opresif yang diberikan oleh kelompok mayoritas kepada mereka? Beberapa diantaranya adalah tekanan dalam mengambil keputusan dan memberikan pendapat — tentunya yang dimaksud disini adalah keputusan dan pendapat dari pihak eksternal.
Misalnya di sebuah negara, terdapat segerombolan rakyat yang sering melakukan aksi demonstrasi yang tidak terorganisir. Dan dalam hal ini, rakyat adalah komunitas sosial yang dimaksud. Akibat dari aksi demonstrasi rakyat yang sembrono itu, rakyat dari negara lain, atau bahkan pemerintahan negara tersebut — sebagai pihak eksternal — justru memberikan stempel negatif kepada rakyat yang bertindak sebagai komunitas sosial itu dikarenakan aksi demonstrasinya yang seenaknya sendiri. Padahal belum tentu seluruh anggota masyarakatnya bersifat begitu, dan tidak jarang ini pada akhirnya menimbulkan generalisasi yang negatif.
Terakhir, dampak dari kekuatan opresif ini bagi sang kelompok mayoritas sendiri. Bukannya tidak mungkin jika suatu saat jumlah kelompok mayoritas ini benar-benar besar, mereka pada akhirnya menganggap apa yang mereka anggap itu yang paling benar dan melupakan yang lain. Tidak, ini tidak hanya terbatas bagi kaum fundamentalis agama yang ortodoks. Namun hal ini rasanya juga berlaku untuk setiap komunitas sosial dengan overconfidence tinggi, yang menyebabkan kadang menimbulkan aksi negatif di dalam kelompok mayoritas itu sendiri. Misalnya dalam suatu kemacetan di jalan raya, jika mayoritas orang yang terjebak dalam kemacetan itu sudah terbiasa untuk berbuat sesuka hatinya sendiri, bisa saja timbul sikap keras kepala dan tidak mau mengalah agar ada salah satu dari mereka yang terbebas terlebih dahulu.
***
Itulah sekilas kajian dari apa yang saya maksud dengan kekuatan opresif — atau tekanan — dari sebuah kelompok mayoritas. Penggunaan kata-kata opresif serta berbagai kata yang berkonotasi negatif disini bukan bermaksud untuk merendahkan kaum mayoritas. Hanya saja, tulisan kali ini ingin menegaskan bahwa pengaruh mayoritas sangatlah kuat, sehingga terkadang tanpa disadari kekuatan tersebut terlalu menekan minoritas atau justru menimbulkan stigma negatif bagi pihak eksternal yang kurang mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya dalam suatu komunitas sosial.
…



Wah, panjang juga.
Tutup gerbang pertamax dulu ah (kayak ada yang mau pertamax aja).
apa hubungannya dengan entri saya?
pura-pura bego.
paham enri saya rupanya…atau tidak?
Mengerti.
Sekarang, berkomentarlah.
Memang masuk akal sih…
Kaum yang kalah akan mengikuti segala perilaku kaum yang menang karena secara tidak sadar, mereka menganggap hal itu akan menghilangkan faktor-faktor kekalahan mereka.
Padahal hanya orangmandiri yang akan menjadi pemenang.
Panjaaaaang….
Sebenernya fitur snapshot halaman di wordpress itu emang udah fiturnya atau kita sendiri yang nambahinsih?
* komen selanjutnya nyusul habis gw baca *
crowd gitu yah..
Kweh!… fanzang…. ya, yang penting kita harus bisa mencoba “be Yourself”.
Ahhh… gw gak paham!!!!
* kabur *
Ya..ya.. pertama-tama ya, bos.. coba cek paragraf ke-12 dari atas, Walaupun begitu, dalam beberapa kasus bukanlah tidak mungkin jika kelompok minoritas bisa lebih unggul dibandingkan kelompok minoritas.
Bukannya harusnya “minoritas bisa lebih unggul dibandingkan kelompok mayoritas” ya..?? ya nggak sih??
*tidak penting*
Wow.. kalau kelompok mayoritasnya positif sih tidak masalah, bagus malah.. tapi kalau mayoritasnya negatif kan bahaya tuh ya..
Hm..makanya wajar ya kalau anak pendiam introvert main ke diskotik keluar-keluarnya jadi anak ‘gaul’.. termasuk tekanan kelompok mayoritas nggak ya itu??
@yarza:
Kalau pun diposisikan sebagai minoritas, tak perlu lah terpengaruh mayoritas.
Pohon yang tak mudah tumbang adalah pohon yang berakar kuat.
@Strife Leonhart:
1. Dari sananya, tapi bisa dipilih mau dinyalain atau dimatiin.
@myresource:
Persepsi mayoritas dan minoritasnya juga berbeda tergantung klasifikasi.
Hmm… crowd sendiri kan merupakan salah satu bentuk komunitas sosial juga, meskipun memang berantakan.
@Magister of Chaos:
Yang agak kurang bagus adalah efek mayoritas ke pihak eksternal.
Setuju.
@Strife Leonhart:
Ash:
Waduh, maaf salah. Terima kasih (sekali lagi) mengingatkan.
Iya, macamnya yang kayak gitu juga bisa dibilang pengaruh mayoritas.
