Sekarang tahun 2007. Sudah 7 tahun sejak awal milenium baru dimulai. Masanya dunia modern, masanya globalisasi. Harusnya semuanya sudah maju, semuanya sudah serba teknis, macamnya dunia yang sempat dibayang-bayangkan di majalah-majalah anak-anak dulu. Herannya, masih ada saja yang nonton wayang?
Hari gini masih peduli sama kebudayaan Jawa itu? Itu sih sudah bukan zamannya lagi… kalau mau nonton wayang, ya kembali aja ke abad 20. Sekarang sudah abad 21, abad 21! Masih mau membuang-buang waktu menyantroni warisan zaman jebot? Lupakan! Kalau Anda masih senang nonton wayang, masih suka mendengarkan lantunan gamelan, masih bangga dengan pakaian adat masing-masing, maka Anda bukan anak gaul.
Sekarang itu, hal-hal semacam itu sudah tidak penting. Buang, buang semua hal tidak berguna itu! Ganti pakaian Anda, buang tradisi yang tak berguna, lalu segera tancap gas ke diskotik! Tidak usah tempat yang mahal, yang penting dugem dulu! Jangan lupa, pakaian Anda harus ekstra ketat, ekstra sempit, supaya enak dipandang di mata. Sudah goyang-goyang ngga karuan, maka Anda sudah bisa masuk ke dunia gaul.
Tapi itu masih kurang! Kurang! Anda tidak akan bisa bicara dengan orang-orang keren dan terkenal kalau cuma dugem. Ganti channel yang sering Anda tonton di televisi, dari TPI menjadi MTV! Jangan lagi tonton acara wayang, tak ada gunanya. Pastinya lebih asik mendengarkan berbagai macam lagu gaul seperti lagu goyang kepala atau lagu house macam yang terdengar di diskotik. Kalau Anda punya TV kabel, nah, manfaatkanlah. Banyak acara-acara yang jauh lebih keren macam American Idol, e-Fashion News, film-film di HBO, dan lain sebagainya dibanding TVRI, TPI, atau channel lokal lainnya.
Tambahan saja, supaya Anda bisa gaul sama orang-orang yang lebih besar lainnya, Anda sebagai orang Indonesia jangan lupa ikut Friendster! Iya, ikut Friendster, cewek mana sih yang tidak tahu Friendster zaman sekarang? Kalau Anda laki-laki, Friendster merupakan media yang lumayan untuk menggaet beberapa kaum hawa yang menarik untuk dilihat. Kalau Anda perempuan, sama saja. Anda bisa mengagumi ratusan cowok tampan yang memajang fotonya di Friendster, terlepas itu fotonya sendiri, foto temannya, hasil rekayasa komputer atau justru foto yang ditemukan di tengah jalan. Jangan lupa untuk menghabiskan waktu di depan layar komputer berjam-jam menelusuri foto-foto cakep di Friendster.
Sudah merasa gaul? Kurang, man! Kurang… Jika belum punya pacar, cepat cari pacar! Betul, pacar adalah salah satu indikator kegaulan Anda. Punya pacar itu enak, tiap hari ada yang memanjakan, bisa dimanjakan, bahkan dieksploitasi lebih atau bisa menunjukan show ciuman dahsyat ke masyarakat sekitar. Anda untung, masyarakat untung. Lumayan, tidak perlu bayar mahal untuk menonton adegan semi-porno. Dapatnya, mudah. Anda bisa coba media Friendster seperti yang sudah disebutkan diatas. Tapi walau sudah punya, dan sudah menunjukan acara gratis ke masyarakat, Anda masih belum sepenuhnya dicap keren.
Anda belum keren kalau masih peduli sama yang namanya budaya Indonesia. Budaya Indonesia tidak penting. Biarkan saja peninggalan sejarah itu habis dimakan oleh waktu. Kalau pun masih ada yang mau mengurus, biar orang lain saja yang mengurus. Menteri Kebudayaan kek, Guru-guru kek, atau kakek-nenek. Tapi jangan Anda! Anda itu pemuda dan pemudi era globalisasi, pemuda era pembaruan. Bukan zamannya Anda mengikuti tradisi zaman baheula.
