Pelajaran Sejarah dan Degenerasi Pola Pikir

Katanya, pendidikan merupakan salah satu hal yang fundamental dalam membangun negara. Pernyataan ini didukung dengan argumen yang cukup logis, bahwasanya jika masyarakat dari suatu negara diisi dengan orang-orang yang pintar dan berpendidikan, maka orang-orang pintar tersebut bisa menggunakan kepintarannya untuk membangun bangsanya agar menjadi lebih baik, dan bukannya justru menjadikan bangsa sebagai alat untuk meraih kepentingan individu.

Atas dasar itu, dibangunlah yang namanya sekolah untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat. Dibentuk pula bagian dalam pemerintahan yang mengurusi hal terkait. Di sekolah, masyarakat diberikan berbagai macam pelajaran untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka. Begitu pula yang terjadi di Indonesia.

Sekolah-sekolah di Indonesia menawarkan berbagai macam pelajaran yang bisa dinikmati oleh para pelajarnya. Macamnya pun beragam, dari Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Teknologi Informasi dan Komunikasi, hingga Seni Musik dan lain sebagainya. Dari sekian banyak pelajaran yang ditawarkan, ada salah satunya yang bernama pelajaran Sejarah.

Sesuai namanya, pelajaran Sejarah mengajarkan akan masa lampau bagi para pelajar, bisa jadi masa lalu bangsa, bisa jadi masa lalu dunia. Katanya, pelajaran ini berguna bagi mereka agar mengetahui apa yang terjadi di masa lampau dan bisa menyerap hal baik darinya serta menghindari terulangnya hal buruk di masa lalu. Sesuai kata pepatah, “belajar dari Sejarah”. Maksudnya sih baik.

Tapi ternyata, metode pembelajaran Sejarah yang diberikan pada umumnya di negeri ini justru bukannya mendidik. Justru pembelajaran dari masa lampau ini saya bilang cenderung jadi pembodohan. Yang membencinya pun tak sedikit.

Seperti yang sudah kita tahu — dan para pelajar senior lainnya tahu –yang namanya pelajaran Sejarah itu penuh dengan hapalan fakta-fakta yang terjadi di masa lampau. Juga sarat dengan nama-nama yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini maupun yang telah mengombang-ngambing negara dengan pemberontakannya; macamnya Sultan Hasanuddin dan Soekarno hingga Dipa Nusantara Aidit — meskipun saya tidak yakin para pelajar sekarang hapal dengan baik masing-masing wajah mereka. :? Dan jangan lupa juga yang sering membuat pelajar gerah mempelajari pelajaran ini, yaitu tahun-tahun berdigit empat yang senantiasa keluar di soal ulangan.

Dari sini, kelihatannya pelajaran Sejarah memang paling membuat gerah. Butuh otak superkomputer atau roti ajaib punya Doraemon supaya bisa menghapal hal-hal itu dengan sempurna, apalagi kalau sudah masuk hapalan tahun terjadinya suatu peristiwa. Tapi berhubung keduanya tidak mungkin dipunyai — setidaknya hingga tulisan ini dibuat — maka harus cari cara lain. Mungkin bisa dengan menghabiskan waktu berjam-jam memelototi buku pelajaran Sejarah yang konon membosankan, atau kalau ngga mau repot, silakan siapkan buku catatan yang disembunyikan di kolong meja supaya bisa dilirik setelah guru membagikan soal ulangan. :lol:

Apa boleh buat, kurikulum dan pemerintah mewajibkan soal ulangan hapalan, jadi kalau masih mau naik kelas ya harus punya trik untuk mengatasi hal itu. Yang penting naik kelas, terus nanti lulus, dan kalau sudah tinggal masuk sekolah atau universitas bagus. Mau nantinya jadi koruptor atau tukang jualan bakso urusan belakang, yang penting masuk UI dulu. :P

Nah, itulah mengapa di awal tulisan ini saya sebut-sebut metode macam ini sebagai pembodohan, atau degenerasi pola pikir seperti tertulis pada judul. Gara-gara pikiran yang seperti itu, para pelajar yang notabene remaja itu jadi punya pikiran sempit. Apa kata buku, dituruti saja.

Mengapa bisa begitu? Begini saja. Pertama, perlu diketahui bahwa metode yang dimaksud disini adalah apa yang dikenal dengan metode hapalan dan textbook-oriented. Nah, karena yang dijadikan acuan adalah buku teks, maka para pelajar akan mengikuti apa yang dikatakan oleh buku tersebut. Sampai disini sebenarnya masih belum ada masalah. Yah, kita juga kalau baca suatu buku non-fiksi yang memuat pengetahuan yang kita belum tahu dan masih kita anggap sebagai suatu hal yang benar, nantinya juga pasti akan mengutip juga dari buku itu.

