Oke. Setelah sekian lama, hari dimana kebanyakan siswa SMA Labs… err, tidak, tidak… hari dimana kebanyakan siswa SMA di seluruh Indonesia–atau mungkin dunia–berdebar-debar hatinya, telah datang. Sebagian besar dari mereka berdebar-debar, menunggu pelatuk untuk meluncurkan sang Fat Man ditekan. Ya, hari itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah hari pembagian raport. Doomsday? Relatif, tergantung isi dari sang Fat Man, apakah membawa inti plutonium atau membawa siraman rohani yang bersih.
Berhubung kemarin saya berhalangan untuk menulis dan mengirim entri ini, maka rasa-rasanya entri yang masih berkaitan dengan dijatuhkannya Fat Man sudah dapat dijumpai di barak nomor 24 sejak kemarin. Karena kemarin Fat Man jumlahnya cukup banyak, maka rasanya radiasinya juga sudah dirasakan oleh para serdadu lainnya macamnya jendral, atau kalau mau menilik dunia yang lebih luas lagi, juga dirasakan oleh wakil jendral serta Sersan Keroro.
Yah… mungkin karena ini memang hanya sebatas kenaikan kelas, jadi mungkin tidak setegang rasanya menunggu menghadapi hasil Ujian Nasional. Bisa dibilang lebih santai, meski memang Anda tidak akan naik kelas jika ada mata pelajaran program yang tidak sesuai dengan SKM–untuk saya dan yang segenerasi sih. Jadi, apa poin kali ini? Seperti yang sudah dilakukan oleh para senior, maka saya juga mau jadi plagiator dan ikut-ikutan mencoba memberitahu hasil yang telah ditumpahkan oleh Fat Man. Singkat saja… dan sedikit review, saya rasa.
![]()
“Hmm… hasil dan review ya.”
…
[ KNIGHT'S CROSS | IRON CROSS ]
“…artinya? Persepsikan sendiri…“
…
Nah, hasil dari ledakan Fat Man sudah saya beritahu. Jadi cukup omong-kosong pembukanya, toh pada dasarnya itu memang tidak begitu penting. Sekedar kalimat pembukaan, sebuah non-sense yang berarti. Pembukaan? Iya, cerita tentang Fat Man yang menimpa saya hanya untuk pembukaan saja. Karena, tentu saja, kalau hanya bercerita tentang itu, maka judul di atas tidak akan ada hubungannya, bukan? Maka dari itu, sekarang mari masuk ke topik permasalahannya, yang tadi saya sebut sebagai review.
Topik kali ini masih berkisar tentang ulangan. Seperti yang sudah saya bilang diatas, berhubung ini bukan Ujian Nasional maka rasanya juga tak akan setegang tiga hari kematian itu, tapi tetap saja menentukan kenaikan kelas. Karena itu, para siswa yang dituntut lulus dari SKM berjuang keras untuk mencapai target mereka, yaitu naik kelas. Caranya? Hoho, kalau masalah ini sih halal-haram tak masalah, yang penting naik, yang penting masuk 10 besar, yang penting dapat mobil. Dari sini, saya rasa sudah cukup jelas apa yang terjadi. Mungkin ada beberapa pula yang sudah mahir dalam transaksi seperti ini.
Sementara itu, masih karena Ujian Akhir Semester kali ini bukan Ujian Nasional, maka situasinya jauh lebih santai. Bukan, saya tak membahas soal murid. Tapi soal gurunya. Santai? Guru yang setiap kali menasehati murid-murid kurang ajar yang melempar penghapus papan tulis, guru yang harus memeriksa tulisan cakar ayam di kertas ulangan murid-muridnya dibilang santai? Tidak, saya tidak mengusung hal itu di paragraf ini. Tapi yang saya mau bilang adalah santai ketika mengawas. Betul, begitu santai sehingga murid-murid boleh saja ditinggal keluar kelas untuk sekedar chatting menelpon dengan teman, murid-murid boleh ditinggal membaca buku humor yang dibawa, atau justru boleh saja ditinggal tidur di depan kelas. Kalaupun ada yang tertangkap basah, maka muncul anggapan: “Tak apalah, anggap saja saya tak melihat”.
Alhasil, karena begitu santainya pengawasan, maka penyelundupan barang ilegal berjalan lancar. Lebih parah lagi, ada saja yang bawa-bawa keagamaan. Misalnya seperti “Bismillahirahmanirahim!!” untuk pengiriman paket B atau “Allahu Akbar!” untuk pengiriman paket A. Sambil pura-pura serius atau pura-pura menguap karena ngantuk, tentunya–sayur tanpa garam rasanya jelas tak sedap. Tapi ada juga yang masih menempuh cara klasik seperti meminjam barang seperti rautan, penghapus, bahkan tempat pensil. Atau pura-pura menggigil kedinginan dan melakukan transaksi antar planet di stasiun luar angkasa bernama WC. Boleh? Boleh-boleh saja, alasannya sudah dijabarkan dengan cukup jelas diatas.
