Mau Sukses Kok Repot?

Setelah sekian lama saya mati suri total dalam dunia perbloggingan — tidak nulis, tidak komen, tidak buka sama sekali — akhirnya saya bisa kembali menulis. Lho, kenapa muncul lagi secara tiba-tiba? Mati yang lalu itu tidak terjadwal, jadi munculnya pun juga tidak terjadwal.

Yah, sudahlah. Mari akhiri bualan tidak jelas yang telah saya tulis diatas. Karena sudah sangat lama tidak menulis, rasa-rasanya kemampuan menulis saya agak berkurang. Cuma kebanyakan diplomasi ga guna di forum internet aja belakangan ini. :lol: Saya jadi kebiasaan untuk mengurangi sindiran, memakai bahasa diplomasi yang blibet dan berbicara halus. Takutnya kemampuan menulis satir saya yang belum profesional malah musnah sama sekali lagi. :P

Oke lah. Di kesempatan kali ini, perbolehkan saya untuk kembali menulis dengan baik, yang akan diawali dengan ranting. Yah… ranting, bukan ranting atau renting. Misuh-misuh.

rukiashow.jpg
“Dengan sedikit ‘nama’ dan teman yang jago gambar, saya pun bisa jadi pelukis terkenal, lho…”

Ada apa kali ini? Tidak ada apa-apa, kecuali lagi-lagi kasus plagiarisme. Oh, bukan… bukan plagiarisme. Lebih kompleks daripada itu kayaknya. Soalnya ini bukan sekedar ngejiplak tanpa izin aja. Yang bikin karya aslinya tahu kok. Yang ngga tahu itu yang melihat karyanya.

Supaya nanti tidak ada pihak yang tersinggung, mari kita ibaratkan ini sebagai sebuah cerita. Mari saya perkenalkan satu-satu tokohnya…

  • Alif: Remaja 17 tahun yang idealis. Tipikal bocah geek yang kerjaannya nongkrong di depan komputer seharian, membuat berbagai macam aplikasi dengan bahasa pemrograman yang ngga dimengerti orang-orang sekitarnya, tapi cuma dia buat untuk keperluannya sendiri. Individualis sejak kecil karena dulu selalu dikucilkan, jadi sekalinya dia mendapatkan teman, ia nurut saja bila disuruh-suruh. Kaku dan pendiam kalau berhadapan dengan orang yang belum dikenal, tapi bisa sebaliknya bila berhadapan dengan orang yang sudah dikenal. Agak sombong tapi pemalu.
  • Bang Ren: Mahasiswa abadi, entah sudah berapa semester dia mendekam disana. Jurusannya apa, tak begitu penting. Nama lahirnya sebenarnya Adrenia, tapi karena terkesan perempuan, dia lebih suka dipanggil Bang Ren. Si Bang Ren ini cuma rajin sama hal-hal yang dia sukai. Kalau sudah menghadapi sesuatu yang dia ngga sukai, biasanya menghindar. Hobinya dugem sama bergawul, kalau ngga lagi mabok-mabokan atau buka hal-hal mesum. Sahabat baiknya Eki, kenalan waktu lagi sama-sama dugem. Kenalannya Alif, entah gimana caranya mereka ketemu, pokoknya kenal. Suka nyuruh-nyuruh Alif untuk membuat aplikasi komputer.
  • Eki: Remaja 17 tahun temannya Alif. Sama-sama geek kayak Alif, komputer tiap hari diotak-atik. Bedanya dia juga suka dugem dan bergawul sama orang-orang diluar. Anak penjahat pejabat negara, jadi uang sama popularitas bukan masalah sama sekali baginya. Modal sedikit skill, uang lancar, punya nama, mau ngapa-ngapain urusan gampang deh.

. . .

. . .

. . .

