Setelah beberapa lama tidak mengeluarkan omong-kosong baru dan bertindak layaknya seorang anggota dalam suatu presentasi yang terdiam ketika kelompoknya dihujani oleh ribuan pertanyaan, akhirnya saya mencoba untuk menggebrak meja dengan volume minimal dan mulai berpikir langkah strategis apa yang harus dilakukan berikutnya.
Ya, saya kembali mengambil satu sentimeter langkah ke depan di tengah gemuruh prajurit yang berjuang melawan penjajah moral bangsa setelah sebelumnya melihat peluru-peluru maut yang melesat dari bedil kopral, kapten, atau sersan diatas saya yang menembus dagu sang penjajah moral. Mempelajari di dalam kehampaan pikiran sendiri, dan terkadang terpana dengan metode yang mereka gunakan, masih dengan tanpa sepatah kata yang terucap.
Setelah melihat dengan mata kepala sendiri tentang ditemukannya penemuan yang inovatif sebagai hasil dari kerjasama para ilmuwan terkemuka, saya kembali melihat kepada pakaian saya yang lusuh, kotor, dengan pulpen penuh tinta bocor tersemat pada saku jas saya. Tinta berwarna hitam itu membasahi jas saya, dan membuat warnanya yang putih bersih diselimuti hitam kebiruan tinta tersebut.
Tanpa mengganti dasi saya yang sudah kotor dan mengganti kemeja saya yang sudah digigiti kutu, saya meyakinkan pikiran untuk membuat otak memerintah kaki saya maju beberapa meter menuju suatu ruangan rapat yang terdekat. Saya mencoba mengikuti, dan mencoba mengerti alur rapat tersebut, serta dua kali membisikkan pelan beberapa patah kata yang kurang berguna. Bisikan itu kemudian ditanggapi dengan baik.
Dengan pakaian yang lusuh, semangat saya kemudian semakin timbul, dan kali ini mencoba mendatangi berbagai tempat wisata yang dikenal oleh masyarakat luas. Walaupun hingga saat ini saya belum menerima data kolektif, namun saya berhasil mengamati serta mendokumentasi beberapa tempat wisata yang acapkali juga digunakan sebagai tempat diskusi para profesional.
Setelah mengelilingi dunia, pada akhirnya saya menemui waktu untuk kembali ke “istana” saya. Kembali ke teater saya sendiri. Dengan baju yang menghitam serta celana yang diselimuti oleh lumpur, saya melihat teater saya yang terbengkalai. Lampu-lampu yang pecah, tirai yang semakin kusam. Mengambil pengalaman dari 48 jam, saya kemudian menyisingkan lengan baju. Kini, setelah mengganti baju yang bersimbah keringat, teater itu kembali terperbaiki; walaupun tak seindah, tak semengkilap, atau tak setenar teater lainnya. Dengan tirai merah yang sudah kehilangan kekusamannya, para aktor dan penari latar sudah siap untuk memulai pertunjukkan dengan wajah cemerlang. Tirai itu pun dibuka, dengan basa-basi belaka.



Katarsis?
Gila… tebar trekbek euy…
Keren, keren…
Aroma perang desu… Males desu…
…
teater yang bagus itu bukan berarti yang paling rapi yang yang paling ramai; IMHO teater yang bagus itu adalah teater paling mewakili sutradara dari berbagai drama yang dipertontonkan di teater itu sendiri … jangan takut untuk jadi sesuatu yang beda, karna jika anda [terpaksa] menjadi sesuatu yang bukan diri anda akan ada penyesalan yang lebih panjang dari panjang tirai teater anda sendiri…
PEACE Brother…
heheheh….
Heee… Saya baru sadar kalau ternyata URL tebar trekbek-nya disamarkan…
@Geddoe: Katarsis, dalam artian..? ^^;
Yang saya tahu artinya hanya ‘pembersihan’ saja dan, kalau dalam literatur, tindakan yang tidak disangka-sangka dari suatu karakter.
@Master Li: Ahaha.. Betul, trekbeknya disamarkan.
Supaya ngga mem’bocorkan’ cerita.
@arul:
@divineangel: Tidak sepenuhnya perang
@Jabizri: Aha.. terima kasih. Saya niatnya memang agak anti-mainstream
wah, bahasa indonesianya kompleks
suya susah mengerti
apa boleh link exchange?
suyalynx[dot]wordpress[dot]com
Boleh, boleh saja
Sebenarnya ini hanya memutar-mutar kalimat saja