Yang jadi masalah adalah ketika dalam proses pembelajaran Sejarah ini, seorang pelajar dituntut memberikan jawabannya dari berbagai soal yang diajukan oleh sang guru, yang mana jawabannya mengacu pada buku itu secara sepenuhnya. Mengerti maksudnya? Jadi yang diorientasikan adalah bukunya itu sendiri, dan bukan bahan sejarah yang sebenarnya. Istilah kasarnya, mendewakan buku teks.

Hal ini yang berakibat menjadi sempitnya pola pikir para pelajar, karena gara-gara mendewakan buku teks itu, tentunya mereka tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh buku teks, dong? Ibaratnya, masa mau menentang apa kata dewa? :? Bisa-bisa disambar petir atau dijebloskan ke dasar neraka.

Nah, ini yang gawat. Kalau panduannya hanya buku teks semata, apa yang tertempel di otak para pembaca ya apa yang dikatakan oleh si buku. Kalau buku berkata X, ya pelajar juga ikut berkata X, berhubung mereka memang sudah dipola untuk tidak membantah buku teks — karena guru juga berbasis pada buku teks itu, dan tentunya soal ulangan juga berbasis pada buku yang sama. Tambah gawat lagi jika buku teksnya ternyata isinya ngawur. Misalnya memuat bahwa segala fosil manusia purba itu cuma rekaan belaka. Atau justru dipakai untuk kepentingan politik, macamnya zaman Pak Soeharto dulu. Tambah hancur saja lah pikiran para pelajar.

Dari sini, mungkin akan ada yang protes dengan pendapat ini. Mungkin akan berbunyi semacam ini: “Mungkin memang benar bahwa pelajaran Sejarah terlalu mendewakan buku teks, tapi kalau cuma gara-gara itu tentunya tidak akan mengakibatkan pembodohan atau degenerasi pola pikir, dong? Bagaimana dengan pelajaran yang lain, yang sama-sama mendewakan buku teks?”

Wah, pelajaran apa dulu nih? Ekonomi? Dia sudah punya ‘rumusan’ tersendiri, mas, ada istilah-istilah dan aturan main yang memang harus dipatuhi. Biologi? Kecuali Anda ngerti ini-itu namanya organ apa dan bisa mengawin-silangkan alien dengan beruang, lihat buku teks dulu, deh. Matematika? Itu mah memang rumus-rumus, bung. :lol: Mau menyaingi teorema Pythagoras, ha? :P Bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Ah, silakan pikir itu pembodohan jika ente mau buat bahasa gaul. :lol:

Ini pelajaran Sejarah, mas-mas dan mbak-mbak sekalian. Pelajaran yang menilik peristiwa yang terjadi di masa lampau. Jika kita hanya bisa mendewakan satu bahan saja tanpa melirik yang lain, mau jadi apa? Pikiran kita pun hanya terikat pada satu bahan saja, berhubung soal ulangan tidak membutuhkan referensi dari berbagai media lainnya. Yang dibutuhkan hanya apa yang disebutkan di buku teks. Titik habis.

Ya, ya, mungkin masih bisa dimaklumi jika hal macam itu disuguhkan sebagai hidangan para pelajar yang masih berada di tingkat pendidikan Sekolah Dasar. Maklum, masih anak kemarin sore. Bagaimana pun, manusia butuh dasar pengetahuan untuk dijadikan landasan untuk berangkatnya nanti, yang mana masih bisa ditambal disana-sini nantinya. Tapi hal serupa tak bisa diterapkan lagi bagi pelajar yang sudah menginjak tingkat Sekolah Menengah Pertama, apalagi Sekolah Menengah Atas. Butuh peningkatan. Lalu, harus bagaimana metode pelajaran Sejarah yang benar?

Jawabannya: diskusi dan analisis.

Pepatah bilang, “kita belajar dari Sejarah”. Pemimpin besar yang sukses semacam Adolf Hitler — abaikan nama buruknya dalam hal ini — juga belajar dari sejarah. Tapi apakah dia hanya memelototi arsip sejarah yang dia punya? Apakah dia hanya mendengar cerita-cerita masa lalu dan menghapalkan urutan peristiwanya saja?

Tentu tidak. Kalau dia hanya melakukan hal itu, maka Hitler mungkin hanya akan menjadi perpustakaan berjalan. :lol: Ia bisa menjadi seorang pemimpin besar karena ia menganalisis apa yang terjadi di masa lampau, dan dengan itu dia membangkitkan Jerman dari kekalahannya setelah Perang Dunia I.

Lagipula, apakah dengan metode hapalan konservatis yang bisa membuat Anda hapal rentetan kejadian pada Perang Puputan, misalnya, akan berguna bagi pekerjaan di masa mendatang? Kecuali Anda mau jadi sejarawan, saya rasa gunanya akan jadi sangat minimal. Anda mungkin justru sudah melupakannya ketika sudah terbebas dari kewajiban yang mengharuskan Anda belajar pelajaran Sejarah.