Sore itu hari Rabu. Alif baru saja selesai mengutak-ngatik deretan kode di layar komputernya. Memeriksa satu-satu baris demi baris huruf yang menyusun bahasa alien itu memang sudah jadi kerjaan sehari-harinya, dan tak jarang pula nilai-nilai pada pelajaran sekolahnya berada di urutan terbawah dikarenakan hobinya itu. Alif mengerjapkan matanya beberapa kali, kelelahan. Ia bersandar pada kursinya, memundurkannya dan meregangkan otot-otot tubuhnya.

Tiba-tiba, Nokia 6600 yang tergeletak disamping layar komputernya berbunyi. Alif menengokkan kepalanya untuk melihat nama yang tertera diatas layar telepon genggamnya yang sudah butut, baret dan lecet disekujur tubuhnya. Dari Bang Ren rupanya. Ia segera mengangkat telepon dari sang mahasiswa abadi.

“Halo, Alip?”

“Iya. Kenapa, bang?”

“Biasa, Lip. Lagi terima orderan ga? Lagi butuh barang nih.”

“Barang apa, bang? Buat buka ‘itu’ lagi? Kalo itu mah, saya juga masih ada, ngga perlu buat lagi.”

“Yee, ngga lah. Barang itu mah masih ada, ngga bakalan ane rusak deh barang bagus gitu. Ini barang lain, buat bantuin ane kerja.”

“Ya udah, sms aja detailnya bang! Saya bingung kalau lewat telepon.”

Telepon pun ditutup. Tak lama, Alif mengeluh. Baru saja selesai membuat satu aplikasi, dia harus buat yang lain lagi. Mental pembantunya untuk hari itu mungkin agak kurang, bisa jadi karena dia sudah kelelahan. Sembari menunggu sms dari Bang Ren, Alif beranjak dari tempat duduknya dan merebahkan dirinya di tempat tidurnya.

Baru beberapa menit berlalu, telepon genggam bututnya kembali bersuara. Ia kembali berdiri dan terduduk di atas kursinya lagi setelah membaca sepucuk pesan dari Bang Ren.

. . .

. . .

. . .

Siang itu hari Jum’at. Di siang yang terik itu, rupanya Alif masih termasuk orang yang beriman dengan memilih untuk menghabiskan waktunya bersembahyang di masjid dekat rumahnya. Meskipun mungkin juga itu wujud dari rasa takut Alif diceramahi oleh sekumpulan kaum berjanggut panjang di kompleks perumahannya, yang bisa ditemui setiap kali ia keluar dari rumahnya yang terletak tepat di samping masjid.

Apa pun alasannya, di siang yang terik itu ia berjalan keluar dari masjid dengan lunglai dan lesu. Sms yang diterimanya dari Bang Ren beberapa saat yang lalu mengharuskannya untuk mengirimkan aplikasi yang telah ia janjikan beberapa hari lalu ke kostnya. Segera setelah berada di garasi rumahnya, ia segera melompat ke atas motor bebeknya dan meluncur ke kost Bang Ren yang jauh dari situ.

Alif sampai dengan selamat di kost Bang Ren. Alif segera mencari kamarnya sebelum mengetahui bahwa pintunya berada dalam keadaan terkunci.

“Assalamualaikum! Bang, buka bang!” Alif berteriak sembari menggedor-gedor pintu.

Hening hingga beberapa saat. Alif mencoba untuk mengetuk pintu itu sekali lagi, “Assalamualaikum! Ini Alif, bang!”

Tak lama, terdengar bunyi dentuman dari balik pintu. Wajah Bang Ren yang lusuh terlihat segera setelah pintu dibuka, “Sori, ane ketiduran. Ayoh, masuk dulu.”

“Yeh, lama amat sih.”

Alif memasuki kamar kost Bang Ren yang sempit dan berantakan. Di dalamnya terlihat botol-botol minuman keras dan Eki yang tertidur pulas — seperti biasa. Alif hanya bisa geleng kepala melihat temannya itu lagi-lagi tertidur pulas di tempat Bang Ren hingga siang bolong, mengabaikan ibadah karena dugem yang selalu ia lakukan tiap minggu dengan Bang Ren. Begini begini, rupanya Alif memang masih percaya sama agamanya, setidaknya terlihat begitu.

