
Grah. Berhubung niat awal kemarin rada terlalu berantakan, akhirnya saya putuskan untuk lebih dispesialisasikan saja. Buat yang ngga tertarik entri kali ini, silakan lihat dan gunakan entri kemarin. Tapi buat yang masih tertarik silakan dilihat.
Ngga begitu mengharapkan adanya junk…
…
Di padang rumput luas terhampar
Nisan kelabu banyak tersebar
Dengan tubuh-tubuh terkapar
Di dalamnya, kubur dunia terlempar
Masa berlalu, waktu berganti
Bukan membiarkan yang tak perhati
Namun menoreh ingatan di hati
Catatan peninggalan sebuah memori
Mereka, yang terlupakan oleh sejarah
Namanya memberi ingatan bertuah
Terlupakan oleh belaian bermewah
Untuk terkujur beku, terhapus darah
Dunia berubah, masa berlalu
Lantunan juang terhapus waktu
Tercatat oleh yang merasakan pelu
Terlupa oleh perasa hidup baru
Tersisa hanya untuk membeku
…
Ketika tunas menerobos tanah
Melihat cahaya terang secercah
Berharap sinar yang cerah
Hanya bertemu awan kelabu terarah
Tak ada yang benar kumau
Tak ada kecuali satu
Air yang tersiram biru
Murni, suci, tak lagi kaku beku
Tersadar, tumbuh dari berharap
Menyibak awan kelabu gelap
Benar secercah terpancar kerap
Sayang,
Hanya setitik harap
Menumbuhkan kekecilan yang silap
…
Ah, sejarah lalu yang kelam
Tersembunyi bagai gelapnya malam
Terlupakan hingga menghitam
Pahit rasa oleh yang silam
Ah, harapan yang kosong
Tersembunyi bagai panjang lorong
Berkilau secercah kilau gorong
Pahit rasa oleh yang melolong
…
Akhir tak untuk menyambung
Awal bukan pula bersambung
Awan duka ikut berkabung
Harapan lalu hanya berhubung
Bukan untuk apa
Bukan pula dikata
Berada di ujung jala
Tak lepas dari petaka
…
Orang bilang ia malaikat
Yang lain bilang ia keparat
Merogoh waktu hingga sekarat
Melihat tersirat apa yang tersurat
Aku tak ambil peduli
Apa ia benar berhati
Atau hanya akan berjanji
Tapi ia benar mendatangi
Atas pilihan hakiki
…
Tamatlah, berita seorang pemuda
Yang tersekap dalam derita
Sementara atau selamanya
Berjalan diatas bara
Yang terselimuti katun tak terkira
…
PS: Puisi rada aneh diatas belum ada judulnya, berhubung isinya sebenarnya rada banyak. Saya ngga tahu apakah sebenarnya ini dibolehkan atau tidak dalam tata bahasa.
Dan harap maklum kalau bentuknya terlihat berantakan, aneh, dan tak sebagus bang Lemon atau mas roze. Maklum, masih baru dalam hal semacam ini, apalagi ini dibuatnya hanya +10 menit sambil diketik.
Baidewei, akhirnya saya secara resmi bisa menulis angka 1991 sebagai tahun kelahiran di berbagai media.
Seperti Friendster, misalnya.



Ah iya.. setelah melihat beberapa puisi karya si Bos, saya baru sadar (waduh) bos seringnya pakai gaya puisi lama ya? Yang rimanya sama, satu bait A semua, bait lain B semua, dan seterusnya..
*nggak penting*
Ya, saya tahu saya telat, seperti yang telah saya tulis di komen Friendster Anda. Tapi, selamat ulang tahun, Bos. Manfaatkan sisa umur dengan hal-hal yang positif.. berinteraksi sosial secara langsung, misalnya..
*kabur*
Sempat amat malam2 nulis poem! 10 menit pula! Keren lg! ><
“Baidewei, akhirnya saya secara resmi bisa menulis angka 1991 sebagai tahun kelahiran di berbagai media.”