Kemudian pada hari terakhir tes, setelah tes terakhir berhasil dilewati, terdengar sorakan kegembiraan. Bisa karena perasaan senang atas selesainya UAS yang menyedihkan, bisa karena hasil nilai-nilai UAS sudah keluar, bisa karena apa saja. Hasil dari penyelundupan barang tersebut juga sudah kelihatan, harganya cukup mahal dan lumayan ‘mengisi dompet’. Ada yang tetap kalem, ada yang senyum-senyum sendiri, ada pula yang memamerkan isi dompetnya ke orang-orang. UAS pun berakhir dengan bahagia untuk orang-orang itu… Yah, sebenarnya tidak semua sih. Ada juga yang masih menderita walaupun sudah dapat paket A beruntun–salahkan si pengirim paket yang terlalu semangat takbir.
…
Nah, dari sini, bolehkah saya menyebut mereka sama saja dengan koruptor? Setidaknya, koruptor kecil-kecilan? Alasannya, tidak lain dan tidak bukan adalah karena proses penyelundupan barang ilegal tersebut. Terlalu keras kah? Tidak juga. Karena tulisan ini sudah cukup panjang dan cenderung membuat bosan, maka juga saya sudahi omong-kosong yang tidak perlunya. Saya berikan alasan secara spesifik mengapa saya bilang perbuatan mencontek, kerjasama, ngebet, Ka-eS, dan semacamnya–yang sedari tadi saya ‘haluskan’ menjadi penyelundupan barang ilegal–bisa disamakan atau merupakan langkah kecil-kecilan korupsi.
Pertama, mari kita lihat kembali tokoh-tokoh diatas beserta perannya masing-masing. Sang pelaku utama, para siswa-siswi atau murid sekolah. Murid-murid tersebut akan menghadapi ulangan, ulangan yang akan menentukan hidup-mati mereka. Karena itu mereka akan menempuh cara apapun, halal-haram tak masalah, agar bisa sukses naik ke kelas berikutnya. Kemudian ada guru, yang bertindak sebagai pengawas para murid tersebut. Pengawas yang mengawasi proses murid-murid tersebut meraih kesuksesan mereka. Tapi ternyata sebagian besar dari mereka lalai; murid-murid hanya sekedar dilihati dari jauh, atau justru tak dipedulikan ketika mereka sedang menempuh cara agar mereka bisa sukses. Kemudian setelah ulangan berakhir, para murid berteriak bahagia karena telah berhasil melewatinya dan mendapat nilai bagus–tanpa teguran dari sang guru.
Kedua, sekarang mari kita coba ubah… err, tidak, kita misalkan ’status’ tokoh-tokoh tersebut menjadi sesuatu yang seringkali diperdebatkan di tanah air Indonesia ini; pejabat pemerintahan (yang korup) dan aparat keamanan (yang ‘keparat’ tak bertanggung jawab). Murid kita misalkan jadi pejabat, lalu guru kita misalkan jadi aparat.
Ketiga, kita lihat kembali tokoh-tokoh tersebut dengan permisalan yang barusan, tentu peranannya juga harus kita ubah sedikit. Sang pelaku utama, para pejabat pemerintahan. Para pejabat tersebut kerja di pemerintahan dengan gaji yang ‘pas-pas’an, sementara sebagai pejabat mereka membutuhkan pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilannya. Karena itu mereka akan menempuh cara apapun, halal-haram tak masalah, yang penting mereka bisa hidup dengan makmur. Kemudian ada aparat, yang bertindak sebagai pengawas para pejabat tersebut. Pengawas yang mengawasi tindak-tanduk pejabat yang mencurigakan dalam meraih kemakmuran hidupnya. Tapi ternyata sebagian besar dari mereka lalai; para pejabat hanya sekedar dilihati dari jauh, tak dipedulikan, atau para aparat justru menerima sebagian hasil korupsi para pejabat tersebut dan membiarkan para pejabat sukses meraih kemakmuran mereka. Kemudian setelah transaksi rahasia para pejabat berhasil, mereka berteriak bahagia karena telah berhasil melewatinya dan mendapat uang sangat banyak dan berlebihan secukupnya–tanpa borgol dari para aparat atau hukuman penjara.
Dari tiga tahap diatas, bisakah dibilang cukup tepat atau mendekati kalau para murid-murid yang melakukan kecurangan itu bisa disamakan dengan para koruptor, atau lebih halusnya, melakukan korupsi kecil-kecilan? Lebih luas lagi, bisakah dibilang keadaan sekolah-sekolah di Indonesia itu justru merupakan refleksi dari strata atas susunan birokrasi Indonesia sendiri? Secara keseluruhan, sebenarnya prosesnya bisa dibilang mirip, dimana pelaku melakukan ketidak jujuran sementara penegak hukumnya yang seharusnya mengawasi pelaku hanya duduk diam, pura-pura tidak melihat dan tidak memberikan tindakan yang tegas kepada sang pelaku.