Usai berbasa-basi, dan duduk untuk beberapa menit, Alif segera menyerahkan aplikasi yang sudah dibuatnya dalam bentuk CD. Bang Ren menerimanya dengan puas. Tanpa basa-basi banyak-banyak, Alif pun meninggalkan ruangan segera setelahnya. Eki tampak dibangunkan oleh Bang Ren beberapa saat sebelum Alif menutup pintu kamar kostnya.

Dalam perjalanannya ke rumahnya kembali, ia melihat pamflet lomba komputer yang tertempel di pinggir jalan. Ia menyempatkan waktunya untuk memarkirkan motornya sebentar, kemudian membaca pamflet tersebut. Dijelaskan bahwa akan diadakan kontes pemrograman aplikasi pada hari Minggu dengan hadiah 1 juta rupiah bagi pemenangnya. Lombanya diadakan di pusat perbelanjaan.

Lomba komputer murahan yang berhadiah lumayan, batinnya. Ia pun menimbang-nimbang akan partisipasinya sembari menancapkan gas di motornya dan meluncur pulang.

. . .

. . .

. . .

Hari itu hari Minggu. Sudah lewat satu minggu lebih sejak Alif memberikan CD yang berisi aplikasi buatannya pada Bang Ren. Rupanya ia sudah memutuskan untuk mengikuti lomba komputer yang pengumumannya ia baca seminggu lalu. Ia sudah menyiapkan aplikasi baru yang menurutnya lebih canggih daripada yang pernah ia buat sebelum-sebelumnya.

Dengan penuh keyakinan, ia menenteng tas ranselnya, kemudian melompat ke atas motor bebeknya. Setelah menancap gas, Alif segera meluncur ke tempat dimana lomba itu diadakan. Dalam perjalanan, ia yakin bahwa programnya ini — yang ia buat dengan mengorbankan ulangan Fisikanya seperti biasa, dan memakan waktu tidurnya lebih dari biasanya — akan membantu meraih uang satu juta rupiah yang telah dijanjikan pada lomba tersebut.

Sesampainya disana, ia bertemu dengan Eki, temannya. Tampang temannya lusuh dan berantakan, dibawah kelopak matanya terdapat kantung hitam, wajahnya lesu dan tidak bersemangat. Alif mengasumsikan bahwa temannya pasti memiliki suatu hal yang penting untuk dilakukan, sehingga ia harus merelakan waktu tidurnya yang sebenarnya habis dipakai untuk dugem, dan berada disini.

“Hei, Eki! Ngapain disini?”

“Lho, ada Alif juga? Lagi ikut lomba komputer. Yang disuruh buat aplikasi, terus dikumpulin ke panitia,” jawabnya, muram.

“Oh, berarti sama. Prosedurnya gimana? Tinggal kumpulin aja ya?”

“Iya kayaknya. Kita kumpulin, terus dinilai sama panitia. Kayaknya daftarnya juga pas ngumpulin, terus nanti dinilai satu-satu sama panitia.”

“Ya udah. Bareng yuk.”

Alif yang merasa bahwa hasil karyanya jauh lebih superior, bahkan jika dibandingkan dengan temannya, melangkah dengan kebanggaan ke arah meja panitia. Beberapa peserta yang tiba-tiba melirik ke arah mereka, kemudian berbisik satu sama lain yang diselingi decak kagum membuat Alif merasa lebih unggul. Sesampainya di depan meja panitia, ia mendaftarkan dirinya bersama dengan Eki. Kemudian mereka diminta menunggu untuk hasil pengumuman.

