Beberapa hari lalu saya sedang berselancar di internet, mencari suatu hal lewat fasilitas yang diberikan oleh Google. Lagi cari-cari apa saya sudah lupa.
Pokoknya sedang cari sesuatu yang kayaknya penting, tapi mudah-mudahan masih dianggap halal sama FPI. Waktu lagi cari-cari barang itu, kebetulan waktu itu Google mempersembahkan link menuju salah satu forum yang saya kenal.
Dari hasil pencarian itu, rupanya saya justru melihat-lihat topik lain yang ada di forum itu. Maklum, sudah lama ngga kesana. Dan kemudian, saya menemukan suatu hal yang menarik.
Humor. Ya, yang menarik adalah humor, atau disebut juga komedi dan cerita lucu. Apa yang membuat cerita ini menarik? Bukan karena jayus tentunya. Yah, berikut ini humornya.
Ane kaget banget kemaren ini pas lewat di depannye kelurahan, ngebace
spanduk nyang isinye:
“SAVE THE COUNTRY, HANG TNI … SAVE THE PEOPLE, HANG POLRI”
Usut punye usut, ternyate nyang dimaksud ialah:
“Keselametan negare, tergantung TNI … keselametan rakyat, tergantung POLRI”.
Bujubuneng …, rupenye si Lurah baru ikutan kursus bahase Inggris tapi
udah nekat buat tampil ….
Sekilas, humor ini tampak biasa saja. Mirip dengan humor-humor lainnya yang menggunakan ketidakfasihan berbahasa Inggris sebagai dasarnya. Tapi setelah melihat keadaan sekarang, rasa-rasanya humor ini bisa menjadi sindiran terhadap para aparat keamanan di Indonesia ini.
Kenapa? Yah, lihat saja peristiwa yang terjadi beberapa minggu ke belakang. Soal penembakan petani yang dilakukan oleh TNI Angkatan Laut. Tentunya hal ini benar membangkitkan amarah rakyat, terutama sesama petani. Bahkan sempat panas pula di dunia perbloggingan ini, saya rasa. Tak heran jika akan banyak orang yang merasa ingin menggantung TNI, membantai mereka. Ada pula mungkin yang mencap TNI sebagai anti-rakyat. Yah, pokoknya macam-macam lah cara manusia menuangkan amarah mereka, macamnya karena nila setitik, rusak susu sebelangga.
Sekarang kita lihat bagaimana POLRI. Bagaimana dengan keadaan POLRI saat ini? Apakah polisi adalah “Sahabat Rakyat”? Apakah mereka memuaskan keinginan rakyat dan dapat memastikan bahwa peraturan ada bukan untuk dilanggar? Atau apakah saking bersahabatnya mereka, Anda bisa lolos dengan segepok kertas hijau meski melanggar peraturan?
Mungkin kadang-kadang Anda menemui oknum polisi yang mengesalkan dan cari-cari masalah sehingga mesti dibungkam dengan suatu cara. Mungkin juga saking mengesalkannya mereka, sampai-sampai Anda merasa jadi anti-polisi. Yah, tentunya Anda-anda sekalian yang menyetir kendaraan dan sering berada di jalan lebih tahu. Tapi, sama seperti TNI, citra polisi kok makin lama makin buruk.
Kembali ke humor diatas. Dengan melihat keadaan seperti ini, rasa-rasanya humor itu bisa jadi sindiran yang telak mengenai para aparat keamanan negeri ini. Padahal humor itu tertulis — di forum yang saya kunjungi — sudah 2 tahun yang lalu. Berarti citra para penjaga keamanan itu sudah mulai memburuk sejak abad baru ini ya, saya kira-kira.
Padahal kalau melihat ke belakang, ketika kita masih berhadapan dengan negeri kincir angin dan bukannya negara tetangga, dapat dilihat bagaimana usaha TNI yang melindungi rakyat yang sebenar-benarnya. Kita lihat saja ketika Agresi Militer Belanda, bagaimana TNI dengan Jendral Soedirman menghadapi lawan mereka dengan strategi adaptasi dari negara bekas pimpinan Adolf Hiter dan mengganti strategi linier mereka yang lama.
