Kamera, Foto, dan Narsisisme

Mint Blancmanche

“Modal narsisisme adalah bergaya seimut mungkin, seperti yang dilakukan oleh Mint Blancmanche pada gambar diatas.”

***

Sebelumnya harap diingat bahwa saya tidak menyatakan bahwa narsisme itu buruk. Ini hanya sekedar tulisan yang didasari atas analisis dan observasi murni. Dan rasa ingin tahu, terutama. :P

***

Sesungguhnya hal ini sudah lama mengganjal pikiran saya, namun baru saya pikir benar-benar dan sampai dibuat tulisan tersendiri karena suatu kutipan menarik yang ditulis oleh Ashley pada profil Friendsternya. Berikut kutipannya:

Tidak bermaksud menyinggung mereka-mereka yang suka berfoto narsis… Saya hanya heran mengapa anak perempuan suka sekali melakukan hal demikian. Tipikal kah?

Saya sendiri, bukan sebagai laki-laki maupun perempuan, namun sebagai manusia yang hidup di sebuah komunitas sosial meskipun terpaksa, juga terpancing heran melihat kelakuan yang kerap dikenal dengan nama narsisisme ini, yang mana mungkin lebih akrab dengan sebutan narsisme — mungkin karena narsisisme rada sulit disebut — atau lebih singkat lagi: narsis. Fenomena narsis yang kian hari makin mewabah ini — terutama di kalangan perempuan — kemudian menimbulkan pertanyaan bagi yang mungkin tidak ikut wabahnya, contohnya saya dan Ashley; mengapa kegiatan yang kerap disebut berfoto narsis ini digemari? Apa yang menyebabkan manusia, terutama remaja, gemar sekali mengabadikan dirinya dalam bentuk foto?

Beberapa Alasan yang Mendukung

Pertama, mari kita coba awali dengan berbagai tebakan yang bisa menjadi faktor-faktor pendukung mengapa seseorang mau berfoto narsis. Bisa dibilang, brainstorming liar. Cara yang cukup sering saya gunakan pertama kali untuk mengupas segala posibilitas yang ada. Oke, langsung saja. Mengapa seseorang mau berfoto narsis?

  1. Merasa diri cantik/ganteng, dan ada kekaguman tersendiri ketika melihatnya
    Alasan pertama ini bisa dibilang dasar dari narsisisme. Yang namanya narsisisme memang erat kaitannya dengan “mencintai” diri sendiri, khususnya secara fisik. Istilah narsis sendiri diambil dari mitologi Yunani yang menyebutkan bahwa ada seorang remaja bernama Narcissus yang tersihir hingga jatuh cinta dengan refleksi wajahnya sendiri di genangan air.

    Jadi mungkin ini alasan paling sederhana dan paling bisa dianggap sebagai solusi total mengapa seseorang bisa menyukai kegiatan berfoto narsis. Sebuah deus ex machina. Tapi kalau hanya itu saja tentu kurang menjelaskan mengapa seseorang bisa menjadi “narsis”? Kenapa seseorang mau mengabadikan dirinya sendiri pada gambar digital? Mari pindah ke alasan-alasan selanjutnya.

  2. Mengabadikan Diri di Masa Muda Agar Bisa Dilihat di Hari Tua
    Orang bilang, kalau pilih pasangan hidup jangan berdasarkan fisik saja, tapi juga berdasarkan hatinya. Jangan terpikat karena tampan atau nafsu duniawi saja, tapi juga lihat kemurnian hatinya. Apa hubungannya dengan ini? Hubungannya tentu karena kondisi fisik itu tidak abadi. Sama sekali tidak. Bisa dibilang kondisi fisik itu adalah bagian yang cukup — kalau tidak mau dikatakan paling — rentan dari diri manusia.Karena, bisa saja setahun yang lalu Anda adalah seorang anak bulat dan mungkin susah melakukan lari sprint. Tapi setahun kemudian Anda bisa saja berubah menjadi seorang bertubuh atletis dengan gumpalan otot. Kemarin bisa saja Anda adalah seorang berwajah tampan nan ganteng, namun keesokannya wajah Anda bisa saja harus dibalut perban karena musibah yang menimpa Anda.

    Jadi, memang benar adanya bahwa keadaan fisik merupakan bagian dari manusia yang rentan. Oleh karenanya, mungkin tak ada salahnya untuk mengabadikannya selagi masih mempunyai wajah-wajah yang dirasa cukup berharga untuk berada di kamera ponsel Anda — entah bagaimana menurut yang lain. :P