Setelah sekian waktu, waktu pengumpulan ditutup. Penjurian pun mulai dilakukan panitia, dengan masing-masing panitia menilai aplikasi para pemrogram itu dengan media lebih dari satu buah laptop. Sementara peserta yang lain tampak tegang, Alif tampak tenang dan penuh keyakinan bahwa ia pasti memenangkan lomba ini. Dengan segala pengalaman dan kemampuan pemrogramannya, ia yakin bahwa levelnya berada diatas peserta lainnya. Eki yang berada di sebelahnya juga tampak tenang, namun tak seyakin temannya itu.

Setelah menunggu dalam periode lebih dari satu jam, akhirnya hasil pengumuman diberikan. Alif yang sudah menunggu lama, terlihat bersemangat. Mukanya penuh harap, menunggu uang satu juta rupiah itu berada di tangan. Keyakinan dirinya atas kemenangan dari program yang dibuatnya sangatlah tinggi. Sayang, nasib berkata lain. Nama “Eki” lah yang keluar dari mulut panitia sebagai pemenang. Nama “Alif” tak disebut-sebut sama sekali, tidak sebagai pemenang kedua atau ketiga, bahkan sebagai juara harapan.

Alif yang mengetahui kekalahan dirinya, meninggalkan pusat perbelanjaan itu dengan muram sementara Eki menerima hadiah yang diberikan oleh panitia dengan wajah cerah. Sementara Alif berjalan lesu meninggalkan tempat lomba, ia mendengar samar-samar penjelasan dari aplikasi pemenang. Nama serta fungsi aplikasi yang diumumkan sebagai pemenang terdengar sangat mirip dengan yang sempat Alif berikan pada Bang Ren. Namun saat itu ia tidak peduli, toh itu tak akan mengubahnya jadi pemenang. Percuma.

. . .

. . .

. . .

Sore itu hari Rabu. Alif baru saja pulang dari sekolahnya, mengendarai motor bebeknya seperti biasa. Dalam perjalanan pulang, ia menyempatkan diri untuk mampir ke pedagang kaki lima, membeli majalah komputer. Tak seperti biasanya, disana ia melihat artikel menarik mengenai lomba yang baru saja ia ikuti beberapa hari lalu. Tanpa ragu, ia membeli majalah itu untuk mengetahui detil pemenang lombanya — sekaligus berharap namanya tertulis sebagai partisipan.

Sesampainya di rumah, ia segera membolak-balik halaman majalah tersebut. Ia mencari namanya ke seluruh sudut, namun nihil. Nama “Alif” tak terlihat dimana pun. Kecewa, akhirnya ia memutuskan untuk membaca mengenai lomba itu sendiri saja. Sayang, itu tak mengobati kekecewaannya.

Ketika melihat detil dari aplikasi yang diajukan oleh partisipan yang pada akhirnya jadi pemenang lomba, ia menyadari bahwa aplikasi itu sangat mirip dengan aplikasi yang pernah ia berikan pada Bang Ren. Dari nama hingga user interface serta penyusunan bahasa yang digunakan, semuanya sama persis dengan yang dibuat oleh Alif. Berang, ia mengetahui bahwa ternyata Bang Ren meminta aplikasi itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk diberikan kepada Eki agar bisa memenangkan lomba. Dengan segala kemarahan yang ada pada dirinya, ia segera membanting majalah yang baru saja ia beli sehabis membaca artikel mengenai lomba tersebut.

Ia tidak mengetahui bahwa seminggu kemudian diterbitkan sebuah aplikasi yang segalanya sangat mirip dengan aplikasi yang ia daftarkan ketika lomba beberapa waktu lalu, perbedaannya hanya terletak pada nama pembuatnya.

***

Yep, itulah kisah singkat atas tindakan plagiarisme. Eh… mungkin lebih kompleks dari itu. Pokoknya, Eki lebih ‘punya nama’ dibandingkan Alif, sehingga aplikasi yang Alif berikan kepada Bang Ren waktu itu bisa digunakan Eki untuk memenangkan lomba dibandingkan aplikasi yang lebih canggih yang dibuat oleh Alif. Ironisnya, aplikasi canggih itu justru diterbitkan atas nama orang lain karena kecanggihannya.