Hal ini akan berbeda jika pelajaran Sejarah menggunakan metode analisis dan diskusi. Mungkin rasanya memang sangat sulit pada awalnya, ketika kita yang sudah didoktrin untuk menghapal barisan angka 4 digit, kini harus menganalisis segala hal yang tidak jelas. Tapi yang namanya awal, memang selalu susah. Seperti balita yang baru belajar berjalan, tentunya sulit melakukannya pada awalnya, kan? Namun jika sudah terbiasa, maka akan biasa. :D

Tidak seperti metode hapalan yang terpaku pada bahan dan fakta yang sudah ada, analisis justru mengira-ngira penyebab dan akibat dari suatu fakta sejarah yang disediakan. Seperti misalnya, mengapa Jerman bisa bangkit dari kemiskinan dengan cepat setelah Perang Dunia I? Atau bagaimana jika Jerman Nazi yang berhierarki militer itu masih jaya hingga sekarang? Dari proses analisis itu, nantinya bisa dikembangkan menjadi diskusi tersendiri. Hal ini tak bisa atau sulit ditemui dalam metode hapalan yang konservatis.

Yang menguntungkan lagi, rasa-rasanya metode ini bisa cukup menghindarkan terjadinya proses belajar yang sudah umum di masyarakat kita. Apalagi kalau bukan menyontek dan kerja sama berbagi jawaban? :P Jika metode ini didukung dengan lembar jawaban esai dan bukannya pilihan ganda ketika ulangan, tentunya para pelajar terpaksa harus berpikir sendiri dengan kemampuan analisisnya. Macamnya soal esai lainnya, menyontek dan apalagi berbagi jawaban pun sulit, berhubung jawaban yang bagus pasti panjang-panjang dan detil. :mrgreen:

Jika kemampuan menganalisis dan diskusi ini sudah dilatih sejak berada di jenjang pendidikan Sekolah Menengah, tentunya metode ini akan jauh lebih berguna dibandingkan metode hapalan yang sebelumnya. Hapalan akan terlupakan ketika pelajarannya sudah tidak terpakai lagi. Tapi ini? Kemampuan analisis ini tentunya tidak hanya bisa digunakan pada pelajaran Sejarah, tapi juga bisa digunakan secara luas. Lebih bagus lagi jika ternyata sanggup menghindarkan terjadinya fallacy. Pelajar jadi bisa berpikir lebih kritis daripada asal jeplak seperti yang terjadi sekarang.

Tentunya Anda tahu bahwa sedang tren sekarang — entah disadari atau tidak — macam-macam gaya pengucapan yang digunakan oleh para remaja. Macamnya penjelasan yang berbunyi: “gitu-gitu deh”, “ya gitu deh”, atau alasan asal yang berbunyi: “ngga tau deh”, “soalnya keren aja”, dan berbagai macam sebagainya bisa disebabkan karena kurangnya sifat kritis remaja ini. Mungkin alasan saya terdengar konyol dan sepele, tapi memang benar adanya menurut saya. :? Mereka tidak bisa menjelaskan dengan baik apa yang ada di pikiran mereka, karena itu jawaban yang dilontarkan seringkali terdengar cacat dan asal.

Pemikiran dan alasan yang konyol dan tidak berpikir secara mendalam pun saya rasa dapat terjadi karena kurangnya kebiasaan untuk menganalisis. Seperti misalnya dihadapkan pada pernyataan bahwa lebih baik Indonesia dibom atom daripada tidak merdeka 100% yang dilontarkan oleh seorang Jendral, seorang mungkin akan menjawab bahwa pernyataan itu sangat bodoh, tanpa ia berpikir kondisi dan situasi yang terjadi pada kala itu. Singkatnya, penilaian dan generalisasi sepihak. :?

Itu yang mengakibatkan terbelakangnya pemikiran remaja sekarang ini, kalau saya bilang. Mengakibatkan degenerasi pada pola pikir dan menyempitnya cara berpikir seseorang, yang mana nantinya hanya menghasilkan generasi hedonis macamnya generasi MTV, generasi gamer abadi, atau justru generasi Friendster. Menyebabkan kurangnya kepedulian remaja terhadap lingkungan sekitar karena kurangnya sikap kritis, bahkan kurangnya perhatian terhadap bangsa sendiri.

Berkaitan dengan kabar burung yang terdengar belakangan ini, bahwa akan diselenggarakannya Ujian Nasional dengan mata pelajaran Sejarah bagi kelas 3 SMA jurusan Ilmu Sosial, mungkin ada yang akan menolak keras metode ini. Mungkin ada yang beranggapan bahwa metode ini akan sia-sia karena pada akhirnya pemerintah hanya akan memberikan metode klasik yang entah kenapa tidak pernah diganti. Mungkin ada yang beranggapan bahwa metode ini tidak sejelas metode konservatif gara-gara murid harus menganalisis sendiri materinya. Mungkin ada yang takut metode ini kurang efektif.