  3. Karena Tampak Lebih Menarik
    Mengapa dikatakan tampak lebih menarik? Saya rasa, kebiasaan ini bisa jadi timbul dari adanya keinginan untuk mengaca. Ya, berkaca di cermin. Hanya saja medianya adalah kamera. Mengerti maksudnya?Di cermin, cermin datar terutama, kita hanya bisa melihat diri kita dari sudut pandang yang sangat terbatas. Horizontal ya horizontal saja. Sulit untuk melihat seperti apa diri kita, jika dilihat dari sudut pandang 180 derajat misalnya. Atas dasar itu, digunakanlah kamera ponsel. Mau dipotret dari mana saja, yaa bisa. Mau dari kanan atas, dari atas rambut, dari belakang, dari mana saja — selama tangan sendiri bisa mencapainya — yaa masih bisa.Apa yang mendorong seseorang mau melihat dirinya dari sisi lain? Salah satu alasan yang mungkin saya kemukakan adalah: mau melihat bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain dari bermacam-macam sudut. Dan ini berkaitan dengan poin berikutnya.
  4. Menarik Perhatian Orang Lain
    Alasan ini mungkin pada awalnya dirasa kurang sinkron dengan topik ini. Apa hubungannya coba? Mana bisa menarik perhatian orang lain dengan berfoto narsis. Lho, justru kebalikannya; jelas bisa, kalau kata saya. Pertama, kalau ada yang terlalu sering berfoto narsis, apa lagi di tempat umum, tentu orang akan heran melihat tingkah sang pelaku. Mungkin di pikiran orang lain, “Nih anak kesambet apa coba, bentar-bentar jeprat-jepret pake HaPe,” atau suara senada yang menggambarkan keheranan.

    Kedua, bisa dibilang ini merupakan efek lanjutan dari yang pertama. Dari rasa heran tersebut, mungkin orang itu akan tertarik untuk melihat seperti apa hasil berfoto narsis sang pelaku tersebut. Dan kalau ternyata memuaskan customer (maksudnya yang melihat), mungkin akan terbesit pikiran, “Wah, cakep juga nih anak,” atau suara senada yang menunjukkan ketertarikan terhadap lawan jenis. Tapi kalaupun sang pelihat gambar bukanlah orang yang sama dengan efek yang ditimbulkan pada poin pertama, kesan yang sama bisa jadi tetap akan timbul kalau fotonya memang benar bagus. Kalau tidak, yah, itu di luar konteks. :mrgreen: Jadi jangan heran kalau ada yang ngegombal dengan mengatakan, “Kamu cuantik banget, deh,” atau mungkin, “Kamu lebih cakep tanpa kacamata.” Ha-ha-ha. Untuk ini, saya ngga mau komentar. :mrgreen: No offense juga, lho.

  5. Menunjukkan Identitas Diri
    Alasan ini lebih condong kepada penggunaan dari berfoto narsis, tapi tetap saya masukan disini. Kenapa? Karena ini merupakan salah satu alasan yang mendorong orang untuk mengawali berfoto narsis. Kalau ditanya bagaimana caranya, saya akan coba jelaskan dengan agak sederhana.

    Pertama kalinya berfoto dengan alasan seperti ini mungkin didorong atas keinginan untuk menunjukkan siapa-sebenarnya-dia dalam komunitas asing. Seperti pada media komunitas sosial semacam Friendster — yang konon menimbulkan generasi Friendster yang negatif — di dunia maya, maupun untuk foto diri dalam berbagai keperluan — seperti MOS, misalnya. Pokoknya menunjukan bahwa si X itu ternyata si Itu. Nah, mungkin karena salah potret oleh kamera beberapa kali, atau memang berbakat pribadi narsis, akhirnya justru ingin lebih dan lebih. Pada akhirnya itulah yang menyebabkan seorang terjebak dalam vicious circle of narcissisism. :twisted:

  6. Suatu Mainstream yang Diikuti Oleh Orang Banyak
    Sebuah mainstream? Bisakah hobi berfoto narsis ini dikatakan sebuah mainstream yang menjadi tren yang diikuti dan populer di sebuah komunitas sosial? Bisa, dan jelas bisa. Kenapa tidak? Kalau masih bingung, begini saja contohnya. Anda tadinya adalah orang yang biasa-biasa saja; kalem, tidak suka berfoto narsis, dan tidak peduli. Foto ya foto, ngga ya ngga. Tapi tiba-tiba teman-teman Anda — entah darimana dan mengapa — jadi kegilaan dengan ‘tren’ yang bernama foto narsis itu.

    Pertamanya Anda mungkin berpikir, “Ah, ngapain sih orang-orang itu kurang kerjaan,” dan tidak ambil peduli dalam masalah itu. Tapi rupanya Anda diajak untuk berfoto bersama — mungkin tipikal yang bisa ditemui pada remaja wanita, berfoto bersama sambil bergaya. Dari situ, Anda yang tadinya biasa-biasa saja, rupa-rupanya mulai tertarik, apalagi karena sudah sering diajak berfoto bersama. Alhasil, timbulah pribadi “berfoto narsis” yang disebut-sebut itu.

  7. Penjahat Ada Bukan Karena Keinginan, Tapi Karena Ada Kesempatan!
    Sebuah poin final yang dikutip dari Bang Napi. Bukannya mau menyamakan seorang yang berfoto narsis dengan penjahat; bukan… bukan… jelas bukan! :D Saya bukan orang kejam, hanya saja itu kutipan yang sekiranya mirip dengan yang terjadi dalam hal ini. Mengapa seseorang sampai mau melakukan yang namanya foto narsis? Mengapa sampai mau melakukan jeprat-jepret beberapa kali di depan kamera? Jawabannya, karena ada alatnya!

    Tanpa punya ponsel berkamera, maupun kesempatan dalam melaksanakannya, tentu tidak ada yang namanya istilah foto narsis begini. Foto ya foto, ngga ya ngga. Dikarenakan adanya media yang komprehensif ini, akibatnya peluang berfoto pun muncul. Dengan adanya peluang berfoto, akhirnya timbul oknum-oknum penganut ideologi narsisisme. :P Jadi tanpa alat yang memadai, rasa-rasanya keinginan ini pun akan sulit untuk muncul.

