Sebelum mulai ceramah panjang lebar, saya mau bilang bahwa ini bukan revolusi-revolusi yang sempat disinggung di blog-o-sphere. Tapi ini hanya sekedar omong-kosong. Istilah kerennya? Curehat onlain, deh.
Untungnya tanpa memuat roman piscesan libra-an picisan. Dan mungkin akan ada sedikit kritik sosial, karena kalau sepenuhnya omong-kosong ngga begitu menarik. Meskipun nantinya cenderung subjektif.
Jadi, dengan mengetahui inti dari apa yang akan saya bahas kali ini, Anda tentu sudah bisa memilih jalan Anda. Mau membaca, silakan, tidak mau ya lewati saja–kalau perlu dibuang ke sungai.
Topik Utama: Sekolah
Revolusi. Apakah revolusi itu? Menurut kajian sosiologis, revolusi adalah suatu perubahan yang terjadi dalam waktu yang relatif cepat, dan mengubah tatanan suatu kelompok secara mendasar. Sesuatu yang menggebrak dan berdampak besar. Menurut kajian etimologis, revolusi diambil dari bahasa Latin kuno revolutio, yang berarti merotasi atas suatu orbit. Menurut kajian jayus sederhana, revolusi adalah polusi yang berulang-ulang. Ah, lupakan yang terakhir.
Kembali ke laboratorium atas, menurut saya sendiri revolusi adalah tindakan yang diambil oleh sekelompok orang radikal, yang terjadinya dipicu oleh seorang pemimpin kelompok tersebut. Jadi, itulah beberapa definisi mengenai revolusi. Lalu ada apa dengan revolusi?
Bagai ini. Sekitar 2 hari yang lalu, guru sosiologi saya bercerita mengenai pengalamannya mengajar di suatu sekolah. Di sekolah tersebut, hiduplah seorang kepala sekolah yang bijak berkuasa dan panda beruang yang suatu hari ketahuan mencuri memakai uang SPP, meskipun tak ada bukti konkretnya. Murid-muridnya yang (katanya) sejak lama sudah menderita akibat perlakuan kepala sekolah tersebut tak bisa berbuat apa-apa. Hingga datanglah sang guru sosiologi itu (yang waktu itu berprofesi sebagai guru PPL sejarah), mendengar kabar dari sesama guru tentang kepala sekolah itu. Sang guru sosiologi PPL sejarah kemudian memutuskan, “Ini harus diadakan revolusi”.
Maka, di suatu hari yang cerah ketika sedang diadakan upacara sekolah dimana POMG, semua guru, murid-murid, dan semua staf sekolah berada di lapangan, murid-murid kelas IPS yang diajar oleh sang guru pun melakukan “revolusi”. Semua gerbang dijaga, satpam “disandera”. Setelah persiapan aman, selanjutnya mereka berdemo ke kepala sekolah yang sedang kumur-kumur berpidato itu. Setelah itu, terkuaklah tabir misteri kecurangan kepala sekolah dalam memanfaatkan uang SPP. Alhasil, kepala sekolah itu pun dicabut dari posisinya, dan diganti dengan yang baru. Resikonya, sang guru yang saat itu menjabat sebagai guru pelatihan pun dipecat. Tidak lulus jadi guru disitu.
Itulah cerita dari pengalaman guru sosiologi saya. Mungkin karena mendengar hal yang tidak umum di kalangan pelajar SMA itu, teman-teman sekelas saya pun tercengang. Terbengong-bengong. Mereka mungkin berpikir, “Wah, ini revolusi yang luar biasa,” ketika selesai mendengar cerita itu. Selama mereka terbengong-bengong, sang guru pun segera melanjutkan materi pelajarannya. Itulah hal menarik yang bisa ditarik pada hari itu.