Tapi segala hal itu kurang manis kalau tidak dibumbui dengan satu hal penting. Tidak lain dan tidak bukan adalah, jangan pedulikan wong cilik. Mereka miskin ya salah mereka, siapa suruh dilahirkan sebagai anak keturunan yang tak mampu? Mau kaya ya usaha sendiri lah, jangan minta-minta! Belajarlah dari pejabat, mereka bisa korupsi dengan profesional, yang penting kepentingan terpenuhi. Wong cilik juga bisa mencuri kan? Nanti kalau kebetulan bisa jadi pejabat, dilanjutin saja. Yang penting diri sendiri makmur.
Itu dari sisi pejabat, mereka punya kuasa. Tapi bukan berarti bangsawan biasa juga tidak bisa. Kalau ketemu anak fakir miskin lagi mengemis, ya bentak saja. Usir keluar dari rumah, noda tubuh mereka tidak pantas mengotori pagar rumah yang bersih bukan? Apalagi kalau ada yang menyentuh Mercedes Benz Anda yang harganya selangit. Wah, tak usah ragu, bentak sekeras-kerasnya. Kalau supir Anda yang merusaknya ketika sedang mencuci mobil, pecat saja. Tinggal cari baru lagi, toh kita tak butuh orang yang tak berguna.
Nah, maka Anda sudah keren dan gaul sekarang. Sudah dugem, sudah tahu MTV dan melek Friendster, sudah punya pacar untuk melepaskan nafsu, sudah melepaskan cap kebudayaan Anda, juga sudah tidak menghargai wong cilik. Sudah komplit sekarang. Lumayan kan, sekali dayung dua pulau terlampaui; Anda sudah termasuk orang-orang keren dan gaul, juga hitung-hitung mengurangi jumlah primordialisme di negara ini?
- Jika ada hal-hal yang dirasa kurang untuk menjadi orang gaul dan keren, boleh menambahkan dengan mengisi formulir dibawah ini.
- Ada baiknya jangan marah dahulu ketika membaca ini.
Ingat juga cara berikut agar Anda lebih gaul:
jangan lupa Bung biar gaul Tripping dulu…hehehehe…..
Count of Madness Juni 10th, 2007 at 6:34 pm
hari gini masih nurut peraturan !? momotoran itu ngga usah lihat polisi ! SIM itu tidak harus lihat umur, tidak usah lihat KTP !
Hmmm….tipikal anak gaul seperti ini.
Death Berry Ille-Bellisima Juni 11th, 2007 at 7:51 pm



Euh, Mas? Kalau mau bicara nasionalisme agak susah nih. Masalahnya acara lokal hanya memiliki sedikit acara yang bagus. Bukan dalam arti menarik tapi mendidik. Lihat saja acara-acara kita yang makin hari makin tidak berguna. Juga acara TV lokal menurut saya justru lebih mengumbar borjuisme relatif kepada keadaan negara kita.
Tapi memang the best adalah Naked Science sama Mythbuster.
Saya lebih memilih nonton NGC, Discovery, dan tentu saja Animax.
Sisanya ga ada yang perlu dikritik kayaknya…
Oh, iya! Tidak semua film di HBO buruk lho… Contoh adalah “Something the Lord Made” itu produksi HBO kalau tidak salah. Filmnya bagus dan banyak memiliki nilai.
Kalau maksud Anda adalah film-film Hollywood yang “jreng-jreng” mungkin di Star Movies lebih banyak.
Oh, maksud saya sih, hanya kepada acara yang memang berguna dan bukan sekedar sinetron remaja yang tak berujung itu. Yang difokuskan disini TVRI dan TPI, soalnya itu yang masih ada acara wayangnya.
Ah, begitu. Maaf, kurang tahu. Terima kasih kritiknya
Maklum, bukan anak gaul.