Menganalisis Penyebabnya Secara Kronologis

Dari beberapa alasan yang telah saya uraikan diatas, dengan ini bisa ditarik kesimpulan secara umum dengan memberikan suatu analisis singkat.

Dari observasi yang telah saya lakukan (umumnya secara diam-diam, meskipun ada juga yang secara terang-terangan), saya menarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor penyebab utama mengapa seseorang sampai bisa terjerat dalam lingkaran narsisisme atau narsisme ini. Dan penyebab itu akan saya jelaskan secara kronologis.

Pertama, karena adanya suatu inovasi. Dalam segala tren maupun mainstream, pada awalnya pasti terdapat seorang pionir yang menggerakkan ide-ide serta konsep baru. Pionir umumnya adalah remaja, saya yakin, karena berdasarkan cirinya secara sosiologis, remaja adalah sebuah entitas yang secara emosional masih dipenuhi kelabilan, namun di saat bersamaan dipenuhi oleh gebrakan ide-ide baru — yang umumnya cenderung berbentrokan dengan ide-ide lama.

Kembali ke masalah tadi, pionir yang pertama kali mencetuskan ide untuk berfoto narsis ini tentunya mulai mempraktekan ide-ide pokoknya kepada dirinya sendiri. Pionir, yang diyakini sebagai generasi yang memiliki ponsel berkamera, ini melakukan aktifitasnya bisa di tempat umum maupun di tempat pribadi. Alasan mengapa dia sendiri melakukan foto narsis — sebagai pionir — mungkin bisa dilandasi atas poin nomor 1, 2, 3, dan/atau 7 yang telah saya sebutkan diatas. 4, 5, dan 6 sama sekali tidak berlaku karena sudah ada tanda-tanda pengaruh dari publik. Tahap pertama ini merupakan tahap munculnya gelagat narsisisme melalui kamera.

Kedua, dikarenakan munculnya pionir tersebut yang bertindak tidak umum pada masanya, orang-orang yang berada di sekitar lingkungannya pun mungkin mulai tertarik terhadap aktifitas “misterius” yang dilakukan oleh sang perintis tersebut. Atau bisa jadi sang perintis justru menggaet orang-orang yang ia rasa sesuai untuk dijadikan kroni-kroninya sendiri. Awalnya mungkin orang-orang yang digaet pionir tersebut merasa enggan untuk melakukan kegiatan ini, namun lama kelamaan mungkin akan tumbuh ketertarikan terhadap kegiatan berfoto-narsis-ria.

Ada dua alasan utama sederhana yang bisa menjelaskan, menurut saya, mengapa seorang individu bisa tertarik pada suatu hal:

  1. Pengaruh Psikologis Dari Lingkungan Sekitar
    Sungguh, ini sangatlah berpengaruh besar bagi seorang individu. Terutama ia yang mengikuti jalannya arus yang sedang mengalir di komunitas sosialnya. Pengaruh ini juga lebih berasa pada remaja, dan lebih efektif untuk disalurkan oleh sesama remaja; remaja cenderung tidak mendengar “dogma-dogma” yang disampaikan oleh golongan tua karena adanya kesenjangan diantara keduanya.
  2. Rasa Senang Tersendiri
    Rasa ini timbul karena kurang lebih sama dengan alasan timbulnya narsisisme (dalam makna yang sebenarnya, yaitu mencintai diri sendiri) pada diri sendiri. Yaitu apresiasi, rasa bangga, dan kebutuhan yang dirasakan terpenuhi pada objek yang disukainya. Rasa-rasa ini bisa timbul umumnya karena, lagi-lagi, pengaruh sosial di lingkungannya. Kebiasaan yang dilakukan sejak dulu juga cukup berpengaruh.

Ketiga, ketika sang pionir sudah mampu menciptakan para penerus yang juga senang melakukan kegiatan foto narsis, maka sudah saatnya bagi para anak untuk mencari makannya sendiri. Mencari makannya sendiri dalam artian mencari medianya sendiri. Jika sang pionir menggunakan media ponsel berkamera, maka sudah saatnya para orang yang terpengaruh untuk menggunakan ponsel berkameranya sendiri. Dari kebiasaan yang diciptakan oleh sang pionir itu lah, kebiasaan untuk berfoto itu kemudian berkembang.

Ets, tunggu dulu! Apakah berarti foto narsis ini hanya terbatas bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan orang lain, macamnya ikut foto bersama? Saya rasa, tidak juga. Kebiasaan macam itu saya rasa bagaikan radiasi; ada yang melihat dari jauh, jika dibekali keingintahuan yang tinggi, tentu juga akan mencoba mengikuti. Setidaknya mencoba.

Hal ini juga terkait dengan rasa ketertarikan yang diutarakan pada poin 3 diatas. Bagaimana rasanya kalau diri kita dilihat dari atas Monas, misalnya. Karena tidak mungkin dilakukan dengan cermin semata, maka digunakanlah kamera. Dan karena tidak mungkin tangan kita bisa menjangkau hingga ketinggiannya Monas, maka cukuplah lensa kameranya diletakkan di sebelah kiri atas, dengan memasang wajah yang seperlunya — yang pantas diterima oleh kamera. :D Hal ini terkait dengan kepuasan tersendiri ketika bercermin.