Kenapa harus takut? Sebaliknya, saya rasa justru metode ini lebih efektif daripada metode klasik garapan pemerintah. Adapun alasannya sudah saya jelaskan panjang lebar di paragraf-paragaraf sebelumnya. Jika memang sang pelajar membaca dengan benar bahan-bahan yang ada, baik dari buku acuan maupun dari media lainnya, bukankah dengan sendirinya mereka juga mengetahui materi itu? :? Lagipula, yang diincar oleh para pelajar itu apa, “ketika Ujian Nasional” atau “setelah Ujian Nasional”? Kalau yang diincar cuma ketika Ujian Nasional aja, yah, bisa dimaklumi. Namanya juga cuma bisa mengejar nilai, bukan mengejar ilmu. :P Makanya seperti tadi saya bilang, mau jadi koruptor atau tukang bakso sama saja, yang penting masuk UI dulu. :lol:

Hal sepele semacam inilah yang juga menghambat kemajuan bangsa ini. Takut akan berubah, takut akan hilangnya metode lama yang dirasa justru menghambat kemajuan generasi. Jika yang mau dirubah sendiri takut, mau jadi apa? Pengecut, kalau mau kasar. :)

***

Sejarah, layaknya ilmu pengetahuan yang lain, sungguh bisa membangkitkan cara berpikir siswa selama dikembangkan dan diajarkan dengan benar. Selama sejarah masih terikat pada dogma-dogma dan kata-kata yang tertera di buku teks, selama satu buah buku teks masih didewakan sebagai acuan utama pelajaran sejarah, selama pelajar takut untuk berubah demi mengejar nilai belaka; maka akan sulit mengembangkan pola pikir generasi bangsa yang bagaikan katak dalam tempurung yang sempit, terkurung di dalam tempat yang sama dan hanya melihat secercah cahaya yang masuk ke dalamnya.

Salam.

. . .

Saat tulisan ini dipublikasikan, ide dasarnya terinspirasi oleh guru yang mengajar pelajaran Sejarah kelas XII di sekolah saya, SMA Labschool Jakarta.

53 Tanggapan ke “Pelajaran Sejarah dan Degenerasi Pola Pikir”


  1. 1 Uchiha Miyu Selasa, 23 Oktober 2007 pukul 23:13

    HIDUP SEJARAH!!!! XD *pdhl dirinya punya nilai terbawah dikelas*

  2. 2 alex Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 13:05

    Lho? Sejarah itu mata pelajaran penting benarnya. Semacam cergam kehidupan yang warnanya bukan cuma putih dan hitam :mrgreen:

  3. 3 Dream Maker Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 16:15

    Apa ini yang bikin stress kemarin? :-? [ditimpuk]

    aku gak pernah mendalami sejarah, maklum…

    super-lemah dalam hafalan [inti-nya, gak ada yang didalami sebenarnya, sejarah hanya salah satu dari semua pelajaran yang gak didalami...]

    [diinjek]

  4. 4 Xaliber Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 17:18

    @Uchiha Miyu:
    Sejarah memang bagus, tapi sejarah yang hanya berdasar pada penghapalan dan bukannya pemahaman adalah jelek.

    @alex:
    Betul, mas. Sejarah itu justru sangat penting. Sayang pada umumnya metode pembelajarannya salah. :? Coba dibaca aja dulu sampai habis. :P

    @Dream Maker:
    Lebih dari itu.
    Makanya, metode pembelajaran sejarah itu salah.

  5. 5 Dream Maker Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 18:18

    [tumben gak login? :-? ]

    Hoo… Ah iya, sebenernya aku gak terlalu ngerti maksud dari ‘Belajar dari sejarah’

    Bisa dijelaskan lebih lanjut? :D ?

  6. 6 Xaliber von Reginhild Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 18:23

    Tadi lewat HaPe. :P
    Maksudnya, belajar dari perbuatan para pendahulu di masa lampau. Apa yang salah, dihindari. Apa yang bagus, coba dipahami. Dan di saat yang sama mencoba memahami situasi saat itu. :?

    Makanya, metode pembelajaran sejarah pada umumnya di Indonesia itu salah (ngga tahu kalau di negara lain). Bukannya mendewakan buku teks, bukan pula menguji dengan soal-soal objektif. Sejarah itu harus analisis dan diskusi. Pemahaman, bukan penghapalan. :D

  7. 7 aroe Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 18:28

    Sejarah itu versi dari pemenang…..