Hmm,, Ma fans berat HBO dan Star World nih,, salah satu film fave Ma juga Something the Lord Made,, dan masih banyak film bagus di sana,,
bener,, kita perlu melestarikan kebudayaan Indonesia dan cinta produk dalem negri,, tapi harus dibarengi dengan tampilan dan mutu yang ga kalah bagusnya,,
Ma ga nolak kok nonton film atau acara TV indonesia kalo bagus,, Ma ga bisa bikin film ato apapun sih,, tapi pengen juga kali ngeliat ada tayangan yang keren di tipi Indonesia,,
sekedar iseng, Ma pernah gara gara mo ‘cinta produk dalam negeri’ beli batere Alkaline a.k.a ABC, cepet banget abisnya,, akhirnya dimarain Mama deh,,
“pake yang bagus aja sihh biar ga ribet,”
susah juga mas kalo mau cinta produk negeri, wong ga ada bagus2nya! kualitas produk indon jaman skarang tuh makin nurun, org juga males nonton kalo isinya sinetron gombal.
yang didemenin ama orang skarang palingan mah yang seneng2 doang macem playboy kabel, emang lebih seru. kalo wayang orangg nonton juga bosen, soalnya itu2 aja.
lupa nambahin, emangnya salah kalo buka friendster berjam2? ga selamanya itu buruk, tergantung gimana lo ngeliatnya.
@Ma!!!: Ah, saya bukannya mendukung sinetron.
Soalnya saya pribadi juga kurang suka produk negeri yang isinya seperti yang sudah diungkapkan divineangel.
Dan, memang HBO, Star Movies, dsb tidak seluruhnya buruk. Saya juga kadang-kadang menonton. Maksud saya lebih ke ‘budaya’nya
@tamu: Kalau sekedar melihat-lihat foto saja, menurut saya pribadi lebih baik melihat Wikipedia.
Tulisan yang bagus… mengingatkan pentingnya budaya dalam bahasa yang sepenuhnya adalah ironi (eh, ironi bukan? yang nyindir2 lewat bahasa kebalikannya ntuh…)
Cukup aneh juga orang kayak anda mendeskripsikan anak gaul (nggak..bukan apa-apa… cuma berpikir bakalan hebat juga kalau anda sampai bikin penelitian soal anak gaul..)
hahaha… Tak pikir yang suka duet gila-gilaan Adam Savage + Jamie Hyneman cuma saya…hehe….
jangan lupa Bung biar gaul Tripping dulu…hehehehe…..
@Ash: Terima kasih


Tulisan ini satir
Boleh juga sih dijadikan karya tulis, tapi masih agak bingung mau pilih Nazi atau yang lainnya -.-a
@Marshal: Hoho, benar juga
Saya tambahkan, terima kasih
Satire… Satire…
Pakai bahasa slang lah, HARE GENE MASEH NONTON WAYANG!?
Alhasil lenih mengena.
Terpengaruh
Hoho, boleh juga
Terima kasih sarannya, Master
Tuh kan, tuh kan….
Unsur gaulisme-nya makin kentara.
—
[satir ah]
Nonton wayang? Mending gw duduk di depan kompie sambil blogging aja!! Lebih modern gitu lho!!
—
*ngejunk*
…sepertinya anak yang satu ini stress menghadapi ujian…
Hmmm….tipikal anak gaul seperti ini.
Tergantung bagaimana melihatnya kan? Semuanya relatif.
Bukan maksud mendukung tapi yang disinggung ttg friendster di sini adalah yang hanya untuk lihat-lihat buang-buang waktu. Ga juga…
baidewei bukannya Anda pernah menguntit foto seseorang di prenster
Maaf oy!
orang bijak yang saya lupa namanya bilang:
‘Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain tapi bandingkanlah dirimu sendiri dengan Tuhanmu, karena perbedaan antara baik dan buruk akan menjadi tipis.’
heheheh….
whew….
Wayang kan keren….