Is it my fault…? O_O
nggak nyampah dulu ahh…
hari sabtu waktunya libur
met ultah…
tipe puisinya mirip saya
Apa ini puisi lama, tapi kata-katanya banyak yang modern sih.
Nggak kayak saya aja? Nggak peduli mengenai puisi lama atau baru, yang penting nulis…
uhmmm OOT
*salam kenal aja*
@Ash:
Soalnya lebih enak, lebih keliatan pas.
Tengkyu. ^^
@Uchiha Miyu:
Bukan salah siapa-siapa, cuma ngetrekbek aja.
@saya:
Thank god, thank you (too).
@Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny:
Maklum, masih baru dalam hal berpuisi (tadinya justru saya paling ngga suka puisi).
Saya ngga bilang ini puisi lama, tapi polanya memang puisi lama.
Saya cuma suka sama polanya yang teratur, keliatannya enak.
@almascatie:
Salam kenal juga.
Dasar primordialis…
Helehkeblek. Ngomong sejarah mlulu Anda ya?
Diksinya agak ga sesuai sama otak saya.
btw, seenaknya bilang Bang Lemon!
@Abu-blalala…*ribet*:
Setuju, yang penting nulis aja…
Memang sih kalau rima sama bagus.
Tapi entah kenapa pas dibaca kok rada ndak enak di lidah ya?
@Lemon S. Sile
Ada lain-lain…
Isinya tak hanya sejarah kok.
Maunya Bung Lemon?
Grah, kok situ jadi hetriks?
Kayaknya tetap enak-enak saja… entah kenapa kayak ada yang “lebih” kalo berima sama.
@Xaliber:
engga denger~ engga denger~
Lu bawel sih makanya jd hetrik. sekarang empat
…jangan junk.
Tapi masih bisa ditolerir sih. God (have) Save(d) the King.
Puisinya keren, bro..
Tapi, apa gak kepanjangan tuh?
Subhanallahh!!! [junk mode: ON]
@qzink666:
Terlalu banyak yang mau dimuat sih.
Tengkyu…
Iya, memang rada kepanjangan. Susunannya juga agak berantakan.
@Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny:
…astagfirullah. Jangan junk, ya akhi…
keren !! XD
wah keren.. keren. Bikin mainstream baru: PLOG (puisi log). Hehehehe.
Tadinya mau khotbah lagi, tapi ya sudahlah. Kasihan.
apdett ya akhi
Naudzubillah!!!!
@eMina:
Thx. Tapi masih pemula ini…
@hariadhi:
Saya kurang cocok buat PLOG, ada yang kayaknya lebih suka buat puisi.
Makasih, mas.
@rozenesia:
Kasihanilah sang pemula.
@Abu Kuda Al-Laknatullahharromanirrojim:
Apa yang mau diapdet?
@Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny:
…min dzalik. Kok?
pemula…???
dari hongkong…???
kalo spam nya nggak diaktifin komennya udah 3000an lebih itu….
blogg seperti ini kok pemula…
yang pemula itu saya kali…!!!
hooo…
fuisi……
ndak muden saia
Seumur donk kita…
Bagus jg tugh puisinya, sory gk bisa komen.. gw bacanya ntar d rumah. Biar hemat biaya geto
Patriotik banget blognya yah?
bloggnya patriotik…???
ya alhi tobatlah engkau sesegera mungkin…
seharusnya bloggmu itu bercorak agama…janganlah engkau membuat kerusakan di mu…*ditendang ampe mampus*
lagunya kok panjang amat ya mas?
@Abu Kuda:
1. Saya pemula. Tak banyak yang kenal, kan?
Kebanyakan trefik aja.
@hoek:
Sekedar melepas lelah (?).
Nda afa-afa.
@Strife Leonhart:
Ngga juga ah, blog biasa.
Saya keluaran tahun 1991, saya lebih muda kayaknya.
@Abu Kuda:
2. Sst.
@ardians:
Puisi aneh.
Ini puisi, kok, pak.