Hari ini, ketika di sekolah tepatnya, segalanya kelihatan berjalan seperti biasa. Sudah menjadi tradisi di SMA Labschool Jakarta, bahwa setiap hari Jum’at selalu diadakan lari pagi, maka di hari Kamis para OSIS memberi pengumuman mengenai baju apa yang harus dipakai untuk esok hari. Para OSIS pun datang ke kelas saya. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini kelas saya (dan mungkin kelas XII yang lain juga) bahwa besok harus lari menggunakan baju khusus Trip Observas; yaitu baju yang diberikan ketika acara Trip Observasi ke desa Sumurugul pada kelas X.
Seperti yang sudah saya duga, respon atas pemberitahuan ini kepada siswa kelas XII yang suka seenak hatinya mengganggu juniornya baik hati dan budiman adalah protes. Mulai dari sorak-sorai, teriakan Tarzan, sampai hal lain-lain yang tak perlu disebutkan pun keluar–meski ada yang maksudnya bercanda juga. Tapi para OSIS tak bisa menanggapi (mungkin berpikir “Halo??? Ini bukan di rumahmu yang disana, mas dan mbak senior sekalian”), dan setelah itu keluar dari ruangan. Sepeninggal para OSIS, beberapa dari teman-teman sekelas saya tidak segera diam meskipun tahu ada guru yang sedang duduk–menunggu. Nah, yang membuat hari ini semakin tidak biasa adalah pernyataan yang dilontarkan oleh seseorang teman sekelas, yang kira-kira berbunyi seperti ini:
Besok, kita jangan ada yang pakai baju TO! Kita pakai baju bebas aja, seperti biasanya. Jangan mau menurut sama OSIS, kita harus mengadakan revolusi!
Segera setelah pernyataan itu dilontarkan, saya segera terkekeh tertawa dalam hati. “Wah, wah… revolusi? Konyol, hanya sekedar omong kosong saja,” saya bilang–tentunya dalam hati dulu. Mengapa? Tentunya saya berpikir begitu bukan tanpa alasan.
Pertama, ini baru pertama kalinya kelas XII diberikan kewajiban untuk memakai baju tertentu. Biasanya kelas XII bebas, boleh memakai baju apa saja, yang penting celananya celana training. Dengan adanya kebijakan begitu, justru menurut saya yang mengadakan revolusi itu bukan siswa kelas saya, tapi para OSIS kelas XI itu.
Kedua, saya berpikir bahwa ini BUKAN revolusi sama sekali. Tapi ini adalah salah satu wujud senioritas. Hah, senioritas? Ya, ini senioritas. Bukan senioritas yang gontok-gontokkan, tapi kelihatannya lebih ke senioritas yang tak langsung. Bagai ini, kelas XII itu kelas yang paling senior, paling tinggi. Sementara perintah baju olahraga itu dikirim oleh OSIS kelas XI, yang lebih junior daripada mereka. Nah, mereka tak mau menuruti perintah dari junior. Alasannya? Saya yakin karena para OSIS itu adalah junior mereka. Ciri-ciri orang yang merasa punya otoritas lebih itu menurut saya adalah:
- Tidak mau tunduk sama yang otoritasnya berada dibawahnya.
- Jika menerima perintah dari yang berotoritas sama, cenderung “menegosiasi” perintah atau justru mengabaikan perintah.
- Hanya tunduk dengan yang memiliki otoritas diatasnya.
Kalau mau sok senior, bilang saja, ngga usah bawa-bawa nama revolusi. Eh, tunggu… beberapa pemerintahan negara juga melakukan hal yang serupa, kan? Berarti itu diperbolehkan…
Ketiga, rasa-rasanya ini tak memenuhi definisi revolusi dari kajian mana pun. Sama sekali tak mengubah landasan dasar. Dari kajian saya bagaimana? “Radikal” sih iya, tapi pemimpinnya? Tak ada, hanya sekelompok orang yang mau beda sendiri karena landasan senioritas. Saya sih tak mau ikut-ikutan. Rugi.
