MOS; Masa Orientasi atau Masa Otoritas?

Dalam waktu seminggu ini ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Sesuatu itu tidak lain dan tidak bukan adalah mengenai suatu masa–umumnya 3 hari–yang umum terjadi di setiap SMP maupun SMA, yaitu Masa Orientasi Sekolah (sebagian menyebutnya Masa Orientasi Siswa) yang lebih akrab dikenal dengan sebutan MOS. Semua yang pernah sekolah saya yakin tentu sudah tak asing dengan nama ini, dan beberapa orang mungkin mengenal istilah ini dengan nama ospek, posma, atau nama-nama lainnya. Tapi akhir-akhir ini rasanya nama yang lebih “gaul” adalah MOS.

Seakan-akan sudah menjadi tradisi, yang namanya MOS pasti siswa-siswinya cukup dibatasi dalam hal penampilan. Yang merasa laki-laki rambutnya harus dicukur hingga sangat tipis, dan yang merasa perempuan rambutnya harus dikepang. Dan, tentunya, jika tak mau dianggap beda-sendiri sok jagoan, pakaian harus dijaga agar tetap rapi. Ya, sampai sini kelihatannya masih terdengar bagus… tapi tidak setelah yang namanya para veteran perang para senior mulai mengambil peran, sampai-sampai melenceng dari nama acaranya itu sendiri.

Dalam acara yang namanya MOS ini, tidak seru kalau tidak ada senior yang ambil bagian, terutama yang berpangkat OSIS. Oke lah, kalau sekedar berkenalan dengan para kakak yang ingin dianggap hebat atau meminta tanda tangan para OSIS dengan cara yang normal masih bisa ditolerir. Tapi bagaimana kalau sudah sampai membuat orang kesal atau bahkan menangis karena bentakan-bentakan yang terdengar seperti memanggil teman-teman hewannya di hutan keras atau karena menyuruh menjawab pertanyaan mengesalkan yang sebenarnya tidak perlu dijawab?

Kalau sudah begitu, maka sebenarnya itu sudah melenceng jauh sekali dari konsep awalnya–atau kalau ngga mengerti konsep awalnya apa, dari judul acaranya. Tindak-tindak senioritas yang keras itu mungkin dimaksud untuk mendisiplinkan murid baru, dengan datang pada dini hari, diberikan kegiatan iseng kurang kerjaan pengarahan dan disisipi kegiatan pembelajaran, kemudian pulang pada sore hari. Tapi mungkin karena terlalu disiplin sampai-sampai mereka melupakan pengertian judul acaranya.

Seperti yang sudah disebutkan diatas, MOS itu berarti Masa Orientasi Sekolah. Tapi nyatanya, pengorientasian yang seharusnya memberikan letak-letak ruangan yang ada di sekolah, peraturan-peraturan yang ada, dan hal-hal penting lainnya justru sering dilupakan. Yang ada biasanya hanyalah tindakan sewenang-wenang para OSIS–meski tetap diawasi guru–terhadap para junior. Kalau sudah seperti itu, maka nama lengkap MOS seharusnya diganti menjadi Masa Otoritas Senior, karena pada masa itu senior ‘bebas’ memperlakukan juniornya. Belum lagi jika ada para senior selain OSIS yang menertawakan atau menyoraki juniornya disiksa didisiplinkan oleh yang berwajib dan tidak dipedulikan oleh para guru.

Jadi nama Masa Orientasi Sekolah itu memang sudah tidak relevan lagi jika yang diterapkan adalah sistem yang seperti itu, kecuali jika sekolahnya memang menganut faham IPDNisme. Dan apakah yang bisa didapat dari acara ini? Bisa dibilang, hanya untuk memberikan didikan kepada para junior agar memperlakukan juniornya perlakuan yang sama di kemudian hari. Karena pada kenyataannya MOS sama sekali tidak membuat para siswa-siswi datang tepat waktu di kemudian hari, MOS juga tidak membuat para pendatang baru itu benar-benar patuh kepada senior layaknya loyalitas sebagian bangsa Jerman terhadap Adolf Hitler kala itu.