Apa hubungannya dengan rakyat? Jangan salah, strategi Wehrkreise yang digunakan ini membutuhkan dukungan penuh dari rakyat. Apalagi karena di dalamnya mengandung taktik perang gerilya juga, dimana mereka harus bersembunyi di pelosok hutan dan meminta bantuan rakyat di desa terdekat. Ketika itu, rakyat akan membantu para pejuang negara mereka dengan senang hati. Memberikan stok makanan, obat-obatan, dan lain sebagainya, sehingga akhirnya penjajah dapat disingkirkan.
Cukup kontras sekali dengan keadaan sekarang, ketika TNI malah menembaki rakyat miskin, sehingga menimbulkan generalisasi dan penilaian sebelah mata. Begitu juga dengan POLRI.
. . .
. . .
. . .
Yah, sekian dulu. Tak tahu mau berkata apa lagi, berhubung saya memang cuma mau memberitahu soal lelucon ini aja. Lagi pusing pula, mungkin karena kebanyakan main Halo 3.
Omong-omong soal Wehrkreise dan Malaysia, jadi mau membicarakan… ah sudahlah.



PERTAMAX!!! *digeplak xali*
Salah satu orang jangan salahkan semua dong.
betoel itoe…salah greet wilders djangan gantoeng semoea boele belanda doenks….
*ditendang mijoe*
IMO, mereka poenja pripilages…tapi ndak poenja arena oentoek menjaloerkan…
lagian itoe legal kan…???soalnja jang ditembak beloem tentoe djoega orang jang soetji…
@keduanya:
Saya ngga pernah menyalahkan TNI dan POLRI. Hanya memberitahu bahwa banyak rakyat yang sekarang ngga menyukainya.
Seperti di US, polisi mulai sembarangan. (halah!)
Mentang2 ada ‘pass’ sama senjata sih…
Dalam politik, jika ingin berkuasa, adalah haram jika anda tidak berafiliasi dengan militer.
Sayangnya affiliasi pemerintah dan militer nggak sinkron sama rakyat. Ujung-ujung affiliasi tersebut ya kekuasaan dan uang.
Polisi? Ah, obsesi mereka kan melayani rakyat. Baru sekadar obsesi…
*melirik iklan di Pos Polisi sektor Bulaksumur UGM*
perasaan ik oedah ditjaboet degh…
apa masi…???
jah…pan orang berkoeasa boetoeh privilages…
Masih ada kok rasanya.
Di Pos Polisi Monjali sama Gejayan ConCat juga masih ada.
I hate fu*kin` cop.
Ttg TNI: selama mereka masih ‘berkeliaran’ di tengah masyarakat sperti skarang (belum masuk barak) maka selalu besar kmungkinan tuk mereka bentrok dgn mayarakat (yg dianggap inferior) & polisi (yg dianggap saingan dlm superioritas).
Ttg Polisi: (sebagian dari) mereka telah sukses berevolusi dari aparat menjadi keparat…
ugh…emang citra TNI dan POLRI uda buruk sangadh, dari semenjak jaman ORBA…ah ya, jadi wajar sangadh kalo terjadi generalisasi, karena mereka sendiri ngga mau membuang oknum-oknum yang merusak citra mereka….
Yah, memang banyak anggota TNI-POLRI yang kurang profesional dalam arti kata luas, namun bukan TNI-POLRI saja di negara ini yang ‘kurang profesional’ tapi kalau kita lihat berbagai lapisan masyarakat dari berbagai profesi yang juga kurang profesionalitasnya (bedanya mungkin TNI-POLRI bersenjata sedangkan masyarakat biasa tidak), sampai2 mahasiswa Indonesia saja banyak yang tidak ‘profesional’ sebagai mahasiswa, juga dosen2 dan guru2! Lihat aja tuh si pak Lurah yang habis kursus bahasa Inggris sampai keluar spanduk lucu seperti itu, jangan2 guru bahasa Inggrisnya juga kurang profesional!
baroe taoe kalo monoemen Jogja kembali dan gedjajan itoe masoek sektor boelaksoemoer OeGM…
*mangoet mangoet*
Nggak masuk kok.