Nah, keempat, akhirnya penyebab utama mengapa masih sempat-sempatnya saja seseorang itu berfoto narsis adalah: karena ada alatnya. Kalau tidak ada medianya, mau berfoto pakai apa? Meminta orang lain memenuhi keinginan sih bisa-bisa saja, tapi itu pun kalau tidak menyulitkan — dan kelihatannya kalau terlalu sering justru akan menyulitkan. Alhasil, kalau kamera tidak ada, ya harus kembali ke metode lama. Tidak lain dan tidak bukan adalah berkaca di cermin. Atau tidak usah sama sekali.

***

Nah, sekian dulu analisis sekaligus entri yang rada sableng kali ini. Mudah-mudahan ini bisa menjawab pertanyaan Ashley, sekaligus pertanyaan saya sendiri. Tapi berhubung saya memang tidak pernah benar-benar mengalaminya, jadi ya tidak benar-benar tahu alasan tepatnya. Apalagi saya masih murid SMA. Jadi ya hanya sekadar analisis saja.

Kiranya bagi yang suka berfoto narsis, ada yang bisa menyumbangkan suara? :P

79 Tanggapan ke “Kamera, Foto, dan Narsisisme”


  1. 1 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 1:56

    pertamaxx dulu….

    ngakak dulu…

    komen ntar

  2. 2 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 1:59

    tau nggak..aku barusan aja baca entrynya cK yang narciss…

    dan disini baca lagi….

    *keplok2dahi*

    lha…saya emang tampan kok…ya wajar kalo saya menyebut diri saya sendiri sebagai TuanTampan :?

    IMO, aku berpoto karena mukaku lagi lebih cakep dari biasanya :P

  3. 3 Xaliber von Reginhild Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 2:04

    Agh, ada pertamax. :|
    Lagi lebih cakep… masuk poin pertama, ngga? :P

  4. 4 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 2:06

    1. Merasa diri cantik/ganteng, dan ada kekaguman tersendiri ketika melihatnya

    memangnya ada ya orang bego yang merasa dirinya paling jelek…???

  5. 5 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 2:06

    *sapu podium dari junker yang mengincar kelimaxxx*

  6. 6 Xaliber von Reginhild Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 2:10

    Saya ngga merasa ganteng tuh. :?
    Setidaknya, secara sadar dan normal.

  7. 7 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 2:19

    ahh saya nggak tanya dewa merasa ganteng atawa nggak…

    yang saya tanyakan…

    memangnya ada ya orang bego yang merasa dirinya paling jelek…???

  8. 9 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 3:30

    *keparat, masi idup dia*

    ya meskipun ada, tapi persentasi antara yang iya dan tidak kan masi lebih jauh yang tidak…

    kaum minoritas mah nggak masuk hitungan *rasis mode on* mau divoting juga kalah degh

  9. 10 hoek Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 11:41

    wkakakakaka….analisis narsis yang fanjang sangadh…
    be te we, sebuah kenarsisan bisa menjadi bahasan yang dalem dan fanjang yak?

  10. 11 caplang™ Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 12:03

    narsis dalam berpoto sering juga disebut banci poto :mrgreen:

  11. 12 Mihael "D.B." Ellinsworth Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 13:42

    Tentunya resiko menampilkan diri sendiri ke orang banyak lewat media foto adalah, foto tersebut dapat digunakan untuk kepentingan yang tidak baik. :lol:

  12. 13 Mihael "D.B." Ellinsworth Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 13:49

    Tentunya efek negatif daripada menampilkan diri kepada orang banyak adalah, suatu saat media foto yang digunakan dapat dicuri untuk kepentingan yang tidak baik… :lol:

  13. 14 dalamhati Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 15:20

    menjadi narsis adalah sifat dasar manusia…
    ( sok berteori )

  14. 15 yarza Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 15:21

    Mau tahu kejadian yang lucu?

    Ada seorang teman saya yang HPnya disita oleh para tatib (kakak kelas yang menjadi seksi keamanan) pada saat MOS SMA.

    Ketika ia berhasil mendapatkan Hpnya kembali, dia melihat hal itu…

    Ternyata folder image HPnya telah dipenuhi oleh foto-foto narsis para tatib (laki dan perempuan)…

  15. 17 ardians Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 17:02

    Empat sehat lima narsis sempurna…

  16. 18 benbego Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 17:29

    Belumlah lengkap seseorang dikatakan berdosa bila belum narsis! :D Kabuuur…!

  17. 19 cK Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 17:45

    buset…panjang amat… :-? *pusing*

  18. 20 Xaliber von Reginhild Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 17:58

    @celotehsaya:
    Tapi tetap ada, dong. :?

    @hoek:
    Hehe, bisa jadi karena yang nulis terlalu kurang kerjaan atau terlalu banyak pikiran. :P

    @caplang™:
    Dalam artian…?

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth:
    Waspadalah, waspadalah. :P

    @dalamhati:
    Ya, kayaknya itu ’solusi total’nya. :P

    @yarza:
    Hehe, rupanya ngga hanya di sekolah saya aja yang begitu.

    @gantenk:
    He?

    @ardians:
    :?