Sebaliknya, tekanan yang keras dari pihak senior tersebut justru menimbulkan keinginan para pendatang baru tersebut untuk mencari mangsa orang yang lebih lemah dari mereka agar bisa ditekan, apalagi jika mereka sama buasnya tegasnya dengan senior mereka–bagaikan mengajak untuk menjadi penerus mereka–yang mana hal ini ternyata sesuai dengan teori sosionomik yang sempat diaplikasikan sebagai penyebab dimulainya Perang Dunia II oleh Jerman. Akhirnya, jika tak ada kesadaran dari junior-junior setelahnya, apalagi dengan adanya argumen mutakhir yang menyatakan bahwa hal ini merupakan “tradisi”, maka siklus ini kelihatannya akan terus berputar seperti lingkaran setan.

Kesimpulan akhirnya, sebaiknya istilah MOS direvisi kembali sebelum jadi salah kaprah seperti USB. Kalau masih mau tetap punya nama lengkap Masa Orientasi Sekolah, revisi kembali agenda ketegasan para senior, berikan pengenalan pada lingkungan sekolah itu sendiri. Tunjukkan juga seperti apa ’sifat’ sekolahnya, apakah agamis atau memang seperti IPDN? Jika masih mau berpegang teguh pada agenda, sebaiknya ganti saja nama lengkapnya jadi Masa Otoritas Senior. Jadi lebih jelas kan apa MOS itu, daripada menyesatkan para murid baru?

36 Tanggapan ke “MOS; Masa Orientasi atau Masa Otoritas?”


  1. 1 D.A. Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 1:15

    Membentuk siklus balas dendam. Inti permasahlahan adalah fenomena gaulisme. Yang terkenal, yang eksis, adalah yang gaul.

    Jadilah berlomba-lomba jadi gaul. Salah satunya lewat OSIS. OSIS diisi anak gaul. Anak gaul hobi menggencet junior. Jadilah OSIS yang keranjingan menindas junior.

    Dalam kondisi ibarat Okhlokrasi ini OSIS dan MOS sama-sama tidak berguna. Rekrutmen OSIS pun pada akhirnya “yang gaul di mata senior yang jadi OSIS”
    *pengalaman pribadi

  2. 2 Lee Shan-in Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 8:19

    Hei, lancang sekali kamu!!! Kakak kelas tidak pernah salah. Kalau salah, lihat kalimat yang sebelumnya!! :twisted:

    :lol:

  3. 3 Mihael "D.B." Ellinsworth Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 10:52

    Sebenarnya tidak perlu, tapi malah penerapannya jauh dibawah standar. Yang harusnya pulang jam 1 siang, malah disiksa sampai jam 4 sore.

    Btw, teman saya dilarang membina kelas karena takut kelas yang dibina jadi pemberontak. :D

  4. 5 anas Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 16:08

    Jadi mungkin yang perlu diberi orientasi adalah para senior yang lupa arti dalam kata-kata MOS itu donk

  5. 6 Rizma Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 17:05

    tapi di kampus Ma udah ga seru lagi nih ospeknya,, ga boleh diapa apain lagi,, ga seru,,
    Ntar shock-nya waktu masuk kuliahnya,,

    gimana kira kira ospek di kampus Ma,,?? hmm,, Ma kuliah di FK, jadi kira kira gimana ospeknya?? :twisted:

  6. 7 Count of Madness Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 18:49

    Yo.. Setuju Bung Xali!!! (Salah satu korban nih berbicara)

  7. 8 yud1 Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 19:49

    bisa nggak ya, digambarkan seperti ini?

    ada dua jenis murid, yaitu ‘murid pintar’ dan ‘lain-lain’.

    murid-murid ikut MOS, dibina oleh senior ‘lain-lain’
    -> selesai MOS, jadi senior
    -> ‘murid pintar’ malas ikut-ikutan’, ‘lain-lain’ bilang demi kebanggaan
    -> ‘murid pintar’ nggak mau jadi panitia
    -> murid-murid baru (lagi) ikut MOS, dibina oleh senior (baru) ‘lain-lain’

    …susah memang, kalau demi eksistensi dan kebanggan bagi anak baru gede :mrgreen:

    anyway, salam kenal, yah :)

  8. 9 aRuL Minggu, 22 Juli 2007 pukul 3:04

    tenang aja… senior2 baik koq…

  9. 10 Rizma Minggu, 22 Juli 2007 pukul 9:27

    @ Yud1
    ga setujuu!! temen Ma yang paling pinter ikutan kok jadi panitia,, malah jaga di ruang praktikum Anatomi,,

    (curiga Ma pencinta MOS nih,,) :mrgreen:

  10. 11 yud1 Minggu, 22 Juli 2007 pukul 13:04

    :: Rizma

    ah, maksudnya ‘panitia’ yang ’seperti-itu’. memang tidak bisa digeneralisir, sih. makasih koreksinya :)

    IMO, karena itu juga di berbagai kampus FK adalah tempat yang ospek-nya cukup cerdas… katanya sih. konfirmasi?