Akhir kata, saya pikir revolusi-revolusian ini sih karena mereka masih terbawa-bawa mimpi cerita guru sosiologi saya. Bedanya, kalau yang di cerita guru saya tujuannya bagus dan bisa mengubah sekolah, kalau yang ini sih cuma sekedar aksi kekanak-kanakan soal senioritas.
***
Topik II: Film
Sekitar sehari yang lalu, saya secara tidak sengaja melihat suatu acara yang membahas hal yang menarik di televisi. Hal yang dimaksud adalah seputar Laksamana Cheng Ho, atau Admiral Zheng He kalau melihat apa yang tertulis di layar kaca. Tapi yang dibahas bukanlah mengenai sejarah, petualangan, atau biografi tentang Cheng Ho sendiri, melainkan suatu film yang menceritakan tentang perjalanan Cheng Ho.
Lho, apa yang spesial dengan ini? Bukankah film-film bertema sejarah seperti itu, macamnya Black Hawk Down, Der Untergang, Saving Private Ryan, Enemy at the Gates, Curse of the Golden Flowers, Blood Diamond, Braveheart, dan lain-lainnya bukan merupakan hal yang aneh lagi di industri perfilman dunia?
Iya, itu kalau di perfilman dunia. Masalahnya, ini menyangkut perfilman Endonesa Indonesia. Hah, Indonesia?! Selain beberapa film yang berlatar belakang sejarah lainnya macam Naga Bonar, atau Pertempuran 10 November, akhirnya muncul film sejarah yang memiliki harpaan cerah. Kenapa? Karena menurut acara yang saya tonton itu, film ini didukung oleh 5 negara lain dalam produksinya, yaitu Malaysia, Thailand, Vietnam, dan China.
Meskipun sutradaranya memang dari Vietnam, tapi dengan adanya keterlibatan dari Indonesia sendiri, saya rasa film ini bisa dikategorikan sebagai bagian dari industri perfilman Indonesia. Menurut acara yang saya tonton, karena aktor-aktor yang berperan dalam film tersebut berdatangan dari negara yang bervariasi, maka film itu akan dipenuhi dengan bahasa yang berbeda-beda. Cross-culture. Jadi mungkin akan seperti Godzilla: Final Wars yang diisi oleh bahasa Inggris dan Jepang.
Lalu, apa hubungannya dengan bahasan kali ini? Menurut saya, ini baru yang namanya revolusi! Ini sesuatu yang cukup menggebrak, suatu film yang membahas sejarah, terutama ketika masih meliputi Kerajaan Hindu-Buddha. Dengan adanya film yang berjudul Admiral Zheng He ini, saya harap Indonesia akan semakin terpacu untuk memajukan film-film yang berkualitas. Terutama menyingkirkan yang namanya sinetron-sinetron yang kerjanya hanya menjadi plagiat atau memuat unsur mistik itu.
Yang terpikir oleh saya, “Akhirnya ada film menjanjikan yang melibatkan Indonesia juga. Bukan sekedar roman picisan, orang marah-marah, atau setan kesurupan lagi.” Terutama karena film ini akan masuk layar lebar.
Sayangnya, belum apa-apa film ini sudah mendapat respon yang buruk dari pemirsa. Yusril Ihza Mahendra, mantan Sekretaris Negara yang memerankan lakon Cheng Ho, dirasa kurang cocok sebagai laksamana yang konon dikenal sebagai orang yang tinggi besar itu. Posturnya kurang tinggi, kurang gagah, dan kurang-kurang lainnya. Selain itu, beberapa juga berpendapat bahwa penelitian yang dilakukan dalam membuat film ini tidak tepat, tidak seperti yang dilakukan produser film-flim Hollywood.