    @benbego:
    :P

    @cK:
    Intinya ada di poin-poin alasan dan di kalimat terakhir aja. :P

  19. 21 p4ndu_454kura Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 19:21

    Ah, saya sih ga seberapa narsis, kok.
    *Ngambil kamera*
    *Jepret*

  20. 23 Unit 076 Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 19:36

    Haha, agak jayus nih. Tapi masih kurang jazjuz nih.

  21. 25 Uchiha Miyu Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 19:53

    …..

    *liat berapa foto di folder*

    *jd malu*

  22. 26 Xaliber von Reginhild Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 20:09

    Kenapa malu? Saya ngga merendahkan lho, hanya penasaran. :)
    Mungkin tahu jawabannya? :D

  23. 27 Uchiha Miyu Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 20:24

    Sama sekali tidak lho! O____O

  24. 28 hariadhi Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 20:41

    HP+camera=The scariest invention ever. Wakakaka :) )

  25. 29 celotehsaya Rabu, 7 Nopember 2007 pukul 21:46

    ah bener…

    photoku sering diakui ama orang lain sebagai potonya sendiri…

    dan itu beredar di MiRC…???

    tida~~~~~k….

  26. 30 Lemon S. Sile Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 0:06

    main-main ajah… seperti sayah

  27. 31 Xaliber von Reginhild Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 1:29

    @Uchiha Miyu:
    He? :?

    @hariadhi:
    Hehe, setuju, mas. :P Kalau nda liat-liat bisa….. :P Mengerikan tapi menguntungkan (bagi produsen).

    @celotehsaya:
    …hah?

    @Lemon S. Sile:
    Maksudnya? Iseng? :P

  28. 32 rozenesia Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 8:47

    Merasa diri cantik/ganteng, dan ada kekaguman tersendiri ketika melihatnya

    Bayar royalti secara saya modelnyaaa!!! :twisted:
    Wajar to’? Percaya diri itu perlu, dan kekaguman? Oh, di mulut sih berkata kagum, di hati belum tentu… :lol:
    Ada yang bisa menebak isi hati saya? :P

    Mengabadikan Diri di Masa Muda Agar Bisa Dilihat di Hari Tua

    Dosen bilang, coba foto-foto saat kamu masih MaBa yang cupu, semster 1 awal masuk kuliah…
    Lalu setahun kemudian, berfotolah lagi. Bandingkan kedua foto itu dan kamu akan terkejut. :lol:

    Karena Tampak Lebih Menarik

    Di sisiku, antara kamera dan cermin, kurasa cermin lebih menarik. :P

    Menarik Perhatian Orang Lain

    Ogah menarik laki-laki… :lol:

    Menunjukkan Identitas Diri

    Di sini saya lebih cenderung ke ‘menjatuhkan-imej-diri-saya-sendiri’. :P

    Suatu Mainstream yang Diikuti Oleh Orang Banyak

    Bleh… Saya nggak nafsu terjebak arus. Main sendiri aja, di aliran sendiri. :lol:

    Penjahat Ada Bukan Karena Keinginan, Tapi Karena Ada Kesempatan!

    Beliin saya kameraaa!!!

    Baidewei, menumbuhkan imej tertentu di mata orang mengenai saya itu perlu. Saya ingin imej itu ‘nggak-aman’, istilahnya imej yang saya punya nggak saya jaga, melainkan saya manipulasi. :lol:
    …dengan begitu mudah untuk ‘rencana-rencana’ ke depannya. *tertawa jahat*

  29. 33 myresource Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 11:13

    jumlah foto 1 kelas: 755
    jumlah foto yang ada sayanya : 506

    edan…
    hehehehehe…

  30. 34 saya Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 11:19

    ah bener…

    photoku sering diakui ama orang lain sebagai potonya sendiri…

    dan itu beredar di MiRC…???

    tida~~~~~k….

    @celotehsaya:
    …hah?

    iyak…keknya ada yang dendam ma aku, seperti nya tuh orang main di MiRC dengan username nggak banget terus memberikan URL poto beserta nomer HaPe ku….

    result : tengah malem ada sms masuk ngajak check-in

    *ganti nomer HaPe ahh*

    siyal…!!!

  31. 35 verlita Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 12:25

    duhh jadi malu nih…saya sepertinya agak-agak narcist juga :) )

  32. 36 Ravelt Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 17:35

    Ogah aku narsis narsisan..No No No.. -_-

    *illfil nginget temen2 cewek yang kalau lihat kamera langsung minta poto*

    hiiyyy… ~_~

  33. 37 Xaliber (ngga di rumah) Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 18:02

    @RaveIt:
    …he? Hebat. :D

    @verlita:
    Jangan malu, mbak. Ini saya aja yang rada ngga beres. :P Ada bisa sumbang faktor penyebabnya? :)

  34. 38 shastri aww Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 18:09

    sbnrnya narsis karna kamera hp bisa buat skalian ngaca tu banyak.
    udj komen kan hoi

  35. 39 aya Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 18:57

    gw sendiri anaknya agak narsis. mungkin alasan yang paling tepat buat gw adalah karena gw emang suka ngeliat diri gw yg sekarang. kan gw wkt smp kan jelek parah tuh.. jadi gw paling gak suka dulu yang namanya difoto.. tapi sekarang gw merasa cant*k sih.. gimana dong.. sayang kan kalo kecant*kan gw gak diabadikan hhe..

  36. 40 Ash Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 19:31

    Waaah, Bos! Ternyata laku artikelnya..