eh, naik?
maaf,
dakwahkomentar saya tangguhkan dulu. ini ol di hp soalnya. ngetiknya ribet..Wah, cepat sekali o_O
Iya, kira-kira begitulah.
Ok, Master
hmmmm……*mangut2*
nyindir sekali…ckikik…
btw, slm kenal….!
wah wah wah,, gaya Lulus/Ga Lulus Shan In nyebar kemana mana gini,,
anw, selamaat!!
Ma bukannya mo terkesan jadi evil bi**h gitu sih,,
cuma kalo orang lain dapet, dan kita khawatir kita ga lulus dengan kemampuan dan sekarang,, yah,, last resort lah,,
….
Itu kan gaya amplop kelulusan SMA, Tante…
Nah, masalah guru yang tidak peduli itu, saya pernah komentar di Hachibantai Tavern. Agak panjang sih, tapi saya mengutuk habis-habisan guru yang mengajarkan murid melakukan kegiatan ‘jalan-belakang’.
Terbukti, ajaran moral kepada murid…begitu amburadul.
Perumpamaan yang unik

bukan.. bukan… ikutan berantas dong
Kalo soal “penyelundupan ilegal”…. Waktu SMA dulu, saya cenderung menyikapi dengan tutup mata. Berat hati rasanya kalo harus menegur teman kalo yang dia lakukan itu ga bener… apalagi kalo sampe ngadu ke sang guru. tapi, dari segi banyak tidaknya pelaku, bergantung dengan lingkungan sekolah yang bersangkutan juga. Untuk sekolah…yang bisa dibilang favorit misalnya.. jumlah pelaku jauh lebih kecil. Karena faktor murid .. dan juga guru tentunya. Jadi, memang mirip2 dengan kondisi korupsi sih. Ada beberapa bangsa yang memiliki aparat dan pejabat yang memiliki moral yang baik. Jadi… walau ada korupsi, jumlahnya bisa di minimalisir
Mudah2an kita bisa ikutan deh… ikutan korupsi??
Jadi yang lulus ujian nasional itu kaga jujur ya?
untung untung, aku ga pernah ikut uas/uan, tapi ikut EBTANAS. kekekekeke
Sebentar… Afa Tuanku tidak terjebak dalam fenomena konformitas sosial…?
eh ,, kalo lu mah dah pasti naek kelas dip . lah kalo yg laen gimana ?? mau gimana lagi,, ya nyontek lah ,, kalo ga ya taun depan kelas ips ama ipa bakal ada 4 klas
lebih baik tidak naik kelas drpd nyontek. Saia seperti itu. Karena bagi saya kode etik bushidou tidak mentolerir tindakan rendah seperti menyontek.
topiknya…tunggu baca dulu
Oke, deh sepertinya tidak jauh beda dengan curhatan Anda…
Singkatnya butuh guru seperti Pak Jappy, itu mengawas dengan tidak santai. Lalu sekedar berita saya jadi ingin cerita.
@9racehime: Salam kenal juga
@Rizma: Terima kasih untuk ucapan selamatnya…
Ya, karena itu saya sebut korupsi kecil-kecilan. Karena perilaku ‘pegawai’ yang secara ilegal ‘memperkaya’ diri dengan menyalahgunakan ‘kekuasaan’ kan?
@Hati Malaikat: Nah, iya. Seharusnya guru jangan ’setipe’ sama muridnya.
@wiku: Iya, rasanya susah. Apalagi kalau di generasi saya (mungkin dulu juga, kurang tahu) akan ada istilah eM-Te untuk yang berbuat seperti itu. Alhasil dijauhi. Tapi sekolah favorit pun, kelihatannya juga tidak sedikit kok yang berbuat begitu… berdasarkan pengamatan pribadi sih.
@Neo Forty-Nine: Saya tidak bilang begitu sih
Tapi, sebagian kelihatannya memang iya.
@Hati Malaikat: Hmm… ini untuk saya, atau..?
@dit: Kalau saya, kurang lebih seperti D.A. juga – -a
Yah… kalau menurut saya, maka yang itu kurang lebih disebut korupsi kecil-kecilan.
@D.A.: Iya. Butuh seseorang yang keras.
Kelihatannya Indonesia secara keseluruhan–baik itu masalah integrasi, hukum, atau masalah seperti ini–butuh seorang pemimpin yang bertangan besi macamnya Hitler ya. Coercion.
Getu aja kok repot…
murid ya murid, bukan pejabat
Hehe, kan permisalan aja
Lagipula, prosesnya cukup mirip-mirip, kalau menurut saya