Kalau menurut saya pribadi, rasa-rasanya ini sudah jauh lebih baik daripada film-film Endonesa picisan lainnya, macamnya film cinta yang tak jelas juntrungannya, atau film yang membuat orang penasaran untuk kesambet setan. Sudah bagus ada perkembangan, mau maju, kenapa justru dijelekkan? Selain itu perbandingannya jauh sekali, film produksi Amerika Serikat disana yang sampai menimbulkan penggemar yang mungkin meniru, dibandingkan dengan film Indonesia yang 10 tahun yang lalu masih terkesan kaku. Ketika protes menonton film Indonesia karena murahan, tapi justru protes lagi ketika muncul film Indonesia yang mahalan tapi salah sedikit.
Ya sudahlah, terlepas dari hasil akhirnya nanti, apakah filmnya kurang memuaskan atau bisa membuat penonton terkesima, apakah filmnya hanya sekedar dianggap angin lalu atau sampai menimbulkan kehebohan seperti Ada Apa Dengan Tinta Cinta, apakah yang menonton hanya om-om dan tante-tante atau dipenuhi semua pengunjung seperti Harry Potter… yang pasti, dengan adanya film ini, saya rasa kualitas film Indonesia akan semakin baik.
***
Sekian omong kosong hari ini, mungkin agak panjang, padahal isinya hanya luapan pikiran saya saja. Tapi bagi yang membacanya, semoga ada pelajaran yang bisa ditarik darinya.



Are… Ini toh yang mengusik itu
Humn… Bingung mau komen apa, udah malem, jadi gak bisa mikir jauh, ini numpang lewat doang, komennya besok ajah
[dikejar massa terus ditimpukin batu longsoran]
Kalo dari judulnya sih kayaknya menarik ya… Admiral Zheng He.., tapi kalo pemeran utamanya Yusril kayaknya eneg gitu… hehehe
Ada Apa Dengan Yusril? Kalau saya mungkin lebih memperhatikan ceritanya aja…
Sama penghayatan ceritanya.
ya image bung Yusril itu sendiri di mata masyarakat yg kurang baik, masa mau disejajarkan dgn Laksamana Zheng He yg merupakan icon yg membawa masuk Islam ke Indonesia.
Oh.. kebijakan baru itu…soal anak kelas XII ditentukan pula bajunya…
Kelas saya juga bersorak sorai seperti itu (wah..jangan2 semua kelas?) meskipun pada berteriak “Besok jangan pake baju TO!” nyatanya banyak juga yg pakai baju TO
(saya juga pake baju TO, tapi saya nggak ikutan teriak2!!)
Saya pikir kebijakan itu memang Revolusi. Saya sih tidak keberatan, secara baju olah raga yang lengan panjang yang saya punya hanya baju OR Labschool dan TO. Sama saja…
Masalah baju… Ah, bukannya sinis atau apa. Itu sih kedua belah pihak yang melebihkan, eh tiga belah pihak.
Pihak satu, OSIS yang merupakan
babupesuruh, eh alat sekolah.Pihak dua, siswa kelas XII.
Pihak tiga, Anda sendiri.
OSIS melebih-lebihkan kebanggaan mereka sebagai OSIS. Tapi mengurang-ngurangi wewenang mereka sebagai OSIS. Kalau mereka memang
pembantuasisten sekolah harusnya MARAHI saja itu anak kelas XII. Mau dilabrak? ANda punya dukungan sekolah.Siswa kelas XII melebihkan judul mereka sebagai senior. Lho, apalah arti sebuah baju…. Lagian kalau tidak mau pakai baju TO ya sudah tidak usah gombar-gambir revolusi segala. Pakai baju bebas, kalau ditanyakan bilang saja bajunya sudah tidak muat. Sudah dua tahun berlalu to?
Anda melebihkan komentar Anda terhadap mereka “teman-teman Anda”. Tidak usah terkekeh segala lah… Mereka tuh orang-orang bodoh yang latah baru mendengar kata revolusi. Kalau mereka sudah bisa berpikir menumbangkan kepala sekolah parlente boleh lah mereka gombar-gambir revolusi.