    Dugaan Anda benar kok, Bos. Saya SANGAT TIDAK SUKA berfoto narsis. Malah kalau boleh lebih ekstrim, saya tidak suka difoto!

    Saya hanya bersedia difoto untuk kepentingan-kepentingan formal seperti foto 3×4 untuk ijazah, atau surat-surat penting lainnya; foto buku tahunan; foto satu kelas rame-rame untuk alasan dokumentasi; foto saat menjadi pemenang (andai menang) lomba ketika penyerahan piala/sertifikat; foto kelulusan saat menerima tanda kelulusan dari kepala sekolah; dan lain-lain yang sejenis. Atau kadang jika ada teman yang membuat saya SANGAT JENGAH dengan mengatakan, “Nggak seru lo, Yas! Kagak solider, kagak mau foto narsis bareng-bareng!” BAH! Saya bersedia melakukan itu jika peserta di foto adalah 4 atau lebih. Anda juga akan sangat sering menemukan foto saya di hape teman-teman saya hasil CANDID dari teman-teman, dan itu SANGAT MENJENGKELKAN! (saya nyaris nangis–marah–lho gara-gara itu. Habis seenak udel saja ngambil foto orang. Sekecil apapun bagian tubuh kita adalah privasi! Bagi saya candid itu kriminal!!!)

    Oke, saya tahu foto untuk dokumentasi itu penting. Tapi tetap saja saya tidak suka bernarsis ria. Jika ingin melihat foto masa lalu, ya lihat lah foto keluarga rame-rame, masa sih nggak ada?
    Dan saya sama sekali belum pernah mem-foto diri saya dengan tangan saya sendiri.

    Saya paling tidak suka jika teman-teman perempuan saya mencap saya ‘aneh’ hanya karena saya tidak melakukan apa yang mereka lakukan. Berfoto narsis, misalnya. Padahal itu kan relatif. Saya tidak suka, maka hormatilah. Toh saya juga menghormati mereka yang suka narsis. Bahkan saya akui beberapa foto narsis mereka hasilnya bagus-bagus dan bisa jadi contoh untuk menggambar dari sudut-sudut berbeda :D

    Saya tidak bilang narsis itu buruk. Pada kenyataannya ada alasan-alasan yang dikatakan si Bos di atas yang memang masuk akal. Yang tidak saya suka ya hanya stereotip itu. Karena nyaris semua remaja putri suka berfoto narsis, maka mereka akan segera mengecap saya ‘nggak normal’ karena tidak suka melakukan hal itu. Saya kan juga remaja putri!!


    Errhhm.. maaf, saya jadi curhat begini.. -_-a saya hanya senang karena ada yang mengangkat topik narsis ini secara dalam :D saya ingin memuntahkan segala yang mengganjal di hati…

    Artikel yang bagus, omong-omong..
    Cukup menjawab pertanyaan saya di Friendster itu :D

  37. 41 ardi Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 20:04

    ini hsil pelajaran sejarah analisis yg digembar gemborin itu mas? hehe..

  38. 42 rozenesia Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 20:34

    *manggut-manggut baca komen Ash*

    Generalisasi… memang menjengkelkan ya?

  39. 43 Dins Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 20:40

    Membaca ini semua jadi urung deh niat majang foto di FS :D
    Bwehehe

  40. 44 Xaliber von Reginhild Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:03

    @rozenesia:
    1.

    Bayar royalti secara saya modelnyaaa!!! :twisted:
    Wajar to’? Percaya diri itu perlu, dan kekaguman? Oh, di mulut sih berkata kagum, di hati belum tentu… :lol:
    Ada yang bisa menebak isi hati saya? :P

    Gratis ah… *siyal siyul*
    Memang perlu… menurut teorinya kan ‘private arrogancy’ itu salah satu hal yang bisa mengembangkan kepribadian. Mind power. :twisted:

    Dosen bilang, coba foto-foto saat kamu masih MaBa yang cupu, semster 1 awal masuk kuliah…
    Lalu setahun kemudian, berfotolah lagi. Bandingkan kedua foto itu dan kamu akan terkejut. :lol:

    Evolusi… :?

    Di sisiku, antara kamera dan cermin, kurasa cermin lebih menarik. :P

    Berarti Anda bukan termasuk berfoto dengan alasan yang ini…

    Ogah menarik laki-laki… :lol:

    Wanita juga bisa, tho? :P

    Bleh… Saya nggak nafsu terjebak arus. Main sendiri aja, di aliran sendiri. :lol:

    Tapi ada lho. :?

    Beliin saya kameraaa!!!

    Tak ada ‘kamera’, ‘alternatif’ pun jadi, tho? :?

    Baidewei, menumbuhkan imej tertentu di mata orang mengenai saya itu perlu. Saya ingin imej itu ‘nggak-aman’, istilahnya imej yang saya punya nggak saya jaga, melainkan saya manipulasi. :lol:
    …dengan begitu mudah untuk ‘rencana-rencana’ ke depannya. *tertawa jahat*

    …mengerikan. :? Nanti dapat karakter asinan lagi lho. :P

    @myresource:
    Wah, hebat.. tapi kalau foto bareng masih ngga apa-apa, kan. :D

    @saya:
    Kok kayaknya… :?

