Saya barusan jalan-jalan di dunia maya yang dikenal dengan nama internet, dan menemukan beberapa hal yang menarik. Yah, seperti sebelumnya, sebenarnya ide pokok dari tulisan ini sudah terpikir sejak lama. Bahkan sudah mau saya tulis dengan judul tulisan yang berbeda; yang mana saya urungkan niat itu hingga sekarang. Tapi akhirnya, karena dipicu oleh beberapa hal ini-dan-itu, akhirnya saya tuliskan saja.
Begini lho.
Dalam berkehidupan di dunia ini, tentu sebagai makhluk sosial kita saling berinteraksi dengan orang lain. Entah itu di dunia nyata seperti kehidupan di sekolah, maupun di dunia maya seperti kehidupan di blog-o-sphere. Dari interaksi-interaksi yang di dalamnya mengandung pelemparan pendapat dari masing-masing individu yang berinteraksi satu sama lain, tentunya pembicaraan tak akan selamanya berjalan mulus. Ada kalanya ditemui yang namanya perbedaan pendapat.
Setiap orang jelas berbeda caranya dalam mengatasi perbedaan pendapat tersebut. Ada yang mengatasinya dengan kalem-kalem saja, ada pula yang mungkin lebih sering menggunakan ad hominem — entah disadari atau tidak. Yah, itu semua cara orang masing-masing lah. Saya tidak mau sok suci, sok bijak, atau sok benar dengan bersikap fallacious maupun dengan menyindir secara satir untuk menyikapi hal ini — setidaknya pada kesempatan kali ini.
Dari perbedaan pendapat tersebut, bisa saja berlanjut jadi konflik yang lebih besar. Bisa saja konflik tersebut cenderung berupa pertikaian yang menghebohkan. Bisa saja jadi saling berargumen dan memberikan pendapat yang keras. Bahkan kalau sudah keterlaluan, mungkin sampai-sampai konfliknya ‘meledak’ macamnya permasalahan boleh-tidaknya gambar-gambar bernyawa. Hal-hal itu kemudian bisa saja menimbulkan kebencian, ketidaksukaan, atau dengan kata lain: pandangan-pandangan yang negatif.
Nah, itulah poin yang mau saya tangkap. Segala bentuk ketidaksukaan itu yang kadang bisa menyesatkan pikiran seseorang. Setidaknya, pikiran saya. Kalau sudah mendengar yang dicap sebagai hal buruk, jatuhnya pikiran yang negatif. Seperti kasus yang mungkin sempat menimpa blog-o-sphere, perkara Ratu Adil Satria Pinandhita yang kemudian dilabel sesat. Kalau Anda kurang tahu kasusnya, mungkin saya suguhkan saja sedikit contoh dialog lain yang menggambarkan apa yang saya maksud:
Orang 1: Eh, katanya si ABC ada teknologi baru yang memanfaatkan air sebagai bahan bakar tuh!
Orang 2: Masa? Dia mah tukang ngibul, jangan percaya. Dia mah apa aja dijadiin kibulan.
Apa poinnya? Bisa dikatakan, kebiasaan untuk menggeneralisasir secara negatif pendapat yang diucapkan oleh seorang yang kita cap negatif. Jika seseorang yang dianggap sebagai lakon utama segala keburukan itu sudah berkoar-koar, kita lantas saja segera mengecap buruk orang tersebut. Menyatakannya sebagai orang yang tidak bisa percaya, menyindirnya, atau bahkan hanya menganggapnya sebagai sekedar lelucon.
Hal ini mungkin bisa saja diperburuk jika kita mendapat dukungan dari orang-orang yang sependapat. Orang yang sudah kita cap negatif itu bisa saja justru kita kucilkan dan diabaikan karena kita merasa sudah ada orang lain yang sependapat dengan kita. Sudah ada backingan, istilahnya.
Tapi apakah hal semacam ini hanya terbatas bagi orang yang terlibat konflik langsung dengan yang-dicap-buruk tersebut? Kelihatannya tidak juga. Ada kalanya kita cukup mendengar keburukan-keburukan orang yang dimaksud itu dari orang lain. Kita cukup mendengar, dan jika orang itu merupakan orang yang kita kenal maka kita bisa saja langsung mencap buruk pula sang korban. Bisa jadi kita memang sependapat dengan sang sumber berita bahwa si korban itu buruk, bisa jadi kita terpengaruh penceritaan sang sumber berita yang (mungkin hanya) setengah-setengah, atau bisa saja kita hanya sekedar ikut-ikutan hal yang sedang populer di komunitas kala itu tanpa tahu seluk beluk masalah yang dimaksud.
Itulah yang sering jadi masalah. Terkadang kita menutup objektifitas kita dalam melihat seseorang, dan sebaliknya justru membuka subjektifitas lebar-lebar. Jika kita sudah mencap bahwa seseorang itu buruk, maka ya dia benar-benar buruk. Kalaupun ada kebenaran yang dia tuliskan, biasanya itu dianggap buruk juga. Kalau pun dirasa benar, biasanya cenderung kita lupakan atau diabaikan — biar semua orang tak perlu tahu dan memperkuat pendapat buruk kita mengenai dia.
