Popularitas atau Orisinalitas?

Selamat malam permisa, hari ini kita kembali lagi dengan Xaliber von Reginhild Deathlock pada blognya sendiri yang berjudul Deathlock. Di malam hari yang mana bulannya bersinar dengan terang ini, menerangi gelapnya malam meskipun tak kan menerangi gelapnya kamar tanpa lampu bohlam, saya akan kembali menulis setelah selesai dilanda Uji Teknik Sontek. Baiklah, sesuai dengan janji saya sebelumnya, maka hari ini saya akan kembali mengisi entri kali ini dengan rant belaka. Misuh-misuh lagi.

Setelah misuh-misuh soal semacam plagiarisme, kali ini saya mau kembali misuh-misuh tentang yang masih berhubungan dengan entri sebelumnya. Semoga entri kali ini yang tanpa kata sumpah serapah seperti sebelumnya bisa lebih bermanfaat dari sebelumnya–meskipun saya kira ini tak begitu penting untuk dibaca. Selamat membaca.

***

masterchief.jpg
“Should I be an inventor or an implementor?”

Lebih baik jadi penemu atau pemopuler?

Pertanyaan ini sempat terngiang di kepala saya beberapa kali meskipun sebenarnya tak ada yang bertanya seperti itu. Masalah ini timbul sudah sejak lama, dan baru belakangan ini timbul kembali dan dijadikan bahan tulisan — berhubung saya baru punya blog beberapa bulan ini. Seperti yang dapat disimak pada entri sebelumnya, rupa-rupa dari masalah ini nampaknya bisa dibuka dengan suatu tindak plagiarisme.

Masalah ini mungkin bisa timbul ketika kita pertama kali mempunyai suatu ide atau konsep yang dirasa orisinil. Entah dengan Anda, tapi kalau saya sih sering merasakan hal ini kalau sudah timbul ide yang aneh-aneh. :? Sebenarnya lebih baik jadi penemu atau pemopuler?

Apa sih bedanya? Kalau penemu, berarti dia orang yang menemukan atau menghasilkan ide atau karya itu untuk pertama kalinya. Orang yang mempunyai ide yang orisinil, ide yang berperan sebagai dasarnya. Sementara pemopuler… yaa, bisa berarti dia itu yang mengambil ide sang penemu itu. Bisa asal comot macamnya si Eki dari kisah saya di entri sebelumnya, bisa mengembangkan sesuai dengan kreatifitasnya sendiri, bisa juga lainnya. Pokoknya, melandaskan hasilnya dari karya yang sudah ada, entah karya aslinya itu terkenal atau tidak, entah dia menyebutkan bahwa dia terinspirasi atau tidak. Yang pasti, dia jadi terkenal dan dikenal oleh karenanya.

Kalau ada yang memilih lebih baik jadi penemu sekaligus yang memopulerkan… ya ya… itu sudah diluar konteks. Jawaban yang menyebalkan. Disini hanya bisa pilih satu, mau jadi penemu atau yang memopulerkan. Karena untuk menemukan suatu hal yang baru sekaligus memopulerkannya bukan hal yang benar-benar mudah. Pilih, mau jadi penemu dengan ide dan konsep yang orisinil atau yang jadi terkenal karena ide serupa.

Lho, apa ini penting? Mau jadi penemu kek, mau jadi orang yang idenya dicomot kek, sebodo amat! Lha, kalau Anda rasa ngga penting, ya lihat anjuran saya di sidebar aja. :? Kunci maut Alt+F4. Lagipula saya sudah bilang bahwa bisa jadi entri yang satu ini ngga penting.

Sejujurnya, menurut saya hal ini rada penting. Contohnya lagi-lagi bisa dilihat pada entri sebelumnya, ketika seorang Alif yang program buatannya dicomot seenak jidatnya tangannya oleh si Eki. Yang mana pada akhirnya Eki lah yang dihargai dengan hadiah sebagai pemenang, bukan Alif yang membuat programnya. Kalau mau lebih diperluas lagi, sebenarnya ini juga terjadi di kejadian nyata. Misalnya pada kasus film animasi beberapa tahun yang lalu, ketika film A Bugs’ Life bocor ide ceritanya dan kemudian ditiru oleh film Antz. Meskipun pada akhirnya A Bugs Life memang menuang responden lebih banyak, tapi kasus itu tetap bisa diambil sebagai contoh. Atau mungkin para ahli komputer yang profesional lebih tahu contoh lain semisal dunia kelam bisnis penuh tipu muslihat di dunia digital ini? :?