    @shastri aww:
    Komennya kurang nih… sumbang suara dong. :P

  41. 45 Xaliber von Reginhild Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:09

    …eh? Ngga kok. :P
    Sumbang ide, bener ngga analisisnya? Soalnya ada yang sedang ingin tahu nih. :D

  42. 46 iki Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:09

    Eh Dip maksut loooooooooooooo suruh gue baca apa? berkaca diri nyet? hahahah boleh2 tulisan anda.

  43. 47 Xaliber von Reginhild Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:16

    @iki:
    Lho kok komen situ malah muncul belakangan ya… Pokoknya yang diatas itu jawabannya. :P

    @aya:
    Nah, berarti analisisnya bener, dong. :D

    @Ash:
    Setuju. Diluar kebiasaan umum bukan berarti aneh… tapi counter-culture. :twisted: Masing-masing punya hak sendiri-sendiri, kan. Oleh karena itu tak ada yang bisa ngecap “freak”, “aneh”, atau “sarap” hanya karena alasan sepele kecuali orangnya sendiri! :mrgreen:
    *maksudnya orang lain nda bisa ngecap seenak mulut hanya karena hal-hal nda jelas*

    Saya tidak bilang narsis itu buruk.

    Saya juga tegaskan poin ini bagi para pembaca. :D Supaya ngga ada miskonsepsi.

    Ya, untunglah bisa menjawab. :mrgreen:

    @ardi:
    He? Mungkin juga… :P

    @rozenesia:
    Apalagi untuk hal yang sepele kan. :?

    @Dins:
    Poin yang perlu ditekankankan adalah…
    “Saya tidak bilang narsis itu buruk.” :D

  44. 48 Dins Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:44

    Tapi bagaimanapun juga setelah membaca tulisan itu, pasti yang nulis itu beranggapan kalo narsis adalah buruk :P

  45. 49 Xaliber von Reginhild Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:48

    Hmm…
    Karena itu sekarang saya menambahkan beberapa baris kalimat di awal-awal supaya ngga ada miskonsepsi lagi. :P Mohon maaf kalau-kalau terjadi salah pengartian…

  46. 50 saya Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 21:59

    Kok kayaknya… :?

    karena saya nggak suka shuudzon…dan emang yang ngajak check-in ngakunya kenal aku dari MiRC (Lho ?). padahal aku nggak pernah menyentuh MiRC sejak setaun terakhir ini….

  47. 51 saya Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 22:02

    eh betewe, kalo untuk dikirim kepada orang lain…???

    misalnya ada yang pingin tau wajah kita sekarang setelah lima tahun nggak ketemu….kita mau ngirim apaan…???

    potokopian…???atau sibuk ngeklon dulu…???

    kita kirim poto kan…??? :?

    *gara”bahas orang yang menjijikkan satu pigura ama orang mempesona langsung kepikiran komen ini*

  48. 52 saya Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 23:05

    nggak ditanggepin…hetrik aja ahh

  49. 53 Xaliber von Reginhild Kamis, 8 Nopember 2007 pukul 23:28

    @saya:
    1. Masa sih? Masih rada kurang percaya nih…
    2. Kayaknya cukup sekali, deh. :P Atau gunakan poin kelima.
    3. Selamat… :mrgreen:

  50. 54 orakanggo Jumat, 9 Nopember 2007 pukul 10:21

    wah… lengkap… dari crypto sampe politik, salut…

  51. 55 Uchiha Miyu Jumat, 9 Nopember 2007 pukul 11:54

    @rozen: “Beliin saya kameraaa!!!”

    Lah? HP N** kesayangan anda tidak cukup ya? :lol:

    Me-u sih narsis2an cm for fun…

    *liat folder berjudul ‘Narsis’*

  52. 56 nieznaniez Sabtu, 10 Nopember 2007 pukul 9:10

    kadang julukan narsis ditujukan ga cuma ke orang2 yang suka berpoto ria. bahkan ketika kita (tidak sengaja) membanggakan diri sendiri pun kita sering dibilang narsis, walopun dalam konteks bcanda. ihihhiii…

    oiya, aku juga suka poto. karena…karena…karena apa ya ?? aku suka poto buat diedit2.. ehehehheee…
    (ini termasuk narsis ga yah ??)

  53. 57 Xaliber von Reginhild Sabtu, 10 Nopember 2007 pukul 11:33

    @orakanggo:
    Ketertarikan saya ya, mas? Hehe, maklum rada aneh. :P

    @Uchiha Miyu:
    …dan darimana kesenangan tersebut berasal? Itu yang dipertanyakan. :P

    @nieznaniez:
    Hehe, iya, mbak. Saya ngaku pintar juga bisa dibilang narsis. :P
    Untuk diedit-edit… :? Hmm… Dan apa yang diperoleh dari pengeditannya itu mungkin yang dijadikan faktor penyebab. :P

  54. 58 RETORIKA Sabtu, 10 Nopember 2007 pukul 19:23

    @ Xaliber

    mas, tau nggak ngambil gambar itu hukumnya haram, dosa, kapir, bidah, masuk neraka, dimakan singa, digigit buaya!