Padahal, ada kalanya juga si-orang-yang-dicap-buruk itu bisa berkata benar, berkata suatu hal yang sebenarnya tidak salah sama sekali dan justru sebenarnya bisa berguna bagi orang banyak. Namun apa yang terjadi? Terkadang kita tak mau mengakui bahwa orang itu benar. Terkadang kita tetap saja menyindirnya dengan gaya bahasa satir. Terkadang kita melupakan kebaikan yang telah diperbuat oleh orang itu dan mengangkat-angkat keburukan masa lalu yang telah dilakukan olehnya.
Kasarnya, kita justru melakukan hal-hal yang cenderung destruktif daripada konstruktif. Hanya karena apa? Karena orang itu berkata suatu hal yang salah beberapa waktu lalu. Akibatnya, kita justru menutup sebelah mata kita, dan entah disadari atau tidak, menolak kebaikan yang diberikannya dan hanya bisa menyindir dan merendahkan orang itu.
Mungkin, di satu sisi perbuatan kita dianggap pantas, dipuji-puji oleh orang-orang lain yang juga menjelek-jelekkan si-orang-yang-dicap-negatif itu. Tapi di sisi lain? Bisa saja orang lain diluar ‘komunitas’ kita mengira kita adalah orang yang hanya bisa menghina, menyindir, dan menjelek-jelekkan orang lain. Membuat kita di pandangan orang luar tak ubahnya sama dengan orang-yang-kita-cap-negatif dalam pandangan kita.
Jadi ada baiknya untuk lebih bersikap terbuka, lebih objektif dalam menghadapi permasalahan. Jika dia memang bisa berkata benar dalam hal lain, tak hina-dina, kan? Tak perlu lah mengatakan dia badut konyol yang hanya bisa dijadikan lawakan, apalagi hanya karena sentimen pribadi atau opini publik semata. Bukan hal yang cukup bagus untuk menganggap seseorang itu buruk, dengan hanya menangkap apa yang terjadi dari satu permasalahan tanpa melirik permasalahan-permasalahan lainnya. Itu saja sebenarnya poinnya.
Saya bukannya mau sok suci, sok bijak, atau sok hebat maupun sok-sok-an lainnya. Saya hanya mau mencoba berpendapat, bahwa yang salah bukan berarti 100% salah dan layak dipermainkan, sementara yang benar bukan berarti 100% benar dan bisa didukung mati-matian. Setidaknya, masalah ini berlaku untuk saya.
Nah, bagaimana dengan Anda?



Setuju sangadh! dan parahnya lagi, kalo pandangan kita terhadap orangnya sudah burug, maka dalam menanggapi apa yang dia katakan/ tuliskan/ bicarakan, tidak hanya bersikaf subjektip, dan menutuf sebelah mata. kita cenderung mencari-cari kesalahan. bukannya malah memahaminya baik-baik. dan apabila kesalahan tersebut ndak ketemu…ya ad hominem, mhuehuehue
Iya.
Baik disadari maupun tidak.
Dan sayangnya ini yang masih banyak terjadi.
Kadang, saya rasa, kita perlu introspeksi diri. Setidaknya saya.
Btw, diapdet, menyusul beberapa informasi.
klo aku bilang, itu tergantung image sih.
kadang itu sangad berpengaruh buat kita menilai seseorang.
karena dy sering melakukan “itu” jadinya dy dicap sebagai peng”itu”.
ga salah2 banget sih, soalnya kan emang perbuatan dy sendiri yang membuat orang2 berpikir demikian.
ehehhee…
Iya sih.
Kan “siapa yang menyemai benih, maka ia akan memetik hasilnya”. 
Tapi kalau dia bisa berbuat baik, tetap perlu dihargai, kan?
Nih, gua komen!!! Makan nih komen! Goreng! Rebus! Sesuai selera!
Yeh, inget ajah kutipan ini. “Selalu ada dua sisi untuk suatu hal”
dah!
Memang, tapi terkadang, tanpa sadar mungkin, sisi yang satu lagi lebih sering diabaikan kalau sudah ada yang namanya subjektifitas.
Relatifnya kebenaran dan kesalahan?
Pikiran bagus
Banyak banget yang masih berpemikiran seperti itu… Dan memang sering terbawa reputasi atau “grudge”.
Sebenarnya ini juga sering terjadi pada hal yang lebih umum, dan seringkali melanda orang indonesia dengan lebih berat daripada orang asing.
“Eh, liburanke X yuk!”
“Jangan! Dengar-dengar di sana banyak rampok!”
-_-
Nietzsche bersabda; “Pendapat publik adalah menganggurnya privasi.”
eh, OOT kah saya?