    ::

    soal MOS memang tergantung kultur juga sih, dulu waktu saya baru masuk SMP juga masa MOS itu cukup bersahabat kok. tapi di tempat lain, ada cerita lain juga :mrgreen:

    mungkin intinya memang ‘kebanggaan’ dan ‘eksistensi’, sih. kata mutiara yang saya sendiri sampai bosan mendengarnya sewaktu sekolah dulu. :)

  11. 12 p4ndu_Falen45 Senin, 23 Juli 2007 pukul 16:05

    Baca tulisan ini terus baca komennya kak Ma jadi merinding lagi deh. Soalnya kan setahun lagi aku kena ospek.
    *Gyaaaaaaaa…*

  12. 13 matahari pagi Senin, 23 Juli 2007 pukul 16:09

    akuw merasa Ospek atau MOS sudah sangat ringan koq..terlalu ringan…seperti debu kayaknya…^^

    tp yang sudah mahasiswa…jika ada ngumpul2 wajib himpunan jurusanmu…hati2lah…senior berkuasa…^^

    akuw salah satu korbannya… T_T

  13. 14 gitablu Selasa, 24 Juli 2007 pukul 10:42

    siklus yang terus berputar…yah…

  14. 16 Ash Selasa, 24 Juli 2007 pukul 22:21

    Hm.. saya dengar entah dari mana sepertinya sekolah negeri sudah tidak menerapkan MOS lagi (nggak tau ya ini kabar burung atau bukan)
    Jadi sistem MOS diganti cuma jadi kayak ‘tur’ keliling sekolah aja. Jadi anak2nya dikasi tahu gimana sekolahannya, fasilitasnya, peraturannya, dan lain-lain..
    Saya pikir cara itu yang lebih tepat. Jika junior dididik dengan toleransi, maka HARUSNYA junior tersebut akan bisa belajar menghargai… mungkin…

  15. 17 Rizma Rabu, 25 Juli 2007 pukul 14:25

    @ Yud1
    ga yang cerdas cerdas amat sih,, tapi emang pake ditanyain tentang anatomi gitu,, sambil dibikin takut tentunya!! :twisted:
    (dan kenapa kita ngobrol di blog orang,,?) :lol:

    @ Pandu
    ahahaha,, ga se-serem itu kok,, lewatin aja,, :D

  16. 18 hielmy Kamis, 26 Juli 2007 pukul 0:17

    halo… salam kenal juga, thanx udah berkunjung dan bersedia masang di blogroll :) , tapi kalo mau tambahin juga address yang ini dunx, coz sekarang lagi seneng nullis disitu. sory OOT nulis disini, coz gak ada halaman about/guest book [ato gak nemu yah???] :P

    thanx.

    hielmy

  17. 19 donskii Kamis, 26 Juli 2007 pukul 23:16

    yaoloh dipp.

    gue tau itu keterlaluan.
    tapi coba lo ambil sudut pandang mereka.

    diMOS super sadis sama OSIS yang menurut lo sok jago… it’s ok.

    apa dalam diri lo gak ada niat sedikitpun buat balas dendam ?

    gue ngomong bukan buat belain OSIS dan ngelawan anak baru.

    tapi OSIS juga pernah MOS dan tau gimana ga enaknya MOS itu.

    jadi, tolonglah adip..
    mereka juga manusia…

    tolong…
    *korban kebakaran*

  18. 20 Dreamer Minggu, 29 Juli 2007 pukul 19:50

    ho oh, jadi MOS itu versi halusnya IPDN yah?

    para senior [alias mantan junior] membalas perlakuannya ke senior terdahulu ke junior [yang akan menjadi calon senior] dan terus2an begitu?

    mungin makanya di sekolahku gak ada istilah MOS-MOSan kali yah? udah gak ada MOS ajah murid sana-sini dikerjain, apalagi MOS? tambah parah~~

    gen gak ada niat membalas sama sekali? o___o? jarang sekali terdengar yang kayak begitu… [ditimpuk]

  19. 21 Xaliber von Reginhild Minggu, 29 Juli 2007 pukul 23:06

    D.A.: Mungkin belum begitu bisa dijadikan generalisasi, tapi setidaknya di sekolah ‘kita’ sudah begitu. :mrgreen:
    Setidaknya untuk yang kemarin-kemarin.