    Kapir…sampeyan…Kapir…Kapir…Tobatlah

    :mrgreen:

    “baru menyadari susahnya memfoto motor yang lagi ngebut disirkuit pake digital camera …”
    :(

  55. 59 Xaliber von Reginhild Sabtu, 10 Nopember 2007 pukul 19:36

    Ampun, akhi… :P

    Hehe, saya nda suka narsis sih, untungnya. :mrgreen:

  56. 60 Dream Maker Minggu, 11 Nopember 2007 pukul 9:20

    walah, beneran nih pemilik blog ga narsis?

    kalo gitu, siapa yang pernah ngaku mirip sama Taiki? :swt:

    Kalo ga ada media-nya yah… Pinjem temen, secara dulu aku pernah bawa-bawa kamera, bukannya buat foto yang kusuka, malah isinya jadi foto anak2 sekelas -_- [minus aku tentunya~]

    Candid? Cukup dibalas dengan… “Susah punya tampang keren, ada yang ngefans ampe ngambil foto diem-diem”, 80% sih berhasil, gak ada yang mau ngambil foto diem2 lagi… :P

  57. 61 Uchiha Miyu Minggu, 11 Nopember 2007 pukul 21:36

    “@Uchiha Miyu:
    …dan darimana kesenangan tersebut berasal? Itu yang dipertanyakan.”

    It’s a mystery, I’m telling you! O___O

  58. 62 Xaliber von Reginhild Minggu, 11 Nopember 2007 pukul 23:45

    @Dream Maker:
    Itu kan narsis dalam hal lain… dan seperti apa kata mbak nieznaniez, bercandaan. :P
    Saya pakai cara serupa, tapi ngga efektif kayaknya. :?

    @Uchiha Miyu:
    Karena itu perlu dianalisis. :twisted:
    *All Hail Adolf Hitler Plankton Rationalism!* :P

  59. 63 rozenesia Senin, 12 Nopember 2007 pukul 11:25

    @rozen: “Beliin saya kameraaa!!!”

    Lah? HP N** kesayangan anda tidak cukup ya?

    Apa yaaaaa… :roll:

    *ngakak sampai coitus interruptus baca komen RETORIKA*

  60. 64 Dream Maker Selasa, 13 Nopember 2007 pukul 19:36

    Hooh? Di saya cukup efektif tuh

    Kalo engga… Aku punya satu cara lagi

    Pada saat lensa dihadapkan ke anda…

    SAMBIT SUMBER LENSA ITU!!

    Dijamin gak ada yang mau coba-coba foto lagi… [belum pernah dicoba sih, tapi nyaris mau dicoba]

  61. 65 Xaliber von Reginhild Rabu, 14 Nopember 2007 pukul 23:59

    @rozenesia:
    Coitus interruptus itu apa sih? :? Kayaknya lagi tren.

    @Dream Maker:
    Saya anti kekerasan — dalam hal ini. :P

  62. 66 upil Rabu, 21 Nopember 2007 pukul 20:36

    ada satu fenomena lagi… kebanyakan foto cewe pasti sudutnya diambil dari atas… kenapa…? itu karena mereka ingin dadanya terlihat dengan jelas =p

  63. 67 Xaliber von Reginhild Rabu, 21 Nopember 2007 pukul 22:26

    Waha, ngga tahu ya. :P
    Btw, ini uddevil yang dari HGO ya?

  64. 68 arul Rabu, 23 Januari 2008 pukul 9:25

    narsisime merupakan bentuk kebanggan pada diri. Baik jika dijadikan pedoman keberadaan Pencipta dan menjadikan lebih besyukur. buruk jika menimbulkan kesombongan.

  65. 69 arul Rabu, 23 Januari 2008 pukul 9:27

    apa kita pernah merasa menjadi bangsa yang narsis?

  66. 70 Xaliber von Reginhild Sabtu, 26 Januari 2008 pukul 1:40

    @arul:
    1. Setuju. :)
    2. Wah, entah, mas. Tapi kalau narsis dalam konteksi ini kayaknya belum. :P

  67. 71 Reina Lunarrune Kamis, 23 Oktober 2008 pukul 23:02

    Kalo ku malah ga suka di foto
    Ku suka kamera (sebagai fotografer), tapi benci kamera (sebagai yang difoto)

    Yah…
    Kamera hp ku lebih sering jadi pajangan sih…
    ^^a

    Diapake saat2 tertentu aja..


  1. 1 Generalisasi yang Negatif « Deathlock Lacak balik pada Sabtu, 10 Nopember 2007 pukul 20:26
  2. 2 Thirteen Minutes to Midnight « Deathlock Lacak balik pada Kamis, 15 Nopember 2007 pukul 1:12
  3. 3 Fenomena Friendster « Strife Leonhart’s Junkyard Lacak balik pada Jumat, 23 Nopember 2007 pukul 19:00
  4. 4 Kisah si Tom dan si Jerry « Deathlock Lacak balik pada Minggu, 25 Nopember 2007 pukul 16:50
  5. 5 Apa Sih Gunanya FS? « Pandu Gilas Anarkhi Lacak balik pada Senin, 26 Nopember 2007 pukul 20:32
  6. 6 Evaluasi dan Resolusi untuk… Revolusi? « Deathlock Lacak balik pada Jumat, 28 Desember 2007 pukul 0:34
  7. 7 Ketampanan Adalah Sebuah Misteri « Bachtiar Blog Lacak balik pada Jumat, 28 Desember 2007 pukul 10:25
  8. 8 Effendi | Gunawan Rudy dot Com Lacak balik pada Senin, 15 Desember 2008 pukul 11:02

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 97,276 soldiers