  8. 8 Xaliber von Reginhild Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 18:36

    Itu dalam konteks perang. :P
    Dan sekarang sudah bukan rezim Orba, kan. :?

  9. 9 Dream Maker Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 19:24

    Oooh… I see…

    Kalau begitu, emang jelas :-? orang-orang bikin barang ajah melihat dari ‘calon barang’ yang gagal, terus bagian yang salah diubah :-?

    Sepertinya kalau pelajaran sejarah kayak begitu… Lebih menyenangkan :D

  10. 10 Xaliber von Reginhild Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 20:01

    Iya. :)
    Sayangnya, pemerintah nampaknya tak pernah belajar dari sejarah. :(

  11. 11 celotehsaya Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 20:11

    sejarah adalah cabang ilmu pengetahuan yang paling tidak pasti…

    *ngelirik ke post perdebatan harun yahya di bloggnya geddoe*

    *komen sebenernya via Y!M karena banyak kata makian*

  12. 12 Sawali Tuhusetya Rabu, 24 Oktober 2007 pukul 20:14

    Ya, ya, ya. Jadi ingat guru sejarah saya waktu SPG. Kalau mengajar nggak pernah bawa buku. Ya, maklum, orangnya sudah sepuh, mengajar sejarah bertahun-tahun, jadi hafal dan nglothok, sampai2 tanggal, bulam dan tahun kejadian peristiwa bersejarah hafal semuanya. Tapi kalau gaya mengajar seperti itu teras diterapkan, ya, benar, yang Bung katakan tadi, penyempitan pola pikir siswa. Sejarah akan menjadi pelajaran yang menarik jika anak2 diajak untuk berdialog, berinteraksi, dan berdiskusi. Jangan diperlakukan seperti keranjang sampah, hehehehe :mrgreen:
    Ya, mudah2an teman2 guru sejarah, mulai melakukan perubahan paradigma dari teacher dan textbook oriented ke student oriented.
    OK, salam.

  13. 13 rozenesia Kamis, 25 Oktober 2007 pukul 0:41

    Ah, guru komen baru 1…

    *nungguin guru lain komen, terutama guru sejarah* :roll:

    *mengetikkan komen panjang, kayaknya dibuat entry aja ah*

  14. 14 hoek Jumat, 26 Oktober 2007 pukul 0:56

    ah sejarah…saia juga funya persepsi sendiri soal sejarah! hhuh, susa sangadh ngafalinnya, afalagi memahami, fiuhh….

  15. 15 Uchiha Miyu Jumat, 26 Oktober 2007 pukul 13:17

    “@Uchiha Miyu:
    Sejarah memang bagus, tapi sejarah yang hanya berdasar pada penghapalan dan bukannya pemahaman adalah jelek.”

    Setuju. Ga bs memahami kenapa begini dan kenapa begitu. Cuma harus tau ini dan itu. Kyk bahasa. Lain kalo Maths, ya kan xali? :D

  16. 16 Dream Maker Jumat, 26 Oktober 2007 pukul 18:56

    Hah? Bahasa Indonesia memangnya iya?

    [biasanya cuman disuruh analisis sastra]

  17. 17 steax Jumat, 26 Oktober 2007 pukul 19:30

    Sejarah. Kita mikirin tentang masa lalu manusia di bumi. Kita juga mikirin masa depan.

    Sekarang coba dipikir. Kenapa kita mikir tentang sesudah mati ke mana, tapi nggak mikir sebelum lahir kita dari mana?

    ^^

  18. 18 Ash Jumat, 26 Oktober 2007 pukul 23:37

    Hm.. di labschool guru sejarah IPA sama IPS sama kan ya? Sama nggak sih? Pokoknya, beliau mengajar sejarah dengan cara yang seperti bos anjurkan, saya rasa.. Tidak berorientasi pada buku teks, tetapi silakan cari sumber-sumber sendiri di Internet atau di manapun, kemudian buatlah analisis dari sana..

    Saya rasa cara itu sangatlah bagus. Saat tes blok Sejarah kemarin, banyak teman saya yang mengeluh karena hanya disuruh menganalisis, mengarang, pokoknya menulis sesuatu yang relatif (sampai banyak yang bingung penilaian benar/salah-nya dari mana). Tetapi menurut saya itu bagus sekali, selain menyelamatkan saya–yang bahkan lupa tanggal ulang tahun teman-teman–dari hapalan yang menjemukan,itu juga membantu meningkatkan kemampuan mengarang :D (?)

    Dan saya jadi ingat, saat saya mencari bahan-bahan untuk analisis tes blok tersebut di internet, saya menemukan quote menarik. Saya lupa site yang mana (maklum, ngambil sumbernya banyak banget, ngasal lagi!) pokoknya kira-kira isinya begini:

    “Untuk tahu ke mana kita melangkah, kita harus tahu dari mana kita berasal. Dan seperti kata Presiden Soekarno, ‘Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarahnya’”

    SUPER COOL! Saya langsung suka pelajaran sejarah (tapi bukan yg berorientasi pada buku teks) setelah membaca itu..