Kalau mau jadi penemu, sebenarnya siapa saja bisa. Yah, hampir sebagian besar orang bisa, setidaknya untuk menciptakan ide-idenya itu. Tentunya ide kreatif dan orisinil bisa menembus batas usia dan strata sosial, kan? Siapa pun bisa jadi kreatif dan imajinatif. Cuma untuk mewujudkan hasil imajinasinya itu yang mungkin rada sulit untuk beberapa orang, bisa secara finansial, bisa jadi secara logika — sampai saat ini untuk penemuan mesin waktu buatan manusia memang masih rada diluar logika.

Nah, kekurangan dari orang-orang kreatif itulah yang dimanfaatkan oleh para pemopuler. Mereka melihat suatu lubang, suatu celah yang melubangi sang penemu itu. Melihat kesempatan emas tersebut, langsung saja para pemopuler itu bisa beraksi. Bisa langsung main comot ide orang lalu mengatasnamakan diri sendiri, atau kalau mau belajar dari kekreatifan sang penemu aslinya bisa dikembangkan lagi sendiri. Biasanya tindak pemopuleran ini mengenal batas usia atau strata sosial. Contohnya, hanya orang-orang yang terkenal dan punya nama yang bisa membuat suatu hal yang sebenarnya bukan temuan dia jadi terkenal atas nama dirinya, macamnya Roy Suryo. Meskipun begitu, memang ada beberapa yang sekedar iseng menggunakan/menyebut suatu inovasi tersebut secara intensif, yang mana tanpa sadar justru dia jadi sang pemopuler.

Itu kalau masih dalam cakupan domestik, masih mendingan deh. Masih ada aktor-aktor intelektual yang bisa mengungkap hal tersebut. Kalau cakupannya sudah luas? Rada gawat juga itu, apalagi kalau sudah tertanam ‘doktrin’ yang membenarkan bahwa orang itulah yang menemukan hal baru tersebut. Misalnya, Christopher Colombus. Tanpa maksud mengurangi nilai dari jasa yang telah dilakukan oleh Colombus, sebenarnya orang Eropa yang menjejakkan kakinya ke benua Amerika itu kan Amerigo Vespucci. Tapi hingga sekarang, nyatanya Colombus lah yang dapat nama — meskipun nama Amerigo tetap diabadikan sebagai nama Amerika, tapi cobalah tanyakan siapa penemu benua Amerika.

Saya memang tak tahu apakah Amerigo meributkan masalah itu atau tidak, tapi itu salah satu contoh kasusnya. Prinsipnya, ‘yang punya nama yang benar’. Jadi kalau mau diakui, kita harus terkenal, harus dikenal oleh orang luas. Selanjutnya untuk jadi orang pintar mudah. Mau itu hasil karya kita atau bukan, mau hasil karya kita sebenarnya sampah atau berlian, yang penting orang lain tahu bahwa itu kita yang buat dan hasilnya memuaskan. Dari sini, timbul pertanyaan lagi:

“Apakah ‘nama’ dan popularitas adalah hal yang utama?”

Untuk berdakwah harus jadi selebritis, baru orang mau dengar? Untuk dihargai oleh masyarakat, harus bikin umbar janji dulu? Apa perlu jalan belakang juga untuk membuat diri ‘dikenal’? Harus menjilat bersilaturahmi dengan para petinggi perusahaan supaya bisa jadi manajer keuangan?

Yah, itu dia. Kembali ke pertanyaan awal, sebenarnya lebih baik penemu atau pemopuler? Penemu yang berpikir dengan otaknya sendiri, atau pemopuler yang meminjam otak orang lain? Penemu yang berupa sistem sosial terbuka, atau pemopuler yang berupa sistem sosial tertutup?

Meskipun sejujurnya saya condong ke salah satu sisi, tapi saat ini belum bisa memberi jawaban pasti. Menjadi yang menemukan dan merealisasikannya bukan hal yang sederhana juga. Ide-ide inovatif dan mungkin saja membawa revolusi dilahirkan dari otak seseorang yang mungkin tak pernah terpikir oleh orang lain. Sementara menjadi orang yang melihat ide orang lain dan membuatnya populer juga bukan hal yang mudah. Sang penemu harus bisa ‘dibungkam’, atau popularitasnya harus tenggelam diantara yang lain, dengan begitu bukanlah dia yang populer. Namanya kandas. Hilang ditelan bumi. Sementara biarlah kita yang dikenal masyarakat, siapa tahu bisa mendapat penghargaan.

***

Sekian celoteh dan makian kekesalan saya malam ini. Setelah dilihat-lihat, rasanya ini justru lebih kurang punya makna dari entri sebelumnya dan cakupannya lebih sempit. Tapi ya sudahlah. :P Mudah-mudahan entri ini bisa mengakhiri kekesalan dan ranting saya minggu-minggu ini. Semoga pada kesempatan berikutnya saya bisa memberikan informasi yang lebih berguna dibanding hal-hal yang tak diperlukan sebelumnya.