*kesummon*
Weh, panjang. Baca entar aja.
Lalu?
Komunitas blogger Indonesia termasuk mayoritas atau minoritas dibandingkan dengan komunitas lainnya? Atau malah pendatang?
1. Silakan.
Karena dalam komunitas blogger Indonesia sendiri (sebatas WP saja), kayaknya sudah ada terbagi-bagi lagi jadi mayoritas-minoritas, de es be.
2. Hmm, kayaknya tergantung. Komunitas blogger Indonesia yang dibahas disini itu berarti merupakan bagian dari komunitas lainnya yang lebih besar. Tapi komunitas apa?
Komunitas Indonesia umumnya sudah seperti dalam gennya untuk memencar menjadi beberapa kelompok besar, dan orang antara takut atau merasa tidak perlu untuk memulai kelompok baru. Nyamung-nyambung ke urbanisasi dan sistematika pemilu kalau urusan ini diteruskan.
Nda perlu seribet itu.
Kelompok mayoritas memang kuat, tetapi tidak selamanya benar.
Yang perlu dibahas lebih lanjut adalah bagaimana awal terbentuknya kelompok-mayoritas-yang-tidak-selalu-benar itu.
Kalau menurut dugaan saya, itu masalah keanggotaan. Dalam suatu kelompok mayoritas, di dalamnya berisikan pihak-pihak yang cukup berpengaruh, dalam arti mempunyai kemampuan yang terbilang efektif untuk mempengaruhi pikiran orang-orang lain. Mungkin mereka-mereka inilah yang memprakarsai terbentuknya kelompok mayoritas. Mereka yang mulai menciptakan suatu gagasan, mencari anggota, menjalin interaksi sedemikian rupa, membentuk suatu jaringan hingga lahirlah kelompok besar tersebut. Untuk sementara ini, dapat dikatakan bahwa dalam suatu kelompok mayoritas tidak semua unsur di dalamnya memiliki pengaruh yang sama besar, hanya beberapa, alias perintis-perintis kelompok itu sendiri. Sisanya, atau yang dikatakan kelompok pendatang yang cenderung memilih mayoritas, hanya sebagai pengikut karena mungkin menganggap jumlah anggota suatu kelompok menggambarkan mutu kelompok tersebut. Semakin banyak anggota, semakin baik, begitu mungkin pandangan mereka.
Itu tadi kalau menilik awal terbentuknya kelompok mayoritas. Lebih lanjut, di balik itu semua, kejadian lain bisa terjadi. Secara akal sehat, dengan seluruh anggota yang berperan secara maksimal dalam suatu kelompok minoritas, bukan tidak mungkin mereka dapat menandingi kelompok mayoritas, walaupun kayaknya jarang sekali terjadi. Bahkan dengan semangat perjuangan yang sangat tinggi, perlahan-lahan menjadi perkumpulan yang lebih besar dibandingkan si mayor, inipun lebih fantastis lagi.
Masuk ke rangkaian kesimpulan. Untuk mempermudah pendeskripsian, saya mau katakan bahwa kelompok mayoritas adalah mainstream, sedangkan minoritas adalah anti-mainstream. Analogi praktisnya begini, misalnya ada sebuah sungai. Dalam sungai tersebut mainstream/arus utama sangat berpengaruh, bisa menyeret apapun ke mana saja ia mau tanpa dapat terkendali. Kelompok mayoritas kurang lebih seperti itu.
Jadi, tergantung pendirian masing-masing. Kalau pendirian seseorang cukup baik, tentunya dia akan dapat memilih, mau ikut mayoritas atau alternatif lain. Selama masih cocok dan nyaman, mainstream bisa diambil. Tapi, kalau ada ide lain yang lebih revolusioner, kenapa tidak dicoba.
Atau ada pandangan lain?
Yep itu dia. Penggambaran saya juga serupa dengan mas, tapi mungkin ngga begitu eksplisit ditemukan di tulisan ini. Versi berantakannya mungkin bisa dilihat di versinya yang lama…
Pencetus kelompok mayoritas itu memang pada awalnya hanya segelintir minoritas, tapi karena idenya diakui dan dianggap sebagai ‘general agreement’ oleh segelintir orang-orang lainnya yang banyak, makanya dia bisa muncul sebagai mayoritas.
Tapi ketika minoritas itu bisa mengalahkan kekuatan mayoritas, di saat itu pula mereka perlahan-lahan berubah jadi mayoritas.
Ibaratnya, ini seperti sebuah ledakan di tengah kemacetan jalan raya. Ketika ada mobil yang tersulut api, dan kemudian meledak, maka ledakannya akan mempengaruhi kendaraan di dekatnya. Kemudian kendaraan di dekatnya akan ikut terbakar dan meledak, lalu yang lainnya juga, yang lainnya juga, dan seterusnya… ‘General agreement’nya disini bisa dikatakan adalah api, sebagai medianya. Lalu kendaraan yang selamat dari ledakan itulah yang jadi minoritas (andaikan ledakannya heboh hingga meluluhlantakan banyak kendaraan, kayak film The Eye kayaknya).
(analoginya pas ngga ya?
)