  19. 19 steax Sabtu, 27 Oktober 2007 pukul 8:33

    Saya paling suka disuruh analisis. Jauh lebih mending disuruh mikir daripada ditanya tanggal berapa ini terjadi…

    (Gurunya agak rada-rada sih menurut saya.)

  20. 20 rozenesia Sabtu, 27 Oktober 2007 pukul 16:41

    Maka dari itu, sinkronisasikan pelajaran sejarah di SD – SMP – smA dengan MPS (Metode Penelitian Sosial)!!!! :twisted:

  21. 21 Lemon S. Sile Sabtu, 27 Oktober 2007 pukul 22:44

    ngelawan pemerintah.

    telat nih…

  22. 22 celo *hiatus* Minggu, 28 Oktober 2007 pukul 3:25

    *tjap makar didjidat jang boeat posting*

  23. 23 Xaliber von Reginhild Minggu, 28 Oktober 2007 pukul 3:42

    @celotehsaya:
    Ilmu sosial memang tidak ada yang pasti. :?

    @Sawali Tuhusetya:
    Setuju, pak. :D Hafalan dijadikan dasar + pelengkap saja. :)

    @rozenesia:
    1. :?

    @hoek:
    Dianalisis lebih menarik dan lebih bermanfaat. :P

    @Uchiha Miyu:
    Iya.

    @Dream Maker:
    ‘Iya’ apanya? :?

    @steax:
    1. Betul, betul. Orang lebih banyak meributkan afterlife. Mungkin karena anggapan ‘yang sudah berlalu, biarkanlah berlalu’? :?

    @Ash:
    Guru sejarahnya sama kok. :D
    Memang betul, lebih berguna. Dan bisa menemukan kutipan-kutipan menarik, kan. :P

    @steax:
    2. Sama. :P

    @rozenesia:
    2. Siswa SD mungkin belum begitu kuat ya… :?

    @Lemon S. Sile
    Better late than never. :P Katanya mau komen yang lain?

    @celo *hiatus*:
    :?

  24. 24 Dream Maker Senin, 29 Oktober 2007 pukul 19:19

    Maksudnya… Emangnya B. Ind itu text.book oriented…? [maaf, itu cuman semacam... 'logat' bicara yang suka nambah2in kata + ubah-ubah lokasi kata]

  25. 25 aroe Senin, 29 Oktober 2007 pukul 21:40

    yang pasti klo tentang sejarah dan seputar sejarah, jangan pelajari sejarah dari satu sisi aja….

  26. 26 anas Selasa, 30 Oktober 2007 pukul 13:39

    Bener banget
    kalo cuman maen inget-inget tahun sih nggak penting banget untuk bekal hidupnya
    emang ada orang yang ngasih uang kalo kita bisa jawab orang yang tanya-tanya tentang sejarah :?

  27. 27 purnama Rabu, 31 Oktober 2007 pukul 12:09

    Kegagalan dan kesuksesan tergantung dengan sejarahnya!!! Ketika Amerika Sukses, mereka bisa belajar dari sejarahnya. Sedangkan Indonesia gagal, ya mereka melupakan sejarah. Ketika saya mengajar sejarah, dan pada tahun pertama menjelaskan tentang berbagai produk Indonesia yang di hak patenkan oleh negara lain! Hampir semua siswa tahu, tapi sayangnya mereka hanya tahu. Dan mereka menyatakan biarkan yang lalu biarlah berlalu. Tak ada gerak atau solusi dari mereka (siswa) kemudian tahun kedua ada lagi produk Indonesia yang dihak patenkan oleh negara lain. Apa reaksi siswa???? Mereka hanya menyatakan kenapa orang Indonesia Bodoh!!! Nah, sekarang sikap kita akankah terus mengulang kesalahan!!! Nilai kognitif boleh 10, tapi otak pemecahan masalah (analisis dan kritis) dari cerminan sejarah menurut saya masih nol. Saya seorang pengajar setuju, buku teks adalah hanya alat analisis berfikir.
    Kemudian, jangan menyalahkan buku atau apapun. tapi menurut saya benahi dulu siapa yang mengajarkan sejarah. Tak sedikit, guru yang bagus membuat terkesan siswa.

  28. 28 Xaliber von Reginhild Sabtu, 3 November 2007 pukul 23:13

    @Dream Maker:
    Oh.. Panduannya dari buku teks soalnya. Seenggaknya disini begitu. :?

    @aroe:
    Betul itu. Makanya Sejarah ngga cocok masuk UN.