    Lee Shan-in: :lol:

    Mihael “D.B.” Ellinsworth: Betul, penyiksaan yang tak perlu. :|

    Tendo Soji & Count of Madness: MOS harus direvisi ulang, memang…

    anas: Senior tidak perlu, berhubung mereka sudah mau lulus, nanti sia-sia (kecuali mereka mau masuk IPDN). :mrgreen:
    Yang penting pengenalan tentang sekolahnya sendiri; ini yang sering dilupakan.

    yud1: Salam kenal juga.
    Iya, memang tergantung kultur. Minggu pertama masuk di sekolah saya, MOS SMP dan MOS SMA benar-benar terlihat sangat kontras perbedaannya. Siswa SMP yang baru masih bisa tersenyum, sedangkan siswa SMA yang baru hampir tak ada senyum.

    Rizma: Hmm… di FK ospeknya lebih cenderung ke pengetahuan, dan bukan fisik? Lebih enak ya.

    aRuL: Yaa… mungkin memang baik, tapi sebagian besar dari teman-teman saya itu suka banyak berlagak, kasarnya. :|

    p4ndu_Falen45: Sama. Yah, harus menghadapi masa-masa yang menyedihkan lagi. Dengar-dengar di Perguruan Tinggi Swasta tidak ada ospek.

    matahari pagi: Iya, memang zaman sekarang sudah tidak separah yang dulu sih, menurut guru-guru. Tapi tetap saja… saya agak kurang suka sorak-sorai para ’senior’.

    gitablu: Vicious circle of seniority… :|

    Ash: Tepat! Ini yang harusnya dilakukan. Pengenalan sekolah itu yang penting, namanya juga Masa Orientasi Sekolah. Salah satu hal yang sempat saya singgung di tulisan.

    hielmy: Oo, tak apa kok, disini juga bisa :mrgreen:
    Sebenarnya ada, tapi berupa gambar (namanya Guest Chamber) :P
    Oke, akan saya tambahkan. :mrgreen:
    Terima kasih sudah kesini.

    donskii: Iya sih, MOS memang ngga enak. Tapi bukannya kalau OSIS generasi selanjutnya bisa meredam ’sadisme’ yang ada pada MOS justru bisa mengurangi, atau bahkan menghilangkan, sadisme itu untuk seterusnya? Kalau tiap tahun selalu ada sadisme (walaupun katanya sudah dikurangi kadarnya), jadinya susah untuk benar-benar hilang.
    Kalau soal balas dendam, sejujurnya, ngga ada. Berhubung itu hanya short-period (3 hari), jadi disimpan untuk diri sendiri aja.

    Dreamer: Kasus IPDN juga ada karena semacam MOSnya mereka kan? :)
    Wah, ngga ada MOS? Kalau begitu gantinya apa? Langsung belajar?
    Ngga, memang ngga ada. Soalnya saya kurang suka senioritas. :mrgreen:

  20. 22 shinobigatakutmati Rabu, 1 Agustus 2007 pukul 21:01

    sekarang memang jamannya sofskill. mari kita perbaharui bersama. ini juga buat pembelajaran untuk teman2x yg masih sekolah. bahwa, satu hal yang mendasar yang perlu dibangun adalah : MENTAL.

    tidak masalah tentang disiplin atau tetek bengek yang menjadi alasan dibenarkannya perpeloncoan. namun, dengan adanya perpoloncoan yang demikian, mental apakah terbangun dengan baik?

    bangun manusia seutuhnya bukan untuk membuat manusia merasa dibebankan.

    pikirkan: mau manusia yang mana kira2x

    1. yang merasa bertanggung jawab karena dibebankan tugas dan menunggu teguran lantaran tidak mengerjakan tugas sehingga leluasa mencari alasan penyangkalan yang tepat