Alif, yang hanya memiliki posisi sebagai seorang remaja berumur 17 tahun biasa dan tak punya apa-apa, tak bisa berbuat apa-apa juga terhadap perbuatan Eki maupun pemalsu aplikasi yang telah ia buat. Dia berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar, maka dia pasti kalah.

Intinya disini, seseorang bisa dianggap sebagai sesuatu yang lebih hanya karena ia punya popularitas, meskipun kemampuannya pas-pasan. Bahkan dengan tindakan seperti yang dilakukan oleh Eki atau Bang Ren diatas. Padahal terdapat seorang lagi yang sebenarnya lebih pantas untuk diakui, sayang, ia kekurangan popularitas. Hanya dengan sebuah ‘nama’ hasil kerja seseorang ditentukan.

Kisah diatas didasarkan pada kejadian nyata, tentunya dengan analogi agar tak menyinggung orang yang dimaksud. :mrgreen: Jadi meskipun didasarkan pada kejadian nyata, kisah Alif itu adalah cerita fiksi. Tentunya dengan itu lomba komputernya juga sepenuhnya fiktif, hanya sekedar analogi. Oleh karena itu jangan tanya kalau lomba komputernya terkesan aneh. Namanya juga permisalan. :P

Yah, sekian dulu untuk hari ini. Sekarang saya izin dulu selama 1 minggu untuk menghadapi Ujian Tengah Semester. Sampai jumpa pada rant berikutnya! :mrgreen:

18 Tanggapan ke “Mau Sukses Kok Repot?”


  1. 1 bakebake Minggu, 30 September 2007 pukul 8:14

    Hee? Ini beneran nggak?

    Bukan, bukan analoginya. Tentu analoginya itu dibuat mirip dengan kejadian nyata kan?

  2. 2 celotehsaya Minggu, 30 September 2007 pukul 18:39

    adlip kasian jak…???

    nggak djoega sih…salahnja nggak pilih-pilih temen…parasit kok didjadikan teman…

    betewe,kok ndak sekalian diseboet robotiqoee

    *kaboer djaoeh*

  3. 3 munggur Minggu, 30 September 2007 pukul 22:40

    hmm menurut saya justru ini pelajaran bagus buat si korban. dengan mengambil makna ini, dia akan ingat hal ini. suatu saat nanti saat dia menciptakan ‘the killer apps’ dia dah siap2 dengan hak paten dan sekaligus rencana bisnisnya. biar ga ketipu lagi.

  4. 4 Dream Maker Senin, 1 Oktober 2007 pukul 17:23

    Loh? o.o aku gak tau ada entry baru ~-~

    Plagiarism itu pada dasarnya hal yang gampang, terkadang plagiarism itu bisa dilakukan oleh semua orang secara sadar / tidak sadar :D

    Paham posisi Alif :lol: dimana orang yang kurang bisa bersosialisasi sekali ketemu ‘temen’ [gak peduli temen ato 'temen'] disuruh apapun mau ~-~

  5. 5 hoek Senin, 1 Oktober 2007 pukul 19:07

    hooo…ternyata femilik blog ini ada hubungannya dengan seorang blogger yang baru lahir itu ya *nglirik celotehsaya,,,*
    eh, be te we, ini ceritanya beneran ga segh? kalofun beneran, kasian sangadh tuh si alif…tafi ya ndak fafa, kalo menurud saia segh, dengan adanya plagiad kek geto, brarti mbuktiin bahwa si alif emang born to be jenious, dan fasti ada saadnya dia bakal lebih sukses dibandingin cuma menang lomba doank…if u knou what i mean bro!
    thanx uda berkunjung ke blog saia, jadi ini uda selese hiatusnya?

  6. 6 nieznaniez Senin, 1 Oktober 2007 pukul 20:47

    kasian alif..seandainya dy udah lulus SMA dan kuliah dan lebih tua dari aku…………..