Makanya aku bilang 3 tempat.
Ntar cari lagi.
@Uchiha Miyu:
Kalau ngga ada akses repot.
@rozenesia:
Macamnya Pak Harto?
Mari kita lihat Jerman 60 tahun yang lalu. (?)
@celotehsaya:
@telmark:
*manggut2*
@jensen99:
Maka dari itu… sangat disayangkan TNI sekarang yang katanya kejam. Padahal dulu kedatangan Belanda yang kedua kalinya berhasil diusir karena gabungan kekuatan TNI dan rakyat. Rakyat kecil, terutama.
hoek:
Susah sih ya.
Yari NK:
Iya juga. Kalau bisa dirombak, seharusnya bidang pendidikan dan manajemen SDM di Indonesia ya yang ditingkatkan.
2 poster diatas:
*ngga ngerti*
Nggak cuma Pak Harto. Hampir semua penguasa yang kekuasaannya langgeng juga ‘merangkul’ militer.
SBY juga militer kan…???
adolf juga…
tunggu-tunggu, stalin juga degh….
siapa sih yang ngggak…???
Nggak merangkul militer? Cepat lengser.
Oh, yang kuasanya lama rupanya.
Soekarno?
semua itu oknum….
dan kembali ke masing2 individu,
apakah anda “APARAT” atau “KEPARAT”???
apakah anda “BIROKRAT” atau “BIRO-CRAP”???
Gandhi merangkul militer gak yach????
Dan seorang individu bisa mempengaruhi individu lain, bagaikan virus.
Kayaknya Gandhi belum pernah.
gandhi g merangkul militer…
tapi merangkul massa….
dan massa sama kuatnya dengan militer yang tidak dirangkul penguasa…
Gandhi bukan penguasa.
…dan dia di-assasinate.
…dia lebih ke pemimpin spiritual, dengan merangkul agama.
Tidak harus mencela tapi gimana kita sama membantu aparat kita tuk bisa melindungi rakyatnya semua harus berperan coy, kalau oknum disetiap instansi manapun ada dan tidak akan pernah hilang selama kehidupan masih ada, gitu men…!
@andrew joe:
Koordinasi aparat dan masyarakat, itu juga yang saya inginkan.
Wah-wah jangan main gantung2x dulu dong.Kalo polri 99% digantung gw setuju yg 1% jgn krn org jujur.Dr Perwira tinggi(biangnya Korup) sampai Tamtama (kelas kroco yg nyebelin , sok kuasa & Jagoan neon)Polri itu doktrinnya Gemukin perut dg menghalalkan segala cara,cm sebagian kecil yg tidak bgt biasanya yg dr pasukan brimob malah mereka tidak mau disebut polisi.Kl Tni 40% digantung gak apa terutama Pati & Pamen nya(Koruptor,Kolusi dgn Pengusaha Ilegal,Nyunatin kesejahteraan prajurit kecil).Perwira(Yg bukan dr Akmil)& Bintara & Tantama masih bisa diperbaiki krn mrk cm stress faktor ekonomi so pelampiasannya kdg2x keterlaluan dilhat dr kacamata orang awam,sebenarnya golongan ini baik2 orangnya & tulus Kalo berteman,kalo gak percaya cb berteman dg golongan ini trus bandingkan dg berteman sm polisi dr level apapun(saran gw jgn skali2 Amit Amit deh punya temen Polisi GW KAPOKKKK).Gw udah buktiin berteman dg 2 golongan baik polri atw tni selama 15 tahun terakhir ini dan yg ttp bertahan hubungannya cm dg tni.
Saya nda ‘mensahkan’ (halah) gantung2an kok…
Kayaknya yang ‘kelas menengah atas’ ya yang biasanya tergoda buat korup. Thx infonya btw.