Film Cheng Ho? Wah, keren tuh. Kenapa tidak kolaborasi dengan Cina saja? Toh, Cheng Ho orang Cina kan?
Zheng He diperankan Yusril? o.O
*ga tau*
Ga cocok! Ga cocok!
*kabur, lagi capek, malas komen*
CY:
Hmm… kalau saya mungkin memandangnya aktor hanya sebagai media (atau kasarnya, alat) aja dalam memainkan perannya dalam suatu film. Terutama dalam film historis. Jadi yang penting adalah cerita film dan akting aktornya, bukan latar belakang aktornya, kalau menurut saya.
Supaya in-appearance-nya bagus.
Ash:
Kebijakan itu memang revolusi, tapi kalau pemberontakannya kelas XII menurut saya bukan revolusi…
Revolusi dan ngga mau diatur itu beda menurut saya.
Lemon S. Sile:
Masalahnya, ‘penjaga sekolah’ sendiri masih suka ditentang. Yang kebal tentangan paling hanya Queen sama wakilnya aja–belum termasuk hinaan di belakang.
Lagipula, kelas XII punya banyak alasan untuk mempertahankan kehebatan mereka…
Memang. Meskipun baju saya sudah agak sempit, tapi masih dipaksakan juga.
Untungnya ngga sampai parah.
Sugesti… baru mendengar cerita revolusi langsung ingin mencoba ‘revolusi’.
Sudah kok.
Mr. Lee:

Kenapa, Guru?
Memang kurang tinggi sih, tapi tak apalah menurut saya.
Jarang-jarang ada film begini di Endonesia.
Revolusi atau pembodohan…hehehe… kalau kembali ke awal itu sih namanya kontra Revolusi…hehehe….
jangan ada Idiocracy ah…hehehe….
Ah, baru saja saya menyebut idiokrasi-idiokrasi itu di sekolah.
Betul sekali sih pendapat anda Xaliber, yg penting cerita filmnya. Tapi image sang Aktor juga ambil peranan penting toh, coba yg jadi Zeng He itu Tukul Arwana atau Aming(Extravaganza)…, kan bisa senyum terus kita nontonnya padahal itu film historis
Kalau dari penampilannya Aming dan Tukul sih sudah beda jauh…
Setidaknya kalau tanpa dirias supaya mirip Zheng He.
Kalau Yusril kan menurut saya masih ada mirip-miripnya.
Lho, kenapa harus takut ditentang? Kalau takut ditentang jangan jadi OSIS. Jadi ingin menangis melihat keadaan OSIS sekarang…
Nah, itu dia! Kalau bagitu ya tidak usah pakai baju TO saja Anda! Tetapi dalam artian Anda tidak memakai karena “revolusi” melainkan karena sudah tidak muat.
Lagipula namanya revolusi itu artinya pan perubahan. Bukannya melawan. Memang revolusi terkadang diikuti perlawanan.
Anak kelas XII yang ngomong revolusi dalam konteks tadi memang bodoh. Memang bodoh dari awal karena mereka juga tidak mengerti apa arti senior sebenarnya…
yahh… klo mw cari yang mirip mah, susah lah…
soal image buruk? yang penting membawakan perannya bagus, ntar juga ketutup image-image diluar pilemnya *sok tahu*
saya setuju yang ini, asal ceritanya gak melenceng aja..
Revolusi, radikal atau berani? Menginginkan perubahan atau mendobrak tradisi? Semuanya ya relatif, tergantung subjeknya.
kita boleh bersikap revolutiv tetapi apakah benar diri kita udah ber evolusi? hati-hati jangan berpandangan tanpa fakta dan realita.
mahasiwa sosiologi unj 03
Lemon S. Sile:
Yang beralasan tentunya.