Baiklah, selamat malam pemirsa. Terima kasih telah menikmati tulisan ini, dan sampai jumpa pada kesempatan berikutnya! :mrgreen:

27 pemikiran pada “Popularitas atau Orisinalitas?

  1. Hem…

    Kalo gw.. Bingung deh.

    (Bikin komik itu termasuk pemopuler atau penemu sih?)

    ANYway, kalau disuruh memilih secara objektif, saya bakal memilih penemu.

    Mau ujungnya dijiplak kek, yang penting kitanya sudah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya.

    Liat sisi positifnya saja. Kalau orang bersedia untuk mengikuti atau menjiplak (kasarnya) atau berbagai upaya yang mengarah ke arah situ, berarti secara nggak langsung mereka mengakui kalau karya kita bagus kan?

    Berbangga hatilah (sedikit). Yah, tapi kesel juga ya…

  2. Setidaknya, KITA dan PARA PENJIPLAK tahu kan? :D

    Tapi yaa.. Kalau memang karya kita mau jadi terkenal, kita emang harus punya koneksi.

    Nggak harus nepotisme. Biasanya kan bisa minta diperkenalkan kalau temen kerja di bagian ini, temen kerja di bagian itu..

    Itulah gunanya almamater. Cukup ampuh melawan para plagiator. Hahaha…

  3. Yah, hanya korban dan pelaku. Kurang lebih mungkin seperti kasus pembunuhan juga. :? Oh ya, sama Tuhan juga tahu, bagi yang percaya. :P

    Kalau koneksi… yah, seperti dibilang diatas. Harus menemukan dan memopulerkan, dan itu tak semudah jadi penemu saja atau pemopuler saja.

  4. ada beberapa fakta yang bisa saia dafadkan disini!
    1. A Bugs’ Life bocor ide ceritanya dan kemudian ditiru oleh film Antz. :mrgreen:
    2. orisinalitas tidak selalu menjadi sebab dari popularitas
    3. popularitas tidak selalu menjadi akibat dari orisinalitas
    opini saia untuk foint diatas :
    1. SAIA BARU TAU!!! *fergi ke rental VCD, nyewa antz sama A bugs’ life lagi”
    2 dan 3. makanya, orang yang fofuler tafi bukan karena karyanya sendiri, sering tenggelam dengan cefadh sangadh, beda orang yang fofuler, dan fofulernya karena karyanya sendiri…hmm…*manggud-manggud*
    ________
    ah, fusing saia mesti komeng serius kek gene!!!
    argghhh…

  5. Hm..entah kenapa, pertama kali baca ini saya langsung teringat perihal Gilderoy Lockhart-nya Harry Potter..

    Never Mind..

    Saya bingung pilih apa. Pasalnya, iya sih, saya mau jadi penemu saja, tidak peduli nanti tu karya dijiplak atau tidak, tapi begitu tahu ‘oh, sebenarnya karya saya bisa jadi terkenal! Tapi karena sayanya tidak populer, jadinya tidak bisa dipublikasikan. Eh, pas dia yang populer ‘mengudarakan’ karya saya, nyatanya karya saya bisa terkenal!’

    …ini masalah yang pelik, memang…

  6. Jadi peng-’improve’ ga ada yah?

    Ah, otak kanan maunya jadi penemu, otak kiri maunya jadi populer ~_~

    Tapi aku milih jadi penemu ajah, soalnya penemu itu bagiku mementingkan ‘kesenangan’ dalam menemukan :D bukan ‘kepopuleran’ dalam menemukan [cuman pendapat pribadi :p ]

  7. Oh, peng-’improve’ sama pemopuler sama yah? kirain beda :-s

    bagiku, kalo peng-’improve’ kan mencuri dasarnya, sedangkan ‘pemopuler’ itu mencuri mentah2, 2-2nya sama-sama mencuri sih :p

  8. Guru: Jadi bisa dikatakan Chairil adalah pengarang blablabla… *lupa judul bukunya*

    Gie: Tapi pak, dia hanyalah penerjemah dan tak bisa disebut pengarang. Pengarang aslinya [xxx] *lupa namanya* juga lumayan dikenal di sini.

    Guru: Iya, kamu tahu. Tapi apa yang lain tahu?

    Murid-murid: *terdiam*

    Gie: Tukang becak juga tidak kenal Chairil.

    Guru: Kamu yang tukang becak!