@Master Li:
Peraturan terabaikan..? – -a

@Death Berry: Hoo.. ada juga
@divineangel: Yang dibahas kan “berjam-jam menelusuri foto-foto cakep”, berarti lebih dari 1
@Jabizri: Lebih dari tipis, mungkin
Seperti ini mungkin semacam etnosentrisme juga.
@Tendo-Soji: Dibaca saja dulu maksudnya
wah jangan salah. wa meskipun ndeso n katro di wilayah yang sifatnya perkotaan namun masih atensi loh dengan wayang. soalnya apa? nilai luhurnya bos! sastra itu, budaya yang bagi saya loh penting untuk di serap hehehehehehe.
tapi yakin kok. saya setuju dengan pendapat ente. yah bisa dibilang katro sih ya memang katro. masa nonton wayang??
hee… tapi beda sini, beda jepang loh. sekarang malah bule2x doyan nonton wayanh wong (baca: kabuki, noh) dan juga wayang kulit/boneka (bunraku). hayo? yang katro kita apa bule? satu lagi: bule sekarang senang dengan sastra kita. jadi, pewayangan juga masuk daftar kategori kesukaan mereka loh. hayo??
yah kembali lagi ke kitanya. yang katro yah yang merasa dirinya katro, iya apa iya sih? dan yang ngerasa keren ya cuman awake dhewek (baca: dirinya sendiri) yang mengakuinya. orang lain? ah, masa sekarang mana ada orang lain perhatian banget. cuek deh, masa bodoh mau katro apa ngga. ya toh????
heheh tapi semuanya ini kembali lagi pada yang namanya: mental.
gitu aja ^^ santai bos
Hoho, yang merasa keren ya hanya mereka yang sama-sama merasa keren; yang sama-sama suka merendahkan yang mereka kira ‘kurang’, yang MTV dan melek Friendster, yang sudah punya pacar untuk melepaskan nafsu, dan yang sudah melepaskan cap kebudayaannya
Dibaca dulu aja sampai habis, nanti kelihatan arahnya kemana
Ini macamnya JFL tapi ngga maksud jayus.
saya perlu belajar gawul, berarti…
lah, gpp lg. suka2 org nonton wayang. Me-u sih dulu di indo demen bgt nonton wayang. ga ada slhx toh?
@joesatch: ^^;
Kalau berdasarkan tulisan ini, saya mungkin lebih memilih tidak untuk menjadi gawul
@Uchiha Miyu: Yup, saya juga suka nonton wayang
Dipahami (kalau mau) saja dulu maksudnya.
ngerti2…diejek2 gt?
err…tulisan xaliber ini kan bersifat satir, jadi bukan berarti xaliber menolak melestarikan kebudayaan indonesia ^^;
Nah, iya. Poinnya sudah ada di Van.
Terima kasih
Iya deh…
halah.. sampe sekarang juga gw ga pernah enjoy nonton wayang. Tapi gw juga benci budayanya anak gaul. Jadi siapakah gw?
“hari gini masih nurut peraturan !? momotoran itu ngga usah lihat polisi ! SIM itu tidak harus lihat umur, tidak usah lihat KTP !”
Gw selama ini gak pernah pake SIM dan blom niat ngurusnya,..
KLo kena razia tinggal ngeluarin “simsalabim”,.. 20 rb perak beres,. pernah juga kena mpe 40 ribu,. tapi its oke dari pada gw beribet ngurus sim, mahal lage,.
Koordinasi oknum-oknumnya ngga beres juga sih…
yah….. cuapeeeeeeeeeeeeeeeek deeeh __ __”
Jangan capek; gopek.
ya kaya gini ya jamannya orang lebih suka dibilang moderen kalau nonton product kebudayaan luar negri, nonton wayang di bilang katrok, aduh payah……. siapa lagi yang melesarikan budaya ini ….. entar wayang kulit di aku punya bangsa lain binggung . Aku juga ada blog tentang melestarikan budaya jawa kota solo kunjungi di google tempat mejeng anak solo . Met kenal
Salam kenal.