    2. mengakui dengan sendirinya rasa tanggung jawab terhadap ada maupun tidaknya tugas, dan mengakui kesalahannya tanpa mesti ditegur dahulu

    ^ ^

  21. 23 cojones Sabtu, 6 Oktober 2007 pukul 7:44

    revolusi MOS! jangan otoriter! kenalkan segala aspek sekolah, bukan kenalkan yang namanya balas dendam yang putarannya tanpa henti sampai akhir zaman…

  22. 24 Xaliber von Reginhild Sabtu, 10 November 2007 pukul 11:29

    @shinobigatakutmati:
    Setuju! Jadi ingat kemarin, ada tes untuk menguji kemampuan siswa, tapi masih pada nyontek. Padahal sekedar menguji sudah sampai mana kemampuan siswa dan ngga dimasukin nilai sama sekali.
    Menyedihkan. Grah. :evil:

    @cojones:
    Betul! Kalau mau melampiaskan, lampiaskanlah ke senior. Jangan limpahkan ke junior. :lol:

    @pingback sendiri:
    Ya ampun, SponBob. :lol:
    Baru dikirim pingbacknya dia.

  23. 25 Adriano Minami Senin, 14 Juli 2008 pukul 19:22

    Sebenarnya, apakah ada cara lebih baik untuk mengenalkan skolah kepada anak2 baru?

    Supaya tak terjadi balas dendam2 an gitu.

  24. 26 The Unknown Senin, 14 Juli 2008 pukul 19:24

    Osis sialan !!! Mati aja yg jadi OSIS… gk guna banget !!!!

  25. 27 Mi_Chan Senin, 14 Juli 2008 pukul 22:47

    Ahay, aq cm bisa bilang SETUJUUU!

  26. 28 Xaliber von Reginhild Selasa, 15 Juli 2008 pukul 1:45

    @Adriano Minami:
    Itu tadi… orientasinya ya pada pengenalan sekolah dong. :D Jangan sampai MOS itu mengimplikasikan bahwa junior akan digangguin senior (orientasinya: digangguin). :mrgreen:

    @The Unknown:
    Sabar, mas..

    @Mi_Chan:
    -.-b


  1. 1 Mantapkan Misi « Sweet Lemon Tea on an Empty Table Lacak balik pada Minggu, 22 Juli 2007 pukul 23:55
  2. 2 Mulai Ngoceh Lagi… « Celoteh Bebek Jamuran… Lacak balik pada Rabu, 25 Juli 2007 pukul 22:37
  3. 3 Ospek, dan Latihan Pemantapan « Parking Area Lacak balik pada Jumat, 27 Juli 2007 pukul 15:26
  4. 4 Revolusi? Omong kosong « Deathlock Lacak balik pada Kamis, 23 Agustus 2007 pukul 20:56
  5. 5 Kamera, Foto, dan Narsisisme « Deathlock Lacak balik pada Sabtu, 10 November 2007 pukul 10:07
  6. 6 Heran « Deathlock Lacak balik pada Kamis, 25 September 2008 pukul 0:46
  7. 7 Masa Orientasi Siswa « Adriano Minami Simple World Lacak balik pada Selasa, 7 Juli 2009 pukul 11:19
  8. 8 A New Beginning « Adriano Minami Simple World Lacak balik pada Sabtu, 11 Juli 2009 pukul 22:33

Tinggalkan Balasan




Espionage?

Status

"Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama,
yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terima kasih atas berkat yang Kau berikan,
jauhkanlah kami dari percobaan.

Amin."

- Cin(T)a

First of All…


Xaliber von Reginhild Deathlock

Bukan orang penting. Idealis. Senang sains dan teknologi hingga politik dan militer.

Pelawan arus. Individualis. Tertutup. Lebih bagus di interaksi tak langsung.


Konservatif yang fleksibel. Suka berimajinasi dan menulis seenak jidatnya jarinya. Selalu terbuka terhadap kritik dan saran.


Not to Forget



Jangan Asal Copy-Paste!
Harap cantumkan alamat blog ini jika Anda mau copy-paste.

Yuk.Ngeblog.web.id

Transmission


Yahoo! Messenger ID: swordsmaster_xaliber

Regiments

Graveyard

Soldiers in Field

counter

Reinforcements

  • 121,925 soldiers