    :lol:

  9. penemoe memang memiliki kepoeasan tersendiri…tapi terkenal itoe djaoeh lebih memoeaskan lho…ketjoeali kalo sebagai orang jang terkenal dia diharapkan oentoek memplagiatnemoekan lebih banjak lagi…kalo jang seperti ini…ik lebih milih mendjadi penemoe…

    betewe, oedah diapdett…masa link tjeloteh larinja ke ik…???emangnja ik tjerewet bener ja…??? :?

    *ditebas pake zarken*

  10. Si Bos : Ye.. itu, dia dengerin cerita-cerita dari penyihir hebat tentang mereka yang ngalahin werewolf lah, dan segala macam. Trus si Lockhart ngaku-ngaku ke publik kalo dia yang mengalami semua itu. Alasannya ‘kalo mereka yang memublikasikan, mereka nggak akan terkenal karena mereka udah tua, jelek. Kalau aku yang masih muda dan digemari banyak cewek, pasti lebih populer’

    Ya.. masih nyambung sama tema anda lah..

  11. rozenesia:
    Hoo… ada pula ya dialog seperti itu? :?

    celotehsaya:
    Larinya kesitu, dipas-pasin. :P

    Uchiha Miyu:
    Dan biasanya kalau ada yang bisa mengembangkan suatu hal lebih lanjut dan lebih sukses, penemu aslinya kandas. :?

    Ash:
    Hoo, begitu. Wah, gawat juga Lockhart. :? Baca novelnya tapi kok lupa adegan itu ya (apa itu di buku ketujuh?).

    hariadhi:
    Kembali ke kondisi orangnya juga, rasanya. :)

  12. celotehsaya:
    Larinya kesitu, dipas-pasin. :P

    sama-samalah…ik djoega robot error larinja kesini…

    Ash:
    Hoo, begitu. Wah, gawat juga Lockhart. :? Baca novelnya tapi kok lupa adegan itu ya (apa itu di buku ketujuh?).

    boekoe kedoealah…

  13. Menilik tulisanmu:
    “Apakah ‘nama’ dan popularitas adalah hal yang utama?”

    Penemu itu, karena dia menemukan sesuatu yang baru, tentu dia akan bahagia. Bahagia karena dia bisa menemukan sesuatu yang berguna,bermanfaat bagi orang lain, bahagia karena berhasil membuahkan sesuatu dari hasil kerja kerasnya, dan bahagia karena bisa menyenangkan orang lain.

    Dari kebiasaan penemu, dia mungkin dan hampir pasti dapat membuat lagi karya-karya/hal-hal yang baru, yang lebih kreatif dan orisinal, yang tentunya akan semakin membuatnya bahagia.

    Untuk penjiplak, apakah dia bahagia? Tidak. Dia senang, namun tidak bahagia. Bahagia dan senang itu 2 hal yang sekilas hampir sama, tapi sebenarnya sangat berbeda. Dia bisa senang, dia bisa merasa menang, dia bisa gembira riang, tapi tetap saja ia tahu kalau itu bukan karyanya, dan ia tidak akan memperoleh kebahagiaan yang bisa diperoleh penemu.

    Dari kebiasaan penjiplak, akan timbul sifat-sifat yang mungkin dan hampir pasti akan merugikan dirinya kelak. Dia bisa saja mendapat ketenaran dan kesenangan, tapi itu hanya sementara, selama karya yang dia jiplak sedang populer. Dia bisa saja melakukan itu terus menerus dan terus dapet kesenangan, tapi suatu saat dia pasti akan jatuh.

    Bangkai yang disimpan itu suatu saat akan tercium baunya.

  14. celotehsaya: :-?

    wajanhijau:
    Setuju… penemu pada dasarnya memang lebih enak. :D Tapi kalau pemopuler yang mengembangkan dari apa yang ditemukan oleh penemu sebenarnya bisa mengalahkan pamor penemunya juga, dan itu rada repot. :?

  15. Hehehee….. Mengingatanku pada lagu The Who yang mengejek “vintage”, dan plagiarisme

    We sing the same old song
    with a few new line
    and everybody wants to cheer it

    hehehe… mungkin ga nyambung tapi bagi saya nyambung nyambung aja

    kalau saya pribadi mungkin milih penemu.. kalau penemu itu bebas mau nge”abuse” product segimanapun, sedangkan pemopuler harus ikutin itu formula atau bisa jatuh…

  16. Ping-balik: Hati-hati Link Jebakan « Deathlock

  17. Ping-balik: Kamera, Foto, dan Narsisisme « Deathlock

  18. Orisinalitas kalah dengan popularitas….
    karena mayoritas suka dengan power mereka yang sudah merasa powered
    padahal power mereka yang bajakan/ modifikasi
    itu merupakan karya yang fail
    dan meski orisinalitas itu minor itu masih berarti
    dan pasti masih ada yang suka dengan orisinalitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s