    @anas:
    Mungkin untuk kuis semacam Who Wants to be a Millionaire aja. :P

    @purnama:
    Sependapat, pak. :D

  29. 29 morishige Minggu, 4 November 2007 pukul 0:00

    hmm…
    semoga sejarah yang diajarkan itu benar2 sejarah..
    :lol:

  30. 30 Xaliber von Reginhild Minggu, 4 November 2007 pukul 0:22

    Karena itu jangan hanya berobjek pada satu sumber. :mrgreen: Dan disertai diskusi & analisis untuk membuka wawasan. :)

  31. 31 Dream Maker Minggu, 4 November 2007 pukul 20:32

    Hoo… Di sana begitu yah…?

    Di sekolahku gak ada buku cetaknya… Malah mesti menghadapi novel serta cerpen… -_- [test-nya pun tetap menganalisis]

    [Sepertinya harus bersyukur pada sekolah sendiri]

  32. 32 Xaliber von Reginhild Minggu, 4 November 2007 pukul 23:25

    Wah, langsung analisis ya.
    Kalau saya Bahasa Indo gpp sih, soalnya tetap menarik sih. :D Bisa mengarang juga.

  33. 33 nadia Senin, 5 November 2007 pukul 2:27

    Dear all
    setelah membaca blog ini saya sangat tertarik akan banyaknya pendapat dari generasi muda mengenai pembelajaran sejarah di indonesia. pada dasarnya saya setuju dengan pembelajaran sejarah jangan hanya mengandalkan penghapalan fakta masa lampau tapi lebih kepada menganalisis fakta sejarah. tidak banyak sekolah di indonesia yang menggunakan cara penulisan analisis bagi pelajaran sejarah yang saya anggap sangat berguna. saya mengambil MA di UK mengenai pembelajaran effective di kelas dan kita disuruh membuat essay berupa analisa di setiap pertemuan dan saya membayangkan bila metode ini diterapkan di indonesia maka pelajar indonesia mempunyai standar kemampuan penulisan dan analisa yang setara dengan mahasiswa S2 isn’t thats great? anyway pelatihan menulis sendiri akan sangat menguntungkan dan membantu dalam berpikir kritis. saya sendiri pada awalnya mendapat kesulitan bagaimana menganalisa sesuatu karena seperti kita semua tahu kita di indonesia hanya dihadapkan pada text book bukan menganalisa suatu permasalahan sedangkan disini semuanya berdasarkan analisa bukan text book. so saya mengimbau guru-guru sejarah kita menggunakan metode analisis ini selain menarik juga mengasah kemampuan menulis dan akan lebih berguna daripada hanya menghapal angka-angka.

  34. 34 Xaliber von Reginhild Selasa, 6 November 2007 pukul 19:56

    Iya, betul. Tentunya akan bagus kalau kebiasaan ini diaplikasikan sejak dulu. :D Hal yang susah akan jadi mudah kalau sudah biasa.

  35. 35 diilaa Sabtu, 17 November 2007 pukul 7:00

    i looooooovvvvveeeeeee history!!!!!

  36. 37 pizza Jumat, 23 November 2007 pukul 14:30

    sejarah itu membosankan mas-mas,, mbak-mbak,,

    TAPI!

    karena kita lagi bikin LKTI masalah metode pembelajaran sejarah yang baek,

    JADI!

    kita bilang pembelajaran sejarah itu menyenangkan
    -apabila kita menang!!!!!-

    ^_^ hahahahaha!!!!!

  37. 38 Xaliber von Reginhild Jumat, 23 November 2007 pukul 19:20

    Tergantung metodenya, pembelajaran Sejarah bisa jadi menyenangkan atau membosankan. :D

  38. 39 yusiana Sabtu, 1 Desember 2007 pukul 9:41

    pembelajaran sejarah disekolah memang sedang diperdebatkan……….berawal dari pertanyaan:”mau dibawa kemana anak bangsa ini?”..saya pikir ga ada yang telat untuk suatu perubahan kearah yang lebih baik. klo qt telaah lebih dalam, salah satu tujuan bangsa indonesia dalam uunya katanya ‘…mencerdaskan kehidupan bangsa…’kemudian bapak bangsa juga pernah bilang katanya……”bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya…” disusul dengan kata-kata………”JASMERAH!!!!” JANGAN SEKALISEKALI MELUPAKAN SEJARAH………!!!……..,tengok apa yang yang terjadi dengan sistem pendidikan qt???saya siswa sma kelasx……..duluuuuuuuuu mpe smp saya sama sekali gak suka,tp ketika saya sma guru sejarahnya hmmm keren’, muda,CANTIK,ENERGIK,cerdas,asyikk deh…mengubah pola pembelajaran sejarah jd menarik…tapi sayang………bapak pendidikan kita memandang sejarah dengan sebelah mata…moso iya lembaga pendidikan bisa melahirkan anak bangsa yang tidak melupakan sejarah,atau yang menghargai sejarah………kalowww pelajaran disekolah nya aja CUMA 45 menit….dalam seminggu…..kasian saya klo ngeliat temen2 kecewa ketika sedang HOT’ belajar sejarah dikelas harus terpotong minggu depan lag karena BEL sudah nyuruh berhenti…coba tolonh kaji ulang lagi untuk benahi sistem pendidikan kita ini…