*minta maaf karena OOT*
@alex:
).
Sebenarnya lebih ke yang salah tidak selalu salah dan yang benar tidak selalu benar, tapi dengan artian rada beda (saya sendiri rada bingung
Tapi berarti itu juga. Terima kasih, mas.
@steax:
Teorinya kalau ngga salah berbasis atas dukungan komunitas sosial… biasanya kan tambah yakin kalau ada ‘teman seperjuangan’.
@qzink666:
He? Maksudnya?
Emang sih, pendapat orang berbeda2. Me-u kalau denger pendapat orang iya2in aja dan berkata “It’s your opinion.”
Perkataan org yg ‘negatif’ emg kdg berubah menjadi ‘positif’. Hal itu terjadi banyak sekali dalam hidup Me-u. Benar2 menyebalkan. Ngotot akan sesuatu habis di kasih bukti baru percaya. Lebih parah lagi, cuma diam. Pdhl Me-u mengharapkan ‘Maaf’.
Tapi kalau misalnya Me-u salah, Me-u cari bukti sampai selesai dan mengaku salah.
Saya rasa kutipan “jika seseorang mengatakan hal yang baik, maka jangan lihat siapa yang bicara” cukup bagus (rada dikarang2 nih kutipan, abis aslinya lupa)
Yang mana tidak peduli orang yang ngomong itu napi, koruptor, atau apa kek, selama kata2nya benar dan baik dan ada pelajarannya, saya rasa pantas untuk didengar…
Yah, urusan dia munafik atau apa itu lah kan urusan dia sendiri nanti..
Bah, saya nggak bisa mikir-mikir berat nih sekarang..
@Uchiha Miyu:
IMO sih.
Iya. Yang penting: toleransi dan mengakui bahwa yang salah itu juga bisa benar.
@Ash:
Betul, setuju itu. Jangan lihat pembawa pesannya, tapi pesannya.
Ada apa?
Susah juga ya bos. Mungkin itu perlunya orang-orang yang berilmu membangun citra diri (*halah, ngomong apa gw!), biar ga kena ad hominem terus-terusan. Masalahnya kadang udah cape-cape bangun image, tapi ada juga yang memang kelakuan dan pendapatnya ga sesuai sama image yang dia bangun itu.
Hueh, ada link ke saya…
*ah, serius*
IMHO, hal2 semacam ini umum terjadi kalo citra si ‘pembicara’ memang udah jelek. Sehingga, apapun yang dia sampaikan, orang biasanya langsung menilai a priori, “ah paling-paling…”
Emang nggak bagus, sih. Tapi ini sebetulnya pengaruh sebab-akibat juga. Misalnya kalo para blogger ngeliat Roy Suryo tampil di TV. Kebanyakan, IMO, pasti langsung berpikir: “Ah, dia lagi. Paling-paling isinya…”
(saya sendiri juga pernah lho.
)
Hm, hm, hm… ^^
Tipikal. Judge the person, not the opinion.
…maka dari itu, jika ente ingin suara ente didengar dan ditanggapi positif, ente kuydu jaga imej!!
Ente suka clubbing? Ente seorang peminum?
Orang yang ngaku alim ga bakal ngedengerin ente walau apa yang ente omongin itu sebenarnya ada benarnya juga!
Menurut saya: kalau dalam debat saja, yang salah, atau mungkin yang lebih tepatnya berseberangan adalah pendapat yang dikemukakan. Bukan manusianya. memang, pendapat bisa dianggap sebagai jalan hidup dari sang penutur. Jadi? Entahlah…
Sebaiknya belajar berdiskusi dan berdebat dengan baik. Mungkin itu saja.
Ingat, hanya karena ini, para ilmuwan Indonesia lebih betah tinggal di luar negeri daripada di tanah arinya sendiri. Kalau di luaran, teknologi orang Indonesia dihargai berjuta – juta dollar.
Jadi jangan memberi sembarang fatwa bahwa mereka tidak nasionalis.
@hariadhi:
Sebaliknya, kalau ada tersangka yang bersalah, yang merasa jadi protagonisnya juga sebaiknya langsung menyindir-nyindir tersangka tanpa ampun. :rolleyes:
@sora9n:
Makanya, IMO, mengabaikan sepenuhnya seseorang macamnya yang diceritakan di cerita si pemanggil serigala (lupa judulnya) bukan keputusan yang bagus.
Ahaha, soal Roy Suryo saya juga pernah.
@rozenesia:
Persetujuan bersama timbul ketika ada konsensus bersama…
@Fortynine:
Setuju.
@Mihael “D.B.” Ellinsworth:
Hmm… hubungannya?
Antum harus bisa memilih mana yang muslimin mana yang musyikin!!! Nama mencerminkan orangnya, ya akhi!!
[
]
Bahasa Arabnya Onta bukannya Jamal?
Camelia, ya akhi!!! Nama yang cantik untuk onta betina kesayangan ana!!
No komen ah. No spam and friends.