  7. 8 rozenesia Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 0:13

    Ckckckkk… :lol:
    Sampai kisahmu dianalogikan segala. :lol:

  8. 9 celotehsaya Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 5:36

    @hoek…appan sih ngelirik-lirik *colok hoek*

    o___0a

    ha ha ha…jang ik masi heran itoe…emang beneran berangkat sekolah naek motor ja…???

  9. 10 Xaliber Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 21:49

    Sekedar komen dulu…

    bakebake:
    Sudah saya bilang, kan? :? Sungguhan.

    celotehsaya (1):
    Itu Alif. :? Dia tidak robotik. :lol:

    munggur:
    Iya. :D Suatu pembelajaran juga buat Alif.

    Dream Maker:
    :)

    hoek:
    Iya. Yang ditiru kan yang bagus. :P
    Belum resmi selesai, besok baru benar benar selesai. :D

    nieznaniez:
    Kenapa harus lebih tua, mbak? :D

    Uchiha Miyu:
    :?

    rozenesia & celotehsaya (2):
    Saya tidak pernah bilang ini pengalaman pribadi, lho. :?

  10. 11 Dream Maker Jumat, 5 Oktober 2007 pukul 20:22

    [bukannya sang pemilik blog masih masa UTS pada tanggal 4 Oktober 2007? -_-?]

    Gak pernah bilang… Bukan berarti itu bukan pengalaman pribadi kan? :p

  11. 12 celo *kagak log in* Sabtu, 6 Oktober 2007 pukul 11:20
    ha ha ha…jang ik masi heran itoe…emang beneran berangkat sekolah naek motor ja…???

    Sampai kisahmu dianalogikan segala. :lol:

    Saya tidak pernah bilang ini pengalaman pribadi, lho. :?

    Gak pernah bilang… Bukan berarti itu bukan pengalaman pribadi kan? :p

    setoeboeh dengan DreaMaker…

    lagian jij djoega ndak bilang kalo ini boekan pengalaman pribadi kan…???

    jang djelas ndak perloe kasian ama aDlif…pan dia jang ndak bisa milih kawand….

  12. 13 Xaliber von Reginhild Minggu, 7 Oktober 2007 pukul 1:08

    Dream Maker:
    Memang. :P Soalnya waktu itu hari Jum’atnya UTS Sejarah, sekalian cari bahan.

    celo *kagak log in*:
    Ehm, perlu ditekankan bahwa ini hanya analogi. :? Dan protagonisnya itu Alif. :lol:

  13. 14 Ash Minggu, 7 Oktober 2007 pukul 15:18

    Kesan pertama adalah.. sepertinya si Alif ini mengingatkan saya pada seseorang.. *yang menulis?* :D

    Saya kurang paham dengan paragraf terakhir deh, *maaf, RAM otak belum diupgrade* Itu maksudnya program yang dia daftarkan dipakai orang lain tapi dengan namanya (bukan nama Alif)?
    Kok gak dituntut sih.. :D

  14. 15 p4ndu_454kura Minggu, 7 Oktober 2007 pukul 16:17

    Panjaaaaang…. :|
    Baca abis berbuka aja deh.

  15. 16 Xaliber von Reginhild Minggu, 7 Oktober 2007 pukul 20:09

    Ash:
    Ini Alif, lho. Alif ya Alif. :P
    Iya, maksud paragraf terakhir begitu. Karena si Alif orang yang ngga populer jadi dia ngga bisa ngapa-ngapain. :?

    p4ndu_454kura:
    Sekarang bagaimana? :P


  1. 1 Popularitas atau Orisinalitas? « Deathlock Lacak balik pada Senin, 8 Oktober 2007 pukul 15:13
  2. 2 Suara Tanpa Pita « Deathlock Lacak balik pada Rabu, 17 September 2008 pukul 20:45

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,925 soldiers