Kalau dari kajian sosiologis sih revolusi itu dilandasi atas revolt.
@andalas:
Betul.
@rozenesia:
Dalam konteks teman saya itu… revolusi yang ngga perlu ah.
Shavarna:
Saya selalu berusaha berkembang jika mampu.
Btw, mas/mbak, kampusnya dekat sekolah saya lho.
revolusi sekolah…mimpi kalau bukan omong kosong…?
seharusnya jadi kenyataan
Apapun komentar anda, yang jelas Yusril dipilih menjadi pemeran utama film ini. Soal kemiripan wajah dengan Cheng Ho yang asli, adalah suatu hal yang debatable. Foto Cheng Ho tentu saja tidak ada, yang ada hanyalah lukisan rekaan belaka. Film Dokumenter tentang The Voyage of Zheng He to the Western Sea, yang dibuat oleh CCTV China, tubuh pemainnya malah lebih kecil dari Yusril, wajah pemainnya seperti seorang sastrawan daripada Cheng Ho yang dikenal sebagai seorang ahli strategi perang dan diplomat.
Untuk menilai karakter Yusril yang sebenarnya sangat sulit, jika kita tidak mengenalnya secara langsung. Sumber pemberitaan melalui media cetak dan elektronik, bukan jaminan apa-apa. Banyak orang menyangka, Yusril selalu pakai jas, dasi dan baju lengan panjang, dan selalu nampak necis, seperti terlihat di TV ketika dia menjadi menteri. Padahal, sebagaian besar waktu kesehariannya dilalui dengan memakai celana jeans dan baju lengan pendek. Image tentang Yusril akhir-akhir ini dengan sengaja dicitrakan buruk oleh beberapa politisi yang tidak suka dengannya.Kehadiran Yusril dipanggung politik memang membuat banyak pihak yang iri. Dia muda, tampan, sangat cerdas dan berani. Sayangnya dia berasal dari partai kecil dan juga berasal dari pulau kecil, yang tidak begitu diperhitungkan.Keberadaannya dalam kabinet membuat orang-orang dari partai besar merasa dongkol. Kecerdasan dan kemampuannya menyebabkan orang-orang sekitar SBY menjadi khawatir kehilangan pengaruh. Pemberitaan media massa? Jauh daripada netral dan obyektif. Siapa yang berani mengatakan bahwa wartawan kita memiliki idealisme yang tinggi seperti zaman dulu? Media massa sekarang persis seperti diguyonkan Alm. Matori Abdul Jalil, “membela yang bayar”.
cojones:
).
Setuju. Salah satu yang dibutuhkan di Indonesia adalah revolusi pendidikan (bukan revolusi palsu seperti diatas
Handoko:
Wah, terima kasih penjelasannya yang lengkap, mas. Saya tidak menjelek-jelekkan Yusril, kok, sebaliknya sudah bagus dia ikut bermain film. Yang penting ketika dia di film itu.
Xaliber von Reginhild Yth,
Terima kasih atas tanggapan balik Anda. Saya mohon maaf, tanggapan saya sebenarnya tidak secara spesifik saya tujukan kepada Anda, tetapi kepada CY. Sebaiknya, kita tunggu saja ketika film itu nanti telah ditayangkan, baru kita berkomentar, apa Yusril mampu menjadi aktor atau tidak. Di masa lalu, dia memang bermain drama di teater. Dia pernah kuliah di Akademi Teater walau hanya sebentar, sebelum dia masuk ke Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra UI. Film ini merupakan proyek kerjasama antara Kantana Ltd (Thailand), Hengdian Movie Corporation (China) dan Jupiter Global Film (Indonesia). Dalam sejarah perfilman dan sinetron, inilah pertama kalinya perusahaan film Indonesia bekerjasama dengan perusahaan raksasa Thailand dan China dalam pembuatan film kolosal yang melibatkan ribuan pemain, dan lokasi syuting di enam negara (China, Thailand, Indonesia, Vietnam dan Kamboja. Dua professor sejarah dari Universitas Thammasat dan Universitas Beijing (spesialis ahli sejarah Dinasti Ming), dilibatkan dalam pembuatan film ini. Yusril sendiri Doktor Ilmu Politik, dan professor Hukum Tata Negara. Dia juga memahami agama Islam dengan mendalam dan bisa berbahasa Cina (Hakka dan Mandarin)serta bahasa Arab. Dia banyak mengomentari aspek-aspek politik dan diplomasi dalam skenario film ini untuk menyempurnakannya. Mudah-mudahan film ini, membuahkan hasil yang baik.
