Katanya, pendidikan merupakan salah satu hal yang fundamental dalam membangun negara. Pernyataan ini didukung dengan argumen yang cukup logis, bahwasanya jika masyarakat dari suatu negara diisi dengan orang-orang yang pintar dan berpendidikan, maka orang-orang pintar tersebut bisa menggunakan kepintarannya untuk membangun bangsanya agar menjadi lebih baik, dan bukannya justru menjadikan bangsa sebagai alat untuk meraih kepentingan individu.
Atas dasar itu, dibangunlah yang namanya sekolah untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat. Dibentuk pula bagian dalam pemerintahan yang mengurusi hal terkait. Di sekolah, masyarakat diberikan berbagai macam pelajaran untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka. Begitu pula yang terjadi di Indonesia.
Sekolah-sekolah di Indonesia menawarkan berbagai macam pelajaran yang bisa dinikmati oleh para pelajarnya. Macamnya pun beragam, dari Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Teknologi Informasi dan Komunikasi, hingga Seni Musik dan lain sebagainya. Dari sekian banyak pelajaran yang ditawarkan, ada salah satunya yang bernama pelajaran Sejarah.
Sesuai namanya, pelajaran Sejarah mengajarkan akan masa lampau bagi para pelajar, bisa jadi masa lalu bangsa, bisa jadi masa lalu dunia. Katanya, pelajaran ini berguna bagi mereka agar mengetahui apa yang terjadi di masa lampau dan bisa menyerap hal baik darinya serta menghindari terulangnya hal buruk di masa lalu. Sesuai kata pepatah, “belajar dari Sejarah”. Maksudnya sih baik.
Tapi ternyata, metode pembelajaran Sejarah yang diberikan pada umumnya di negeri ini justru bukannya mendidik. Justru pembelajaran dari masa lampau ini saya bilang cenderung jadi pembodohan. Yang membencinya pun tak sedikit.




New Medals