  39. 40 Xaliber von Reginhild Sabtu, 1 Desember 2007 pukul 17:07

    Pelajaran Sejarah sendiri, terutama dalam hal yang menyangkut konspirasi, selalu punya 2 sisi. Yang resmi dan yang tidak resmi. Karena itu jangant terlalu mengandalkan pemerintah, tapi carilah informasi-informasi eksternal. :D

    Kalau kata guru saya, belajar sejarah adalah belajar dengan mencari informasi.

  40. 41 ShUzHy3Chi_Chi Selasa, 25 Maret 2008 pukul 13:25

    Pelajaran Sejarah harus benar2 diterapkan sejak SD agar anak2 bangsa agar bisa mengenal dan mengerti soal Sejarah Indonesia apalagi saat ini anak2 bangsa khususnya anak remaja nggak tau soal sejarah bangsanya sendiri, kadang ditanya soal kesenian daerah nggak tau. Wah itu masalah bagi kita semua. Malu2in dong!! Apalagi yang tanya itu orang dari luar Indonesia.
    Untuk itu bagi Pengajar dan para pembimbing harus wajib dan benar2 memberikan materi sejarah dengan baik dan benar.
    Semoga sukses!
    Terima kasih.

  41. 42 Xaliber von Reginhild Kamis, 27 Maret 2008 pukul 16:57

    Betul! Nggak usah yang jauh-jauh, macam kemerdekaan Indonesia saja masih pada bingung.. dan tentunya budaya daerah yang utama.

    Terima kasih juga. :D

  42. 43 nurul Senin, 23 Juni 2008 pukul 18:25

    sbnrnya belajar sejarah itu mnyenangkan tergantung dari gurunya dia bener – bener menguasai materi dan metode – metode pembelajaran atau tidak. Menurut saya, belajar sejarh itu mnyenangkan karna kita dapat tahu kesalahan apa yang dahulu pernah dilakukan agar tidak terulang. mungkin yang terulang hanya pola buka sejarahnya. Seharusnya pemerintah jika menghargai sejarah waktu pelajaran sejarah sebaiknya di tambah bukan hanya sampai 45 menit saja. Ingat kata Soekarno JASMERAH, dan bangsa yang bagus adalah bangsa yang menghargai SEJARAH.

  43. 44 nurul Senin, 23 Juni 2008 pukul 18:29

    BANGSA YANG PINTAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI SEJARAH.sbnrnya belajr sejarah itu menyenangkan tergantung dari gurunya itu sendiri apakah menguasai metode pembelajaran dan materi sejarah itu sendiri. Selain itu pemerintah seharusnya menambahkn jam mata pelajaran sejarah bukan 45 menit. Setau sya itu waktu yng sangat sedikit untuk beljar sejarah karena sejarah perlu dianalisis buka di hafal.

  44. 45 Syllachtea Rabu, 25 Maret 2009 pukul 17:01

    Gah, saya masih hafal betul dengan “Dokuritzu Junbi Cosakai”, sejak SD sampai sekarang tidak juga direvisi :lol:

  45. 46 ocha Jumat, 18 September 2009 pukul 15:09

    ada istilah-istilah pentink dalam sejarah ga’? tugas niehhh……


  1. 1 Thirteen Minutes to Midnight « Deathlock Lacak balik pada Kamis, 15 November 2007 pukul 1:22
  2. 2 Kisah si Tom dan si Jerry « Deathlock Lacak balik pada Minggu, 25 November 2007 pukul 16:45
  3. 3 Evaluasi dan Resolusi untuk… Revolusi? « Deathlock Lacak balik pada Kamis, 3 Januari 2008 pukul 23:01
  4. 4 Kamera, Foto, dan Narsisisme « Deathlock Lacak balik pada Rabu, 23 Januari 2008 pukul 21:53
  5. 5 Dan Ombak pun Menerjang Lagi « Deathlock Lacak balik pada Rabu, 6 Agustus 2008 pukul 21:08
  6. 6 PENGAJARAN SEJARAH : ANTARA KEBENARAN DAN KEPENTINGAN « Toniarif82’s Weblog Lacak balik pada Senin, 8 September 2008 pukul 15:07
  7. 7 Ahmad Ilham Santosa » Tom & Jery 2 Lacak balik pada Rabu, 12 Agustus 2009 pukul 16:15

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 114,001 soldiers