Wah, informasinya lengkap juga.
Setuju, ini semacam gebrakan buat Indonesia. Dengan usaha yang segitu, mudah-mudahan bisa berhasil deh.
Boss Xaliber,
Kemarin saya ketemu Yusril. Saya tanya dia siapa sutradara film Cheng Ho. Dia bilang sutradaranya Naratisai Kaljeruek, sutradara terkemuka dari Thailand. Dia pernah menyutradarai film besar Thailand berjudul “The Legend of Ayuththaya”. Kini dia menjadi co-sutradara bersama Silvister Stallone membuat film Ramboo 5. Yusril bilang Naratisasi dibantu oleh dua co-sutradara, satu dari Indonesia dan satu dari China. Jadi, Boss keliru film ini disutradarai orang Vietnam. Soory Boss! Tapi saya mau nanya, kalau film ini “joint production” antara Thailand, Indonesia dan China, apa bisa film ini disebut “Film Indonesia”? Aktor-aktor besar Thailand, Vietnam, Malaysia, China ikut bermain dalam film ini. Dari Indonesia ada bintang film besar, yakni Slamet Rahardjo (sebagai Bhre Wirabumi, Raja Blambangan), Christine Hakim (Ibu dari Prabu Wikramawardaha, Raja Majapahit), dan Nurul Arifin (selir Wirabumi). Yusril dan Saifullah Yusuf memang bukan bintang film. Slamet Rahardjo sudah menyaksikan hasil syuting di Thailand dan China. Kalau dia mau main, mungkin, saya pikir, akting Yusril nggak mengecewakan. Saifullah Yusuf baru akan syuting bersama-sama Slamet Rahardjo, karena episode tentang Cheng Ho dalam kaitannya dengan perang antara Majapahit dengan Blambangan, hampir seluruhnya diambil di Indonesia. Saya belum tahu kemampuan akting Saifullah. Mudah-mudahan aja dia bisa. Sekian Boss! Sekali-kali ente ngomong yang bener ah! Jangan omong kosong melulu.
Oo.. Saya tonton dari TV aja soalnya.
Kalau menurut pendapat saya masih bisa. Soalnya masih melibatkan Indonesia.
Sip… thx informasinya, mas.
Hehe, selalu diusahakan.
Boss Xaliber,
Yusril sekarang bikin blog sendiri. Ente bisa kunjungi di http://www.mahendra-ihza-yusril.com Saya sudah konfirmasi dengannya per-telefon, bahwa itu memang benar Yusril. Dia bikin blog setelah terlibat “diskusi” melalui blognya Jay, Priyadi dan Vavai. Mula-mula diskusinya soal film Cheng Ho, tapi kemudian merambat ke soal-soal lain.
Terima kasih boss, atas responsnya.
Webnya ngga bisa dibuka, mas. Tapi hebat, bisa tahu informasinya begitu.
Jangan-jangan saya lagi bicara dengan orang penting. 
Sip informasinya.
Sorry Boss Xaliber, alamatnya http://mahendra-ihza-yusril.blogspot.com/ Kali ini mungkin ente udah bisa buka. Ane temennya Yusril.
Wah, hebat.
Sip, terima kasih informasinya, mas.
salam kenal
Salam kenal juga.